'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (17)
Thursday, July 19, 2007
Alhamdulillah
Oleh Boelldzh

Alhamdulillah, kata itu pun tanpa disadari sempat terlontar juga dari bibirku sambil menatap kosong kepada hilir mudik temen-temenku yang sedang melengkapi persyaratan Ujian Komperhensif di antaranya; Transkip Nilai, Surat Lunas Pembayaran Regisrasi dari Al-Jamiah, Foto Copy Sertifikat Ta’aruf, Tanda Kelulusan Praktek Ibadah, Tilawah dan Propesi. Pasalnya, hari ini merupakan batas akhir penutupan pendaptarannya.

Setelah berjuang hampir sepekan dengan tanpa pamrih. Akhirnya perlengkapan tes itu selesai juga seraya tak henti-hentinya membacakan tahmid.

Seolah-olah tumpukan blangko sekaligus rekapan nilai menjadi teman akrab melepas kepenatan aktivitas keseharianku.

Tak ayal, sederetan ungkapan bernada miris dilontarkan oleh kawan-kawan dekatku. ‘Geuning ayeu namah geus jadi mahasiswa pemburu nilai nya. Atuh kamana idealismena. Anus sok digembor-gemborkan baheula teh,` cetusnya.

Semula tak ada jawaban dariku, selain anggukan kepala pertanda membenarkan ikhwal tersebut.

Alhasil, selesai sudah satu pekerjaan. Meskipun, harus sabar menunggu dan tetap berusaha sekaligus belajar mempersiapkan waktu tesnya (26/07).

Mudah-mudahan diberikan kekuatan dan kemampuan dalam menghadari Kopre tersebut. Tentunya, berdoa dan beribadah harus lebih ditingkatkan lagi. Bukan malah sebaliknya. Sombong karena dapat mengikuti ujian tersebut. Amien. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Fakultas Filsafat dan Teologi, 19/07;11.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/19/2007 01:12:00 PM   0 comments
Suhuf (16)
Yang Penting Pelayanan dan Seleranya Bos…!!
Oleh Ibn Ghifarie

`Aduh jang ayeuna mah icalan the geuning tiiseun pisan. Komo deui saprek aya kantin Kopma (Koperasi Mahasiswa-red), ungkap salah seorang pedagang Baso Tahu saat dimintai pendapat soal kehadiran kantin baru beberapa pekan.

`Pokona mah eta teh geus dipolitisir ku para pejabat. Sebab sahamna milih maranehna,` tambahnya.

Kehadiran Café Taria ala mahasiswa di sekira gedung Studen Center (SC) menuai protes pelbagai kalangan. Pasalnya, lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (Sintek) harus bersih dari para penjaja makanan

Walhasil, keberadaan pedagang yang baisa mangkal di depan Mesjid Iqomah pun harus rela di relokasi ke daerah Ma’had Aly (15/01)

Selang enam bulan di penghujung semester genap saat para pedagang asyik menata ruang sekaligus memperindah tempat menghidangkan makana dengan kondisi alakadarnya. Mereka dikejutkan dengan kehadiran kantin tersebut (19/07).

Tak ayal, pelbagai mahasiswa pun angkat bicara. Salah satunya, Ahmad aktivis UKM menuturkan ‘Bisa wae ari pajabat mah. `Baheula pedagang anu aya di dieu (sekitar Fakultas saintek-red) di pindahkeu heula. Geus kitu ayeun di ayakeun kantin,` cetusnya.

`Pan pikaseubeuleun. Cing atuh karunya ka warga anu letik. Lain maraneh namah pan geus ngenah hirupna ge,` jelasnya.

`Ada-ada saja. Kebijakan para penguasa itu. Mestinya mereka membantu ekonomi orang lemah. Bukan malah sebaliknya, kata aktivis pergerakan mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

`Ini tak boleh dibiarkan. Kalau perlu kita demo. Sepakat kan,` tambahnya.

`Bagi saya ini menindas kaum lemah dan tak mencerminkan sifat kaum pelajar, ungkap aktivis lainya

Coba bayangkan saja. Bila di undang untuk menghadiri seminar atau bedah buku para pejabat kampus tak pernah menghadirinya. `Ini waktu louncing kantin Rektor, Nanat Fatah Natsir beserta jajaranya ikut meresmikan. Kan ironis sekali,` tegasnya.

Menyinggung pudarnya langganan pedagang di daerah Takhosus ke Kopma tak membuat miris bagi para penjual. Karena pelayanan dan selera tak bias dibohongi.

'Ya ga apa-apa biarkan saja. Yang penting seleranya Bos..!!, kata pedagang Mie Ayam.

`Ah teu nanaonlah. Da geus kajadian. Anu penting mah kumaha cara urang ngabageakun langgan. Eta wae anu kudu ku urang dijadikeun cara keur milikeun langgan,` tutur sang penjual Kupat.

Hal senada pula di lontakan oleh Ani, menjelaskan `Memang di sana rame menunya, sampai-sampai ada special nasi goreng lengkap dengan ati ampelanya. Ya cuminan itu pelayanannya sangat lambat, paparnya.

Selain itu, harganya sangat mahal. Tidak sama dengan pedagang di sini (Kompleks Dosen Asing-red), tuturnya.

Sejatinya, keberadaan Kantin mahasiswa dapat membantu penderitaan masyarakat kecil, bukan memperburuk kondisi pendapatan mereka. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Baso Tahu, 18/07;12.24 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/19/2007 12:43:00 PM   0 comments
Suhuf (15)
Warna-Warni Hari Pertama Sekolah
Oleh Ibn Ghifarie

Hari pertama sekolah bukan kebahagian yang didapat, tapi malah kebingungan yang menyertainya. Pasalnya, bagunan sekolah kebanggaan milik para siswanya ambruk pasca bencana. Tentunya, tak ada seragam baru, tas baru, sepatu baru dan tek-tek bengeknya.

Pelangi I; Ambruk Bangunan
Tengoklah, di daerah Banten, siswa harus rela belajar di puing-puing reruntuhan akibat bencana; Klaten, anak didik harus memulai hari bahagianya dengan belajar di tempat darurat sekaligus mengerikan. Karena ruangan kelasnya bekas kandang domba; Bekasi pun para pelajar harus rela belajar di tempat darurat akibat tersapu banjir; Tuban, puluhan orang malah putus sekolah. Bahkan ada yang berprosesi asyik ngamen dan membantu kedua orang tuanya akibat meroketnya biaya pendidikan. (Metro TV,16/07)

Alih-alih minimnya ekomoni dan lemangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan kelak menjadi penunjang keterpurukan pendidikan Indonesia.

Di lain sisi, tahun ajaran baru pertama acapkali diwarnai aksi oleh siswa, hingga warga sekitar akibat tak mengutamakan masyarakat sekiranya.

Pelangi II; Aksi Warga
Adalah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Padang, Sumatra Barat, diwarnai unjuk rasa warga sekitar sekolah. Warga menuntut pihak sekolah menerima anak-anak mereka bersekolah di SMAN 6.

Puluhan warga sekitar SMAN 6 Padang mendatangi sekolah dengan membawa berbagai poster berisi tuntutan. Warga menilai pihak SMAN 6 Padang telah mengingkari kesepakatan bersama, yakni 20 persen siswa SMAN 6 Padang diutamakan untuk warga di sekitar sekolah. Menurut warga, kebijakan tersebut merupakan kompensasi dari penggunaan tanah ulayat warga untuk SMAN 6 Padang.

Pihak sekolah membenarkan adanya perjanjian tersebut. Hanya, standard penerimaan siswa berdasarkan nilai evaluasi murni (NEM) mengakibatkan kesepakatan tersebut tidak berjalan. Akibatnya, hanya beberapa anak warga sekitar yang diterima.

Setelah berdialog, pihak sekolah berjanji akan memprioritaskan siswa dari sekitar sekolah tersebut. Warga yang berunjuk rasa kemudian membubarkan diri setelah mendengar komitmen dari pihak SMAN 6 Padang tersebut.(Metro,16/07)

Pelangi III; Ditemani Ibunya
Tak ayal, proses belajar mengajar pula harus terhambat. Kendati begitu di Bogor orang tua harus rela mendampingi bocahnya karena belum mengenal satu sama lain sekaligus mempunyai teman.

Pemandangan ini terlihat jelas di Di SDN Pajeleran, Cibinong, Bogor. Hari pertama pengenalan orientasi sekolah bagi siswa Kelas I SD di Bogor masih didampingi orang tuanya terutama ibu. Sementara sejumkah wali murid mengeluhkan tingginya dana sumbangan pembangunan (DSP) bagi tingkat SD yang mencapai Rp 2 juta.

Puluhan ibu-ibu tak sungkan-sungkan menemani ankanya masuk ke ruang kelas. Mereka mendengarkan penjelasana dari guru mulai masuk jam berapa, di mana kelasnya hingga di mana harus membeli buku materi pelajaran.

“Ingat waktu masih kecil dulu,” ujar Ny. Sari sata menemani putra sulungnya. Dikatakan ibu muda ini, pada hari pertama si anak belum dapat mengerti apa yang dikatakan guru dengan suasansa dan lingkungan yang baru. Begitupula di SD Muaraberes, Keradenanan Cibinong, sejumlah ibu-ibu tetap tekum mendengarkan penjelasan guru. (Jawa Pos, 16/07)

Pelangi IV; Cuma Beres-Beres.
Berbeda dengan di SD YPPK Santo Stevanus, Woma, Wamen Papuan, awal sekolah hanya diisi dengan membersihkan lingkungan dan pengenalan sekolah.

Para guru di sekolah tersebut masih mempersiapkan ruang kelas bagi siswa baru. Hari pertama bagi siswa kelas satu, masih banyak orangtua yang mengantarkan anaknya, sekalian mendaftar ulang. Sedangkan siswa kelas dua hingga kelas enam, diperintahkan membersihkan dan mengatur ruang kelas serta membersihkan halaman. (Metro, 16/07)

Pelangi V; Hanya Perkenalan Semata

Lain halnya di SMK/SMIP Paramitha, Jakarta Pusat, misalnya, sebanyak 105 siswa melakukan MOS dengan penampilan pakaian aneh, sehingga menarik perhatian warga yang lalu-lalang di kawasan sekolah tersebut.

Di SMAN 70 Bulungan, MOS diisi dengan sejumlah kegiatan mulai dari perkenalan dari pihak sekolah yang disampaikan Kepsek Asyikin, dilanjutkan dengan ceramah mengenai Cara belajar Efektif yang bertujuan memberi motivasi bagi siswa baru. Hanya saja ketua panitia MOS Lulu melarang dengan alasan harus seizin Kepsek dan malah pendidik ini sempat menarik tangan wartawan Pos Kota agar tidak masuk apalagi melihat kegiatan MOS yang sedang berlangsung di lantai dua. Kepsek SMAN 70 Asyikin berjanji akan menegur yang bersangkutan.

Kepala SMAN 95 Pegadungan Kalideres, M. Siagian menyatakan pihaknya sudah menekankan kepada siswa senior bahwa pelaksanaan MOS tidak ada unsur kekerasan dan penganiayaan. (Pos Kota, 17/07)

Hal serupa pula terjadi di SMP Negeri 2 Wamena, hari pertama masuk sekolah diisi dengan orientasi siswa. Di sekolah ini, sebanyak 200 siswa kelas satu akan mengikuti masa orientasi dengan materi pengenalan sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler serta metode belajar yang baik. (Metro,16/07)

Pelangi VI; Berburu Peralatan
Meski telah memasuki hari pertama tahun ajaran baru 2007/2008, toko-toko yang menjual peralatan sekolah masih ramai dikunjungi pembeli. Misalnya di Pasar Jatinegara dan Pasar Ciplak Jakarta Timur, sekitar puluhan ibu-ibu masih terlihat berbondong-bondong berbelanja membeli sejumlah peralatan sekolah seperti buku, pensil, tas sekolah, seragam sekolah, dan sepatu.

Tuti, 29, seorang pengunjung mengaku telah membeli sejumlah peralatan sekolah buat anaknya yang telah duduk di bangku sekolah dasar kelas IV pada tahun ajaran ini. Namun, berhubung masih ada yang kurang, ia kembali berbelanja pada hari ini.

"Kalau buku-buku, pulpen saya sudah beli Sabtu kemarin. Tapi, sepatunya kan belum, lagian duitnya baru ada sekarang, jadi saya ke sini lagi," tuturnya.

Menurut Tuti, barang-barang yang dijual di Pasar Jatinegara ini retif lebih murah di banding di pasar-pasar atau toko-toko lain di luar Pasar Jatinegara. Oleh karena itu, ia kembali ke Pasar Jatinegara untuk berbelanja.

"Di pasar Jatinegara ini lebih murah dari pada kita belanja di mal atau Gramedia. Lagipula, kualitasnya sama kok,” cetusnya. (beritajakarta.com,16/07)

Pelangi VII; Tes Ujian

Namun, hari pertama sekolah di pelbagai Perguruan Tinggi (PT) tak berlaku karena masih libur. Kalapun ada aktivitas itu hanya SP (Semester Pendek) saja.

Berbeda dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung siang itu kampus dibanjiri manusia. Pasalnya, tengah ujian tes local Penerimaan Calon Mahasiswa Baru (PCMB) yang diikuti hamper 2500 orang peserta tes.

Meski tahun ajaran 2007-2008 UIN Bandung ikut andil dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) beberapa minggu yang lalu.

Kehadiran hari pertama sekolah tak semuanya berbanding lurus dengan semangat baru siswa, guru beserta civitas akademika. Terkadang malah memperihatinkan.
Inilah pernak-pernik pendidikan kita saat tiba sekolah. Semoga dengan adanya pengalokasian dana sebesar 20% dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) tak hanya selogan semata, tapi nyata dan dapat dirasakan oleh kaum lemah.

Sejatinya pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam mencerdaskan bangsa atas keterpurukan pelbagai krisis yang terus melanda bumi pertiwi ini. Seakan-akan bencana demi bencana akrab dalam keseharian sekaligus rutinitas yang harus kita lewati bersama. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/07;22.17 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/19/2007 11:43:00 AM   0 comments
Suhuf (14)
Tuesday, July 10, 2007
Tanda Tanya Partai GAM..?
Oleh Ibn Ghifarie

Munculnya partai lokal bernama GAM di Profinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD) yang di deklarasikan di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai GAM di kawasan Lueng Bata, Sabtu (08/07) menuai pelbagai protes.

Pasalnya, atribut partai ini menyerupai lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Adalah bulan bintang berwarna putih berlatar warna merah dan garis hitam.


Partai Lokal GAM Menuai Badai
Tak ayal, pelarangan embel-embel gerakan separatis pun tak terhindarkan lagi. Salah astunya dari Sudarsono Hardjosukarto, Direktur Jendral Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri menilai penamaan Partai Gerakan Aceh Merdeka melanggar Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2007 tentang Partai Politik Lokal di Aceh, selain pelanggaran atas kesepakatan perjanjian damai.

"Penamaan itu memiliki konotasi mengarah pada tujuan untuk merdeka, mengapa pendirinya memberi nama itu?," ujarnya. (Tempo, 08/07)

Teriakan lantang pula dilontarkan oleh Ferry Muryidan Baldan, anggota Komisi II (bidang pemerintahan daerah) mengutarakan berdirinya Partai GAM merupakan sesuatu yang harus dihindari karena bertentangan dengan semangat perdamaian di masyarakat Aceh serta dapat membuat” sekat” baru , katanya

Menurutnya, kehadiran partai politik lokal di Aceh diatur dalam UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh dan mengikuti pengaturan yang ada. GAM sebagai nama parpol lokal adalah sesuatu yang kontraproduktif dengan semangat perdamaian yang ada di Aceh.

“Bukankah adanya calon perorangan dan Parpol lokal adalah semangat reintegrasi masyarakat Aceh pasca konflik, termasuk pengampunan yang diberikan?,” tegasnya. (berita sore, 09/07)

Hal senada pula diungkapkan oleh Ketua Fraksi PKB DPR RI Effendy Choirie meminta pemerintah tegas terhadap pembentukan partai lokal di Aceh yang menggunakan atribut historis seperti GAM. “Saya kira itu harus ditumpas, karena lambang itu mencerminkan separatisme dan tidak sesuai dengan kesepakatan,” ungkapnya.

Langkah yang dilakukan oleh mantan GAM tersebut, dengan membentuk partai lokal yang menggunakan atribut dan bendera GAM sudah dianggap menyalahi aturan, jelasnya.

Padahal, kata Choirie, masyarakat Aceh sudah diberikan kebebasan mengelola dan mengatur wilayahnya sendiri. Misalnya, aturan Syariat Islam, pembentukan partai lokal, calon independen, pengelolaan keuangan, direhabilitasi,dan warga diberi tanah.

“Kalau itu dianggap kurang itu namanya ‘dikasi ati minta ampela’, jadi pemerintah harus tegas, cara seperti itu harus ditumpas dan jangan diberi ampun,” tambahnya. (www.e-bursa.com,09/07)

Kehadiran partai Lokal bagi Permadi, anggota Dewan menjelaskan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil dan mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin harus bertanggung jawab terhadap munculnya Partai GAM di Nangroe Aceh Darusalam.

“Kalau perlu Menteri BUMN itu dinonaktifkan dulu agar menyelesaikan masalah partai ini sehingga tak ada kekhawatiran di sana,” cetusnya.

Selain itu, munculnya Partai GAM di wilayah itu tak lepas dari lemahnya pemrintah terhadap gerakan-gerakan sparatis terutama GAM. Pemerintah terlalu mengalah terhadap GAM.

“Mereka berani berbuat seperti itu karena yakin pemerintah tak berani menindak,” tegasnya.
Padahal, lanjut Permadi, mereka itu tak ubahnya sebagai gerakan sparatis di wilayah lain seperti Papua Merdeka atau RMS. “Karena itu mestinya mereka pun harus ditangkap dan diperlakukan seperti pelaku-pelaku sparatis yang ditangkapi,” ungkapnya.

Kepada Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Permadi berpesan agar partai-partai yang mempunyai muatan sparatis seperti ini tidak perlu diverifikasi sehingga hanya akan menjadi partai papan nama atau partai liar yang tidak terdaftar. (Pos Kota, 09/07)

Tak mau ketinggalan polisi pun angkat bicara "Kita minta papan nama ini diturunkan atau setidaknya ditutup sebelum adanya legalitas dari Departemen Hukum dan HAM karena lambang itu selama ini dimaknai sebagai simbol perjuangan," kata Kapoltabes Banda Aceh, Kombes Pol Zulkarnaen.

Dalam MoU Helsinki poin 4.2 tentang Pengaturan Keamanan disebutkan GAM melakukan demobilisasi atas semua 3.000 personel pasukan militernya. Selain itu, anggota GAM tidak memakai seragam maupun menunjukkan emblem atau simbol militer setelah penandatanganan MoU. (www.antara.com,08/07)

Lain hanya dengan Indra J Piliang, pengamat politik dari CSIS menuturkan dideklarasikannya partai lokal tidak termasuk tindakan subversif. Penggunaan simbol dan nama GAM pun seharusnya tidak dipersoalkan sepanjang tetap dalam ranah politik.

Menurutnya, hal tersebut justru positif karena merupakan proses integrasi politik dari mantan anggota GAM. ''Tidak ada yang perlu dikhawatirkan berkaitan dengan pendirian Partai GAM,'' katanya.

Penggunaan kata GAM, tambahnya, seperti halnya nama partai atau gerakan masyarakat lainnya. Pendirian partai GAM tidak berkait dengan maraknya aktivitas separatisme beberapa waktu terakhir.

''Hal ini juga merupakan konsekuensi dari perundingan Helsinki tahun 2004 lalu. Siapa pun dapat mendirikan partai lokal di Aceh. Berbeda dengan wilayah lain di Indonesia,'' tambah Indra (Suara Merdeka, 09/07)

Tetep Pertahankan Atribut GAM
Kendati menuai protes dan larangan dari pihak kepolisian, Partai Gam tidak akan mengubah nama dan lambang partai. Pasalnya, penggunaan nama GAM dan lambang bulan bintang dinilai tidak melanggar nota perjanjian damai Helsinki.

Sekretaris Jenderal Partai Gam T.M. Nazar mengatakan, penggunaan bendera bulan bintang sebagai lambang partai sama sekali tidak bertentangan dengan semangat damai dan Nota Kesepakatan Damai yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, 15 Agustus 2005 lalu.

“Bendera bukan simbol militer. Jadi tanda gambar dan lambang Partai Gam yang serupa dengan bendera GAM bukanlah simbol militer GAM,” kata Nazar dalam konferensi pers di kantor Partai GAM di kawasan Jalan Tengku Imum Lueng Bata No 48 Simpang Surabaya, Banda Aceh, Ahad (8/7) siang.

Konferensi pers ini sengaja digelar untuk menanggapi pernyataan Kepala Poltabes Banda Aceh Komisaris Besar Zulkarnain sehari sebelumnya. Usai peresmian kantor partai, Zulkarnain mendatangi markas partai tersebut dan meminta supaya plang nama partai diturunkan atau ditutup, karena dinilai melanggar perjanjian damai. Kapoltabes Zulkarnain juga mengirim surat No B/10/VII/2007 yang berisi keberatan terhadap penggunaan nama GAM dan lambang bendera bulan bintang.

Nazar menambahkan, emblem dan simbol GAM yang dilarang, seperti yang tertuang dalam poin 4.2 MoU Helsinki adalah baret merah dan lambang senjata serbu AK-47. Penggunaan nama GAM, menurut Nazar, karena ini merupakan partai lokal yang didirikan oleh GAM. Selain itu, MoU juga mengamanatkan supaya GAM berpartisipasi dalam pembentukan partai lokal.

“Bulan April lalu kita sudah bicara tentang partai (lokal), untuk apa buat nama baru. Karena dalam aturan Mou GAM diajak berpartisipsi mendirikan partai politik lokal, dan kita berpartisipasi. Di belakang nama GAM kita tulis saja partai, jadinya Partai GAM,” jelasnya.

Tak hanya itu, Ibrahim Syamsuddin, seorang pentinggi GAM mengatakan GAM akan berkoitmen terhadap nama yang telah diberikan. “Apa pun kita tetap bertahan pada lambang ini, karena partai ini lahir dari GAM dan kita tetap mengunakan nama dan lambang GAM,” sebutnya.

Pembentukan partai ini sudah disetujui oleh Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat para petinggi GAM bertemu dengan mereka di Jakarta beberapa waktu lalu. “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla sudah menyetujui tentang pembentukan partai GAM ini,” katanya.

Ibrahim juga menjelaskan akan membalas surat dari Poltabes yang dikirim untuk Partai Gam. “Kita akan membalas surat dari Poltabes dengan memberikan penjelasan soal masalah ini,” ujarnya.(www.acehkita.com,08/07)

Kelemahan Pemerintah
Lepas dari persoalan sederetan agenda partai GAM. Yang jelas kehadiran gerakan separatis dalam bentuk apa pun merupakan petanda lemahnya pemerintah dalam soal ketahanan dan keamanan.

Tentunya, kesejahteraan dan ketidakadilan yang selalu timpang tindih menjadi modal tumbuh suburnya aliran-aliran anti-NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)
Jika perlakuan ini yang terjadi maka tunggulah kematian negara Indonesia. Satu persatu mulai memisahkan diri. Tak lain, karena ketidak becusan pemetindah dalam mensejahterakan masyarakat.

Sejatinya pemerataan pembanguna dan perbaikan perekonomi harus menjadi skala prioritas dengan komitmen yang kuat dan terus-menerus dipenghujung pemerintahan SBY-JK ini.
Bukan malas sibuk melarang kehadiran partai local. Apalagi memberangus keberlangsungan sekaligus kebebasan suatu masyarakat untuk berserikat dan berkelompok yang telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD). Ketidak bolehan menjalankan salah satu poin amanah dari perjanjian Helsinki, 15 Agustus 2005 apalagi. Ironis memang.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 09/07;22.29 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/10/2007 02:05:00 PM   1 comments
Suhuf (13)
Sunday, July 08, 2007
Sekali Lagi, Iman Minoritas Tertindas
Oleh Ibn Ghifarie

Sekali lagi, tuduhan 'sesat' terhadap kelompok minor pun terulang kembali. Entah, kesekian kalinya. Yang jelas pasca dikeluarkanya 11 fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kehadiran perbedaan selalu bermakna penyeragaman sekaligus berujung pada penistaan. Perbuatan tak lazim pula menjadi bagian yang tak bisa dipisahka lagi.

Kali ini, peristiwa naas itu terjadi pada kelompok pengajian alif di Blok D Vila Siberi Desa Banjarejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas sekaligus menjerumus kepada kegiatan teroris.


Dari Mushola Ke Soal Qunut dan Yasinan
Semula perseteruan itu berawal dari pemanfaatan mushola yang dialih fungsikan menjadi majelis taklim bernama alif. Tindakan ini terpaksa ditempuh warga sebagai langkah satu-satunya untuk menyelesaikan keributan akut tersebut. Seutas tali di mushola pun menjadi saksi bisu ketidak bebasan menjalankan ibadah. Sholat lima waktu apalagi, mengerikan bukan.

Kebebasan beragama harus dibatasi. Padahal negara menjamin warganya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran dan agama masing-masing.

Suyanto, pemilik tanah bersama sejumlah warga akhirnya memutuskan untuk membatasi penggunaan musala. Warga keberatan dan menentang lantaran tata cara beribadah kelompok ini tidak lazim. Bahkan mereka mencoba mengatur kegiatan musala.

Sejak berdiri tiga tahun silam musala Baitussalam memang sering dimanfaatkan oleh warga komplek dan sekitarnya. Selain ibadah salat warga juga menggunakan musala sebagai tempat pengajian.

Setahun setelah musala berdiri munculah kelompok Alif di bawah pimpinan ustad Agus Yulianto. Mereka menggelar pengajian setiap Ahad. Selama itu kegiatan golongan Alif tak pernah menuai masalah. Belakangan barulah sebagian warga merasa terganggu dengan kegiatan ini. `Kalau shalat tidak pakai doa qunut, Yasinan dan tahlilan apalagi` ungkap Darmaji, warga.

Ketidak hadiran qunut dalam sholat atau tradisi Yasinan dan tahlilan mendorong warga untuk melarang kelompok Alif menjalankan kegiatan di musala Baitussalam. Memagarai tajug pula menjadi jalan pamungkas supaya pengikut alif berhenti memanfaatkan Baitussalam.

Taman Kanak-Kanak Menjadi Pusat Kegiatanya
Di lain pihak, kehawatiran warga tak membuat aliran Alif menyudahi kegiatannya. Mereka berhijrah dari mushola ke sekolah taman kanak-kanak yang letaknya satu blok dari tajug.

Adalah Ustad Agus Yulianto, salah satu dosen Unnes (Universitas Negeri Semarang) menepis tudingan warga tentang ajarannya sesat.

Rasulullah SAW tidak mewariskan banyak aliran tapi hanya satu jalan. "Kami juga tidak pernah melarang warga baik secara lisan atau tulisan mengadakan kegiatan ke-Islaman," kata Agus.
Jamaah kelompok Alif pun tak menerima tuduhan tersebut. Menurut Anto, kelompok ini bukan aliran tapi sebuah tahlim yang diberi nama Alif. "Kami juga salat seperti biasa," ujar Anto. Bahkan, kata Wilis, selama mengaji banyak ilmu yang didapat. (liputan Enam, 07/07)

Tentunya, setelah memindahkan segala kegiatannya, cacian, makian bahkan tudingan miring kepada kelompok Alif mulai tak lagi terdengar.

Mushola Milik Umat Islam.
Kendati demikian, Departemen Agama Kendal pun angkat bicara soal gerakan ganjil tersebut. Kepala Depag Kabupaten Kendal, H Wahid Hasbi, menyatakan, kejadian ini bukan menyangkut aliran sesat tapi hanya salah paham. "Dalam kasus ini kami hanya bertindak sebagai mediator. Tidak memihak ke pihak manapun," kata Wahid.

Tak hanya itu, jalaur musyawarah pula ditempuh dalam menengarai kemelut tersebut. Pertemuan Jumat (22/6) malam lalu Kades Banjarejo, Kusnoto bersama muspika menggelar pertemuan di balai desa dengan mendatangkan perwakilan warga dan pengurus jamaah pengajian Alif.

Saat pertemuan, suasana di luar balai desa tegang. Sebab ratusan warga perumahan dan desa tetangga seperti dari Desa Pasigitan, Klendo, Sakelit, dan Jetin, juga berdatangan. Mereka menggunakan mobil bak terbuka dan ratusan sepeda motor. Berbagai teriakan menghujat pelarangan shalat di mushala itu dilontarkan. Aparat kepolisian dari Polsek Boja dan Polsekta Gunungpati terlihat mengamankan situasi.

Ketika adu pendapat itu, Mbah Yanto sang pemilik tanah, menyatakan dirinya sepakat membuka kembali mushala tersebut. "Tapi tidak boleh ada suatu aliran tertentu yang menguasai mushala. Tempat ibadah ini untuk semua masyarakat," tuturnya

Warga bersorak girang saat Kusnoto mengumumkan hasil pertemuan. Bahwa mushala yang dibangun atas swadaya warga itu dibuka untuk umum, tidak dikuasai oleh kelompok tertentu.
Malam itu juga, sambil mengumandangkan salawat, warga berjalan kaki sekitar 500 meter menuju mushala untuk membongkar pagar bambu yang mengelilingi. Kumandang salawat juga terdengar saat sejumlah warga dan tokoh masyarakat masuk ke mushala.

"Sekarang siapa saja boleh shalat di mushala ini. Anak-anak juga bebas belajar mengaji di sini. Warga juga boleh membaca Surat Yasin dan Tahlil. Ini sesuai hasil pertemuan Jumat (22/6) malam," tutur Suroko, warga RT 4 RW 4 perumahan itu.

Menurut dia, sebelumnya puluhan warga terpaksa menyegel tempat ibadah itu setelah muncul berbagai keluhan dari sejumlah warga yang tidak boleh shalat oleh kelompok jamaah tertentu. Bahkan anak-anak sekitar perumahan itu tidak diperkenankan belajar mengaji. Warga kemudian menyegel mushala dengan cara membuat pagar bambu keliling. (Suara Medeka, 24/06)

Maraknya aksi 'penertiban' keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas terhadap minoritas. Sudah tentu 'mengamini' adagium homo homoni lupus . Siapa yang kuat dia pasti berkuasa.
Terlebih lagi, saat para ulama `bermain mafa` dengan para penguasa. Niscaya keragaman menjadi sesuatu yang mustahil ada. Bahkan perbedaan pendapat menjadi malapetaka yang sangat menakutkan.

Dengan demikian, wajah Islam ramah, toleran, menyapa perbedaan rahmatan lil alamian dan islam li kulli makan wa zaman pun tak menjadi pameo umat islam, malah beralih menjadi bengis, beringas dan menyeramkan.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere 25/06;13.23 dan 07/07;23.36 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/08/2007 04:10:00 PM   0 comments
Suhuf (12)
Sisi Lain Kenaikan Susu
Oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah meroketnya harga minyak goreng dan himpitan kekurangan gizi yang tak kunjung berkesudahan. Kini, dalam urusan susu saja warga Indonesia harus rela antri sepanjang beberapa meter untuk mendapatkannya.

Lebih mengerikan lagi, setelah ikut dalam barisan susu yang dicari pun tak kunjung juga. Kalau pun ada harganya bisa selangit.

Ironis memang. Betapa tidak. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan banyak hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah tidak membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap saja dalam wajah lamanya. Yaitu miskin dan tak berdaya.

Hamparan hutan luas tak membuat binatang ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat huntanya gundul. Tentunya, banjir tak terelakan lagi.

Belum lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari lagi.

Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar. Dan kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.

Sebutan Negeri agraris pula tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti Thailand dan Vietnam.

Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?

Tak hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar.

Kenaikan Susu Meresahkan Warga
Kenaikan harga susu, khususnya susu bayi formula terjadi di beberapa pasar dan toko swalayan di sejumlah daerah. Di Jakarta, sejumlah pedagang mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga susu. Namun, diperkirakan kenaikan harga susu ini akan terus berlanjut secara bertahap.

Hal senada diungkapkan Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Thomas Dharmawan. Thomas memperkirakan kenaikan harga susu ini akan terus terjadi hingga 2008. Menurut Thomas, kenaikan susu tersebut dipicu oleh menurunnya produksi susu di luar negeri. Padahal, 70 persen kebutuhan susu dalam negeri berasal dari impor.

Kenaikan harga susu juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Merambatnya harga susu membuat orangtua resah karena kenaikan tidak hanya pada susu impor, tapi juga susu lokal. Susu impor bermerek yang paling murah saat ini sekitar Rp 150 ribu per 900 gram dari sebelumnya sekitar Rp 115 ribu.(www.metritvnews.com, 29/06)

Air Tajin Jadi Pilihan
Melonjaknya harga susu membuat masyarakat berputar otak. Seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu di Panceng, Gresik, Jawa Timur, dengan mencampur susu untuk anaknya dengan air beras yang baru saja dimasak atau air tajin. Memberi minum balita dengan air tajin memang telah menjadi kebiasaan warga setempat sejak lama.

Namun, kebiasaan lama itu baru kembali dilakoni Mawartik sejak sepekan terakhir. Setiap kali usai memasak nasi, warga Panceng ini selalu mengambil air tajin untuk kemudian dicampur dengan susu anaknya. Komposisinya, seperempat botol susu dicampur dengan tiga perempat air tajin. Langkah tersebut diakui wanita ini sangat membantu menghemat pengeluaran keluarga, khususnya untuk membeli susu sang anak.

Menyoal kenaikan susu itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu justru menyatakan kenaikan harga susu yang terjadi saat ini masih tergolong normal.

Lain halnya dengan Fahmi Idris, Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya mengatakan masalah itu bukan wewenangnya. Seharusnya pertanyaan mengenai kenaikan harga susu serta kebijakan apa yang harus diambil lebih tepat ditujukan ke Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga enggan memberikan penjelasan. Dia ingin mengetahui secara pastu permasalahnnya. "Tentunya produsen dan distributor yang mengetahui soal ini," kata Mari Elka. (www.liputan6.com)

Kendati kenaikanya tak begitu tingggi hanya 10 persen. Tetap saja dapat meresahkan wong cilik. Seperti yang diuratakan Ardiansyah Parman, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri "Tidak ada alasan itu (menaikkan harga hingga lebih 10 persen). Karena mereka harus memperhitungkan daya beli masyarakat. Kalau terlalu tinggi dan tidak terserap masyarakat produsen akan rugi," ujarnya.

Seperti diberitakan, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia memperkirakan harga susu bakal naik maksimal 15 persen hingga akhir tahun ini. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak mengantisipasi dampak kekeringan di Australia, negara asal impor bahan baku susu Indonesia (Koran Tempo, 3/7).

Ketua Umum Industri Pengolahan Susu (IPS) Abdullah Sabana juga memastikan kenaikan harga susu dan produk turunannya tidak akan lebih dari 10 persen. "Sebab stok ada di pasar hingga tahun depan. Dengan efisiensi, kami dapat meredam kenaikan harga bahan baku ini, sehingga kenaikan tak lebih dari 10 persen," katanya.

Faktor utama lainnya, kata Abdullah, adalah pergantian musim di Australia sehingga sangat kondusif untuk menurunkan harga bahan baku susu. "Menjelang akhir tahun kemungkinan besar harga bahan baku akan turun, di Australia mulai akan turun hujan," ujarnya.

Kalaupun ada lonjakan harga bahan baku yang sangat tinggi ke depan, dia memastikan, hal itu tidak langsung berdampak pada kenaikan harga susu. Sebab, porsi harga bahan baku terhadap biaya produksi bervariasi dan tidak besar dibandingkan faktor lainnya. "Biaya yang timbul tidak hanya dari susu, tapi dari pengemasan, energi, ongkos produksi di pabrik, upah karyawan, dan sebagainya," kata Abdullah.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Kelautan dan Perikanan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah akan melakukan pemberian susu melalui program pos pelayanan terpadu (posyandu). "Khususnya pemberian susu dan makanan tambahan bagi bayi di bawah tiga tahun (6 bulan-3 tahun) kepada masyarakat berpendapatan rendah," katanya. Pengeluaran masyarakat untuk susu, kata dia, hanya 0,5 persen atau lebih rendah dari pengeluaran untuk minyak goreng.

Di tempat terpisah Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pihaknya kemungkinan akan melakukan operasi pasar susu. Saat ini, kata dia, jajarannya sedang mempertimbangkan mekanisme yang akan dipilih.

Operasi pasar, kata Siti, merupakan salah satu opsi yang kemungkinan akan dipilih untuk mengatasi tingginya harga susu. Dia mengaku juga sedang mempertimbangkan membuat program susu murah untuk rakyat. Fokusnya adalah pada anak balita. "Tapi masih saya pikirkan," katanya (Tempo,04/07)

Sisi Lain Kenaikan Susu
Di lain pihak, kenaikan harga susu dapat menggairahkan para peternak sapi perah di sentra produksi susu murni di Indonesia karena mereka bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual komoditas andalannya itu.

"Kenaikan harga susu murni memang sudah saatnya setelah selama 12 tahun stagnan. Para peternak sapi perah saat ini bisa menikmati kenaikan rata-rata Rp700 per liter susu. Yah sesekali mereka merasakan keuntungan," kata Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Deddi Setiadi di Bandung, Selasa.

Ia menyebutkan harga susu saat ini berkisar Rp3.500 hingga Rp3.900 per liternya. Padahal harga biasanya berkisar Rp2.800 hingga Rp3.600 per liter susu di tingkat koperasi.

Deddi menyebutkan, kenaikan yang terjadi saat ini, bagi para petani sebenarnya belum mencapai angka "break event point" (BEP) dari biaya per liter susu sapi bila dihitung dari biaya pakan, obat-obatan dan upah kerja.

"Tidak fair jika pemerintah minta menekan harga susu dari peternak tanpa ada upaya untuk meningkatkan pendapatan mereka, sedangkan di lain pihak impor susu terus dilakukan," katanya.

Ia menyebutkan, kenaikan harga susu yang terjadi saat ini merupakan kesempatan `langka` bagi para peternak sapi untuk mendapat keuntungan atau minimal menambah modal kerja bagi mereka. (Antara, 03/07)

Sejatinya, kenaikan harga susu tak selamanya dapat mengecewakan warga. Malahan bisa bermakna bahagia. Betapa tidak, semula para peternak hanya bisa menjual susu perahnya kepada para tengkulak dengan harga minim.

Kini, dengan melejitnya harga susu dapat mengahairahkan para pengembala. Tentunya, prodak dalam negeri menjadi tumpual masyarakat. Yang selama ini tersisihkan. Hingga tak dikenal lagi. Akibat derasnya arus modernitas dan gaya hidup gelamor.
Dengan demikian, sudah saatnya warga negara beserta pemerintah mencintai hasil karya anak bangsa. Bukan malam memperburuk kondisinya. Yakni dengan mengkonsumsi susu buatan luar negeri. Semoga.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 05/07;23.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/08/2007 02:53:00 PM   1 comments
Suhuf (11)
Wednesday, July 04, 2007
Buah Simalakama Itu Bernama Kemiskinan dan Ketidakadilan
Oleh Ibn Ghifarie

Maraknya aksi terang-terangan yang dilakukan oleh gerakan separatis di Indonesia Timur membuat kebakaran jenggot pemerintahan SBY-JK. Betapa tidak, tragedi pengibaran bendera RMS (Republik Maluku Selatan) di Lapangan Merdeka, Ambon saat peringatan Harganas (Hari Keluarga Nasional) Ke-14, jumat (29/06) oleh 25 pemuda Maluku yang membawakan tarian perang Cakalele dengan perlengkapan tari berupa golok dan tombak hingga 30 meter lurus di hadapan Presiden.

Selang dua hari peristiwa serupa pun terjadi di penjara Abepura, para napi politik Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mendekam di situ mengibarkan bendera Bintang Kejora di atas atap penjara dengan gampang.

Kehadiran gerakan konservatif itu bukan kali pertama. Sejak awal kemerdekaan kelompok-kelompok anti Indonesia acapkali terjadi dan setiap itu pula keberadaan mereka sering dianggap sebagai kejahatan sebagai kejahatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, harus dilawan sekuat tenaga dan dengan segala cara.

Tengoklah, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terhadap para penguasa. Hingga bisa meredam di atas nota kesepakatan kerjasama (MOU) Helsingky.

Pencopotan Petinggi Tak Menjadi Solusi Arif

Tak pelak, pencopotan para petinggi Kodam Patimura, Kapolda, Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) beserta jajaranya dan Gubernur Maluku bersama istrinya, selaku panitia penyelanggara.

Kendati belum ada keterangan dari Mabes TNI mengenai siapa pejabat keamanan yang akan dicopot. Yang pasti, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan akan memberikan sanksi kepada anak buahnya yang mengakibatkan acara di Maluku tersebut kecolongan.

Gubernur Karel Albert Ralahalu akan dimintai keterangan oleh DPRD Maluku hari ini. Menurut Ketua DPRD Richard Louhenapessy, pihaknya juga akan mendengar keterangan dari panitia penyelenggara serta aparat keamanan.

"Inti rapat bersama itu, dewan menanyakan mengapa sampai terjadi insiden tersebut dan berbagai isu yang berkembang pascainsiden. Termasuk, seputar keterlibatan As I Sekda Maluku dan sejumlah kepala desa dalam insiden tersebut," ungkapnya. (Jawa Pos, 03/07)

Benarkah dengan dilepas jabatan para petinggi di Maluku dan Papua dapat menyelesaikan persoalan pelik itu. Tentu jawabanya tidak. Malahan akan memperburuk keadaan kinerja pemerintah di tengah-tengah kritis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin.

Sekali lagi, pencopotan para penguasa eselon I ini malah akan memperburuk keadaan bumi pertiwi. Terlebih lagi bagi BIN (Badan Intelejan Nasional). Kehadiran badan ini dapat mendetekti gelombang karut-marut aksi para kelompok anti pancasila. Bukan malah sebaliknya. Membidani gelongan tertentu. Ironis memang.

Inilah bangsa Indonesia. Semuanya serba instan. Penyelesaian pelbagai permasalahan pula serba dadakan dan bersifar reaksioner. Sudah tentu tak ada pendeteksian sejak dini terhadap aliran-aliran ganjil tersebut.

Kemiskinan dan Ketidak Adilan Menjadi Buah Simalakama.

Berkenaan dengan peristiwa memalukan sekaligus tamparan bagi pemerintah itu, akar persoalnya bukah hanya pada persoalan kuatnya kaderisasi dan ikut campur negara-negara lain guna memperburuk keadaan Indonesia. Yang jelas Indonesia sedang diambang ke hancuran dan tinggal menunggu waktunya.

Adalah kemiskinan dan ketidakadilan menjadi pemicu keberadaan tragedi demi tragedi tersebut. Terlebih lagi, pemerataan pembangunan hanya bersifat jawa sentries. Di luar kepulauan Jawa sarana dan prasarana sangat nimim sekali.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data yang membesarkan hati. Survei terbaru BPS menunjukkan penurunan jumlah orang miskin di Indonesia sebesar lebih dari satu persen, yaitu dari 39,30 juta orang miskin pada Maret 2006 (17,75%) menjadi 37,17 juta (orang miskin) pada Maret 2007 (16,58%). Penurunan jumlah orang miskin ini semakin nyata karena terjadi pada saat angka garis kemiskinan dinaikkan sebesar 9,6%. Yaitu dari Rp151.997 per kapita per bulan (Maret 2006) menjadi Rp166.697 per kapita per bulan (Maret 2007).

Bagi kalangan pengamat, angka tentang jumlah orang miskin ini bertentangan sangat kuat dengan realitas. ''Rasanya hidup semakin sulit, pendapatan merosot, pengangguran bertambah, sektor riil tidak berkembang, program untuk orang miskin dikurangi dan banyak salah sasaran, harga barang kebutuhan pokok melonjak, kok jumlah orang miskin justru berkurang,'' begitulah pikiran di kalangan pengamat yang kurang percaya.

Setiap kali BPS mengeluarkan data tentang jumlah orang miskin, selalu saja muncul kecurigaan. Bila angka kemiskinan naik, marah. Jika angka kemiskinan turun, juga marah. Bila kemiskinan naik, yang marah pemerintah. Bila kemiskinan turun, yang kecewa dan curiga adalah kelompok yang kritis terhadap pemerintah atau oposisi. (Editorial, 04/07)

Sejatinya pemerataan pembanguna dan perbaikan perekonomi harus menjadi skala prioritas dengan komitmen yang kuat dan terus-menerus dipenghujung pemerintahan SBY-JK ini. Bukan malas sibuk mencari kambing hitam atas perbuatan memelukan tersebut.

Namun, tak hanya pemerintaha saja yang terlibat dalam meminilalisir kejadian anti NKRI itu, tapi masyarakat pula harus ikut andil dalam mewujudkan bangsa mandiri. Yakni dengan cara membuka lapangan kerja.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere 30/06;23.35 wib dan 04/07;06.42 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/04/2007 12:05:00 PM   2 comments
suhuf (10)
Monday, July 02, 2007
Kala Beda Pemahaman Menjadi Malapetaka
Oleh Ibn Ghifarie

Apapun alasanya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik. Riridhoi oleh Tuhan apalagi.

Terlebih lagi, hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat islam (Al-Quran dan Al-hadis). Rasanya tak pantas bila kita menyelesaikan persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya perbuatal llaim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus modenitas dan lemahnya keimana acapkali perlakuan tak terpuji itu menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan yang dihadapi.

Di tengah-tengah keterpurukan umat islam dan krirsis kepemimpinan. Masih banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas.
Adalah budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Islam Sejati Menuai Badai
Salah satunya aliran Islam Sejati, di Desa Nyompok, Kecamatan Kopo, Serang Banten.

Konon, kemunculan pemahaman ini dianggap meresahkan masyarakat, hingga menafikan Tuhan. Pasalnya, mereka mengajarkan pemahaman diantaranya; Pertama, Sholat menghadap 4 arah mata angin, yakni utara, barat, timur dan selatan. Salah satu alasanya karena perbuatan ini dikenal sebagai Sholat Mencari Rezeki. Kedua, Sholatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam sehari. Ketiga, Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya.

Hery dan Ahyari merupakan kedua tokoh Islam Sejati. Namun, saat dimintai keterangan mereka sedang tak ada ditempat. Kecuali Ammah, istri Ahyari. Ammah mengaku hanya sempat dua kali mengikuti ajaran suaminya. "Menurut Ahyari, ritual itu hanya sebuah doa. Tapi, kata Hery, itu adalah cara sembahyang," ujar Ammah.

Lantaran caranya tidak masuk di akal, Ammah segera keluar dari ajaran tersebut. Meski untuk itu, dia terpaksa harus bertengkar dengan suaminya. "Hery juga marah-marah karena saya tidak mau diajak ke jalan yang benar," kata Ammah.

Senada dengan Amanah. Titin, isteri Heri menuturkan, mereka juga meminta ditunjukan cara salatnya. Lebih mengejutkan lagi, Titin juga mempraktikan cara mandi dengan menggunakan air kelapa. Menurut dia, ini adalah cara suaminya dan Ahyari membaiat para pengikutnya. (Tim Derap hukum SCTV)

Kala Beda Pemahaman Menjadi Malapetaka.

Kendati tak diperlakukan semena-mena. Pengikut aliran ini mendapatkan bimbingan lebih dari pemuka agama setempat. Termasuk MUI menjadi juru selamat atas perbuatan ganjil ini. Hingga memberikan pengajaran dua halimah syahadat lagi kepada mereka supaya bersyahadat lagi. Karena mereka telang dianggap menyimpang dan keluar dari islam.

Padahal Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan sabdanya” mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai Rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita. Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih mudah dikendalikan dan teratur.

Berkenaan dengan pemahaman sholat tiga waktu (Subuh, Dzuhur dan Magrib). Bila kita mencermati al-Quran, maka kia akan menemukan landasan ketiga waktu shalat itu. Yakni gurubis syamsi (saat pertengahan matahari; dikenal dengan waktu Dzuhur), ghosakol lain (saat ufuk merah menyongsong; disebut magrib) dan turuil fajri (saat fajar datang; akrab dengan sebutan subuh).

Memang bila kita hanya mengikuti al-Qur’ana semata. Maka perintah sholah pula hanya cukup tiga waktu saja. Sama halnya dengan kelompok Syiah, pengikut keluarga Ahul Bait. Mereka tak menganal lima waktu sholat, tapi tiga.

Benarkah Fatwa MUI Bisa Menjadi Obat Mujarab Atas Keresahan Masyarakat?
Namun, ceritanya akan lain bila penguasa hanya mengamini satu madzhad tertentu. Tentunya, diluar kelomponya harus diberanguskan dari muka bumi ini.

Begitupun dengan kehadiran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten yang menyatakan bahwa paham atau ajaran tersebut sesat. "MUI Banten mengeluarkan fatwa bahwa Islam Sejati adalah aliran sesat," kata Ketua Bidang Fatwa MUI Banten KH Mas'ud di Serang, Selasa (15/5) kemarin.

Ajaran ’Islam Sejati’ sebelum ini berkembang di Kampung Curaheum, Desa Pasindangan, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak. Aliran ini mengajarkan cara ibadah dan ajarannya tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadis. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten menyatakan bahwa paham atau ajaran tersebut sesat.

Dalam kegiatan peribadatannya mereka melakukan shalat tiga waktu yakni Dzuhur, Magrib dan Shubuh tanpa menghadap kiblat dan tanpa harus berwudlu. Selain itu, mereka juga dalam mengerjakan shalat hanya dilakukan dengan sujud kesebelah timur dan terus berputar sampai sebelah utara dan bacaan dalam shalatnyapun berbeda dari biasanya. Ajaran lainnya mereka juga melarang melakukan shalat Jumat dan mengeluarkan zakat 25 persen serta berpuasa sahur dilakukan pada jam 24.00.

"Dari tujuh orang penganut Islam Sejati yang sudah dimintai keterangannya, mereka mengatakan hal yang serupa dan tidak ada motif untuk mengikuti ajaran tersebut kecuali tergiur oleh penjelasan yang diberikan gurunya," kata KH Mas'ud.

Dengan demikian, meskipun belum dibuat secara tertulis, MUI Banten menyatakan bahwa aliran Islam Sejati tersebut adalah ajaran sesat dan sudah meminta kepada para pengikut ajaran tersebut kembali kepada ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, MUI Provinsi sudah meminta kepada MUI di tingkat kecamatan se-Kabupaten Labak, khususnya di Kecamatan Cileles agar terus mengawasi dan memantau perkembangan faham atau ajaran yang menyesatkan warga tersebut.

MUI juga meminta kepada semua penganut ajaran ’Islam Sejati’ tersebut untuk kembali kejalan yang lurus, dan meninggalkan semua ajaran tersebut karena dinilai sudah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya. (www.hidayatullah.com)

Sejatinya kehadiran pewaris nabi harus menjadi perekat sekaligus memperkuat temali silaturahmi antar golongan dalam umat islam, bukan memperburuk kondisi masyarakat.

Tak lain guna menghargai satu sama lain dalam bertukar fikiran. Dengan munculnya Fatwa MUI itu tak ada jaminan akan memperbaiki ukhuwah diantara kedua aliran tersebut. Malahan akan menyulitkan persoalan akut itu. Hingga terjadilah budaya saling bunuh-membunuh.
Dengan demikian, mari kita sama-sama belajar menghargai perbedaan pendapat, baik dalam kelompok maupun diluar golonganya.

Jika perbuatan beradab itu tak menjadi bagian keseharian kita maka tunggulah perpecahan di umat muhammad ini. Thus, kaum iman minoritas pun menjadi satu kelompok yang terpingirkan lagi.

Satu bukti tersingkirnya mereka dari penguasa mayoritas adalah saat penamaan aliran Islam sejati saja, mereka baru mengetahuinya dari media dan pengikut setia Hery dan Ahyari ini tak pernah mengatsnamakan dirinya sebagai islam sejati. ‘Saya juga tidak tahu yang namanya Islam sejati. Ketemunya juga di koran,’ kata Ammah.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/06;23.14 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/02/2007 02:41:00 PM   1 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.