'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (19)
Tuesday, December 26, 2006
Komoditi Itu Bernama Jilbab
Oleh Ibn Ghifarie

Seiring waktu sepenggal asa. Lain waktu. Lain pula zaman. Bila tempo dulu pemakaian kerudung merupakakan perintah Tuhan yang mesti diikuti oleh setiap Muslimah.

Kini, mulai beralih dari perintah syar'i ke trend, seakan-akan jilbab tak berbanding rulus dengan kebebasan mengenakan atribut-tribut keagamaan di publik.

Busana muslim mulai akrab di sebagain masyarakat pelajar sekira tahun 2000-an. Namun, kuatnya pengaruh globalisasi dan maraknya pemakaian kudung di kalangan artis. Membuat kaum intelektuan melakukan hal yang sama.

Tak ayal lagi, rumah-rumah model pun bermunculan. Sudah tentu, membawa kebahagiaan sekaligus keuntungan yang tumpah ruah bagi kalangan pengusaha.

Dengan demikian, merebaknya model busana muslim dan rumah butik menjadi komoditi yang menggiurkan bagi pembisnis. Haruskan kewajiban menutup aurat diembel-embeli dengan mengikuti trend Artis? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/12;23'26 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/26/2006 05:04:00 AM   0 comments
Mushaf (18)
Friday, December 22, 2006
Antara Tradisi, Hukum Tuhan Tipis Peredanya
Oleh Ibn Ghifarie


Jika memang Islam hadir untuk menghapus "kebodohan" umat manusia menuju jalan lurus yang selamat yang diridoi Allah SWT. Kenap umat islam tak lebih baik daripada non muslim. Mulai dari pendidikan, keterbelakangan ilmu pengetahuan (Iptek) sampai pada persoalan keIman dan takwan pun masih mengidam penyakit akut bernama 'klaim kebenaran'.

Satu kelompok dengan golongan lain, beranggapan bahwa paham merekalah yang paling benar. Di luar batas perhimpuannya sering diangap sesat, hingga kafir. Benarkah sifat dan perbuatan lalim itu di perintahkan oleh Rasul? Tentu saja jawabanya tidak. Lantas apa yang meski kita perbuat, manakala islam berwajah 'ganjil' dalam menyikapi tradisi?

Pemahaman perbedaan pendapat pun harus berubah haluan menjadi laknat daripada rahmat. Lagi-lagi, ruang dialog tak pernaha akrab dalam keseharian kita. Kita hanya bisa menyelesaikan segala persoalan itu dengan meruju kepada hukum Tuhan. Tentunya, pelbagai dalih pun harus rela tuntuk atau sengaja di bakuakn dengan sumber tersebut.

Padahal, begitu tipis perbedaan antara hukum Tuhan dengan Adat. Namun, kedua-duanya mengajarkan kita supaya berbuat baik kepada dirinya, orang lain dan sekiranya. Jika tak bisa berprilaku arif, maka tinggalkanlah. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;23.56 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/22/2006 07:40:00 PM   0 comments
Mushaf (17)
Perang Akbar; Melawan Hawa Nafsu
Oleh Ibn Ghifarie

Memerangi hawa nafsu merupakan perang paling akut sekaligus abadi daripada berperang atas nama kepentingan kelompok maupun pribadi. Hingga Iwan Fals berkata dalam liriknya, 'keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya ada dalam pikiran'.

Dengan demikian, segala bentuk peperangan akan membawa malapetaka yang besar dan keji. Terlebih lagi bagi kaum hawa, anak-anak, orang lanjut usia. Pasalnya, baku hantam antara israel-palestina tak mengenal etika peperangan. Sudah tentu, tempat ibadah, ruang publik; rumah sakit, sekolah, jalan tak boleh menjadi sasaran insiden.

Namun, kuatnya keinginan untuk menguasai maka dengan serta merta sistem pelayanan publik pun harus ikut menjadi sasaran empuk.
Pendek kata, berperang melawan hawa nafsulah perang paling besar. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;24.45 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/22/2006 07:34:00 PM   0 comments
Mushaf (16)
Impor Beras; Bisnis Silumah
Oleh Ibn Ghifarie


Lagi, maraknya aksi impor beras dari pelbagai negara ke Indonesia menuai pelbagai kecaman. Pasalnya, pencaharian masyarakat Nusantara adalah bertani.

Sudah tentu, membanjirnya beras luar itu, dapat memperburuk sekaligus menjatuhkan hasil petani tradisional, mulai dari harga, kualitas dan kuantitasnya. Lantas dimanakah slogan 'Mari kita cintai prodak dalam negeri tersebut' atau itu hanya semacam jargon Orba setamat.

Namun, sejuta protes yang dialamatak kepada pemerintahan itu tak berefek apapun, malah kemarin pemerintah memutuskan akan mengimpor beras sebanyak 520 ribu ton. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai memimpin rapat soal beras dengan sejumlah menteri di Jakarta. Perinciannya 320 ribu ton untuk menutup kebutuhan beras bagi rakyat miskin selama Januari-Februari 2007 dan 200 ribu ton untuk kebutuhan operasi pasar.

Dengan demikian, sepanjang 2006 sudah tiga kali impor beras dilakukan. Pada Januari sebanyak 110 ribu ton, pada Oktober 210 ribu ton, dan kini dalam waktu dekat bakal mengimpor sebanyak 520 ribu ton.

Selain untuk menjaga stok pangan pada posisi satu juta ton beras, kebijakan impor itu dibuat agar stabilitas harga terjamin. Harus diakui, harga beras belakangan kian tak terkendali meski operasi pasar telah dilakukan. Pemerintah berharap harga beras stabil di tingkat Rp4.500 per kilogram dan tidak melambung hingga Rp8.000/kilogram.(Media Indonesia, 22/12)


Alih-alih menjaga stok pangan nasional supaya tetap terjaga kebijakan impor beras pun terus berdatangan. Apalagi dapat memperbanyak masukan buat pemerintah.

Ironisnya, lagi beras yang dipakai untuk operasi pasar terutama di Jawa dan Sumatra berasal dari impor. Ini sama artinya dengan pemborosan devisa dan mau tidak mau membebani anggaran negara.

Padahal, nasi merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat (Jawa-Sumatra) yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Kecuali bagi penduduk Papua yang tak terbiasa makan padi melainkan sagu.

Dengan demikian, terbukanya keran impor beras setiap tahun mencerminkan rapuhnya politik pangan dan mandulnya diversifikasi pangan. Apalagi di tengah keragaman sumber daya pertanian, kegiatan mengonsumsi nasi terus berlangsung tanpa bisa dibendung dan ketergantungan terhadap beras telah menjadikan Indonesia rentan terhadap kelaparan dan rawan pangan.

Tak hanya itu, kehadiran bisnis nasi dapat memperkoyak sekaligus membuat arena perkelahian di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Pasalnya, tak sedkit para Dewan itu mencari ksempatan dalam kesempitan, hingga sebagian masyarakat beranggapan, derasnya arus imfor beras itu hanya akal-akalan penguas saja, supaya merauk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Namun, wong cilik tetap makan nasi aking yang terus meroket tinggi harganya. Semula nasi ala hewan diharapkan dapat menjadi alternatif manakala beres tetap melambung tinggi. Nyatanya, nasi bercampur basi itu pula ikut-ikutan naik. Tentunya, sederetan sembalo pun ikut kecipratan naik.

Thus, impor beras merupakan bisnis siluman jangkan panjang. Yang tak berujung dimanakah beres tersebut? [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 22/12;05.56 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/22/2006 12:05:00 PM   0 comments
Mushaf (15)
Thursday, December 21, 2006
Sentralisasi Beras
Oleh Ibn Ghifarie

Naiknya harga beras membuat sebagian masyarakat kecil [i]pontang-panting[/i]. Pasalnya, harus kerja ekstra guna mendapatkan bahan pokok tersebut. Tak berakhir sampai disini, rebutan supaya mendapatakn padi pun tak terelakan lagi. Hingga, nasi aking pula menjadi obat mujarab kelaparan tersebut.


Tengok saja, di daerah Klaten kenaikan harga beras melonjak dratis mulai awal bulan ini. Kemarin, di Pasar Klaten beras Cisadane telah mencapai Rp5.000 per kilogram, Rojolele Rp5.500, Mamberamo Rp5.200, IR-64 Rp5.100, Umbuk Rp5.100, Menthik Wangi Rp5.300, dan beras ketan Rp7.000. (Media Indonesia, 16/12)


Konon, di Papua kenaikan harga beras tak terkendali, hingga mencapai 13.000,00-/kg (Metro,16/12). Sudah tentu, [i]nerekalna[/i] harga beras juga berdampak pada harga bahan kebutuhan pokok (sembako) lainya.


Mencermati persoalan pelik itu, pemerintah hanya bisa mengelar pasar murah dan kualitasnya pun di pertanyakan. Benarkah permasalahan kemiskinan itu berawal dari kenaikan harga beras? atau Jangan-jangan ada sistem kearifan lokal yang tak terpikirkan sekaligus di tinggalkan oleh masyarakat akibat globalisasi dan kecangihan ilmu pengetahuan.


Yakni penduduk melupakan tatanan kehidupan pokok suatu daerah tertentu sebagai sumber makanan. Kini, sebagian besar masyarakat Mimika tak lagi akrab dengan makan khasnya (ubi-ubian), tapi semuanya makan beras, sebagai contoh. Padahal, daerah pingiran Irian itu penghasil terbesar biji-bijian. Nyatanya, mereka harus rela tak makan selama beberapa hari, hingga menelan banyak korban.


Ironis, sungguh ironis. Nusantara yang terkenal dengan subur makmur alamnya, malah menghasilkan kematian tingkat tinggi. Bak ayat mati di lumbung padi.


Dengan demikian, sentralisasi beras di Bumi Pertiwi ini, hanya dapat menghasil kesengsaraan dan kemiskinan yang akut dan tak kunjung selesai. [Ibn Ghifarie]


[i]Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/12;14.17 wib[/i]

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/21/2006 06:17:00 AM   0 comments
Mushaf (14)
Sindikat Penipuan Ala Intelektual
Oleh Ibn Ghifarie

Adalah pemalsuan gelar, money politik, jalan yang ditempuh oleh penguasa yang haus akan jabatan. Alih-alih memperbaiki mutu pendidikan dan mencerdaskan bangsa cara singkat untuk sejajar dengan Universitas-Universitas (UIN JKT, UIN JGY, UIN Riau, UIN Malang, UIN Makasar) lain pun di tempuh.

Lagi, pemalsuan Izazah pula terjadi di Fakultas Psikologi, Endin Nasruddin guna mendapatkan fasilitas dan kedudukan. Padahal Ia sedang mengemban amanah Purek IV (Pembantu Rektor) di UIN SGD Bandung, Ketua Yayasan (Rektor) di STAIN Sukabumi. Kini, menjabat sebagai Dekan Fak Psikologi terpilih.

Meski, menuai protes dari pelagai mahasiswa yang tergabung dalam KBMP (Keluaga Besar Mahasiswa Psikologi) dalam bentuk aksi mogok kuliah selama 3 bulan. Nyatanya, Ia masih menjabat di Fakultas tersebut. Mampukah pihak Rektorat dapat menyelesaikan persoaln internal tersebut?

Jika tidak mampu dan lamban dalam mengunangi permasalahan itu, hingga berlarut-larut sekaligus merugikan mahasiswa sendiri, maka jangan harap UIN menjadi kampus 'Demokrasi-Religius', tapi 'Otoriter-Anarkis'.

Thus, UIN merupakan wajah baru sindikat penipuan ala intelektual. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 16/12;16.23 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/21/2006 05:08:00 AM   0 comments
Mushaf (13)
Sepakat
Oleh Ibn Ghifarie

Jika memang itu yang terjadi, maka wajah umat beragama tercoreng dengan perlakuan lzalim tersebut. Sudah tentu, membuat sebagian umat islam miris dan agama di luara islam mengamini pernyataan Islam merupakan agama bengis, anarkis sekaligus teroris.

Kata sepakatlah yang mengilhami ihwal lebih baik tak beragama dari pada mengaku beragama tapi mudah menggap orang lain kafir, bahkan saling sesat menyesatkan..[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfokomp, 20/12;23.02 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/21/2006 05:02:00 AM   0 comments
Mushaf (12)
Wednesday, December 20, 2006
Kala Hujan Jadi Bencana
Oleh Ibn Ghifarie

Musim hujan telah tiba. Di bagian dunia yang lain hujan merupakan berkat alam karena membasahi bumi dengan air yang menghidupkan. Di Indonesia, sebagian wilayah menikmati juga hujan sebagai berkat. Tetapi bagi sebagian besar wilayah ini hujan adalah bencana.

Karena itu, ketika musim hujan datang, datang pula malapetaka. Beberapa hari yang lalu 18 warga terkubur di Solok, Sumatra Barat (18/12), karena tanah longsor setelah hujan mengguyur. Di beberapa bagian Pulau Jawa hujan yang disertai angin puting beliung merontokkan rumah-rumah warga.
Di hari-hari mendatang selama musim hujan akan semakin pasti datangnya berita tentang bencana dalam berbagai wujud. Banjir, longsor, topan, gempa, tsunami, gagal panen dan sebagainya.

Musim bencana kali ini rupanya berawal dari Sumatra. Setelah longsor di Solok Senin malam, Pulau Sumatra diguncang gempa kuat. Sejumlah warga meninggal dan ratusan bangunan ambruk. Belum diketahui apakah gempa yang berpusat di Aceh dan Sumatra Barat itu berkaitan dengan datangnya musim hujan. (Media Indonesia, 19/12)

Lagi-lagi bencana terus silih berganti. Satu daerah korban keganasan alam belum selesai saat rekontruksi dan relokasi warga, nyatnya di belahan yang lain alam menunjukan ke kuatannya. Hingga negara Indonesia di buatnya kalangkabut dan berkali-kali menangis.

Mencermati maraknya bencana yang terus menerus mendera Bumi pertiwi, semuanya disebabkan keperkasaan alam, memang sungguh tidak bisa dicegah. Topan, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi, misalnya, tidak mampu dihalangi manusia dengan teknologi apa pun.

Tak hanya itu, menegemen bencana pun hanya sebatas wacana semata. Padahal, alat cangih atau sistem peringatan sejak dini yang dapat mendeteksi malapetaka dalam kasus letusan gunung merapi, angin topan, tanah longsor dan gempa tsunami sangatlah di perlukan. Haruskah kehadiran sistem peringatan dini di tebus dengan beribu nyawa manusia tak berdosa?

Meskipun manusia tak dapat mencegah datangnya peristiwa tersebut. Namun, paling tidak, memiliki kemampuan untuk mengurangi dampak dari bencana.

Sudah tentu, semua kemurkaan alam itu berawal dari ulah tanagn lamim manusia dan kesombongannya. Hingga merusak sekaligus merauk keuntungan dari tatanan jagat raya ini.

Thus, buanglah sampah pada tempatnya dan mari melestarikan lingkungasn sekiranya. Tak lagi guna mencegah peristiwa yang tak di inginkan. Apalagi dengan tibanya musim hujan di penghujung tahun. Pasalnya, haruskah datangnya musih hujan berubah menjadi bencana? [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12;08.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/20/2006 04:17:00 PM   0 comments
Mushaf (11)
Yang Penting Perut Isi
Oleh Ibn Ghifarie

Adalah para pejabat pemerintah yang telah terlalu lama merasakan penderitaan masyarakat kecil, karena semua ia berlatar wong cilik, hingga dengan seenaknya mereka berusaha memperkaya diri sendirinya.

Apalagi, saat mencalonkan diri sebagai pemimpin harus di tebus dengan pengorbanan materi yang melambung tingggi, maka wajar bila ia di kemudian hari berprilaku lalim.

Dengan demikian, yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan lagi janji-janji bualan semata dengan tektek bengeknya, tapi bagai mana dapur mereka dapat ngepul. Pendek kata, yang penting perut isi, bung. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 20/12;22.36 wib
__________________

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/20/2006 01:24:00 PM   0 comments
Mushaf (10)
Perempuan; Guru Buah Hati
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, perempuan tak bisa berbuat banyak saat bersentuhan dengan kebiasaan masyarakat. Jangankan untuk berkeyuyuran di tengah malam, bepergian keluar rumah (istri) pun harus di barengi dengan suaminya. Apalagi remaja. Sudah tentu, pembagian ruang publik dan domestik pun tak berlaku lagi di kalangan mereka.

Singkat kata, kaum hawa harus tetap berpijak pada 3 tradisi kasur, sumur jeung dapur

Meski seiring waktu, sepenggal asa dan menjamurnya pemahaman sekaligus aksi gerakan feminisme di kampus. Ternyata, kaum ibu harus rela menjadi guru terbaik bagi buah hatinya di rumah. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/12;21.25 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/20/2006 01:20:00 PM   0 comments
Mushaf (9)
Wajah Muram KBM UIN SGD Bandung
Oleh Ibn Ghifarie

Aneh memang kehadiran KBM UIN SGD (MPM, DPM, BEM) malah mencetak kandidat koruptor cilik dengan modus proses pembelajaran dan pesta demokratisasi kampus.

Kini, cita-cita luhur menciptakan mutu pendidikan dan kultur ilmiah pun hanya sebatas isapan jempol semata. Lantas, apa yang dilakuakn oleh para pengausa muda tersebut?

Tak aya lagi, dana besar pun harus menjadi tumbal pemilihan Presma dan ketua DPM dan MPM. Jika proses pengaderan itu tak mewujud, maka adu tojos antar kelompok mahasiswa pula tak terelakan lagi. Sudah tentu, peristiwa itu menjadi buah bibir di kalangan kaum terpelajar tersebut.

Namun begitu, inilah wajah muram KBM UIN SGD Bandung. Siapa yang mesti disalahkan dan harsu menghakimi siapa? mari kita serahkan semuanya kepada mahkamah agung bernama waktu......[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 20/12;22.24 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/20/2006 01:17:00 PM   0 comments
Mushaf (8)
Tuesday, December 19, 2006
Lagi, Iman Minoritas Tertindas
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, tuduhan 'sesat' terhadap kelompok minor pun terulang kembali. Entah, kesekian kali Pembunuhan kepada Alih terjadi di Bobojong, Bogor. Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas sekaligus menafikan Tuhan.


Ada beberapa kegiatan yang menyebabkan tuduhan sesat itu dialamatkan kepada Alih. Antara lain, kalau tengah malam ada ritual dzikir yang disebut “laporan ke Tuhan” demikian penuturan Muhammad Iqbal Iskandar, pengasuh pesantren Hidayah al-Bayan yang berada di desa Bobojong.


Pendek kata, Alih juga dituduh mengajarkan ritual shalat yang cukup dengan niat semata.

Peristiwa naais itu terjadi, sepulang dari acara tahlilan (26/10) pukul 19.30 WIB, pria berusia 40 tahun itu shalat Isya di masjid Uswatun Hasanah, masjid tak jauh dari rumahnya. Jaraknya sekitar 45 meter. Usai shalat Alih berniat pulang ke rumah. Begitu keluar, Alih langsung dihadiahi pukulan dan tendangan oleh beberapa orang, kopiahnya jatuh ke tanah dan ia tersungkur.

Alih sempat melarikan diri, tapi langsung ditangkap oleh massa yang sudah menunggunya. Berdasarkan penyelidikan Kepolisian Sektor Darmaga, Bogor, waktu itu ada sekitar 250 massa yang berasal dari tiga kampung: Bobojong, Sempur, dan Ijul.

Kemudian, Alih diseret kurang lebih 200 meter dari masjid menuju villa kosong. Di villa yang terletak di perbatasan kampung Bobojong dan desa Petir itulah Alih dipukul ramai-ramai. Golok, kayu, batu, secara tak beraturan bersarang ke tubuh dan wajah bapak dua orang anak ini. (Syir’ah edisi 60/Desember 2006.)

Maraknya aksi 'penertiban' keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas terhadap minoritas. Sudah tentu 'mengamini' adagium homo homoni lupus . Siapa yang kuat dia pasti berkuasa. Pertanyaanya, benarkah peristiwa tragis yang menimpa Alih itu di latar belakangi oleh penyebaran aliran ganjil atau jangan-jangan sebegian kelompok tertentu, malah kalah persainganya dalam mengambil hari masyarakat sekitarnya.


Dengan demikian, wajah Islam ramah, toleran, menyapa perbedaan rahmatan lil alamian dan islam li kulli makan wa zaman pun tak menjadi pameo umat islam, malah beralh menjadi bengis, beringas dan menyeramkan. Yang jelas, kejadian memilukan itu menyimpan sederetan luka yang membekas terhadap keluarga korban. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kering, 28/10;23.34 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/19/2006 06:55:00 AM   0 comments
Mushaf (7)
Monday, December 18, 2006
Ada Apa Dengan Pemerintahan Mahasiswa?

Konon, berlakunya sistem Pemerintahan Mahasiswa dengan sebutan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Universitas Islam Negeri (UIN) SGD (IAIN d/h) teritung sejak tahun 2000. Yakni masa peralihan dari DEMA (Dewan Mahasiswa) ke BEM, yang di ketuai oleh Asep Ahmad Sahid sebagai Pesma (Presiden Mahasiswa) KBM IAIN SGD BDG (2000-2001) (Suaka). Pendek kata, semenjak itulah Student Goodgoverment memakai BEM.

Bila merunut masa bakti Presma yang dapat menyelesaikan amanahnya hingga berakhir kepengurusannya, terhitung dari tahun 2001-sekarang. Ternyata, kepemimpinan H Dindin Jamaluddin (2003-2004) yang dapat menyelesaikan satu periode. Meskipun, menyimpan sederetan keganjilan berkenaan dengan dana mahasiswa (lihat LPJ BEM KBM IAIN periode 2003-2004).

Adalah Masmuni Mahatma, Presma (2001-2002) harus rela melepaskan roda kepemimpinannya dan berakhir di Sidang Istimewa. Pasalnya, telah melanggar ketentuan AD/ART KBM IAIN. Dengan demikian, terbentuklah PJS (Pejabat Sementara) guna mengayomi struktur Kepemimpinan .

Dian Nugraha, Presma (2004-2005) pun mengalami hal yang sama. Alih-alih mencemarkan nama baik dan melanggar konsitusi, Presma seribu mahasiswa harus melepaskan jabatanya, sebelum akhir kepengurunannya. Singkat kata, PJS pun menjadi obat mujarab pemerintahan kaum pelajar.

Lagi, Acep Komarudin, Presma (2005-2006) pun tak jauh berbeda dengan kepengurusan sebelumnya. Bahkan Dewan Perwakilan Mahasiswa (MPM-DPM) mengeluarkan memorandum terkait dengan masalah Ta'aruf. Hingga terbentuknya PJS.

Tak mau diam, BEM pun mengeluarkan Dekrit Presiden tentang pembubaran DPM, MPM dan Partai Mahasiswa. Lantas, pentingkah pemerintahan mahasiswea itu?

Di sadari atau tidak, Periden Mahasisma menjadi keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi dalam satu lembaga. Apalagi kepemimpinan itu, dapat mengayomi segala bentuk aspirasi mahasiawa. Bukan malah, sekaligus merayakan perbuatan lalim antar Legislatif (DPM,MPM) dan Eksekutif (BEM).

Namun, bila setiap kepengurusan hanya mementingkan pribadi dan golongan tertentu, maka tak layak lagi kepemimpinan berada di tangan Presma. Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 18/12;15.35 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/18/2006 06:21:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.