'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (6)
Tuesday, October 10, 2006
Stop Politisasi Mahasiswa
Oleh Ibn Ghifarie


Kini, pergerakan mahasisawa UIN SGD Bandung dalam bingkai KBM (Keluaraga Besar Mahasiswa) mulai kelihatan gontok-gontokan. Alih-alih, memperjuangakn asfirasi mahasiwa, lembaga tinggi eksekutif (BEM) dan legislatif (DPM/MPM), malah adu bogem.

Tak ayal lagi, beredarnya 2 Surat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Sunan Gunung Djati No 11. Sk.SI-MPM.KMB-UIN SGD.X.2006 tentang `Pembebas Tugas Presiden, Wakil Presiden Beserta Kabinet BEM KBM UIN Sunan Gunung Djati Bandung Periode 2006-2007 dan No 13.SK.SI-MPM.KBM-UIN SGD.X.2006 tentang `Nama-Nama Pejabat Sementara (PjS) Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa.

Dilain pihak, Presiden pun dalam rangka mendesak dan tak mengakui keberadaan Dewan Legistatif (DPM/MPM), maka Eksekutif (BEM) mengeluarkan `Dekrit Presiden Mahasiswa UIN SGD Bandung Periode 2006-2007` No 036/Pres/Bem/KBM-U/SGD/X/2006 tentang `Pembubaran DPM/MPM, Partai Politik Mahasiswa, da Pembekuan AD/ART BEM UIN SGD Bandung`di Auditorium UIN.

`Atas desakan dan pernyataan sikap HMJ/UKM. Kebobrokan sistem dan mekanisme yang ada dalam KBM UIN SGD, maka sebagai upaya perubahan kampus ke arah lebih baik dan maju. BEM KBM UIN SGD mengeluarkan Dekrif Presiden,`kata Acep Komarudin, Presma BEM KBM UIN SGD.

Benarkah para pemangku kekuasaan di pemerintahan mahasiswa (Student Goog Govermence( itu, tetap mempertahankan asfirasi mahasiswa? Atau jangan-jangan mereka telah menjual kepentingan genersi muga demi kelompok dan golonganya?

Kedua pertanyaan tersebut, perlu kita ajukan sekaligus mencari jawabannya. Bila bener terjadi dan terbukti, mereka telah melakukan tindakan tak lazim dengan mengatasnamakan kaum lemah. Nyatanya, mereka tak lebih dari seorang makelar. Haruskah kita tetap menggantungkan perwakilan asfirasi dan kepentingan kepada mereka?

Jika tak mau dikategorikan sebagai manusia yang tak beradab, maka `Stop Politisasi Mahasiwa`pun menjadi kata-kata yang tak bisa ditawar-tawar lagi. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 10/10;20.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/10/2006 03:53:00 PM   0 comments
Mushaf (5)
Ngabuburit Ala Mahasiswa (2); Lagi, Perempuan Angkat Bicara
published on 11 Oktober 2006 | Berita Mahasiswa--Oleh Ibn Ghifarie

A.H.Nasution—Lagi, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam bingkai HMJ dan UKM tetap menggelar pelbagai kegiatan dalam rangka mengisi sekaligus memeriahkan bulan penuh rakhmat tersebut.

Meskipun, memasuki pekan ketiga puasa Ramadan, Selasa (10/10) ini, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung tetap menjalankan aktivitas perkuliahan seperti biasa.

Selai itu, UKM pun tidak ketinggalan. Di antaranya: Women Studies Center (WSC), FABBIS (Family Of Basket Ball IAIN SGD), Taekwondo, Tadjmalela, PSKM (Perguruan Silat Krakhtologi Matahari), LDM (Lembaga dakwah Mahasiswa) dan LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman). Sementara HMJ, di antaranya, AF (Aqidah Filsafat), AS (Akhwalu As-Shahsiyyah), Biologi, dan BEM KBM UIN SGD Bandung.

Sekira 30 orang mahasiswa yang menamaka dirinya WCS sedang melingkar di pelataran Fakultas Adab. Mereka sedang menggelar acara `Gelar Ramadhan` dengan tajuk `Perempuan dalam Budaya Lokal` oleh Didin Syarifuddin (Aktivis Budaya) dan `Membedah Seksualitas Perempuan Islam` oleh Novi Rovinah (Menteri Perempuan BEM KBM UIN).

Membincang posisi dan kodrat perempuan tak pernah usang, bahkan selalu menarik untuk kita kaji secara bersama-sama. Bagi, Didin keterpasungan peran perempuan dalam budaya tertentu. Hal itu, `berawal dari Stigma perempuan sebagai penggoda, Subjektifitas dan Ideologi patriarki dengan relasi kuasa dan mayoritas. Kata siapa kaum hawa tak boleh keluar malam? Atau masuk ke ranah perpolitikan?,`tegasnya.

Namun, karena kuatnya pencitraan wanita nemah, emosional, penggoda, pelengkap, mereka tak boleh berkecimpung dalam ranah publik. Artinya kaum mojang harus keukeuh peuteukeuh diam di ruang domestik sebagai kasur, sumur jeung dapur. Coba liah saja, dalam budaya Ronggeng Dukuh Paruh; Bagaimana posisi kaum hawa tertindas? Para calon Ronggeng harus di seleksi terdahulu sekaligus mesti rela keperawanannya di lelang oleh para penguasa yang berani membayar mahal. `Bukankah perbuatan itu, pelacuran yang diabadikan lewat kesenian,`paparnya.

Tak hanya itu, perbuatan senada pun terjadi di daerah Sumba berkenaan dengan kebiasaan sunatan yang dilakukan sudah dewas. Dalam pandangan mereka upaya penundatan bukan hanya mengandung kotoran yang harus dibuang. Lebih tradis lagi, kaum adam yang telah seselai di sepaklodong harus melakukan persetubuhan dengan kaum hawa.

Sudah tentu mereka yang masih virzin. Kaum perempuan tak boleh menolahnya, bila berani membangkan, maka ia akan melanggar aturan nenek moyang. `Nah, dalam kebiasaan itu, perempuan hanya berfungsi sebagai pengeluaran kotoran semata, bahkan kaum hawa dianggap sebagai tempah sampah penebus dosa,`tambahnya.

Suasana diskusi senja pun mulai ramai, manakala menyoal khitan perempuan. Sederetan pentanyaan klise dan melemahkan kaum hawa pun bermunculan; Bagaimana pendapat anda tentang Klitoris yang disundat?, Apakah karena saya keluar malam dikategorikan PSK? Standar siapakan kaum perempaun itu lemah, emosional, manja, tak rasional?, Kata siapa upaya menyundatan klitoris itu, supaya tetap merangsang dan bertahan lama dalam melakukan hubungan intim? Bila laki-laki boleh menjadi pemimpin sekaligu ketua partai politik tertentu, maka mengapa tidak perempuan masuk dalam suasana tersebut?

`Justru yang saya pahami perlakuan khitanan itu merupakan, upaya pemotongan sifat perempuan supaya tetap lemah, tak agresip, sebab sikap dan sifat itu hanya milih oleh laki-laki?, sambil mengutif beberapa pendapat dari majalah Rahima,` kata Novi.

Menjawab pertanyaan, kaum hawa diciptakan Tuhan hanya sebagai tempat berladang kaum Adam. Novi, membantahnya. `Ayat itu, (kaum hawa tak boleh membantah, manakala kaum adam ingin bersetubuh-red) tak ada hubunganya dengan perbuatan dosa dan kutukan Tuhan melalui malaikat? Justru yang ada hanya upaya melangengkan kekuasaan laki-laki supaya tetap menjadi pemimpin keluarga?,` jelasnya.

Lain UKM, lain pula kegiatan ngabuburit HMJ. BEM KBM UIN SDG apalagi. Dalam rangka mendesak dan tak mengakui keberadaan Dewan Legistatif (DPM/MPM), maka Eksekutif (BEM) mengeluarkan `Dekrit Presiden Mahasiswa UIN SGD Bandung Periode 2006-2007` No 036/Pres/Bem/KBM-U/SGD/X/2006 tentang `Pembubaran DPM/MPM, Partai Politik Mahasiswa, da Pembekuan AD/ART BEM UIN SGD Bandung`di Auditorium UIN.

`Atas desakan dan pernyataan sikap HMJ/UKM. Kebobrokan sistem dan mekanisme yang ada dalam KBM UIN SGD, maka sebagai upaya perubahan kampus ke arah lebih baik dan maju. BEM KBM UIN SGD mengeluarkan Dekrif Presiden,`kata Acep Komarudin, Presma BEM KBM UIN SGD.

Tak ayal lagi, kepuk tangan pun tak terelakan lagi. Sesekali terdengar kata hidup mahasiswa, hidup BEM, hancukan ke laliman. Suasana Aula pun semakin gaduh dan dipadati lautan manusia. Namun, keadaan mulai reda manakala suara Adzn Magrib berkumandang sebagai pertanda buka puasa tiba.

Ketika dijumpai PusInfoKomp, Dedeh selaku Sekretaris Umum WSC menjelaskan, `Terselengaranya kegiatan Gelar Ramadhan sebagai upaya mempererat tali silaturrahmi antar pengurus dan anggota. Sebaba setelah mengelar acara Milad WSC (juni-red) kami belum pernah berkumpun. Maka acara ini, diharapkan dapat memupuk kesolidan dan kominten diantara kami,` tegasnya.

Meski dihadiri oleh beberapa orang dan tak dihadiri ketua umum, Tata Tarmaya, `tapi kami merasa lega, puas. Karena bisa berkumpul dengan pengurus dan angota kami. Malahan Ketum berpesan, sampaikan salam kami dan bukannya tak bertanggung jawab terhadap organisasi, tapi berhubung karena ada satu hal lain, kami tak bisa hadir`, jelasnya.

Selain itu, `Acara ngabuburit tersebut sebagai upaya sosialisasi peran perempuan yang seimbang (dalam pembagian kerja-red) dan menepis anggagpan bahwa perempuan itu lemah, maka kaum hawa harus berani berkata `tutupnya. (Ibn Gifarie PusInfoKomp)

Cag Rampes,Pojok Adab dan Auditorium,10/10;18.21 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/10/2006 02:55:00 PM   2 comments
Mushaf (4)
Monday, October 09, 2006
Sedayung Pasal, Dua Tafsir Terlampui
published on 10 Oktober 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

A.H.Nasution--Beredarnya 2 Surat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Sunan Gunung Djati No 11. Sk.SI-MPM.KMB-UIN SGD.X.2006 tentang `Pembebas Tugas Presiden, Wakil Presiden Beserta Kabinet BEM KBM UIN Sunan Gunung Djati Bandung Periode 2006-2007 dan No 13.SK.SI-MPM.KBM-UIN SGD.X.2006 tentang `Nama-Nama Pejabat Sementara (PjS) Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN SGD Bandung.

Tak ayal lagi, membuat sebagian HMJ dan UKM (Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Unit Kegiatan Mahasiwa kebingungan. Pasalnya, hari senin (09/10) dijadwalkan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) KMB UIN SGD mencairkan dana HMJ dan UKM. Salah satu mahasiwa Abdul Kumis berkata, `Saya kecewa terhadap kinerja DPM/MPM. Sebab kami belum ada bescamp (sekretariat HMJ-red) dan dana belum cair. Kok malah sudah di PjS (Pejabat Sementara-red) kan,`cetusnya.

Meski membuat kebingungan HMJ/UKM. Namun dilain pihak pembagian dana operasiolan HMJ/UKM tetap digelar oleh BEM melalui Dirjen keuangan. Seakan-akan beredar surat keputusan pun tidak membuat getir BEM. `Ah baelah garelutge da anu pentingmah duit geus cair, soalna loba kagiatan,`ungkap perwakilan UKM yang mengambil uang saat ditemui PusInfoKomp.

Pernyataan senada pun dikeluarkan oleh salah seorang Presma HMJ yang tak mau disebutkan namanya berkata `Saya merasa kecewa dengan keputusan MPM dan DPM yang tidak bisa mencairkan dana. Yakni dengan tidak diadakanya Rakor (Rapat Kordinasi-red) antara DPM dengan BEM. Padahal kami butuh dana itu, untuk bayar hutang dan beberap kegiatan lainya,`

Keluarnya surat keputusan MPM tentang Pembebasan tugas Presiden, Wapres berawal dari; Pertama, Telah terjadinya kekosongan kekuasaan pada pemerintahan BEM dikarnakan Wapres (Nana Ristana, Wakil Presiden mahasiswa) BEM KBM UIN SGD Bandung telah menyelesaikan studi, maka perlu dibebas tugaskannya BEM KBM UIN SGD Bandung.

Kedua, Demi terlegitimasinya ketetapan tersebut maka dianggap perlu dibuatnya surat keputusan.

Sudah tentu, keputusan tersebut didasarkan pada; Pertama, Anggaran Dasar (AD) KMB UIN SGD Bandung. Kedua, Anggaran Rumah Tangga (ART) BAB II Pasal 17 dan BAB IV Pasal 32, 33. Ketiga, Hasil Sidang Istimewa (SI) MPM KMB UIN SGD Bandung, tanggal 8 oktober 2006.

Tak hanya itu, Surat sakti MPM tentang Nama-Nama Pejabat Sementara (PjS) pun bermula dari; Pertama, Demi terciptanya stabilitas roda pemerintahan mahasiswa di KMB UIN SGD Bandung, maka perlu ditetapkan Nama-Nama Pejabat sementara (PjS) Eksekutif Mahasiswa sebagai pengganti kekuasaan Eksekutif, pengganti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Kedua, Demi terlegitimasinya ketetapan tersebut, maka perlu dibuat sebuah surat ketetapan.

Tentunya keputusan tersebut berlandaskan pada; Pertama, Anggaran Dasar (AD) KMB UIN SGD Bandung BAB XII Pasal 18. Kedua, Anggaran Rumah Tangga (ART) BAB II Pasal 17. Ketiga, Hasil Sidang Istimewa (SI) MPM KMB UIN SGD Bandung, tanggal 8 oktober 2006. Maka menetapkan Nama-Nama dibawah ini untuk menjadi Pejabat Sementara (PjS) Eksekutif UIN SGD Bandung; Pertama, Rijalullah AF sebagai PjS Eksekutif Bidang Internal. Kedua, Samsudin Kadir sebagai PjS Eksekutif Bidang Internal. Ketiga, Hedi sebagai Pjs Eksekutif Bidang Eksternal. Keempat, Mukhsin sebagai PjS Eksekutif Bidang Eksternal. Kelima, Eri Fauzi sebagai PjS Eksekutif Bidang Keuangan. Keenam, Badri Nur Sahrullah sebagai PjS Eksekutif Bidang Keuangan.

Menanggapi kedua surat keputusan tersebut, Acep Komaruddin, Presma BEM KBM UIN SGD Bandung saat ditemui PusInfoKom di Kostannya di Gang Kujang menjelaskan `Kami tidak mengakui keberadaan MPM-DPM. Sebab Prosedur yang mereka buat telah dilanggar. Hari ini kepemimpinan mereka (MPM dan DPM-red) sudah tidak logik dan tidak profesional,` katanya.

Keluarnya kedua surat tersebut tentunya tidak lepas dari kepentingan kelompok tertentu. `Terlebih lagi, mereka (MPM dan DPM-red) sudah tidak konsisten semula mempermaslahkan ketidak terlibatan BEM dalam menyelesaikan Psikologi, Transparasi dana Ta’aruf yang terkesan BEM telah me-mack up dana Ta’aruf tersebut, hingga mengeluarkan memorandum 1,`ujarnya.

Tak hanya sampai disini, aksi ribut dan telah terjadi pemukulan terhadap BEM oleh DPM pun dipermasalahkan serta kelulusan Nana Rustana malah menjadi alasan mereka dalam menggelar SI. `Inilah kebodohan MPM-DPM. Malahan yang ada hanya logika balas dendam,`tambahnya.

`Saya dipilih oleh mahasiswa, bukan oleh MPM dan DPM. Perjuangan kami mendapatkan dukungan HMJ/UKM. Lihat saja, pernyataan sikap HMJ/UKM yang diberikan kepada kami (BEM-red).Berarti jelas posisi kami masih diakui dimata HMJ/UKM,tegasnya.

Satu hal lagi, keberadaan DPM telah merugikan mahasiswa. Yakni dengan mengeluarkan surat ketetapan DPM tentang Rp 9.000,00- sudah menjadi dana hak perorang mahasiswa, bahkan dipublikasikan melalui pamplet. `Jadi, dana operasional HMJ itu dari mana, bila dibagikan secara serentak kepada mahasiswa, uang yang ada di HMJ,`paparnya.

Menyoal landasan keputusan SI dari Anggaran Rumah Tangga (ART) BAB II Pasal 17 dan BAB IV Pasal 32, 33. Acep memberikan pandangan, `Dalam pasal ini tidak ada ketentuan Wapres, yang ada hanya BEM diketuai oleh satu Presiden dan Wapres. Ketika staf dan Wapres berhalangn maka tidak secara otomatis Presiden diberhentikan. Kecuali meninggal dunia dan beres studi. Coba saja, lihat Pemerintaha Daerah, ketika meninggal Wakil Bupati, maka apakah Bupati mesti turun, tidak kawan,` katanya.

`Jangankan untuk membuat ketentuan dasar SI. Toh, GBHO (Garis-Garis Besar Haluan Organisasi) saja tak ada,`sindirnya.

`Sebenarnya mereka telah mengakui kekalahannya saat berdiskusi konstitusi disini (kostan Presma-red), manakala ditanya apakah landasan hukum MPM untuk mengelar SI mereka (perwakilan MPM-red) berkata walau anda mempunyai penafsiran seperti itu, tapi anda tak akan kuat, manakala berhadapan dengan logika mayorita. Ini jelas, logika yang mereka pakai adalah logika mayoritas,`Abdul Kholik Mahmudi, Mentri Dalam Negeri (Mendagri) BEM menambahkan.

`Sistem presidentil yang dipakai KBM UIN SGD hari ini, tapi dalam beberapa hal masih mengacu pada sistem parlementer. Mestinya referendum bukan memorandum. Tentunya tidak untuk menjatuhkan kekuasaan,`tegasnya.

Selain itu, coba lihat lagi dalam AD/ART masa kekuasaan Eksekutif hanya diatur oleh 5 pasal. Sementara 10 pasal bagi Legislatif serta Sebelum diadakan Sidang Istimewa, kami harus membuat LPJ (Laporan Pertangungjawaban) kepengurusan BEM KBM UIN SGD periode 2006-2007 selama 24 jam. Sementara, pemberitahuan acara tersebut pukul 23.30 wib. Ini bukan membuat surat undangan, tapi LPJ,`paparnya

`Sebenarnya sistem kekuasaan KBM UIN SGD Bandung telah hancur, tapi bukan karena kebodohan kami. Akan tetapi, nuansa politik lebih akut dalam kepemimpinan. Artinya, orientasi segala bentuk apapun hanya mementingkan kepentingan kelompok guna menjadi aturan dasar atau lebih tepatnya hukum kelompok,` katanya.

`Kita lihat saja sekarang, siapa yang bener-benar memperjuangkan HMJ/UKM tersebut. Apakah kami (BEM-red) atau mereka (MPM dan DPM)?`tutup Abdul Kholik Mahmudi.

Lain halnya dengan Yana, Mentri Rumah Tangga BEM KBM UIN SGD Bandung berpendapat `Sebenarnya mereka telah melanggar perjanjian dengan Nurul Aen saat sidang tentang aksi pemukulan di Gedung Rektorat (5/10) guna mencabut Memorandum I. Padahal itu sudah menjadi keputusan bersama. Nyatanya, malah mereka (DPM-red) yang melanggarnya dengan menggelar SI,`menambahkan.

Membincang perseteruan ditubuh Pemimpin mahasiswa dalam bingkai KBM UIN SGD Bandung, hingga diadakanya Sidang Istimewa (SI) dan membuahkan hasil Pejabat Sementara (PjS) Eksekutif, sebagian mahasiswa angkat bicara, `Atuh isin ngakuna namah mahasiswa Islam nu sok ngajak ‘Mari berjihad, dan mari berjihad”. Namun, di kampus sendiri kalah garelut. Ari kieu wae mah atuh iraha harmonisna kampus teh! Isin atuh ku ku titel Islam,`ungkap Hendri Setiawan, Mahasiswa Studi Agama-Agama.

`Kasian BEM baru saja, beberapa bulan mereka menjalankan roda kepemimpinan. Kok sudah di PjS kan lagi,`kata Candra alumni Aqidah Filsafat.

Pernyataan bernada tak mau peduli, acuh tak acuh, hingga mencaci maki pun bermunculan. `Ah belegug weh kabehanan oge. Lieur mikiranana oge,` cetus Heri Kuswanto, mantan pengurus Resimen Mahasiswa (Menwa) UKM KBM UIN SGD Bandung.

`Alah kabehanana oge tolol rek MPM atawa DPM maranehna geus ngalanggar konstitusi, manye ujug-ujug Sidang Istimewa. Ari memorandum II-na mana jeung iraha? Kitu oge BEM kalah ngagalang kakuatan di HMJ jeung UKM ku cara ngayakeun acara silaturrahmi jeung ngayakeun surat pernyataan sikap HMJ/UKM, tambah aktivis pergerakan mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya saat ditemui PusInfokom.

Hingga pemberitaan ini diturunkan pihak DPM dan MPM belum bisa dihubungi, kecuali dua lembar surat ketetapan MPM KBM UIN SGD Bandung. (Ibn Ghifarie PusInfoKomp)

Cag Rampes,Pojok Gang Kujang, 09/10;23.25 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/09/2006 05:15:00 PM   0 comments
Mushaf (3)
Friday, October 06, 2006
Bergabung atau Bergadung
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by Sulthonie
Saya menunggu para pengkritik dan penuduh bahwa UIN atau IAIN ini sebagai ajang pemurtadan, agar turun dan masuk dalam arena diskusi ini secara sportif.
Sangat tidak diharapkan jika berbicara diluar arena, sementara di dalam arena tidak mau masuk.

Saya berharap bahwa para pengagas pada yel "Selamat Datang di Area Bebas Tuhan!" ataupun lainnya, senantiasa berbesar hati dan siap adu pena dan tulisan di forum ini hingga persoalan benar-benar proporsional dan jelas. Tak ada lagi prasangka dibalik ini semua.

Sulthonie.

Saya menyambut baik ikhtiar dari Cak Agus dalam menyoal keislaman UIN lebih arif dan bijaksana. Tentunya dengan masuk pada Forum ini, tapi bukan untuk majang nama semata. Goresan pena pun harus menjadi modal utama dalam menyindir segala permasalahan apapun. Tak terkecuali dalam membincang mahasiswa Fakultas Ushuluddin (Filsafat dan Teologi) yang selalu di anggap nyeleneh dan urakan tersebut. Sesuai dengan data dan fakta apalagi.

Sekali lagi, saya selaku pencetus jargon "Selamat Datang di Area Bebas Tuhan!" dua tahun lalu (27/08) mengajak seluruh pegiat dan pemerhati UIN SGD Bandung supaya lebih baik dan maju. Untuk itu, mari bergabung dalam komunitas ini atau bergadung saja. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfiKomp 01/09;22.09 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 07:03:00 PM   1 comments
Mushaf (2)
Kita Bukan Mereka
Oleh Ibn Ghifarie

'Kini banyak umat yang memelihara virus "TUHAN SEOLAH-OLAH" dalam diri mereka. Bayangkan, kawan, mereka anggap pendapat, pikiran dan tafsir mereka adalah firman. Mereka menganggap diri benar sambil menyalahkan yang lain, mengkafirkan yang lain. Banyak mahasiswa juga begitu' tulis Mifka.

Membicarakan aspek keyakinan memang benar kita sedang merayakan 'Tuhan Seolah-Olah' atau malah kita sedang terjangkit pemahaman 'Seakan-Akan Tuhan' berada pada kita, bahkan kita sering berpendapat 'Tuhan Bersemayan Dalam Diri Kita' dan hanya milik kelompok tertentu semata. Padahal kita tak pernah mengetahui sebenarnya posisi Tuhan berada dimana dan memihak siapa. Sunguh kita tak pernah mengetahuinya?

Alih-alih menyebarkan risalah Tuhan dalam bingkai 'Amar ma'ruf, nahyi munkar', kita malah ribut dengan mereka yang berbeda pendapat. Tentu dalam menafsirkan 'sesuatu'. Apalagi dalam membincang aspek ketuhanan. Kita hanya bisa mencoba belajar menerka 'bayang-banyang' Tuhan yang tak pernah ada. Bahkan kita terlalu bersandar pada yang mungkin--meminjam istilah Gunawan Muhammad.

Aneh memang aneh. Namun, semuanya hadir dan melekat menjadi 'darah' dalam diri kita. Ya, semuanya. Sudah tentu, 'kita' dan 'mereka' berbeda pandangan dalam menyikapi pelbagai persoalan. Termasuk ranah terdalam yakni Tuhan (Suaka, 'Sisi Lain Makna Tuhan' edisi November 2004). Memang semuanya mesti bisa mengarifi segala persoalan dengan bijak. Bukan malah memelihara 'tradisi barbar'. Tapi lestarikanlah sekaligus rayakanlah budaya menulis. Bukankah Ali pernah berujar Ikatlah buruan itu dengan tali. Begitu pun dengan ilmu. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Ruang Prodi 28/07;21.35 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 07:01:00 PM   0 comments
Mushaf (1)
Merajut Tali Persaudaraan Kita Dengan Pena
Oleh Ibn Ghifarie

Tes Penerimaan Calon Mahasiswa Baru (PCM UIN SGD Bandung telah dilaksanakan (Senin, 17/07). Maraknya, calon penerus bangsa sarat dengan pelbagai kepentingan kelompok tertentu. Hingga kami menemukan selembaran "Sekira UIN SGD Bandung" dengan tajuk "Kampus Ilmiah-Religius" yang dibagi-bagikan secara gratis kepada calon kaum muda tersebut (18/07). Sampai-sampi Mifka menulis 'Sekedar Tentang Mahasiswa Baru (23/07) menjadi Selamat Datang di Area Tuhan (27/07)' dalam menyoal kemahasiswaan.

Sudah tentu, tradisi menulis itu, mesti kita tetap jaga dan pelihara, bahkan kita sambut kebiasaan tersebut dalam membincang pelbagai persoalan. Lepas dari muatan diangkat kembali kisah kelam sekaligus 'prilaku ganjil' tempo hari. Yang jelas semuanya mempunyai itikad baik guna menciptakan kampus berwawasan intelektual dan anggun dalam moral.

Semoga dengan tumbuh kembangnya kultur tulis-menulis dapat merajut tali persaudaraan kita yang sempat terseok-seok, tercabik-cabik, terkoyak-koyak, hingga nyaris terjadi pertumpahan darah dalam gerakan mahasiswa atas nama keegoan dan beda keyakinan. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kering 18/07;21.17 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 07:00:00 PM   0 comments
Catatan (20)
Penyempitan Ruang Publik
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by Fanes
leud, aya beja ke tanggal 10 barudak BEM dek ngadialogkeun masalah sarupaning si sipi teh jeung para dekan jeung rektorat di ruang sidang? kade tong poho diliput, terus harewoskeun ka para gegeden pangmelakun si sipi ngarah aya anjukkeun. :evil:

Beja ieu teh tanggal 10 bulan naon, di mana tempatna? Pasti diliput jeng di bejakeun ka para gegeden kampus. Saka terang simkuring mah emang aca cariosan anu rek gunem catur masalah padagang, tapi duka bade iraha di laksanaken namah sareng saha anu mimitianmah. Apan biasa budaya urang mah sok loba ka keunaan panyakit omdo (omong doang) wae atawa 'karek bisa pek, tapi can prak.

Tapi sigana laum mah leures ata carita teh, kacida heurin pisan rungan publik teh. Pan geus puguh DPR (Dibawah Pohon Rindang);tempat urang ngawadul naon wae geus dilarang, Depan Rektorat; tempatna barudak ngungkapken kahayangna geus jadi Taman naon?, Samping Aula; tempatna rerencangan ngaluarken unek-unek geus di pake tempat parkir. Atuh pami pasoalan Sipi sareng barayana rek di hiji lokasiken, atuh sigana kacida sempit pisan tempat umum keur ngahuntu maslah naon wae, bari jeung rek di kamanaken eta para penjaja dahareun teh...[Ibn Ghifarie}

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 01/09;23.12 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:57:00 PM   0 comments
Catatan (19)
Naha Atuh
Oleh Ibn Ghifarie

Ngobrol naon wae bari 'emam' enak pisan. Komo deui aya anu pangmayarkeun mah atawa nganjuk tiheula. Tapi omat tong ngalakuken Dahar Lima Ngaku Hiji (DARMAJI). Terang panginteun, naon keleubetna padamelan eta teh?

Eh, naha jadi kandinya. Lain, apan urang teh keur ngawangkong 'sisi lain kaahengan UINnya! Naha bet kadinya. Teuing urang Sunda lamun ngahuntu teh sok kamana karep. Los kakidul-los kakaler. Pokonamah kamana karep. Anu pentingmah tina sagala pasoalan eta anu ku urang sarerea karandapan bisa jadi bahan leulepanen atawa jadi bahan caritaeun ka anak incu urang. Lain kitu ilahanrna jalma-jalma anu gedemah.

Atuh anu lewih hadena karya eta jadi rujukan balarea supados mernah, tumaninah katinggalina nagara UIN teh? Sanes kitu dulur-dulur! [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 28/07;22.10 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:56:00 PM   0 comments
Catatan (18)
UIN Yang Tak Pernah Manusiawi
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by mifka
So, kritiklah pejabat agar tak bejat dan khianat. Kritiklah ulama, dosen, guru, kawan dekatmu, bokap+nyokap, para aktivis, seniman, pengusaha, polisi, tentara, pendeta, setiap orang--tentu saja, kalau mereka salah. Bahkan kritiklah agama, kritiklah kitab suci, kritiklah setiap hal. Tapi ingat yang tak kalah penting, kritiklah diri kita sendiri.
Walhasil, para pejabat kampus yang marah atau acuh dikritik adalah pejabat-pejabat yang malas jadi "manusia". Kritiklah UIN, agar berkembang lebih manusiawi! []

Thus, mari kita rayakan budaya kritik tersebut. Pasalnya UIN yang tak pernah manusiawi. Kalau perlu kita gelar satu perhelatan akbar di depan Al-Jamiah supaya para penguasa tahu bahwa kita sedang mensosialisasikan kebiasaan anti tirani. Tentunya, krikit yang bisa membawa kita ke arah yang lebih arif dan bijaksana, bukan malah memperburuk keadaan. Membuat takut mahasiswa, karena akan lama kuliah apalagi. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 03/09;02.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:54:00 PM   0 comments
Catatan (17)
Semoga
Oleh Ibn Ghifarie

Semoga kata itu, mesti menjadi energi semangat lebih dalam memberikan secercah ikhtiar dan semangat kita dalam meningkatkan kualitas hidup lebih baik, khususnya di lingkungan UIN SGD Bandung. Apalagi dengan maraknya aksi turun kejalan dalam menuntut penguasa yang dinilai dzalim tersebut datang dari suara hati, bukan keluar dari suara sumbang kelompok atau pribadi tertentu yang mementingkan balasan, bahkan unsur-unsur jabatan sekalipun. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/08;22.05 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:52:00 PM   0 comments
Catatan (16)
Bergerak dan bergerak
Oleh Ibn Ghifarie

Selain sikap kritis mahasiswa yang harus menjadi modal sekaligus tumbal dalam mewujudkan kehidupan yang baik dan layak. Bukan acak-acakan atau alakadarnya. Karena sedang 'ngtren' perubahan IAIN menjadi UIN, yang berujung pangkan pada ketidak jelasan status mahasiswa, seperti yang di alami olek kawan-kawan kita di fakultas psikologi. Semula waktu masih berstatus IAIN fakultas itu, hanya jurusan semata. Kini seiring dengan perubahan institut menjadi universitas jurusan ilmu kejiwaan pun harus rela menjadi fakultas. Meskipun dengan seadanya.

Menilik persolana psikologi yang semakin pelik dan akut itu, mahasiswa yang mempunyai julukan 'tiis jahe' tersebut beberapa pekan lalu terus-terusan melakukan 'unjuk gigi' dalam memperjuangkan beberapa keganjilan yang ada di rumahnya sendiri. Sudah tentu, tak cukup dengan aksi unjuk rasa semata, tapi berakan-gerakan lain pun mesti tetap menjadi cara lain dalam menempuh kejelasaan tsatus. Ambil contoh, tak bisa di ajak berdialog dengan pihak mahasiswa. Seharusnya kaum pelajar dapat memsosialisasikan bahkan melaporkan keberadaan UIN yang tak memenuhi standar berdirinya program S1 ke pihak komisi disiplin ilmu (KDI) Psikologi (lihat evaliasi proposal program studi psikologi--tertanda Prof Dr Masrun,28/06/00) Paling tidak sekurang-kurangnya staf pengajar tetap 8 orang lulusan program psikologi dan 2 orang lulusan program sarjana psikologi.

Mudah-mudahan perbuatan ganjil sebagai upaya memajukan kampus ke arah yang lebih baik, bukan demi kepentingan sesaat. Apalagi bagi satu golongan tertentu. seperti yang di dengung-dengungkan mahasiswa psikolgi lewat jargonnya
'Jangan sampai hak kita sebagai Mahasiswa dikebiri oleh politik kampus.' Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/23.34 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:50:00 PM   0 comments
Catatan (15)
Atuh Ka Abus Kana Naon Tah?
Oleh Ibn Ghifarie

Pan hirupmah kawas wayang. Anu ngusik jeung malikna ge ku dalang. Kajaba lamun urang teu hanyang menang ngenahna hirup supaya menang hurip urang kudu bisa ngaji diri jeung alam. Sabab eta pisan kitab urang mah.
Lain ti eta oge, apan pasoalan jodo pati, bagya cilaka geus aya anu nentukeun nyaeta Hyang Widhi.

Atuh tung-tungna bakal jiga korban 'lini jeung caah deng-deng' ka 2 urang ka abusna lamun ninggalkeun eta paririmbon ti para karuhun urang. Komo deui lamun geus 'semester loban' atawa 13 can beres nilai jeung skripsina. Tah eta cing ka abus kana korban naon jeung naha kudu muka posko naon tah....? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/08;23.56 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:48:00 PM   0 comments
Catatan (14)
Korban Mode di Universitas Idol Negeri (UIN)
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by mifka
...tak terkecuali gaya hidup glamour remaja kampus.
Mahasiwa-mahasiswi berlomba-lomba mengejar prestasi berpakaian trend-berlebihan-norak, bersolek, assesoris mewah, boros jajan dsb. Mereka membuang waktu demikian banyak untuk nongkrong, bergosip dan keseharian tanpa karya, jarang membaca buku apalagi menulis; akibatnya daya berpikir kritis jadi jongkok.
Thus, kawan-kawan, kita mesti mulai menyederhanakan gaya hidup. Ini kampus, bukan catwalk. Di kampus, kita menuntut ilmu, bukan bukan audisi artis. Daripada membeli kosmetik yang mahal, lebih baik beli buku. Daripada jajan boros, lebih baik menabung. Mulailah memaknai keseharian dengan giat menuntut ilmu, berorganisasi dan berprestasi. Cag ah! []

Menjadi bagian yang tak terelakan lagi budaya hidup gelamor pun kian tumbuh dan berkembang di konon kampus kebanggaan muslim. Aneh memang. Tapi kenyataanya lain. Lain wakatu lain generasi. Lain pula kebiasaannya.

Kini UIN layaknya Pasar Gede Bage yang seolah-olah pindah ke Kampus. Bila dahulu penampilan dan trend glamor tumpah ruah, manakala ada acara Wisudaan semata. Sekarang pemandangan serupa, malah menjadi idangan keseharian kita.

Sungguh benar sekaligus lengkap korban modenya. Tengok saja, beberapa bulan kebelakang UIN sudah bangga menggelar Audisi Kecantikan. Entah apa jadinya bila satu atau dua bulan ke depan UIN kayanya akan menjadi kampus Universitas Islam Negeri (UIN) lagi, tapi Universitas Idol Negeri (UIN). [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;02.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:45:00 PM   0 comments
Catatan (13)
Beda Nama, Sama Rasa
Oleh Ibn Ghifarie

Perubahan IAIN menjadi UIN tak berbanding lurus dengan kebesaran namanya. Bila dulu masih Insitut terkenal dengan sebutan ushtadz/dzhnya. Kini, nyaris hilang bahkan tak pernah terdengarlagi.

Jangnkan menciptakan kader Dai baru. Malahan dalam bidang pendidikan sebagai modal utama terkesan disepelekan. Mau bukti? Lihat saja dalam pendirian Fakultas Sains & Teknologi (ST). Jangankan fasilitas Laboratorium yang menjadi sarat mutlak bagi Fakultas teknik, malah ruang kuliah saja belum jelas di mana. Kan, mestinya kalu mau berjualan (memasarkan Fakultas ST) harusnya sudah ada dulu "barangnya" baru kita tawarkan dan jual. Wah.... ini ngumpulin dulu mahasiswanya.... (baru entah kapan) mikirin barangnya.....(jangan tanya produk, lebih parah lagi). Kasus sejenis, lihat saja Jurusan Sosiologi Konsentrasi Sosiologi Agama....., sekarang entah ke mana.... ngak jelas hulu-buntutnya......tulis Leled Samak

Sekian tahun memperjuangkan peralihan UIN menjadi IAIN. Namun, tetap saja infra strukturnya tak disiapkan dan ditata dengan baik. Perjuangan keras dari pelbagai pihak dalam mewujudkan UIN hanya membuhkan hasil 'beda nama, sama rasa.

Pendek kata, pengubahan itu hanya berkutat dalam kata 'prestise' semata. Nyatanya, mulai dari sarana-prasarana, dosen, kurikulum, sampai tek-tek bengeknya. Masih yang dulu. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Ruang Prodi 28/07;23.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:43:00 PM   0 comments
Catatan (12)
'Kuat adat daripada waras'
Oleh Ibn Ghifarie

Bak pepatah orang pinggiran 'Kuat adat daripada waras'. Mungkin karena telah mendarah dagingga kebiasaan Ta,aruf seperti itu, maka susah untuk mencari format baru. Apalagi dalam tubuh mahasiswa selalu bentrok, malahan tauran antar Jurusan, Fakultas atau Universitas menjadi prilaku wajar. Berbeda pendapat dan model Taaruf pun di anggap keluar dari tradisi ospek para leluhur, bahkan sudah melanggar kebiasaan nenek moyang.

Maka wajar bila perhelatan akbar, cuma di ikuti oleh sebagian mahasiswa baru. pasalnya, kegiatan rutinan itu tak meberikan pengenalan kampus secara menyeluruh, kecuali kita hanya merayakan 'Ngeceng Tahunan Berjamaah'--meminjam istilah temanku. [ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 02/09;00.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:41:00 PM   0 comments
Catatan (12)
'Kuat adat daripada waras'
Oleh Ibn Ghifarie

[quote="Sulthonie" Coba kasih saran...spy Taaruf itu tiap tahun tidak hanya monoton...gitu lagi - gitu lagi #-o.
Atau mungkin itulah yang namanya Taaruf.... :-k[/quote]

Bak pepatah orang pinggiran 'Kuat adat daripada waras'. Mungkin karena telah mendarah dagingga kebiasaan Ta,aruf seperti itu, maka susah untuk mencari format baru. Apalagi dalam tubuh mahasiswa selalu bentrok, malahan tauran antar Jurusan, Fakultas atau Universitas menjadi prilaku wajar. Berbeda pendapat dan model Taaruf pun di anggap keluar dari tradisi ospek para leluhur, bahkan sudah melanggar kebiasaan nenek moyang.

Maka wajar bila perhelatan akbar, cuma di ikuti oleh sebagian mahasiswa baru. pasalnya, kegiatan rutinan itu tak meberikan pengenalan kampus secara menyeluruh, kecuali kita hanya merayakan 'Ngeceng Tahunan Berjamaah'--meminjam istilah temanku. [ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 02/09;00.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:40:00 PM   0 comments
Catatan (11)
Taaruf;Bisnis Tahunan!
Oleh Ibn Ghifarie

Terseleggeranya Ta'aruf, Propesa (Program Pengenalan Studi dan Almamter di UIN Syarif Hidayatullah) atau OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) di luar Perguruan Tinggi Agama Islam/swasta (PT AI/S) dari tahun ke tahun menjadi acara rutinitas belaka. Mulai dari Ta'aruf Universitas sampai Keluarga Besar Mahasiswa Universitas (KBMU) UIN SGD Bandung.

Perhelatan akbar itu, terkesan beralih fungsi. Alih-alih dalam rangka perkenalan ruang lingkup kampus. Natanya malah menjadi 'cerobong kaderisasi' satu kelompok atau golongan tertentu. Bahkan terkesan menjadi 'ajang bisnis tahunan'--meminjam istilah kawanku
Baginya, Ta'aruf bukan semata proses perkenalan saja, tapi 'bisnis menggiurkan' melalui pembayaran fasilitas ta'aruf pun acap kali menodai prinsip silaturahmi dan memperburuk citra mahasiswa.

Lepas dari benar atau tidaknya digelarnya hajatan akbar tersebut. Namun, yang jelas kegiatan itu membuat tanda tanya besar masyarakat kampus. Apalagi dengan tidak adanya upaya pempublikasian dan transfaransi alokasi dana via media atau tamplet. Sungguh lengkap sudah anggapan miring tentang kaum pelajar tersebut. Konon mereka selalu memperjuangkan kaum lemah. Nyatanya jauh dari kenyataan? entahlah..[ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 29/08;23.12 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:37:00 PM   0 comments
Catatan (10)
Baru akan ada RUU APP
Oleh Ibn Ghifarie

Belakangan ini, kita malah disibukan dengan perseteruan antara kelompok pro dan kontra tentang Pornografi dan Porno aksi. Akibatnya, kita tak kenal lagi dengan budaya masyarakat toleran, menghargai keragaman. konon, dahulu Indonesia terkenal dengan sebutan tersebut. Kini, selogan itu, hanya dongeng pengantar tidur dan khazanah musium yang tersimpan rapat-rapat, bahkan nyaris dipeti keramatkan.

Selain itu, petuah Nabi SAW mengenai Perbedaan sebagai rahmat pun entah bersarang dimana? Yang jelas, kita sering akrab dengan tradisi barbar, malah bisa lebih tragis dari aliran Sumantonian--meminjam istilah sindunata.

Bila kita tengok lebih jauh RUU APP itu, semula baru sebatas 'itikad' baik dari sebagian kelompok yang muak dengan merosotnya aspek moral. Terlebih kaum muga, yang gandrung dengan pelbagai tradisi free sek, drugs, dan dugem. Alih-alih menyelamatkan kaum pelajar dari perbuatan senonoh. RUU APP menjadi penebus perbuatan ganjil tersebut. Benarkah kerusakan akhlak yang melanda bumi pertiwi ini bermula dari gambar-gambar sure?

Padahal, jelas-jelas bangsa indonsia di landa berbagai tragedi mulai dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) Gempa, banjir, gundul hutan, ilegaloging, kekeringan, pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan, konflik antar umat beragama, penjualan senjata oleh oknum tentara, sampai percekcokan daerah Aceh, Papua dengan ototomi khussusnya.

Lagi-lagi indonesia menangis akibat terjangan gempa dan Tsunami jilid II di daerah sekira Pangandaran dan Cilacap (17/06). Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan saat terjadinya tragedi yang memilukan kita?

Apakah kita tetap besikukuh dengan mempertahankan pendapat kita mengenai RUU APP yang mesti cepat di sahkan supaya tidak ada lagi tindakan perkosaan. Ataukah kita tetap aksi turun kejalan guna meneriuakan saudara-saudara kita yang sedang perang di palestina. Atau kita malah terdiam seribu bahasa manakala semua peristiwa itu menjadi idangan keseharian kita. Entahlah..[Ibn Ghifarie]


Cag Rampes Pojok PusInfoKomp 17.06; 19.10 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:36:00 PM   0 comments
Catatan (9)
Belajar Dari Kampung Bersahaja
OLeh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by Ahmad Gibson
Di Kampung Naga, dialog Islam-Sunda menunjukkan bentuknya yang khas. Hirup kudu tungkul ka jukut tanggah ka sadapan, demikian patokan kebersahajaan mereka.***

*) Penulis adalah kontributor Program Dialog Islam-Sunda, Laboratorium Budaya DESANTARA Institut for Cultural Studies.***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/3...h/lainnya05.htm

Seyogyanya kita harus bisa belajar sekaligus dari kampung Naga yang terletak di daerah pingiran kota Tasik Malaya. Pasalnya mereka berpegang pada prinsip 'Hirup kudu tungkul ka jukut tanggah ka sadapan' Semoga dengan adanya tipe kampung bersahaja menjadi panutan daerah lain. Tak terkecuali bagi daerah rawan konflik, seperti suku Mimika da Dani di Papua, pererangan soaudara in tak terelaka lagi, hingga susah di selesaiakknya. Harusa kapamkah kita terus memlihara budaya tersebut. [Ibn Ghifarie]

Cag Raampes, Pojok PusInfoKomp 02/09;06.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:34:00 PM   0 comments
Catatan (8)
Wajah Pengausa Tak Lembek Lagi
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by mifka
Penguasa kampus, misalnya, harus malu kalau korupsi, tak menepati janji, tak rajin membaca dan menulis, tak membuat karya, tak bisa main internet, tak akrab dengan mahasiswa, tak peduli pada aspirasi dan kesejahteraan mahasiswa dan prilaku-prilaku miring lainnya.

Bicara tentang malu, kita ingat hadits Nabi: malu sebagian dari iman. Salah satu hal yang penting ditumbuhkan dalam diri kita adalah budaya malu (shame culture). Walhasil, kita mesti malu melihat orang lain berbuat baik. Maka, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kita harus malu melihat orang lain berlaku jahil; maka, saling mengingatkanlah dalam kebenaran. Kita hanya mungkin merenung, malukah kita yang kerap dzali dan enggan bijaksana, ogah bijak? Malukah pejabat kampus yang masih tak peka pada aspirasi mahasiswa, doyan korupsi dan dzalim pada ekspresi mahasiswa? []

Kini, yang menjadi permasalahan bukan kita lupa pada petuah Rasul tersebut sebagai tauladan. Namun, karena terlalu lama tak ingat dan dekat denganya, maka wajar bila kita berwatak sekaligus berwajah baja.

Artinya para pejabat kampus dalam ranah kecil, mereka tak lagi akrab dan saling menyapa dengan mahasiswa. Nayatanya mereka malah menyimpan sejuta aroma manis dan berbau busuk. Berbeda pada saat mereka kampaye untuk menjadi ketua Presma, Kajur, Dekan bahkan Rektor, mereka akrab dan sambil mengumbar janji-janjinya. Perilaku ini mesti kita waspadai. Apalagi pada saat memasuki tahun 2007.

Walhasil, kita harus berhati-hati dan rajin memilih teman. Pasalnya, kita sering dianggap bagian dari mereka. Sudah tentu, para penjaja kekuasaan piawai dalam menyulap bahasa dan penampilannya. Jika, para kholifah tak lagi berwajah murah dan menyapa perbedan, maka apa jadinya kampus UIN SGD Bandung ini? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;03.02 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:32:00 PM   0 comments
Catatan (7)
Benar Juga
Oleh Ibn Ghifarie

Tak sedekit mereka yang akrab dengan tradisi turun kejalan dalam menyampaikan aspirasi, mulai dari persoalna ini dan itu di lingkungan akademik UIN SGD yang terselip modus klise proyek. Anggapan itu sudah rahasia umum dalam menuntut pihak penguasa yang dinilai sebagaian mahasiswa tidak berpihak pada mahasiswa, bahkan hanya mementingkan satu kelompok tertentu.

Terlalu banyak menuntut kaum pelajar dalam bingkai aksi unjuk rasa, maka wajar bila penguasa pun tidak terlalu mengubrisnya. Seolah-olah kebal dengan sederatan hasutan yang dialamatkan pada pera pejabat. lantas cara apalagi yang kudu kita tempuh, tak ada cara lain selain menulis, menulis dan menulis. Seperti yang telah dilakukan oleh anak sosiologi dalam menyikapi kenaikan SPP melaui surat pembaca di HU PR.

Permasalahanya siapkan kita memempun jalan itu? atau malah kita tetap melestarikan tradisi lisan yang tidak mendapatkan tanggapan serius. Ketimbang budaya tulisan. Benar juga kan [ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/08;22.54 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:30:00 PM   0 comments
Catatan (6)
Kampus Pamflet
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally Posted by mifka
Tak heran jika ada kawanku yang bilang, ini kampus pamplet. Apalagi jika setiap kali menjelang pemilu raya mahasiswa, pamflet lebih banyak, bahkan menjengkelkan. Celakanya, sobekan-sobekan pamflet kemudian malah tak ramah pada lingkungan kampus. Ujung-ujungnya membuat petugas kebersihan kewalahan dan kecapean.

Kita bisa mengekspresikan apapun lewat pamplet, tetapi ingat, rawat lingkungan kampus. Jangan menempel pamflet dimana saja. Jangan menyobek pamplet dan membuangnya dimana saja. Setiap orang yang mencintai kampus ini, semua adalah petugas kebersihan. Jangan mentang-mentang ada petugas kebesihan kampus, kita jadi ogah memungut sampah dan senang membuang sampah sembarangan. Siapapun anda, bahkan rektor sekalipun, jangan malu memungut sampah disekitar anda, harus malu membuang sampah dimana saja. Bukankah dengan begitu kita turut mengurangi beban petugas kebersihan kampus. Pendeknya, kita bekerjasama, Pak rektor.

Memang benar, bila kita mencermati iseu-iseu menggelikan tentang kampus via Mabok (Majalah Tembok) atau Mading (Majalah Dinding). Rasanya tak berlebihan bila kita mengacungi dua jempol kepada Mifka yang mencoba mengurai media informasi itu dengan ramah lingkungan. Terkecuali jika benar kampus kita merupakan kampus pamflet.

Thus, mari kita membudayakan kebiasaan berdialog melalui pamflet tersebut. Sudah tentu, bukan dengan meyobek info, membakarnya. Apalagi dengan membung sampah sobekan berita itu bukan pada tempatnya. Namun, semuanya berawal dari mengangkat pena. Hidup nulis, nulis, nulis dan nulis. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp,16/09;23.56 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:28:00 PM   0 comments
Catatan (5)
Entahlah
Oleh Ibn Ghifarie

Entahlah. Apa jadinya bila semua pengguna fasititas interenet, hanya tertuju pada ruang-ruang liar dan banal. Lagi-lagi semua anggapan miring dan seolah-olah terkesan amoral bila kita mengakses dunia maya 'sure' bagi penjajak rasa. Meskipun, semuanya kembali pada prinsip diri masing-masing.

Mudah-mudahan dengan hadirnya ruang tanpa batas itu, dapat membuka cakrawala kita tentang luasnya hamparan keilmuan yang terkesan sempit dan kaku karena tertutup tembok malu untuk belajar dan bercermin dari orang lain. semoga [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 29/08;22.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:26:00 PM   0 comments
Catatan (4)
Mengurai fakta, Menelaah Informasi via dunia Maya
Oleh Ibn Ghifarie

Mudah-mudahan dengan hadirnya LAN (Local Area Network) untuk dapat mengakses berbagai informasi, baik internal maupun eksternal. Internalnya antar fakultas dan eksternalnya melalui jalur internet yang telah di-online-kan selama 24 jam. Tentunya di harapkan dapat membuka cakrawala intelektual kita.

Meskipun, tetap saja tradisi lokal pun harus menjadi modal utama dalam mengarungi dunia maya tersebut. Artinya, dengan mudahnya mengakses informasi via internet kita lupa pada bumi tempat berpijak. Apalagi menafikan pelbagai kebiasaan baik seperti membaca buku, koran, majalah, buletin, jurnal atau ngobrol-ngaler ngidul tentang persoalan kekinian yang sedang melanda Indonesia, mulai dari gempa, banjir, kekeringan, tsunami, korupsi, gajih 13, aksi terorisme, penculiakn anak, pemerkosaan sampai tauran antar mahasiswa, sambil ditemani secangkir kopi dan lintingan bako.

Pendek kata, secercah itikah baik tersebut mesti kita amini. Terlebih lagi, munculnya kotak ajaib itu di harapkan memberikan manfaat bagi kita dalam 'Mengurai fakta, Menelaah Informasi dan Menyapa perbedaan via dunia maya. Semoga [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok PusInfoKomp 15/07; 00. 47 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:25:00 PM   0 comments
Catatan (3)
Buah Peralihan Senat Mahasiswa Ke BEM Itu Bernama UKM
Oleh Ibn Ghifarie
Quote:
Originally posted by Yury
Ya terkecuali kalau di UIN SGD ini mau didirikan gerakan kepanduan lain yang AD/ART nya sama sekali baru dan berlainan dengan AD/ART Gerakan Pramuka. Perlu diketahui, bahwa Gerakan Pramuka Tidak selokal LPIK, LPB, SUAKA, dan UKM lainnya. Tidak Pula seperti UKM Bela diri yang dalam AD/ART nya bisa menerima jika dikatakan harus menginduk pada KBM.
Di tempat saya menimba ilmu sekarang saja, Pramuka sudah dijadikan sebagai Mata Kuliah dengan Bobot SKS yang cukup memberatkan. Sedang Pengorganisasiannya tidak ditangani oleh Keluarga Besar Mahasiswa, melainkan oleh Rektorat Langsung dengan Rektor sebagai Ketua Majelis Pembimbing.
Jadi, kayaknya kurang ngakademis

Seiring dengan perubahan SMI (Senat Mahasiswa Insitut) IAIN (d/h) menjadi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UIN, tradisi lama pun diikuti dengan dengan lahirnya tradisi baru. Mulai dari penertiban administrasi, kode etik mahasiswa, diberlakukannya jam malam bagi aktivitas mahasiswa, pengalokasian pedagang, pembenahan laju keluar-masuk kendaraan bermotor, sampai kedudukan Pramuka di bawah KBMU (Keluarga Besar Mahasiswa Universitas). Lihat Berita Universitas "Angin Segar Pramuka" (www.uinsgd.ac.id)

Lain waktu, lain lagi penemuan, beda nama sudah tentu beda aturan main. Sekarang aturan KBM UIN tengah diberlakukan, sehingga posisi Pramuka pun sejajar dengan UKM lain.

Kini, keberadaan Pramuka pun berbanding lurus dengan LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman). Begitupun dalam hal Mata Kuliah Pramuka yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa (luar UIN). Namun, bila di UIN hanya cukup mengikuti kegiatan 'Orientasi Perkenalan Pramuka', yang bebarapa hari baru saja digelar, maka telah dianggap mengikuti mata pelajarn tersebut. Pasalnya, acara orientasi itu, dianjurkan sebagai sebagai prasarat mengikuti (PPL) Praktek Kerja Lapangan yang di buktikan dengan sartifikat Pramuka, kata Lela Salamah Ketua Racana Putri Pramuka.

Singkat kata, posisi Pramuka pun bermuara pada KBMU.[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 06/09;21.15 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:22:00 PM   0 comments
Catatan (2)
UKM Pramuka Yang Saya Tahu
OLeh Ibn Ghifarie
Quote:
Originally posted by Yury
Sebenarnya Pramuka di UIN itu kedudukannya dimana sih?
Jika di bawah BEM seperti UKM lain, tidakah itu melanggar SK dari Depag dan Kwarnas tentang Pramuka di PTAIN?(nomornya Pak Rektor lebih tahu dari yang bertanya)
Jika dibawah Rektorat Langsung, mengapa masih dalam koordinasi BEM?
Tolong diperhatikan! Malu jika sampai ketahuan Lembaga Pendidikan Tinggi yang lain, Depag dan Diknas, juga komunitas Pramuka di lingkungan lain. Apa lagi ada rencana penyusunan UU Pramuka oleh Presiden. Jangan sampai terlambat, Pak! Bukankah lebih sedikit orang tahu itu lebih baik?

Bila Yur tetap menanyakan persolan status Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) Pramuka. Jangan tanyakan pada pihak Rektorat, Purek III apalagi (maaf para pejabat kampus). Pasalnya mereka suka berdalih silahkan tanyakan saja pada mahasiswa (KBMU-red). Itu persoalna mahasiswa bukan urusan kami, ungkap kawanku. Bahkan kabar terbaru di kalangan mahasiswa LPM SUAKA tak bisa memungut bayaran dari mahasiswa baru untuk penggandaan operasional Majalah, News, Momentum dan Jurnal. Padahal prosedur itu sesuai dengan aturan konstitusi Keluarga Besar Mahasiswa Universitas (KBMU) UIN SGD Bandung. Kini, malah di permasalahkan pihak Rektorat. Ujung-ujungnya status kelembagaanyapun tak jelas. Apakah termasuk lembaga atau UKM semata.
Kembali lagi pada UKM Pramuka, lagi-lagi di tanya masalaha komentar dari para pengausa 'Ya itu urusan mahasiswa, silahkan tanyakan saja pada mahasiswa',

Berkenaan dengan pertanyaan itu, jelas Yur mesti bahkan wajib meminta jawabannya pada Keluarga Besar Mahasiswa Universitas (KBMU) UIN SGD Bandung. Yang di dalamnya terdapat Majelis Perwakilan Mahasiswa Universitas (MPMU), Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU), Badan Eksekutiv Mahasiswa Universitas (BEMU) atau lebih akrab dan dekan tentang UKM bisa melalui Dewan Perwakilan Unit Kegitan Mahasiswa (DPUKM). Kalau tak salah keberadaan UKM Pramuka UIN SGD Bandung itu berada di bawah naungan KBMU. Dan secara spesipik ada di Mentri Dalam Negeri BEMU yang membawahinya bidang UKM.
Namun, bila para pejabat KBMU susah di temui dan mesti buat janji ketemuan. Yur bisa baca-baca konstitusi KBMU UIN SGD Bandung.

Pendek kata, kalau tak salah keberadaan UKM Pramuka UIN SGD Bandung itu berada di bawah naungan KBMU. Dan secara spesipik ada di Mentri Dalam Negeri BEMU yang membawahinya bidang UKM dan HMJ. Selamat bertanya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 30/08;01.13 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:21:00 PM   0 comments
Catatan (1)
Komoditi itu bernama Pendidikan
Oleh Ibn Ghifarie

Hari pertama masuk tahun ajaran 2006/2007 di warnai aksi. Sejumlah orang tua siswa di Maluku Tengah melakukan aksi penyegelan sekolah, bahkan pintu gerbang sekolah nyaris roboh. Konon, perlakuaan ganjil yang di motori oleh Wali murid itu berawal dari ketidak lulusan anak didik mereka yang melanjutkan sekolah di SMA tersebut.

Di lain pihak, kepala Sekolah menyesalkan perbuatan onar tersebut. Pasalnya, jelas-jelas anak mereka tak di terima di sekolah, sebab tak memenuhi standar yang telah ditetapkan pihak pendidik (Merto TV)

Di tengah-tengah krisis yang akut dan kuatnya arus gelobalisasi. Mestinya pendidkan menjadi modal utama dalam mencerdaskan bangsa. Sesuai dengan amanah UUD 45 alokasi dana buat pendidikan sekira 20%. Kini, Pendidikan pun harus ditebus dengan biaya yang mahal. Seolah-olah kita mengamini pernyataan Eko Prasetio 'Orang miskin di larang sekolah'. Apalagi beberapa pekan kebelakang hasil ujian nasional (UN) anak didik cukup memperihatinkan. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Pendidkan Pertama (SLTP), sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Tak berhenti sampai di sini saja, pemandangan tauran antar pelajar pun kian semarak. Bahkan, tingkatan mahasiswa pula acapkali akrab dengan suasana tauran antar fakultas atau universitas. Padahal, generasi muda merupakan kelompok intelektual yang bertanggungjawab dan tak mudah terkooptase oleh pemerintah. Sabut saja, yang terjadi di Universitas Negeri Makasar (UNM) (13/06) seperti yang dilansir Televisi Swasta, bentrokan antar mahasiswa dengan pihak Rektorat di picu dari kenaikan SPP dan tak diikutsertakan perwakilan mahasiswa dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Semula 3.00.000,00-menjadi 6.750.00,00-.

Tentunya, perbuatan tak mencerminkan kaum tercerahkan itu sunguh menyulut citra buruk pendidikan bangsa Indonesia.

Ironis. Sungguh ironis. Di saat luka membasuhi muka muram pendidikan. Pemerintah melalui Mentri Pendidikan, Bambang Sudibyo malah asik-asik mengeluarkan program baru bernama 'Siaran pendidikan di seluruh Indonesia via telekompren' (TV Swata 17/06).

Ia menjelaskan, terselenggaranya kegiatan itu tak lain guna pemerataan pendidikan dan supaya mudah diakses oleh masyarakat pinggiran sekalipun, tegasnya.

Dengan demikian, pendidikan menjadi komoditi bagi para pemodal. Alih-alih standar mencerdaskan bangsa melalui kurikulum berbasis kompetensi. Nytanya KBK tak selamanya membuahkan hasil memuaskan. Malah jauh lebih buruk. Lihat saja, saat penerimaan siswa di Jakarta, sekolah SMA 38 tak meluluskan sisiwa berizazah KBK (RCTI 08/06). Pasalnya, ungkap Kepala sekolah Murid itu tak memenuhi standar kelulusan yang telah ditetapkan oleh sekolah, ujarnya.

'selama mengemban amanah mulia sebagai kepala sekolah saya belum pernah mendapatkan acuan apalagi standar KBK tersebut, menambahkan.

Lepas dari sederetan peristiwa yang memilukan itu, paling tidak pendidikan telah menjadi barang langka bagi kaum lemah. Petuah Nabi SAW pun mengenai wajibnya menggali ilmu dari buaian sampai lianglahat. Nyatanya, hanya menjadi dalih pelipur lara bagi kelompok tertindas saat ditindas oleh pengausa zalim. [Ibn Ghifarie]

Cah Ah Rampes, Pojok PusInfoKomp, 17/06;22.00 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:18:00 PM   0 comments
Guratan (20)
Bangkit, Lawan Hancurkan Tirani
Oleh Ibn Ghifarie

Hanya ada satu kata LAWAN!!!

Ungkapan Wiji Tukul ini perlu kita 'amini'. Apalagi membincang Kampus UIN yang tak ada 'perubahan' yang mendasar baik dari kualitas dosen, kurikulum, saran-prasarana, maupun kuantitas mahasiswa. Terlebih lagi, peralihan IAIN menjadi UIN yang dinilai sebagian masyarakat citvitas akademik terkesan hanya "Beda Nama, Sama Rasa". Tengok saja, pada beberapa fakultas baru (Fakultas Psikologi dan Sintek) "Satu Atap, Dua Fakultas".

Ironis. Sunguh ironis. Mestinya pengubahan Institut menjadi Universaitas harus dilengkap dengan pasilitas memadai. Kini, kedua fakultas tesebut, malahan menempati banguna lama (UKM d/h) yang 'disulap' menjadi fakultas.

Bangkit, lawan hancurkan tirani pun menjadi kata 'penutup' dalam mencermati UIN. Apalagi bila tidak mengindahkan keperluan civitas akademik guna mewujudkan "Integrasi Iman dan Ilmu" atau "Wahyu Memandu Ilmu" [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Simpang UKM, 24/07;16.05 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 06:07:00 PM   0 comments
Guratan (19)
Baca, tulis dan lawan
Oleh Ibn Ghifarie

Pami kitumah, ayeuna tinggal nguatan tradisi maca, tulis jeung lawan. Sanes kitu dulur....Ma euya urang generasi muda eleh keneh ku Wiji Tukul, Aktivis Puisi Jalanan anu ngaluarkeun slogan "Hanya ada satu kata Lawan!!. Komo deui lamun 'biwir geus teu bisa ngomong, maka tulisan anu kudu nyarita.
Kitu oge keur ngabangun nagara UIN SGD Bandung anu kentel ku dudaya tulisan. Lain lisan [Ibn Ghifarie].

Cag Ah Rampes, PusInfoKomp 18/07;04.35 wib.

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 05:46:00 PM   0 comments
Guratan (18)
Haruskah Upacara Bakar Batu dan Babi Jadi Tumbal
Oleh Ibn Ghifarie
Quote:
Originally posted by Sulthonie+-->
QUOTE(Sulthonie)

Perang suku di Mimika Papua memang bukan hal baru. Bagi sebagian warga Papua, perang suku menjadi wadah untuk mengekspresikan heroisme kelompok. Tanpa perang, kebesaran nama suku tidak akan dipandang suku-suku lainnya. Mereka akan dianggap lemah dan tidak memiliki harga diri di mata suku lain.
Selain itu, pertempuran buat mereka bermakna kesuburan dan kesejahteraan. Bila tak ada perang, ternak babi dan hasil pertanian tidak dapat berkembang. Pemicu perang tak harus terkait dengan perebutan kekuasaan wilayah. Hal-hal kecil dan sepele pun bisa menyulut perang antarsuku.
Baku hantam antara suku Dani dan Damal di Mimika yang terjadi sejak Sabtu (22/7) lalu telah menelan sembilan korban jiwa. Lima dari suku Dani dan empat dari suku Damal. Upaya perdamaian masih gagal dilakukan. Sebab, adat mewajibkan selama jumlah korban belum berimbang, mereka harus tetap berperang. Agresivitas budaya lokal memang bukan hanya milik Papua. Carok massal pecah di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pertengahan bulan ini. Perkelahian massal gaya Madura yang dipicu sengketa tanah itu, menewaskan tujuh orang. (Media Indonesia 28/07)

Kini, pameo budaya lokal menjadi bagian dari keunikan dalam kebinekaan nyaris hilang, bahkan terkesan tak jelas lagi sisi kearifan lokannya. Padahal, tradisi merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya sekaligus kebanggaan khazanah Indonesia. Artinya ada banyak kebiasaan lokal yang dikagumi baik oleh pemerintah setempat, pusat sampai masyarakat internasional.
Namun di sisi lain, banyak pula budaya lokal yang masih syarat dengan memelihara sekaligus melanggengkan dan mengagungkan tradisi kebrutalan dan kekerasan. Perang suku di Mimika, Papua, adalah salah satu contohnya. Lantas apa yang salah dengan mereka?...

Bisa jadi ini juga termasuk karakter budaya lokal :roll:

Sulthonie.[/b][/quote]

Ya bisa saja, tapi haruskah upacara bakar batu dan babi itu menjadi tumbal dalam upaya perdamaian. Apalagi syaratnya terwujudnya ritual tersebut, manakala kedua belak pihak seimbang dalam mengqishs pembunuhan beberapa pekan lalu.

Padahal sampai hari ini (01/09), perkelahian antar suku itu mencuat kembali, bahkan lebih ganas dan bengis, seperti yang dilansir oleh Metro (01/09). Jika benar hal itu merupakan karakter budaya lokal, maka apa artinya tradisi tersebut. Sampai kapankah kita melanggengkan kebiasaan tersebut? Entahlah...[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp 01/09;23.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 05:41:00 PM   0 comments
Guratan (17)
Shaum Obat Mujarab Zina
Oleh Ibn Ghifarie

Quote:
Originally posted by mifka
Nah, para ulama Khawarij adalah salah satu dari sebagian umat Islam yang menolak hukuman rajam bagi penzina. Menurut mereka, hukuman tersebut bukan hukum Islam. Rajam adalah hukuman yang kelewat batas dan sangat berat dilaksanakan; toh hukuman tersebut--lagi-lagi--tak pernah tercantum dalam al-Qur`an. Kalaupun ijtihad, itu pengaruh Naziisme!
Hukum rajam yang saya tahu lahir dari tradisi agama Yahudi. Al-Qur`an hanya menyuruh hukuman maksimal mencambuk para penzina di depan publik. Tetapi itu jarang terjadi.
Ada juga hukuman bagi para penzina yang relatif lezat: para pelaku zina yang ketangkep baseh akan dinikahkan segera oleh orang tua mereka masing masing. Wah, hukuman macam ini memang jadi alternatif masyarakat. Alasannya bisa macam-macam: malu, takut keburu hamil dsb. dsb.
Namun, saya khawatir juga kalau hukuma jenis ini terus berlaku. Saya khawatir para pasangan remaja terobsesi berzina karena hukumannya lezat: dinikahkan...tanpa beribet cari kerja dulu, tentu saja.

Shaumlah bila kita tak kuat menahan nafsu. Melakukan perbuatan zinah apalagi. Kira-kira begitulah petuah Muhammad dalam kitabnya. Seyogyanya kita selaku umat islam untuk mengikuti ajaranya, tapi bukan tanpa alasan. Menjadi pengikut sambil mempertanyakan kembali keabsahan risalahnya, itu lebih baik daripada sama sekali tidak.

Namun, jika ramuan mujarab ala gurun pasir itu, ternyata tak mampu ke ganasan hasrat, maka bicarakahlah kedua insan bersama orang tuanya. Tak lain untuk memperoleh restu dalam pernikahannya. Walhasil, panggilah ke penghulu guna mencatat akta pernikahan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 03/09;03.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 05:31:00 PM   0 comments
Guratan (16)
HeSe sArE
Oleh Ibn Ghifarie

Sok aya anu kokolebatan dina pikiran, lamun ges wanci tengah peuting. Komo deui lamun anu aya digigiren urang teh geus tibra sare morongkol siga 'kuuk' dina jam 10an atawa 12an. Kacida bagyana lamun simkuring bisa niru bateur sakasur eta. Tapi hanjakal, teu bisa. Singkatnamah sok tara biasa molor wayah kitu, tapi biasana lewih ti jam 02an, sampe-sampe sok parat ka Subuh. Karek bisa peureum.

Masih mendingan, lamun buncelikna panon eta di pake kanu kagiatan hade mat. Tapi da edas pisan hese we di peurumkeunteh. Makana sok ngibuken diri corat-cotret, nagwadul teu beres-beres jeung barudak, atawa sok remen minjem keun ceuli ka babturan anu keu kena eceng.

Kumargi kitu, simabdi nyuhunken masukan ka dulur-dulur kabeh anu bisa mecahkeun pasoalan eta?

Sateacana punten tos miwarang ka baraya kangge mikiran kabiasaan hese sare eta.


Pojok Sekre Kering, 09 Juli 2006, (04;54 wib)

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 05:22:00 PM   0 comments
Guratan (15)
Embung Nulis
Oleh Ibn Ghifarie

Sampurasun......
Cing pang neangankeun obatna baraya!!

Kieu caritana teh, sababaraha poe katukang, simkuring jeung warga Forum laina karandapan payakit males keur ngadamel tulisan teh. Boh anu aya patula patali jeung media, coretan didinding, atawa keur ngabenggerah hate. Es tuning teuaya dulur....

Walhasil, asa hoream we ninggali komputer, tulisan dina diary. Nya kusabab hiji-hiji kumpulan di Forum ujug-ujug ngaleungit. Dukigeun aya kabar miring, `boa-boa aya anu nutup soalna tulisana matak beureum anu maca atawa anu ninggali. Komo deui keur pajabat mah, cenah eta oge`.

Tapi saengges dibulak-balik dipikiran, sigana goreng oge lamun terus-terusan siga kieu mah. Atuh rek iraha maju kawas batur, tulisana bisa dibaca ku balarea, dugikeun jadi bahan rujukan anu agung.

Tah...tisaprak harita, teuing kunaon bet hayang muka blog sagala, yahoo.360, kumpulan penulis indonesia atawa forum upi, ajngkita, beda pebdapat. Padahal geus lila teu muka-muka acan. Komo deui ngisian tulisan mah. Tangtuna bari ninggalian tulisan anu laleungit di situs ieu.

Ah..ieu mah susugana wae. Nya bener aya saba-baraha hiji coretan kapanggih sanajan bari teu puguh pulungeun jeung teu lengkap oge tulisana. Da anu penting mah tong nulis deui ti awal, soalna sok beda deui caritana. Lain deui pamaksadana. Pangpangna mah bakal tambah males...

Atuh mudah-mudahan urang sadyana tiasa nyandak hiji hikmah tina kajadian eta. Pami bade ngdamel tulisan teh sing tatan-tatan, tong gurung gusuh. Komo deui langsung teu di konsep heula. Atuh anu jauhna teu diketik dina window, atawa teu di titipkeun dina blog, yahoo.360 jeung web anu laina. Pokonamah bakal nyesel pisan....

Cing saur dulur salain ngadamel tindakan eta, kinteun-kinteun naon deui nya supados coretan teh teu leungit deui?

Mangga ah...[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes,01/10;15.34 wib..

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 02:32:00 PM   0 comments
Guratan (14)
Panca UIN SGD Bandung

1. Keserakahan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Kerdil dan Biadab
3. Persatuan Yang Binasa
4. Universitas Yang diPimpin oleh Laknat Kekuasaan dan Permusuhan Pertikaian
5. Kesengsaraan Bagi Seluruh Civitas Akademik


Catatan;
-Jika anda tak setuju, silahkan mau apapun?
-Jika anda setuju, silahkan mau apalagi?
-Kami menerima edisi revisi

Iklan ini disampaikan oleh:

-Komunitas Mata Pena Bandung
-Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung


Pojok,Sekre Kere,12/09;21.38 wib

Tertanda

Kuncen saparakanca

Cag Rampes

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 02:29:00 PM   0 comments
Guratan (13)
Maka Apalah Artinya
Oleh Ibn Ghifarie

Bila malam tak lagi gelap, maka apalah artinya siang
Bila mulut tak lagi berkata, maka apalah artinya ucapan
Bila buku tak lagi dibaca, maka apalah artinya perpustakaan
Bila alam tak lagi indah, maka apalah artinya ketakjuban
Bila agama tak lagi menjadi rahmatan lil alamien, maka apalah artinya agama
Bila hidup tak lagi bermakna, maka apalah artinya kehadiran
Bila Tuhan tak lagi diharapkan, maka apalah artinya seluruh harapan [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Warnet,30/07;04.28 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 02:26:00 PM   0 comments
Guratan (12)
Apa Jadinya
Oleh Ibn Ghifarie

ops:

Apa jadinya kalau kampus tak pandai memainkan pena?
tak ada baris sejarah, tak ada percik peradaban...
tak ada cercah harapan, tak ada goresan kenangan...
tak ada pemaknaan, kesaksian, kebenaran, perjumpaan...
sebab setiap yang di jumpai bukan lagi sesuatu yang beradab

Apa jadinya kalau kampus tak lagi mencintai buku-buku?
tak ada ilmu pengetahuan, tak ada kebijaksanaan...
tak ada karya, tak ada kemajuan...
tak ada kekayaan masa silam, keragaman, pertemuan...
sebab setiap yang di temui bukan lagi sesuatu yang berpikir [Ibn Ghifarie]


Cag Rames, Pojok Warnet. 30/07; 05. 00 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 02:25:00 PM   0 comments
Guratan (11)
Apa Jadinya (2)


Apa jadinya, jika para penguasa tak lagi bekerja?
Juga, ia malah tak menjadi pangkuan yang teduh bagi mahasiswa
Mereka hanya becus mencari posisi duduk dan lapak kerja
Memberi warna pada ribuan kepala
Agar kekuasaan tetap digjaya
Agar pikiran hanya satu logika
Agar tindakan bergerak sama
Agar ucapan terpenjara dalam satu kata
Agar bermeter-meter tumpuakn harta

Apa jadinya, jika para pengusa mendewakan politik identitas?
Jika mahasiswa diseragamkan dalam lubang hegemonitas
Tak hanya, kaya harta, tetapi kaya janji tak berbekas
Malah ganas, mendapat kritik pedas
Hanya ambisi midas
Hanya mental malas
Hanya watak culas
Hanya hati panas
Hanya jiwa rampas
Hanya sikap tak tegas

Catatan;
-Jika anda tak setuju, silahkan mau apapun?
-Jika anda setuju, silahkan mau apalagi?
-Kami menerima edisi revisi

Iklan ini disampaikan oleh:

-Komunitas Mata Pena Bandung
-Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung


Pojok,Sekre Kere,12/09;21.08 wib

Tertanda

Kuncen saparakanca

Cag Rampes

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 02:20:00 PM   0 comments
Guratan (10)
Kenapa, Kenapa dan Kenapa?
Oleh Ibn Ghifarie


Kenapa, setiap kali terjadi keributan.
Entah atas nama agama?
Entah atas nama ormas?
Entah atas nama pergerakan?
Entah atas nama penyebaran risalah Tuhan?
Entah atas nama kemanusiaan?
Entah atas nama kaum hawa?
Entah atas nama kaum adam?
Entah atas nama harta?
Entah atas nama jabatan?
Entah atas nama daerah?

Yang jelas, perlakuan ganjil itu acapkali terjadi dan akrab dengan keseharain kita
Kenapa mesti terjadi?
Kenapa mesti menimapa kita?
Kenapa mesti baku-hantam?
Kenapa mesti adu-tojos?
Kenapa mesti melanggengakn budaya barbar?
Kenapa mesti kita amaini?
KEnapa mesti kita bela?
Kenapa mesti kita perjuangakn?
Kenapa mesti kita hujat rame-rame?
Kenapa mesti malu berkata tidak?

Bukankah kita generasi muda yang konses terhadap Intelektual dan unggul dalam moral?
Lantas dimanakah letak hati nurani kita?
Lantas dimanakah letak keintelektualitas kita?
Lantas dimanakah jargon membela rakyat kita?
Lantas dimanakah jargon pameo pengubah masanyarakat kita?
Lantas diamnakah letak kebanggaan memperjuangakn kaum lemah kita?
Lantas dimanakah letak penumbas kebatilan kita?
Lantas dimanakah posisi keteladan sebagai pemberantas kezdaliman kita?
Lantas dimanakah posisi menyapa perbedaan diantara kita?
Lantas dimanakah tempat berkumpulnya orang-orang sholeh kita?
Lantas dimanakah tempat berteduh sejenak dari kepenatah hidup kita?

Entahlah...............[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes,Pojok Sekere kere,02/10;15.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/06/2006 01:25:00 PM   0 comments
Guratan (9)
Thursday, October 05, 2006
Ramadhan Bulan Komersialisasi Agama

Oleh Ibn Ghifarie

[quote]:Pesan Asli oleh mifka
Fenomena Ramadhan yang penuh sakralitas, seolah-olah hangus digerus budaya materialistis-konsumtif dan hedonis. Demi menghormati dan merayakan bulan suci Ramadhan, masyarakat jadi boros dan menghambur-hamburkan anggarannya. Kecenderungan budaya masyarakat di bulan Ramadhan itu justeru mendistorsi ajaran agama itu sendiri. Padahal, banyak fakir-miskin yang terlantar juga ingin menikmati Ramadhan; padahal, masih banyak rakyat yang kelaparan dan anak terlantar yang tak pernah mencicipi kebahagiaan, tetapi sirna oleh pola hidup serakah dan poya-poya sebagian masyarakat; kelak dapat lahir kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Walhasil, jika puasa kita masih tetap sekedar individu-vertikal, tetapi hirau dan tak pernah ikhlas berkunjung ke ranah sosial-horizontal, maka kita haram berpuasa!
2006[/qoute]

Aneh memang. Setiap kali memsuki bulan puasa, maka setiap itu pula kita `dihantui penderitaan`. Terutama bagi mereka yang telah berkeluarga. Betapa tidak, kebutuhan sehari-hari untuk makan-minum saja, malah naik melonkan bak tangga saja.

Padahal, mestinya shaum itu diharapkan dapat meminimaliris kebutuhan dapur. Kini, malah urusan perut menjadi Tuhan gaya baru.

Tak berhenti sampai disini saja, dipenghujung bulan penuh maghfirah tersebut. Lagi-lagi, para bapak dibenturkan dengan satu tradisi bahwa Idul Fitri harus memakai pakaian serba baru, mulai dari baju, celana, peci, jilbab, busana muslim, sejadah sendal, sepatu, sampai asesoris tubuh. Mau tidak mau orang tua mesti mengabulkan permintaan anak-anaknya.

Selain itu, diawal puasa pun kita disibukan dengan sederetan menu idangan makanan, minuman dan hiburan yang menggoda. Apalagi ditunjang dengan pelbagai media, baik elektronik maupun cetak.

Adalah maraknya `dai-dai muda kilat`, sesuai dengan budaya pesantren kilatnya. Sudah tentu, dengan harga selangit, bila kita mengundang mereka guna memberikan tausiah disela-sela menjelang iftar dan shaur atau hanya sekedar menjadi imam tarawikh sekaligus mengisi kultumnya.

Bila mencermati persoalan itu, seakan-akan shaum hanya milik orang-orang bermodal saja. Sementara mereka yang tak punya uang banyak cukup menahan hawa nafsu untuk mengikuti kebiasaan gelamor tersebut.

Singkat kata, Ramadhan merupakan bulan komersialisasi agama. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 22/09;11.23 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/05/2006 09:56:00 PM   0 comments
Guratan (8)
Surga Kearifan Lokal Itu Bernama Shahur

oleh Ibn Ghifarie

Probolinggo--Pondok Pesantren Zaenul Hasan Genggong, daerah genggong menggelar acara `Festival Musik Pengantar Sahur`selama bulan Ramadhan. Dengan menghadirkan para peserta dari daerah Gendongan dan atau sekiranya. Tantunya harus memakai pakian adat dan membawakan musik ala khas daerah.

Uniknya lagi, musik pengiring makan shahur itu, mesti berjalan mengelili daerah kurang lebih 10 km dan memakai iringan suara bedug, kohkol, hadrah, pentungan, sambil melantunkan puji-pujian, syair islami, lagu daerah sekalipun rok, dangdut dan keroncongan.

Dilain pihak saat media mewawancarainya, KH Mutawakil, selaku ketua Ponpes menjelaskan `Acara ini sudah menjadi khasan bagi kami selama 10 tahun. Terselenggarakanya kegiatan ini, tak lain guna mempererat ukhuwah islamiyyah antar sesama muslim, membantu siskamling dan yang terpenting dapat pahala. Pasalnya, mereka telah membangunkan orang-orang untuk bershahur, sebab dalam shahur itu terdapat barakah, paparnya. (An TV,05/10)

Tak hanya di Probolingo, di daerah Cipadung pun tak mau ketinggalan dalam membangunkan masyarakat. Bila menjelang pukul 02.00 wib dini hari atau sekira 02.30 wib, maka Arak-arakan para tua-muda, sekalipun anak mengelilingin gang-gang, masuk keluar jalan sambil menyuarakan lagu, dan diiringi irama pentongan serta bunyi-bunyian `Sahur, sahur, sahur. Sudah tentu, acara iring-iringan itu diadakan untuk memberikan pertanda bahwa waktu makan janari sudah dekat dan memelihara tradisi lokal.

Nyatanya, kedatangan bulan penuh barkah itu tak hanya dirasakan oleh orang-orang yang menjalankan ibadah shaum saja. Malahan bagi para pegiat dan pemerhati budaya lokalpun kehadiran puasa, terutama saat makan fajar merupakan `surga kearifan lokal`.

Thus, mari kita jaga sekaligus pelihara budaya-budaya daerah tersebut. Sebab kearifan lokal merupakan khazanah yang tak ternilai harganya bila kita ungkan. Haruskah segala bentuk lokalitas itu tergilas dengan kekezaman arus globalisasi dan ganasnya informasi? [Ibn Ghifarie]

Car Rampes, Pojok Sekre Kere, 05/10;12.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/05/2006 07:46:00 PM   0 comments
Guratan (7)
Akhir Kisruh Rakor
published on 7 Oktober 2006 | Berita Mahasiswa--Ibn Ghifarie

A.H.Nasution--Lagi, bentrokan mahasiswa antara pejabat DPMU (Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas) dengan BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas) KBMU (Keluarga Besar Mahasiwa Univertitas) UIN SGD Bandung terjadi di sekira Auditorium(04/10).

Perbuatan ganjil sejenis, bukan kali pertama dilakukan oleh orang yang sama. Sekira satu tahun kebelakang peristiwa yang sama pun terjadi. Betapa tidak pelakunya adalah Andri, ketua DPMU dan Yana, Menteri Rumah Tangga BEMU.

Ketika ditemui PusInfokom diselala kuliah, Kadir ketua Komisi Keuangan DPMU menjelaskan perbuatan tak lazim itu dipicu dari perkataan salah satu orang pengurus BEMU yang mengeluarkan pertanyaan `Edek Rakor (Rapat kordinasi antara DPMU dengan BEMU tentang budgeting uang HMJ/UKM-red) moal? Sia rumasa boga salah teu?

`Mau menggelar Rakot tidak? Kamu merasa mempunyai kesalahan tidak?,` upatnya.

`Adu mulut pun tak terelakan lagi, hingga berujung perkelahian sengit yang dimulai oleh Yana memukul Andri,`jelas Kadir.

`Padahal sudah jelas mereka yang membuat masalah terlebih dahulu, mulai dari pemberian surat Rakor satu jam sebelum waktu pertemuan harus ada keputusan, sementara untuk memenuhi permintaan BEM kami harus rapat pleno dulu dengan anggota dewan,`ujarnya.

Selain itu, Wapres (Wakil Presiden-red) BEM pun sudah mengundurkan diri dan selesai kuliahnya. Sudah jelas, pengangkatan Presiden dan Wapres memakai system paket dalam Undang-Undang. Jika salah satu mengundurkn diri, maka secara otomatis keduanya harus diganti. `Untuk itu, hari ini tak ada BEM di kampus UIN SGD Bandung dan malah menggalang kekuatan di tingkatan HMJ/UKM dengan menggelar acara silaturahmi`tambahnya.

Lain halnya pengakuan dari Yana, ketika dijumpai PusInfoKom di Kosannya Gang Kujang ia berujar, `Emang saya yang mengeluarkan kata-kata ganjil itu, tapi kami tak mengawali pemukulan. Justru ia yang memukul kepala saya saat dilerai oleh Satpam dari belakang,`

`Masa saya dipukul ga melawan. Ya sikut sana-sikut sini buat bela diri,`jelasnya.

Menurutnya, dan yang tidak enak lagi buat saya. Saat terjadi pertemuan dengan pihak Rektorat di sana (Gedung Al-Jamiah-red). Saya belum apa-apa sudah dihakimi oleh Noerul Aen, Purek III yang membawahi bidang kemahasiswaan. Seolah-olah saya yang bersalah dan mengawali perkelahian tersebut. Kontan saja, saya emosi dan membentak. Tunggu dulu penjelsanya, dan siapa yang bersalah, tegasnya.

Walhsil, jalan islah didapat, tapi dengan catatan harus perkelahian satu-satu, ungkapnya, sambil mengutif pernyataan Andri.

Menyinggung ketidakaktifan dan keberadaan BEMU terhadap segala persolana kampus, Abdul Khalik, Mendagri (mentri Dalam Negeri) BEMU berkata `Coba liat lagi di AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) KBMU tak ada aturannya. Kalau Presiden, memang ada aturannya, tapi Wapres tidak,`

`Justru disinilah ketidak jelasan UU (Undang-undang) KBMU,`tambahnya.

`Perlu diketahui bahwa pertemuan tadi hanya menghasilkan keputusan; Dana akan cair hari Senin dan dibuatnya nota kesepakatan sebagai landasan pencairan dana serta mendukung apa yang dlakukan oleh BEM,`bantah Acep Komaruddin, Presma BEMU.

Menyoal perseteruan itu, salah satu mahasiswa yak tak mau disebutkan namanya angkat bicara `Ah…dua-duanya juga bersalah. Mengapa segala persoalan harus diselesaikan dan berakhir dikekuatan otot, bukan otak, cetusnya

`Ngomongin akhlak saja. Nyatanya, konsep jihad hanya dimaknai dengan adu tojos. Kalaupun mau tolong beri makan kepada kaum lemah, seperti Bom Marley (gelandangan depan kampus-red),`kata Hendri Setiawan, mahasiswa Perbandingan Agama.

Lepas dari persoalan siapa yang mengawali terjadinya baku hantam tersebut. Nyatanya, kita malah seneng sekaligus berbangga diri, bila akhir Rakor itu bertumpu pada genggaman tangan. [Ibn Ghifarie PusInfoKomp]

Cag Rampes,Pojok Sekre Kere,05/10;21.54 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/05/2006 06:43:00 PM   0 comments
Guratan (6)
Lagi, Bentrokan Antar DPMU dan BEMU Pun Terjadi

Oleh Ibn Ghifarie


Lagi-lagi, gerakan mahasiswa tercoreng mukanya. Bila sepekan lalu kita di idangi dengan menu perkelahian antara HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dengan anggota Palu Arit di kampus 3 Trisakti. Perseteruan itu berawal dari ucapan `Disini tak ada HMI,PMII,KAMMI, tapi yang ada Sosialis,`katanya.

Kini, peristiwa sama pun terjadi di UIN SGD Bandung (04/10). Terlebih lagi, perbuatan tak lazim itu dilakukan oleh Pemimpin mahasiswa dalam bingkai KBMU (Keluarga Besar Mahasiswa Universitas. Yakni antara Ketua DPMU (Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas) dengan Menteri Rumah Tangga BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas). Alih-alih Rapat Kordinasi (Rakor) antara DPMU dan BEMU tentang bajeting dana HMJ/UKM pun berbuntut ricuh.

Aneh memang. Perlakuan ganjil itu, bukan kali pertama. Sekira satu tahun kebelakang peristiwa yang sama pun terjadi. Betapa tidak pelakunya mereka para pemangku kekuasaan tertinggi kaum pelajar UIN.

Konon, adu tojos itu dipicu oleh salah satu orang pengurus BEMU yang mengeluarkan pertanyaan `Edek Rakor moal? Sia rumasa boga salah teu? upatnya.

Kontan saja, cetusan bernada bengis dan mememojokan itu membuat Ketua DPMU naik darah sambil melayangkan bogeman kepalan tangan ke pengupat tersebut. Tanpa ada komando perkelahian sengit tak terelakan lagi.

Sudah tentu dengan adanya perisitiwa memalukan itu, pergerakan mahasiwa tanggal ketaringannya. Pameo kaum intelektual sebagai agen pembaharu, pengayom kaum lemah, pengubah sosial dan selalu memperjuangkan kelompok pingiran pun raib entah kemana? Haruskah peristiwa Trisakti terjadi di UIN SGD Bandung? Entahlah......[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere,05/10;19.35 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/05/2006 06:33:00 PM   0 comments
Guratan (5)
Wednesday, October 04, 2006
Lagi, MUI Keluarkan Fatwa Haram
Oleh Ibn Ghifarie


Setelah sukses mengeluarkan 11 fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kini, perhimpunan para ulama itu mengeluarkan fatwa haram lagi berkenaan dengan maraknya penjualan daging sapi golondongan. Pasalnya sapi yang diberi air minum sebanyak-banyaknya sebelum disembelih guna memberatkan timbangan itu oleh MUI dikategorikan sebagai bangkai.

Sudah tentu, merugikan pembeli. Sebab setelah disembelih kiloan daging sapi itu akan menyusut akibat airnya keluar. (Trans TV 03/10)

Kontan saja, keluarnya maklumat itu menuai pelbagai protes. Mulai dari mencaci, mengahkimi, mengamini, sampai menghujat keberdaan lembaga ulama tersebut. Seakan-akan tempat berkumpulnya pewaris nabi itu hanya berkutat pada pelabelan halal-haram, bisa-tidak bisa, sunah-mubah, bukan pada persoalan pelik yang sedang melanda bangsa kita.

Ambil contoh, kekeringa yang melanda hampir di semua masyarakat, kekuranagn pasokan beras atau makanan, kebanjiran akibat hutan dan alam digunduli, bencan dan gempa di pantai selatan Jawa barat atau tabrakan beruntun akibat pemindahan rel kereta api dan jalan tol di Siduarjo dan Gempol serta menjamurnya para Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) jalanan di pelbagai kota.

Sebagian besar masyarakat menyayangkan tindakan para pemuka agama itu, karena tak dikeluarkan sebelum ramadhan tiba. Namun, disaat umat islam berusaha menambah energi akibat terkuras oleh perbuatan shaum. Nyatanya, para kyai malah mengeluarakan anjuran sekaligus pelarangan untuk tidak makan daging tersebut.

Belum lagi, rakyat jelata tak pernah mengetahui standar daging yang mengandung unsur tak baik untuk kesehatan tubuh.

Walhasil, kehadiran kumpulan orang-orang pintar pun tak berbanding lurus dengan ikhtiar mulia para pendiri tempo dulu. Malahan terkesan dapat membingungkan umat islam (kalangan awam). Haruskan mereka melahan lapar dan dahaga akibat dikeluarnya fatwa itu? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes,Pojok Sekre Kere,03/10;11.15 wib.

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/04/2006 04:34:00 AM   0 comments
Guratan (4)
G-30-SPKI; Mengeja Kecelakaan Sejarah

Oleh Ibn Ghifarie

Memasuki tanggal 30 september kita selalu dihadapkan pada satu peristiwa mengerikan, nanar, hingga nyaris hanyut dalam pangkuat sejarah ganjil. Betapa tidak, sebagian masyarakat menggugat tentang kebenaran PKI sebagai biang kerok kejadian tersebut.

Laksamana september kelabu. Kini, anggapan miring terhadap kaum komunis pun mulai perlahan-lahan dibantahnya. Seperti yang dilakuakn oleh Imam Soedjono dalam buku Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, (2006;350) dan ditulis ulang oleh Syahrul Kirom dalam Media Indonesia (03/10)

Menurut Imam Soedjono, pemberontakan PKI 1926 harus dipahami sebagai bentuk perlawanan rakyat melawan kolonialisme. Sementara itu, peristiwa Madiun 1948 sebagai pemberontakan dalam mempertahankan diri dari serangan yang dilancarkan Red Drive Proposal (usulan pembantaian kaum merah) yang didanai Amerika Serikat (AS) untuk membendung kekuatan komunisme. Artinya bukan lagi pemberontakan antara PKI dengan pemerintah. Melainkan perseteruan rakyat jelata dengan penguasa modal.

Lagi, karena kuatnya pencitraan dan stereotip masyarakat terhadap PKI tetap buruk. Sejarah PKI yang sering disalahpahami di antaranya peristiwa pemberontakan PKI 1926, peristiwa Madiun 1948, dan peristiwa G-30-S serta pembantaian tokoh-tokoh Indonesia.

Tak salah kirannya, jika kemudian terjadi praktik rekayasa, manipulasi, imajinasi, penggelapan, pemalsuan, dan penghitaman peristiwa sejarah. Misalnya melalui buku-buku sejarah, pidato kenegaraan, film, khotbah, pemberitaan pers, khotbah agama, kemudian dijadikan suatu kebenaran.
Dengan demikian, upaya penghitaman sejarah komunis merupakan salah satu bentuk kecelakaan sejarah. Pasalnya, tak selamanya benturan sekaligus nyawa sebagai imbalanya dalam mempertahankan diri dari cengkaraman penguasa lalim.

Alih-alih menyelamatkan pancasila dari segala bentuk rong-rongan paham-paham tak berTuhan (ateis) dan melanggengkan kekuasaan Orde Baru (OrBa), Soeharto berusaha menutup-nutupi peristiwa sebenarnya, hingga dalam ranah keilmuan sejarah pun Ia berupaya menyeragamkan para sejarawan. Sudah tentu, bila mereka tak mau mengikuti selera Bapak Pembanguna, maka tunggu pembalsanya.

Pertanyaannya, bukankah ketika terjadi pemasungan secara besar-besaran terhadap ruang Intelektual. Hal ini merupakan kecelakaan sejarah? Ironis..[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes,Pojok PusInfoKomp,03/10;08.34 wib.

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 10/04/2006 04:32:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.