'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



kitab (13)
Wednesday, May 30, 2007
Mahasiswa UIN SGD Impikan Komnas Kebebasan Beragama
Oleh Ibn Ghifarie

`Karena kebebasan beragama mengalami gangguan dan keran-keran kebebasan masih tersumbat. Ini yang perlu kita atasi,`demikian ungkap Kautsat Azhari Noer dalam Seminar Sehari `Masa Depan Kebebasan Beragama Di Indonesia’

Pagi hari yang cerah itu, tak seperti hari-hari biasanya Auditorium UIN Sunan Gunung Djati dibanjiri lautan manusia. Tak lain mereka sedang mengikuti acara Seminar Sehari (28/05), yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkaian Ilmu Keislaman (LPIK) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN SGD Bandung bekerja sama dengan Jaringan Islam Kampus (JarIK) Bandung.

Menghadirkan Nara Sumber; Prof Dr Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Perbandingan Agama UIN Sarif Hidayatullah Jakarta; Perspektif Lintas Iman), Dr Afif Muhammad (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Perspektif Akademisi), Iqbal Hasanuddin (Perwakilan Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat Jakarta; Perspektif Kebijakan Negara) dengan dipandu oleh Tedi Taufiq Rahman (Koordintor JarIK Bandung).

Membincang kebebasan agama yang kian hari semakin terpuruk. Salah satunya dengan dikeluarkannya 11 fatwa MUI (2005). Bahkan sebagian kelompok dan mahasiswa menuntut supaya diadakanya Komisi Nasional (Komnas) Kebebasan Beragama).

`Justru kebebasan beragama itu disumbat atas nama agama. Yakni islam sendiri. Seperti yang terjadi pada Ahmadiyyah di parung Bogor atau Komunitas Lia Eden itu sendiri, ungkap Kautsar.

Menurutnya, Saudara jangan salah paham, tapi harus membela kebebasan beragama karena ada dalam al-Quran sambil mengutip ayatnya. Kita hanya diperintakan supaya berdakwah, bukan untuk mengadili kelompok lain. Apalagi saling sesat menyesatkan, sebab yang perlu mengadili keimanan kita hanya Tuhan semata, tegasnya.

Kebebasan beragama tidak bisa lepas dari aspek politik dan dudukung sepenuhnya oleh penguasa madzab resmi negara, katanya.

Terkait dengan syariat kebebasan beragama tidak perlu penegakan, karena Indonesai merupakan negara hukum. Cuman persoalan adakan pemberian kebebasan untuk menganut madzab lain bagi mereka? Jawabnya tidak ada. Misalkan kasus nikah beda agama. Ada yang membolehkan; Adakan ruang bagi mereka.

`Ini yang menjadi masalah. Memfasilitasi nikah beda agama itu merupakan jalan terakhir dan darurat, bukan mempromosikan. Ingat itu,` paparnya.

`Ya daripada berzina sampai tua, mendingan dinikahkan saja. Ini ijtihad saya, tambahnya. Di mata Afif `Kebijakan politik, yang tidak berpihak pada mayoritas akan terus memperburuk kebebasan beragama.` Seperti pada saat kabinet tahun 70-80 perwakilan umat islam tak memadai. Padahal pemilu (Pemilihan Umum-red) yang menentukan kebijakan politik tersebut.

Selain, cara pemahaman dan rujukan terhadap al-Quran yang berbeda-beda dalam menyelesaikan persoalan yang memperburuk kebebasan beragama di Indonesia, ujarnya.

Di tambah lagi dengan adanya pelembagaan agama. Ini yang menjadi biangnya masalah sekaligus adanya penyeragaman pada masyarakat. Satu kelompok tertentu menganggap hanya golonganyalah yang paling benar. Di luar itu tidak ada. Hingga terjadilah bentrokan antara Muhamadiyyah dan NU sebagai contoh, jelasnya.

Tentunya dipertajam dengan adanya partai politik. Dalam hal Idul Fitri dan Adha saja selalu terjadi keributan. Akhirnya Sholat hanya menunjukan seberapa kuat dan besarnya kelompok tersebut. Bukan mencari keridhoan Allah SWT. Sungguh mengerikan, tandasnya.

Padahal kelembagaan agama itu hak Allah. Yang membedakan diantara kita itu hanya Fiqh saja, katanya.

Berbeda dengan Afif dan Kautsar. Iqbal menilai mandegnya kebebasan beragama ini dilatar belakangi oleh `Nalar Islam yang terlalu mengedepankan teks, bukan akal. Aruju ilal Quran dan Sunnah dipahami secara teks saja, `paparnya.

Tidak adanya penegakan hukum secara tegas dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyyah atau Eden. Padahal Kebebasan Beragama merupakan hak asasi manusia dan negara tak boleh ikut mengerangkengnya. Jika negara ikut mempersoalkan aliran-aliran ganjil itu, maka telah terjadi tindak kriminailitas, tambahnya.

Menyoal solusi kebebasan beragama, Kautsar mengutarakan. Tak ada cara lain selain menggelar dialog. Meski politik pun menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan. Pendidikan pula harus menjadi modal dasar dalam menunjang keberlangsungan kebebasan beragama ini.

`Pokoknya kebebasan beragama harus kita perjuangkan, bukan ditinggalkan, saat menutup pembicaraanya.

Senada dengan Kautsar, Afif menambahkan `Kita suka mencari perbedaan-perbedaan, bukan kesamaan. Tanpa dialog itu tak ada kemajuan. Inilah peran perguruan tinggi dalam menyongsong kebebasan beragama,’

Kendati, suasana politik yang memperburuk keadaan itu. Namun, teruslah berdialog supaya terjadi kesetaraan dan mempererat tali ukhuwah diantara kita, tegasnya.

Kelahiran sekularisme, liberalisme dan pluralisme di harapkan menjadi sosuli alternatif yang masuk akal dan tanpa itu semua tak akan menyelesaiakn persoalan bangsa, kata Iqbal.

Kebebasan beragama tak akan terwujud bila tak mengikuti prinsip-prinsip diantarnya; adanya UUD Kebebesan beragama; jaminan tak beragama; pernikahan lintas Iman; terbentuknya Komnas (Komisi Nasional) Kebebasan Beragama, tambahnya.

Menyinggung Komnas Kebebasan Beragama. Salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya berpendapat. `Itu harus ada. Masa hanya Komnas Perlindungan Anak atau Perempaun yang ada.

`Mau beragama atau tidak itu sudah merupakan hak asasi manusia. Makanya negara harus menjamin kebebasan beragama masyarakat Indonesia. Bukan sebaliknya,`saat ditemui PusInfoKomp.

Lepas dari adanya usulan pembentukan Komnas Kebebasan Beragama, Faisal Amir, Ketua Umum LPIK menjelaskan `diadakanya acara ini merupakan respon terhadap berbagai macam aliran keagamaan, yang sering dianggap kafir dan dapat meresahkan masyarakat. Terutaman yang berkaitan dengan kebebasan beragama yang kian semakin terpuruk.`

`Sekaligus Milangkala LPIK ke XI. Semoga bermanfaat,` tegasnya.

`Adanya krisis kebebasan dan landasan kebebasan telah digerogoti oleh pemahaman agama yang kaku,`kegiatan ini diadakan ungkap Tedi, Koordinator JarIK Bandung.

`Munculnya komunitas Eden, Yusman Roy sebagai biang kerok persoalan keterpurukan bangsa. Seolah-olah komunitas minor telah dipaksakan untuk mengikuti gologan mayoritas,`katanya.

`Mudah-mudahan dengan diadakan seminar ini mendapatkan pemahaman baru dalam menyikapi pelbagai persoalan keagaman,` [Ibn Ghifarie PusInfokomp]

Cag Rampes, Pojok Samping Auditorium UIN, 28/05;13.42 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/30/2007 10:15:00 AM   1 comments
kitab (12)
Boro-Boro Ujian SPMB
Oleh Ibn Ghifarie

Tahun ajaran baru 2007/2008 penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung. Sekarang melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Khususnya untuk 69 program studi (prodi) dari 6 fakultas yang sudah mendapat izin dari Direktorat Jenderal PendidikanTinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas.(25/5)

Masuknya UIN di SPMB membuat sebagian civitas akademika di kalangan mahasiswa menilai miris. Pasaalnya, perlengkapan ke arah itu tak memadai. ‘Suatu hal yang baru pasca perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ke Universitas Islam Negeri (UIN),’ ungkap Gania, mahasiswa Psikologi.

‘Akan tetapi disamping hal yang baru ini; seleksi penerimaan mahasiswa baru. Menandakan sebuah peningkatan taraf institusi seperti halnya UIN saat ini. Mudah mudahan saja menjadi tolak ukur kita sebagai mahasiswa UIN agar lebih memperhatikan kualitas ilmu dibandingkan dengan bayaran persemesternya,’ tambahnya.

Berbeda dengan Moch. Irfan, mahasiswa Jurnalistik berkata ‘Kalau menurut saya, tidak ada yang diistimewakan atas perubahan penerimaan mahasiswa baru pada tahun ajaran 2007/2008.

`Tidak lain hanya memberikan beban mental kepada mahasiswa baru juga mahasiswa lama, terkecuali bila nanti kita sebagai mahasiswa merasakan perubahan tidak hanya SPMB melainkan kualitas belajar mengajarnya meningkat drastis. Itu baru perubahan yang kita dambakan,’ tandasnya.

`Boro-boro ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru-red), ujian lokal (diadakan langsung oleh UIN SGD Bandung-red) saja masih belepotan, ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

`Lihat saja, dulu saat saya mengikuti ujian tes masuk (tahuan ajaran 2004/2005-red). Denah ruang masih manual dan tak tertata rafi,` jelasnya.

Selain itu, bila ikut SPMB juga tak menjamin banyak mahasiswa yang masuk UIN. `Justru dengan di bukanya SPMB akan memperburuk keadaan UIN soalnya harus bersaing dengan Perguruan Tinggi lainya. Seperti Unpad, ITB, UPI, UI, paparnya.

`Belum lagi sarana dan prasarana tak menunjang ke arah SPMB itu. Semisal komputerisasi di segala bidang dan informasi seputar UIN. Inilah yang saya khawatirkan jika mengikuti ujian SPMB,` tambahnya.

Meski UIN hanya menjaring calon mahasiswa baru dari prodi kategori umum, yakni Prodi Sosiologi (Fak. Ushuludin), Prodi Ilmu Hukum (Fak. Syari’ah dan Hukum), Prodi Ilmu Komunikasi (Fak. Dakwah & Komunikasi), Prodi Bahasa dan Sastra Inggris ( Fak. Adab dan Humaniora), Prodi Psikologi (Fak. Psikologi), dan Prodi Teknik Informatika, Pertanian, Matematika, Biologi (Fak. Sains dan Teknologi).’ Ungkap Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, M.A, Pembantu Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung seperti yang dilansir Pikiran Rakyat (22/05)

‘Semua prodi tersebut telah mendapat izin dari Ditjen Dikti Depdiknas untuk menjaring mahasiswa baru melalui SPMB. Sedangkan prodi lain yang bersifat keagamaan, tidak masuk SPMB karena berada di bawah Departemen Agama.’ tegasnya

‘Jumlah mahasiswa baru yang akan diterima UIN lewat SPMB sebanyak 251 orang. Dengan perincian Fak. Ushuludin 15 orang, Fak. Syari’ah dan Hukum 40 orang, Fak. Dakwah dan Komunikasi 40 orang, Fak. Adab dan Humaniora 40 orang, Fak. Psikologi 40 orang, dan Fak. Sains dan Teknologi 76 orang.’ Katanya.

‘Waktu pengedaran formulir, pendaftaran, pengembalian formulir, dan pelaksanaan ujian tulis (utul) SPMB UIN, sama dengan jadwal yang diberlakukan panitia SPMB Lokal Bandung.’ Tambahnya. [Zarien, Ibn Ghifarie PusInfoKomp]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 24/05;24.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/30/2007 10:11:00 AM   0 comments
Kitab (11)
Wednesday, May 23, 2007
Pendidikan; Jawaban Atas Keterpurukan Bangsa
Oleh Ibn Ghifarie

`Pendidikan merupakan jawaban atas keterpurukan bangsa. Bukan dengan cara membagi-bagikan uang?` Demikian ungkap Ryaas Rasyid, Ketua Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) dalam acara Tasyakur peringatan Hari Bangkit (Harba) Perhimpunan KB-PII ke-60 bertajuk `Pacu Karya, Raih Prestasi, Jadi Pelajar Unggul bersama Pelajar Islam Indonesia (PII)`, di gedung Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam (P3G IPA), Minggu (20/5).

‘Ini yang mesti dikritisi oleh PII dan tanggung jawab PII dalam menyelesaikan keterpurukan bangsa`. jelasnya.

Menyoal kemiskinan yang sedang melanda indonesia Ia berpendapat `Indonesia tidak layak dikategorikan miskin, sebab kekayaan melimpah luah, SDA (Sember Daya Alam-red) masih tersedia, dan orang-oarang kaya raya pun banyak di negara kita.`

`Nah segala persoalan ini bermula dari pemimpin yang tidak amanah dan amburadulnya menejemen,` paparnya.

Untuk itu, Tasyakur Harba tak hanya perayaan saja, tetapi harus menjadikan pendidikan sebagai gerakan, bukan program tahunan semata. Apalagi bagi PII yang konesn terhadap dunia; pendidikan, dakwah dan pemberdayaan ekomoni keumatan, tambahnya.

Lain halnya dengan Ganjar Kurnia, Rektor Unpad (Universitas Padjadjaran) Bandung. Selain pendidikan yang harus di utamakan dalam memperbaiki kondisi Indonesia. Rekontruksi pemikiran dan keumatan menjadi modal utama, ungkapnya.
`Semuanya ini harus berawal dari insyaf ketika bertindak untuk bertangung jawab,`tegasnya.

Perhelatan akbar ini mendapat perhatian lebih dari keluarag Besar PII baik yang muda maupun tua. Terlihat dari kehadiran mantan Pengurus Wilayah (PW) sekaligus Pengurus Besar (PB) PII Jawa Barat seperti Utomo Dananjaya, dan Dalianur. Meski ada kehawatiran atas kemerosotan kader-kader PII ditengah-tengah persaingan organisasi pelajar.

`Jangan takut dengan kondisi seperti ini. Apalagi tidak ada kader. Sebab saatnya pelajar harus menjadi objek, bukan subjek,`ungkap Masdum, ketua PW PII dalam sambutannya.

`Siga kieu lantaran PII. Di adakanya acara Harba PII Ke-60 ini guna menlajutkan kiprah pendiri PII seperti Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji serta merenungkan kembali kejayaan islam dan keindonesiaan,`kata Aa Tarsono selaku ketua pelaksana.

Tentunya, tidak lupa pada lemah cai PII setelah tak aktif jadi pengurus PII dan sekian tahun beraktivitas di luar PII. Maka Harba moment silaturahmi dan reunian guna mempererat persaudaraan di kalangan Keluarga Besar PII, tambahnya.

Senada dengan Aa Tarsono. Oma Wiharja Masyuri, ketua Pengurus Wilayah Perhimpunan KB-PII menjelaskan acara ini merupakan usaha meneruskan cita-cita para pendiri PII untuk mencapai tujuan PII `Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan islam`

`Meski dengan berbagai keterbatasan. Semoga kegiatan ini dapat bermakna dan berguna bagi kemaslahatan umat,` ungkapnya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok P3G IPA, 20/18.39 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/23/2007 12:11:00 PM   0 comments
Kitab (10)
Friday, May 18, 2007
Turut Berduka Cita Atas `Tragedi ITC Permata Hijau`
Oleh Boelldzh

Kami atas nama pengurus Dewan Legistatif MPO (Majelis Pertimbangan Organisasi) dan Badan Eksekutiv FKMPAI (Forum Komunikasi Mahasiswa Perbandingan Agama se-Indonesia) beserta BEM-J PA (Badan Eksekutiv Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung turut berduka cita sedalam-dalamnya atas `Tragedi ITC Permata Hijau` Jakarta Selatan, Kamis (17/5) siang sekitar pukul 12.00 WIB

Dengan menewaskan `Trisnani Priyana, Affandi Topan Rusli dan Samuel` (Jemaat Kristen Kemah Abraham dibawah Pimpinan Abuna Yusuf Roni, Rektor STT Apostolos Jakarta)

Semoga keluarga korban dapat berkenan merelakan kepergian mereka dan kelak masuk di Kerajaan Surga. Amien. Selamat jalan kawan.

Ibn Ghifarie (MPO FKMPAI)
Wahyu Arifin (Sekjend FKMPAI)
Fauzi (Presma BEM-J PA)


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/05;13.27 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/18/2007 08:17:00 PM   1 comments
Kitab (9)
Wilujeng Poe Kanaekan Isa Almasih
Ku Boelldzh

Sampurasun...!!
Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!
Salam Sejahtera....!!
Semoga Kasih Yesus Menyertai Kita...!!

Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a:

Wilujeng Ngarayakeun Poe Kanaekan Isa Almasih Ka Umat Kristiani
16 Mei 2007

Mugia urang aya dina tanggayungan Gusti Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku ayana Poe Kanaekan Isa Almasih Ieu, mugia urang sadayana tetap ajeg panceg dina jala anjena sareng tetep sumanget dina ngawujudkeun cinta kasih Yesus.

Teu hilap oge, mugia bangsa urang kaluar tina sagala musibah, bencana anu nangkod pageuh teu bisa dileupaskeun eta sagala malapetaka teh. Atuh, akhirna cita-cita Indonesia anu damai, nyapa anu beda, sajahtra jeung nangtayungan dina sagala widang bisa kahontal deui.

Solom
Salam Sejahtera
Cah Ah Baraya
Rampes

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 16/05;00.27 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/18/2007 08:13:00 PM   1 comments
Kitab (8)
Wednesday, May 16, 2007
Menyibak Tafsir Kelahiran Ala Budha
Oleh Ibn Ghifarie

Kehidupan merupakan suatu keniscayaan dalam proses hidup. Namun, adakalanya saat menjalani kehidupan kita kadang lupa, bahkan sengaja menafikan rentetan proses kelahiran, asal muasal. Hingga mempertanyakan kenapa kita mewujud dan berwujud seperti ini? Dalam memaknai kehidupan yang serba instan dan tak beraturan kita malah sering sekaligus sibuk mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara mencaci, memaki, sampai menghujatnya.

Ironis memang. Seolah-olah kita tak pernah berbuat kesalahan. Jika pernah berbuat alpa, maka kita langsung segera melakukan tobat kepada Tuhan. Sudah tentu, membiarkan mereka dalam posisi menjadi iblis. Pendek kata, kita berubah menjadi malaikat-malaikat kecil dengan seabreg petuah supaya bisa dengan mudah mengutuk orang lain kafir, salah dan sesat.

Di lain sisi, kita sering lupa memberikan warna sekalipun bernada miris saat kita melewati kehidupan mulai dari kelahiran, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, tua sampai kembali meninggalkan kahidupan yang fana ini.

Kendati demikian, lagi-lagi kita sering alpa saat mengeja kehidupan yang tak kunjung membaik ini. Apalagi saat kebutuhan sehari-hari sudah tak terpenuhi lagi. Kita sering melakukan perbuatan lalim dalam menyelesaikan persoalan pelik tersebut.

Nah, baru saat sakit akut hingga menjemput ajal bila, baru kita ingat kepada Sang Khaliq, pemberi kehidupan alam semesta ini. Tentunya, dengan serta merta kita segera melakukan perbuatan baik supaya kelak bisa menuai imbalannya. Namun, sayang ajal sudah mendahuluinya.

Mencermati fase kehidupan yang tak pernah luput dari pembicaraan agama manapun. Apalagi saat mengarungi bahtera kehidupannya kita sering alpa mengingatnya. Adalah segala amal perbuatan baik maupun buruklah yang akan menemani kehidupan nanti.

Sebelum jauh membincang kehidupan kelak dari buah yang kita tanam hari ini, sekiranya kita menyibak asal-muasal kehidupan dari agama Budha. Pasalnya, kita sering memandang sebelah mata konsep kelahiran menurut Budha.

Terlebih lagi, saat ajaran yang kita pegang mematrikan pemahaman tak ada kebahagiaan dan keselamatn selain Islam. Sifat dan prilaku inilah kelak akan menuai malapetaka. Keragaman khazanah intelektual hanya menjadi slogan semata.

Asal Muasal Manusia Ala Budha
Dalam Aganna Sutta, Sang Buddha mengatakan `bumi kita ini terbentuk bukan kali pertama. Tapi bumi kita ini dulu pernah terbentuk kemudian pudar, menjadi dan mewujud lagi. Proses ini terus berkelanjutan sampai puluhan bahkan ratusan dan jutaan kali. Hal ini cocok dengan ‘Hukum Kekekalan Energi’, energi tidak bisa diciptakan tetapi juga tidak bisa termusnahkan. Menurutnya, bumi ini merupakan energi dengan proses terbentuk dan kiamat yang berulang-ulang. Sang Buddha mengatakan untuk mencari sumber yang pertama ini sulit dan tidak ada manfaatnya bagi kebebasan manusia.

Oleh karena itu, yang akan diceritakan berkenaan dengan proses terjadinya kehidupan kekinian semata. Bagi Sang Guru, sesungguhnya tata surya ini jumlahnya lebih dari satu milliar. Ini berarti matahari dan planet-planetnya juga sekian milliar dari sekarang yang ada karena bintang-bintang yang ada di angkasa itu sebetulnya adalah matahari juga.

Ambil contoh, kini di Amerika sudah ditemukan beberapa bintang baru dari bintang-bintang yang ada di angkasa sebelum matahari. Jika bintang-bintang itu pertanda matahari, maka dengan serta mertra pasti mempunyai planet-planet. Peristiwa ini sudah dibuktikan oleh negara Amerika yang telah mempunyai teleskop raksasa.

Namun, dalam pemahaman Sang Buddha, di dalam satu tata surya dikenal adanya 31 alam kehidupan. Ada alam manusia, binatang, neraka dan setan kelaparan seperti tuyul, setan yang di pinggir-pinggir jalan, di kuburan atau rumah-rumah. Selain itu, dikenal juga sebutan-sebutan ganjil misalnya setan raksasa–genderuwo yaitu yang di pohon-pohon / di lautan; disamping 6 alam surga. Lantas, mengapa alam surga itu hanya ada 6 tingkat? Pasalnya, perbuatan baik itu bermacam-macam.

Tentunya kita sering mendengar, bahkan diajak untuk ikut suatu agama dengan janji kalau meninggal pasti akan masuk surga. Kalau kita umat Buddha diajak demikian maka kita harus bertanya kepada orang itu: `Berapa banyak kamu mempunyai surga?` Orang itu pasti akan menjawab: `Surga ya cuma satu.`Maka sebagai umat Buddha kita harus menjawab: `Kalau cuma 1, saya tidak mau ikut sekarang. Nanti kalau saya sudah mau meninggal saja baru saya ikut kamu!`

Kedengaranya menang agak aneh, tapi itulah prinsip Budha. Karena bila surga itu cuma 1, maka tak masuk akal! Sebagai contoh, kita memiliki uang Rp. 500,-, Tentunya, bisa mendapatkan 1 roti misalnya; tetapi jika kita mempunyai uang Rp. 5.000,-, pasti akan mendapatkan 10 roti.

Begitupun dengan perbuatan baik. Perumpamaan yang lain, ada orang yang berbuat baik sejak kecil, sering ke vihara, membaca paritta dan meditasi, kemudian pada usia 50 tahun orang tersebut meninggal dunia. Ada orang lagi yang berbuat baik ketika umur 30 tahun, sebelumnya adalah seorang penjahat. Orang ini juga sering berbuat baik, membaca paritta dan meditasi, kemudian meninggal juga pada usia 50 tahun. Lalu ada lagi orang yang selama hidupnya adalah penjahat tetapi ketika berusia 50 tahun kurang sebulan baru mengerti agama, berbuat baik, membaca paritta dan meditasi. Ke-3 orang ini semuanya masuk di surga yang sama. Tentu jawabannya tidak. Bila memasukan ke surga yang sama, maka kita selaku umat beragama akan mempertanyakan keadilan Tuhan dimana? udah tentu, yang berbuat baik lebih banyak dipastikan masuk surga terlebih dulu dan lebih tinggi.

Selain itu, dikenal juga tingkatan alam Brahma sebanyak 20 tingkat. Alam Brahma ini berada di atas alam surga, karena berdasarkan perbuatan baik dan sering melakukan meditasi saat hidupnya.

Singkat kata, di dalam agama Buddha itu dikenal 31 alam kehidupan yaitu: alam manusia, binatang, neraka, setan kelaparan, setan raksasa (asura), 6 alam surga dan 20 alam brahma. Salah satu dari alam brahma itu, makhluknya ada yang berupa cahaya. Ketika bumi yang dulu kiamat maka pada waktu itu semuanya menjadi seperti kabut. Peristiwa ini sesuai dengan teori terjadinya bumi dengan kabut dari Kant dan Laplace. Pada awalnya bumi kita ini berupa kabut yang panas dan bercahaya karena merupakan hasil ledakan dari bumi yang terdahulu. Kabut yang berupa cahaya ini berputar terus menerus tanpa jeda, sehingga lama-kelamaan terjadi penggumpalan di bagian pinggirnya. Kejadian alamiah ini membutuhkan waktu jutaan, milliar-an bahkan trilliunan tahun. Karena pada saat bumi ini terbentuk masih berupa cahaya dan kabut gas maka makhluk-makhluk yang berupa cahaya datang kesini.

Keikut-sertaan semua unsur-unsur itu, sesuai dengan teori frequensi yaitu jenis mencari jenis. Lama kelamaan sesuai bergulirnya waktu dan sepenggal asa, makhluk hidup bercahaya ini berubah total menjadi bumi yang kita pijak ini.

Pada waktu pinggiran dari gumpalan kabut tersebut menggumpal, makhluk-makhluk yang berupa cahaya ini tergiur untuk mencicipinya dan terus berulang-ulang mengikuti fase tersebut. Karena yang mereka cicipi itu merupakan gumpalan-gumpalan dan bukan berupa kabut lagi maka cahaya makhluk itu mulai berkurang dan hilang, badannya mulai tampak dan semakin lama semakin memadat, jenis kelaminnya pun mulai tampak.

Walhasil, terjadi persilangan dan keturunan, hingga berujung pada proses mewujudnya manusia. Hal Ini sesuai dengan teori evolusi Darwin. Demikian pula di planet-planet lainnya. Baik di matahari, bulan dan planet-planet itu juga mempunyai makhluk-makhluk, tetapi bukan makhluk yang seperti manusia, ayam kucing, dll. (www.kmbui.net)

Reinkarnasi dan Tulku
Lain aliran, lain pula pandangannya soal kelahiran. Pada mazhab Tantrayana terdapat satu keyakinan–merupakan pengembangan dari falsafah Punarbhava atau kelahiran kembali, oleh orang Barat sering dikenal sebagai reincarnation atau reinkarnasi. Dalam falsafah ini diyakini semua makhluk di alam semesta akan mengalami lebih dari satu kali kelahiran.

Dalam tradisi Tantra Barat, terutama di Tibet, memberi sumbangan khusus dalam pencarian seorang Tulku, seorang anak yang diindentifikasikan sebagai reinkarnasi / penjelmaan khusus dari seorang Rinpoche atau Dalai Lama. Proses pencarian itu, sering sekali dilakukan dengan cara meneliti baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada anak-anak yang berusia antara 2-5 tahun dengan ciri-ciri kelahiran yang khusus.

Tulku diketemukan dengan berbagai bentuk ujian yang sangat ketat dengan hati-hati oleh lembaga agama pada masyarakat Tibet. Salah satu bentuk ujian yang standar merupakan kemampuan seorang Tulku untuk memilih objek yang diberikan dihadapannya, terlebih khusus pada benda-benda milik pendahulunya biasa digunakan dan kelak akan digunakan olehnya.

Tulku sering sekali membuat orang Barat menjadi terheran heran–pola pemikiran filosofisnya sangat bergantung pada logika Barat. Hal ini dikarenakan oleh sikap dewasa yang luar biasa serta jiwa dan martabat yang sudah diperlihatkan pada usianya yang masih begitu muda. (www.walubi.or.id)

Terkait dengan kelahiran manusia menjadi mahluk yang utuh beserta sempurna. Apakah ketidak-lahiran Dinosaurus atau mahluk raksasa lainya dapat beralih menjadi mahluk lainya? Menyoal kelahiran binatang Dinosaurus tak dilahirkan kembali karena mengalami kepunahan. Peristiwa ini diluar jangkauan hukum karma. Hukum karma tidak mengatur kepunahan itu, tapi mengatur soal mengapa dilahirkan sebagai Dinosaurus.

Sekali lagi, kepunahan disebabkan oleh perbuatan lalim manusia juga hukum dari alam. Bisa saja, alam sudah enggan untuk memenuhi kebutuhan hidup mahluk raksasa itu, akhirnya binatang Dinosaurus mengalami kepunahan. Dengan demikian, kehadiran makhluk hidup sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing.

Namun, ada perbedaan mendasar antara konsep asal muasal manusi Budha dengan Darwin. Ajaran agama Buddha lebih melihat teori kehidupan bukan dari kasus penciptaan tetapi dari proses evolusi. Meski sampai saat ini masih belum diketahui banyak menyangkut proses terjadinya kehidupan dalam agama Buddha sama dengan teori evolusi dari Darwin. Thus, segala perbuatan baik maupun buruk yang kita tanam sejak hadir dan mewujud di dunia fana ini, pastilah kelak di kehidupan lain kita akan selalu menuai buah apa yang kita semai hari ini. [Ibn Ghifarie]

Rujukan;
1. http://www.mountainman.com
2. http://samaggi-phala.org
3. www.walubi.or.id
4. www.kmbui.net
5. Dhammapada (Penerbit Hanuman Sakti. Jakarta 1997) Hidup sukses dan bahagia (oleh: K. Sri Dhammananda)
6. Disadur dari kebaktian di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya bulan Februari 2000
7. Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
8. Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
9. dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
10. Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 09/05;17.46 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/16/2007 09:30:00 AM   0 comments
kitab (7)
Monday, May 14, 2007
Wilujeng Milangkala LPIK Ka XI
Ku Boelldzh

Sampurasun...!!
Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!
Assalamu Alaikum, Wr, Wb....!!
Lintas Paradigma, Para Dogma dan Paradoksal...!!

Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a:

Wilujeng Milangkala LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung Ka XI
14 Mei 2007

Mugia urang aya dina tanggayungan Gusti Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku ayana Milangkala Ieu, mugia urang sadayana tetap ajeg panceg dina jala anjena sareng tetep sumanget dina ngawujudkeun masyarakat madani.

Teu hilap oge, mugia bangsa urang kaluar tina sagala musibah, bencana anu nangkod pageuh teu bisa dileupaskeun eta sagala malapetaka teh. Atuh, akhirna cita-cita Indonesia anu damai, mapa anu beda, sajahtra jeung nangtayungan dina sagala widang bisa kahontal deui.

Demi Toleransi, Demi Agama Kemanusiaan
Menyulut Eksistensi, Melucut Perbedaan
Wassalamu Alaikum, wr, Wb
Cah Ah Baraya
Rampes

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 14/05;00.07 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/14/2007 06:19:00 PM   0 comments
kitab (6)
Mengeja `Rapot Merah`Mahasiswa
Oleh Ibn Ghifarie

Maraknya aksi bentrokan antar mahasiswa di pelbagai Kampus. Membuat sebagian masyarakat tertentu mencibir peranan kaum pelajar. Betapa tidak, ditengah-tengah keterpurukan bangsa dan meroketnya biaya penididikan.

Kini, hampir setiap hari golongan intelek acapkali berbuat ganjil, mulai dari aksi rusuh, tauran, kekerasan fisik dan fisikis, penjualan narkoba, fee seks bebas, aborsi sampai tradisi menghilangkan nyawa orang lain.

Selogan wajib menempuh pendidikan sembilan tahun pula hanya seloga semata.Pasalnya, menuntut ilmu tak bisa menciptakan manusia seutuhnya dengan budi pekerti yang arif. Malah mencetak anak didik berwatak barbar. Ironis memang.

Tak hanya itu, jargon mahasiswa sebagai agen pengubah sosial, pembaharu, kontroling terhadap kebijakan pemerintah, mendobrak kemapanan dan panutan dalam soal moral ikut punah seiring derasnya arus baku hantam dikalangan kaum pelajar. Seolah-olah melekatnya status mahasiswa tak berbanding lurus dengan kebiasaan tak terpuji saat siswa.

Adalah budaya tauran dan adu fisik dalam menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapainya. Terlebih lagi saat pencitraan sekolah sudah diinjak-injak oleh sekolah lain.

Walhasil, perang menjadi jurus pamungkas yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Catatan Kelam Bentrokan Mahasiswa
Tengok saja, kekerasan yang terjadi di IPDN dengan meninggalnya Wahyu Hidayat (2003) dan Chliff Muntu, UISU (Universitas Islam Sumatra Utara) Medan (09/10) akibat perseteruan dua kubu antara Helmi Nasution dan Saryani, Bentrokan terjadi di IAIN Ambon, (11/5) gara-gara tolak ajak demo, Universitas 45 Makasar Sulawesi Selatan (10/05 dan 14/05) antara mahasiswa Jurusan Planologi dan Teknik sipil serta arsitektur Fakultas Teknik kisruh dari aksi ditikamnya (Syamsuddin dan Saleh) rekannya dari jurusan Teknik Sipil. Hingga berbuntut aksi lempar batu yang dimulai oleh para mahasiswa jurusan Planologi sebagai aksi balas dendam bentrokan Kamis sore (10/5).

Padahal, ada beberapa perguruan tinggi yang tak luput dari perbuatan lalim tersebut. Sebut saja, Unhas (Universitas Hasanauddin) Makasar dan UMI (Universitas Muslim Indonesia) Makasar. Hampir setiap tahunya selalu kedapatan tauran antar jurusan, fakultas, Universitas atau dengan pihak keamanan.

Sebagai petanda maraknya aksi Bentrokan Mahasiswa UMI vs Aparat Keamanan. Memang diakui tau tidak bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan aparat keamanan (Sabtu, 01 Mei 2004) bukan kali pertama, tapi memiliki sejarah yang amat panjang dan kelam. Namun, kasus mei itu, tergolong yang paling parah semenjak 1996.

Pertama, 24 April 1996
Terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat. Aparat sempat menyerbu ke dalam kampus UMI. Tiga mahasiswa UMI tewas dan puluhan mahasiswa serta aparat luka-luka. Peristiwa ini dipicu oleh penolakan mahasiswa terhadap kenaikan tarif angkutan kota. Peristiwa itu dikenal dengan nama Amarah atau April Makassar Berdarah yang diperingati setiap tahun dan disebut-sebut sebagai peringatan atas kebrutalan polisi dan militer.

Kedua, 1998
Hampir sepanjang 1998 aksi mahasiswa UMI nyaris semuanya berakhir dengan bentrokan versus polisi. Militansi mahasiswa harus berhadapan dengan ketegasan Kepala Poltabes Yusuf Manggabarani.

Ketiga, September 2000
Mahasiswa UMI beraksi menolak masuknya beras impor ke Sulawesi Selatan. Dua mahasiswa UMI disel, yaitu Surya dan almarhum Nasrullah. Bentrokan bermula di gedung DPRD Sulsel dan merembet ke depan kampus UMI di Jalan Urip Soemoharjo.

Keempat, Juni 2001
Mahasiswa menuntut penghapusan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Mahasiswa UMI unjuk rasa di DPRD. Mahasiswa sempat diburu anjing milik aparat dan disiram gas air mata.

Kelima, 18 Februari 2004
Mahasiswa bentrok dengan aparat karena memprotes Mahkamah Agung yang memvonis bebas Akbar Tandjung. Mahasiswa ngotot menutup jalan, sementara aparat perintis berkeras membuka jalur jalan. Aparat sempat menerobos ke dalam kampus. Tiga mahasiswa ditangkap dan sebuah sepeda motor milik mahasiswa rusak.

Keenam, 1 Mei 2004
Polisi menyerbu ke dalam kampus UMI. Akibatnya, puluhan mahasiswa luka-luka dan di rawat di rumah sakit. Kasus ini menyebabkan Kapolda Sulses Irjen Pol. Jusuf Manggabarani dicopot dan polisi menuai kecaman dari banyak kalangan. (www.tempointeraktif.com)

Lagi Makasar, berdarah di Kampus Unhas antara Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sekadar mengingatkan, perkelahian mahasiswa yang berbuntut pembakaran kampus di Unhas pernah terjadi pada 1992 lalu. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai 'Black September' dari tahun 2003-2005.

Pertama, 12 Desember 2003
Bentrokan antarmahasiswa di Kampus Unhas antara Fakultas Teknik (FT) dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Akibatnya, tujuh korban luka. Lima korban di antaranya berasal dari FISIP dan dua lainnya dari Fakultas Teknik.

Kedua, 14 Desember 2003
Tujuh mahasiswa dan seorang satuan pengaman (satpam) luka parah menyusul bentrokan antarmahasiswa di Unhas. Rektorat terpaksa membatalkan pelaksanaan ujian akhir. Sebab, tawuran melibatkan hampir sebagian besar mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Ketiga, 14 April 2004
Tawuran terjadi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Karena tawuran ini, Albertu, Mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur tertikam di punggung sebelah kirinya dan dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo.

Keempat, 16 Desember 2004
Dua kelompok mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di kampus Unhas Tamalanrea bentrok, sekitar 14.00 Wita. Akibatnya, empat orang mahasiswa dikabarkan mengalami luka ringan akibat terkena lemparan saat terjadi tawuran. Dua di antaranya adalah mahasiswa FISIP dan lainnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik.

kelima, 31 Agustus 2005
Terjadi tawuran antarfakultas di Unhas masing-masing FISIP dan Teknik, 31 Agustus 2005 di Pelataran Baruga Unhas. Pelaku penyerangan melakukan pembakaran dan menghanguskan empat ruangan lembaga kemahasiswaan di fakultas tersebut. Dalam aksi tawuran tiga korban dilarikan ke RS Wahidin. (www.fajar.co.id)

Dipenghujung tahun 2006 peristiwa serupa pun terjadi di IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram, Nusatenggara Barat, pada Selasa (22/8/06) siang, mengakibatkan seorang mahasiswa, M. Ridwan (21) asal Lombok Timur, meninggal dunia.

Ridwan meninggal dengan luka tusuk dibagian dada sebelah kanan dan dibawah ketiak kanan. Ridwan, mahasiswa semester V Fakultas MIPA jurusan Kimia, meninggal sekitar pukul 19.45 wita setelah menjalani perawatan di ruang ICU RSU Mataram. Sementara tiga mahasiswa lainnya masing-masing Zainal Mutakin, Heru dan Asmani mengalami luka-luka.

Aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih Abepura (16/03/06) oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang Brimob dan 1 intelijen TNI AU tewas, seorang ibu mengalami luka tembak, serta puluhan lainnya dari pihak mahasiswa dan pihak aparat mengalami luka-luka. (www.jakarta.indymedia.org)

Tertutupnya Ruang Dialog
Mencermatiketidak berdayaan sekaligus tumpulnya akal dalam menuntaskan segala persoalan dengan arif, bukan memakai kekerasan. Sejatinya kita, harus mengamini pernyataan Arif Rahman, pakar pendidikan menilai perlakuan tak wajar itu hadir karena lunturnya budaya toleran, dan tertutupnya ruang dialog dalam menyelesaikan permasalahan.

Menjamurnya bentrokan antar mahasiswa bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi sudah termasuk pada kategori premanistik.

Cita-cita mulia pendidikan sebagai upaya memanusiakan manis pun harus rela raib ditelan kepongkahan dan keserakahan kita dalam mendidik anak. Apalagi, sang pendidik memberikan contoh tak layak. Seperti yang terjadi di Ngawi seorang Kepala Sekolah rela membocorkan lembaran jawaban saat Unjian Nasional beberapa pekan yang lalu.

Alaih-alih pencitraan supaya sekolahnya termasuk kedalam deretan sekolah unggulan dan percontohan pula menjadi pemicu aksi tak beradab tersebut.

Lebih parah lagi, melunturnya budaya dialog tercermin dari seberapa sauh kita bisa menerima perbedaan dalam soal pendapat.

Bila ruang-ruang tuker gagasan saja, sudah tak nyaman, bahkan hilang, maka tunggu keseragaman ide akan menjadi buahnya. Alhasil, kebiasaan bogem pula akan terus melekat dalam sanubari kaum terpelajar.

Keragaman merupakan sesuatu yang tak bisa kita nafikan. Namun, harus kita junjung lebih tinggi. Pasalnya, kemajemukan pertanda hukum alam.

Dengan demikian, kita harus mencoba mengarifi segala kemelut yang menimpa diri kita dengan lapang dada. Apalagi saat berselisih pendapat. Mestinya perbedaan bukan dijadikan sebagai laknat, tapi rahmat.

Thus, sederetan rapot merah mahasiswa pun tak akan disandang lagi oleh kaum terpelajar. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 10/05; 23.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/14/2007 06:04:00 PM   0 comments
Kitab (5)
Wednesday, May 09, 2007
Sekali Lagi, Bubarkan IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, kasus kekerasan kembali terjadi di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Sumedang, Jawa Barat. Seolah-olah Institut Jagal Jatinangor itu tak jera. Malah kian membabi buta sekaligus melanggengkan tradisi barbar tersebut.

Aneh memang. Mestinya kehadiran pencetak pemimpin masa depan itu harus bersikap arif dalam menyelesaikan segala persoalan, bukan dengan cara bogem.

Fenomena Gunung ES
Kendati pemukulan terhadap Nanda Rizky, Seorang praja muda asal Aceh bukan kali pertama, bahkan tak terhitung jumlah praja yang mengalami perbuatan sama.

Pristiwa tak terpuji itu membuahkan luka di bagian telinga karena dikeroyok praja dari daerah Papua. Akibat luka itu, Rizky harus mendapat tiga jahitan.

Menurut Kepala Polres Sumedang AKBP Budi Setyawan, penganiayaan terjadi Ahad (6/5) malam di Barak Jawa Barat. Kejadian berawal ketika Rizky ditegur oleh Dominggus Nusagalang, praja asal Papua, karena kedapatan merokok di lingkungan barak. Karena tegurannya diabaikan, Dominggus langsung memukuli Rizky dan empat rekannya.

Setelah itu, Rizky kemudian dilarikan ke klinik asrama IPDN karena mengalami luka di telinga bagian kiri. Sementara Dominggus Nusagalang diperiksa di Polsek Jatinangor. Empat rekan Rizky yang menjadi korban kekerasan juga diminta keterangan serupa. (Merto TV, 07/05)

Tak hanya itu, sisi kelam IPDN pun mulai terkuak kembali. Seakan-akan terbongkarnya sindikat penjualan narkoba dan seks bebas petanda bobroknya lembaga proyek Rudini tersebut. Seperti yang dilansir Metro (08/05)

Tiga orang praja nindya IPDN harus menjalani pemeriksaan di Polda Jawa Barat karena kedapatan mengkonsumsi narkoba. Menurut Kepala Bagian Pengasuhan IPDN Ilhami Bisri, ketiganya ditangkap Ahad malam. Dari hasil tes urine diketahui kencing ketiganya mengadung zat-zat psikotropika. Polisi kemudian memeriksa kamar ketiganya dan menemukan narkoba.

Selain tiga praja IPDN, polisi juga telah menangkap seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri berinisial JMG yang diketahui sebagai pemasok narkoba. Hingga kini keempat orang mahasiswa tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif guna penyelidikan lebih lanjut. Mereka kini mendekam di Ruang Tahanan Markas Polda Jawa Barat.

Menyikapi pelbagai persoalan ganjil itu, Komisi Disiplin Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), menggelar rapat di Kampus IPDN (8/5), untuk merumuskan hukuman terhadap para praja yang terbukti mengkonsumsi narkoba jenis ganja. Ketiga praja tersebut adalah Rizaldo, Lazuardi dan Lan Maulana.

Johannis Kaloh, Pelaksana Tugas Rektor IPDN mengatakan, kepada para praja yang kini mendekam di tahanan Polda Jawa Barat ini, pihak IPDN akan memberikan sanksi yang tegas berupa pemecatan atau penurunan pangkat.

Selain ketiga praja itu, pihak IPDN juga akan memberikan sanksi kepada praja Rominus Nusanggala, tersangka kasus pemukulan terhadap praja IPDN asal Nanggroe Aceh Darussalam, Nanda Rizki.

Segera Bubarkan IPDN

Menyoal perbuatan praja yang kadung berwatak preman. Tak ada cara terbaik dalam menyelesaikan mata rantai kebiasaan biadab itu selain dengan menutup segera sekaligus membubarkan IPDN tersebut.

Sejatinya kita, harus mengamini pernyataan Arif Rahman, pakar pendidikan menilai perlakuan tak wajar itu bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi sudah termasuk pada kategori premanistik.

Untuk itu, dalam meminimalisir kekerasan tersebut, tak ada cara lain selain pangkas satu generasi. Yakni dengan cara menutup IPDN sekurang-kurangnya empat tahun.

Walau pembubaran IPDN bukan satu-satunya cara dalam mencegah praktik adu tojos. Pasalnya, selama manusia berwatak barbar, maka selam itu pula kekerasan akan terjadi di bumi ini.

Nah, paling tidak dengan pemutusan jaring-jaring pendisiplinan tubuh itu, negara dapat menghemat anggaran yang selama ini digunakan untuk membiayai IPDN. Bukan malah, rame-rame membuat tim penanggulangan korban kekerasan IPDN.

Sudah tentu, mengeluarkan alokasi yang tak sedikit dalam pengusutan tuntas kematian Cliff Muntu dan belum tentu membuahkan hasil yang memuaskan.

Ketidak berhasilan tim itu, terbukti dengan tampilnya kebiasaan kekerasan yang menimpa Nanda Rizky oleh praja seniornya.

Dengan demikian, sekali lagi pembubaran IPDN patut untuk diprioritaskan pemerintah dalam mengatasi berbagai kekerasan di IPDN. Haruskan kita tetap melanggengkan budaya kekerasan dalam mencari pemimpin bangsa? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 08/05;23.36 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/09/2007 08:45:00 AM   1 comments
kitab (4)
Monday, May 07, 2007
Aku, Reshuffle dan Secangkir Burjo
Oleh Ibn Ghifarie

Leudz, bener teu reshuffle kabinet teh geus di umumkeun. Pan tikamari mah encan keneh, ungkap salah satu temanku.

Aduh geuning urang teu kapanggilnya. Naha nya? Padahal hayang pisan jadi mentri teh. Eta gajihna gede, tambahnya.

Tak ayal, lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam untayan kata-kata Breaking News (Metro TV,07/05). Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikwal pengumuman reshuffle jilid II. Sejurus kemudian, ngobrol pergantian kabinet Indonesia bersatu pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke penilain pemerintahan SBY-JK.

Setelah benar-benar menguras pikiran dan perasaan serta penantian yang berkepanjangan di benak masyarakat Indonesia. Kini, terjawab sudah tentang reshuffle jilid II.
Sore tadi (Senin,7/5) sekira pukul 15.00 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu, hasil reshuffle jilid dua.

Reshuffle
kali kedua ini, menyangkut tujuh pos kementerian. Dari tujuh mentri itu, lima pos ditempati figur baru, baik dari profesional maupun politisi. Dua pos lain hanya sebatas tukar posisi menteri semata.

Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh diganti oleh Hendarman Supandji, Pelaksana Tugas Jaksa Agung Muda sekaligus mantan Ketua Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Hamid Awaluddin Menteri Hukum dan Hak Asasi manusia, diisi oleh Andi Matalatta, Ketua Fraksi Partai Golongan Karya DPR; Syaifullah Jusuf Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) ditempati Lukman Edy, Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa; Sugiharto, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diduduki oleh Sofyan Djalil, Mentri Komunikasi dan Informatika (dh); Yusril Ihza Mahendra, Menteri Sekretaris Negara diisi oleh Hatta Radjasa, Mentri Perhubungan (dh); Kursi Menteri Komunikasi dan Informatika yang ditinggalkan Sofyan Djalil ditempati Muhammad Nuh, mantan Rektor ITS Surabaya dan Menteri Perhubungan yang ditinggalkan Hatta Radjasa diserahkan ke Jusman Syafi'i Jamil, mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia.

Menurutnya, tujuan perombakan kabinet kali ini untuk meningkatkan kinerja dan kerjasama jajaran kabinet. `Selain untuk menempatkan orang sesuai dengan kemampuannnya,`

SBY juga menegaskan reshuffle kali ini bukan dalam rangka giliran atau gantian jabatan para kader partai politik (parpol). `Karena masih mengalir permintaan dari banyak pihak, dari para kader partai politik untuk duduk dalam kabinet sekarang, yang saya tafsirkan beliau-beliau memaknai sebagai gantian atau giliran dalam pemerintahan.`

Namun, jika harus dilakukan giliran atau bongkar habis secara menyeluruh, tentu tidak sesuai dengan tujuan resfuhlle. `Bahkan, hal itu bisa mengganggu kontinuitas program-program yang sedang dijalankan,` jelasnya.

Walhasil, kehadiran tujuh pos menteri Kabinet Indonesia Bersatu pun hanya berucapa doa 'Selamat dan Sukses Atas Reshufle Jilid II` kepada para pejabat terkait. Semoga dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan terlepas dari segala bentuk malapetaka yang mendera Bumi Pertiwi.

Obrolan
detik-detik reshuffle pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang Diskusi LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung. Terlebih lagi, saat kawan yang lain memangilnya 'Asak, asak, asak euy. Burjona (bubur kacang ijo-red) geus asak yeuh!'. Semuanya, sirna dihadapan secangkir bubur kacang hijo Alakadarnya karena tak manis memang. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 07/05;16.16 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/07/2007 11:22:00 AM   0 comments
Kitab (3)
Saturday, May 05, 2007
Reshuffle; Solusi Atau Basa-Basi
Oleh Ibn Ghifarie

Wacana reshuffle kabinet Indonesia Bersatu ramai dibicirakan. Meski bukan kali pertama perombakan kabinet itu, melainkan kali kedua, setelah masuknya Boediono sebagai menko perekonomian (2005) tak begitu membuahkan hasil memuaskan. Berdasarkan data dari Indef (Institute for Development of Economic and Finance) target pertumbuhan ekonomi tidak terpenuhi dari yang seharusnya 6,2% hanya bisa dicapai 5,5%.

Di lain sisi realisasi investasi malah anjlok sebesar 32%. Bahkan di bidang kesejahteraan rakyat (kesra), naiknya Aburizal Bakrie menggantikan Bachtiar Chamsyah malah menimbulkan permasalahan serius menyangkut luapan lumpur Lapindo. Belum lagi penanganan bencana alam lain yang sudah menjadi langganan bagi sebagian wilayah.

Begitupun dengan kebijakan menteri di bidang transportasi, Hatta Rajasa yang tidak tegas dan tidak antisipatif terhadap setiap musibah kecelakaan baik celakaan pesawat udara maupun kapal laut. (Seputar Indonesia, 4/05)

Kini, reshuffle jilid II kian marak diperbincangkan. Soal ketidak mampuan bekerja, efektivitas kabinet, terganggu kesehatanya sampai dugaan terlibat suatu kasus tertentu pula menjadi dalih memperbaiki kondisi bangsa. Para menteri dalam tim koordinasi ekonomi, transportasi, dan aset kenegaraan pun yang paling banyak menjadi sorot publik. Pasalnya, mereka dinilai masyarakat telah gagal mengemban amanat tersebut.

Sejatinya kehadiran Presiden beserta jajaranya harus memperbaiki kondisi bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya terus dilanda pelbagai bencana; banjir dan gempa, kekeringan, anjloknya kereta api, tergelincirnya kapal terbang, tenggelamnya perahu air, letusan gunung merapi. Seolah-olah kita enggal terlepas dari musibah yang tak kunjung usai tersebut.

Tak ayal, Rencana Presiden melakukan reshuffle kabinet justru menuai pelbagai kecaman. Pro-kontra pun tak terelakan lagi. Salah satunya, ditentang partai PPP (Partai Persatuan Pembangungan). Partai berlambang kabah itu, mendesak Presiden cukup meningkatkan koordinasi untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.

Demikian diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum PPP Chozin Chumaidy. Menurutnya, perombakan kabinet sudah kehilangan momentum. Bahkan apabila dilakukan justru tidak akan efektif karena menteri baru harus melakukan adaptasi lagi dalam membenahi kinerja departemen yang dipimpinnya.

"Resuffle kabinet akan sia-sia. Sudah tidak perlu lagi, karena masa bakti kabinet tinggal dua tahun lagi. Kalau ada pergantian menteri, bisa tidak efektif, sebab menteri baru harus melakukan adaptasi," jelasnya. (Media Indonesia, 20/04)

Mencermati upaya penanggulang bangsa ke arah yang lebih baik itu tak semudah membalikan telapak tangan. Bahkan perombakan kabinet—yang akan diumumkan beberapa hari lagi, malah dianggap sebagian kelompok tertentu merupakan buah dari adanya penekanan dari pertai tertentu atas kinerja presiden yang dinilai telah gagal sekaligus manuver politik dari golongan oposisi.

Untuk itu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menegaskan bahwa reshuffle yang akan ia umumkan tidak semata-mata menteri tersebut mempunyai kinerja yang buruk. "Ini demi efektivitas kabinet yang harus bekerja 2,5 tahun lagi," ujarnya. Namun ia mengakui bahwa ada satu atau dua menteri yang kinerjanya harus ditingkatkan.

Mengenai kondisi kesehatan para menteri, Presiden mengatakan ia telah memerintahkan pemeriksaan kesehatan kepada tim dokter kepresidenan. "Hasilnya sudah saya terima Subuh tadi," ujarnya. Menurut Presiden, sepanjang hasil pemeriksaan menyatakan menteri tersebut baik-baik saja, tidak ada alasan untuk menganggapnya tidak mampu bekerja secara fisik. (www.mertotvnews.com, 04/05)

Semoga dengan adanya reshuffle jilid II ini dapat meningkatkan kinerja kabinet. Seperti yang diharapkan oleh Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR RI, reshuffle mendatang merupakan kesempatan terakhir. Karena itu, reshuffle harus menghadirkan kondisi yang lebih baik guna meningkatkan kinerja kabinet dari keterpurukan.

Tentunya, kekompakan presiden, wakil presiden beserta dukungan birokrasi menjadi modal utama sekaligus barometer dalam menentukan bangsa kita ke arah yang lebih baik. Kendati, keterlibatan masyrakya pul tak bisa dinafikan guna membangun indonesia damai dan utuh.

Thus, Reshuffle segera dilakukan dan haruslah menjadi solusi arif dalam mengurai keterpurakan bangsa ini. Bukan malah menjadi basa-basi semata. Apalagi hanya isapan jempol semata. Pasalnya, Presiden telah berjanji setiap tahun harus mengevaluasi para menteri. Nah, kini kita tunggu keputusan Presiden. Apakah benar-benar membuat solusi atau basa-basi? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 05/05;01.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/05/2007 09:56:00 AM   3 comments
Kitab (2)
Wilujeng Harba PII Ke-60
Ku Boelldzh

Sampurasun...!!
Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!
Assalamu Alaikum, Wr, Wb....!!
Tandang Ke Gelanggang Meski Seorang...!!

Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a:

Wilujeng Harba (Hari Bangkit) PII (Pelajar Islam Indonesia) Ke-60

04 Mei 2007

Mugia urang aya dina tanggayungan Gusti Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku ayana Harba Ieu, mugia urang sadayana tetap Istiqomah sareng sumanget dina ngawujudkeun Izatul Islam.

Teu hilap oge, mugia bangsa urang kaluar tina sagala mamala, karma buruk anu nangkod teu bisa dileupaskeun eta sagala malapetaka teh. Atuh, akhirna cita-cita Indonesia anu damai, sajahtra jeung nangtayungan dina sagala widang bisa kahontal deui.

Izzatul Islam
Sekali Layar Terkembang Surut PII Berpantang
Wassalamu Alaikum, wr, Wb
Cah Ah Baraya
Rampes

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 04/05;00.03 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/05/2007 09:44:00 AM   0 comments
Kitab (1)
Wednesday, May 02, 2007
Hardiknas Momentum Introspeksi Bersama
Oleh Ibn Ghifarie

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2007 ini. Sejatinya, harus menjadi modal dasar evaluasi sekaligus pencerahan bagi seluruh civitas akademika dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hardiknas juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh kualitas pendidikan nasional semenjak bangsa ini merdeka.

Pasalnya, pendidikan merupakan investasi masa depan. Kini, pendidikan mulai tak terkontrol lagi. Bahkan cita-cita luhur memanusiawikan manusia pun raib tak tau dimana rimbanya. Malahan Hardiknas kali ini masih dilingkupi rasa keprihatinan begitu mendalam atas pelbagai kasus yang menggelayuti dunia pendidikan kita.

Mulai kasus minimnya pemerataan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang pendidikan, kualitas pendidik, mengakarnya praktek tauran antar pelajar atau mahasiswa sekaipun, mendarahdagingnya tradisi pembocoran lembar soal dan jawaban oleh segelintir guru beserta kepala sekolah saat ujian nasional (UN) tiba demi ambisi dan pencitraan sekolah, sampai terjadinya tindakan kekerasan yang menewaskan salah satu praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bernama Cliff Muntu. Sungguh mengerikan.

Ironis memang. Di tengah-tengat gencarnya upaya pemberantasan buta hurup, megencarnya wajib sekolah sembilan tahun dan tanpa dipungut biaya bagi kalangan tertentu. Nyatanya, masih banyak lembaga pendidikan tertentu yang akrab dengan budaya pungutan liar. Alih-alih peningkatan kualitas dan sebagai sekolah percontohan tradisi lali itu kian terjadi.

Padahal menuntut ilmu secara formal merupakan sektor strategis dan kunci bagi bangsa ini untuk menapakan kaki ke arah kehidupan bangsa yang lebih baik. Saking pentingnya sektor ini, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 kita pun telah mengaturnya sedemikian rupa. Hal ini termaktub dalam pasal 31 UUD 1945 dengan mengamanatkan secara tegas, setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan; kewajiban warga negara mengikuti pendidikan dasar dan kewajiban pemerintah membiayainya; penyelenggaraan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; hingga prioritas alokasi dana APBN hingga 20%.

Nyatanya, pesan agung UUD 1945 itu hanya menjadi selogan semata supaya tidak ditertawakan oleh negara-negara lain. Terlebih lagi saat anak didik yang kurang mampu berkeinginan mengenyam pendidikan lebih tinggi harus rela menggalkan perbuatan mulia tersebut. Sebab pendidikan bermutu mahal ongkosnya. Maka wajar bila Eko Prasetio berujar `Orang miskin dilarang sekolah`.

Lebih parahnya lagi, sang pendidik pun harus rela pontang panting mencari kerja sampingan guna memenuhi dapurnya. Karena kebutuhan tarap hidup semakin meroket. Termasuk guru honorer, yang masih belum jelas nasibnya. Janji untuk mengangkat guru bantu tahun ini hanya isapan jempol semata.

Belum lagi kucuran dana sebesar 20% dari APBN masih menjadi wacana elit-elit politik. Pengalokasian biaya operasional pendidikan dari pusat ke daerah masih-masing masih sarat dengan kebiasaan tak terpuji. Tentunya, dengan prinsif ABS (Asal Bapak Senang), sebab kalau tak mengikuti tradisi akut itu jangan harap dana pendidikan akan sampai ke lembaga penddikan. Thus, minimnya biaya penunjang pendidikan tersebut.

Mencermati persoalan pelik itu, tak ada cara lain guna menumbuh kembangkan budaya baca-tulis pada masyarakat dan upaya peningkatan mutu pendidikan kita selain menjadikan hari Hardiknas ini sebagai titik awal evaluasi secara menyeluruh.
Bukan saja, membincang kesejahtraan umar Bakri, kampanye tradisi baca-tulis, dan pentingnya mengenyam pendidikan formal. Tapi lebih menyeluruh pada asfek kehidupan nyata.

Terkadang pendidikan malah hanya menjadikan anak didik cakap dalam keilmuan. Namun, tak unggul dalam moral. Hal ini terlihat dari maraknya budaya barbar dan preman dalam pendidikan kita.

Dengan demikian, segala elemen yang berkaitan dengan kualias pendidakan, mulai dari emosional, spiritual, intelektual harus melekat dalam pribadi pendidik dan anak didik serta pengambilan keputusan sisitem pembelajaran.

Nah, bila kehadiran Hardiknas tak dapat membawa perubahan positif pada masyarakat Indonesia yang lebih baik dan arif, maka wajar bila praktik belajar-mengajar secara jelas telah terkalahkan oleh kekerasan. Carut-marutnya praktik lalim pun telah mencoreng dunia pendidikan kita. Haruskah, kita tetap mempertahankan perayaan turun temurun itu? Sudikah sisitem pendidikan kita jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga? [ ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 01/05;14.37 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/02/2007 07:46:00 AM   1 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.