'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (2)
Wednesday, February 28, 2007
Selamat Jalan Kawan
Oleh Ibn Ghifarie

`Leudz, naha bet ceurik sagala. Biasanage lamun nonton teh tara ceurik kitu. Paling-paling ge buru-buru nulis,`
ungkap salah satu kawanku.

`Wah, pantesan we da ningali eta (liputan tenggelam kapal Velina yang menelan Suherman, kameramen Lativi-red). Mentang-mentang sapropesi nya,`
tambahnya.
Read more »

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/28/2007 02:51:00 AM   2 comments
Suhuf (1)
Monday, February 26, 2007
Dicari, Pemimpin Yang Bisa Atasi Bencana Transportasi
Oleh Ibn Ghifarie

Sekali lagi, musibah kapal laut kembali terjadi. Kali ini, KM Levina I yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pangkalan Balam, Bangka Belitung, mengalami kebakaran sekitar pukul 05.30 WIB, Kamis (22/2) di wilayah Kepulauan Seribu.

Sebanyak 16 penumpang kapal jenis roro itu meninggal, salah satu di antaranya adalah seorang bayi. Sementara 211 orang dari total 307 penumpang kapal buatan Jepang 27 tahun lalu itu selamat. Ratusan penumpang yang berhasil dievakuasi ke Tanjung Priok itu terkena luka bakar.

Sedangkan korban selamat yang dievakuasi ke Pulau Kelapa berjumlah 63 orang, dan tujuh penumpang meninggal. ''Total penumpang selamat sebanyak 274 orang dan hilang 17 orang,'' kata Direktur Pelayaran dan Perhubungan Laut Dephub, Bobby R Mamahit, kemarin. (Republika, 23/02).

Tak hanya berhenti sampai disana, peristiwa naas pun terjadi di tengah-tengah pencarian korban dan mengusut tuntas asal-muasan terjadinya kebakaran kapal tersebut. Lagi, kapal berusia 27 thn itu, kembali menelan korban. Kali ini, menimpa beberapa jurnalis yang sedang olah TKP. Salah satunya, Suherman (kameramen Lativi) dan M Guntur (kameramen SCTV). Hingga hari ini M Guntur belum ditemukan.

Inilah bentuk korban ke konyolan transportasi kita. Seakan-akan, bencana transportasi air di negeri Indonesia seperti susul-menyusul. Perkabungan yang satu belum usai muncul perkabungan yang lain. Kecelakaan seolah menjadi sahabat karib sekaligus siklus yang harus kita lalui pula.

Masih ingat dalam benak kita, di penghujung tahun 2006. Bagaimana kebakaran kapal terjadi di Batam saat bersandar ke tepi. Atau peristiwa memilukan sekaligus menyuluh hati kita saat kapal Tampolmas terbakar di tengah-tengah lautan lepas.

Maraknya, kecelakaan transportasi baik udara, darat, maupun laut secara beruntun membuat masyarakat khawatir. Kondisi itu sebagai buntut tidak mampunya pemerintah menyediakan sarana transportasi yang aman bagi rakyat. Dipertanyakan, mengapa audit komprehensif angkutan belum diselesaikan.

Demikian dikemukakan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Bambang Susantono, kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat (23/2), menanggapi terjadinya kecelakaan pesawat Adam Air di Juanda, Surabaya dan terbakarnya KM Levina I di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Rabu (21/2) dan Kamis (22/2).

"Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi hanyalah sebuah gejala, tetapi akar permasalahannya sama sekali belum ditemukan. Audit komprehensif moda angkutan darat, laut, dan udara, seharusnya sudah diselesaikan pemerintah. Mengapa sampai saat ini hasilnya belum juga keluar?" tanya Bambang.

Sudah tentu, pelbagai kecaman bernada menyudutkan dan menuntut Hatarajasa, Mentri Perhubungan untuk segera undur diri jabatannya. Pasalnya, Ia tak becus lagi mengurus transportasi. Seperti yang dikemukakan oleh Nusyirwan Soedjono, anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengevaluasi kinerja Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Kecelakaan bertubi-tubi itu dinilai akibat tidak adanya langkah signifikan dari Menhub.

"Program yang disampaikan Menhub tidak ada realisasinya. Kami sudah kehabisan bicara, kecelakaan terus terjadi. Sebagai rasa tanggung jawab kepada masyarakat sebaiknya dia mundur," kata Nusyirwan.

Dia juga mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera menyelesaikan penyelidikan terkait dengan kecelakaan pesawat Adam Air di Bandara Juanda dan terbakarnya KM Levina I di perairan Kepulauan Seribu.

"Rekomendasi itu bisa digunakan bagi korban dan keluarganya untuk melayangkan gugatan hukum baik kepada pemilik armada, petugas, dan pejabat terkait. Mereka perlu dibawa ke pengadilan," katanya. (Suara Pembaruan, 24/02)

Memang, tak adil rasanya bila kita menyerahkan segala urusan bencana transportasi sepenuhnya kepada Menhub semata. Terlebih lagi, bila tidak ada keterlibatan ektra serius dan hati-hati dari masyarakat saat menumpang kendaraan serta keterlibatan penuh dari pemangku kekuasaan. Hingga kejadiaan tak berkesudahan itu dapat diminilalisir dan tak begitu banyak menelan kobran yang tak berdosa. Uintuk itu, maka wajar bila masyarakat menginginkan pemimpin yang tanggap secara dini terhadap persoalan pelik tersebut.

Meski, selain perlu kepengurusan yang punya kecakapan mengatasi bencana transportasi, juga betapa mendesaknya konsep menegemen bencana untuk segera direalisasikan. Ini agar wong cilik dapat mendeteksi gejala-gejala bencana dan pertolongan pertama dalam kecelakaan supaya tak panik, hingga nyaris tak melakukan tindakan yang bersifat konyol.

Thus, rakyat sungguh menunggu pemimpin yang mampu melakukan dua tindakan berani dalam dua perkara itu. Siapakah sosok pemberani itu? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/02; 23.26 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/26/2007 11:16:00 AM   1 comments
Kitab (20)
Thursday, February 22, 2007

Lagi, Pesawat Adamair Tergelincir
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, Pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 172 jurusan Jakarta-Surabaya, tergelincir saat mendarat di Runway 10, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Rabu kemarin sekitar pukul 15.00 WIB. Kondisi pesawat dikabarkan cukup parah. Retak pada bagian tengah dengan lengkungan sekitar 40 derajat. (Metro, 21/02)

Ironisnya, pesawat naas itu terjadi manakala bangsa Indonesia sedang di depa pelbagai bencana yang tak berkesudahan dan meroketnya besar yang tak kunjung turun serta melunturnya kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan SBY-JK. Seakan-akan kita tak mau dilepas bari berbagai malapetakan yang kagung menjadi teman akrab.

Masih ingatkah kasus raibnya pesawat boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adamair dari Jakarta tujuan menado (01/01). Hingga hari ini, bangke kapal sekaligus penumpanya pun mendadak raib tak tentu dimana rimbanya. Yang jelas, mereka di telan ganasnya zaman dan tak bersahabatnya kita terhadap alam.

Kini, sekali lagi di sektor transportasi udara pun ikut menegaskan bahwa Indonesia memang bangsa amburadul. Adalah olengnya pesawat boing Boeing 737-300 KI 172 jurusan Jakarta-Surabaya milik Adamair.

Meski tak menelan korban jiwa dalam kecelakaan ini. Namun, mengisahkan trauma yang begitu mendalam bagi penumpang. Salah satunya, Haryono, awalnya tidak mengetahui pendaratan pesawat tidak normal. Namun ketika mendengar ada pesawat Adam Air yang tergelincir, ia langsung membatalkan keberangkatannya ke Jakarta dengan Adam Air. Haryono mengaku takut perstiwa tersebut terulang lagi.

Lain Haryono. Lain pula pengakuan Rusdi. Ia mengaku hingga kini belum mendapat penjelasan dari pihak Adam Air mengenai tiket pulang perginya. Bahkan Rusdi tidak bisa mencairkan tiket tersebut. (Metro 21/02).

Sayangnya, pihak Adamair membantah adanya kerusakan di kapalnya saat terjadi peristiwa memalukan tersebut. Seperti yang dilansir Metro (21/02) melalui Natalia, Distrik Manager Adam Air Wilayah Surabaya membantah pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 172 jurusan Jakarta-Surabaya tergelincir. Menurutnya, ada angin yang mendorong pesawat ketika akan mendarat. Akibatnya, pilot mengambil tindakan agar pesawat tidak tergelincir.

Ia juga mengatakan pesawat yang dikemudikan oleh pilot Kapten Gita tersebut tidak rusak. "Kalau pesawat kita rusak atau patah, kan tidak bisa ditarik," ujarnya. Namun pada kenyataannya, pesawat yang membawa 148 penumpang tersebut kini sudah ditarik ke hanggar.

Inilah wajah pemimpin bangsa. Saat musibah menimpa malah sibuk mencari kambing hitam guna mengurai penyebab jatuhnya pesawat Adamair. Mulai dari faktor kesalahan teknis, kesalahan manusia, atau sekalipun faktor cuaca dan alam. Bukan tanggap darurat sedini mungkin terhadap pelbagai kejadian yang menimpa bangsa kita.

Memang bencana transportasi udara di negeri Indonesia seperti susul-menyusul. Perkabungan yang satu belum usai muncul perkabungan yang lain. Kecelakaan seolah menjadi sahabat karib sekaligus siklus yang harus kita lalui pula.

Haruskan pemberhentian operasi pesawat milik maskapai manapun dibayar dengan harga mati para penumpang yang tak berdosa. Karena sudah tua dan tak layak terbang. Lantas, apa yang mesti kita perbuat dalam meminimalisir korban-korban berikutnya? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 22/01;00.56 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/22/2007 04:35:00 AM   3 comments
Kitab (19)
Hidup Karl Mark
Oleh Ibn Ghifarie

`Leudzh, ayeu namah euweuh idealisme anu sok di gembor-gemborkeun ku urang keur kuliah teh. Angger we lamun geus balik ka lembur mah anu meunang teh logika Karl Mar (dialektika materialisme-red). Kumaha carana meunang duit keur hirup sapopoe,` demikian ungkap salah satu Alumnus Aqidah Filsafat Fakultas Filsafat dan Teologi.

`Pokona mah kumaha cara neangan duit. Lain gawe, tapi materi. Urang sampe kudu kukurilingan bari mawa lamaran kerja jeung konsepan konseling ka tiap sakola SMA anu aya di Bandung.` tambahnya.

Tak ayal, ungkapan bernada getir dan pesimis itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam santapan bala-bala Alakadar di Kedai Ushuluddien (21/02). Sambil ditemani secangkir kofi, segelas susu dan tumpukan gehu panas plus bumbu penyedap dan sambel khas Warteg.

Maklum saja, kami tak pernah ketemu lagi pasca mereka lulus (Agustus 2006). Sekedar tegur sapa via pesan singkat (sms), rasanya tak pernah kami lakukan. Atau Sekedar membincang masalah kampus; pergantian kepengurusan di tubuh KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) UIN apalagi. Saat aku menunggu kehadiran Sekjur (Sekretaris Jurusan) guna berkonsultasi masalah kuliahku.

Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikwal ketidakjelasan ijazah dan prospek jurusan. Sejurus kemudian, ngobrol masa depan yang kadung harus dilewati pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga Ia berujar menutup pembicaraan `Alah asa teu meunang nanaon kuliah teh. Soal Filsafat heun teu. Teologi komo. Tasawuf boro-boro. Tungtungnamah kudu ngandelkeun ka bisa sorangan. Naon we anu penting ngahasilkeun duit.`

Bila dirunut kebelakang, dahulu aku tau betul bagaimana Ia begitu aktif di pelbagai organisasi mulai dari BEM-J (Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan), ekstra Kampus, organisasi kedaerahan (Orda) sampai menyandang gelar aktivis mahasiswa. Kebetulan aku Ia merupakan seniorku di salah satu pergerakan mahasiswa.

Kini, rasanya tak ada kebahagian sekaligus semangat bergebu-gebu dalam mengarungi kehidupan yang pelik ini. Sederetan jargon sebagai penampung asfirasi masyarakat, pengubah tatanan sosial dan kaum terpelajar pula raib entah ditelan badai apa. Yang jelas Ia beranggapan segala sesuatu dapat terselesaikan dengan materi. Ketika kekayaan didapat maka serta merta kebahagiaan akan teraih pula. Haruskan, segala bentuk Idealisme kita tergadai, manakala kita tak punya modal? Entahlah.

Thus, Obrolan menjelang siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan Kafe Filsafat. Terlebih lagi, saat salah satu pujaan hati kawanku datang dan menghampiri kami. `Tuh gera kaditu bisi di carekan ku pamajikan geura`. Semuanya terpesona atas kemolekan tubuh perempuan dan sirna dihadapan tumpukan bala-bala Alakadarna yang mulai tak hadir di sebilah piring. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Kedai Ushuluddien, 21/02;11.49 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/22/2007 03:16:00 AM   0 comments
Kitab (18)
Lagi, Somanto `Gentayangan`
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, Sumanto bergentayangan di Bumi Nusantara. Kali ketiga peristiwa sadis sekaligus mengerikan itu terjadi di Pulau Borneo. Tetapnya, di Desa Anjir Mambulau Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas Kalimantan Timur. Pelakunya bernama Solehan. Manyit bayi yang baru sehari dikubur, dia bongkar. Lantas, dimakan pahanya.

Masih ingatkah kasus Sumanto dari Probolinggo (2003), sang pemakan daging mayat manusia, yang kini sudah bebas dari Hotel Predeo dan menetap tinggal di Yayasan Annur. Pasalnya, Ia ditolak mentah-mentah oleh warga kampung halamanya. Walhasil, Ia harus rela berpisah dengan sanak familinya tercinta.

Atau Sumanti, seorang Ibu di Depok melakukan hal yang sama terhadap buah hatinya (2006). Bahkan lebih sadis, sebab Ia menyantapnya setelah dibakar terlebih dahulu.

Kini, hadir pula `Sumanto` dari Kabupaten Kapuas, yang memakan daging mayat bayi dan tulangnya dijadikan sebagai pipa rokok.

Kasus ini terbongkar Sabtu (17/02), saat warga Desa Anjir Mambulau Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas Kalimantan Timur geger begitu mengetahui makam Arifin (22 hari), yang dikubur Jumat (16/02) ada yang membongkar.

Adalah Sahit, warga setempat yang mengetahui pertama kali pembongkaran kuburan tersebut. Sahit yang kendak ke sawah, melihat peti manyat di semak-semak. Walau sebelumnya kurang yakin tumpukan itu peti mayit. Namun, setelah dicek di lokasi pemakaman yang ta jauh dari lokasi, diketahui kalau kuburan bayi Arifin Sudah terbongkar. (Jawa Pos, 18/02)

Mereka beramai-ramai mendatangi pemakaman itu dan menemukan mayat bocah tanpa paha kanan. Setelah ditemukan baru mereka melapor ke Polsek Kapuas Timur.

Berkat kepiawaian petugas dan keukut sertaan masyarakat pelaku bejat itu dapat di temukan. Kepada Polisi Solehan mengatakan Paha kanan bayi dipotong dengan pisau pemotong daging. Di rumah, daging bayi itu dimakan, sedangkan tulangnya dijadikan roko. `Telapak kaki dibuang di semak-semak` ujar Kaporles.

Konon, niat mengambil pahanya terbesit dalam pikiranya, manakala Ia mendapat bisikan yang mengatakan kalau ingin menang sabung ayam, supaya mencari tulang orang mati.

Terbongkarnya, perilaku Sumantonian dibelahan daerah manapaun, menunjukan perilaku yang sama sekaligus melanggengkan budaya kalibal bak fenomena gunung es. Terlebih lagi, di tengah-tengah himpitan ekonomi yang tak kunjung membaik dan meroketnya harga beras yang tak menurun serta di hantam banjir yang tak berkesudahan. Seakan-akan negeri Indonesia sedang mengalami sakit parah dan berwatak barbar. Inilah wajah bumi pertiwi.

Alih-alih ingin mendapatkan Ilmu gaib dan memperkaya harta benda dengan cara mudah. Akhirnya, cara lalim pun mereka lakukan. Ironis memang. Haruskah, beribu-ribu Sumanto atau Sumanti `gentayangan` di Nusantara ini supaya kita terlepas dari multi bencana? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/02;09.16 wib


Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/22/2007 02:05:00 AM   0 comments
Kitab (17)
Monday, February 19, 2007
Tak Ada Dodol. Angpao Apalagi
oleh Ibn Ghifarie

`Ledz, tumben teu miluan acara Imlekan. Biasana pan barudak PA (Perbandingan Agama. Kini, Studi Agama-Agama-red) tara pernah absen tina peringatan hari raya agama-agama,
demikian ungkap salah satu kawanku.

`Berarti teu menunang dodol China jeung Angpao atuh,` jelasnya.

Tak ayal, lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam untayan kata-kata Good Morning (Trans, 18/02). Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikwal ketidak ikut sertaanku dalam perayaan Imlek kali ini. Sejurus kemudian, ngobrol pergantian Tahun Baru Konghucu pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke hakikat peryaan Tahun Baru.

Bila dulu sewaktu aktif sekaligus masih menjadi pentolan di BEM-J PA (Badan Eksekutif Mahasiswa-Jurusan Perbandingan Agama), Komunitas Ushuluddien. Mau tidak mau kita akrab dengan PHB (Peringatan Hari Besar) Agama-Agama. Termasuk perayaan Imlek.

Terlebih lagi, saat bergabung dengan FORSADA (Forum Silaturahmi Antar Beda Agama) Jawa Barat, Jakatarub (Jaringan Antar Umat Beragama) Bandung, FKKUB (Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama) Bandung, FKMPAI (Forum Komunikasi Mahasiswa Perbandingan Agama se-Indonesia), hingga menjabat posisi terpenting dari pelbagai lembaga lintas iman tersebut.

Tentunya, setiap tiba PHB selalu digelar perhelatan akbar. Sekedar ucapan selamat, diskusi ringan, bakti sosial, aksi damai, ramah tamah dengan anak jalanan atau refleksi keimanan selalu kami lakukan.

Kini, rasanya tak ada kecerian lagi antar iman tersebut. Terputusnya komunikasi membuat temali persaudaraan lintas keyakinan yang sempat kita rajut sekaligus kita bina secara bersama, mulai terkoyak bahkan tercabik-cabik karena dimakan waktu dan usia.

Terutama saat roda kepemimpinan di tingkatan BEM-J PA beralih ke generasi muda. Tak ada lagi, silaturahmi ke organisasi antar keimanan di luar kampus. Alhasil, mereka hanya bergaul dengan kelompoknya semata.

Selain itu, satu tahun setengah silam secara pribadi aku mendekrlarasikan diri untuk tak begitu terlibat aktif dalam kajian beda iman tersebut. Pasalnya, aku lebih tertarik dalam dunia tulis-menulis dan masih banyak junior dengan semangat menggebu-gebu. Tak lain, guna membangun estafeta kepemimpinan yang berkelanjutan. Namun, bukan berarti komunikasi antar pengurus (senior) lembaga keimana itu, masih terjalin utuh.

Walhasil, kehadiran hari raya warga keturunan Tiong Hoa pun hanya berucapa doa 'Selamat Tahun Baru Imlek (1 Imlek 2558) Gong Xi Fa Cai` kepada beberapa kawanku. Semoga kita mendapat berkah dari Sang Guru Agung. Kali pertama tak mendapatkan Dodol Keranjang. Angpao apalagi saat perhelatan Imlek tiba.

Obrolan menjelang siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang Diskusi LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung. Terlebih lagi, saat kawan yang lain memangilnya 'Dahar, dahar, dahar euy. Sangu geus asak yeuh!'. Semuanya, sirna dihadapan tumpukan nasi putih dengan seonggok bala-bala Alakadarna. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/02;11.26 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/19/2007 06:27:00 AM   1 comments
Kitab (16)
Friday, February 16, 2007

Wilujeng Tahun Baru Imlek
Ku Boelldzh

Sampurasun...!!
Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!
Gong Xi Fa Cai ....!!

Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a:

Wilujeng Tahun Baru Imlek `Cia Gwee Che It`
1 Imlek 2558

Mugia urang aya dina tanggayungan Gusti Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku rubahna tahun mugia nambihan oge ka percayaan jeung kasih sayang. Tug dugikeun luyu antara tekad, ucap jeung lampah dina enggoning milari Anjeuna.

Cah Ah Baraya
Rampes

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 15/02; 21.34 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/16/2007 05:54:00 AM   2 comments
Kitab (15)
Wednesday, February 14, 2007
Mahasiswa Ushuluddien Sedikit Lega
oleh Ibn Ghifarie


`Alah ayeuna mah bayar regisrasi teh bisa bari ulin heula. heunteu kawah baheula kudu ditunguan jeung fakultas batur miluan sagala,` demikian ungkap salah satu mahasiswa Studi Agama-Agam Fakultas Filsafat dan Teologi saat membayar uang regisrasi (12/02).

Lagi, perubahan IAIN menjadi UIN tak berbanding lurus dengan kebesaran namanya. Bila dulu pada saat IAIN hilir mudik kendaraan bermotor yang dapat menggangu proses belajar mengajar dapat diatasi dengan adanya Area Parkir.

Kini, dalam persoalan regisrasi pun masih menggunakan alat manual. Bahkan bagi sebagian mahasiswa sistem itu dinilai semberawut. Tentu tak ada budaya antri. Padahal, dua kali setiap tahun kita selalu menjalani rutinitas tersebut.

Ketidakjelasan sistem pembayaran SPP menuai pelbagai protes. Salah satunya dari Syarif, mahasiswa Kependidikan Islam memberikan komentar, ’Cara seperti ini, membuat susah mahasiswa. Bukankah kita sudah menjadi Universitas,’ katanya.

’Emang geus kitu eta mah. Hese pisan dirobahna. Ayeuna maha mendingan maca buku di Iqra,’ ungkap Sutisna, mahasiswa Aqidah Filsafat.

Meski mendapat kritikan dari sebagian besar mahasiswa. Namun, di mata mahasiswa Fakultas Filsafat dan Teologi pendaptaran SPP disambut dengan lapang dada dan sedikit lega. Pasalnya, mereka tak mesti berdesak-desak dengan mahasiswa luar Ushuluddien dalam melakukan resigrasi. Hal ini di ungkapkan oleh salah satu mahasiswa. Dian, mahasiswa Sosiologi `Aduh meuni kosong kieu bayaran teh. Heunteu siga taun kamari (IAIN-red)` cetusnya.

`Pokona mah ngenaheun we registari ayeuna mah. Soalna teu kudu ribut jeung fakultas lain anu sok mluan gabung ka Ushuluddin. Mentang-mentang fakultas paling bobtot,` papar aktivis mahasiswa yang tak mau disebutakn namanya.

Menyoal regisrasi sebagai salah satu ajang silaturahmi. Dian angkat bicara `Bisa saja regisrasi di jadikan wahana silaturahmi. Karena setelah lama kita liburan tak pernah bertatap muka lagi,` ujarnya.

`Selain itu, pertama kita bisa bertemu dengan kawan-kawan se-jurusan atau se-fakultas pada waktu bayar SPP,` jelasnya.

Nyatanya peralihan IAIN menjadi UIN hanya bisa menertibkan tradisi regisrasi semata. Walau tetap saja, saat jadwal Fakultas Sains dan Teknologi tak sedikit mahasiswa yang belum membayar SPP tepat waktu ikut bersama mahasiswa Saintek. Tentunya, semberawut dan berdesak-desakan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;14.24 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/14/2007 03:31:00 AM   0 comments
Kitab (14)
Monday, February 12, 2007

Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah

Oleh Ibn Ghifarie


Apa yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel, mengerumuni sekaligus merusak pusat peretaran seks, mengucapkan ‘Selamat Hari Valentine’, ataukah diam seribu bahasa.

Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya. Terlebih lagi, melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentne. Namun, akan sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur lara di tengah-tengah kepenatan rutinitas pasca bencana. Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu. Mereka berusah ingin membagai kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa) dalam bingkai cinta kasih.

Meski terkadang di salah artikan. Hingga nyaris menuai protes dari golongan tertentu. Alih-alih mengikuti tradisi barat dan tak sesuai dengan budaya timur pun menjadi alasan mereka untuk berbuat semaunya.

Konon, memasuki awal abad keempat sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa mengadakan pesta bagi Dewa Lupercalia (Lupercus). Perhelatan akbar itu, dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin burung.

Perayaan hajatan Lupercalia itu, dianggap belum berhasil manakala setiap laki-laki atau perempuan mendapatkan pasangan masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi digelar dengan cara setiap gadis harus menuliskan
namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya. Para pemuda yang hadir diwajibkan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak.

Walhasil, wanoja yang terpilih akan menjadi pasangan jajaka tersebut, hingga berujung pada kegiatan Lupercalia tahun depan.

Namun, seiring waktu sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma. Kehadiran acara perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau telah berlangsung cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat sekaligus menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala itu. Pasalnya, pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen, bahkan termasuk golongan kafir.

Lagi-lagi setiap keadaan selalu hadir juru penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih lagi, pada saat Kaisar Roma berada dalam genggaman Claudius II. Ia memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah.

Tiba-tiba, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine (270 SM) berani memulai kembali kebiasaan tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi Lupercalian sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan kaum muda-mudi yang saling ‘silang rasa’ supaya dapat dinikahkan secara masal.

Di lain sisi, aktivitas Valentine itu sudah tercium oleh Kaisar. Sampai-sampai Ia murka terhadap sang Uskup.

Alhasil, hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula harus beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggal melaksanakan perintah penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya.

Kematian pun menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia, 1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem, lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.

Namun, berkat keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil bertajuk ‘From Your Valentine’.

Semenjak itulah, ungkapan-ungkapan Valentine menjadi simbol hari kasih sayang. Hal ini terlihat dari Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998, Sinar Harapan 10/02/2003).

Secara bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti : `Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi. (www.korrnet.org)

Maraknya aksi prostitusi berkedok panti pijat dan menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat hubungan di luar nikah serta tak diterima kembali di kelurganya membuat sebagian muda-mudi lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamuran pesta tersebut.

Nyatanya, kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab bisa berakibat patal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak diinginkan. Ambail contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS. Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,” tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.

Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr. Andik. (www.dudung.net)

Padahal, bangsa Indonesia sedang dirundung malang pelbagai musibah dengan silih berganti dan saling susul menyusul bencana. Gundukan sampah pun pasca musibah kembali meminta perhatian kita. Karena pengekspersian kasih sayang tak selamanya harus berpesta pora. Atau sekedar tukar menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan, kaset/CD dan hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.

Disadari atau tidak, perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk dalam bingkai kasih sayang pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;13.44 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/12/2007 09:37:00 PM   5 comments
Kitab (13)

Yang Penting Murah...!!

Oleh Ibn Ghifarie


`Leudz, ari buku paririmbona diduruk. Tapi naha ari pas waktuna neangan anak leungit ka Dukun,` ungkap Pradewi Chatami, aktivis perempuan Bandung.

`Nyageurkeunana ge angger ka Dukun,` tambahnya.

Lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam untayan kata-kata Kejamnya Dunia (Trans, 08/02). Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan anggapan masyarakat. Sejurus kemudian, ngobrol maraknya dimensi mistis di layar kaca mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke hakikat pemaknaan hidup.

Bayangkan, semula kita enggan dikategorikan sebagai kelompok pinggiran. Tentunya akrab dengan nuansa mistik, elmu-elmu hitam dan tak rasional. Namun, pada kenyatanya kita malah akrab sekaligus melanggengkan warisan Nenek Moyang. Salah satunya, bila kita terkena musibah bukan di bawa ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit, tapi malah di angkut ke embah Dukun. Seperti yang dialami oleh Pria paruh baya dalam penggelan kisah tragis manusia.

Alkisah, di satu daerah terpencil terdapat keluarga bahagia dengan jumlah anak 3 orang. Sebut saja, Eko semula Ia hidup normal dan menjalakan aktivitasnya. Tentunya, ramah akrab, riang dan tak pernah membantah perintah kedua orang tuanya.Namun, tiba-tiba ia berubah total menjadi pemurung, malas, tidur pekerjaanya. Sekedar makan saja rasanya susah dan sulit memang.

Perilaku tak bersahabat itu berjalan sampai tiga bulan. Hingga satu hari Ia berani memukul Ibunya. Sampai mengeluarkan darah segar dari sekujur kepalanya. Ketidakjelasan asal muasal berani melakukan perbuatan lalim. Akhirnya, terjawab sudah mankala sang Bunda membersihkan tempat tidurnya dan menemukan kitab kuat ilmu hitam. Tanpa basa-basi dan berkomunikasi terlebig dahulu kepada Suaminya Ia membakar jangjawokan tersebut. Karena dalam pikiranya kibat inilah yang membuat buah hatinya menjadi waras.

Walhasil, pergi ke Embah pula menjadi harapan terakhir keluarganya. Sebab Eko tak pernah pulang ke rumah dan bisa mencapai beberapa bulan.

Ironis memang. Namun, inilah wajah muram masyarakat tak berpendidikan. Alih-alih murah dan tak punya biaya pun menjadi jurus pamungkas dalam menyehatkan segala penyakit ke Para Normal. Tentu saja, membuat miris sebagian kelompok.

Obrolan menjelang siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang Diskusi LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung. Terlebih lagi, saat kawan yang lain memangilnya 'Dahar, dahar, dahar euy. Sangu geus asak yeuh!'. Semuanya, sirna dihadapan tumpukan nasi putih dengan seonggok bala-bala Alakadarna. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 08/02;10.56 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/12/2007 08:51:00 PM   0 comments
kitab (12)
Menara Gading Pasca Bencana
Oleh Ibn Ghifarie

Musibah selalu datang menerpa, silih berganti tiada henti. Sehingga, mati menurut mereka lebih baik dariapada hidup. Karena itu, seandainya orang bisa memilih, tentunya lebih suka tidak pernah ada dan terlahir ke dunia fana ini. Terlebih pasca bencana lima tahunan.

Jalan pintas mengakhiri hidup pun terkadang menjadi alternatif. Terutama, bagi mereka yang terlanjur putus asa.

Tengok saja, seorang lelaki di Ciledug Tangerang, Eko (35) mengalami depresi berat, hingga terlontar kata-kata kotor berupa cacian, makian terhadap pemerintah yang dinilainya lamban dalam menolong korban bencana dan tak sigap dalam memeinilamisir musibah. Terlebih, satu-satunya tempat bernaung dari sengatan matahari dan dinginya udara di sapu banjir lima tahunan. (Headline Nesw, 09/02)

Namun, di lain sisi kaum berduit malah berlomba-lomba menyervis kendaraan bermotor yang rusak akibat terendam air. Hingga mereka nyaris melayangkan surat gugatan terhadap sang punya dailer. Pasalnya, asuransi mobil akibat banjir terkadang tak di golongkan asuransi. Sebab perbuatan naas itu termasuk ke dalam tindakan ceroboh ulah lalim pemilik kendaraan roda empat. (Good Morning, 12/02)

Kelihatanya aga aneh dan tak mungkin terjadi. Terlebih lagi, saat kaum tak berkecukupan kebingungan guna membangun kembali rumahnya yang tersapu air limbah dan meroketnya bahan bangunan. Tentunya, melengkapi penderitaan mereka.

Senyum, ketawa, dan pasrah pada nasib pun menjadi tumpuan mereka sambil menunggu keajaiban dari langit. Hanya itulah yang bisa dilakukan mereka.

Namun, pemandangan berbeda terpancar dari para pengusaha yang mempersoalkan gransi mobilnya. Inilah menara gading pasca bencana. Ironis memang. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;09.44 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/12/2007 11:41:00 AM   1 comments
Kitab (11)
Sekali lagi, Rahmat Bukan Laknat
Oleh Ibn Ghifarie

Sekali lagi, Kehadiran musim penghujan pasca bencana tak selamanya berubah menjadi laknat, malah terkadang membawa rahmat bagi kelompok tertentu. Tengok saja, komunitas pemulung. Mereka bisa mengais rezeki dari pelbagai gunungan sampah berupa kertas, dus, barang-barang bekas sampai tumpukan kayu yang mangkal di pinggiran pintu air. Mereka mendapat dua kali lipat upah dan barang. Demikian penuturan Tono (32) tiap hari mengais uang recehan dari tumpukan kertas; koran Rp 600/kg, ketas Rp 700/kg dan dus Rp 800/kg. Semenjak musibah naas itu Ia mendapatkan omset lebih. (Lintas Peristiwa TPI, 07/02)

Tak hanya para pemulung yang ketiban berkah. Puluhan bengkel di Cawang pun ikut merasakan kebahagiaan pasca bencana. Seakan-akan tempat servis kendaraan bermotor itu dipadali lautan roda empat dan dua. (Liputan Petang, SCTV, 07/02).

Lain halnya, dengan para Oproder. Mereka ikut merasakan kegahagiaan saat bencana mengepung Jakarta. Pasalnya, ia bisa menyalurkan hobi sekaligus menolong korban bencana. Meskipun, memerlukan navigator handal dan keahlian. Namun, cukup menantang. (Kilas Global, 07/02)

Walau genangan air sampai hari ini belum surut. Gunungan sampah dan tumpukan lumpur kembali meminta perhatian kita. Nyatanya, malapetaka membawa berkah bagi kelompok tertentu. Alhasil, selamat meraih kebahagiaan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 08/02;00;17.54 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/12/2007 10:02:00 AM   1 comments
Kitab (10)
Menulis, Menulis dan Menulis
Oleh Boelldzh

Setiap kali mendengar, melihat, merasakan pelbagai bencana yang terus menerpa bangsa Indonesia. Seolah-olah Bumi Pertiwi ini enggan terlepas dari sederetan peristiwa yang tak berkesudahan tersebut. Kian hari kian akrab dan menyatu dengan malapetakan tersebut.

Setiap itu pula aku terkadang miris, kawatir, hingga nyaris tak ada rasa iba lagi. Pasalnya, kehadiran musibah telah mengikis abis aspek kemanusian dan kesadaran kolektif. Namun begitu, bukan berarti tak ada yang ku perbuat selain menulis, menulis, dan menulis.

Sekedar membuat posko bencana saja rasanya enggan. Atau ikut terlibat dalam penanggulangan tragedi memilukan itu sebagai relawan rasanya tak mau lagi. Entah karena apa. Yang jelas lebih asyik menari di lembaran kertas kosong semata.

Bila dulu aku sering melibatkan diri dalam 'proyek kemanusiaan' pasca bencana. Mulai dari organisasi ekstra dan intra kampus, Ormas, Perkumpulan kedaerahan (Orda), Himpunan Pecinta Alam, Forum Lintas Iman, sampai Komunitas Pelajar Peduli Bencana. Kini, sekali lagi rasanya tak mau terlibat.

Entah karena sudah kadung kecewa dengan maraknya motif berkedok bencana yang melanda diriku beberapa tahun yang lalu. Singkat kata, hasil jerih payah membuka posko bencana malah di makan secara berjamaah oleh kawan-kawan seperjuanganku dengan dalih, kita kan korban bencana. Semenjak itulah aku lebih baik menulis saja. Apa yang dirasakan, dilihat dan dialami. Semoga saja, di lain hari bisa bermanfaat. Amien. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 07/23;27.54 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/12/2007 09:30:00 AM   0 comments
Kitab (9)
Wednesday, February 07, 2007
Sisi Lain Banjir Lima Tahunan Jakarta
Oleh Ibn Ghifarie

Memasuki bulan Februari kembali menjadi bulan kelabu bagi warga Jakarta. Pasalnya, hampir seluruh wilayah kota dikepung banjir besar, sehingga melumpuhkan pusat kehidupan ibu kota. Tentunya, menelan banyak korban, puluhan orang melayang, ribuan rumah ambruk rata dengan tanah dan dan di genangi lumpur, sampah sampai sarana publik tak berfungsi lagi. Banjir kali ini lebih besar daripada banjir yang terjadi tahun 2002 silam.

Sayangnya, para pejabat DKI Jakarta justru menyalahkan alam sebagai penyebab banjir. Mereka menyarakan banjir kali ini merupakan fenomena alam yang terjadi setiap lima tahunan.

Meski bantuan dan penanggulangan bencana sejak dini dinilai sebagian besar masyarakat sangat lamban dari pemerintah terkait. Namun, setidaknya mengisahkan keluh kesah wong cilik, cacian, makian, hingga mendatngkan berkah bagi sebagian orang. Salah satunya bagi pedagang keliling yang mempunyai gerobak. Karena arus lalu lintas tergenang dan tak ada kendaraan yang melintasi kawasan bencana, maka gerobak menjadi kendaraan alternatif.

Kehadiran banjir bagi anak-anak menjadi ajang mainan gratis. Mereka dengan seenaknya bermain air. Sesekali terlihat ketawa-ketiwi, saling lempar-melempar air. Inilah bentuk keriangan mereka saat berenang.Sebab tanpa mengeluarkan uang mereka bisa sepuasnya bermain ria air.

Tak hanya bocah ingusan yang larut dalam kecerian. Puluhan orang sakit jiwa pun di Rumah Sakit Dr Sutarto harus ikut merasakan kebahagiaan. Seakan-akan enggal dipindahkan ke daerah lebih tinggi (lantai 2). Sebab mereka asyik berenang di air keruh tersebut. Tentunya, menyusahkan petugas RS (SCTV, 05/02).

Lain halnya, dengan tukang Servis payung pula ikut ketiban berkah saat bencana mengepung Jakarta. Pasalnya, ia mendapatkan orderan lebih dari masyarakat yang terkena musibah.

Walau genangan air sampai hari ini belum surut. Kehadiran musim penghujan tak selamanya berubah menjadi bencana, malah terkadang membawa berkah bagi kelompok tertentu.

Walhasil, peribahasa 'Ibu kota lebih ganas daripada ibu tiri' tak pernah terngiang lagi di benak kita dan 'selamat menikmati bencana'. Semoga bermanfaat. [Ibn Ghifarie}

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 05/02;23.54 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/07/2007 04:15:00 AM   0 comments
Kitab (8)

Suratan Alam Buat Bang Yos

oleh Ibn Ghifarie

Sekali lagi Jakarta kecolongan, seakan-akan terseret dalam kubangan raksasa air yang tak berkesudahan dan tak kunjung membaik. Hujan adalah hujan dimanapun berada. Namun, berbeda pemandangnya bila musim penghujan tiba melanda Ibu kota. Seolah-olah hiruk pikuk wajah Metropolis berubah menjadi danau air.

Terlebih lagi, musibah naas itu, terjadi saat pemerintah berupaya membangun Proyek Banjir Kanal Barat, yang berhulu di Sungai Manggarai dan berhilir di Muara Angke, memang telah dibangun. Tentunya, menelan biaya yang cukup besar, hingga bernilai Rp 4,9 triliun.

Sejatinya Batavia terlepas dari terjangan air telah di peringatkan oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) memasuki penghujan pada awal tahun 2007, tepatnya pada bulan Januari atau Februari insencitas curat hujan meningkat untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Untuk itu, pemerintah Provinsi memberlakukan sistem peringatan dini (Early Warning System) yang berfungsi untuk memberikan peringatan kepada warga yang tinggal dikawasan rawan banjir. Sehingga, pelaksanaan evakuasi dan pengiriman bantuan kepada warga korban banjir bisa teratasi.

Meski Sutioso, Gubernur DKI Jakarta di penghujung tahun 2006 (02/11) menepis anggapan bila musim hujan tiba, maka tidak serta merta siklus lima tahunan akan melanda Ibu Kota. Pasalnya, telah di bangun daerah hijau, serapan air dan Banjir Kanal.

Nyataanya berkata lain. Kini, banjir terus mengepung hampir seluruh wilayah kota, sehingga melumpuhkan kehidupan jantung peradaban yang mencapai kerugian 4,1 triliun rupiah (Metro 05/02).

Inilah ironi bangsa. Berulangkali, peristiwa serupa terjadi tahun 1996, 2002 atau lima tahun lalu. Hingga, beberapa warga kota menilai banjir kali ini lebih besar daripada banjir yang terjadi pada tahun 2002 silam.

Padahal Jakarta merupakan barometer Indonesia. Seolah-olah kita tak pernah tanggap terhadap persoalan banjir musiman tersebut. Maka wajar bila alam mulai enggan bersahabat dengan kita sekaligus menunjukan kekuatanya pada manusia. Pasalnya, mereka terlalu banyak di sakiti dan di eksploitasi oleh tangan manusia lalim.

Alih-alih pembanguna pun kian kerap kali tak ramah lingkungan. Terutama pada saat Bung Yos mendeklarasikan diri secara lantang dan percaya diri menyatakan bahwa banjir tahun 2002 tidak akan terulang lagi melanda daerah Jabodetabek.

Thus, inilah 'suratan alam' bagi Bung Yos di penghujung masa kepemimpinanya. Sebelum, senja kepengurusanya di peti keramatkan. Tak lain guna mengambil hikmah, alam bisa berubah menjadi ganas saat kita lupa padanya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 06/02;00. 23 wib


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/07/2007 02:20:00 AM   0 comments
Kitab (7)
Monday, February 05, 2007

Negeri Multi Bencana

Oleh Ibn Ghifarie

Laksamana di negeri multi bencana. Setelah peristiwa yang satu berlalu, datang bencana baru. Seolah-olah Bumi Pertiwi ini enggan terlepas dari sederetan bencana yang tak berkesudahan tersebut. Meski mengisahkan trauma yang begitu mendalam bagi sang korban bencana. Nyatanya, alam berkehendak lain sekaligus menunjukan kekuatanya.

Bila pada musim kemarau datang kekeringan, kebakaran hutan dan kelaparan acap kali mendera bangsa Indonesia. Tak lain, akibat hujan tak kunjung datang.

Kini, di musim penghujan tiba kehadiran air pun, malah berubah menjadi laknat, bukan rahmat. Tengok saja, banjir yang menimpa Ibu Kota. Hingga hari ini, Banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, selain merendam ribuan rumah juga telah menelan banyak korban jiwa. Berdasarkan data yang diperoleh Metro TV hingga Senin (5/2) sekitar pukul 08.00, jumlah korban meninggal mencapai 29 orang. (5/02)

Dengan demikian, banjir seakan menjadi ritual tahunan dan terus terjadi berulang-ulang. Ia telah dianggap rutin dan lumrah. Seolah-olah menjadi bagian dari ritme kehidupan yang harus dilalui.

Ironis memang. Di tengat-tengah pengupayaan penanggulangan bencana dan sejatinya Jakarta terlepas dari siklus lima tahunan bencana tersebut, malah terkena malapetaka. Padahal, pelbagai upaya untuk menanggulangi kepungan air ke Ibu Kota telah banyak dicoba. Proyek Banjir Kanal Barat, yang berhulu di Sungai Manggarai dan berhilir di Muara Angke, memang telah dibangun. Namun, proyek Banjir Kanal Timur bernilai Rp4,9 triliun dan telah diresmikan presiden pada 2003 kini mandek (Media Indonesia, 01/02).

Nyatanya, banjir masih menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Indonesia. Kehadiran menejemen bencana pun masih sebatas wacana semata. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 03/02; 23.24 wib dan 05/02; 09.34 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/05/2007 06:00:00 AM   0 comments
Kitab (6)
Thursday, February 01, 2007
Al-Jamiah; Di Banjiri Lautan Kendaraan Bermotor
Oleh Ibn Ghifarie

Memesuki hari pertama di setiap awal bulan sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) antri di setiap kantor dinasnya. Pasalnya, mereka harus mengambil gaji buah dari kerja kerasnya selama satu bulan. Tak terkecuali sejumlah civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung ngedadak memadati perhelatan Al-Jamiah (01/02). Seolah-olah Gedung petinggi UIN itu, di banjiri lautan kendaraan bermotor.

Betapa tidak, semula gedung Rektorat tanpak sunyi dan sepi, terkecuali bila ada sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah di lantai 5 dan 6.Sebab mahasiswa Fakultas Saintekh (Sains dan Teknologi) masih belum mempunyai ruangan proses belajar mengajar. Meski IAIN sudah berubah menjadi UIN. Taka ayal, setiap hari pun mereka tanpa pamrih dan harus rela menaiki tangga tersebut. Walhasil, kendaraan roda dua dan empat pula jarang mangkal disana.

Kini, 'rumah pejabat' itu berubah menjadi 'lautan manusia', mulai dari pegawai kebersihan, Dosen; tingkat Jurusan, Fakultas, Universitas, TU (Tata Usaha) sampai petinggi Senator Universitas.Sesekali terlihat kumpulan kaum dosen yang sedang menunggu giliran panggilan, sekedar ngerumpi, nongkrong-nongkrong sambil liat pemandangan, ketawa-ketiwi; penjaga keamanan yang duduk termenung sambil maca koran di ruang tunggu; sang pembersih di samping eks pasca yang sedang asyik menungu upah/bulannya, hingga tukang jualan asongan tumplek di teras Rekrorat tersebut.

Meski begitu, tetap saja hingar bingarnya Civitas Akademik mengisahkan sejuta pesola lain. Tak ketinggalan wajah para aktivis pergerakan, atau sanak family Dosen pula ikut nimbrung di sekira Gedung megah tersebut. Salah satu mahasiswa angkat bicara 'Alah meuni hese neangan dulur teh. Padahal geus janjian, ungkap Sakir mahasiswa Studi Agama-Agama.

'Pokona mah unggal tanggal hiji kudu aya di dieu (Gedung Rektorat-red). Biasa menta jatah,' jelasnya.

'Aduh Leudzh meuni hese neangan Abang (sebutan bagi senior-red) teh. Padahal geus kaditu-kadieu neangan can kapangih wae,' tutur salah satu aktivis yang tak mau disebutkan namanya.

'Sugan we ari tanggal hiji mah aya. Pan biasana sok mawa gaji,' tambahnya.

Nyatanya, pembagian gaji setiap bulan tak membawa berkah bagi para pengajar UIN semata, melainkan kaum 'profosal berjalan' dan saudara PNS tersebut.[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Resimen Mahasiswa, 01/02;12.54 wib

Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 2/01/2007 04:22:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.