'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (9)
Saturday, June 23, 2007
Mengurai `Wajah Muram` Pahlawan Devisa!
Oleh Ibn Ghifarie

Terkuaknya aksi kekerasan, pelecehan seksual terhadap TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia dipelbagai belahan negara manapun membuat sebagian masyarakat tertentu mencibir peranan pemerintah dalam melindungi rakyatnya. Komisi Nasional Perlindungan (Komnas) Perempuan pula tak bisa berbuat banyak. Betapa tidak, di tengah-tengah keterpurukan bangsa dan meroketnya kebutuhan rumah tangga; sembako (sembilan bahan pokok) hal itu terjadi.

Kini, hampir setiap hari pahlawan devisa acapkali mendapatkan perbuatan ganjil dari sang majikan, mulai dari pemerkosaan, kekerasan fisik dan psikis, tak dibayar gajihnya, sampai tradisi menghilangkan nyawa orang lain.

Kehadiran KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dipelbagai negara tak bisa berbuat banyak. Malahan slogan pemerintah supaya menygayomi sekaligus melindungi hak-hak sipil warga negaranya dari tekanan orang atau bangsa lain. Ini malah sebaliknya. Ironis memang.

Beberapa staf KBRI dikabarkan ikut membidani aksi perdagangan perempuan itu. Aneh memang. Tapi inilah wajah bumi pertiwi. Terbongkarnya aksi bejad ini terjadi di Kuwait diduga staf KBRI terlibat kasus perdagangan manusia. Tudingan ini muncul berdasarkan pengakuan tiga mantan tenaga kerja wanita (TKW) di negara itu.

"Mereka baru berani mengaku setelah sebulan di berada di Tanah Air," kata Nurmawati, koordinator Lembaga Pendamping Tenaga Kerja Indonesia, di Jakarta, Selasa.

Satu korban asal Cianjur kembali ke kampung halaman sambil membawa anak hasil pemerkosaan lelaki Kuwait yang membelinya dari agen asal Indonesia. Dua korban lain bekerja sebagai sukarelawan di Lembaga Pendamping Tenaga Kerja Indonesia. "Sekarang saya ikut mendampingi TKW bermasalah," kata Evi Zulfitriana, salah satu korban. (Tempo, 15 Juni 2005)

Adalah budaya kambing hitam, tuding-menuding dan dipeti eskan dalam setiap menyelesaikan segala persoalan kekerasan terhadap kaum hawa yang sedang dihadapinya. Terlebih lagi saat sang majikan mempunyai duit lebih. Walhasil, mereka harus rela mondok di hotel predeo. Tentunya, bukan di negara Indonesia, tapi di bangsa tuanya.

Sekedar Catatan Kelam TKW

Sriati Anggraeni, 22, TKW asal Desa Gebang, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur menjadi korban penyiksaan kekejaman majikannya di Taiwan. Setelah bekerja selama setahun lebih di Taipei, Taiwan sebagai pembantu rumah tangga di rumah keluarga Sie Chong Long, Sriati pulang ke rumahnya dalam keadaan mengenaskan akibat siksaan. Tubuhnya penuh luka bekas setrika. Payudara sebelah kirinya membusuk. Yang lebih mengerikan, sejumlah gigi dan kukunya rontok karena dicabut paksa. (Tempo, 27 Mei 2005)

Sunaena, 31 tahun, seorang tenaga kerja wanita Indonesia di negara bagian Johor, Malaysia, menjadi korban ekspolitasi dan penipuan. Pasalnya, gadis berbadan tinggi besar itu, mengaku telah bekerja dengan majikannya Mr. Ng Cheng Hua, selama empat belas tahun tujuh bulan, namun selama itu, tak pernah digaji.

"Empat belas tahun saya bekerja siang dan malam,” kata Sunaena kepada Tempo di Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor, Jumat (31/3). Selain sebagai pembantu rumah tangga, dia juga mengaku dipekerjakan di mini market milik majikannya.

“Selama itu, saya hanya pernah dapat tips sebanyak RM 150 (sekitar 320 ribu rupiah) sebagai imbalan bulan pertama bekerja," ujar Sunaena saat ditemui Tempo, Jum'at (31/3) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor.

Anak sulung dari tiga bersaudara hasil perkawinan Dartam dan Rubiah, warga Cilacap, Jawa Tengah, kini berada di bawah perlindungan KJRI Johor Bahru untuk menunggu kasusnya diproses secara hukum.

“Ini kejadian luar biasa. Betul-betul ekspolitasi biadab. Pihak kami telah melaporkannya ke Departemen Perburuhan Negeri Johor untuk ditindaklanjuti," kata Kepala Bidang Kanselerei, HOC-KJRI, Budi Prakoso.

Kepala Bidang Konsuler Urusan Tenaga Kerja Wanita, P Wita Kamil, mengatakan kasus tersebut telah dilimpahkan ke Kepolisian Daerah Johor Bahru. "Kasus ini akan kami usut, karena selain masalah eksploitasi tenaga Sunaena, juga terkait kasus penipuan identitas Sunaena,” kata Wita.

“Dalam masalah ini kami banyak saksi yang bersedia membantu di mahkamah," Wita menambahkan. Wita menambahkan, berdasarkan pengakuan Sunaena, bahwa dirinya bernama Darmini. "Nama Sunaena tiba-tiba muncul di paspor yang diterbitkan di KJRI Johor beberapa tahun yang lalu menggantikan nama Darmini. (Tempo, 31 Maret 2006)

Lima tenaga kerja wanita (TKW), tiga di antaranya asal Kabupaten Cianjur, yang baru pulang dari Arab Saudi, dirampok dan disiksa saat keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kemarin.

Satu korban bernama Sarah binti Teteng, 32 tahun, warga Kampung Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, harus dirawat di rumah sakit lantaran kondisinya kritis.

Selain mengalami luka-luka akibat siksaan, para TKW itu kehilangan seluruh harta bendanya. Setelah dirampok dan disiksa, mereka dibuang di tempat yang berbeda-beda. Empat di antaranya hingga saat ini belum diketahui nasibnya. Keempat orang tersebut adalah Ai dan Yayah, warga Cianjur, serta Suci dan Indri, warga asal Lombok.

Sarah ditemukan di perkebunan teh PTPN VIII Panyairan, Kecamatan Campaka, Cianjur, oleh seorang tukang ojek. Setelah sempat dibawa ke rumahnya dalam kondisi tak sadarkan diri, Sarah langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Cianjur oleh relawan RSU Cianjur dan Mawar Community Pers, kemarin malam.

Saat ditemukan di kawasan perkebunan teh, kondisi Sarah sangat mengenaskan. Di dalam saku celananya hanya ditemukan uang Rp 16 ribu, sebungkus obat, dan faktur kedatangan di bandara yang tidak ditandatangani. Hadan, 30 tahun, tukang ojek yang menemukan dan mengantar Sarah menjelaskan, saat ditemukan, seluruh tubuh Sarah mengalami luka lebam dan lecet. (Tempo, 26 Mei 2006)

Malang nian nasib Unirwah. Bukan uang real yang didapat dari hasil bekerja di Arab Saudi, melainkan penyiksaan oleh majikannya. Bahkan, akibat penyiksaan itu, ia kini mengalami kelumpuhan. Wanita asal Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, itu baru dua bulan bekerja di rumah keluarga Rahman al Mahmud di Arab Saudi.

Sejak hari pertama ia bekerja, Unirah sudah mendapat siksaan dari majikannya. Tangan kiri Unirah melepuhakaibat disetrika. Kakinya menderita luka bakar karena disiram air panas. Luka tersebut mengakibatkan cacat pada bagian tangan dan kakinya.

Wanita berusia 33 tahun itu bisa pulang ke Indonesia setelah nekat melarikan diri dari rumah majikannya. Ia lalu mendapat pertolongan dari polisi setempat yang membelikannya tiket pesawat seharga 600 real. Sedangkan pihak Kedutaan Besar RI di Arab Saudi memberikan bantuan administratif. (Metro TV, 11 Agustus 2006)

Kasus penganiayaan oleh majikan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Malaysia kembali terungkap. Kali ini korban bernama Sanih binti Saleh, TKW asal Indramayu, Jawa Barat. Sanih sekarang dirawat di rumah sakit. Ia mulai bekerja di Malaysia bulan Mei tahun lalu. Sanih mengaku, selama bekerja ia kerap dianiaya, seperti disiram air panas, dipukul dengan rotan panjang, besi dan juga disetrika.

Menurut Sanih, majikannya menyiksa sambil menuduh Sanih telah mencuri uang, makanan dan minuman di rumah tempat ia bekerja. Karena sudah tidak tahan, Sanih kemudian melarikan diri ke Kantor Kedutaan RI di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan ditemani seorang warga negara Indonesia. Duta Besar RI di Kuala Lumpur Rusdiharjo mengunjungi Sanih guna memberi dorongan moral. Menurut tim dokter, Sanih dapat sembuh setelah beberapa bulan perawatan. (Metro TV, 02 Oktober 2006)

Kini, giliran Ceriyati binti Dapin, tenaga kerja wanita asal Brebes, Jawa Tengah, melarikan diri dari apartemen majikannya di Sentul, Kuala Lumpur, mencuat sebagai cerita utama di berbagai media di Indonesia dan Malaysia. TKW ini kabur lantaran tidak tahan disiksa majikannya. (Bisnis.com, 19 Juni 2007)

Buah Simalakama Itu Bernama Devisa
Maraknya perbuatan itu, sebenarnya bukan cerita baru tapi lama. Kejadiannya kerap kali berulang, namun pemerintah tetap belum menemukan formula ampuh untuk mencegah berulangnya penganiayaan terhadap para pahlawan devisa kita.

Jelas tidak fair jika kita menuding pemerintah belum berbuat apa-apa untuk mengurangi kejadian-kejadian yang merendahkan martabat kita sebagai bangsa dan menghinakan makna kemanusiaan ini. Namun, di lain sisi, bukan berarti apa yang telah diperbuat para pengambil kebijakan sudah merupakan langkah maksimal.

Tentunya, langkah intensif terus-menerus mesti dilakukan pihak penguasa baik secara bilateral dengan pejabat setiap negara yang memanfaatkan TKW kita. Sangat penting menunjukkan kepada negara-negara pengguna jasa TKW asal Indonesia, pemimpin kita sangat memerhatikan warganya yang berjuang di negeri seberang dan bertindak sebagai pelindung yang tangguh bagi mereka. Bukan sebaliknya.

Sejatinya penentu keputusan bukan hanya dilakukan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), melainkan juga oleh menterinya, bahkan oleh Presiden di level tertinggi.

Sikap yang diperlihatkan Pemerintah Malaysia dengan segera mengutus pejabat dari Depnaker-nya serta rencana membahas persoalan Ceriyati pada sidang kabinet negeri jiran itu memang mencerminkan kepedulian. Tetapi belum tentu hal serupa juga akan dilakukan pemerintah negara lain di mana TKW kita mengalami perlakuan serupa.

Menaikkan tingkat kesejahteraan TKW kita yang berjuang di pelbagai negara melalui peningkatan standar upah di sejumlah negara; Arab Saudi, Taiwan, Hong Kong, Malayasia, dan Singapura merupakan satu upaya positif demi melindungi TKI, khususnya TKW, jelas mutlak ditingkatkan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sudah tentu, perlindungan serupa itu, bukan hanya diperlukan saat mereka berada di luar negeri, melainkan juga ketika mereka tiba di Tanah Air. Masih sering terdengar pemerasan yang dialami para TKW waktu mereka menjejakkan kaki di Indonesia dengan membawa hasil jerih payah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menjual jasa di negeri orang.

Segera Fungsikan Forum Komunikasi Tripartit TKI

Untuk mengatasi berbagai persoalan yang selalu mendera para TKW, penegakan hukum dan pengefektifan Forum Komunikasi Tripartit TKI yang dibentuk pada awal Mei 2007.
Forum yang terdiri dari unsur perorangan atau wakil pemerintah, pelaksana penempatan TKI (asosiasi dan perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia swasta), lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi ini dibentuk memang di antaranya karena permasalahan TKI yang sangat kompleks.

Dengan kehadiran forum itu, diharapkan tidak ada lagi saling tuding bila suatu hari kelak musibah menimpa kembali pada TKI. Sejatinya masalah tersebut dapat di atasi dan tanggung jawab secara bersama-sama bukan saling menyalahkan satu sama lain.

Berkenaan dengan persoaln yang tengah menerpa Ceriyati bisa menjadi ujian perdana bagi eksistensi forum tersebut.

Di lain sisi, upaya pemerintah menyusun daftar hitam agen PJ TKI hendaknya segera membuahkan hasil. Jika penyusunan daftar itu dijalankan tanpa kompromi dan kongkalikong, maka perusahaan pengerah TKI swasta tidak bisa 'bermain petak umpet dan lepas dari jeratan tanggung jawab terhadap TKW yang dikirimkannya.

Tentu masih banyak upaya pencegahan dan pemberian perlindungan sepenuhnya kepada TKW. Haruskah keberpihakan pemerintah di bayar dengan pedihnya penyiksaan dan melayangnya nyawa dari jasad TKW yang tak berdosa itu?

Thus, kita harus berupaya mensejahterakan sekaligus memberikan perlindungan yang nyaman terhadap para pahlawan devisa tersebut. Pasalnya, tanpa ikhtiar dan kebaikan mereka dengan mengadu nasih dinegeri orang, niscaya indonesia berkecukupan ditengah-tengah keterpurukan ekonomi dan meroketnya sembako. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/06/16.26 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/23/2007 05:18:00 PM   2 comments
Suhuf (8)
Wednesday, June 20, 2007
Surat Terbuka Buat Rektor Baru UIN SGD Bandung
Oleh Ibn Ghifarie

Gelombang aksi menuntut Rektor Baru, Prof Dr H Nanat Fatah Natsir, M. S supaya menandatangagi MoU (Nota Kesepakatan Kerjasama) terus bergejolak. Salah satunya Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandung, Jum’at (15/6/07) melakukan demo didepan kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dari mulai pukul 13.00 dan berakhir pukul 15.30 WIB.

Mereka menuntut pembenahan kampus yang diduga carut marut. “ Kami mempunyai delapan tuntutan kepada pihak rektorat dan senat. Pertama benahi supra struktur dan infrastruktur UIN SGD yang carut marut. Kedua, hapuskan kebijakan pungutan dana praktikum. Ketiga, benahi fasilitas kampus dan lengkapi perpustakaan kampus. Keempat, selesaikan berbagai permasalahan di fakultas psikologi.

Kelima, tinjau kembali kinerja dan rekrutasi dosen dan asisten dosen . Keenam, Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan kampus. Ketujuh, benahi gedung fasilitas pementasan dan lahan parkir. Kedelapan pengelolaan dana iqomah dan yayasan agar dilakukan secara transparansi dan junjung tinggi kebebasan pers mahasiswa dan kebebasan intelektual mahasiwa” Kata Syaeful Malik, Ketua AMPK. ( www.opinimasyarakat.com).

Hal senada juga disampaikan oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UIN SGD Bandung pun melakukan hal yang sama. Mereka mengajukan kriteria bakal calon dan calon Rektor sebagai berikut; (1) Tidak terindikasi telah, sedang dan atau akan melakukan korupsi. (2) Tidak terlibat skandal gelar. (3) Siap menghapus praktek KKN di Kampus. (4) Siap menghapus paham Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme-red). (5) Siapa melibatkan mahasiswa dalam mengambil kebijakan yang berdampak terhadap mahasiswa. (6) Bersedia melakukan transparansi terhadap setiap pemungutan yang telah dilakukan kepada mahasiswa seperti poliklinik, Ikomah, praktikum dengan sejelas-jelasnya. (7) Siap melakukan kontrak politik dengan mahasiswa, paparnya.

`Setiap pemimpin pasti diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinaya itu. Demi terciptanya stabilitas kampus besar harapan kami seluruh anggota senat dapat memperhatikannya,`jelasnya. (www.uinsgd.ac.id)

Selang beberapa hari, lagi Aliansi Mahasiswa UIN SGD Bandung; gabungan dari UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) melakukan aksi serupa (18-19/06). Beberapa tuntutan mereka antara lain tentang fasilitas gedung yang ada di kampus, uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), dan dana praktikum.

Kendati pemilihan orang nomer satu sudah dipilah pada saat pemilihan Rektor melalui senator (39 orang yang memiliki hak suara), jumat (15/06) yang dimenangkan oleh Nanat Fatah Natsir (Rektor saat ini) dengan mengalahkan kandidat lain diantaranya; Prof. Dr. Rahmat Syafi'ie (Pembantu Rektor I) dan Dr. Oyo Sunaryo, M.Ag. (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum).

Dari ketiga calon itu, Nanat masih menduduki kursi Rektor dengan mengantongi suara 28 orang. Rahmat, 11 orang dan Oyo tak mendapatkan suara sama sekali. (www.uinsgd.ac.id)

Tak Dilibatkan Mahasiswa Dalam Pemilihan Rektor
Maraknya demontrasi berawal dari ketidak ikut sertaan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan. Terlebih lagi saat pemilihan Rektor periode 2007-2011 tiba.

`Kalau di perguruan tinggi lain seperti Unpad dan ITB, pemilihan rektor oleh senat sudah hal biasa. Bahkan, di Malaysia dan negara-negara Eropa pemilihan rektor oleh lima guru besar senior,` papar Prof. Drs. H. Pupuh Fathurrahman, Sekretaris Senat UIN SGD.

Bila waktu pemilihan rektor tahun 2004 lalu mekanismenya diserahkan kepada dosen dan mahasiswa, sehingga mereka ikut memilih rektor. “Kalau bicara demokratis, maka pemilihan rektor yang melibatkan dosen dan mahasiswa adalah demokratis. Tapi, sering terjadi konflik diantara dosen maupun mahasiswa karena masing-masing memiliki jago yang didukungnya,” jelasnya.

Padahal, mahasiswa bersifat sementara karena setiap tahun berubah jumlah baik mahasiswa baru maupun lama. “Mahasiswa bersifat temporer sehingga wajar Menag menetapkan pemilihan rektor UIN oleh senat universitas,” tambahnya. (Pikiran Rakyat, 17/04)

Adalah ketidak terlibatanya kaum pelajar dalam mengambil segala bebijakan harus berujung pada aksi ricuh. Pasalnya, Nanat Fatah Natsir, tetap tak temui mahasiswa. Tak ayal lagi, pelemparan air mineral, pelemparan telur busuk, pembubuhan cap tangan pada kaca dan dinding Al-Jamiah, pembakaran ban tak terhindarkan lagi.
Inilah bentuk protes mahasiswa. Tentunya, karena pihak rektorat tak bersedia menandatangani kontrak politik dengan mahasiswa.

Ironis memang. Di tengah-tengan derasnya arus demokrasi dan otonomi daerah. Maka dalam pemilihan pemimpin pula mestinya memakai sistem langsung dengan jargon dari, oleh dan untuk rakyat. Tengok saja, saat pemilihan Pilpres (pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), Gubernur, Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).

Kini, UIN malah melanggengkan budaya perwakilan. Hingga membandingkan dengan Unpad dan ITB dalam pemilihan Rektor yang kadung memakai sistem senator.

Alih-alih statuta UIN SGD (Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No 06 tahun 2006 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung) Pun harus menjadi dalih atas ketidak terlibatan mahaiswa, dosen pada hajatan akbar tersebut.

Padalah pendidik dan anak didik merupakan pilar-pilar demokrasi. Bila sisitem ini yang diterapkan, maka apa yang terjadi. Seolah-olah demokrasi terpinpin terjadi dikampus islam ini.

Di sadari atau tidak salah satu bukti dari pincangnya unsur-unsur demokrasi persoalan pemilihan Dekan Fakultas Psikologi pula harus menuai badai. Drs. H. Endin Nasruddin, M.Psi untuk turun dari jabatanya. Pasalnya, Ia telah melakukan `perbuatan ganjil` berkenaan dengan izasahnya. Semula berembel-embel M.S.I dalam namanya. Kini, malah beralih menjadi M.Psi.

Meski sampai saat ini kasus plagiat gelar Dekan Psikologi harus rela terkubur dan entah dimana rimbanya. Yang jelas orang nomer satu di Fakultas Psikologi masih menduduki jabatan tersebut.

Sekali Lagi, Libatkan Mahasiswa
Bila bercermin pada pemilihan Rektor sebelumnya (periode 2003-2007) seluruh unsur civitas akademika dilibatkan dalam pesta demokrasi tersebut. Mahasiswa semester V, VII berhak memilih dan menentukan pilihanya. Siapa yang akan memimpin mereka di tingkatan Jurusan, Dekanat dan Rektorat.

Bukan malah sebaliknya. Kini, tidak lagi. Semuanya diserahkan pada senator yang berjumlah 47 orang.

Dengan demikian, masuknya kaum intelek pada jajaran senator atau dikembalikan lagi pada sisitem semula (masih IAIN) akan menambah meriah proses demokratisasi kampus.
Mudah-mudahan dengan terpilihnya Rektor baru dan tinggal menunggu ketuk palu dari pusat. Para pemimpin dapat mendengarkan asfirasi masyarakat kampus.

Tentunya, dengan tidak adanya aksi brutal, tapi segala persoalan diselesaikan dengan cara dialog. Karena diskusi dan pengambilan musyawarah secara mufakat merupakan petanda orang beradab, bukan biadab. Semoga.

Cag Rampes,Pojok Sekre Kere,19/06;23.25 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/20/2007 06:33:00 AM   2 comments
Suhuf (7)
Monday, June 18, 2007
Gedung Rektor UIN SGD BDG Dilempari Telur Busuk
Oleh Ibn Ghifarie

`Sebagai bentuk ketidakhadiran Rektor pada acara audiensi yang telah kita sepakati kemarin (jum’at, 15/06), maka silahkan sahabat-sahabat maju kedepan untuk membubuhkan cap tangan ke kaca dan tembok Rektorat ini, kata sang orator saat aksi MoU (Nota Kesepakatan Kerjasama) di Gedung Al-Jamiah, senin (18/06)

Selain itu, lemparkan air mineral dan telur busuk pun terus dilemparkan ke kantor Rektor sebagai petanda kekecewaan mahasiswa atas ketidak hadiran Rektor pada Mimbar Bebas ini. Sesekali terdengar `Ayo terus lembar dan hati-hati ada profokasi, ujarnya.

Lagi, aksi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN SGD Bandung; Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM); Tajimalela, PSPB (Pusaka SaputraPaku Banten), PSTD (Perguruan Silat Tenaga Dasar), BKC (Bandung Karate Club), LIKM (Lembaga Inkubasi Mahasiswa), Teater Awal, Taekwondo, LSLK (Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi), LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman), IVMI (Ikatan Voli Ball Mahasiswa), Liga (Sepak Bola), FABBIS (Family Of Basket Ball UIN SGD), KOPMA (Koperasi Mahasiswa),PSM (Paduan Suara Mahasiswa) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ); SPI (Sejarah Peradaban Islam), BSA (Bahasa Sastra Arab), KPI (Komunikasi Penyiaran Islam), PMH (Perbandingan Madzhab dan Hukum), PBA (Pendidikan Bahasa Arab), Sosiologi dan Jurnalistik, mereka merekomendasikan; Jangka pendek; (1) Benahi supra dan infra struktur UIN yang carut marut. (2) Libatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan-kebijakan. (3) Selesaikan kasus Fakultas Psikologi. (4) Hapuskan dana praktikum. (5) Kembalikan SPP ke Rp. 300.000,00- ke seluruh mahasiswa. (6) Transparansi dan fungsikan dana Ikomah dan yayasan. (7) Lengkapi isi perpustakaan UIN. (8) Uji kelayakan Dosen dan Asdos (Asisten Dosen-red).

Jangka panjang; (9) Fasilitasi gedung pementasan. (10) Benahi tempat parkir. (11) Hantam skandal nilai, skripsi dan munaqosah yang merugikan mahasiswa. (12) ) Berikan kebebasan kreativitas intelektual mahasiswa. (13) Berikan beasiswa kepada mahasiswa yang tepat. (14) Benahi fasilitas Kampus (WC, Lift, Kelas, Bangku, Gedung, Transfortasi, Lapangan Olahraga, Laboraturium Jurusan). (15) Fungsikan kembali DPR (Dibawah Pohon Rindang-red) untuk ruang ekspresi mahasiswa. (16) Tingkatkan keamanan dan kebersihan di lingkungan Kampus. (17) Tolak hutang luar negeri untuk biaya pendidikan, tegasnya.

Pernyataan sikap itu terus di sampaikan sebelum penandatangan kontrak politik antara Rektor dan pendemo tercapai. Hingga pihak Rektor bersedia menandatanginya.

Kendati ada perwakilan Rektor oleh Pembantu III, Prof. I Nurul Aen mejelaskan ‘Untuk membicarakan kesepakatan Audensi kemarin (jum’at, 15/06) silahkan mahasiswa untuk segera memasuki Ruang Senat. Karena kalau disini kurang kondusip,`paparnya.

Tak ayal, secara serempak para pendemo menjawabnya `Disini saja`dan meminta Rektor supaya segera turun ke masa. ‘Ayo turun, ayo turun` katanya.

Menanggapi demonstran yang mulai ricuh dengan hadirnya pembakaran ban, lemparan air mineral dan telur busuk. Salah satu mahasiswa angkat bicara `Seberapa besarkah pemecahan kaca dengan perubahan yang kita usung?`cetusnya.

`Masalahnya tak menjamin jika kaca pecah, Rektorat mau beraudiensi dengan kita. Malahan kita yang akan kena sangki. Karena telah melanggar dan berbuat onar terhadap fasilitas umum,` jelasnya.

Hingga pemberitaan ini diturunkan, pihak Rektorat tak bersedia menandatangani MoU dan para pendemo tetap bertahan dibawah pelataran Gedung Rektorat dengan membuat tenda. ‘Sebelum Rektorat bersedia menandatangani MoU ini kita akan tetap disini dan membawa masa yang lebih banyak lagi,` kata pendemo. [Ibn Ghifarie PusInfokomp]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/06;18.46 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/18/2007 02:18:00 PM   0 comments
Suhuf (6)
Meretas Gerakan Pemikiran Alternatif
Oleh Ibn Ghifarie

Maraknya aksi bentrokan antar kelompok di pelbagai daerah membuat sebagian masyarakat tertentu mencibir peranan kaum ulama. Betapa tidak, di tengah-tengah keterpurukan bangsa dan gencar-gencarnya pemberantasan teroris hal itu terjadi.
Kini, hampir setiap hari golongan intelek sekaligus pewaris nabi acapkali berbuat ganjil, mulai dari aksi rusuh, tawuran, kekerasan fisik dan psikis, sampai tradisi menghilangkan nyawa orang lain.

Slogan islam sebagai agama pembawa rahmat lil alamin pula hanya slogan semata. Pasalnya, perbedaan pendapat tak dipahami sebagai khazanah islam yang harus kita bina dan pelihara. Malah keragaman dianggap sebagai suatu keniscayaan dan tak boleh terjadi. Ironis memang.

Tak hanya itu, jargon islam yalu wala yula alaih, mustadhafien, mujtahid dan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah ikut punah seiring derasnya arus baku hantam di kalangan kaum muslim. Seolah-olah melekatnya status cendekia tak berbanding lurus dengan kebiasaan tak terpuji saat siswa.

Adalah budaya tawuran, adu fisik dan saling kafir mengakafirkan dalam menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapinya. Terlebih lagi saat MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengaluarkan 11 fatwa (2005). Walhasil, perang menjadi jurus pamungkas yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Bara Itu Bernama Fatwa MUI
Tengok saja, kekerasan yang terjadi di Malang, yakni Ponpes Ma’dinul Asro, yang dipimpin oleh H Yusman Roy (2005); di Bekasi, tepatnya di daerah Bantar Gebang, yang terdapat Mazlis Dzikir Ponpes al-Musyarofah yang dikepalai oleh Syaikh Maulana (2005). Lembaga ini dinilai mengajarkaan ajaran sesat, sebab salah satu ajarannya adalah menghalalkan perbuatan zinah. Apalagi perlakuan bejad ini dilakukan secara langsung oleh kepala Ponpes tersebut kepada jemaahnya; di Probolinggo pun terjadi hal yang serupa.

Namun, berbeda caranya. Yakni dengan mengeluarkaan buku habis gelap terbitlah terang. Konon, isi buku tersebut mengajarkan kepada kita untuk berbuat zina dengan siapa pun termasuk dengan ketua ponpesnya.

Yang unik lagi, saat menjamurnya sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) di daerah Indaramayu terdapat satu calon Bupati dan Wakil Bupati itu melakukan kampanye dengan membubuhkan potonya di sampul al-Qur’an (2005). Tentunya naif sekali.

Hal yang sama bentrokan sekaligus pengrusakan Universitas Mubarak di Parung Bogor, gara-gara dianggap menyebarkan paham Ahmadiyyah. Pasalnya, mereka tak mengakui rasulullah sebagai penutup nabi. Malah Mirza Gulam Ahmad sebagai utusanya.
Di penghujung tahun 2005 peristiwa serupa pun menimpa Kelompok Lia Eden. Karena mereka telah melecehkan sekaligus mencemarkan agama. Yakni dengan mengakui Lia Aminuddin sebagai Tuhan dan Rahmat, salah satu muridnya sebagai nabi terakhir.

Lebih tragis lagi ini tuduhan sesat pula dialamatkan kepada Alih ulama terkemuka di Bobojong, Bogor harus kehilangan nyawanya (26/10/06). Karena menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas dan menafikan Tuhan. Badanya hancur berkeping-keping akibat diseret masyarakat sekitar 700 meter.

Lain halnya dengan kelompok kajian Toko Buku Ultimus di Bandung, mereka di gerebeg sekaligus dibubarkan secara paksa oleh FPI dan Fron Anti Komunis (FAK) (2006). Karena mereka menyebarluaskan paham Karl Mark, yang dinilai embahnya ateis.

Tak berhenti sampai disitu saja, malahan di awal tahun 2007 kejadian membabi buta pula terjadi pada kelompok Papaenas (Partai Persatuan Nasional) saat konvoi, mereka dilempari batu oleh Fron Pembela Islam dan anti komunias. Sebab mereka dianggap mendirikan partai anti Tuhan. Padahal indonesia negara beragama.

Keragaman Sebagai Kehendak Tuhan
Mencermati ketidakberdayaan sekaligus tumpulnya akal dalam menuntaskan segala persoalan dengan arif, bukan memakai kekerasan. Apalagi saat MUI mendefinisikan SPL (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme). Ketiga isme itu bagi MUI adalah haram dengan definisi liberalisme adalah pemikiran Islam yang menggunakan pikiran manusia secara bebas, bukan pemikiran yang dilandaskan agama.

Sekularisme merupakan paham yang menganggap agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sementara, hubungan antara manusia dengan manusia tak bisa diatur agama.

Pluralisme diharamkan karena menganut paham semua agama adalah sama dan bahwa agama bersifat relatif dan tidak ada yang boleh mengklaim agamanya adalah agama yang paling benar. Padahal seseorang beragama karena keyakinannya akan suatu kebenaran.

"Yang boleh adalah pluralitas bahwa kenyataan masyarakat memiliki agama yang berbeda-beda dan karenanya harus saling menghormati dan berdampingan dengan baik," katanya. (Kompas, 28 juli 2005)

Tentunya, kehadiran fatwa 11 itu seolah-olah melegalkan kelompok tertentu untuk berperang. Yang jelas Pluralisme agama yang hidup dan ada di Indonesia, termasuk di dalamnya keanekaragaman pemahaman atau aliran keagamaan yang ada didalam tubuh interen umat beragama adalah kenyataan historis yang tidak dapat dibantah oleh siapapun.

Dengan kata lain, pluralisme menegaskan bahwa kemajemukan, keragaman dan perbedaan merupakan satu kenyatan kemanusiaan. Atau satu-satunya fitrah kemanusiaan, tidak ada satu fakta kemanusiaan kecuali heteroginitas.

Dengan begitu, fenomena di atas kerapkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu sebuah realitas yang mengandung dua sisi yang berbeda, bagaikan mata uang.

Pertama, Sisi manusia serius dengan aktivitasnya, sehingga orang yang berada di sekiatarnya tak dihiraukan.

Kedua, Manusia yang “terlalu peduli”, sehinggan ingin tahu urusan orang lain. Dua sisi itu berakhir dengan “kebinasaan” dan “peniadan”, salah satu pihak karena tidak adanya “kesaling-mengertian” dan “kesaling-pemahaman” tentang karakter lain. Dari hal-hal yang kecil berubah menjadi yang besar. Bukankah kita menemukan pada diri kita sendiri yang tidak merasa senang dengan mereka yang berbeda? bukankah kita sering menggagap sesat kepada mereka yang berbeda paham dengan kita?.

Padahal Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan sabdanya” mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai Rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita. Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih mudah dikendalikan dan teratur.

Maka di sini kita patut bertanya, konsep ataukah manusianya yang melenceng? Saya kira jawabanya ada pada yang terakhir. Jika ini benar, maka yang rusak adalah sistem pengetahuan dan konstruk-budaya yang melekat pada diri kita.

Yakni cara pandang dan paradigma yang kita miliki perlu ditinjau ulang lagi. Jika perlu didekontruksi sekaligus direkontruksi menuju kepada Rahmat tadi. Dan kita sebagai manusia harus berani mengakui, baik secara nalar (episteme)—yang melahirkan beragam tafsir, maupun sikap dan jalah hidup (way of the lyfe) itu berbeda-beda.

Oleh karena itu, kita harus berani bersikap bijak (wisdem) terhadap berbagai perbedaan di antara kita. Karena dengan itu, akan melahirkan masyarakat yang penuh Rahmat—kasih sayang dan perdamaian yaitu masyarakat madani (Sivil society). Sebagaimana Tuhan berfirman, …dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah menciptakan bumi dan langit serta berlain-lain bahasamu, dan warna kulitmua (QS Ar-Rum : 22); dan pada ayat lain, ….kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal dan menghormati satu sama lain (QS Al-Hujurat : 13); surat an-Naba 24-26; Katakanlah hai Muhammmad siapa yang membri rizki kepadamu dari langit dan dari bumi? Katakanlah Allah dan sesungguhnya kami atau kamu (non muslim) pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata, katakanlah kami (non muslim) tidak akan bertanggungjawab tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya pula tentang apa yang kamu perbuat. Katakanlah tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia memberikan keputusan antara kita dengan benar dan dialah maha pemberi keputusan lagi maha mengetahui.

Bahkan nabi Muhammad sendiri pernah di tegur secara langsung oleh Tuhan melalui firmannya, ketika ia berkeinginan kelak, nanti umatnya itu menjadi satu golonganya. Artinya tidak ber-firkah-firhak hingga 73 golongan. Maka dengan jelas Tuhan berkata, seperti yang termaktub dalam kitabnya,; kalaulah Tuhan menghendaki, tentunya akan beriman semua orang yang ada dalam bumi secara keseluruhan, maka apakah engkau Muhammad akan memaksa manusia, sehingga mereka beriman semua (QS Yunnus: 99); atau dalam ungkapan lain sebermula sekalian umat manusia merupakan satu kaum dari Adam; kemudian mereka bercerai berai, jika tidak ada pernyatan Tuhanmu sebelumnya, niscaya di putuskan masalah-masalah mereka yang di perselisihkan. Tetapi manusia tidak berselisih pendapat mengenai kebenaran itu kecuali mereka yang telah menerima tanda-tanda yang jelas; dalam hal ini mereka melakukan dalam semata-mata.(QS Al-Baqarah : 213).

Sedangkan dalam tradisi yang lain seperti Kristen, kita kenal ungkapan Konsili Vatikan II; …. yang mengakui keselamatan juga terdapat dalam ajaran agama lain selain di lingkungan Katolik Roma.

Dari Monolitik Ke Pluralistik
Namun, lagi-lagi dalam kehidupan acapkali kita menemukan bahwa kearifan yang berdasarkan nilai-nilai Ilahiyyah dan Insaniyyah merupakan “kata-kata” yang lebih mudah di bicarakan dan sulit dijalankan. Sebab ia, adalah yang berdasarkan pada sikap bijak untuk menyikapi yang berbeda secara pemahaman dan cara pandang yang biasa kita anut—karena dalam masyarakat, individu satu dengan yang lainnya punya karakter, watak, sifat dan bentuk-bentuk budaya tertentu.

Berkenaan dengan hal ini, Henry Bergeson (Filusuf dari Prancis) membagi dua bentuk masyarakat. Pertama, masyarakat tertutup (fermes). Inilah masyarakat individu-individunya membentengi (ekslusif) dan membatasi dirinya dalam dinding-dinding asas, kepercayaan dan lembaga-lembaga yang diciptakannya.

Pada masyarakat ini, manusia terkungkung sekaligus statis; dan pada gilirannya tidak berkembang di karenakan kemandegannya.
Kedua, masyarakat terbuka (ouverte). Adapun masyarakat ini adalah kebalikan dari masyarakat yang tertutup. Yakni masyarakat yang tidak memiliki dinding-dinding yang membatasi sekaligus berani membuka diri dengan peradaban yang ada di masyarakat.

Pada masyarakat ini, keterbukan (inklusif), toleran dan sikaf kasih sayang antara sesama serta bijak dalam memahami orang lain merupakan kunci utamanya. Sebab mereka berada dalam landasan kesepakatan kontrak sosial yang mengacu pada nilai-nilai Insaniyyah dan norma kedamaian dan kesejahteraan bersama. Inilah yang pada masa Rasululah di sebut ummah. Dan berbentuk masayarakat Madinah Al-Wunamwwarah. Tentu pada masa itu, muncul nabi Muhammad SAW menjadi figur yang menyatukan perbedaan berbagai perbedaan yang ada di masyarakat Arab. Saat itu Rasalullah lewat Piagam Madinah yang di sepakati oleh berbagai suku dan agama, berhasil mewujudkan masyarakat yang betul-betul ideal di dunia ini.

Sebagai mana yang kita ketahui, ternyata dalam hadits-hadits, Rasulullah mewujudkan masyarakat itu berdasarkan pada nilai-nilai insaniyyah dan ilahiyyah. Kita tahu di dalamnya ada larangan dan aturan tertentu, sehingga hal-hal yang bersifat kesejahteraan dan kemanusian dalam masyarakat diprioritaskan.

Di sinilah sikap Pluralisme yang berdasarkan ukhuwwah Insaniyyah wa Ilahiyyah menjadi penting untuk di wujudkan dalam kehidupan kita. Apalagi masyarakat kita yang Multi-Budaya, Etis dan agama, tentu harus di realisasikan. Karena dengan itu, kita sebagai manusia tidak akan lagi tersesak dengan garis pemisah antara kita dengan “manusia” dan yang-lain sebagai bukan manusia—karena manusia sesunguhnya adalah “satu-makhluk” yang beranekaragam.

Dengan hadir dan maraknya aliran-aliran “baru”, bahkan dianggap “ganjil” oleh sebagian golongan termasuk MUI. Terutama di Malang, Probolinggo, Bekasi dan Indramayu, dll. Mudah-mudahan dapat memberikaan pemahaman yang baru dalam khazanah keilmuan Islam, yang pada akhirnya dapat membawa kita kepada derajat ketakwaan yang tebih tinggi. Itu pun akan terjadi mana kala kita mampu memahami dan mengakui perbedaan di antara kita. Baik dari segi agama, sekte/madzhab, Ormas, ras maupun etnis ini. Sehingga terbangunlah sisi persatuan dan kesatuan (kemanusiaan) yang tahun kemarin sempat awut-awutan, robek, hancur, bahkan sekaligus terkoyak.

Tak hanya itu, dengan memahami dan ikut andil dalam mewujudkaan pemahman pluralisme ini merupakan satu langkah awal menuju pintu kebajikan dan pembebasan dalam memahari keragaman yang ada pada manusia.

kendati demikian, pluralisme dalam kontek ke kinian pluralisme tidak hanya kesadaran atau pemahaman adanya heterogentas, tapi harus juga terlibat secara pro aktif dalam mengejawatahkan nilai-nilainya. Keharusan pro aktif inilah yang tidak disentuh, selama ini. Apalagi digumulai oleh orang-orang yang selama ini mengaku memehami pluralisme.

Jadi, bukan hanya mengakui tapi membiarkan orang lain yang bebeda dengan kita untuk berkretifitas dengan bebas.

Dengan demikian, pluralisme dalam pandangan Dr Alwi Shihab melalui buku Islam Inklusif (2001:41-42) harus dibedakan dari;
Petama, pluralisme tidak semata menunjuan pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Dengan kata lain, pluralisme agama adalah bahwa tiap pemluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercipanya kerukunan, dalam kebinekaan.

Kedua, plualisme harus dibedakan dengan kosmpolitanisme. Kosmopolitanisme menunjukan kepada suatu realita di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi. Ambil misal kota New York. Kota ini adlah cosmopolitan. Di kota ini terdapat agama Yahudi, Kristen, muslim, Hindu, Budha, bahkan orang-orang tanpa agama selakipun.

Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan elativisme. Seorang relativis akan berasumsi hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berfikir seseorang atau masyarakat.

Keempat, pluralisme agama bukanlah singkretis, yakni menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsure-unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut.

Hal yang tak kalah menarik pun di lontarkan oleh Nur Khalik Ridwan dalam buku Pluralime Borjuis; Kritik Atas Nalar Pluralisme Cak Nur) (2002:77) tentang Pluralisme.

Adalah sebuah paham yang menegaskan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keragaman, heterogenitas, dan kemajemukan itu sendiri.

Oleh kerena itu, ketika disebut pluralisme, maka penegasannya adalah diajukannya wacana, kelopmpok, individu, komunitas, sekte, dan segala macam bentuk perbedaan sebagai fakta yang harus diterima.

Di sinilah kita patut mengamini pernyataan Asep Gunawan, Direktur Eksekutif LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) menjelaskan Kehadiran JarIK (Jaringan Islam Kampus) diharapkan menjadi alternatif gerakan pemikiran atas persoalan keagamaan tersebut, katanya saat membuka Pelatihan Besic di LEC (Local Education Center) Cicalengka (25-27/05).

Momentum pelatihan ini harus dimanfaatkan sedemikian rupa. Sehingga cita-cita luhur itu dapat tercapai, jelasnya. Semoga [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 28/05;23.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/18/2007 02:11:00 PM   0 comments
Suhuf (5)
Nanat; Ungguli Pemilihan Rektor UIN SGD BDG Periode 2007-2011
Oleh Ibn Ghifarie

`Hadirkanlah peti mati buat senator, bila kebijakan senator tidak berpihak pada mahasiswa,` ungkap salah satu orator saat pemilihan Rektor UIN SGD Bandung periode 2007-2011, jum’at (15/06) di depan Al-Jamiah.

Puluhan aksi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK); Forum Mahasiswa Merdeka, Partai Kampus Merdeka, PMII (Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia) UIN SGD Bandung, Keluarga Mahasiswa Angkatan 2006-2007. Mereka menuntut kepada senator dan calon pemimpin kampus UIN SGD Bandung untuk; (1) Benahi supra dan infra struktur UIN yang carut marut. (2) Hapuskan dana praktikum. (3) Lengkapi isi perpustakaan UIN. (4) Benahi fasilitas kampus. (5) Selesaikan kasus di Fakultas Psikologi. (6) Tinjau kembali Dosen dan Asdos UIN.

(7) Libatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan-kebijakan. (8) Fasilitasi gedung pementasan. (9) Benahi tempat parkir. (10) Transparansi dan fungsikan dana Ikomah dan yayasan. (11) Hantam skandal nilai, skripsi dan munaqosah yang merugikan mahasiswa. (12) Berikan kebebasan kreativitas intelektual mahasiswa. (13) Berikan beasiswa kepada mahasiswa yang tepat. (14) Berikan kebebasan Pers mahasiswa, tegasnya.

Pernyataan sikap itu terus di sampaikan sebelum penandatangan MoU (Nota Kesepakatan Kerjasama-red) antara calon Rektor dan pendemo tercapai. Sesekali terdengar yel-yel dan teriakan sumpah atas nama mahasiswa.

Di dekat tempat parkir sekelompok mahasiswa yang mengatas namkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UIN SGD Bandung pun melakukan hal yang sama. Mereka mengajukan kriteria bakal calon dan calon Rektor sebagai berikut; (1) Tidak terindikasi telah, sedang dan atau akan melakukan korupsi. (2) Tidak terlibat skandal gelar. (3) Siap menghapus praktek KKN di Kampus. (4) Siap menghapus paham Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme-red). (5) Siapa melibatkan mahasiswa dalam mengambil kebijakan yang berdampak terhadap mahasiswa. (6) Bersedia melakukan transparansi terhadap setiap pemungutan yang telah dilakukan kepada mahasiswa seperti poliklinik, Ikomah, praktikum dengan sejelas-jelasnya. (7) Siap melakukan kontrak politik dengan mahasiswa, paparnya.

`Setiap pemimpin pasti diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinaya itu. Demi terciptanya stabilitas kampus besar harapan kami seluruh anggota senat dapat memperhatikannya,`jelasnya.

Meski ada dua golongan, aksi turun kejalan pula tetap mendapatkan perhatian lebih dari sejumlah civitas akademik UIN SGD Bandung. Hingga taman Rektorat itu di penuhi lautan manusia. Mulai dari depan Wartel, Papan Panjat Tebing Mahapeka (Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam) anak-anak Pecinta Alam, samping Warnet (distrik Viking UIN), sampai pos Satpam masih penggila bobohoh Persib, karena sedang bertanding.

Salah satu mahasiswa angkat bicara, Ahmad mahasiswa Tarbiyyah dan Keguruan berkata `Ngapain pake demo-demo segala. Toh tetap saja kita tidak akan dilibatkan dalam pemilihan tersebut`.

`Coba mau apalagi. Mendingan kuliah dan belajar yang benar supaya hasil belajarnya baik dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya`, tegasnya.

Menanggapi tuntutan mahasiswa itu, salah satu sumber yang dapat kami percaya menjelaskan, pemilihan Rektor tetap di laksanakan hari ini dan aksi mahasiswa tidak menghalangi pemilihan orang nomer satu di UIN SGD Bandung.

Dalam bursa pemilihan Rektor yang dipilih oleh senator (39 orang yang memiliki hak suara) itu terdapat tiga calon; Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.S. (Rektor saat ini), Prof. Dr. Rahmat Syafi'ie (Pembantu Rektor I) dan Dr. Oyo Sunaryo, M.Ag. (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum).

Dari ketiga calon itu, Nanat masih menduduki kursi Rektor dengan mengantongi suara 28 orang. Rahmat, 11 orang dan Oyo tak mendapatkan suara sama sekali.

Setelah sekian lama mahasiswa berteriak sambil terus membacakan tuntutan, berorasi dan menyuarakan yel-yel; bangkit, lawan hancurkan tirani dan revolusi. Akhirnya pihak Rektorat bersedia mengabulkan permintaan mahasiswa untuk melakukan audiensi di pelataran Rektorat.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat mahasiswa. Penuntutan mahasiswa akan kita bicarakan hari senin depan (18/06-red) di Ruang Sidang Rektorat, kata Nanat. Soalnya tidak akan mungkin terjadi pembicaraan tentang perbaikan kampus bila kondisi kita sudah lelah dan cape, tuturnya. Selain itu, calon lain tidak hadir disini (Rahmat Syafie dan Oyo-red). Maka penandatanganan MoU pun kita tunda di pertemuan selanjutnya, tambahnya.

Senada dengan Rektor. Pembantu III, Prof. I Nurul Aen menambahkan untuk penandatangan MoU kita laksanakan hari senin saja di Ruang Sidang Rektorat atau Auditorium UIN. Ya, sama halnya dengan pertemuan kemarin (silaturahmi HMJ dan UKM atas pemilihan Rektor yang tidak melibatkan mahasiswa-red), katanya.

Kendati pendemo menginginkan adanya penandatangan MuO sekarang. Nyatanya harus di tunda di lain waktu. `Ah pokoknya MoU ini harus tetap di tandatangani oleh pemimpin masa depan, ungkap salah satu pengunjuk rasa. [Ibn Ghifarie PusInfokomp]

Cag Rampes, Pojok Al-Jamiah, 15/06;18.26 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/18/2007 02:02:00 PM   0 comments
Suhuf (4)
Friday, June 15, 2007
Menggugat MUI, Menggurat JarIK Di Kampus Islam
Oleh Ibn Ghifarie

Sejatinya kehadiran SPL (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) dapat mengatasi persoalan keterpurukan bangsa. Mulai dari krisis kepercayaan, ekonomi, politik, sosial sampai budaya sekalipun.

Kini, malah menuai protes dari pelbagai kalangan muslim. Salah satunya lembaga tertinggi ulama Indonesia yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesaia (MUI).

Adalah Komisi Fatwa MUI menetapkan 1 Fatwa MUI (2005) dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang ke-7. Antara lain Liberalisme, Pluralisme dan Sekulerisme (poin ketujuh).

SPL Ala MUI
Menanggapi perkembangan pemikiran Islam tentang liberalisme, sekularisme dan pluralisme, adalah haram dengan definisi liberalisme adalah pemikiran Islam yang menggunakan pikiran manusia secara bebas, bukan pemikiran yang dilandaskan agama.

Sekularisme merupakan paham yang menganggap agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sementara, hubungan antara manusia dengan manusia tak bisa diatur agama.

Pluralisme diharamkan karena menganut paham semua agama adalah sama dan bahwa agama bersifat relatif dan tidak ada yang boleh mengklaim agamanya adalah agama yang paling benar. Padahal seseorang beragama karena keyakinannya akan suatu kebenaran.

"Yang boleh adalah pluralitas bahwa kenyataan masyarakat memiliki agama yang berbeda-beda dan karenanya harus saling menghormati dan berdampingan dengan baik," katanya. (Kompas, 28 juli 2005)

Tentu dengan dikeluarkanya Fatwa sakti itu membuat kelomok islam minoritas yang tidak sesuai dengan kebanyakan masyarakat, kena getahnya. Betapa tidak, mereka acapkali di kucilkan, di hancurkan rumah beserta tempat ibadahnya, hingga di seret sampai ajal menjemputnya.

Lihat saja, pengrusakan kampus Universitas Mubarak di Parung Bogor akibat dianggap bagian dari aliran Ahmadiyyah, Yusman Roy (Shalat dua bahasa) dan Lia Eden harus rela bermukim di hotel predeo akibat mencematkan sekaligus melecehkan agama, Alih ulama terkemuka di Bobojong, Bogor harus kehilangan nyawanya. Karena menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas dan menafikan Tuhan. Badanya hancur berkeping-keping akibat diseret masyarakat sekitar 700 meter.

Kampus Islam; Menolak SPL
Tak hanya dimasyarakat. Di lembaga pendidikan pun perilaku yang sama kerapkali terjadi. Tengok saja, hasil liputan Adian Husain dalam Catatan Akhir Pekan (CAP) kerjasama antara Radio Dakta Fm dan www.hidayatullah.com

Kampus Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dicap sebagai ’kolot’, ’ekstrim’, ’tidak progresif’, dan sebagainya, karena tidak mengamini paham Pluralisme Agama.

Saat Seminar Sehari bertajuk `Masa Depan Kebebasan Beragama Di Indonesia’ (28/05), yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkaian Ilmu Keislaman (LPIK) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN SGD Bandung bekerja sama dengan Jaringan Islam Kampus (JarIK) Bandung.

Menghadirkan Nara Sumber; Prof Dr Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Perbandingan Agama UIN Sarif Hidayatullah Jakarta; Perspektif Lintas Iman), Dr Afif Muhammad (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Perspektif Akademisi), Iqbal Hasanuddin (Perwakilan Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat Jakarta; Perspektif Kebijakan Negara) dengan dipandu oleh Tedi Taufiq Rahman (Koordintor JarIK Bandung).
Kendati tak terjadi bentrokan. Karena kultur Bandung tak akan terjadi adu jotos. Melaikan dengan adanya acara tandingan atau adu wacana via opini publik saat berlangsung kegiatan.

Dalam selembaranya LSPI (Lembaga Studi Politik Islam) UIN SGD Bandung mengurai Pluralisme Atau Pluralitas??? (Pandangan Islam Tentang Pluralisme).

Indonesaia negara beragam dengan selogan Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari suku, adat, bahasa dan agama. Keragaman ini merupakan anugerah yang patut kita sukuri karena dengan beragamnya kebudayaan, suku, adat dan agama kita jadi belajar untuk menghormati dan menhargai sesama. Inilah yang di sebut pluralitas. Ok kit akui itu.

Ketika QS Al-Hujurat:13; yang menunjukan adalnya pluralitas manusia dari segi syuub dan qobail, atau di ayat lain darui segi keragaman bahasa (Q.S Ar-Rum:22). Semua itu ditunjukan agar manusia mengagungkan ayat-ayat Allah. Sehingga kepluralan itu bisa dan harus disatukan dengan ikatan aqidah dan diatur dengan syariat islam yang mulia.

Lain halnya dengan pluralisme, embel-embel isme sudah pasti mengandung pemahaman tertentu. Pluralisme adalah paham yang menggap semua agama, ajaran ideologi benar. Jadi mau Islam, Kristen, Hindu, Budha atau yang lainya sama saja. Kita bebas melilih, hingga berpindah agama karena dimanapun kita berada tak ada bedanya.

Islam memang mengakui adanya agam lain, tapi tidak membenarkanya sebagaimana Allah SWT telah berfirman QS Ali Imran:19; `sesunguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam` dan QS Ali Imran:85; `Barang siapa mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya.

Dengan demikian, pluralisme jelas-jelas bertentengan dengan firman Allah tersebut. Jadi, sudah selayaknya kita tidak mengadopsi paham ini. Apalagi mengamalkanya.

Bentuk penolakanya adakalnya terlihat dari deretan pertanyaan yang dilontarkan kepada nara sumber; Jika memang ada keselamatan di dalam agama lain, kenapa masih menganut agama Islam?, jika semua agama benar. Berarti boleh dong melakukan upacara—Jumat di Mesjid, Sabtu di Sinagog dan Minggu di Gereja?, bila semua agama mengajarkan kebaikan. Boleh ya kita mengikuti perayaan agama lain. Misalnya, Natanal, Waisakan, Imlekan, Nyepian, dan Maulid Nabian?

Menara Gading SPL
Menilik persoalan pelik itu,Smestinya kita mengamini hasil penelitian Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN Jakarta dan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) 2005 tentang kesalehan beragama di Kampus Umum. Perguruan Tinggi; Universitas Indonesia Depok (UI Depok), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Univeritas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Peningkatan kesalehan juga terjadi di lingkungan kampus yang di anggap makin “sekluer” tersebut. Tentunya, mengejutkan bagi sebagian orang, sekaligus utamanya dikalangan muslim progresif.

Kecenderungan ini terlihat dari makin meningkatnya jumlah kader organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di sejumlah kampus Islam seperti UIN/IAIN. Sukses mereka di kampus-kampus umum rupanya menjadi inspirasi bagi berkembangnya di kampus-kampus Islam. Termasuk kampus umum

Lain halnya, dengan organisasi berbasis muslim moderat seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam dan Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM), sebaliknya terus menuai kebangkrutan. Meski di beberapa tempat kini masih dominan, namun dalam jangka menengah posisi mereka bakal terus tersingkir dan kurang dilirik. (Syirah, 19/03)

Membumikan SPL
Kehadiran JarIK (Jaringan Islam Kampus) diharapkan menjadi alternatif atas persoalan keagamaan tersebut, kata Asep Gunawaan saat membuka Pelatihan Besic di LEC (Local Education Center) Cicalengka (25-27/05).

Momentum pelaihan ini harus dimanfaatkan sedemikian rupa. Sehingga cita-cita luhur itu dapat tercapai, jelasnya.

Adakah jaminan dengan disemarakanya pelbagai acara seminar, pelatihan dan publikasi di tingkatan mahasiswa. Terlebih lagi hanya bersifat wacana semata dan ruang lingkupnya pula hanya sekira anggota JarIK.

Tentu jawabanya, tidak ada. Salah satu jalanya dengan mengalih bahasa ketiga paham—dari barat itu menjadi ramah di kalangan kampus islam. Pasalnya, masih banyak dikalangan muslim tertentu segala sesuatu yang berasal dari barat harus ditotak. Karena kafir.

Nah, mensiasatinya dengan penggunaan bahasa Arab. Sebab adakalanya sesuatu yang besumber dari Timur Tengah adalah muslim.

Selain itu, perangkat-perangkat yang menunjang atas pemahaman SPL pula harus terus digencarkan melalui pengadaan Diskusi tentang HAM (Hak Asasi Manusia), Gender, dan Demokrasi. Sehingga isu-isu ketiga jargon itu dapat di kenal dikalangan mahasiswa sekalipun pelajar.

Bila perbuatan ini tak terjadi, maka tinggal tunggu kematian SPL saat tabung lonceng fundamentalisme kian mengakar. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok LEC (25/05;17.27 wib) dan Auditorium UIN 28/05; 13.19 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/15/2007 09:29:00 PM   0 comments
Suhuf (3)
Indonesia; Negeri Ironi
Oleh Ibn Ghifarie

Lakaknya di negeri ironi. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan banyak hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah tidak membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap dalam wajahnya yang lama; miskin dan tak berdaya.

Hamparan hutan luas tak membuat binatang ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat huntanya gundul. Tentunya, banjir tak terelakan lagi.

Belum lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari lagi.

Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar. Dan kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.

Sebutan Negeri agraris pula tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti Thailand dan Vietnam.

Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?

Tak hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar.

Kalaupun ada, harganya meroket tajam hingga selangit. Tentunya, rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.

Asal tahu saja, pada 2006 produksi CPO Indonesia mencapai 16 juta ton. Malaysia yang bertahun-tahun dikenal sebagai raja CPO, hanya 15 juta ton. Dengan potensi lahan kita yang amat luas, masih terbuka lebar produksi CPO Indonesia melaju terus. (Editorial, 11/06)

Beberapa hari, atau minggu lagi entah apa lagi yang akan sirna dari lintasan zamrud katulistiwa ini.

Bila dulu kita mengenal nyanyian `Tongkat dan tanam jadi impian`. Kini, rasanya tak ada lagi segala keindahan panorama Nusantara ini. Terlebih lagi saat penguasan dan masyarakatnya tal lagi memintingkan kelestarian alam sekitar.

Jika perilaku itu yang terus tertanam pada anak cucu kita, niscaya kehancuran negara bernama Indonesia ini sudah di ambang pintu. Lalu apa yang harus kita perbuat sebagai generasi penerus bangsa?

Belajarlah dengan sungguh-sungguh bagi pencari ilmu dan rawatlah alam raya ini layaknya memelihara diri sendiri.

Dengan demikian, sebutan negeri ironi tak akan melekat lagi di bangsa Indonesai ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/06;06. 37 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/15/2007 05:42:00 PM   0 comments
Suhuf (2)
Mohon Maaf
Oleh Boelldzh

Sebelumnya kami selaku pengelola Blog mohon maaf kepada seluruh pengunjung. Pasalnya, ada satu pekerjaan yang memang benar-benar menyita banyak waktu. Sampai-sampai hampir lupa posting di blog.

Padahal, deretan coretan di buku harian kian menumpuk sekaligus menuntut di simpan di blog.

Namun, kuatnya ikhtiar menyelesaikan satu pekerjaan. Memang membuat pekerjaan lain harus di tunda dulu. Pantas saja bila Nenek Moyang kita selalu berpesan `Jang mun anggeus hiji pagawean. Kakara bisa anggeuskeun nu lainna,` katanya.

Adalah membukuan Antologi Puisi; 11 Titik. Masih dalam proses pengeditan dan lay out sana-sini.

Belum lagi kondisi kesehatan kami yang sedikit terganggu buah dari kurang istirahat dan makan tak teratur. Hingga 3 hari harus rela berbaring di Sekre Kere tanpa ditemani satu kawan pun, kecuali kertas, pena dan tv.

Tak lupa kami memohon doa restu para blogger mania dan pembaca budiman supaya cepat-cepat selesai karya tersebut.

Sekali lagi, mohon maaf para pengunjung blog Ghifarie Area Alakadarisme. Bila beberapa hari ini tak ada tulisan baru, maka harap di maklum. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 09/06;23.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/15/2007 05:11:00 PM   0 comments
Suhuf (1)
Hanya Ada Satu Kata Copot Widodo
Oleh Ibn Ghifarie

Apa pun alasannya, menembaki warga sipil dengan senjata api secara brutas sekaligus membabi buta tidaklah dibenarkan. Pasalnya, aksi penembakan oleh tentara terhadap penduduk Desa Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur (30/05) perlu dikutuk keras. Hingga mencopot petinggi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Tragisnya lagi, kejadian ini sampai menewaskan lima warga, satu di antaranya bocah ingusan yang baru berusia tiga tahun. Ironis memang.

Adalah Choirul bin Sutrisno, balita itu, meninggal di rumah sakit setelah dadanya tertembus peluru dari senapan laras panjang SS1. Saat terjadi penembakan, ia digendong ibunya, Mistin, yang berada di rumah. Sang ibu, yang juga tertembak di bagian kiri dadanya, langsung meninggal. Tiga korban lainnya juga tewas secara mengenaskan di kampung mereka sendiri.

Kelima korban itu jadi tumbal sengketa tanah ratusan hektare antara warga Alas Tlogo dan TNI Angkatan Laut. Tanah yang dikuasai 256 keluarga itu dipersengketakan sejak 1970-an. Ujungnya, Pengadilan Negeri Bangil memenangkan Angkatan Laut pada Maret lalu. Kendati kalah, warga meminta agar tanah itu tidak diutik-utik karena mereka sedang meminta banding. (Tempo, 31/05).

Wajah Muram Tentara
Inilah wajah muram Pertahanan Nasional Indonesia, yang dalam sejarahnya lahir dari rakyat, justru tega menembaki warga sipil.

Sikap membabi buta tentara dalam mempertahankan tanah juga tak klop dengan kebijakan pemerintah memberdayakan warga yang tak punya tanah. Bukankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru berencana membagi-bagikan tanah buat rakyat miskin?

Tentunya, tak sesuai dengan undang-undang angraria. Sekali lagi, mestinya menteri pertahanan beserta jajaranya dapat mengayomi sekaligus melindungi kaum lemah. Bukan malah sebaliknya. Mentang-mentang peluru berasal dari hasil keringat rakyat dengan seenaknya tentara dapat mengambil nyawa wong cilik.

Bila perilaku ini yang terus terjadi, maka dimankah cita-cita luhur tentara sebagai pemegang kendali atas persoalan bangsa dari serbuan negara lain.

Wajar jika penduduk indonesai sudah tidak taat lagi pada pemimpinya. Karena para pejabat sudah tidak berpihak lagi pada mereka, kecuali demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Buah dari Sistem Tentara Top Down
Menyoal bentrokan antar rakyat dan tentara tak ada cara lain selain mencopot Widodo. Sebab dala kehidupan militer di negara manapun termasuk di lingkungan TNI dalam kaitanya dengan tugas suci hanya mengenal azas top down.

Perintah merupakan hukum tertinggi. Bahkan bagi TNI soal kepatuhan dan ketaatan justru dijadiakn salah satu isi Sumpah Prajurit. Di samping juga sebagai salah satu butir kode etik moral TNI bernama Sapta Marga

Di sinilah maka dilingkungan TNI dan militer dimanapun berlaku prinsip dasar `Tidak ada prajurit bawahan yang salah` kata Saurip Kadi, Pati Mabes TNI AD berpangkat Mayor Jendral TNI dalam acara Stadium General; Menata Ulang Paradigma Kebangsaan Untuk Menemukan Suara Indonesai (04/06) di Ruang Sidang Rektorat UIN SGD Bandung yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Aqidah Filsafat (HIMA AF) dan Masyarakar Aqidah Filsafat (MAFI) Bandung.

Dengan demikian, segala sesuatu dan tingkah polah prajurit semuanya bersumber pada atasanya.

Lihatlah dalam keseharian tentara di barak-barak. Janagnkan menembak, untuk sekedar mengisi dan mengosongkan senjata dengan atau dari peluru saja atas perintah, tambahnya.

Segera Copot Widodo
Kendari menuai polemik saat terjadi penembakan antara versi tentara dan mansarakat. Yang jelas kaum lemah sudah tertindas akibat kepongkahan penguasa.

Pencopotan jabatan dan keanggotaan para pelaku pun harus menjadi skala prioritas seperti yang diutarakan oleh Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Safzen Noerdin.

Kalau perlu Widodo, Menhankam (Menteri Pertahanan dan Keamanan) pula harus dengan rela melepas jabatnya. Karena ulah prajuritnya. Bukan malah melindunginya dengan selalu berkata ‘itu hanya peluru pantulan saja, bukan asli tembakan prajuritnya`.

Lagi pula masyarakat melakukan penyerangan terlebih dahulu dan membawa benda-benda tajam. Maka wajar bila tentara menembakan pelurunya buat mempertahankan keselamatan, jelasnya.

Namun, kita tidak ingin melihat prosesnya berhenti di sini, masuk peti es, lalu dilupakan--seperti banyak peristiwa kekerasan militer di Tanah Air yang terdahulu. Sudah cukup kita memetik contoh kelam dari Aceh, Ambon, Maluku, Papua, makasar dan sejumlah wilayah di Indonesia.

walhasil, pelaku penembakan di Alas Tlogo wajib diproses secara hukum, diadili, dan ditindak. Persoalan tanah yang masih menjadi sengketa hendaknya diselesaikan oleh aparat penegak hukum.

Diakui atau tidak sedari awal mestinya polisi yang mengambil alih urusan pengamanan. Memang kita harus mengingatkan Tentara Nasional Indonesai (TNI) beserta marinirnya, mereka bukanlah aparat penegak hukum. pengawal tanah apalagi.

Kalaupun tanah itu benar milik TNI, haram kukumnya mengusir warga dengan peluru tajam. Hanya upaya penegakan hukum yang patutlah bisa sedikit memulihkan rasa keadilan. [ Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Senat, 04/06;13.36 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/15/2007 05:05:00 PM   0 comments
kitab (20)
Friday, June 08, 2007
Hari Raya Waisak; Hanya Nonton TV Saja
Oleh Ibn Ghifarie

Leudz, Naha beut teu miluan acara Waisakan. Pan biasana mah barudak PA (Perbandingan Agama. Kini, Studi Agama-Agama-red) tara pernah katinggaleun tina peringatan hari raya agama naon wae. Ieu kalah ngerem di dieu,`demikian ungkap salah satu kawanku.

`Angguran mah ulin. Ngencar geura. Eta bisi buruk panon. Ku sabab nonton berita wae,
` jelasnya.

Tak ayal, lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang asyik nonton liputan Waisak di Candi Mendut, Borobudur (Jogyakarta) di Metro TV (01/06) sekaligus membuat catatan kecil tentang Hari Raya Waisak. Ya, semacam refleksi.

Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikwal ketidak ikut sertaanku dalam perayaan Waisak kali ini.

Sejurus kemudian, ngobrol pergantian Tahun Baru Budha pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke pemaknaan hakikat Tiga peryaan Budha tersebut.

Kendati, saat itu masih gondok. Sebab salah satu kawanku Pengurus FKMPAI (Forum Komunikasi Mahasiswa Perbandingan Agama se-Indonesia) Wilayah Yogya tak bisa memberikan keputusan soal acara tersebut. Apakah kawan-kawan BEMJ PA (Badan Eksekutif Mahasiswa-Jurusan Perbandingan Agama) Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan FKMPAI Wilayah Bandung mendapat undangan pada kegiatan tahunan tersebut.

Selain itu, meminta kesediaan temen-temen FKMPAI Wilayah Jogya dan BEMJ PA Jogya dalam menyambut kedatangan kami. Karena, jika tak ada kesediaan dari mereka aku beserta rekan-rekan tak mau mengulangi peristiwa yang sama.

Tiga tahun yang lalu saat aku masih aktif di BEMJ PA berangkat dari kampus langsung tancap ke Kota Gudeg. Tentu, tanpa komunikasi terlebih dahulu pada mereka. Setibanya di sana apa yang di dapat. Semuanya hanya impian semata. Prosesi Sang Budha hanya tinggal penutupan saja.

Belum lagi, harus jadi anak gelandangan sebentar. Sebab tak ada tempat berteduh. Sahabat-sahabatku di FKMPAI Jogya masih sibuk dengan segudang perayaan itu, karena mereka menjadi salah satu panitia perhelatan akbar tersebut.

Nah, tak mau mengulangi kejadian yang sama, maka ku putusakan untuk menunggu jawaban dari temanku. Meski ingin cepat-cepat berangkat.

Namun, keinginan tinggal letupan hati. Cerita sekira indahnya panorama candi borobudur dan mendut tak nampak lagi. Karena sampai tiba hari H. kawanku tak memberikan pesan singkat. Ya. Padahal, jauh-jauh hari sudah ku kirim sms soal hari raya ini.

Diakui atau tidak, keterputusan temali baik di antara FKMPAI maupun lintas iman merupakan beban moral sekaligus peringatan bagiku. Sebab aku lebih asyik merangkai kata dalam dunia tulis-menulis. Bukan memutus mata rantai kepercayaan beda agama. Mudah-mudahan di hari peringatan besar lainya kita bisa menambal sulam persaudaan kita yang sempat terkoyak ini.

Walhasil, kehadiran hari raya umat Budha pun hanya berucapa doa 'Selamat Waisak (2551)` kepada beberapa temenku. Semoga kita mendapat berkah, aman, damai dan sejahtera dari Tuhanya.

Kali pertama tak mendapatkan berkah. Bertemu kawan-kawan lama lintas iman, sepengurusan apalagi. Sungguh sayang hari bermakna itu dilewatkan begitu saja. Apalagi, tanpa ada pertukar pikiran, gelak-tawa sahabat-sahabat beda keyakinan.

Thus, nonton tv pun menjadi teman akrab saat Hari Waisak tiba. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 01/06;07.46 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/08/2007 08:29:00 AM   1 comments
kitab (19)
Wilujeng Waisakan 2551
Ku Boelldzh

Sampurasun...!!
Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!
Namo Budhayo....!!
Semoga Sagala Mahluk Bahagia...!!

Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a:

Wilujeng Tri Waisak 2551
1 Juni 2007

Mugia urang aya dina tanggayungan Sang Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku ayana Poe Tri Waisak Ieu, mugia urang sadayana tetap ajeg panceg dina jala anjena sareng tetep sumanget dina enggoning ngawujudkeun kadamain jeung kabahagiaan di dunya ieu.

Teu hilap oge, mugia bangsa urang kaluar tina sagala mamala, karma awon, musibah, bencana anu nangkod pageuh teu bisa dileupaskeun eta sagala malapetaka teh. Atuh, akhirna cita-cita Indonesia anu damai, nyapa anu beda, sajahtra jeung nangtayungan dina sagala widang bisa kahontal deui.

Namo Budhayo…..!!!
Semoga Sagala Mahluk Bahagia….!!
Cah Ah Baraya
Rampes

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 31/05;23.57 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 6/08/2007 08:24:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.