'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Goresan (18)
Thursday, August 31, 2006
Boro-boro Komputerisasi.
Oleh Ibn Ghifarie


Membincang komputer sebagai kelengkapan administrasi. Apalagi pasca perubahan IAIN menjadi UIN kotak ajaib tersebut, seolah-olah menjadi keharusan supaya dengan mudah kita dalam mengetahui pelbagai informasi sekira kampus. Tentunya, bila di barengi dengan Internet. Mulai dari Indek Prestasi Kumulatif (IPK), Buku-buku baru atau Skripsi yang ada di perpuatakaan, agenda kegiatan; bayar regisrasi, Ta'aruf, Penerimaan Calon Mahasiswa Baru (PCMB) sampai publikasi tulisan di forum diskusi UIN SGD.

Namun, harapan itu masih jauh tertinggal bagi mahasiswa. Kalaupun ada, semisal lahirnya sistem LAN antar jurusan dan fakultas. Nyatnya masih dinikmati oleh kalangan pejabat tertentu.

Lagi-lagi tetap saja generasi muda, tak dapat mempergunakan pasilitas tersebut. Terlebih lagi, sebagian besar kaum terdidik itu berasal dari desa. Sudah tentu, tingkat ekomoninya rendak dan gagap teknologi (Gaptek).

Dengan demikian, peralihan Institut menjadi Universitas boro-boro dibarengi dengan alat komputerisasi dalam pelbagai sektor. Malahan, kotak ajaib pun jarang dipakai. Entah, karena alasan inilah. itulah.

Ditambah lagi, dengan mentalitas kaum pinggiran yang sering ruang-riung dan tak mengenal teknologi tersebut. Sungguh lengkap sudah penderitaan yang di alami civitas akademik UIN SGD.

Meski begitu, kita hanya bisa berharap mudah-mudahan impian tersebut segera terwujud. Semoga [Ibn Ghifarie]


cag rampes, Pojok Sekre Kere 10/06;00.15 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/31/2006 02:32:00 AM   0 comments
Goresan (17)
Beda Nama, Sama Rasa.
Oleh Ibn Ghifarie

Perubahan IAIN menjadi UIN tak berbanding lurus dengan kebesaran namanya. Bila dulu masih Insitut terkenal dengan sebutan ushtadz/dzhnya. Kini, nyaris hilang bahkan tak pernah terdengarlagi.

Jangnkan menciptakan kader Dai baru. Malahan dalam bidang pendidikan sebagai modal utama terkesan disepelekan. Mau bukti? Lihat saja dalam pendirian Fakultas Sains & Teknologi (ST). Jangankan fasilitas Laboratorium yang menjadi sarat mutlak bagi Fakultas teknik, malah ruang kuliah saja belum jelas di mana. Kan, mestinya kalu mau berjualan (memasarkan Fakultas ST) harusnya sudah ada dulu "barangnya" baru kita tawarkan dan jual. Wah.... ini ngumpulin dulu mahasiswanya.... (baru entah kapan) mikirin barangnya.....(jangan tanya produk, lebih parah lagi). Kasus sejenis, lihat saja Jurusan Sosiologi Konsentrasi Sosiologi Agama....., sekarang entah ke mana.... ngak jelas hulu-buntutnya......tulis Leled Samak

Sekian tahun memperjuangkan peralihan UIN menjadi IAIN. Namun, tetap saja infra strukturnya tak disiapkan dan ditata dengan baik. Perjuangan keras dari pelbagai pihak dalam mewujudkan UIN hanya membuhkan hasil 'beda nama, sama rasa.

Pendek kata, pengubahan itu hanya berkutat dalam kata 'prestise' semata. Nyatanya, mulai dari sarana-prasarana, dosen, kurikulum, sampai tek-tek bengeknya. Masih yang dulu. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Ruang Prodi 28/07;23.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/31/2006 02:19:00 AM   0 comments
Goresan (16)
Wednesday, August 30, 2006
Kita Bukan Mereka
Oleh Ibn Ghifarie


'Kini banyak umat yang memelihara virus "TUHAN SEOLAH-OLAH" dalam diri mereka. Bayangkan, kawan, mereka anggap pendapat, pikiran dan tafsir mereka adalah firman. Mereka menganggap diri benar sambil menyalahkan yang lain, mengkafirkan yang lain. Banyak mahasiswa juga begitu' tulis Mifka.

Membicarakan aspek keyakinan memang benar kita sedang merayakan 'Tuhan Seolah-Olah' atau malah kita sedang terjangkit pemahaman 'Seakan-Akan Tuhan' berada pada kita, bahkan kita sering berpendapat 'Tuhan Bersemayan Dalam Diri Kita' dan hanya milik kelompok tertentu semata. Padahal kita tak pernah mengetahui sebenarnya posisi Tuhan berada dimana dan memihak siapa. Sunguh kita tak pernah mengetahuinya?

Alih-alih menyebarkan risalah Tuhan dalam bingkai 'Amar ma'ruf, nahyi munkar', kita malah ribut dengan mereka yang berbeda pendapat. Tentu dalam menafsirkan 'sesuatu'. Apalagi dalam membincang aspek ketuhanan. Kita hanya bisa mencoba belajar menerka 'bayang-banyang' Tuhan yang tak pernah ada. Bahkan kita terlalu bersandar pada yang mungkin--meminjam istilah Gunawan Muhammad.

Aneh memang aneh. Namun, semuanya hadir dan melekat menjadi 'darah' dalam diri kita. Ya, semuanya. Sudah tentu, 'kita' dan 'mereka' berbeda pandangan dalam menyikapi pelbagai persoalan. Termasuk ranah terdalam yakni Tuhan (Suaka, 'Sisi Lain Makna Tuhan' edisi November 2004). Memang semuanya mesti bisa mengarifi segala persoalan dengan bijak. Bukan malah memelihara 'tradisi barbar'. Tapi lestarikanlah sekaligus rayakanlah budaya menulis. Bukankah Ali pernah berujar Ikatlah buruan itu dengan tali. Begitu pun dengan ilmu. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Ruang Prodi 28/07;21.35 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:45:00 PM   0 comments
Goresan (15)
Merajut Tali Persaudaraan Kita Dengan Pena.
Oleh Ibn Ghifarie

Tes Penerimaan Calon Mahasiswa Baru (PCMB) UIN SGD Bandung telah dilaksanakan (Senin, 17/07). Maraknya, calon penerus bangsa sarat dengan pelbagai kepentingan kelompok tertentu. Hingga kami menemukan selembaran "Sekira UIN SGD Bandung" dengan tajuk "Kampus Ilmiah-Religius" yang dibagi-bagikan secara gratis kepada calon kaum muda tersebut (18/07). Sampai-sampi Mifka menulis 'Sekedar Tentang Mahasiswa Baru (23/07) menjadi Selamat Datang di Area Tuhan (27/07)' dalam menyoal kemahasiswaan.
Sudah tentu, tradisi menulis itu, mesti kita tetap jaga dan pelihara, bahkan kita sambut kebiasaan tersebut dalam membincang pelbagai persoalan. Lepas dari muatan diangkat kembali kisah kelam sekaligus 'prilaku ganjil' tempo hari. Yang jelas semuanya mempunyai itikad baik guna menciptakan kampus berwawasan intelektual dan anggun dalam moral.
Semoga dengan tumbuh kembangnya kultur tulis-menulis dapat merajut tali persaudaraan kita yang sempat terseok-seok, tercabik-cabik, terkoyak-koyak, hingga nyaris terjadi pertumpahan darah dalam gerakan mahasiswa atas nama keegoan dan beda keyakinan. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kering 18/07;21.17 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:43:00 PM   0 comments
Goresan (14)
Bergerak dan bergerak
Oleh Ibn Ghifarie


Selain sikap kritis mahasiswa yang harus menjadi modal sekaligus tumbal dalam mewujudkan kehidupan yang baik dan layak. Bukan acak-acakan atau alakadarnya. Karena sedang 'ngtren' perubahan IAIN menjadi UIN, yang berujung pangkan pada ketidak jelasan status mahasiswa, seperti yang di alami olek kawan-kawan kita di fakultas psikologi. Semula waktu masih berstatus IAIN fakultas itu, hanya jurusan semata. Kini seiring dengan perubahan institut menjadi universitas jurusan ilmu kejiwaan pun harus rela menjadi fakultas. Meskipun dengan seadanya.

Menilik persolana psikologi yang semakin pelik dan akut itu, mahasiswa yang mempunyai julukan 'tiis jahe' tersebut beberapa pekan lalu terus-terusan melakukan 'unjuk gigi' dalam memperjuangkan beberapa keganjilan yang ada di rumahnya sendiri. Sudah tentu, tak cukup dengan aksi unjuk rasa semata, tapi berakan-gerakan lain pun mesti tetap menjadi cara lain dalam menempuh kejelasaan tsatus. Ambil contoh, tak bisa di ajak berdialog dengan pihak mahasiswa. Seharusnya kaum pelajar dapat memsosialisasikan bahkan melaporkan keberadaan UIN yang tak memenuhi standar berdirinya program S1 ke pihak komisi disiplin ilmu (KDI) Psikologi (lihat evaliasi proposal program studi psikologi--tertanda Prof Dr Masrun,28/06/00) Paling tidak sekurang-kurangnya staf pengajar tetap 8 orang lulusan program psikologi dan 2 orang lulusan program sarjana psikologi.

Mudah-mudahan perbuatan ganjil sebagai upaya memajukan kampus ke arah yang lebih baik, bukan demi kepentingan sesaat. Apalagi bagi satu golongan tertentu. seperti yang di dengung-dengungkan mahasiswa psikolgi lewat jargonnya
'Jangan sampai hak kita sebagai Mahasiswa dikebiri oleh politik kampus.' Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/23.34 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:41:00 PM   0 comments
Goresan (13)
Re: Marxisme, tak ada apa dengan itu...?
Oleh Ibn Ghifarie
Sulthonie tertulis:
Sebagai sebuah wacana menjadi sangat menarik jika mengkaji aliran-aliran pemikiran. Sebab dengan mengetahui bentuk-bentuk pemikiran pada satu aliran tertentu, maka kita akan mengetahui sampai batas mana aliran itu berpengaruh, siapa pendukung dan penganutnya, serta efek positif dan negatifnya bagi perkembangan peradaban umat manusia.
Mengkaji sebuah aliran sangat berbeda dengan menjadi Penganut dan Pengagum aliran tersebut.
Tak pernah ada larangan untuk itu. Bahkan sangat dianjurkan untuk mengetahuinya agar kita tidak buta dan membabi buta.

Semakin padi berisi, maka semakin tunduk dia. Sebaliknya, semakin botol itu kosong, maka semakin nyaring bunyinya.

Sulthonie.


Menelaah pemikiran Karl Marx via pengkajian tak jadi masalah, bahkan menjadi keharusan bagi kaum pelajar. Tapi bukan melalui cara pengajian (sorogan) dan belajarlah pada ahlinya. Kira-kita begitu orang bijak berkata dalam mengkaji tokoh atau suatu masalah.
Ibarat gayung pun bersambut seirang perubahan zaman dan kuatnya arus globalisasi. Marxisme pun menjalar ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Meskipun mesti dibedakan antara sosialis ilmiah dan sosialis laten atau yang terkenal dengan sebutan komunis. Mudah-mudahan dengan mau belajar dan membuka diri dengan orang lain kita bisa mengenal keindahan dunia ini.

Dengan demikian, belajar marxisme via pengkajian tak ada apa-apa, bahkan sangat diwajibkan bagi generasi muda bak pepatah 'Belajarlah sampai ke negeri China (shien)'.
Namun, bila tetap ada yang ngotot bahkan kita tetap tak boleh belajar 'kaum kiri', karena alasan menganut sekaligus mengajarkan paham ateis. Bilang saja pada mereka bahwa Tuhan tak suka pada orang-orang yang menentalarkan anak miskin dan tak memaksimalkan akalnya supaya dapat membaca tanda-tanda kekuasaannya.
Selain itu, katakan lagi pada mereka sudahkan kita membaca sekaligus menelaah karya-karya Marx dalam mengeluarkan fatwa Haram tersebut! [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 30/08;00.07 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:38:00 PM   0 comments
Goresan (12)
Bangkit, Lawan Hancurkan Tirani
Oleh Ibn Ghifarie


Hanya ada satu kata LAWAN!!!
Ungkapan Wiji Tukul ini perlu kita 'amini'. Apalagi membincang Kampus UIN yang tak ada 'perubahan' yang mendasar baik dari kualitas dosen, kurikulum, saran-prasarana, maupun kuantitas mahasiswa. Terlebih lagi, peralihan IAIN menjadi UIN yang dinilai sebagian masyarakat citvitas akademik terkesan hanya "Beda Nama, Sama Rasa". Tengok saja, pada beberapa fakultas baru (Fakultas Psikologi dan Sintek) "Satu Atap, Dua Fakultas".

Ironis. Sunguh ironis. Mestinya pengubahan Institut menjadi Universaitas harus dilengkap dengan pasilitas memadai. Kini, kedua fakultas tesebut, malahan menempati banguna lama (UKM d/h) yang 'disulap' menjadi fakultas.

Bangkit, lawan hancurkan tirani pun menjadi kata 'penutup' dalam mencermati UIN. Apalagi bila tidak mengindahkan keperluan civitas akademik guna mewujudkan "Integrasi Iman dan Ilmu" atau "Wahyu Memandu Ilmu" [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Simpang UKM, 24/07;16.05 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:36:00 PM   0 comments
Goresan (11)
Baca, tulis dan lawan.
Oleh ibn Ghifarie

Pami kitumah, ayeuna tinggal nguatan tradisi maca, tulis jeung lawan. Sanes kitu dulur....Ma euya urang generasi muda eleh keneh ku Wiji Tukul, Aktivis Puisi Jalanan anu ngaluarkeun slogan "Hanya ada satu kata Lawan!!. Komo deui lamun 'biwir geus teu bisa ngomong, maka tulisan anu kudu nyarita.
Kitu oge keur ngabangun nagara UIN SGD Bandung anu kentel ku dudaya tulisan. Lain lisan [Ibn Ghifarie].

cag ah rampes, PusInfoKomp 18/07;04.35 wib.

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:34:00 PM   0 comments
Goresan (10)
Mengurai fakta, Menelaah Informasi via dunia Maya
Oleh Ibn Ghifarie

Mudah-mudahan dengan hadirnya LAN (Local Area Network) untuk dapat mengakses berbagai informasi, baik internal maupun eksternal. Internalnya antar fakultas dan eksternalnya melalui jalur internet yang telah di-online-kan selama 24 jam. Tentunya di harapkan dapat membuka cakrawala intelektual kita.

Meskipun, tetap saja tradisi lokal pun harus menjadi modal utama dalam mengarungi dunia maya tersebut. Artinya, dengan mudahnya mengakses informasi via internet kita lupa pada bumi tempat berpijak. Apalagi menafikan pelbagai kebiasaan baik seperti membaca buku, koran, majalah, buletin, jurnal atau ngobrol-ngaler ngidul tentang persoalan kekinian yang sedang melanda Indonesia, mulai dari gempa, banjir, kekeringan, tsunami, korupsi, gajih 13, aksi terorisme, penculiakn anak, pemerkosaan sampai tauran antar mahasiswa, sambil ditemani secangkir kopi dan lintingan bako.

Pendek kata, secercah itikah baik tersebut mesti kita amini. Terlebih lagi, munculnya kotak ajaib itu di harapkan memberikan manfaat bagi kita dalam 'Mengurai fakta, Menelaah Informasi dan Menyapa perbedaan via dunia maya. Semoga [Ibn Ghifarie]

cag rampes Pojok PusInfoKomp 15/07; 00. 47 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:32:00 PM   0 comments
Goresan (9)
HASIL AKHIR PEMILU RAYA MAHASISWA UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
published on 24 Januari 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Rabu 18/01/2005, civitas akademika kampus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar pemilu raya yang kedua kalinya. Dalam pemilihan umum sekarang di agendakan guna memilih presiden dan wakil presiden mahasiswa.

Pemilihan umum itu berlangsung saat ujian akhir semester berlangsung. Namun antusias mahasiswa sebagai pemilih tidak mengurangi semangat dan tidak menganggu aktivitas akademik. Meski berbarengan dengan uas tersebut pencoblosan berjalan lancar seperti pemilihan pertama kalinya.

Pemilihan dimulai sejak pagi pukul 08:30 dan selesai sekitar petang. Setelah berakhir penghitungan suara, partai Nurani mengungguli suara dari jumlah suara yang ada. Ini menunjukan bahwa presiden dan wakil presiden akan diwakili dari partai Nurani. Kemenagan ini tentu saja merupakan kebanggaan sekaligus menjadi keberhasilan sebuah sistem partai kampus dalam mewujudkan Good Governance dalam tubuh mahasiswa di dalam kampus.

Namun demikian, tak lama setelah penghitungan suara selesai, bentrokan pun sempat menghiasi arena tempat penghitungan berlangsung. Nampaknya, saling lempar satu sama lain di antara pendukung partai memang telah menjadi suatu hal yang sangat lazim dalam dunia politik. Demikian pula hingga melahirkan dua korban sebagai dampak kekerasan baku hantam itu. (Boelldz/Ibnasian/uinsgd.ac.id)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:28:00 PM   0 comments
Goresan (8)
GENERASI MUDA BANGUN GERAKAN MAHASISWA UIN SGD BDG
published on 7 April 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn ghifarie

4 April 2006—Bila kita melihat potret umat Islam belakangan ini, sungguh memprihatinkan. Keteraniayaan dan keterhinaan acap kali melandanya. Sudah tentu, perjuangan umat untuk kembali meraih gelar khoeru ummah pun nampaknya belum juga berhasil. Maka Lembaga Studi Politik Islam (LSPI) bekerja sama dengan BEM-J Hukum Pidana Islam (HPI) menggelar Diskusi Publik, dengan tema “Membangun Kesadaran dan Kesinergisan Gerakan Mahasiswa Dalam Perjuangan Islam” (4/4) di Auditorium UIN SGD Bandung. Kegiatan itu menghadirkan beberapa pembicara di antaranya; Dudi Rustandi (Ketum Cabang HMI Kab. Bandung), Edi Rusyandi (Ketum PMII PK UIN SGD Kab. Bandung ), Adam Ramula (Ketum Gema Pembebasan) dan Pian Hermawan sebagai Modertor.

Menanggapi tema di atas, Dudi Rustandi mengatakan bahwa kita mesti menengok kembali sejarah perjuangan pemuda (mahasiswa) , sebab mahasiswa merupakan tonggak sejarah bangsa. Selain itu, Pria kelahiran Garut ini lebih menitik beratkan pada bahaya “politisasi eksistensi”. Sambil mengutip ungkapan Kuntowijoyo, Ia juga mengatakan bila pergerakan mahasiswa tetap saja memelihara tradisi tersebut, maka akan menimbulkan mobilisasi sosial, disintegrasi mahasiswa, dan runtuhnya piguritas, tuturnya.

Senada dengan Dudi Rustandi, Edi Rusyandi pun memaparkan bahwa kita harus belajar dari sejarah perjuangan pemuda (mahasiswa) guna memahami gerakan mahasiswa, katanya.

“Gerakan mahasiswa,” lanjutnya, “tidak dapat dipahami hanya dengan logika dan pendekatan linier yang terkadang menyempitkan makna serta menghilangkan kontek gerakan itu sendiri. Kontek yang dimaksud adalah dua kondisi yang saling terkait. pertama, kondisi subjektif, yakni sejumlah variabel yang melekat dengan kepentingan mahasiswa, pengakuan karena memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. kedua, kondisi objektif, yakni kondisi-kondisi yang berada diluar diri dan secara signifikan mempengaruhi pemikiran, sikap dan tindakan,” ungkap mahasiswa PAI itu sambil membaca teks dari makalahnya.

Sedikit lebih klise dari kedua pembicara sebelumnya, Adam Ramula menjelaskan bahwa krisis yang terjadi didalam tubuh pergerakan mahasiswa itu disebabkan karena terkikisnya tindakan amar ma’ruf nahy munkar dalam bingkai jamaah, ujar alumnus ITB itu.

Ironisnya, di tengah-tengah kemelut yang melanda bangsa kita dan kuatnya laju pergerakan mahasiswa pasca reformasi yang kian hari semakin mencari identitas serta membangun kesadaran dan kesinergisan antara gerakan mahasiswa dalam memperjuangankan Islam, maka tidak ada cara lain, ungkap pentolan Gema Pembebasan itu, “selain mengganti sistem yang ada dengan sistem Islam melalui penegakan syariat Islam secara kaffah,”, tutur pria yang pakai kemeja itu.

Lebih lanjut Pria kelahiran Cicalenggka itu, menambahkan bahwa tahapan yang mesti di lalui guna tercapainya cita-cita yang mulia itu, yakni dengan menyamakan visi dan misi terlebih dahulu, katanya.

Dalam menyikapi gerakan mahasiswa bagi dedengkot PMII itu, tiada jalan keluar selain menjadikan Islam sebagai payung ideologi gerakan mahasiswa, ungkap mantan DLMJ PAI itu.

Tak berhenti sampai di sini saja, Pria kelahiran Garut itu mengurai kembali sejarah tempo dulu yang di komandoi oleh nabi Muhammad baik dalam wilayah sosial, ekomoni dan keyakinan. sungguh perubahan itu sangat signifikan, sambil mengutip Asgar Ali Engeering, secara paradigmatik merupakan jawaban konseftual-praksis atas problematika kehidupan umat manusia pada waktu itu, tegasnya.

Bagi sang nahkoda HMI itu, cara yang mesti ti lewati dalam membangun gerakan mahasiswa secara bersama tersebut yakni dengan cara menanggalkan jargon “politisasi eksistensialis itu, sehingga terciptanya gerakan mahasiswa yang ramah dan mengghargai perbedaan,” tutur mahasiswa KPI semester jebot itu.

Terlepas dari itu, mudah-mudahan dengan di adakannya diskusi publik ini “dapat menumbuhkan kesadaran kritis pada umat islam, bukan terjadinya gerakan-gerakan yang selalu utofis,” tutur Presma HPI ketika ditemui website UIN.

Sedangkan bagi Kurnia Wahyuddin selaku ketua pelaksana, harapan di selenggarakannya kegiatan tersebut semoga terciptanya ukhuwah islamiyyah di antara kita yang sempat bercerai-berai, bahkan acak-acakan, ungkap Pria kelahiran Banjaran itu. (Boelldzh)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:26:00 PM   0 comments
Goresan (7)
Membongkar Empu Dekonstruksi Menjadi Renyah
published on 5 Juni 2006 | Berita Mahasiswa

Himpunan Mahasiswa Aqidah Filsafat (HIMA AF) dan Himpunan Mahasiswa Tasawuf Psikotrafi (HIMA TaPsi) menggelar Diskusi dan Bedah Buku Deridda karya Muhammad Alfayyadl yang diterbitkan oleh LKiS Jogyakarta. Dengan tajuk “Dekontruksi, Realitas, Tubuh, Sejarah” di DPR (Di Bawah Pohon Rindang), senin (05/06). Hadir dalam acara tersebut tiga nara sumber; Muhammad Alfayyadl (penulis Muda Yogyakarta), Bambang Q Anees, M.Ag (Dosen Filsafat UIN BDG), Fahmi M.Hum (Dosen Filsafat UIN BDG) dengan moderator Ibnu Muhardi.

Wacana yang diangkat penulis bermula dari essai yang menguji kembali tentang kebenaran dalam kancah modernitas melalui bahasa. Pasalnya kita sering terjebak pada pengkotak-kotakan ilmu, truth claim, atau trend pada satu tokoh tertentu. Sambil mencontohkan pengaguman sebagian mahasiswa pada Karl Mark, sang maestro kiri atau Che Guevara, tokoh kiri dari Kuba, tanpa pernah mengkritisi pemikiranya, tegas Mahasiswa Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kali Jaga itu.

“Kehadiran buku ini pun merupakan bentuk perlawanan terhadap pikiran-pikiran ruwet Deridda. Karena dianggap empu dekontruksi ini malah bikin tambah pusing orang lain dan mendobrak segala kemapanan lewat metode dekonstruksinya”, tambah Pria yang berkaca mata itu.

Menggapi kesukaran dalam membaca pemikiran Jeques Deridda ini, Fahmi menuturkan “membincang Deridda bagaikan memasuki belantara teks sekaligus sulap lautan teks”, katanya.

Namun, masih menurut Fahmi Deridda memberikan sock therapy dalam menggapi segala permasalahan, Apalagi yang berbau dualisme. “Artinya manusia berada dalam lautan ketidak sadaran, tuturnya.

Bagi BQ, sapaan akrab Bambang Q Anees, memasuki dunia Deridda kita mesti bermula dari keseriusan dan main-main. Tentunya, harus menggargai perbedaan-perbedaan kecil, sambil mengutarakan contoh dari akibat buang sampah sembarangan, ujarnya.

“Akibat mahasiswa tidak pernah mengkritisi pemerintah kota sampah tumpah ruah dimana-mana dan kita cenderung menerima makna, bahkan kita sering terjebak pada ke-benal-an kita yang menyerah pada kebenaran dan beranggapan satu hal hanya untuk satu makna”, kata Dosen Filsafat itu.

Lebih lanjut, Pria asal Banten itu, menambahkan buku ini luar biasa isinya. Terutama menyodorkan menu dekonstruksi yang menyeramkan itu menjadi renyah dan enak dibaca. Apalagi dalam pembahasan Agama tanpa agama, tapi saya tidak akan membahasnya pada kesempatan ini, tegasnya.

Senada dengan BQ, Gunawan Muhammad memberikan komentar dalam kata pengantarnya bahwa ini adalah sumbangan yang amat berharga dalam khazanah penulisan filsafat dalam bahasa kita, tulis mantan pemred Tempo itu.

Suasana bedah buku ini tidak terlalu mendapatkan perhatian lebih dari civitas akademik, kecuali mahasiswa AF dan pencinta Filsafat semata. Apalagi pembahasannya rumit dan belum akrab di telinga kita. Hal ini diungkapkan salah satu pedagang buku “Urang mah teu ngarti nanaon, emang ente nyaho saha ari Deridda teh? mendingan maca majalah Gontor edisi 80 tahun (saya tidak mengerti apa-apa, memang kamu tahu siapa Derida?, mendingan baca majalah Gontor edisi 80 tahun)", ungkapnya.

Paling tidak pentolan Post srtuktural itu memberikan kepada kita tentang cara pandang alternatif dan bergairah, dalam melihat, mengetahui dan memiliki perbedaan itu, sebab dari ketidakpastian (alternatif-red) selalu mendatangkan gairag-gairah baru, Ungkap BQ.

Terlepas dari perseteruan itu, yang jelas ditulisnya buku ini merupakan langkah awal supaya tidak terjebak pada serius kebenaran (truth claim) kata penulis. Secara tegas dalam tulisannya “Dekontruksi sebuah afirmasi akan yang lain. Ia meneguhkan pentingnya perbedaan di tengah dunia yang dibayang-bayangi hasrat akan kebenaran yang `utuh` dan tak `retak`". (Boelldzh.PusInfoKom, Foto ChandzaGufta)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:24:00 PM   0 comments
Goresan (6)
Mahasiswa UIN SGD Bandung Peduli Gempa Jogya dan Sekitarnya
published on 7 Juni 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

(UIN BANDUNG, 07/06/06) Gempa yang telah meluluhlantahkan daerah Yogyakarta dan sekitarnya (27/05) telah menimbulkan luka yang tak terobati bagi warga. Sebagian dari mereka, bahkan nyaris kehilangan harapan untuk mengarungi kehidupan. Pasalnya saudara kita itu, kehilangan tempat tinggal dan sanak saudaranya. Kini mereka pun dituntut untuk mampu bertahan hidup di tengah situasi sulit, pelik dan akut ini akibat kekurangan makan, obat obatan, air bersih buat MCK (mandi cuci kakus), dan penginapan.

Untuk itu, Mahasiswa UIN SGD Bandung Peduli Gempa Jogya dan Sekitarnya “Gerak Duha (Mahasiswa dan Alumni Aqidah Filsafat), PABBIS (Family Of Basket Ball IAIN SGD) dan HI (Hikmatul Iman)” mengetuk hati seluruh civitas akdemik UIN SGD Bandung supaya ikut serta meringankan beban penderitaan mereka melalui bantuan.

Berbarengan dengan diselenggarakan Diskusi dan Bedah Buku Deridda karya Muhammad Alfayyadl yang diterbitkan oleh LKiS Jogyakarta. Dengan tajuk “Dekontruksi, Realitas, Tubuh, Sejarah” di DPR (Dibawah Pohon Rindang), senin (05/06). Hadir dalam acara tersebut tiga nara sumber; Muhammad Alfayyadl (penulis Muda Yogyakarta), Bambang Q Anees, M.Ag (Dosen Filsafat UIN BDG), Fahmi M.Hum (Dosen Filsafat UIN BDG) dengan moderator Ibnu Muhardi.

Sebelum acara dimulai, sebagian mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa UIN SGD Bandung Peduli Gempa Jogya dan Sekitarnya melakukan penggalangan dana lewat kelas masing-masing, mulai dari pukul 08.00-10.30 WIB.

Dari pengumpulan sumbangan itu, panitia berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 760.000,00-. Bantuan selanjutnya bisa dilayangkan pada Ali Saeful Mifka (Alumni AF; 08132265418), Eko (Mantan Ketum PABBIS) dan Deni Syahcroni (Pendiri HI distrik UIN SGD) (Boelldzh, Banu PusInfoKom)

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:22:00 PM   0 comments
Goresan (5)
Mengenal Agama Hindu Lebih Arif
published on 12 Juni 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Dalam rangka menepis konflik antar agama, Badan Eksekutif Mahsiswa Jurusan Pebandingan Agama (BEMJ-PA) menggelar acara Kuliah Terbuka Hinduisme (09/06) bertajuk “Hinduisme; mengenal agama Hindu lebih arif” di Ruang sidang Fakultas Ushuludin UIN SGD Bandung dengan pembicara; Ida Bagus Ray Adyana (Ketua Bidang Pendidkan Parisada Kota Bandung) yang dipandu oleh Ibn Ghifarie (Mantan Ketua DLMJ PA).

Terselengaranya kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa Perbandingan Agama yang dimotori oleh BEM-J atas pelbagai perseteruan antar agama. Pasalnya keberadaan umat yang padahal dulu begitu akrab dan penuh dengan nuansa-nuansa harmonis, toleran hatta tolong menolong. Kini hampir tidak ada, malah bentrokan antar agama acapkali sering terjadi, ungkap Nurdiana selaku ketua Oc.

Menyoal kemelut antar agama atau satu komunitas tertentu, bagi Ray, sapaan akrab Ida Bagus Ray Adyana “semuanya itu berawal dari ketidakselarasan antara kecerdasan hati nurani dengan kepintaran berlogika” tegasnya.

Suasana kuliah terbuka ini tidak terlalu mendapatkan perhatian lebih dari civitas akademik, kecuali mahasiswa PA dan pegiat serta pemerhati masalah sosial-keagamaan. Apalagi kegiatan ini bentrok dengan Agym Goes To Campus dan masih melekat bagi sebagin masyarakat kampus, bila kita mempelajari agama selain islam, maka dikategorikan kafir. Hal ini di ungkapkan salah satu mahasiswa, yang tidak mau disebutkan namanya “kuernaon di ajar agama lain, kawas anu geus nyaho wae kana agamana, jeung lamun urang ngilu kana ajaran salain ti islam, eta ka abus kafir ngarana”, cetusnya.

Sikap awam dan naif dalam dialog antar agama di kalangan umat Islam tampaknya masih menggejala. Hal ini tampak dalam sejumlah pertanyaan yang cenderung melakukan “penyerangan” terhadap sistem ajaran lain, Hindu. Hal ini bisa disimak dari pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa dalam Hindu itu banyak Tuhan dan kenapa dewa siwa itu disebut dewa pengrusak? bukankah tuhan itu maha kasih sayang. Hal yang kurang lebih sama, muncul pula pertanyaan “Adakah mitologi Ramayana dan Brahmana itu?. Adakah konsep Niwana dalam Hindu itu? dan apakah perbedaan serta persamaan Hindu dan Budha?”.

Lebih lanjut muncul pertanyaan tentang gerakan yang dilakukan tokoh Legendaris Mahatma Gandhi: “Bagaimana tanggapan Bapa (Ray-red) manakala ada ajaran Hindu liberal seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India tempo hari? Menggapai pelbagai pertanyaan, Pria yang kini orang penting di Telkom itu menegaskan bahwa “Hindu agama wahyu, terbukti dengan adanya kitab Weda. Dan yang bernuansa kontadiktif dengan apa yang hidup dalam benak penghadir, Ray mengungkapkan bahwa Agama Hindu adalah agama yang menganut monotheisme, bertuhan satu. Tapi karena banyak penapsiran dan lemahnya tradisi menulis pada saat itu serta kuatnya pembagian kasta, maka orang yang bisa menjasi padita golongan Brahmana saja, lanjutnya. Berawal dari itu, maka Tuhan dalam Hindu seolah-olah banyak, paparnya. Lebih lanjut Pria agak kurus itu menambahkan “untuk berbagai keragaman mitologi (Brahmana dan Ramayana-red) itu, sampai sekarang masih ada dan mitologi semata, sambil mengutarakan daerahnya. Yakni Swedia dan India Utara, katanya.

Dalam ajaran Hindu, supaya umatnya tidak keluar dari agamanya, maka setiap umat harus mengamalkan Panca Srada (lima keyakinan) diantaranya; ketuhanan yang esa, Atman (penyatuan Brahma dan Atma), hukum karma pala (sebab-akibat), reinkarnasi dan moksa. Maka gerakan yang dilakukan Gandhi itu, tidak keluar dari ajaran Hindu, malah mesti kita tiru. Pasalnya, Gandhi mengajarkan kita tentang perbedaan dan menghargai yang sangat tinggi, tanpa melihat sisi agama, ras dan kelompoknya, kata ketua pendidikan Hindu itu.

Lebih jauh ia mengingatkan kita tentang arti toleransi dan indahnya perbedaan, bahkan laki-laki keturunan Brahmana itu berujar “sekali lagi kegiatan ini bukan mengajak adik-adik mahasiswa untuk keluar dari agamanya supaya masuk Hindu, tapi tidak lain guna mengenal perbedaan diantara kita dan saling menghargai” sebab tanpa itu semua bentrokan antar agama kerap sering terjadi, tegasnya. “Mudah-mudahan acara ini dapat menambah wawasan dan membuka cakrawala kita tentang kajian keagamaan, terutama selaku insan akademik dan insan agama. Tentunya supaya dapat menumbuhkan rasa toleransi yang tinggi pada pelbagai perbedaan” kata Nurdiana, aktifis HIMA PERSIS Itu.

Husni Mubarah, Presma BEMJ PA menjelaskan bahwa “hajatan” ini merupakan Program kerja BEMJ dan guna membangun visi intelektual muslim yang beriman dan bertakwa, tanpa menghilangkan bahkan menapikan keragaman dalam beragama.

Senada dengan Nurdiana, Casram, Sekjur PA, pun dalam sambutan pembukaan perhelatan kuliah terbuka itu, berkata “mudah-mudahan dengan diselengarakanya acara ini dapat menambah wawasan dan membuka cakrawala kita tentang kajian keagamaan, ungkapnya. Selain itu, lanjutnya, diharapkan dapat mengenal jiwa-jiwa lain. Bila sudah mengenal dari yang punyanya (mengenal Hindu dari pemukanya-red), maka tidak akan ada lagi anggapan-angapan yang subjektif tentang ajarannya, sehingga terciptalah tatanan masyarakat yang menghargai perbedaan dan inilah bentuk dari pluralisme konteks mikro, kata Pria agak gemuk itu. (Boelldzh)

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:21:00 PM   0 comments
Goresan (4)
Menyikapi RUU APP Dengan Arif dan Bijak
published on 18 Juni 2006 | Berita Mahasiswa

Dalam rangka Gebyar Milad ke-1 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Women Studies Center (WSC) UIN SGD Bandung menggelar acara Seminar Nasional (15/06) bertajuk “Membincang Pornografi; Sebagai bentuk politisasi terhadap Tubuh Perempuan” di Auditorium UIN SGD Bandung dengan pembicara; Ir. Iqbal Abdul Karim (Anggota DPRD Jabar; “Pornografi dan Implementasi Hukum di Indonesia”), Muhammad Riyan (MUI Jabar; “Pornografi Persektif Agama”), Prof. Dr. Afif Muhammad (Direktur Pasca Sarjana UIN SGD Bandung; “Pornografi Dalam Etika Akademik”), Etin Anwar, P.hD (Dosen Ushuluddin UIN SGD Bandung; “Pornografi Dalam Konsep Kesetaraan Gender”) yang dipandu oleh Neng Hanah, M.Ag (Dosen Ushuluddin UIN SGD Bandung) dan sebagai kynote speaker Dedah, M.Ag (ketua Pusat Studi Wanita UIN SGD Bandung).

Terselengaranya kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Gebyar Milad WSC. Sebelum diadakan seminar ini, kemarin (Rabu 14/06-red) kami telah melakukan perlombaan Karya Tulis Ilmiah dengan tema “Pornografi Dalam Perspektif”. Untuk itu, acara ini guna mendiskusikan RUU APP lebih lanjut. Pasalnya, penapsiran-penapsiran atau frame tentang pornografi yang berkembang selama ini tidak konfrehensif. “Mudah-mudahan dengan diadakan seminar ini dapat melihat persoalan pornografi ini dari pelbagai persektif, terlebih lagi bisa membuat sikap dan tindakan kita lebih arif dan bijaksana,” ungkap Iva fahmiawati selaku ketua Oc.

Menyoal pro-kontra RUU APP ini, bagi Riyan, “Dalam kesempatan ini tidak ada acara dukung-mendukung. Apalagi terjebak pada aksi menolak atau menerima RUU APP semata. Namun, seharusnya kita lebih kritis lagi terhadap perjalanan perumusan dan pembuatan RUU APP ini. Sebab, dalam perjalanya RUU APP ini semakin lama semakin jauh menympang dari syariat Islam,” ia beragumen sambil memberikan contoh defenisi pornografi dan porno aksi versi draf I dan II.

Baginya, pornografi adalah segala jenis produk grafis (tulisan, gambar, film) baik dalam bentuk majalah, tabloid, VCD, film-film atau acara-acara TV, situs-situs porno di internet, atau pun bacaan porno lain guna mengumbar aurat baik laki-laki maupun perempuan, yang dipertontonkan dan dijual ke tengah-tengah masyarakat, “Tindakan ini jelas, menimbulkan dampak buruk di masyakat. Karena banyak kasus hubungan seksual di kalangan anak-anak remaja, misalnya diawali oleh kegemaran mereka menonton VCD-VCD porno. karena itu, pornografi adalah tindakan yang diharamkan berdasarkan kaidah ushul fiqh “Sarana yang menjerumuskan pada tindakan keharaman adalah haram,” katanya.

Menyingung pembahsan RUU APP yang semakin alot, Iqbal pun angkat bicara “peseteruan RUU APP ini, telah menuai berbagai permasalah baru. Meskipun ini merupakan konsekuensi logis dari demokrasi. Namun, persoalan ini malah kehilangan subtansinya, hingga melebar ke sana ke mari dan ujung-ujungnya seolah-olah terjadilah pertarungan ideologi Islam dan pancasila,” tuturnya.

Afif Muhammad, mengawali pembicaraannya dengan mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak sendirian, tapi majemuk. Apalagi kita hidup di negara pancasila bukan negara Islam. Artinya, tidak selamanya keinginan kita harus terpenuhi. Meskipun umat Islam mayoritas. Hingga terjadi pengrusakan dan perbuatan anarkis dalam menuntut untuk segera di sahkan UU itu, paparnya.

Lebih lanjut, Pria asal Jombang itu, paham betul tentang latar belakang RUU APP ini, terlahir dari maraknya situs-situs porno dan kejahatan sekesual, maka RUU APP ini dibuat. Namun, jangan sampai terjadinya pemahaman pemaksaan aspirasi syariat Islam terhadap orang lain, ungkap Direktur Pascasarjana UIN SGD itu.

“Tidak penting adanya RUU itu, bila telah terjadi pendidikan moral bagi seluruh kalangan,” Terkecuali bagi kami yang imannya lemah peraturan itu perlu guna melindungi dari perbuatan-perbuatan senonoh tersebut, cetusnya.

Etin pun menggapi permasalahan RUU APP yang menjadi bulan-bulanan media ini, berawal dari asumsi-asumsi penciptaan adam dan hawa, yang sarat dengan ideologi patriakhi guna menyebarluaskan ketidaksejajaran laki-laki dan perempuan, kilahnya.

Makanya, pornografi sebagai bentuk degradasi status ontologis manusia. padahal di hadapan Tuhan semuanya sama baik laki-laki maupun perempuan, kecuali amal solehnya, katanya.

Selain itu, pornografi merupakan bentuk penindasan ekonomi. Alih-alih perempuan lemah, lembut, maka menjadi barang komoditi. Apalagi dengan adanya afirmasi asumsi perempaun sebagai mahluk penggoda, sambil mengurai cerita Siti Zulaykha, yang menggoda nabi Yusuf.

Lebih jauh lagi, Perempuan jebolan Binghamton University menegaskan pornografi merupakan institusi status quo perempuan sebagai “sexual being”. pasalnya perempuan dikontruksi sesuai dengan seksualitas Performityfe--meminjam isltilah Buther, karena terdiri dari instutuisi yang mendukung bagaimana perempuan seharusnya berprilaku dan berperan dalam dunia privat, ujarnya.

Terlepas dari dukung-mendukung dan tolak-menolak, apalagi membuat rekomendasi kepada anggota Dewan, sungguh kegiatan ini diharapkan bisa memberikan kesadaran yang lebih berarti bagi tingkat inteltualitas mahasiswa di kalangan kampus, kata Tatan Taramaya, selaku Ketua Umum.

Senada dengan Tatan, Iva menambahkan, bahwa acara ini tidak diarahkan pada pembuatan rekomendasi buat Dewan, tapi lebih pada bagaimana menciptakan kesadaran sensitif gender dan konsen terhadap isu-isu perempuan di kalangan mahasiswa.

Di penghujung hajatan itu, pembagain trophy dan penghargaan kepada para juara “perlombaan karya tulis ilmiah” pun menjadi menu penutup perhelatan perempuan itu, yang dimenangkan oleh Taufik Rahmansyah (mahasiswa Kependidikan Islam/smt. VI) sebagai juara I; Siti Laela Sari (Mahasiswa Jurnalistik/smt. II) sebagai juara II; Asep Supriadi (Mahasiswa Mua’amalah/smt. II) sebagai juara III. (Boelldzh)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:20:00 PM   0 comments
Goresan (3)
Mahasiswa UIN SGD Bandung Impikan Bank BMT
published on 21 Juni 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Dalam rangka Gebyar Mu’amalah, HIMA (Himpunan Mahasiswa) Mu’amalah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN SGD Bandung menggelar acara Seminar Nasional Ekonomi (19/06) bertajuk “Prospek Lembaga Keuangan Syari’ah Dalam Pengembangan Usaha Sektor Riil” di Auditorium UIN SGD Bandung dengan pembicara; Ir. Muhammad Syakir Sula (Sekjen Masyarakat Ekonomi Syari’ah; Praktisi), Dr. H. Hendi Suhendi, M.Si (Dekan Fakultas Syari’ah UIN SGD Bandung; syari’ah), Luqiyan Tamanni M.Ec (Dosen STIE Tazkia Jakarta; Akademisi).

UIN berada di fihak mana?“Ini merupakan salah satu dari empat rangkaian acara Gebyar Mu’amalah yang akan digelar, yaitu: Pameran buku, Seminar, Festival Nasyid dan Lomba karya tulis” demikian ungkap Hasbi selaku ketua HMJ Mu’amalah ketika di temui Pusinfokom.

Membincang Prospek lembaga keuangan Syari’ah di masa mendatang mendapat tangapan serius dari Syakir. Ia menyatakan, perkembangan bank Syari’ah masih terlalu lambat dibandingkan dengan bank konvesional. Apalagi nama itu masih sedikit asing di telinga masyarakat. Pasalnya sosialisasi dari kelembagaan terkait di nilali masih kurang mempuni, ungkap Pria kelahiran Palopo Sulawesi Selatan itu.

“Respon masyarakat terhadap bank syari’ah masih biasa-biasa saja,” kata Ketua Asosiasi Syari’ah Indonesia.

Namun, meskipun begitu, Alumnus Unpad itu, beharap mudah-mudahan dengan diadanya seminar ini dapat membuat kualitas SDM yang lebih baik guna tercapainya masa depan Pebankkan Syari’ah yang lebih baik. Apalagi semuanya telah tersedia di jurusan Mu’amalah, ujarnya.

“Lembaga keuangan Syari’ah diharapkan dapat menjadi pencerahan terhadap umat Islam. Tentunya guna membangun ekonomi islam di tengah-tengah maraknya perekonomian kapitalis dan sosilais” ungkap Hendi Suhendi.

Tak hanya itu, orang nomor satu di Fakultas Syariah menambahkan keoptimisan prospek lembaga keuangan syari’ah tersebut dapat dan memberikan nuansa baru bagi kesejahteraan rakyat, papar Pria agak gemuk itu.

Bagi Luqyan, kehadiran bank syari’ah merupakan jawaban atas kerinduan umat terhadap bank yang bebas dari bunga, ungkapnya.

Lebih lanjut, Pria jebolan Unpad itu menambahkan kemunculan bank tersebut di harapkan menjadi pemicu bagi bangkitnya usaha halalan dan tayyiban serta merupakan salah satu lembaga yang harus ada dalam sistem perekonomian Islam, kata pembantu I STIE Tazkia itu.

“Meskipun ada tantangan yang berat guna meningkatkan pemahaman aspek perbankkan syari’ah kepada calon nasabah terutama pelaku bisnis. Tak lain karena minimnya pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap konsep-konsep pembiyaan bank syariah serta dunia bisnis dalam perbankkan syari’ah”. ungkap mantan ketua ICMI orsat Bandung Timur itu.

Sebelum acara dimulai, lantunan nada yang bernapskan islam dari salah satu personil “Nanda Nasyid” pun mewarnai hajatan tersebut. Meskipun, suasana seminar ini tidak terlalu mendapatkan perhatian lebih dari civitas akademik, kecuali mahasiswa mu’amalah dan pegiat serta pemerhati masalah ekomoni-syariah. Terlebih lagi perhelatan akbar itu tidak gratis, tapi harus bayar; mahasiswa SI Rp 10.000,00-, S2 Rp 50.000,00- dan umum/praktisi Rp 75. 000,00- . Hal itu diungkapkan, Wildan mahasiswa MKS “walaupun pembicara Dr H Muhammad Syafi’i Antonio, M.Sc, Direktur STIE Tazkia berhalangn tidak bisa hadir, saya kita seminar ini cukup berkesan, karena dapat menghadirkan pembicara-pembicara yang ahi dalam bidangnya, kata Pria asal banjaran itu.

Menyinggung ketidak hadiran nara sumber orang nomor satu Tazkia itu, Islahul Karimah, Ketua Oc berkata “kita sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan dua minggu sebelum hari H, beliau bersedia. Namun, ketika di konfirmasikan lebih lanjut Ia tak bisa hadir, karena ada satu. maka sebagai penggantinga Ia memandatkan pada Luqyan Tamanni, ungkap Perempuan asal Palembang itu.

Terlepas dari ketidak hadiran salah satu pemateri itu, perempuan agak gemuk itu menambahkan “terselengaranya kegiatan ini merupakan upaya mewujudkan ekonomi Islam di kalangan akademik. Salah satunya dengan membentuk BMT (Bank Muamalah At-Tanwil) di kampus UIN, papar mahasiswa muamalah semester VIII itu.

Senada dengan Islahul, Hasbi pun angkat bicara “di gelarnya acara ini guna mewujudkan perekonomian Islam di kalangan akademik, katanya.

Namun, bagi Wildan pembuatan BMT itu mesti melibatkan semua kalangan. Terutama mahasiswa MKS, kata mahasiswa MKS semester II itu. (Banu, Boelldzh)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:18:00 PM   0 comments
Goresan (2)
Model Baru Sindikat Perdagangan `Benalu`
published on 21 Juni 2006 | Berita Mahasiswa

”Ini merupakan bentuk neo-perbudakan,” demikian ungkap Dedah Jubaedah dalam pembukaan acara Diskusi Publik dan Pemutaran Film bertajuk “Fenomena Trafiking (Perdagangan Perempuan).

Membicarakan Nasib SesamaPagi hari yang cerah itu, tak seperti hari-hari biasanya Aula Student Center UIN Sunan Gunung Djati dibanjiri lautan perempuan. Tak lain mereka sedang mengikuti acara Diskusi Publik dan Pemutaran Film (21/06), yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN SGD Bandung dengan menghadirkan nara sumber; Irma Riyani, M.A (Dosen Akademik UIN SGD Bandung; Perspektif Agama), Susanti Adriyani (Forum Warga Buruh Migran/FWBM; Perspektif Hukum), Sri Mulyati, S.Sos.I (Aktivis Perempuan Bandung; Perspektif Gender) dengan dipandu oleh Abdul Khalik Mahmudi (Menteri Dalam Negeri BEM KBM UIN SGD Bandung) dan sebagai Keynote Speaker Dra. Dedah Jubaedah, M.Si (Ketua Pusat Studi Wanita UIN SGD Bandung). “Ini merupakan model baru perbudakan modern” ungkap Irma dalam mengurai penjualan perempuan.

Meskipun, Dosen lulusan Laiden Belanda itu, meningkatnya praktek Trafiking ini diakibatkan banyak faktor, di antaranya; kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kurangnya informasi, subordinasi perempuan dalam keluarga dan masyarakat, serta sistem yang korup, sambil menyertakan fakta dan data hampir sekira 1 juta orang setiap tahun rakyat Indonesia menjadi korban trafiking, katanya. Maraknya praktik perdagangan budak itu, tambah perempuan Alumnus Tafsir Hadist itu, tidak dibenarkan dalam pandangan Islam, sebab Islam merupakan agama pembebasan. Hal ini bisa kita lihat dari pembebasan kaum Hawa dari perlakukan tidak adil dan semena-mena itu tempo dulu saat jaman jahiliyyah, paparnya.

Lebih jauh, Stap PSW itu menegaskan dalam mencegah agar tidak kembali menjadi korban, maka perlu adanya pemberdayaan masyarakat agar lebih waspada dan tidak mudah ditipu, ujarnya. Selain itu, perlu diciptakannya masyarakat yang berkeadilan, yakni mereka yang memperjuangkan sekaligus meneggakan hak-hak asasi manusia, meniadakan kerugian pada masyarakat dan mengembalikan hak-hak rakyat. sambil menyatut al-Qur’an, paparnya.

Menuruti Santi Trafiking itu, tak hanya terjadi pada perempuan dan anak-anak saja, tapi pada laki-laki pun kerap mengalami perlakuan yang sama. Semisal pekerja tenaga laki-laki di pelbagai pabrik, pertambangan dapat dikategorikan trafiking, manakala mereka diberi upah yang minim, jam kerja yang banyak, pengusaha hanya menguras tenaga mereka, katanya.

“Saya lebih enak menyebutnya tindakan kriminalitas itu bernama benalu, karena tak jelas undang-undangnya yang mengatur persoalan ini. Yang ada baru sebatas rancangan.

Menurutnya, ia membahkaan, hukum yang mengatur tentang permasalahan jual-beli korban kemanusiaan tersebut tak ada aturanya dalam hukum KUHP kita. Kalau pun ada hanya sebatas perlindungan hukum semata, mulai dari pengaturan pemalsuan dokumen, perkosaan, memberangkatkan tenaga kerja, mempekerjakan anak, sampai UU 39/2004 tentang perlindungan dan penempatan tenaga kerja keluar negeri, UU 13/2003 tentang ketenagakerjaan, UU 9/1992 tentang keimigrasian, dan UU 23/2002 tentang perlindungan anak, tegas aktivis buruh migran itu.

Sri, mengutarakan perempuan merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami trafiking. Apalagi di Indonesia sebagai pemasok utama jaringan itu, dengan tujuan eksploitasi: pelacuran, pornografi, pengemis, dan pekerja rumah tangga. Tak lain, berawal dari pemahaman kaum Hawa yang bias gender, cetusnya.

Tak hanya itu, aktivis Gender menegaskan, proses budaya propesi pun menjadi jurang pemisah pembagian kerja antar laki-laki dan perempuan. Untuk itu, kaum mojang sekarang harus masuk ke ranah-ranah publik, ramai-ramai menjadi penafsir dan kebijakan pemerintah bila ingin keluar dari lilitan akut tersebut, kata mantan Ketua LkaP GPMI itu.

Sebelum acara dimulai, putaran film hasil penelitian Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) Jakarta di daerah sekira Kalimantan-Malayasia dan Batam-Singapura pun menjadi idangan hajatan tersebut. Sesen seminar ini mendapatkan perhatian luar bisa dari sejumlah pegiat dan pemerhati masalah agama, gender dan buruh. Namun, terselenggaranya kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penyikapan dari maraknya penjualan perempuan, kata Ai Nina, ketua OC.

Senada dengan Ai, Novi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan BEM UIN pun menambahkan, diadakannya acara ini salah satu upaya sosialisasi kesadaran guna menepis perdaganga trafiking. Karena sindikat ini tidak akrab di kalangan kita, bahkan wacana-wacana ini jarang kita temukan. Apalagi untuk mengali dan mengkritisi perbuatan tersebut, ungkap perempuan asal Banjaran itu.

Bagi Asep Komaruddin, Presiden BEM UIN menjelaskan, digelarnya perhelatan ini guna mengusung dalam menyikapi pelbagai persoalan perempuan. Kalau sepekan kebelakan kampus kita diramaikan dengan sejumlah acara membincang RUU APP, yang berujung pada peniadaan wanita, kata pria asal Garut itu.

Tak hanya permasalahan pornografi yang akrab dengan kaum Hawa, ternyata perlakuan ganjil bagi perempuan kita lupakan. Padahal, ini benar-benar terjadi dan marak di masyarakat, ungkap mantan Presma PAI itu. (Boelldzh)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:17:00 PM   0 comments
Goresan (1)
Mahasiswa UIN SGD Bandung Pun Ikut Andil Atas Tragedi Gempa dan Tsunami Jilid II
published on 19 Juli 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Ditengah-tengah terpaan isu Tsunami susulan yang melanda daerah Pangandaran dan sekitarnya, sekira 10.30 WIB masyarakat melakukan eksodus besar-besaran ke dataran lebih tinggi atau mereka berlarian menuju Alun-alun, Mushola, dan Bale Desa. Yang dianggap sebagai tempat aman (Metro TV). Meski begitu, pemerintah daerah (Perda) setempat dan polisi dapat meredam gejolak ribuan masa tersebut. Pasalnya, hilir mudik masyarakat berawal dari kabar melalui mulut kemulut, via pesan singkat (SMS) ditambah lagi dengan adanya pengejaran sebagian rakyat dan aparat terhadap pelaku pencurian motor (curanmor). Lengkap sudah kebenaran berita ganjil tersebut.

Namun, sampai hari ini korban terus berjatuhan sekitar 450 seperti yang dilansir oleh data Departemen Sosial (Depsos) melalui Badan Kordinasi Nasional (Bakornas) dan proses evakuasi mendapatkan rintangan yang cukup pelik. Pasalnya alat-alat besar tak dapat memasuki daerah korban serta terputusnya jalan penghubung antara bibir pantai dan kota.

Tragedi yang memilukan dan membuat kita iba atas penderitaan mereka. Korban bencana kemanusiaan, tak hanya melanda Pangandaran semata. Tapi sekira 300 KM laut selatan Jabar terkena badai Tsunami Jilid II. Pernyataan bisa kita peroleh di Pikiran Rakyat (18/07) Gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter di kawasan Pantai Pangandaran, Kab. Ciamis yang terjadi pada Senin (17/7) sore, menyebabkan gelombang Tsunami yang menerjang pantai selatan Jawa Barat seperti Cilauteureun, Kab. Garut, Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Pangandaran, Kab. Ciamis, pantai selatan Cianjur dan Sukabumi. Bahkan, gelombang tsunami juga menerjang Pantai Cilacap dan Kebumen, Jawa Tengah, serta pantai selatan Kab. Bantul, Yogyakarta.

Akibat gempa yang telah meluluhlantahkan daerah Pangandaran dan sekitarnya (17/06) telah menimbulkan luka yang tak terobati bagi warga. Sebagian dari mereka, bahkan nyaris kehilangan harapan untuk mengarungi kehidupan. Pasalnya saudara kita itu, kehilangan tempat tinggal dan sanak saudaranya. Kini mereka pun dituntut untuk mampu bertahan hidup di tengah situasi sulit, pelik dan akut ini akibat kekurangan makan, obat obatan, air bersih buat MCK (mandi cuci kakus), dan penginapan.

Untuk itu, mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN SGD Teater Awal dan Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam (MAHAPEKA) melakukan aksi panggalangan dana di lingkungan kampus (18/07) sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap bencana yang terjadi.

Ironis. Sungguh ironis. Lagi-lagi Indonesia Menangis. Pelbagai tragedi kemanusian sekaligus intelektual, tak begitu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Lambannya para pejabat dalam melakukan bantuan tanggap darurat dan upaya mendeteksi gempa sejak dini dinilai sebagaian masyarakat merupakan buah kezdaliman penguasa. Pendapat ini di lontarkan oleh Rukman, aktivis GPMI (Gerakan Persatuan Mahasiswa Islam), "Ma eunya kudu aya korban (gempa-red) heula, pamarentah teh tanggap kana pentingna sistem pendeteksian awal rawan gempa (Masa harus ada korban (gempa-red) dulu, pemerintah tanggap atas pentingnya sistem pendeteksian awal rawan gempa)", katanya.

Selain itu, ungkap Kantara, mahasiswa Manajemen Keuangan Syariah, ‘Yang harus kita butuhkan sekarang adalah sistem manajemen bencana,’ menambahkan.

Lepas dari pesoalan itu, mungkin alam sedang murka sekaligus menunjukkan kuasanya kepada kita. Karena ulah jahil manusia itulah semesta ini memberikan peringatan. Pelbagai cobaanpun acapkali berdatangan supaya kita bisa mengambil hikmah dari bencana alam tersebut. Tentu, kini yang kita butuhkan manusia-manusia kreatif, inovatif melalui karya nyata tak sebatas bicara. (Boelldzh -PusInfoKomp)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:15:00 PM   0 comments
Tulisan (20)
Boro-Boro Via Bank
published on 21 Juli 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Perubahan IAIN menjadi UIN tak berbanding lurus dengan kebesaran namanya. Bila dulu pada saat IAIN hilir mudik kendaraan bermotor yang dapat menggangu proses belajar mengajar dapat diatasi dengan adanya Area Parkir.

Kini, dalam persoalan regisrasi pun masih menggunakan alat manual. Bahkan bagi sebagian mahasiswa sistem itu dinilai semberawut. Tentu tak ada budaya antri (20/07). Padahal, dua kali setiap tahun kita selalu menjalani rutinitas tersebut.

Ketidakjelasan sistem pembayaran SPP menuai pelbagai protes. Salah satunya dari Imam Syafi’ie, mahasiswa Fisika memberikan komentar, ’Cara seperti ini, membuat susah mahasiswa. Bukankah kita sudah menjadi Universitas,’ katanya.

Mian, mahasiswa Sosiologi pun angkat bicara ’Masa harus tetap mempertahankan tradisi lama. Padahal kampus kita sekarang sudah menjadi UIN, sambil memberikan contoh pada saat mendaptarkan saudarnya di satu perguruan tinggi swasta semuanya sudah memakai sistem bank dan mudah di akses oleh masayarakat luas, paparnya.

’Emang geus kitu eta mah. Hese pisan dirobahna. Ayeuna maha mendingan maca buku di Iqra,’ ungkap Sutisna, mahasiswa Aqidah Filsafat saat ditemui PusInfoKomp.

Menyoal sistem kuno itu, bagi Imam, ’Tak ada cara lain selain memakai sistem bank, supaya mudah dilakukan oleh mahasiswa,’ tegasnya.

Senada dengan Imam, Mian pun berujar, ’Mesti memakai bank. Kalaupaun ingin tetap memakai kebiasaan dulu, tolong bikin satu pintu, bukan banyak. Sungguh membuat semberawut kampus UIN, cetusnya.

’Boro-boro melaui Bank via transper dan sistem komputerisasi. Malahan Bank (BNI-red) yang mudah ditemukan dipelbagai daeraha saja. Malahan sekarang di ganti dengan Bank BRI (Bank Rakyat Indonesia-red), tutur salah seorang aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya saat ditemui PusInfoKomp.

Lain aktivis pergerakan, lain pula aktivis Primus (Pria Mushola), Mulyana, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) berkata ’Mestinya memakai dua cara yakni lewat sistem bank dan manual. Karena tak semuanya mahasiswa yang kuliah di UIN ini berasal dari kota, tapi kebanyakannya dari pedesaan,’

Nyatanya peralihan IAIN menjadi UIN, tak selamanya dibarengi dengan tradisi baru dan semangat baru. Malah terkesan melestarikan budaya lama. (Boelldzh).

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:13:00 PM   0 comments
Tulisan (19)
Pameran Meramaikan Ta`aruf Mahasiswa Baru
published on 29 Agustus 2005 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Sejak dimulainya Ta`aruf Mahasiswa Baru periode 2005/2006 tanggal (29/8) oleh Mahasiswa, halaman Auditorium IAIN SGD Bandung penuh sesak dengan stand-stand dari berbagai lembaga-lembaga kemahasiswaan. Dari mulai HMJ-HMJ hingga tiap-tiap UKM di lingkungan kampus turut serta dalam pameran ini. Tidak ketinggalan pula, Warnet Kampus sebagai lembaga non struktural kampus pun turut serta dalam pameran ini.
Sesuai dengan jadwal, Ta`aruf Mahasiswa Baru yang dipanitiai oleh mahasiswa dalam hal ini Panitia Ta`aruf akan ditutup pada hari Kamis (1/9). Selanjutnya, para mahasiwa baru akan mengikuti jadwal-jadwal perkuliahan di setiap fakultas dan jurusan masing-masing, mengikuti Agenda Akademik yang berlaku untuk tahun ajaran 2005-2006. Selamat menjadi bagian komunitas civitas academica IAIN Sunan gunung Djati Bandung. (Boelldzh)

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:11:00 PM   0 comments
Tulisan (18)
Gebyar Ramadhan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
published on 23 Oktober 2005 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

Bertepatan dengan pelaksanaan bulan Suci Ramadhan 1426 H dan perubahan IAIN menjadi UIN (tanggal 10 Oktober, 6 Ramadhan) sejumlah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan BEMJ/HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) melaksanakan sejumlah kegiatan. Dari sejumlah kegiatan yang dilakukan, terdapat beberapa kegiatan yang sempat diliput oleh www.iain-sgd.net, antara lain:

Diskusi Tasawwuf Mulla Shadra

Himpunan Mahasiswa Tasawuf Psikotrapi (HIMA TaPSi) KBM IAIN SGD Bandung menggelar acara bedah buku Mulla Shadra di Auditoruium IAIN dengan tema “Mulla Shadra; Memahami Integtitas Tasawuf Menuju Kearifan” (kamis, 19/10). Jln A H Nasution No 105 Cibiru Bandung 40416. Acara yang diselenggarakan oleh HIMA TaPSi dan Muttahari ini dengan menghadirkan pembicara; Drs Kholid Al-Walid, MAg, Armahedi Mahjar, MA, Radea Juli A Hambali.
------------------------------------
Pembacaan Barzanzi Teater Awal
UKM Teater Awal yang meggelar Qasidah Barjanji pada tanggal 20 Oktober 2005.
------------------------------------
Gebyar Ramadhan Pramuka
UKM Pramuka yang mengadakan kegiatan Gebyar Ramadhan yang melibatakan siswa-siswa SD di lingkungan kampus UIN Bandung.
------------------------------------
Tadarrus Aqidah Filasafat
BEM Aqidah Filsafat mengadakan diskusi Filsafat dari 18 hingga 20 Oktober 2005, dan pada tanggal 21 Tadarus bersama yang dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Ushuluddin. Kegiatan tadarus tersebut selain dihadiri oleh para mahasiswa juga dihadiri oleh sejumlah alumni, Dosen dan Sekretaris Jurusan Aqidah Filsafat.
------------------------------------
HMJ Jurnalistik Buka Bersama
BEM HMJ Jurnalistik mengadakan Buka Bareng Bersama Clining Service dan Satpam di lingkungan UIN SGD Bandung. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2005 dengan diraimakan oleh kreasi seni para mahasiswa Jurnalistik semester I.

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:08:00 PM   0 comments
Tulisan (17)
DIALOG KEBANGSAAN DAN BEDAH BUKU
published on 9 Desember 2005 | Berita Mahasiswa

(UINSGD.AC.ID) Hari senin (21/11/05), Aula atau gedung serba guna Universitaas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dipadati peserta seminar dalam acara bedah buku dan dialog kebangsaan dengan mengangkat tema "Mengenal Lebih Dekat Ahmadiyyah; Ajaran dan Gerakan Dakwahnya". Acara tersebut merupakan kerja sama antara pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama (BEMJ-SA) dengan Komunitas Islam Emansipatoris (KOSIEM) Bandung.

Dalam acara tersebut hadir beberapa pembicara, antara lain; Khairudin Barus SY, sebagai wakil dari Ahmadiyyah Indonesia, M. Jadul Maula, direktur Lembaga Kajian Islam dan Sosial Yogyakarta, dan Dr. Nurrohman MA dosen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai pembanding. Meski ketiga nara sumber itu berlainan paham, diskusi tetap berjalan lancar tanpa ada sentuhan-sentuhan sentimen dari pengunjung. Sedangkan acara dialog tersebut dibarengi dengan tiga kali pemutaran film; “Selayang Pandang Tentang Ahmadiyyah”, “Penyerangan Terhadap Jemaat Ahmadiyyah di Parung Bogor“ dan “Dakwah Global Ahmadiyyah”

Acara tersebut mendapat sambutan hangat dari civitas akademis dan berjalan lancar. Ahmadiyyah pasca penyerangan, dengan berbagai atribut yang di labelkannya, ternyata memiliki visi dan misi yang nyaris mirip dengan kebanyakan organisasi umat Islam pada umumnya. Ahmadiyyah bahkan sama seperti Persatuan Islam, Muhammadiyyah, dan Nahdatul U’lama, ia hanya beda dalam nama semata. Ajarannya sama mengagungkan Islam, demikian kata Khairudin Barus SY.

Sambutan hangat dalam acara seminar ini tampak dalam keterlibatan mahasiswa yang aktif dalam diskusi dan bedah buku tentang Ahmadiyyah ini. Apresiasi positif diberikan peserta seminar dengan rasa penuh persaudaraan-iman, Ukhuwah-Imaniyyah. Sebagai kajian ilmiah-akademis, dapat dipastikan bahwa hal ini memang harus ditradisikan dan harus mentradisi terus-menerus, dari generasi ke generasi. Suatu pandangan baru di abad modern ini yang akan sanggup membawa pada kerukunan hidup umat beragama.

Seperti halnya sebuah madzhab keagamaan lainya dalam Islam, Jemaat Ahmadiyyah Pakistan terbagi dua aliran, Lahore dan Qadian. Lahore sama dengan kita, sedangkan Qadian sedikit berbeda dengan kebanyakan Organisasi Islam. Dalam theologi misalnya, Ahmadiyyah Qadian sempat mengakui adanya nabi baru, terlepas nabi termaksud apakah membawa syari’at ataupun tidak. Sedangkan Lahore tidak demikian. Dalam teologinya, Lahore hanya meyakini kedatangan sang Imam Mahdi, petunjuk di akhir zaman kelak, demikian ungkap para nara sumber di akhir diskusi dan bedah buku itu. (Boelldz/Cian/uinsgd.ac.id).

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:06:00 PM   0 comments
Tulisan (16)
PEMILU RAYA MAHASISWA PUTARAN PERTAMA
published on 24 Desember 2005 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

(UINSGD.AC.ID).Rabu, 21/12/2005, suasana civitas akademika kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung diramaikan oleh pemilu raya Badan Eksekutif Mahasiswa. Tiga partai yang bersaing memperebutkan kursi MPM dan DPM dalam Pemilu putaran pertama ini nampak berjalan lancar. Partai yang mengikuti Pemilu Raya kali ini adalah: Partai Intelectual Sociaety (PIS), Partai Kampus Merdeka (PKM) dan Partai Nurani (PN).

Hilir mudik mahasiswa yang hendak mencoblos tidak mengganggu ketentraman perkuliahan kampus. Padahal Kampus sendiri nampak semarak dijejaki riuhnya peserta pemilu.

Berbeda dari saat kampanye partai belum lama ini. Saat pencoblosan, kampus hanya ramai oleh peserta pemilu yang antrian dalam pencoblosan. Tidak ada arak-arakan, apalagi orasi seorang jurkam. Bahkan yang demonstrasi sekali pun tidak nampak. Padahal yang tidak setuju terhadap keberlangsungan partai tentu saja banyak. Tidak semua mahasiswa sepakat kalau sistem kepartaian diterapkan di kampus tercinta ini. Pesta Demokrasi ini merupakan bentuk Demokratisasi ala Kampus, untuk membangun kepemerintahan mahasiswa (Student Good Governence) pada tingkatan Universitas.

Pemilu Raya Mahasiswa putaran pertama yang dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2005 ini diagendakan guna memilih Caleg (calon legislatif) dari 3 partai yang menuai ragam cerita dari kalangan civitas akademika kampus. Hajatan besar mahasiswa ini tentu tidak berhenti pada pencoblosan Anggota Dewan semata dengan memperebutkan kursi sebanyak 37 kursi. Lebih penting dari putaran pertama ini. Yakni pemilihan Capres dan Cawapres yang akan diselenggarakan pada tanggal 18 Januari 2006 kelak. Tentu saja, putaran kedua ini tiada lain guna menetapkan Presiden dan Wakil Presiden mahasiswa Universitas Islam Negeri Bandung.

Perolehan Suara untuk masing-masing Partai berdasarkan Faklutas, antara :

Rekapitulasi Perolehan Suara Pemilu Raya Mahasiswa UIN BANDUNG 2005
No Partai Ad Da Sy Trb Ush Jml
1 Partai Intelektual Society 95 182 213 431 86 1007
2 Partai Kampus Merdeka 109 192 153 241 107 802
3 Partai Nurani 60 149 239 234 48 730
4 Abstain 25 19 19 19 9 91
Total Suara 289 542 624 925 250 2630

(uinsgd.ac.id: Cian Ibn Sinna, Iman al-Ghifari)


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:04:00 PM   0 comments
Tulisan (15)
Perubahan IAIN Menjadi UIN (Obrolan ringan dosen dan mahasiswa)
published on 22 Oktober 2005 | Berita Universitas--Ibn Ghifarie

Setelah terbitnya SK Presiden nomor 57 pada tanggal 10 Oktober 2005 tentang peralihan IAIN Sunan Gunung Djati menjadi UIN, kini pro-kontra tentang perubahan IAIN menjadi UIN telah berakhir. Namun demikian, selain optimisme wacana yang berbau pesimis pun masih tetap membayang di kalangan civitas akademika UIN Bandung. Hal tersebut terungkap dari hasil wawancara pada sejumlah dosen dan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung kepada wartawan iain-sgd.net.
Dosen mata kuliah Hadits Fakultas Ushuluddin, Badri Khoeruman, berkomentar, bahwa peralihan IAIN menjadi UIN itu, tentu saja akan mendapatkan tantangan yang lebih berat dan komplek, katanya. Lebih jauh, pria yang memakai baju kemeja putih itu, mengemukakan bagaimana IAIN akan bisa menjadi satu Universiats Islam yang berada di garda depan. Toh, ketika masih sebagai Institut (IAIN) saja banyak tugas-tugas yang belum dan harus dituntaskan. Apalagi setelah menjadi Universitas. "Kita masih menjadi konsumen ilmu dan bukannya sebagai produsen ilmu, tak ada bedanya dengan Aliyah atau yang sederajatnya", tegasnya. Fakultas Ushuluddin sebagai contoh, Fakultas yang semestinya menjadi pabrik bagi lahirnya pemikiran Islam, pada kenyataannya hanya mampu menjadi konsumen ilmu, jadi pasar ilmu pun tidak. Badri menyebutnya sebagai budaya latah dalam kultur ilmiah.
Tak hanya sampai di situ saja, pria berperawakan kecil itu, berujar dengan menggebu-gebu, kalaulah IAIN hanya dapat menciptakan serjana-serjana yang urakan dan latah, jangan sampai peralihannya menjadi UIN hal yang sama tetap terjadi. Sambil membuka lembaran-lembaran lusuh tentang kejadian Ta’aruf 2004 yang lalu. Belum lagi tentang kelulusan mahasiswa UIN yang dipertanyakan tentang ilmu keislamnya? katanya.
Sementara bagi Rifqi Rosyad, Ketua Jurusan Perbandingan Agama (PA) di fakultas yang sama menyebutkan bahwa berubahnnya IAIN menjadi UIN, harus dapat mensejahterakan seluruh civitas akademika, terutama dosen. Sebab dalam pengakuannya bahwa upah dosen itu tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk mengajar. Maka sangatlah wajar apabila ada beberapa dosen yang mengajarnya tidak serius, sebab terbentur dengan urusan rumah tangga, ugkapnya.
Tampaknya, Rifqi mengembalikan apa yang diungkap Badri pada persoalan kesejahteraan dosen, selain bahwa proses dan grade penerimaan mahasiswa baru harus ditinjau ulang. Sementara Badri sendiri tidak memberikan solusi selain dengan cara membubarkan Fakultas-Fakultas yang tidak lagi mampu merubah dirinya menjadi pabrik ilmu, Fakultas Ushuluddin sebagai contoh, demikian ungkap Badri, salah seorang Dosen Ushuluddin yang alumni Tafsir Hadits Fakultas Syari’ah itu.
Sementara itu, sejumlah mahasiswa yang diwawancara memberikan komentar yang beragam. Dindin, Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama, mengemukakan pesimismenya. Kalau hanya perubahan nama itu tak masalah, bahkan saya sangat optimis pasti berubah, ungkapnya. Namun secara kualitas, pria kelahiran Bandung ini, mengungkap meragukannya. Ia beranggapan bahwa akan terdapat perbedaan penyikapan dari masyarakat antara penyandang ijazah IAIN bila dibandingkan dengan ijazah UIN. Selain itu terdapat juga perbedaan dalam tanggung jawab intelektual, tambahnya.
Rukman, Mahasiswa kelahiran Selawi Garut, ikut nimbrung, ia mengatakan bahwa perubahan status tersebut harus pula diikuti dengan perumusan dan re-orientasi paradigma Jurusan yang mempertimbangkan basis ilmu pada tiap-tiap Jurusan dan program studi masing-masing. Sehingga tidak terjadinya ketimpangan-ketimpangan pada jurusan tersebut, ia menambahkan. Tampaknya ia menghawatirkan tidakadanya sinergi antara ilmu keislaman dengan ilmu umum lainnya, sehingga UIN lebih tampak sebagai kumpulan Jurusan dari berbagai disiplin ilmu yang beragam tanpa memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya, demikian kekhawatitran itu diungkap oleh ketua GPMI UIN SGD Bandung.
Lain halnya dengan Dzarin, mahasiswa jurusan Jurnalistik, mengungkapkan keprihatinannya terhadap perubahan IAIN menjadi UIN. Ia mengungkap aspek yang mungkin sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perubahan status IAIN dengan UIN, hanya kebetulan bersamaan dengan waktu pergantian status. Ia mengeluhkan bahwa waktu masih IAIN, keberadaan aktivitas kampus masih boleh melakukan kegiataan sampai larut malam di kampus. Ketika menjadi UIN, mahasiswa tidak diperbolehkan mendiami kampus lagi. Kegiatan mahasiswa di Kampus dibatasi hanya sampai jam 9 malam. Secara otomatis mahasiswa tidak bisa bermalam di kampus lagi. Selain itu, perubahan ini terlalu cepat bila dilihat dari infrastrukturnya yang relativ masih belum mapan, tambahnya.
Tampak bahwa komentar-komentar yang disampaikan oleh beberapa dosen maupun mahasiswa menggambarkan tidak adanya informasi yang memadai yang mereka terima berkenaan dengan peralihan IAIN menjadi UIN Bandung. Perlu disosialisasikan secara internal dan intensif oleh para pejabat yang berwenang agar jelas dan menjadi sebuah sinergi untuk melangkah lebih lanjut. (Boelldz/Cian/iain-sgd.net).

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:02:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.