'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Nukilan (13)
Thursday, September 28, 2006
Ternyata Kita Belum Dewasa
Oleh Ibn Ghifarie

Orang bilang, “jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan”. Banyak sekali parameter kedewasaan. Jika sudah bisa mandiri, jika sudah bisa memandang sebuah masalah dari banyak sisi, atau ketika bia mapan menghidupi diri sendiri. Karenanya, banyak pula pilihan cara untuk menjadi dewasa.

Tapi tampaknya kedewasaan belum sampai ke pangkuan seluruh civitas akademika UIN SGD Bandung, termasuk para pejabat di Gedung Rektorat. Polemik pemilihan Dekan Fakultas Psikologi pun tak kunjung selesai, misalnya. Alih-alih mekanisme PLH (Pelaksana Harian) Fakultas Psikologi ternyata masih mencampuri urusan “dalam negeri” di Pemilihan Dekan tersebut.

Hal ini ditunjukkan oleh peran Rektorat yang besar dalam “mengamini” terpilihnya Drs, Endin Nasruddin, M.PSi. Mesti memiliki keganjilan dalam gelarnya (bukan M.PSi, tapi M.Si). Padahal, semestinya hal ini dilakukan dengan sidang resmi oleh Senat Universitas. Sampai saat ini, eksistensi lembaga tertinggi di UIN seperti berada di ujung jalan, tertimpa tangga, dan belum bisa bangun lagi. Pasalnya, tangga yang menimpanya justru menindih makin kuat dan pelik.

Sudah begitu, dari penjaringan dan rekrutmen dosenya pun sendiri belum menunjukkan profesionalisme dan profosiolalisme dalam bekerja. Ditandai dengan ketidaksiapan sarana dan prasarana yang memadai serta ketidakjelasan mutasi dan rekrutmen guru. Seharusnya antara lembaga satu dengan yang lain haruslah bekerja secara profesional, sehingga tak terbentur konflik internal.

Pertanyaannya sekarang adalah, kapan kita bisa menjadi dewasa? Kapan kira-kira UIN bisa menyelesaikan sejumlah kemelut yang masih saja membayangi hingga kini? Kapan UIN bisa benar-benar mapan dalam menghadapi sejumlah perubahan, tanpa merugikan pihak lain?

Tak ayal lagi, Protes soal kenaikan SPP, dana praktikum tak jelas, pungutan Iqomah, Poliklinik dan pungli (pungutan liar) lainya berkedok buku, majalah saja belum kelar sampai sekarang. Belum lagi problem-problem kecil seperti pemberlakuan karcis parkir, perbaikan tempat kakus (WC), tumpukan sampah dimana-mana, relokasi pedagang. Tentunya, sederetan masalah-masalah kecil yang jika dibiarkan terus bakal sangat mengganggu.

Polemik di tubuh Psikologi mungkin bisa diselesaikan dengan perekrutan Balon (Bakan Calon) dan melibatkan mahasiswa. Tentu dengan prosedur yang transparan dan disosialisasikan sejelas-jelasnya. Tanpa sosialisasi, ada atau tiada Dekan, tak akan ada gunanya karena tak dikenal oleh mahasiswa.

Selebihnya, semua persoalan yang menghadang kampus ini haruslah disikapi dengan kedewasaan. Kedewasaan yang seperti apa? Yaitu yang bisa menunjukkan bahwa sebagai Universitas, UIN bisa mandiri tanpa harus “dibimbing” oleh segelintir orang atau sekelompok organisasi tertentu. Dengan harapan bisa menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan masalah baru. Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 27/09;19.52 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/28/2006 09:06:00 PM   1 comments
Nukilan (12)
Thursday, September 14, 2006
Belajar Dari Presiden Gunung Merapi Kenapa Mesti Malu?
oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah krisis kepercayaan terhadap pemerintah terutama kepada Presiden RI SBY-JK (Susilo Bambang Yudoyono-M Yusuf Kali). Hal ini terbukti dengan maraknya pelbagai aksi unjuk rasa. Mereka menuntut SBY-JK untuk mundur dari kursi Presiden. Pasalnya, mereka tak bias membuat bangsa kita keluar dari pelbagai multi krisis dimensional.

Malahan para penguasa pasca Mega itu, acapkali menaikan sejumlah kebutuhan rakyat jelas, muli dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), Telpon, Listrik, kebanjiran, gempa, kekeringan sampai kurang pasokan beras. Padahal, beberapa pekal lagi bulan Ramadhan tiba.

Mencermati persolan pelik dan akut ini, tak ada cara lain selain kita mesti banyak belajar dan berguru terhadap Mbah Marijan. Seperti yang ditulis oleh FX Rudi Gunawan dalam buku ‘Mbah Maridjan Sang Presiden Gunung Merapi’ (2006) dan ditulis ulang oleh Ahmad Wasito dalam HU Media Indonesia (4/09). Pasalnya, presiden gunung merapi ini memberikan penyadar terhadap kita betapa kesederhanaan, kejujuran, dan keadilan adalah barang berharga sekaligus sangat langka di negeri ini. Keserakahan, kedengkian, dan kesewenang-wenangan memang telah menjadi kewajaran. Orang saling pukul, saling tikam, saling bunuh. Penguasa menipu, memeras, menindas dan menganiaya rakyatnya. Korupsi merajalela. Rakyat sengsara. Dan orang jujur, sederhana dan adil menjadi sulit dicari.

Meskipun begitu, sosok Mbah Maridjan tetap saja sebagai manusia biasa layaknya. Ia makan, minum dan tidur. Bukan orang sakti maupun paranormal yang mengetahui dunia gaib. Apalagi, kejadian yang akan mendatang. Namun, satu hal yang membuatnya istimewa adalah sifat dan kepribadiannya. Sifat dan kepribadian yang tidak dijumpai pada sembarang orang.

Pendek kata, Maridjan adalah orang jujur. ''Jujur sak jujur-jurure wong,'' kata Sawidjan, salah satu abdi dalem Mbah Maridjan. Dalam bahasa Indonesia berarti manusia paling jujur yang dimungkinkan. Maridjan memang dikenal sebagai sosok yang jujur lugu setia dan penuh tanggung jawab.

Sikapnya yang dipandang ‘kolot’, membuat ia tetap bertahan di Merapi saat gunung itu aktif’ Sebenarnya ini merupakan symbol kejujuran, bakti dan tanggung jawabnya sebagai juru kunci Merapi. Artinya, dengan cara bertahan, sambil melakukan ritual, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memohon keselamatan. Tidak saja bagi warga sekitar Merapi, tapi untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Begitulah Maridjan, sikap dan perilakunya sering dianggap tidak sejalan dengan logika praksis orang sekolahan. Perkataannya yang syarat nilai simbolik menyimpan kearifan dan filosofi penuh makanan, dan terkadang mengejutkan.

Di balik sarung dan kopiah sederhananya tersimpan pusaka bangsa yang telah lama hilang, yaitu kejujuran, kepolosan dan keluguan. Dengan kearifan dan kesederhanaannya, Maridjan bak oase di tengah carut-marutnya bangsa yang dipenuhi orang-orang yang terbelenggu oleh pengejaran kepuasan dan nafsu. Oleh ego dan keserakahan.

Dengan demikian, kita mesti mengambil hikmah dari apa yang telah dikeluarkan oleh letupan gunung merapi. Terlebih lagi, sosok Mbah Marijan yang sering dianggap ‘udih’. Nyatnya menyimpan sejuta sikap dan sifat arif.

Lantas, mengapa kita mesti malu belajar dari presiden Merapi tersebut. Jika, Ia mengajarkan sekaligus memberi contoh terhadap para pejabat untuk tetap memegang teguh amanah yang diembannya. Maka kenapa harus malu bercermin padanya? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kering, 06.09;14.08 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:37:00 PM   0 comments
Nukilan (11)
Nikah Kilat Ala Cisarua Kenapa Tidak?
oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah arus globalisasi dan semakin tak menentu keberpihakan pemerintah terhadap rakyat jelata. Kian hari, kian dirasakan oleh sebagian masyarakat kecil. Mulai dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minimum), Listrik, Telpon, sampai minimnya pasokan beras, air. Apalagi pasca krisis moneter.

Meningkatnya pola hidup membuat sebagian penduduk Indonesia lupa diri, hingga berani melakukan perbuatan ganjil yang dianggap sebagian kelompok tertentu.

Adalah pernikahan mut’ah atau lebih dikenal dengan sebutan nikah kontrak. Tentu saja, maraknya perbuatan nyeleneh ini bak dimusim hujan, membuat sebagian golongan keagamaan geram, hingga kebakaran jengot. Ujung-ujungnya mereka mengeluarkan senjata ampuh bernama fatwa.

Lihat saja, empu Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH Ma'ruf Amin pun angkat bicara, justru heran mengapa praktik itu masih dilakukan di Indonesia. Padahal jelas-jelas menurut kaca mata agama dan negara, model perkawinan ini dilarang dan diharamkan. ''Nikah kontrak tidak boleh karena waktunya terbatas. Nikah itu tidak pakai waktu terbatas, untuk membina keluarga yang sakinah," ujarnya, saat dihubungi Republika, Rabu (9/8). Nikah dengan batas waktu, kata dia, umumnya hanya karena satu alasan: hawa nafsu. Bahkan ia menilaianya sebagai bentuk pelacuran terselubung. "Hanya ada kepentingan materi dan seksual, setelah itu bubar,'' jelasnya.

Senada dengan Maruf, secara kelembagaan pun PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menyatakan bahwa kawin kontrak dalam hukum Islam haram dilakukan karena diindikasikan sebagai pelacuran atau perdagangan manusia terselubung yang mencari pembenaran. (Keluarga Sejahtra 15/08)

Menjamurnya pernikahan ala Cisarua itu, menuai pelbagai protes. Entah mendukung atau menolak mentah-mentah tanpa mengetahui asal muasalnya.

Ironisanya lagi perbuatan miring tersebut, dilakukan oleh sebagian besar turuan Arab yang melakukan pelesiran ke Indonesia. Padahal Jajirah Arab merupakan kiblatnya umat Islam. Sunguh membuat citra umat islam berbau Timur Tengah itu, semakin luntur dimata masyarakat.

Lepas dari persoalan halal-haram, sah atau tidak, pelacuran terselubung berkedok agama. Nyatanya, mengisahkan sederetan cerita menarik untuk kita kuak dan simak secara bersama-sama. Bahkan membawa mereka ke jalan kebahagian.

Artinya, justru semakin banyaknya para pelancong rasa yang berdatangan ke Bogor. Apalagi melakukan pernikahan, seolah-olah mereka menjadi ‘Dewa Penyelamat’. Pasalnya, mereka telah melepaskan lilitan sekaligus jeratan kemiskinan yang telah menimpa warga sekitarnya.

Sebut saja, Lilis 23 thn, wanita asal Sukabumi, "Yang penting bagi saya, orang-orang Arab itu ngasih mahar (maskawin) segede-gedenya," kata Lilis kepada Gatra.

Lilis menekuni profesi sebagai "pekerja nikah kontrak" sejak tiga tahun lalu. Pada 2003, setelah berpisah dari suami pertamanya asal Sukabumi, Lilis memutuskan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Riyadh, Arab Saudi. Di sana ia menikah dengan orang Arab Saudi bernama Faris Ma'tuk Al-Maseri, 40 tahun.

Merasa kurang cocok dengan Faris, Lilis akhirnya pulang ke Indonesia pada 2004. Setelah itu, ia berkali-kali menikah kontrak dengan orang Arab di Indonesia. Dari Umar, 38 tahun, Abdul Aziz, 35 tahun, Hasan, 40 tahun, hingga Ibrahim, 55 tahun. Kini, entah kenapa, Lilis kembali lagi ke pangkuan Faris sebagai pembantu rumah tangga sekaligus istrinya.

"Rasa cemburu antara saya dan istri Faris jelas ada. Tapi saya menikmatinya, kok," tutur Lilis. "Ya, namanya juga cari duit. Beginilah nasib saya," ucapnya, pasrah.

Kekayaan Lilis dari nikah kontrak selama tiga tahun tidaklah sedikit. Saat ini, ia sudah memiliki empang ikan seluas 70 meter persegi dan sawah berpetak-petak di kampung halamannya, Babakan Pari, Cisaat, Sukabumi.

Bukan hanya itu, putri kedua dari enam bersaudara ini juga bisa membiayai kuliah kakaknya di sebuah perguruan tinggi elite di Bandung, sekaligus merenovasi rumah kedua orangtuanya. Saat Gatra berkunjung ke rumah orangtua Lilis, rumah di atas tanah seluas 200 meter persegi itu tampak mentereng. (Gatra, 10/08).

Dengan demikian, tak selanyanya ‘perbuatan kelam’ selalu diamini oleh sebagian kelompok tertentu. Apalagi bila sudah berhubungan dengan masalah perut. Tak bisa diajak berkompromi atau cukup dengan berdoa dan berdiam diri di mesjid. Sudah tentu, jawabnnya tidak.

Meskipun begitu, umat islam harus lebih arif dalam menyikapi persoalan tersebut. Bukan malah mengalang kekuatan untuk membumi hanguskan vila-vila indah nan asri lagi elok di Cisarua Bogor tersebut.

Relakah kita, saudara-saudra yang semuslim menjadi ingkar terhadap Tuhan, karena terganggu dengan masalah dapurnya. Bila tidak, maka berikanlah zakat pada mereka. Atau nikahkan saja mereka dengan para pengusa dan ulama kaya. Namun, jika masalah kemiskinan tak diutamakan oleh kyai, maka berjamahlah kita melakukan pernikahan kilat. Kenapa tidak? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 07/09;23.55 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:35:00 PM   0 comments
Nukilan (10)
Buah Simalakama Itu Bernama Paket C
oleh Ibn Ghifarie


UJIAN kesetaraan paket C digelar serentak dan berlangsung lancar di seluruh Tanah Air, Senin (28/8) hingga Kamis (31/8) lalu. Lebih dari 200 ribu orang mengikuti ujian yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mendapatkan ijazah SLTA itu. Peserta ujian terdiri dari mereka yang tidak memiliki ijazah SLTA karena putus sekolah, dan mereka yang tidak lulus ujian nasional (UN) beberapa waktu lalu.

Jumlah yang ikut ujian paket karena gagal UN cukup dominan, yakni 65%. Inilah yang membuat peserta ujian kesetaraan paket C tahun ini naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun lalu. Sebuah konsekuensi dari langkah pemerintah yang meniadakan UN ulangan bagi mereka yang gagal, sehingga menjadikan ujian paket C sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan pendidikan SLTA.

Lancar dan tidak ditemukannya kejanggalan dalam pelaksanaan ujian paket C patut disyukuri. Bayangkan, apa yang terjadi, seandainya ujian itu diwarnai oleh kecurangan dan praktik pungutan sebagaimana yang sempat dikhawatirkan sebelumnya, sehingga ujian paket C itu dinilai gagal? Jadi, inilah solusi bagi yang gagal UN, tetapi juga gagal menyelesaikan masalah, bahkan menambah masalah baru. Yang sudah pasti jumlah mereka yang menganggur karena tidak memiliki ijazah akan meningkat. (Media Indonesia, 03/09)

Aneh memang. Di tengah-tenganya maraknya siswa yang gagal mengikuti Ujian Nasional (UN) beberapa bulan lalu. Kejar Paket B (sejajar SMP) dan C (tingkat SMA) di harapkan menjadi solusi arif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Nayatanya, malah membuat masalah baru, seperti yang dilansir oleh Media Indonesia.

Tak berhenti sampai di sini saja, pola pendidikan pun di tentukan oleh sistem UN yang berjalan selama beberapa hari. Sudah tentu, mengabaikan kompetensi anak didik. Pendek kata, model pendidikan berbasis kompetensi pun tak berbanding lurus dengan gaya UN. Seakan-akan mensyaratkan perbedaan antara penentuan kelulusan dengan kurikulumnya.

Lebih parah lagi, pelaksaan ujian paket C pun kian memprihatinkan peserta didik. Pasalnya, meskipun mereka lulus dari ujian tersebut, tetap saja mereka tak bia melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Terutama ke Perguruan Tinggi Negeri karena lembaga pendidikan itu, telah menutup masa penerimaan mahasiswa baru. Malahan telah di gelag acara Orientasi Pengenalan Kampus (ospek). Artinya mereka harus rela mengalkan terlebih dahulu cita-citanya. Kalaupun bisa, paling mereka melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tentunya, dengan biaya yang relatif lebih mahal.

Dengan demikian, di selenggarakanya ujian paket C atau tidak, kedua-duanya malah menjadi buah simalakama bagi pertumbuhan lajunya pendidikan.

Ironis. Sunguh ironis. Semuanya telah terjadi bak nasi sudah menjadi bubur. Kini, tinggal bagaimana cara pemerintah atau kita mampu mengoptimalkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Tak lain guna memberikan bimbingan pada anak didik yang berada di sekitar lingkungannya. Sebab tak mesti selamanya pendidikan ala Indonesia hanya tertumpu pada lembaga formal semata. Namun, keikutsertaan keluarga, lingkungan pula menjadi modal yang tak terelakan lagi. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;11.05 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:33:00 PM   0 comments
Nukilan (9)
NU Keluarkan Fatwa Infotainment Satu Kemunduran
oleh Ibn Ghifarie


Di selenggarakannya Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli lalu akhirnya merekomendasikan bahwa NU mengeluarkan fatwa haram tentang infotainment. Tentu saja, maklumat itu menuai pelbagai protes. Sehingga di gelar dialog publik bertajuk “Infotaintment: Kezaliman Era Baru?” di gedung Badan Perfilman Nasional, Jakarta, Kamis.

Ketua PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj menyatakan, langkah NU mengeluarkan fatwa haram bagi infotainment yang cenderung membuka aib seseorang semata untuk mengajak umat pada kebaikan dan meninggalkan keburukan, namun NU tak akan memaksa masyarakat untuk mengikuti fatwa tersebut.

“Ini cara kita (NU, red) beramar ma`ruf nahi munkar. Mau diikuti silakan, nggak mau ya nggak apa-apa,” kata Said Aqil. Oleh karena itu, katanya, ia menjamin fatwa yang dihasilkan dari proses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli lalu itu tidak akan diikuti dengan aksi sweeping terhadap orang-orang yang tidak mengikuti fatwa tersebut.

“Jangan khawatir, saya menjamin PBNU tidak akan menurunkan Banser untuk melakukan sweeping. Kalau ada (sweeping), saya tegaskan, itu pasti bukan dari PBNU,” kata Said Aqil dalam diskusi yang juga menghadirkan beberapa pembicara lain, seperti Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Dr Effendy Ghozali MA dan budayawan Prof Dr Abdul Hadi WM.

Dikatakannya, dasar para ulama NU menetapkan fatwa haram sangat jelas, bukan asal-asalan. “Membuka, mempergunjingkan keburukan orang disebut ghibah. Semua kiai tidak ada yang berbeda pendapat bahwa ghibah itu hukumnya haram ‘absolut’. Dasarnya jelas, bukan dari ijma atau qiyas, tapi langsung dari hadis,” katanya.

Sementara itu Abdul Hadi WM mengatakan, tayangan infotainment yang kebanyakan berisi gosip dan membuka aib orang lain merupakan upaya dari pendangkalan budaya bangsa. “Itu pendangkalan budaya, demoralisasi, tidak ada nilai yang terkandung di dalamnya,” tandasnya.

Sedangkan Effendy Ghozali menilai, karakter infotainment di Indonesia adalah over explosive, over simplified dan over claim. Over explosive karena tayangan infotainment sudah terlalu banyak, semua stasiun televisi di Indonesia memiliki program acara serupa. Akibatnya, infotainment justru menjadi sarana sinisme bukannya menjadi media informasi yang mencerdaskan masyarakat.

Sementara over simplified, lanjut Effendy, ditunjukkan dengan cara kerja para jurnalis infotainment yang terlalu mudah menyederhanakan dan menyimpulkan sebuah persoalan. “Ketika seorang artis ditemui sedang berjalan dengan orang lain, langsung saja disimpulkan selingkuh atau sedang ada affair. Intinya mengada-ada,” katanya.

Sedangkan over claim, kata Effendy, media infotainment selalu mengklaim demi kepentingan publik. seolah-olah publik harus mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada artis. “Perceraian seorang artis dengan pasangannya diklaim bahwa hal itu sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Dikatakannya, jika hingga saat ini sasaran dari pada berita infotainment masih berkisar pada kehidupan pribadi selebritis, maka tidak akan lama lagi akan berkembang pada kehidupan tokoh lain, misalnya tokoh politik.

“Kita lihat saja minggu-minggu ini sejumlah infotainment sedang memberitakan kehidupan pribadi salah seorang tokoh politik dari PAN (Partai Amanat Nasional). Ini artinya, nanti gosip infotainment itu tidak lagi didominasi selebritis,” katanya.(Syirah,11/08;Metro TV)

Saya kira, munculnya fatwa itu syarat dengan pelbagai kepentingan, hingga di sinyalir oleh bebrapa media masa menyebutkan keluarnya keputusan itu berkenaan dengan mencuatnya kembali gosip Ahmah Dani (Pentolan Dewa) pernikahasn syiri dengan Wulan Cewok (Vokalis, Ratu). Sah-sah saja, bila ada anggapan seperti ini. Pasalnya Ahmad Dani merupakan pengagum sekaligus pengikut setia Gus Dur. Kono, ia berusaha menefis kabar burung tersebut dengan mengeluarkan maklumat melalui ormas NU.

Namun, bila kita selaku pengikut nahdiyyin--meminjam sitilah Cak Nur dalam menyebut warga NU berarti NU telah mengalami kemunduran. Bahkan sangat ironis di tengah-tengah gencarnya berupaya membangunmasyarakat plurali, inklusi dan elegen, nyatanya NU malah melanggengkan budaya penyeragaman. [ Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere 11/08;09.34 wib
buledz is offline Reply With Quote

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:31:00 PM   0 comments
Nukilan (8)
Shaum Obat Mujarab Zina.
oleh Ibn Ghifarie


Quote:
Originally posted by mifka
Nah, para ulama Khawarij adalah salah satu dari sebagian umat Islam yang menolak hukuman rajam bagi penzina. Menurut mereka, hukuman tersebut bukan hukum Islam. Rajam adalah hukuman yang kelewat batas dan sangat berat dilaksanakan; toh hukuman tersebut--lagi-lagi--tak pernah tercantum dalam al-Qur`an. Kalaupun ijtihad, itu pengaruh Naziisme!
Hukum rajam yang saya tahu lahir dari tradisi agama Yahudi. Al-Qur`an hanya menyuruh hukuman maksimal mencambuk para penzina di depan publik. Tetapi itu jarang terjadi.
Ada juga hukuman bagi para penzina yang relatif lezat: para pelaku zina yang ketangkep baseh akan dinikahkan segera oleh orang tua mereka masing masing. Wah, hukuman macam ini memang jadi alternatif masyarakat. Alasannya bisa macam-macam: malu, takut keburu hamil dsb. dsb.
Namun, saya khawatir juga kalau hukuma jenis ini terus berlaku. Saya khawatir para pasangan remaja terobsesi berzina karena hukumannya lezat: dinikahkan...tanpa beribet cari kerja dulu, tentu saja.

Shaumlah bila kita tak kuat menahan nafsu. Melakukan perbuatan zinah apalagi. Kira-kira begitulah petuah Muhammad dalam kitabnya. Seyogyanya kita selaku umat islam untuk mengikuti ajaranya, tapi bukan tanpa alasan. Menjadi pengikut sambil mempertanyakan kembali keabsahan risalahnya, itu lebih baik daripada sama sekali tidak.

Namun, jika ramuan mujarab ala gurun pasir itu, ternyata tak mampu ke ganasan hasrat, maka bicarakahlah kedua insan bersama orang tuanya. Tak lain untuk memperoleh restu dalam pernikahannya. Walhasil, panggilah ke penghulu guna mencatat akta pernikahan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;03.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:29:00 PM   0 comments
Nukilan (7)
Indonesia Tak Lagi Merdeka
oleh Ibn Ghifarie


Quote:
Originally posted by mifka
Kolonialisme masih tetap hidup. Ia merasuki kita lewat kerkah kapitalisme. Ia bergerak seperti virus mematikan, menjajah nasib pengangguran, rakyat kecil dan lainnya...
Ia dikemas lewat budaya yang lezat untuk dikonsumsi.

Duh, setiap tahun kita dengar pidato Soekarno dan pembacaan proklamasi kemerdekaan...tetapi ternyata kita belum merdeka. Kapan kita seperti Iran yang punya presiden bengal?
Apa kau pikir Indonesia telah merdeka?
Jika kau mencintai bangsa ini, kau akan menjawab: belum! []

Meskipun, kita setiap tahun mendengar bahkan merayakan petuah suci Presiden RI ke-1. Nyatanya, kita tak bakal berkata merdeka. Pasalnya, secara legal kita telah lepas dari penjajahan tiranik ala Walanda dkk. Tapi kalu kita renungkan secara mendalam ternyata kita lagi terus di dera penindasan berwajah manis. Orang-orang kiri sering menyebutnya dengan sebutan neo-liberalisme.

Terlebih lagi, peperangan antar pemikiran lebih gans dan seru melanda zamrud katulistiwa ini. Orang-orang kanan sering memberikan label. Kini, kita sedang dilanda ghazul fikr oleh barat.

Adalah memenej kemauan supaya tidak ganas, berbuat liar dan banal apalagi. Disinilah makna terdalam dari sebuat kemerdekaan suatu bangsa. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 03/09;04.12 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:28:00 PM   0 comments
Nukilan (6)
Sifat Kesukuan Itu Bernama Organisasi.
oleh ibn Ghifarie

Memang benar, bila melihat persoalan motiv di balik kata-kata secara sepintas, seakan-akan tak ada hubungannya kemunculan ‘jargon’ dengan dalih litarafu (Al-Hujurat;13). Namun bila kita telisik lebih jauh dan arif, maka akan nampak terbuka tabir-tabir terselubung tersebut.

Nuansa politis di UIN lebih kental bila dibandingkan dengan PT (Perguruan Tinggi) lain. Meskipun tak ada Fakultas FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Sampai-sampai ada pameo di masyarakat Lamun hayang jago dina bag-bagan politik. Omat tong sakola ka Unpad (Universitas Padjadjaran) atawa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), tapi ka IAIN wae.

Apalagi dengan adanya kegiatan Ta’aruf. Sudah tentu, sarat dengan kepentingan Organ Ektra (organisasi ektra kampus) sebagai ajang kaderisasi organisasi tertentu, mulai dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sampai KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Kini, malah menjelma dalam bentuk baru bernama Partai Mahasiswa. Entah itu, PKM (Partai Kampus Merdeka), PIS (Partai Intelektual Society) dan Partai Nurani.

Kuatnya kultur pepeletekan, daripada keilmuan, maka melahirkan perubahan sekecil apapun selalu dimata-matai. Terlebih lagi, buat mahasiswa Fakultas Filsafat dan Theologi, yang dinilai sebagian mahasiswa urakan, bahkan selalu bikin onar. Walaupun, tak begitu akrab dengan nuansa politis.

Mengakarnya tradisi pergerakan, bahkan sudah sampai mendarah daging di lingkungan UIN membuat kaum pelajar lupa pada tugas mulianya. Yakni menuntut ilmu. Hingga suatu waktu, bila datang acara pemilihan Presma (Preside Mahasiswa) dan Wapresma (Wakil Presiden Mahasiswa) BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UIN atau acara tahunan bernama Ta’aruf, sejenis Ospek (Orientasi Pengenalan Kampus di PT lain) setiap organ ekstra mereka berani mati dalam memperjungkan kelompoknya.

Perseteruan antar partai pun tak terelakan lagi. Bahkan menjadi jurus pamungkas. bila tak tercapai keinginannya sebagai pemimpin. Pendek kata, kepanatika yang berlebih-lebihan tanpa didasasi pemikiran jernih dan lapang dada akan menjadikan seseorang lupa diri atau malah membabi buta. Ujung-ujungnya mereka beranggapan bahwa golongannya yang paling baik. Sementara di luar kelompoknya tidak.

Mencermati perilaku berwatak 'barbar' tersebut, bukankah ini merupakan pergulatan antar suku berwajah modern. Pasalnya, tak ada ruang dialog dalam menyelesaikan apa saja. Berpikiran arif dalam menengarai permasalahan yang menimpa pula tak ada. Malahan mereka lebih membanggakan patronnya. Singkat kata, mereka lebih mementingkan adu tojos daripada adu otak.

Meskipun konteksnya berbeda. Bila meminjam istilah Ibnu Katsir. Namun, karena lain waktu, lain pula generasinya, maka perwujudan sifat kefanatikanya pun berkedok perhimpunan mahasiswa.

Konon, Q.S. Al-Hujurat;13 turun disaat manusia lupa pada dirinya, hingga menisbikan Tuhanya. Pasalnya, manusia tak lagi ramah dan menyapa perbedaan antar sesama manusia. Malahan, pada saat itu mereka lebih mengutamakan satu kafilah tertentu dari kalain lain. Sampai-sampai mereka berani mati dalam mempertahankan harkat dan martabat demi nama kelompoknya sendiri.

Kini, pemandangan serupa, seolah-olah tak tampak. Padahal, peperangan yang lebih memilukan, bahkan berkedok baru pun mulai tumbuh dan berkembang. Tengok saja, setiap hari kita selalu disuguhi berita mengerikan tauran antar pelajar. Konon, mereka kaum intelektual. Tapi pada, kenyataanya jauh tak manusiawi.

Dengan demikian, jelas perwujudan dari sifat keekslusifan klain itu bernama organisasi.

Adalah pemisahan kaum hawa dan adam merupakan simbol dari organisai tertentu yang terlalu membanggakan kelompoknya. Terlebih lagi, mereka yang tidak menerapkan aturan itu dikategorikan tak islami. Seolah-olah islam hanya milik golongannya sendiri.

Padahal, islam merupakan bentuk penyerahan diri, sifat taat dan tunduk, patuh terhadap aturan itulah yang dinamakan muslim. Lepas, apakah dia menganut ajaran Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Mazusi, Zoro Aster, bahkan sekalipun Sunda. Asalkan mereka berbuat baik, percaya kepada Tuhanya dan hari akhir (Al-Maidah). Untuk itu, berlomba-lombalah dalam kebajikan supaya mendapatkan kebahagiaan hakiki bernama takwa.

Selain itu, bila kita meminjam istilah K Bartesz, pemikir hermenetik Barat dalam mengurai slogan tersebut. Ia berujar ‘Jika teks hadir, maka matinya sang pengarang’. Terkecuali teks itu sendiri dan motiv si pembaca.

Begitupun dalam mengeluarkan pernyataan tersebut, Tak ada niatan untuk meniadakan Tuhan. Apalagi mengusik keyakinan orang (masyarakat luas) dan mencemarkan nama baik Tuhan, hingga menyeru untuk tak beragama.

Namun, karena semuanya tergantung para pembaca, maka wajar bila ayat litaarofu tak ada hubunganya dengan interaksi manusia. Entahlah, yang jelas beda latar belakang, maka beda pula penapsiranya. Meskipun sumber rujukanya sama yaitu Al-Qur’an. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 06/09;22.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:26:00 PM   0 comments
Nukilan (5)
Motif Dibalik Kata-kata 27 Agustus Dua Tahun Silam
oleh Ibn Ghifarie


Quote:
Originally posted by ansor
kalau kalimat itu keluar dari mulut para ateis...itu wajar! karena mereka tidak meyakini adanya tuhan.
tapi kalau kalimat itu keluar dari sodara kita yang telah ber-ikrar "bawha tiada tuhan selain Allah dan Nabi muhamad rasulullah", ini yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, "APA SIH MAKSUD DARI KALIMAT ITU? DAN APA TUJUANYA KALIMAT ITU DI IKRARAN?

Tak ada niatan untuk meniadakan Tuhan. Apalagi mengusik keyakinan orang (masyarakat luas) dan mencemarkan nama baik Tuhan, hingga menyeru untuk tak beragama. Namun, ungkapan itu terlahir dari sederetan keresahan kami manakala melihat proses Ta'aruf. Paling tidak ada empat hal yang membuat kami mengeluarkan pernyataan; Pertama, Dalam perhelatan akbar itu, laki-laki dan perempuan dipisahkan, bahkan sekedar berkenalan pun rasanya tak diperkenankan. Lantas, apa makna sebenernya dari litaarofu itu? Jika memang seperti itu, maka kita telah dengan tegas menentang Tuhan. Pasalnya, Tuhan menciptakan Manusia; laki-laki, perempuan; Bersuku-suku, Batak, Dayak Asmat Sunda; Berbangsa-bangsa, Indosesia, Mesir, Malayasia, Amerika. Tak lain untuk saling mengenal dan memahami keragaman (Al-Hujurat;13). Artinya, keragaman itu merupakan kedendak Tuhan.

Kedua, Lantunan Takbir (Allah Akbar), yang selalu didengungkan setiap saat, bahkan tak ada jeda pun yang tak luput dari teriakan kata tersebut. Hingga, ungkapan Maha Agung tak memberikan apa-apa pada mahasiswa baru, sampai-sampai ada salah satu pelajar saat bertemu dengan temanya dan sekaligus berujar 'Allah Akbar' mengangkat tangan, sambil bercanda dan terkesan selengean--meminjam istilah kawanku (25/08/04). Tentu saja, ucapan Maha Besar itu, tak memberikan kesan apa-apa. Padahal, kata Tuhan dalam kitabnya 'Bila di bacakan kata-kata mulia, maka bergetarlah sebagai pertanda seorang muslim (Al-Anfal). Kini, malah menjadi gunjingan dan canda-gurau dalam mengisi kepenatan dan rutinitas yang membosankan lagi menjemukan tersebut.

Ketiga, Sesudah Shalat Subuh dan Qiamulail (26/08/04), kebetulan waktu itu menjadi seksi Acara Ta'aruf. Salah seorang generasi muda berkata 'Ka, saya ke hiilang sepatu dan tas saat Shalat tadi. Katanya, kampus kita itu ilmiah dan religius, sesuai dengan tema yang diangkatnya' katanya.

Saat itu, aku tak bisa berkata banyak dan berbuat apa-apa kecuali memberitahukan perihal memilukan tersebut ke keamanan panitia dan satpam, sambil berkata 'Ade juga nanti akan mengetahui lebih jauh dan mendalam, suasana kampus sesungguhnya seperti apa, bisiku.

Keempat, Waktu acara mentoring berlangsung dibeberapa kelompok tertentu terdapat kabar yang mencengangkan bagi kami, bahwa mahasiswa Fakultas Ushuluddin, yang terkesan urakan, selengean, bahkan dianggap tak pernah melakukan Shalat lima waktu (25/08/04). Tentunya, berita itu membuat kami terpukul. Pasalnya, tak semuanya mahasiswa Teologi dan Filsafat lupa pada kewajibannya sebagai abid kepada sang kholifahnya.

Sederetan perilaku inilah, yang membuat kami berani melontarkan pernyataan tersebut. Bukankan maraknya, perbuatan ganjil di sekitar kampus, hal ini berarti menandakan bahwa 'Tuhan telah tiada', bahkan di peti keramatkan. Namun, karena kita sering berangapan bahwa Tuhan itu jauh dan tidak bersama kita. Akhirnya kita berani bahkan rame-rame melakukan perbuatan biadab tersebut. Lantas, di manakah posisi Tuhan sebenarnya? di Kitabkah, di Mesjidkah, di Ushtadz/Kyai dan lain sebagainya. Bukankah Tuhan bernah menyindir kita melalui ungkapan 'Bila engkau bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa aku ini dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi ()'

Perlu diketahui juga, kebiasaan mempertanyakan sekaligus bergunjing tentang keislaman, ketuahan, kealaman itu menjadi bagian yang tak bisa di pisahkan dengan kami bak mata uang saja. Apalagi bagi kami di Fakultas Ushuluddin, wacana tersebut menjadi santapan keseharian kami. Bukankah, suatu adat bisa menjadi hukum? Tentunya, seabreg pertanyaan nyelenah pun bermunculan tak lain guna memperdalam dan mencari kebenaran. Karena hidup hanya mencari 'bayang-banya' Tuhan dan 'menerka' kebenara semata. Sebab kita tak pernah tahu dimana posisi Tuhan bersemayan?

Selain itu, untuk menguji keabsahan ilmu dan metodologinya. Kami berkali-kali diundang oleh pihak Rektorat--tingkat Jurusan (04/10/04), Fakultas (05/10/04), Universitas (Insitut d/h) (06-07/10/04) melalui [i]team[/] verivikasi UIN, di depan para petinggi kampus dan seluruh Guru Besar UIN. Kami diuji dan dipertanyakan (13/10/04, bertepatan dengan 2 hari awal bulan Ramadhan). Akhirnya, keputusan dari mereka yang tergolong dalam bingkai Senator UIN menerima alasan-alasan dan landasan kami mengeluarkan jargon tersebut. Tak cukup sampai disini, tulisan dan hasil wawancara perwakilan team Ushuluddin dan verivikasi pun dipublikasikan melalui media masa.

Sekali lagi, kami bukan untuk mengoyak. Apalagi ingin menyabik-nyabik keimanan orang lain. Namun, seiring waktu sepenggal asa. Lain saat, lain pula generasi dan kepemimpinannya. Perilaku ganjil yang di alamatkan kepada kami akhirnya disebarluaskan kemasyarakat umum baik melalui media cetak maupun elektronik (cv--dibagikan secara gratis ke setiap mesjid di wilayah Jabar). Kontan saja, menyulut amarah sebagian umat islam. Lantas, pertanyaannya siapa yang salah dan benar--bila ada pengkategorian tersebut. Kami yang berkata atau yang menyebarluaskan perbuatan ganjil tersebut?

Selain itu, semaraknya berita bertajuk 'Seruan Ateis di IAIN SGD Bandung' via media cetak pun kami tak pernah dihubungi pihak H.U Republika (04/10/04) dan FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) atau TIAS (Tim Investigasi Aliran Sesat) sebelumnya. Sekedar untuk di wawancarai dan ditanya mengenai motivasi terlahirnya kata-kata pun tak pernah ada. Jadi, siapa yang patut kita hakim secara berjama'ah? Mari kita serahkan saja 'segala kealfaan kita' pada waktu supaya menjadi mahkamah Agungnya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Stand Bersama (Aqidah-Filsafat dan Studi Agama-Agama) 27/08/04 dan PusInfoKomp 03/09;19.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:24:00 PM   0 comments
Nukilan (4)
Bergabung atau Bergadung
oleh Ibn Ghifarie


Quote:
Originally posted by Sulthonie
Saya menunggu para pengkritik dan penuduh bahwa UIN atau IAIN ini sebagai ajang pemurtadan, agar turun dan masuk dalam arena diskusi ini secara sportif.
Sangat tidak diharapkan jika berbicara diluar arena, sementara di dalam arena tidak mau masuk.

Saya berharap bahwa para pengagas pada yel "Selamat Datang di Area Bebas Tuhan!" ataupun lainnya, senantiasa berbesar hati dan siap adu pena dan tulisan di forum ini hingga persoalan benar-benar proporsional dan jelas. Tak ada lagi prasangka dibalik ini semua.

Sulthonie.

Saya menyambut baik ikhtiar dari Cak Agus dalam menyoal keislaman UIN lebih arif dan bijaksana. Tentunya dengan masuk pada Forum ini, tapi bukan untuk majang nama semata. Goresan pena pun harus menjadi modal utama dalam menyindir segala permasalahan apapun. Tak terkecuali dalam membincang mahasiswa Fakultas Ushuluddin (Filsafat dan Teologi) yang selalu di anggap nyeleneh dan urakan tersebut. Sesuai dengan data dan fakta apalagi.

Sekali lagi, saya selaku pencetus jargon "Selamat Datang di Area Bebas Tuhan!" dua tahun lalu (27/08) mengajak seluruh pegiat dan pemerhati UIN SGD Bandung supaya lebih baik dan maju. Untuk itu, mari bergabung dalam komunitas ini atau bergadung saja. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfiKomp 01/09;22.09 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:22:00 PM   0 comments
Nukilan (3)
Korban Mode di Universitas Idol Negeri (UIN)
Quote:
Originally posted by mifka
...tak terkecuali gaya hidup glamour remaja kampus.
Mahasiwa-mahasiswi berlomba-lomba mengejar prestasi berpakaian trend-berlebihan-norak, bersolek, assesoris mewah, boros jajan dsb. Mereka membuang waktu demikian banyak untuk nongkrong, bergosip dan keseharian tanpa karya, jarang membaca buku apalagi menulis; akibatnya daya berpikir kritis jadi jongkok.
Thus, kawan-kawan, kita mesti mulai menyederhanakan gaya hidup. Ini kampus, bukan catwalk. Di kampus, kita menuntut ilmu, bukan bukan audisi artis. Daripada membeli kosmetik yang mahal, lebih baik beli buku. Daripada jajan boros, lebih baik menabung. Mulailah memaknai keseharian dengan giat menuntut ilmu, berorganisasi dan berprestasi. Cag ah! []

Menjadi bagian yang tak terelakan lagi budaya hidup gelamor pun kian tumbuh dan berkembang di konon kampus kebanggaan muslim. Aneh memang. Tapi kenyataanya lain. Lain wakatu lain generasi. Lain pula kebiasaannya.

Kini UIN layaknya Pasar Gede Bage yang seolah-olah pindah ke Kampus. Bila dahulu penampilan dan trend glamor tumpah ruah, manakala ada acara Wisudaan semata. Sekarang pemandangan serupa, malah menjadi idangan keseharian kita.

Sungguh benar sekaligus lengkap korban modenya. Tengok saja, beberapa bulan kebelakang UIN sudah bangga menggelar Audisi Kecantikan. Entah apa jadinya bila satu atau dua bulan ke depan UIN kayanya akan menjadi kampus Universitas Islam Negeri (UIN) lagi, tapi Universitas Idol Negeri (UIN). [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;02.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:19:00 PM   0 comments
Nukilan (2)
Panca UIN SGD Bandung


1. Keserakahan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Kerdil dan Biadab
3. Persatuan Yang Binasa
4. Universitas Yang diPimpin oleh Laknat Kekuasaan dan Permusuhan Pertikaian
5. Kesengsaraan Bagi Seluruh Civitas Akademik


Catatan;
-Jika anda tak setuju, silahkan mau apapun?
-Jika anda setuju, silahkan mau apalagi?
-Kami menerima edisi revisi

Iklan ini disampaikan oleh:

-Komunitas Mata Pena Bandung
-Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung


Pojok,Sekre Kere,12/09;21.38 wib

Tertanda

Kuncen saparakanca

Cag Rampes

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:16:00 PM   0 comments
Nukilan (1)
"Menjewer" Dekan Nakal
oleh ibn Ghifarie


Hingga hari ini, gelombang aksi demonstran terus diteriakan oleh sebagian mahasiswa yang tergabung dalam KABEMAPSI (Keluarga Besar Mahsiswa Psikologi) UIN SGD Bandung. Mereka menuntut Dekan Fakultas Psikologi Drs. H. Endin Nasruddin, M.Psi untuk turun dari jabatanya. Pasalnya, Ia telah melakukan 'perbuatan ganjil' berkenaan dengan izasahnya. Semula berembel-embel M.S.I dalam namanya. Kini, malah beralih menjadi M.Psi. (lihat pelbagai selembaran pamplet KABEMAPSI)

Deretan tulisan, inilah yang membuat Dekan tersandung. Sampai-sampai ia terus digempur secara-bertubi-tubi oleh mahasiswanya bak tiada hari tanpa aksi.

Hujan hujatan, cacian, makian, terus bertadangan tak hanya dari kaum pelajar Psikologi UIN SGD Bandung semata, bahkan genersi muda STAI (Sekolah Tinggi Agam Islam) Sukabumi pun ikut ambil bagian. Pasalnya, lagi-lagi Ia disenyalir memakai gelar palsu, seperti yang diberitakan oleh PR (27/05).

Tak ayal lagi, proses belajar mengajar pun terganggu. Apalagi bila melihat tuntutan mereka tak terkabulkan, maka kami segenap mahasiswa Psikologi akan melakukan mogok kuliah sampai tuntutan tersebut terpenuhi.

Lepas dari benar tidaknya sindikat pemalsuan izasah tersebut. Namun, bila semuanya terjadi dan terbukti, maka Ia telah melakukan tindakan pidana dan diancam UU SISDIKNAS dengan pasal berangkap. Tentu sanksinya berupa penjara 2 tahun atau denda uang Rp. 200 juta dan kurungan penjara 5 tahun atau denda uang Rp. 500 (lihat pelbagai selembaran pamplet KABEMAPSI)

Nyatanya, jika persoalan pelik itu tak mendapat respon positif dari pihak Rektorat guna menyelesaikannya secara arif, maka para penguasa telah melanggengkan tradisi lama dalam pergantian kepemimpinan. Sudah tentu, semuanya telah mencoreng nama baik UIN SGD Bandung ditengah-tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap Universitas Islam Negeri. Lalu mau dibawa kemanakah mahasiswa UIN SGD Bandung ini? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Roti Bakar-Soto Ayam 12/09;11.39 wib.
__________________

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:14:00 PM   0 comments
Goresan (20)
Menggugat Tradisi Klise, Menggurat Tradisi Arif di UIN
oleh Ibn Ghifarie

Memesuki hari pertama di mualinya proses belajar mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung mengisahkan berbagai ragam cerita. Mulai yang mengeluh kesal, bahagia, sampai berbuat aksi turun kejalan.

Pagi hari yang cerah itu, tak seperti hari-hari biasanya geliat mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati pun mulai kelihatan batang hidungnya, setelah berapa bulan sepi dari pelbagai kegiatan civitas akademik. Tengok saja, di pelataran mesjid ikomah hampir di setiap penjuru di dapati mahasiswa sedang melingkar; di daerah sekira DPR (di bawah Pohon Rindang) pun di padati puluhan mahasiswa sedang ngumpul bareng; di depan fakultas dan ruang perkuliahan masing-masing pun tak luput di banjiri lautan mahasiswa. Pasalnya, mereka sedang memasuki hari pertama kuliah tahun ajaran 2006/2007 (04/09) lebih lengkap lihat berita mahasiswa (www.uinsgd.ac.id)

Tak ayal lagi, kedatangan mahasiswa baru pun tak bisa berbuat banyak pihak Rektorat beserta jajarannya, malah terkesan melanggengkan budaya klise bernama 'ngaret'.

Nyatanya peralihan IAIN menjadi UIN di awal tahun ajaran baru, tak selamanya dibarengi dengan tradisi baru dan semangat baru.

Haruskan kita berbuat prontal, anarkis, atau selalu unjuk rasa, bila para pejabat kampus tak menghiraukan kami dalam menggurat tradisi arif. Entahlah? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 04/01;13.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:10:00 PM   0 comments
Goresan (19)
Friday, September 01, 2006
Haruskah Upacara Bakar Batu dan Babi Jadi Tumbal
Oleh Ibn Ghifarie
Ya bisa saja, tapi haruskah upacara bakar batu dan babi itu menjadi tumbal dalam upaya perdamaian. Apalagi syaratnya terwujudnya ritual tersebut, manakala kedua belak pihak seimbang dalam mengqishs pembunuhan beberapa pekan lalu. Padahal sampai hari ini (01/09), perkelahian antar suku itu mencuat kembali, bahkan lebih ganas dan bengis, seperti yang dilansir oleh Metro (01/09). Jika benar hal itu merupakan karakter budaya lokal, maka apa artinya tradisi tersebut. Sampai kapankah kita melanggengkan kebiasaan tersebut? Entahlah...[Ibn Ghifarie] Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 01/09;23.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 9/01/2006 02:41:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.