'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (20)
Monday, April 30, 2007
May Day; Moment Evaluasi Bersama
Oleh Ibn Ghifarie

Memasuki tanggal 1 Mei di setiap tahun apa yang anda kalukan? Demokah, ikut turun kejalan sambil meneriakan yel-yel atau diam seribu bahasa.

Bila di setiap perhimpunan buruh atau serikat pekerja nasional dimana pun berada selalu melakukan `Pesta Rakyat`, mulai dari aksi damai, unjuk rasa dengan pelbagai tuntuta dan rekomendasi terhadapat pemerintah dalam mengambil kebijakan, sampai menggelar perlombaan rakyat guna memperingati hari bersejarah bagi kaum lemah.

Namun, jika pertanyaan serupa di alamatkan padaku, maka aku tidak akan menjawabnya. Tapi akan bercerita soal keluh kesah kaum buruh. Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kaum mustad’afien. Mereka berusah ingin hidup lebih baik dalam bingkai keadilan. Meskipun dalam mewujudkan cita-cita luhur itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, tapi memrlukan keuletan, ketabahan dan kesabaran.

Kilas Balik May Day
Tengok saja, perjuangan kaum buruh di penghujung abad XVIII industri berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Namun kondisi buruh sangat buruk dengan jam kerja sangat panjang (12-18 jam sehari) disertai upah rendah. Salah satu upaya peningkatan kesejahteran yang dilakukan mereka adalah dengan diadakan pemogokan umum untuk menuntut delapan jam kerja.

Dalam ensiklopedi, May Day lebih dikenal sebagai Hari Buruh, yang memperingati Tragedi Haymarket pada tahun 1886 di Chicago, Illinois, dan perayaan atas kemenangan gerakan buruh internasional yang menuntut delapan jam kerja sehari.

Pemogokan-pemogokan kaum buruh mulai banyak terjadi menuntut delapan jam kerja sehari. Yang terpenting, pada tahun 1884, The Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) mulai mengorganisasi pemogokan internasional 1 Mei 1886. Hingga 1 Mei merupakan perayaan kemenangan gerakan buruh atas tuntutan 8 jam kerja.

Sebelum pemogokan berlangsung, beberapa pengusaha telah lebih dahulu menerapkan aturan delapan jam kerja. Sementara itu, berbagai upaya menggagalkan aksi ini dilakukan oleh para pengusaha dan aparat kepolisian.

Di Milwauke, polisi menembaki massa buruh yang sedang berdemonstrasi hingga menewaskan sembilan orang. Aksi terbesar terjadi di Lapangan Haymarket, Chicago. Karena aksi itu, enam orang pemimpinnya dihukum mati dengan tuduhan melakukan peledakan di antara barisan polisi. (Pikiran Rakyat, 01/05/06)

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Tak hanya berhenti disana, pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati. Mereka yang gugur dimedan juang dikenal dengan sebutan martir.

Walau, sebelum peristiwa 1 Mei itu, di pelbagai belahan negara manapun, juga terjadi pemogokan buruh secara besar-besaran guna menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

Lagi, pada Bulan Juli 1889, lebih dari 400 delegasi buruh dari berbagai negara bertemu di Paris dalam rangka memperingati seratus tahun Revolusi Prancis. Pertemuan itu menghasilkan resolusi untuk melakukan demonstrasi internasional pada 1 Mei.

Resolusi tersebut berbunyi, Sebuah aksi internasional besar harus diorganisasi pada satu hari tertentu di mana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis. (Rubrik Kronik, Pembebasan Edisi XIX/Thn V/2006)

May Day di Pelbagai Negara
Nyatanya, resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

Kendati demikian, di Amerika Serikat sendiri, 1 Mei tidak lagi diperingati sebagai Hari Buruh karena setelah itu perjuangan buruh selalu diidentikkan dengan ide-ide sosialis dan komunisme, yang merupakan musuh utamanya pada era perang dingin.

Editor Jurnal "Pekerja Maritim" dari Maritime Union of Australia, Sam Wainwright mengatakan, di Australia, 1 Mei diperingati setiap tahun. Arti May Day kali ini bagi dia adalah bagian dari kampanye menghentikan UU antiburuh dan UU antiserikat buruh.

"In some of the other industrialised (such as USA, UK and New Zealand) countries labour unions were severely weakened in the 1980s and 1990. The same thing will happen in Australia if we do not defeat the government's plan. We are calling on all workers to fight for their rights (Di negara-negara maju (seperti USA, Inggris, dan New Zealand) serikat pekerja telah diperlemah pada 1980-an dan 1990-an. Hal yang sama akan terjadi di Australia jika kita tidak melawan rencana pemerintah. Kami menyerukan kepada semua pekerja untuk memperjuangkan hak mereka)," ujarnya.

Di Jerman, Deputy Head Left Party PDS (Partei des Demokratischen Sozialismus) International Department, Dr. Helmut Ettinger mengatakan, peringatan 1 Mei tetap dipertahankan sebagai tradisi. Dirinya sebagai perwakilan partai politik tidak ikut mengorganisasi kegiatan ini, tapi mendukung organisasi buruh dengan menggerakkan anggota dan simpatisannya.

Sedangkan di Thailand, Profesor Giles Ji Ungpakorn dari Universitas Chulalongkorn, mengatakan bahwa pro-kontra peringatan May Day masih ada, terutama antara serikat buruh pro pemerintah yang mengatasnamakan kesetiaan pada raja dengan serikat buruh progresif yang menginginkan peringatan Hari Buruh Internasional berdasarkan kesadaran kelas.

Di Prancis, peringatan May Day tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. "Demonstrations all over France. Some years, Mayday demonstrations are routinous, but some years, they have a special meaning. It should be the case this time, after the victory on Contrat Premihre Embaucheissue (CPE) or the First Job Contract, (Demonstrasi terjadi di seluruh Prancis. Beberapa tahun lalu, demonstrasi May Day rutin dilakukan, tapi belakangan, peringatan ini mempunyai makna khusus, apalagi setelah kemenangan kami atas isu Kontrak Kerja Pertama)," ujar anggota Europe Solidaire Sans Frontihres (ESSF), Pierre Rouset ketika dihubungi melalui e-mail.

Pekerja di Swedia pun merayakan May Day. Anggota European Parliament (Parlemen Eropa) Jonas Sjostedt mengungkapkan, pada hari itu, pihaknya akan mengorganisasi aksi di seluruh Swedia.

"The importance is to clarify that the struggle for good working conditions and faire wages are international, and that the labour movements need to cooperate, and not to compete with each other, in order to be successful (Hal terpenting adalah untuk menjelaskan bahwa perjuangan menciptakan kondisi kerja yang lebih baik dan upah yang adil adalah perjuangan internasional, dan bahwa gerakan buruh harus bekerja sama, dan bukan untuk bersaing satu sama lain, agar sukses)," tuturnya (Pikiran Rakyat, 01/05/06)

May Day di Indonesia
Tak pelak lagi, ketika sebagian besar negara mulai memperingati kembali 1 Mei, pro-kontra muncul ke permukaan di bumi Nusantar. Khususnya pada saat pemerintahan Orde Baru. Alih-alih berbau sosialis sekaligus komunis laten perayaan Hari Buruh Internasional dilarang diperingati di bumi pertiwi ini.

Padahal, sejak tahun 1920-an dan dilegalkan oleh UU No. 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU Kerja Tahun 1948. Pasal 15 ayat 2 menyebutkan, "Pada hari 1 Mei, buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja".

Lagi, kebebasan hajatan rakyat itu pun dilarang pada pemerintahan Suharto. Pasalnya, peringatan hari May Day dianggap sebagai kepanjangan dari tradisi komunis. Tentunya, keputusan ini tak bisa diganggu gugat dan merugikan wong cilik.

Di tengah-tengah pelarangan hari buruh, 1 Mei 1995, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi merayakan `May Day` di Semarang. Aksi yang melibatkan 500-an lebih buruh dan mahasiswa ini dibubarkan secara paksa termasuk dengan menabrakkan motor trail ke kerumunan massa.

Namun, berkat perjuangan mahasiswa dan buruh dalam melengserkan Suharto ke prabon. Angin segar peringatan May Day mulai rasakan rakyat dalam bentuk mobilisasi-mobilisasi massa dengan mengusung isu kesejahteraan dan politik.

Di lain sisi peringatan Hari Buruh internasional masih menyisakan luka mendalam bagi kalangan tertentu. Di sadari atau tidak ketimpangan masih terjadi dalam pembagian gaji buruh.

Masih ingat dalam benak kita, bagaimana sosok Marsinah seorang buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.

Adalah seorang buruh perempuan yang aktif mengorganisir perjuangan menuntut hak–hak normatif buruh di pabriknya. Ia memimpin pemogokan tanggal 4 Mei 1993. Tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah buruh masuk kerja. Bahkan Ia sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim.

Walhasil, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Pada 8 Mei 1993, dan mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat. (www.prd-online.or.id)

Benarkah kuatnya gelombang arus May Day dari pelbagai negara dapat memperbaiki kinerja sekaligus kesejahtraan buruh di negara Indonesia. Jawabanya pasti tidak.

Tengok saja, bagaimana nasib Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia, yang masih terkatung-katung. Hingga hari ini belum ada kejelasan dari pemerintah.

Atau nasib masyarakat perumnas Tanggul Angin Sejahtra dan sekitarnya akibat semburan lumpur Lapindo beberapa bulan yang lalu. Lagi, sampai sekarang nasib mereka masih tak mendapatkan kejelasa dan harus menuntut ganti rugi kepada siapa.

May Day; Moment Evaluasi Bersama
Maka wajar bila kehadiran May Day bukan semata peringatan Hari Buruh Internasional, tapi harus juga di jadikan sebagai moment bersama dalam menuntut hak dan kewajiban karyawan. Terlebih lagi saat RUU No 13 Tahun 2003 keluar. Sungguh memberatkan masyarakat pinggiran.

Meski, pelbagai serikat pekerja menolak Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK) tersebut. Salah satunya, Serikat Pekerja Nasional (SPN) yang tergabung dalam Kongres Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar aksi dengan konsentrasi massa di Jakarta. Ketua Umum SPN, Bambang Wirahyoso berkata, seperti yang dilansir Pikiran Rakyat, (01/05) khusus di Pulau Jawa aksi terpusat di Jakarta. Aksi di luar Jawa berlangsung di daerahnya masing-masing. ‘Kami mengakui adanya May Day, dan kami memperingatinya,` ujarnya.

Menurutnya, peringatan ini juga mengingatkan kepada para pemilik modal (kapitalis) yang hampir selama 20 tahun terakhir telah menjadikan pekerja sebagai sebuah komoditas dan menghancurkan standar-standar ketenagakerjaan dengan menggunakan konsep fleksibilitasnya.

Konsep fleksibilitas ini merupakan alat yang dipakai neoliberal untuk menggiring standar ketenagakerjaan ke kekuatan pasar. Konsep tersebut tidak hanya di gunakan di Indonesia saja, akan tetapi juga di hampir seluruh negara di Asia, Eropa, dan Australia.

Konsep ini jelas sangat bertentangan dengan falsafah Pancasila dan dasar negara UUD 1945. `Pekerja/buruh harus bisa dipekerjakan sebagai manusia seutuhnya, yang memiliki rasa, hati, nurani, akal, pikiran, serta kebutuhan lahir dan batin lainnya,`tuturnya.

Baginya, pekerja tidak bisa dijadikan komoditas yang harus bergantung pada kekuatan supply and demand di pasar. Apalagi, di Indonesia, jumlah pengangguran sangat banyak sehingga posisi bargaining-nya pun sangatlah sulit. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang dipegang sebagian besar penganggur di Indonesia menambah hilangnya posisi bargaining power pekerja di pasar tenaga kerja.

Ia berpendapat, seharusnya, sesuai dengan falsafah bangsa tentang kesejahteraan dan keadilan diperkuat dengan pasal 27 UUD 1945, negara wajib menciptakan lingkungan agar setiap warga negaranya memiliki penghidupan dan pekerjaan yang layak. Bukan malah menciptakan lapangan kerja semu, yaitu terbuka lapangan kerja bagi angkatan kerja yang baru lulus, padahal pekerja lama dikeluarkan.

`Pengangguran berkurang untuk angkatan kerja muda akan, tetapi angkatan kerja yang mungkin usianya sudah tidak memungkinkan lagi untuk masuk sebagai pegawai baru malah justru bertambah,` jelasnya.

Bambang menolak revisi UUK yang digunakan sebagai dalih perluasan lapangan kerja adalah lapangan kerja semu yang ditujukan hanya untuk pegawai baru dengan menghilangkan pegawai lama.

Senada dengan Bambang. Husein Alwi, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Barat, menyoal UU Ketatanegaraan itu berpendapat `Yang pasti pedoman untuk ketenagakerjaan harus merujuk pada UUK Nomor 13 Tahun 2003, dengan tetap menjadikan kesejahteraan pekerja sebagai hal yang utama,` paparnya.

Nah, jika kehadiran May Day dengan sederetan tuntutan dan Pesta Rakyatnya tak bisa berdampak pada perbaikan kesejahteraan bangsa Indonesia. Bukan malah melanggengkan kekuasaan bagi kelompok tertentu. Kalau begitu apa makna dari peringatan tersebut?
Tentunya, keberpihakan pemerintah beserta pengusaha tak lagi melekat dalam sanu bari rakyat jelata. Malahan memperkaya dan memberikan peluang KKN yang seluas-luasnya bagi para pejabat lalim.

Thus, keseharian rakayat kecil, malah kian akrab dengan tumpukan uang recehan yang hitam pekat laksamana nasibnya dan corong mega pound yang kian pudar warnanya. Inilah Hari Buruh Internasional. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 30/04;12.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/30/2007 12:15:00 PM   0 comments
Suhuf (19)
Friday, April 27, 2007
Menguak Tabir ‘Kelam’ IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah gencarnya pengusutan tuntas kematian Praja IPDN bernama Cliff Muntu. Belum membuah hasil menggembirakan. Terlebih lagi bagi keluarga korban.

Kendati masih di selimuti kabut tebal siapa pelaku mesteri pembunuhan Cliff Muntu sekaligus dalang intelektualnya. Namun, perilaku penyimpangan makian marak terjadi di Institut Jagal Jatinangor tersebut. Mulai dari menjamurnya tradisi fee sex, akrab dengan obat-obatan haram sampai disinyalir menjadi sarang narkoba bagi daerah Sumedang.

’Ada wartawan yang tanya ke saya soal kebenaran adanya praja yang melakukan hubungan seks bebas, dan narkoba. Saya langsung minta mereka cek sendiri, dan ternyata itu memang benar,` kata Inu Kencana Syafiie

Dikatakan, indikasi seks bebas dan narkoba itu, bisa dilihat di kos-kosan praja IPDN yang berada di luar kampus. ‘’Praja kan tidak diizinkan punya kos di luar kampus. Banyak di antara mereka punya kos di luar kampus. Media sendiri yang membuktikan,’’ jelasnya. (Riau Pos, 25/04)

Sejak 2000-2004, kasus seks bebas yang melibatkan praja IPDN mencapai 660 kasus. `Ini gila sekali, karena dari 660 kasus ini tidak satu pun mahasiswa yang dikeluarkan. Karena bisa memberikan alasan,` ungkapnya saat di depan kamar mayat RS Hasan Sadikin, Jalan Pasteur, Bandung, Selasa (3/4/2007).

Data itu diperoleh Inu dari hasil riset terkait disertasi doktornya -- yang belum disidangkan -- di Universitas Padjajaran. Disertasi itu berjudul Pengawasan Kinerja STPDN Terhadap Sikap Masyarakat Kabupaten Sumedang.

Selain kasus seks bebas, Inu juga mencatat selama kurun waktu 2000-2004 terjadi 35 kasus penganiayaan berat. 8 Praja yang terkait kasus ini kemudian dikeluarkan. Tercatat 125 kasus narkoba dan 5 praja dikeluarkan, 9.000 kasus penganiayaan ringan, dan tidak ada satu praja pun yang dikeluarkan.

"Bayangkan penganiayaan ringan yang ada di bawah kendali pembinaan, siswanya tidak dikeluarkan," tambahnya. (Detikcom, 03/04).

Tak hanya itu, upaya membongkar jaring-jaring kelam di IPDN kian gencar, bahkan Inu sendiri mengeluarkan buku berjudul IPDN Undercover; Sebuah Kesaksian Bernurani

Bila dulu media masa pernah di gegerkan oleh Muamar Emka dengan Jakarta Undercover dan Surabaya Undercover. Tentunya, berdasarkan hasil penelitian seks party dan mendarah dagingnya kebiasaan minum-minuman dan mengkonsumsi obat adiktif di kalangan tertentu.

Kini, kebobrokan di sekolah jebolan pejabat mulai terbongkar dalam bingkai IPDN Undercover.

Dalam hidup yang akan sampai seratus
Tahun kenapa tidak kau terjang saja segalanya ini
Telan kepahitan tanpa peduli,
demikian salah satu petikan puisinya.

Kendati terkesan ikut-ikutan Emka, pemilihan judul IPDN Undercover sendiri tidak terlepas dari tujuan pemasaran. ”Secara teori, mengambil salah satu bagian sebagai judul buku sah-sah saja,” diakui Asep Syamsu Romli, Manajer Syaamil Pustaka.

Namun bagi Inu, ”Saya dan IPDN tidak terpisahkan. IPDN-lah awal kepopuleran saya. Setelah itu, tidak sedikit yang mempertanyakan latar belakang saya, termasuk dari mana saya mendapat keberanian. Buku ini merupakan jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan itu,” paparnya.

`Hanya sepertiga isi buku itu saja yang mengulas tentang almamaternya tersebut`. Sisanya, Inu berkisah tentang biografi dan asal-mula munculnya keberanian dalam diri ”sang burung kenari” (Pikiran Rakyat, 28/04)

Tentunya, kehadiran buku diharapkan dapat mempercepat proses pembongkaran prilaku gajil dan mengusut tuntas aksi kekerasan terselubung yang terjadi di IPDN.

Pasalnya, setiap kelaliman lambat laun pasti akan terkuak juga. Terlebih lagi bila seluruh elemen masyarakat yang mengangani kasus tak bernurani itu memegang prinsip ’Suara rakyat adalah suara Tuhan. Kezaliman harus dilawan, kebenaran harus ditegakkan. Itu prinsip saya` layaknya seorang Inu Kencana Syafiie dalam menegakan keadilan dan kebenaran di tanah IPDN. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfokom 28/04; 07.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/27/2007 07:33:00 PM   0 comments
Suhuf (18)
Monday, April 23, 2007
Hari Kartini; Saatnya Perempuan Angkat Pena
Oleh Ibn Ghifarie

APA YANG ANDA LAKUKAN MANAKALA HARI KARTINI ITU TIBA? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel ataukah diam seribu bahasa. Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tidak akan menjawabnya. Tapi akan bercerita perempuan. Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kaum hawa. Mereka berusah ingin hidup lebih baik dalam bingkai kesetaran dan keadilan. Meskipun dalam mewujudkan cita-cita itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, tapi memrlukan keuletan, ketabahan dan kesabaran.

Tengok saja, tindakan kriminalitas tentang kekerasan semakin marak di negeri beradab ini. Seperti pelecehan dirumah tangga, baik kekerasan anak terhadap orang tuanya, maupun sebaliknya. Bahkan yang lebih ironis lagi perbuatan keji itu di lakuakan oleh ibu terhadap anaknya.

Kedengaranya aneh memang, seorang ummi yang notabene mempunyai hasrat naluri keibuan--lemah lembut, gemulai, sopan dan penyayang, tega-teganya melakukan tindakan kekerasan fisik ataupun fisikis terhadap buah hatinya.

Ambil contoh, Januari yang lalu di daerah Gunung Kidul Jogjakarta di kejutkan oleh seorang Ibu bernama Ruhiem dan ketiga anaknya melakukan pembunuhan dengan cara mencapur racun tikus pada nasinya.. Usut punya usut ternya mereka sudah beberapa hari tidak makan. Menemukan lauk pauk apalagi. Tiba-tiba perempun setenga baya itu hilap dan pada akhirnya melakukan bunuh diri masal. Walaupun, keluarga tersebut tidak mati, karena dapat di tolong oleh tetangganya (Pikiran Rakyat, 31/01).

Peristiwa serupa pun terajdi di Cirebon dan Tanggerang. Pembakaran anak oleh Ibunya sendiri. Pasalnya perempuan kepala tiga itu, tidak tahan lagi dengan kebiasaan suaminya selalu mabuk-mabukan dan tak jarang memberikan nafkah hampir satu tahun. Sekoyong-koyong, entah kerasukan setan apa wanita itu, nekad melakukan perbuat ngeri tersebut (Radar, 19/01).

Ironisnya, di tengah-tengah arus informasi mudah di dapat dan menjamurnya gerakan feminis. Perbuatan senada pun terjadi, bahkan lebih perih lagi. Seperti yang di alami oleh Siti Nur Azilah di Surabya belakangan ini. Lisa, sapaan akrabnya mendapatkan perilaku tidak wajar dari suaminya. Ia di siram air raksa ke wajahnya. Sampai-sampai Lisa harus melakukan operasi face off di Rumah Sakit (RS) DR Soetomo Surabaya. Lagi-lagi kemiskinan lebih akrab dengan perempuan akibat marzinalisasi.

Dominasi Tafsir Patriarkhi.

Menilik persoalan tersebut, membuat kita mengerutkan kepala bila mencari jawaban. Apa yang melatar belakanginya modus tersebut? Tentu saja, perlakuan ganjil itu di akibatkan penafsiran ayat-ayat Tuhan yang kaku dan rigid. Seperti yang di utarakan oleh Rifat Hasan, bias tafsir itu terjadi mana kala; pertama, Penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam. Kedua, Perempuan bertanggung jawab atas turunnya Adam dari surga. Ketiga, Tujuan di ciptakanya Mojang untuk Jajaka.

Selain itu, kuatnya pengaruh ulama dalam menafsirkan ayat-ayat yang berpihak pada laik-laki. Semisal, Arijalu Qowwamuna Ala annisa (Anissa:34); laki-laki menjadi pemimpin di antara perempuan. Bermula dari pemaknaan itu, pada akhirnya kaum Hawa di nilai sebagai pelengkap bagi kaum Adam semata. Di tambah lagi, posisi pemuka agama lebih tinggi dari kedudukan presiden. Pendek kata, ulama sebagai pewaris utama para nabi.

Mengapi kemalut yang akaut dan pelik itu, Fazlu Rahman mengartikan surat Anissa:34 itu mesti dimaknai berkisar pada fungsional, bukan pada perbedan hakiki. Artinya bila perempun memiliki kemampuan dan kemaun dalam mengemban amanah itu, maka berikanlah, tegasnya.

Senada dengan Rahman, Aminah Wadud mengomentari permasalahan tersebut. Bagi Wanita kontroversi itu, selama yang bersangkutan tidak bertentangan dengan al-qur’an sah-sah saja. Apalagi bila kita melihatnya secara fungsional, tutur pakar studi agama-agama itu.

Lebih lanjut, Guru Besar asal Maroko itu, menegaskan penafsiran itu tidak dimaksudkan superioritas hanya melekat pada kaum Adam secara otomatis, sebab itu terjadi secara fungsinal semata. Selama perempuan mempunyai kemampuan dan kualitas, berilah kesempatan, katanya.

Akibat dari pemahaman dan mendara daging di masyarakat. Kaum Nisa tidak boleh menjadi pemimpin dan hakim. Karena di anggap irasional, emosional dan tidak bisa menentukan keputusan. Hingga terdapat satu stereoty; kaum Adam membuat keputusan. Sementara kaum Hawa membuat kopi. Ujung ujungnya kaum Banat mesti berkutat pada ranah kasur, sumur dan dapur.

Tak berhenti sampai di sini saja, kaum Hawa pun tidak boleh mendapatkan pendidikan yang tinggi. Seperti yang dilansir oleh Jurnal Perempuan (JP No 23, 2003) terhitung dari tahun 1980-1990 angka perempuan masuk ke lembaga pendidikan lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki. Di tingkat SMA; 41,45%:58,57% dan diperguruan tinggi 33,60%:66,40%. Padahal mengeyam bangku sekolah investasi jangka panjang bagi masa depan nasib mojang kelak. Menjadi pentolan di panggung politik apalagi. Proses subordinat acap kali menimpa kaum banat. Seolah-olah perempuan tidak boleh berdikarir di ruang publik, tapi domestik.

Maka Ambilah Pena.
Mencermati kemiskinan wanoja buah dari domestifikasi dan pembagian peran menurut jenis kelamin adalah pemandangan akrab bagi kita. Tidak ada cara lain selain bangkit dan angkat pena. Pasalnya, kuatnya ideologi patriarki dalam bingkai penafsiran. Mesti ada penafsiran berbasis feminis, yang ramah dan menyapa perbedaan. Coba tengok, adakah mufasir sekaligus pemikir perempuan? Kalaupun ada itu masih bisa dihitung dengan jari. untuk bangsa Indonesia masih kecil bila di bandingkan dengan laki-laki. Paling tidak terdapat sederetan tokoh; Musdah Mulya, Ratna Mega Wangi, Gadis Arivia, Zakiyyah Darajat, Hopipah Indah Pawangsa, Dee dan Ayu Utami dll. Apalagi pada tataran Kampus UIN SGD Bandung. Seberapa banyak organisasi perempuan? Seberapa banyak pergelaran lomba karya tulis di gelar? Berapa banyak penulis dari kalangan kaum hawa?
Dengan demikian, mengangkat pena menjadi penting, bahkan sangat erat kaitanya dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mina Bean, Hanna, Aminah Wadud, Rifat Hasan sangat percya dan meyakini penemuan tulisan benar-benar telah membentuk pearadaban.

Sangatlah wajar bila Fatima Mernisi dengan lantang menyuarakan kaum Nisa untuk menulis. Karena penafsir jumplang harus di lawan dengan penafsir lagi. Bahkan bagi penulis Teras Terlarang itu, goresan pena merupakan obat mujarab awet muda. Apalagi kebiasaan itu di lakukan setiap hari. Terutama setelah Sholat Subuh, tuturnya Lantas mesti mulai dari mana?

Tulislah apa yang di lihat, di alami, di raskan dan di pikirkan dalam bentuk coretan. Seperti yang di ungkapkan oleh JK Rowling “mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasasmu sendiri. Itulah yang saya rasakan,” ungkap penulis Hery Pother itu.

Tentu saja, hampir semua orang agaknya pernah melakukan curat-coret. Entah menarikan pena di atas tumpukan; pesan, memo, dan buku harian. Jadi ada pelbagai ragam cara menuangka ide atau gagasan. Jika kita mesih kesulitan memulai membikin apa tulisan yang bersifat luas dan dalam, maka kita bisa memulai latihan dengan cara membuat coretan yang ringan dan sederhana. Misalnya dimulai dengan membikin surat pembca dan diary. Semisal yang pernah dilakukan oleh Soe Ho Gie lewat Catatan Seorang Demonstran dan Ahmad Wahib melalui Catatan Harian (Pergolakan Pemikir Islam).
Pendek kata, mengangkat pena menjadi satu keharusan bagi kaum pelajar. Sebab tanpa itu semua harkat martabat kita akan dianggap rendah, bahkan lebih buruk dari binatang.

Untuk itu, sangatlah wajar apabila dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) dikenal satu pameo; sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen ma from barbarian). Thus, lengkingan pena hanya terdapat dalam peradaban.
Dalam ungkapan lain, buku adalah pengusung peradaban, tanpa buku sejarah menajdi sunyi, sastr bisu, ilmu pengetahuan lumpuh serta pikiran dan spekulasi mandek, begitulah Barbara Tuchmat berujar.

Lagi-lagi upaya merangkai kata dalam bingkai tulis. Terlebih dahulu simpan rasa ketakutan-ketakutan. Namun, “tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” tutur Pria mantan Lekra itu.

Dengan demikian, mudah-mudahan dengan di peringatinya Hari Kartini ini, kita dapat melanjutkan perjuangannya. Sampai-sampai RA Kartini menggoreskan pena kepada karibnya “bila perempuan bisa membeli kebebasannya, merak harus membayar mahal sangat mahal. Mereka akan menghadapi kenestapaan.”; “Pergilah., bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu”; Suatu hari perempuan asal Jepara itu, menulis surat buat Ny RM Abendono-Mandiri (12 Oktober 1902) “orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya, tapi jangan pena saya! Ini tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin mengunakan senjat itu. Janganlah kami terlalu di usik, sebab kesabaran yang sesabar-sabarnya. Akhirnya juga akan habis juga. Oleh karena itu, kami akan menggunakan senjata itu. Walaupun kami sendiri akan terluka kerenanya. Aduhai! Tuhan, berilah kami kekuatan, kekuatan dan bantulah kami! Mafkan saya, cintalah anak-anakmu yang berkulit coklat ini.” Sudah siapkah kaum Banat merdeka? Pojok Sekre Kering.[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 15/04;23.21 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/23/2007 04:19:00 AM   0 comments
Suhuf (17)
Tuesday, April 17, 2007
Rektor UIN di Pilih Senat; Kemunduran Besar Bagi Universitas
Oleh Ibn Ghifarie

Perubahan status IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunana Gunung Djati (SGD) Bandung menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) berdampak pada pemilihan Rektor baru yang diserahkan kepada 47 Anggota Senat. Bahkan sebagian civitas akademik menilai mekanisme ini sebagai satu kemunduran dari UIN. Pasalnya, ditengah-tengah derasnya arus demokrasi dan otonomi daerah. Maka dalam pemilihan pemimpin pula mestinya memakai sistem langsung dengan jargon dari, oleh dan untuk rakyat.

Tengok saja, saat pemilihan Pilpres (pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), Gubernur, Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).

Kini, UIN malah melanggengkan budaya perwakilan. Hingga membandingkan dengan Unpad dan ITB dalam pemilihan Rektor yang kadung memakain sistem senator. Tentunya, menjadi hal yang biasa.

“Kalau di perguruan tinggi lain seperti Unpad dan ITB, pemilihan rektor oleh senat sudah hal biasa. Bahkan, di Malaysia dan negara-negara Eropa pemilihan rektor oleh lima guru besar senior,” papar Prof. Drs. H. Pupuh Fathurrahman, Sekretaris Senat UIN SGD.

Bila waktu pemilihan rektor tahun 2004 lalu mekanismenya diserahkan kepada dosen dan mahasiswa, sehingga mereka ikut memilih rektor. “Kalau bicara demokratis, maka pemilihan rektor yang melibatkan dosen dan mahasiswa adalah demokratis. Tapi, sering terjadi konflik di antara dosen maupun mahasiswa karena masing-masing memiliki jago yang didukungnya,” jelasnya

Padahal, mahasiswa bersifat sementara karena setiap tahun berubah jumlah baik mahasiswa baru maupun lama. “Mahasiswa bersifat temporer sehingga wajar Menag menetapkan pemilihan rektor UIN oleh senat universitas,” tambahnya.

Menurutnya, agenda pemilihan, tahun 2007 ini sudah harus terpilih rektor baru UIN SGD. Bisa saja pemilihan rektor pada bulan Juni atau maksimal Desember.

Menyoal pemilihan rektor via senator. Salah satu mahasiswa angkat bicara, `Waduh ini sudah ketinggalan zaman. Orang lain pada memakai sisitem pemilihan langsung. Ini malah memakai perwakilan. Kan satu kemunduran besar bagi UIN, kata aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya.

`Ini sudah terjadi pemberangusan besar-besaran sekaligus mencoreng ruang demokrasi. Sudah jelas-jelas DPR (Dibawah pohon Rindang-red) tak boleh dipakai kegiatan mahasiswa, Pelataran Rektorat juga beralih fungsi menjadi taman dan samping Auditorium berubah menjadi arena parkin. Eh..malah dalam hal pemilihan Rektor pun mahasiswa, dosen tak dilibatkan. Sunggung keterlalauan dan sangat mundur sekali,` jelasnya.

`Apa yang dibanggakan dengan UIN, fasilitas masih kaya dulu dan tetap tak berubah. Paling Cuma ganti chesing saja. Bahkan ada beberapa Fakultas (Psikologi dan Saintekh-red) yang tidak mempunyai ruang belajar mengajar tetap. Ini sunguh memalukan. Katanya, sudah Universitas. Sekali lagi, ini satu kemunduran, tambahnya.

Lain hanya dengan Dani, mahasiswa Fakultas Tarbiyyah dan Pendidikan `Ah tak begitu peduli dengan pemilihan Rektor mau langsung atau melalui senat tak peduli amat, yang penting bagi saya kuliah beres dan dapat kerja sesudah keluar dari kampus,` cetusnya.

`Dan mereka biasnya tak mau membantu saya. Coba jika nilai jelek, tetap saja saya harus mengulang mata kuliah. Bahkan terkadang mereka tak mau tau dengan persoalanku kalau sudah menjadi pemimpin, tetap saja masyarakat kecil yang tertindas,` paparnya.

`Yang jelas tak berefek apapaun. Malah bikin pertengkaran di tingkatan mahasiswa karena mendukung satu calon,` tegasnya.

`Wah. Mamaenya teu adil atu kitumah. Keurmah mahasiswa teh kaluper tak tau informasi tentang UIN di tambah dengan ketidak tauan pemilihan rektor, bakal muncul presepsi prsepsi buruk. Maka dari itu disebut tak adil ` kata Dzarin mahasiswa jurnalistik.

Menurutnya, `Keur mah UIN banyak dilanda masalah. Baru aja kemaren masalah anak uang praktek (sebesar Rp. 3000-9000,00-red) belum selesai. Bade nambih masalah deui.`

Selain itu, `saya yakin 100% mahasiswanya juga tak tau menahu tentang perkembangan UIN. Salah satunya, saat Dies Natalis tiba (09/04) mahasiswa tak mau tau.`

Meski begitu, kita tetap harus memberikan informasi itu ke mahasiswa lain. `Makana urang ngabangun FS (friendster-red) UIN, Link dan web jurusan teh ngarah arapal informasi,`

Hingga hari ini terdapat dua nama calon Rektor periode 2007-2011 yakni Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir (Rektor sekarang) dan Prof. Dr. H. Rahmat Syafei (Pembantu Rektor I).

Namun, ketika Nanat Fatah Natsir ditanya masalah pemilihan rektor tak mau memberikan komentar panjang termasuk rencana maju kembali sebagai calon rektor.

`Pemilihan rektor masih lama kurang lebih bulan Juni nanti, sehingga belum perlu dibesar-besarkan. Saya belum memutuskan mau maju dalam bursa pemilihan atau tidak,` tegasnya.

Nyatanya peralihan IAIN menjadi UIN di akhir kepengurusan pemimpin Nanat Fatah Natsir sekaligus mencari Rektor baru, tak selamanya dibarengi dengan tradisi baru dan semangat baru. Malah terkesan meninggalkan sistem lama yang telah dibiman. Akhirnya asfirasi mahasiswa pun harus rela ditanggalkan melalui Senat. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/04;12.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/17/2007 12:45:00 PM   0 comments
Suhuf (16)
Friday, April 13, 2007
Hanya Ada Satu Kata Bubarkan IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

Kematian Cliff Muntu, Praja Madya Institus Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor Sumedang (02/04) telah membuat deretan panjang kekerasan terselubung di kampus STPDN. Mulai dari Erie Rahman (2000), praja asal Bandung meninggal akibat disiksa seniornya; Wahyu Hidayat (2003), praja asal Bogor tewas, juga meninggal tak wajar akibat ulah kepongkahan seniornya; sampai Cliff Muntu.

Seakan-akan pihak IPDN tutup telinga dari pelbagai masukan sekalipun cacian, makian yang dialamatkan padanya. Malahan Institusi itu terkesan melanggengkan budaya barbar. Betapa tidak, segala persoalan yang menimpa anak didiknya harus diselesaikan dengan tradisi bogem.

Mesji bukan kali pertama kematian Cliff Muntu, malah Inu Kencana Syafei, salah satu Dosen IPDN mengabarkan mengenai adanya kematian 34 praja sejak tahun 1993. Tujuh belas praja di antaranya meninggal dunia tidak wajar.

"Saya kirimkan surat tadi pagi pada Presiden dengan lampiran data mengenai kematian praja di lingkungan IPDN (dulu STPDN, red). Ini untuk meluruskan pemberitaan kalau saya hanya omong kosong belaka. Memang tidak semua kematian itu tidak wajar, tapi telah saya tandai kematian yang tidak wajar dan saya sampaikan kepada Presiden (Galamedia, 10/04).

Mencoreng Sisitem Pendidikan Bangsa

Mendarah dagingnya tradisi kekerasan di lembaga pencetak calon pemimpin bangsa tersebut. Tentu saja, perlakuan ganjil praja itu telah mencoreng sisitem pendidikan nasional. Pasalnya, cita-cita mulia pendidikan adalah upaya menempatkan manusia sebagai subjek dimana dalam proses belajar mengajar, guru dan murid harus dipandang sebagai subjek, demikian tutur Bambang Sudibyo, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas).

"Sebab pendidikan adalah upaya mendidik manusia seutuhnya dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga lahir manusia yang berakhlak dan bermoral, serta memiliki keterampilan," jelasnya. (Antara, 08/04)

Tak ayal, ditengah-tengah keterpurukan sisitem pembelajaran dan meroketnya biaya sekolah. Kini, satu-satunya lembaga milik pemerintah memberikan contoh tak wajar. Bahkan seakan-akan mereka bangga dengan kebiasaan barbar tersebut.

Padahal, dalam peraturan pemerintah UU No 23/2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) telah diterbitkan, sejatinya tidak ada lagi pendidikan S-1 yang bernaung di bawah suatu departemen (Depdagri), kecuali Akademi Kepolisian dan Akademi Militer. DI luar itu tidak diperkenankan. Mendiknas Bambang Sudibyo sebagai pemegang kebijakan pendidikan pun berkata demikian.

Sistem Militer; Kuatnya Senioritas
Kebobrokan di IPDN merupakan buah dari pola pendidikan ala militer yang diterapkan setengah-setengah karena tanpa pengawasan yang tegas. Lemahnya pengawasan itu terlihat dari betapa leluasanya para praja senior menghajar praja junior di dalam kampus. Meski sudah digabungkan dengan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), rupanya pola pengajaran dan pengasuhan yang penuh kelemahan di sekolah dinas itu belum juga diperbaiki. Malah menelan korban lagi.

Pola pembelajaran di institut jatinangor itu merupakan warisan zaman Orde Baru yang ingin menciptakan calon pamong praja, juga pejabat berpikiran seragam, maka tak ada cara lain dalam mewujudkan cita-cita mulia itu dengan penggemblengan praja yang seragam.

Padahal zaman sudah berubah. Kini, era demokrasi sudah di depan mata, segala mekanisme pencalona sekaligus pemilihan kepemimpinan pun tergantung pada pilihan rakyat.

Tak hanya, model militeristik dalam pengasuhan praja. Maraknya aksi biadab di IPDN berawal dari melemah sekaligus melunturnya temali persaudaraan dintara sesama praja. Senioritas pun menjadi jurang pemisah yang tak bisa dibantahkan lagi. Tantunya, tak ada ruang dialog dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Bila kebiasaan ini yang terjadi, maka tertutup sudah budaya dialog. Terlebih lagi, manakali setiap praja tingkat, dua, tiga dan seterusnya memiliki prinsif superioritas dapat dipastika perlakuan tak manusiawi itu akan terus tumbuh sumbur bak dimusim hujan, Hingga melekat dalam sanubari praja.

Nah, sebagai ajang balas dendam atas kepongkahan senior terhadap junior, maka tahun ajaran baru dengan praja baru melalui Ospek (Orientasi Pengenalan Kampus) dapat dipastikan menjadi bulan-bulanan senior.

Berawal dari penyambutan praja baru dengan tradisi militer dan kuatnya senioritas di setiap kontingan praja membuat kebiasaan balas dendam itu semakin mendarah daging, demikian penuturan salah satu adik kembar tersangka atas meninggalnya Cliff Muntu.
Ironis memang. Namun, inilah wajah-wajah calon pemimpin masa depan Indonesia.

Pembubaran IPDN

Kini, kampus tak menjadi pusat khazanah peradaban keilmuan dan teknologi. Malahan beralih fungsi menjadi ajang perpeloncoan dengan watak barbarian.

Mestinya kampus menurut Syafi’e Maarif, mantan ketua Muhammadiyyah berfungsi sebagai menarik moral yang anggun dan pusat intelektual yang unggul. Kampus yang lebih berfungsi sebagai perpanjangan tangan birokrat dengan segala yang membosankan.

Paling tidak kampus menjadi sebuah tempat yang di dalamnya hadir dual filar; Fikir (Nalar) dan Dzikir (Kesadaran akan kehadiran Tuhan). Namun, untuk menciptakan kampus yang handal secara Intelektual dan unggul dalam moral diperlukan pelabgai unsure yang mendukung, termasuk dari segi kurikulum, pengajaran dan mahasiswa, system serta didukung oleh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Maka wajar bila, Arif Rahman, pakar pendidikan menilai perlakuan tak wajar itu bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi sudah termasuk pada kategori premasistik.

Untuk itu, dalam meminilalisir kekerasan tersebut, tak ada cara lain selain pangkas satu generasi. Yakni dengan cara menutup IPDN sekurang-kurangnya empat tahun.
Walau penutupan IPDN dari penerimaan praja bukan satu-satunya cara dalam mencegah praktik adu tojos. Paling tidak dengan pemutusan mata rantai pendisiplinan tubuh itu, negara dapat . menghemat anggaran yang selama ini digunakan untuk membiayai IPDN.
Tentunya, memberikan kesempatan terdapat perguruan tinggi di daerah dalam pengadaan program ilmu pemerintahan supaya bisa mengisi pos-pos pemerintahan. Hal ini akan menimbulkan dampak positif bagi pengembangan pendidikan tinggi di daerah karena termaksimalkan dengan baik. Apalagi dengan tampilnya putra-putra daerah dalam mengisi kursi pemerintahan.

Dengan demikian, pembubaran IPDN patut untuk diprioritaskan pemerintah dalam mengatasi berbagai kekerasan di IPDN. Haruskan kita tetap melanggengkan budaya kekerasan dalam mencari pemimpin bangsa? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 10/04;12.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/13/2007 09:32:00 AM   0 comments
Suhuf (15)
Friday, April 06, 2007
Jika Tetap Pertahankan Budaya Kekerasan, Bubarkan IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

`Waduh mendingan dibubarin aja. Apa jadinya nanti bangsa Indonesia, kalau dipimpin oleh calon-calon pejabat berwatak preman dan biadab tersebut, tutur Ahmad saat menanggapi kematian Cliff Muntu, Praja Madya Institus Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor Sumedang (02/04).

Kematian praja itu, telah membuat deretan panjang kekerasan terselubung di kampus STPDN tersebut. Seolah-olah IPDN belum jera dan sangat disayangkan oleh sejumlah kalangan mahasiswa. Bahkan, sebagian aktivis pergerakan meminta IPDN ditutup saja, jika sistem pembinaan di sekolah calon pemimpin negara itu tidak bisa juga diperbaiki. Salah satunya Abdul Bari, aktivis LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) menuturkan ` Wah mendingan dibubarkeun wae. Solana anger wae geus diganti ngaran geu (dari STPDN menadji IPDN-red). Ari tradisina samodel kitu mah.`

`Da pang-pangnamah geus turun-temurun. Siga di Pesantren lamun LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan-red) pan junior the kudu nurut ka senior. Rek dikukumahakeun bae paribahasana,` kilahnya.

Hal senada pun terlontar dari Apuy mahasiswa Aqidah Filsafat `Geus waktuna kudud dibubarkeun. Masalahna mah geus teu manusiawi wae. Lain pan cita-cita diajar teh keur nyieun jalma anu bisa ngamanusiawikeun manusia. Lain samidel kitu,` tegasnya.

`Ini mesti dibubarkan. Masalahnya sistem yang ada beserta kebiasaan jelek itu sudah mengakar,` kata Oval aktivis Jarik (Jaringan Islam Antar Kampus) Bandung.

`Kalapun tidak apakah menjamin dengan dipecatnya keempat praja itu, kejahatan tak akan terulang kembali. Belum tentu tidak. Karena lagi-lagi budaya kekerasan itu telah mendarah daging,` tambahnya.

`Ah..pokona mah kudu dibubarkeun wae. Naha urang rela jaga dipimpin ku model-model pajabat kitu. Embung pan!,` demikian kata salah satu aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya.

Lain halnya, dengan aktivis mesjid angkat bicara `Wah tidak mesti dibubarkan, karena tidak semua pendidik sekaligus senior Praja itu berprilaku lalim. Coba pikirkan. Kan bisa dihitung dengan jari dan hanya beberapa gelintir orang saja.`

Nah, baru bila tetap mempertahankan tradisi kekerasan dan menjadi sisitem aturan main dalam menghukum yang melanggar. Baru dibubarkan,` jelasnya [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 06/04;11.38 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/06/2007 08:58:00 AM   4 comments
Suhuf (14)
Tuesday, April 03, 2007
Inilah Kekerasan Terhadap Laki-Laki
Oleh Ibn ghifarie

Lagi, pencabulan terjadi terhadap bocah dibawah umur. Kali ini terjadi di Bandung. Konon, kota berpendidikan sekaligus pusat peradaban urang Jawa Barat. Lebih mengheranakn lagi, perlakuan tak terpuji itu dilakukan oleh perempuan terpelajar.

Bila dahulu perlakuan bejad itu kebanyakan dilakukan oleh kaum adam. Kini, malah sebaliknya. Seolah-olah ingin sejajar dengan laki-laki. Awal terbongkarnya kasus ini setelah FM (25), yang saat itu masih mahasiswi perguruan tinggi swasta ternama di Bandung, datang ke rumah orang tua korban dan meminta maaf karena telah mengajak JS (saat itu berusia 13 tahun) bercinta dan melakukan hubungan badan dengannya, hingga FM hamil.

Kakak dari wanita itu meminta pengertian keluarga korban dengan mengatakan walau sebejat apa pun adiknya dan selacur apa pun, harap diterima karena sudah hamil dan minta tanggung jawab. “Saya sangat shock (terpukul) belum sempat saya tanya alasan yang satu, sudah ditimpa oleh soal lain secara bertubi-tubi,” kata ibu korban, Ny. DT, S.H., (Pikiran Rakyat, 02/04).

Menyoal perbuatan tak baik itu, Reni Sendiawati. aktivis WSC (Women Studi Center) Bandung angkat bicara `Wah boleh juga ini, tapi ko bisa terjadi ya. Bukankah laki-laki yang sering mengawali perlakuan bejag itu, hingga melakukan pemaksaan terhadap korban,` ungkapnya.

`Inilah salah satu bentuk kekerasan terhadap laki-laki,` tambahnya.
Lain halnya dengan Jamhur, mahasiswa SPI (Sejarah Peradaban Islam) memaparkan `Wah ini mesti berlaku hukum qisos (balas-membalas-red). Sebab dia (perempuan-red) telah melecehkan kaum adam,`

`Nya teu nanaon bagi urang mah. Malahan atoh bisa kawin jeung mahasiswi. Ngeunah pan,` ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

Menyinggunga adanya motiv pencemaran nama baik orang tua korban guna menggeser kedudukanya di intansi tertentu. Mengingat sang korban termasuk keluarga terpandang. `Bagi saya, lagi-lagi inilah bentuk nyata kekerasan terhadap kaum adam. Lepas dari persoalan politik sekalipun,` tegas Reni

`Yang jelas, kekerasan, pelecehan sexsula bias menimpa kepada siapa saja dan tak mengenal gender (jenis kelamin-red), ` jelasnya.

`Saya berharap persoalan ini mesti cepat diselesaikan dengan pihak berwajib. Bagi kami, mari kita sosialisasikan pendidikan seksual dan pentingnya pendidikan politik bagi siapa saja. Termasuk anak-anak dan perempuan supaya tak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, katanya.

`Ah itukan lagu lama dalam menggeser lawan politik. Yang jelas, peranan keluarga khususnya ibu sangat penting dalam membangun keutuhan keluarga. Termasuk cara mendidik anak bagaimana bersikap, bertindak dan melakukan perbuatan apapun,` demikian ungkap salah satu aktivis pergerakan mahasiswa. [Ibn Ghifarie]

Car Rampes, Pojok Sekre Kere, 03/04;15.49 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/03/2007 07:33:00 AM   4 comments
Suhuf (13)
Monday, April 02, 2007
Aku, Maulid Nabi dan Semangat Pembebasan
Oleh Ibn Ghifarie

`Lho…kenapa Umat Islam juga melakukan peringatan Hari Raya Maulid Nabi (kelahiran Muhammad-red). Bukankah itu sama halnya dengan kami. Umat Kristiani yang memperingati hari Natal (kelahiran Yesus-red), bener ga Leudz` kata salah satu temanku (Kristen-red) saat menjawab pertanyaan `Kenapa setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani selalu melekukan acara Natalan. Bukankan kebiasaan itu tak ada dalam tradisi Isa As?`

Tak ayal, lontaran kata-kata bernada ganjil itu, tentu saja menghentakan perasaanku sekaligus tak ada obrolan lagi antara kawanku (Kristen) dengan temenku (Islam) yang lain.. Pasalnya, ruang dialog antar iman sudat tertutup rapat-rapat, hingga nyaris tak menyisahkan kata-kata lain selain diam seribu bahasa.

Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikhwal kesamaan antara Maulid Nabi dengan Natalan tersebut. Walau dalam diriku masih bergulat seribu pertanyaan sekaligus menuntut jawaban segera. Salah satunya, kenapa kelahiran Rasulullah tak mau disamakan dengan kelahiran Yesus Keristus?

Konon, dipenghujung abad ke-11 Masehi, dunia Islam kewalahan menghadapi serangan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman dalam Perang Salib. Hingga pasukan Barat (1099) akhirnya dapat merebut Jerussalem sekaligus mengubah Masjidil Aqsa menjadi gereja. Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayubi yang berkuasa 1174-1193 Masehi (570-590 H) melihat kekalahan dunia Islam disebabkan oleh daya juang kaum Muslimin yang semakin melemah.

Maka, ditangan Salahuddinlah kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Pada mulanya, maulid Nabi diperingati di wilayah Suriah Utara untuk membangkitkan kembali semangat juang umat Islam. Ternyata, peringatan maulid ini berhasil membangkitkan girah jihad, sehingga kemudian diperluas pelaksanaan peringatannya di seluruh kekuasaan Islam.

Salahuddin berasal dari Suku Kurdi. Semula Ia sempat mendapat tantangan dari para ulama dalam rangka peringatan maulid sebagai sesuatu yang bid'ah. Namun, ia meyakinkan pemuka agama, peringatan maulid bukanlah ritual peribadatan semata, melainkan sfirit membangkitkan gairah dan semangat juang umat islam. Sebagai Khadimul Haramain (Pelayan kota suci Mekah dan Madinah), Salahuddin bahkan selalu mengingatkan jemaah haji untuk merayakan maulid sesampainya di tanah air masing-masing. (Pikiran Rakyat, 30/03)

Thus, strategi Salahuddin ternyata membuahkan hasil dalam memenangkan Perang Salib (1187/583). Semenjak itulah, penanggalan 12 Rabiul Awal setiap tahunya selalu diperingati umat islam dibelahan dunia manapun.

Kini, semangat pembebasan `Maulid Nabi` dari penguasa lalim itu mulai memudar, hingga nyaris berubah menjadi kegiatan seremonial belaka. Tengok saja, peringatan kelahiran nabi di daerah mana saja selalu dimeriahkan dengan pelbagai kegiatan yang tak sedikit mengeluarkan biaya. Mulai dari perlombaan; menggambar, kaligrafi, azdan, busana muslim, baca, tulis Al-Qur’an sampai Tabligh Akbar dengan mengundang Kyai kondang.

Perhelatan akbar itu, tentu saja membutuhkan dana banyak dan tak terlalu berdampak pada kehidupan social masyarakat. Tak ayal, keterbelakangan dan kemiskinan di negara muslim manapun masih menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan lagi. Bahkan nyaris tak mengenal dunia teknologi.

Dengan demikian, ghirah Maulid Nabi hanya menjadi kemenangan semu ditengah-tengah porak porandanya bangsa kita pasca bencana.

Kelaparan, ketertindasan, buta hurup masih menyelimuti kita. Berbeda dengan umat Kristiani saat memperingati Hari Natal. Selama ikut terlibat aktif dalam Forum Silaturahmi Lintas Iman, mereka acap kali menggelar bakti sosial, pengobatan gratis, khitanan masal, pelatihan keterampilan kepada anak-anak jalanan, masyarakat tertinggal. Meski mereka tetap menggelar acara Natalan dalam bentuk ritual. Berdoa, memohon ampun di depan altar. Mudah-mudahan semangat Yesus Kristus selalu menyertai umatnya. Haruskah roh Maulid Nabi berakhir pada kegiatan ritual belaka? Entahlah.

Walhasil, silaturahmi anta iman pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang pertemuan menuju ruang makan. Terlebih lagi, saat salah satu kawanku non-muslim mengeluarkan pertanyaan balik `Eh…malah ikut-ikutan ngerayain kelahiran Nabi juga. Benerkan.` [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 31/03;23.08 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/02/2007 08:21:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.