'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (14)
Thursday, January 31, 2008

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Chin [Cina]. (peribahasa)

RASANYA tak berlebihan bila petuah di atas mengingatkan kita untuk tetap berusaha mencari ilmu pengetahuan, sekalipun jauhnya ke negara Cina. Menuntut ilmu merupakan satu kewajiban bagi umat Islam (hadis).

Kehadiran Hari Raya Imlek layak pula kita jadikan momentum evaluasi secara bersama, mulai dari nilai dinamika keberagamaan (antar, intra) kita, sampai sistem pemerintah. Membicarakan perayaan masyarakat Tionghoa, khususnya di Indonesia, sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari sosok pejuang-gigih risalah Tuhan—yang mulai kita lupakan.

Adalah Laksamana Cheng Ho atau lebih dikenal dengan sederetan nama Cheng Ho, Hanyu Pinyin, Zhèng Hé (Wade-Giles), atau Haji Mahmud Sam Po Kong (1371 - 1435). Cheng Ho merupakan seorang kasim Muslim, pelaut sekaligus penjelajah Cina terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara 1405-1433, saat kaisar Tiongkok Yongle (berkuasa tahun 1403-1424) sebagai kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Ia berasal dari Provinsi Yunnan, bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, tapi beragama Islam. Kala pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan dijadikan orang kasim. Kali pertama Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk menikah dengan Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).

Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande pada 1426-1435) ke beberapa daerah dan negara di Asia dan Afrika, di antaranya Vietnam, Taiwan, Malaka/bagian dari Malaysia, Sumatra/bagian dari Indonesia, Jawa/bagian dari Indonesia, Sri Lanka, India bagian Selatan, Persia, Teluk Persia, Arab, Laut Merah, ke utara hingga Mesir, Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik (www.wirahma.com).

Dalam khazanah keislaman, kehadiran Cheng Ho di Indonesia telah memunculkan wacana baru studi keislaman Indonesia. Cheng Ho berperan besar dalam pergolakan politik kerajaan-kerajaan di Jawa. Setidaknya, Cheng Ho berperan dalam membangun kerajaan Islam Demak pada tahun 1475, serta memiliki andil besar dalam keruntuhan Majapahit.

Selama ini yang kita kenal kehadiran Islam di Indonesia biasanya dikaitkan dengan dua teori besar yakni teori Arab dan India. Literatur "padang sahara" mengatakan Islam masuk Indonesia langsung dari tanah Arab, tepatnya Hadramaut. Kali pertama teori ini dipopulerkan oleh Crawford--diikuti oleh sejarawan Indonesia seperti Mukti Ali dan Buya Hamka. Sementara teori India (Gujarat) dipopulerkan oleh Snouck Hurgronje (atau Abdul Ghofur).

Prof. Dr. Abdul Jamil, Rektor IAIN Walisongo Semarang dalam Perayaan Festival Cheng Ho (2005) menuturkan, Cheng Ho berperan dalam proses panjang islamisasi di Nusantara, sekaligus persahabatan antarbangsa dan kerukunan masyarakat. Menariknya lagi, misi misi utama pelayaran Cheng Ho adalah menjalin persahabatan. Jika ada aspek dakwah, hal itu harus dilihat dalam perspektif makro, tidak seperti model dakwahnya para Wali Songo yang menghasilkan banyak konversi agama. Oleh karena itu, jika ada nuansa Islam dalam melaksanakan misi kenegaraan itu, pada hakikatnya merupakan hasil samping karena tanggung jawab seorang Muslim untuk berdakwah meski hanya satu ayat.

Pendeknya, kalau memakai istilah sekarang, dakwah yang dijalankan oleh Cheng Ho adalah model dakwah bil hal, dakwah dengan contoh perilaku, karena yang dikembangkan merupakan inti untuk memperkuat kerukunan seperti juga yang menjadiinti ajaran agama Islam. (Republika, 5/8/2005)

Laksamana Cheng Ho meninggal pada 1435 dalam perjalanan pulang dari Afrika Timur ke Cina. Ia dimakamkan di Niushou, Nanking (Nanjing). Ia kemudian menjadi peletak dasar orang-orang Cina ikut "bermain" dalam pemerintahan di kerajaan-kerajaan Jawa. Cheng Ho dipercaya mengunjungi Majapahit pada 1406, setahun setelah pelayarannya dari Cina.

Di tengah keterpurukan bangsa dan maraknya konflik antarumat beragama, sebuah keharusan membumikan pesan-pesan luhur Sam Po Kong, saat tiba Hari Raya Imlek Cia Gwee Che It 1 Imlek 2259. Gong Xi Fa Cai ....!! (Ibn Ghifarie, mahasiswa Studi Agama-agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan pegiat Khazanah Tionghoa)***
Penulis:[PR Kampus, 31/01/08]

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/31/2008 11:40:00 AM   0 comments
Kitab (13)
Wednesday, January 30, 2008
Kata Mereka; Pahlawan Nasional Bagi Soeharto
Oleh Ibn Ghifarie

Pemberian gelar pahlawan bagi almarhum mantan Presiden RI Soeharto menuai ragam pendapat, diantaranya;

‘Ya iyalah. Kan Bapak Pemabangunan. Kita bisa lihat hasil pembanguanya dari bangunan jalan (dari kota ke pedesaan-red), gedung menjulang tinggi. Kendati banyak menjual aset-aset negara dan hak kekayaan alam nusantara (hutan, kebun)’, Hikmat Servis Komputer.


Setuju. Karena telah bersaja pada bangsa. Yang terpenting lagi keberhasilan suatu bangsa diliat dari sejauh mana kesejahtraan rakyatnya. Nah, jika dibandingkan dengan kepemimpinan (Predsiden-red) sekarang. Soeharo jauh lebih membahagian rakyat ketimbang Presiden sekarang. Makanya sudah selayaknya mendapat gelar Pahlawan Nasional itu, Ogi Pelajar

Sudah selayaknya pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional terhadap Soeharto. Sebab telah berjasa dan termasuk putra terbaik bangsa, Dani Karyawan Markeeting

‘Bagi saya ga usah dimasukin kapada Pahlawan Nasional. Masa orang yang telah banyak membunuh masyarakat, seperti tragedi Tanjung Priok, G 30 SPKI, mau dikategorikan pahlawan. Lantas dimanakah hati nuraninya? Dian Aktivis Pergerakan Mahasiswa.

Nya kedah dileubetkeun atuh. Kumargi parantos berjasa pisan kan nagara urang. Cing cobi emut-emut waktos zaman Bapak Ato tara aya anu demo, kaributan jeung sajahtera [Ya mesti dimasukin. Karena telah berjasa terhadap negara kita. Tolong kita ingat kala pemerintahan Bapak Suharto jarang ada demo, keributan dan sejahtera], Udin Pedagang Kecil. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kelam, 30/01/08;17.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/30/2008 04:37:00 PM   3 comments
Kitab (12)
Pemerintahan DEMA; Kemunduran Besar
Oleh Ibn Ghifarie

Setelah pertemuan antara Pudek (Pembantu Dekan) III tiap Fakultas (Filsafat dan Teologi, Tarbiyah dan Pendidikan, Adab dan Humaniora, Syariah dan Hukum, Dakwah dan Komunikasi, Psikologi, Sains dan Teknologi) dengan perwakilan mahasiswa (HMJ [Himpunan Mahasiswa Jurusan] dan Ketua Kosma [Komisariat Mahasiswa] ) tentang penerapan sisitem pemerintahan mahasiswa (Student Good Govermance) di kalangan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, sepekan yang lalu.

Perubahan sistem dari BEM (Badan Eksekutive Mahasiswa) ke DEMA (Dewan Mahasiswa) dan SEMA (Senat Mahasiswa) menuai pelbagai kritik. Pasalnya, keberadaan DEMA dianggap memberangus kebebasan demokrasi mahasisa, hingga dikategorikan mundur jauh kebelakang.

Salah satu mahasiswa angkat bicara, Farid mahasiswa Sosiologi menjelaskan ‘Sistem ini (DEMA-red) masih dalam tahan percobaan dan tak jelas aturan mainya. Masa kita mau dijadikan kelinci percobaan?

Silahkan lihat kriteria seorang Pemimpin pada Bab V Pasal 8 point 3, 4 dan 5 (tentang Kepengurusan, Anggota dan Cara Bakti-red). Di sana tertulis IPK minimal 3, 25 dan minimal semester V dan maksimal VII. Harus mendapat Rekomendasi dari Ketua Jurusan, Pudek Tingkat Fakultas, Ketua Bidang Mahasiswa untuk Sekolah Tinggi, Purek (Pembantu Rektor) untuk tingkat Universitas. Rekomendasi untuk calon ketua diatur oleh masing-masing pemimpin Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), jelasnya.

Selain itu, dalam hal sanksi Dosen, Karyawan berhak memberikan hukuman. ‘Masa tukang sasapu bisa mere hukuman [Masa klinik servis berhak memberikan sansi kepada mahasiswa yang melanggar], tambahnya.

Pernyataan senada juga dilontarkan oleh Fauzi, Presiden Mahasiswa Perbandingan Agama ‘Iya nih masa karyawan bisa memberikan sanksi bagi yang melanggar atauran main DEMA tersebut’.

Menyinggung perubana nama dari KBM (Keluraga Besar Mahasiswa) ke Senat Mahasiswa, masih menurut Fauzi ‘Secara labeling (penamaan-red) kita sepakat, tapi soal kebijakan dan aturan main kita tidak,’ tegasnya.

Sudah jelas aturan ini bisa memperburuk dan memberangus kreativitas mahasiswa. ‘Waktu memakai sistem BEM saja masih sedikit mahasiswa yang peduli. Apa jaminan dari DEMA mahasiswa lebih peduli. Yang ada hanya pembunuhan karakter mahasiswa, cetusnya.

Keluarnya keputusan Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia No Dj. i/253/2007 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Islam (PTAI). Bagi saya yang jadi persoalan aturan ini keluarnya surat edaran ini sekitar bulan juli 2007, ‘Ko baru dibicarakan dan berusahan disosialisasikan bulan sekarang (januari 2008-red). Ada apa nih?, keluh Siti Yasmin mahasiswa Sejarah Peradaban Islam.

Yang jelas aturan ini sangat kaku dan memasung kebebasan mahasiswa. Jika tetap berusaha untuk dilendingkan ini kemunduran besar bagi Universitas, ujarnya.

‘Inilah gaya baru pemertiban aktivitas mahassiswa. Kaya Orde Baru saja ada NKK dan BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus (1978) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (1980-red). Pokoknya neo-NKK bagkit lagi’, kata salah satu mahasiswa lainya. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Wartel, 29/01/08; 20.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/30/2008 03:34:00 PM   0 comments
Kitab (11)
Monday, January 28, 2008
Mahasiswa UIN SGD Bandung Angkat Bicara Soal 7 Hari Berkabung Nasional
Oleh Ibn Ghifarie

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan kantor pemerintahan dan kantor perwakilan RI di luar negeri mengibarkan bendera setengah tiang dari tanggal 28 Januari hingga 2 Februari 2008.

Pemerintah juga menyatakan sebagai hari berkabung nasional selama 7 hari atas wafatnya mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Demikian dikemukakan Mensesneg Hatta Rajasa, dalam jumpa pers di Kantor Sesneg Jln. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (27/1).

Presiden atas nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi menyampaikan belasungkawa atas wafatnya H.M. Soeharto. Presiden mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada salah satu putra terbaik bangsa. SBY juga mengajak umat Islam membacakan surat Al-Fatihah.

"Kita semua berduka dengan wafatnya Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, karena sakit. Atas nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi, saya mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak Haji Muhammad Soeharto," kata Presiden Yudhoyono dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Minggu (27/1).

Keluarnya Pernyataan sikap Presiden selaku Kepala pemerintahan Indonesia menuai perbagai macan komentar masyrakat. Khususnya dikalangan Civitas Akademikan UIN SGD Bandung. Salah satunya Yogi mahasiswa Materamika Fakultas Sain dan Teknologi menuturkan ‘Wah itu sangat perlu sekali. Sebaba Ia telah berjasa pada bangsa ini’.

Coba kalao bukan oleh Bapak Pembangunan niscaya deretan tinggi banguna yang menjuklang itu merupaka hasil jerih payanya selama 32 tahun. Sekarang kita tainggal menjutkan dan mengisi pembanguna tersebut, jelasnya.

Keberhasilan suatu bangsa itu terlihat dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Pada saat pemerintahan Orde baru sangat jelas bila dibandingkan dengan zaman reformasi ini. Pokoknya dimana-mana kalaparan, busung lapar, kurang gizibencana, benerr pan [Pokoknya di daerah mana-mana terkena kelaparan, burung lapar, kurang gizi, bencana, benerkan!!], keluhnya.

Lain lagi dengan Jamhur aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung, menjelaskan ‘Ini ga boleh terjadi. Karena sanget merugikan masyarakat Indonesia, khususnya kaum terpelajar’,

Seutik-saeutik peure. Lamun keu terus carana. Atuh iraha bangsa urang maju kawan nagara lain [Sedikit-sedikit libur. Kalau begini keadaanya secara terus menrus. Kapan mau majunaya bangsa kita ini seperti negaara lainya], tambahnya.
Ceuk urang teuteup teu bisa [bagi saya tetep ga bisa] soal 7 hari berkabung atas meninggalnya Soeharto, cetusnya.

Menyinggung upacara pemakaman orang nomer satu saat Orde Baru dan Presiden akan bertindak sebagai inspektur upacara saat pemakaman di Astana Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, hari ini (Senin, 29/01)

Bagi saya sudah selayaknya bangsa kita menghargai jasa putra terbaik bangsa. Selain itu, memang sudah ada ketentuan UUnya (Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 62 Tahun 1990. PP itu mengatur tentang ketentuan keprotokolan mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan bagi pejabat negara, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat-red), killah Yogi

Di mata, Jamhur tetap tak boleh terjadi ucapara kematian Bapak Pembangunan itu secara besar-sebaran dan adanya 7 hari berkabung nasional, seban tetap saja dimata Tuhan yang membedakan kita hanya derajat ketaqwaanya sambil menyentil Al-Qur’an,

Hal senada juga diungkapkan oleh aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya ‘Yang mesti berkabung nasional itu bukan kematian penguasa 32 tahun itu, melainkan saudara-saudara kita yang terkena Lumpur lapindo. Sudah berapa tahun mereka menderita dan tak mendapatkan kepastian dari pemilih perusahanan’.

Bahkan kabra terbaru pihak Lapindo dibebaskan oelh pengadilan karena tak terbukti salah. Padahal ini sudah jelaj-jelas salah kaprah, paparnya.

Bila ingin tetap menggelar 7 hari berkabung nasional dengan mengibarkan bendera setengah tiang, maka berapa hari untuk menyuarakan berkabungnya kematian hati nurani pada bangsa kita, harapanya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 29/02/08;14.27 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/28/2008 12:53:00 PM   0 comments
KitaB (10)
Sunday, January 27, 2008
Haruskan Tahlilan Kematian Soeharo Digani; Membagikan Harta Kekayaanya?
Oleh Ibn Ghifarie

Rasanya angkuh bila kita tak memberikan ucapan belasungkawa terhadap keluarga Cendana. Pasalnya, Bapak Pembanguan telah meninggalkan kita semua untuk menghadap Sang Kholik, Minggu (27/01) pukul 13.19 wib.

Semoga amal baik mantan Penguasa Rezim Orbe baru itu di teriman oleh Tuhan dan masyarakat Indonesia memaafkan segala kehilafannya.

Tak pelak, tradisi tahlilan pun menjadi bagian yang tak bisa di ganggu gugat. Masih ingat dalam benak kita, saat Ibu Tien (1996) meninggal kebiasaan membaca yasinan itu menjadi sebuah keharusan. Seakan-akan rasanya tak afdhal bila kita meninggalkan warisan para leluhur tersebut.

Kini, saat The Smiling General berpulang ke pangkuan rahmatullah. Adakah acara melayat mendingan Soeharto diwarnai tahlilan?

Hayu atuh. Kabeh sa UIN jeung Rektor kudu mimpina [Ayo segera. Kalu perlu seluruh Civitas Akademika UIN SGD Bandung dan Rektor, Prof Nanat Fatah Natsi, M.Si harus menjadi pemimpinya], kata Sulthonie, Desen Fakultas Filsafat dan Teologi.

Meninggung kebiasaan Tahlilan yang dianggap oleh kelompok tertentu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Ia menjawabnya ‘Bid’ah teh lamun PERSIS (Persatuan Islam). Da urang mah UIN [Bid’ah itu kalau menurut pemahaman ajaran PERSIS. Kan saya bukan UIN (keislaman non sectarian-red)]

Lain lagi Sulthonie. Lain pula Akhmad Mikail, mahasiswa Sains dan Teknologi menuturkan ‘Ah pami abi mah hente, da tara. Tapi pami di bumina mah sigana nuju rame [Ah bagi saya tidak, soalnya tak pernah. Tapi kalau dirumah (mendiang-red) pasti rame].

Anu jelas mah teu aya contona ti Rasul [Yang jelas tradisi tahlilan itu tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw], jelasnya.

Alangkah baiknya jika biaya tahlilan pak Harto dikasihkan kepada rakyat. Cukup barangkali memberikan makan bagi ratusan juta warga miskin, yang sekarang jarang tersenyum. Atau selama 7 hari keluarga cendana harus mengembalikan aset negara untuk kemaslahatan rakyat, kata Sukron Abdilah, pegiat Studi Budaya dan Pemerhati Budaya Lokal Sunda.

Nah, tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya, alangkah baiknya jika 7 hari masa berkabung atas wafatnya Suharto dijadikan waktu untuk menggenjot program ketahanan pangan. Karena ketika kebutuhan pangan untuk bangsa ini murah-meriah, boleh jadi senyum manis Suharto akan kembali dirasakan rakyatnya. Bukan ketegangan, ketimpangan, kemelaratan, dan kemiskinan yang dirasakan bangsa ini, harapnya.

Menilik kebolehan penggantian tahlilan dengan cara membagikan kekaraan terhadap rakyat atau sekedar membagikan makanan alakadarnya bagi anak-anak jalanan.

Akhmad berkata ‘Satuju..!! Mudah-mudahan abdi kabagean, kumargi kaabus miskin [Sangat setuju sekali. Semoga saya dapat bagian, karena saya masih tergolong miskin], cetusnya.

‘Kan putra putrina pengusaha. Pastina bisa muka lapangan kerja keur masyarakat anu nganggur [kan putra-putri Soeharto itu para pengusaha. Pastinya dapat mmebuka lapangan kerja supaya dapat mengurangi angka pengangguran], tambahnya.

‘Nya atuh sakali-kali tahlil. Ulah ka masyarakat miskin wae. Da urang oge miskin [Ya sesekali ngadain tahlilan. Ga usah ngasih ke masyarakat (perubahan gaya tahlilan; tidak berdoa dan membaca Al-Qur’an, tapi membuka lapangan kerja-red) saja. Kan saya juga termasuk miskin] ungkap Sulthonie

Kendati masih dalam suasana duka dan belom terpikirkan untuk menggelar kebiasaan luhur tersebut. Haruskan Tahlilan kematian Soeharo digani; membagikan harta kekayaanya? Selamat jalan Bapak Pembangunan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Komputer Ngaheng, 29/01/01;01.36 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/27/2008 04:49:00 PM   1 comments
Kitab (9)
Saturday, January 26, 2008

Maraknya kumpulan blogger, seperti Angin Mammiri dari Makassar, Loempia dari Semarang, Bandung Blog Village dari Bandung, Ranah Minang dari Padang, Angkringan dan Cah Andong dari Yogyakarta, Tukang Lenong dari Jakarta, Komunitas Blogger Muslim, Blogfam, Merdeka, Multiply Indonesia, IdGmail!, bahkan dari Kuala Lumpur (Malaysia).

Demi menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia. Pasca “Pesta Blogger 2007” maka bermunculan para Blogger. Entah yang mengatasnamakan pribadi, komunitas, para pejabat pemerintahan beserta lembaganya. Mengasikan memang.

Nah, yang lebih mengherankan lagi, saat Penguasa Rezim Orde Baru mulai kritis di Rumah Rakit Pertamina pula karena penyakit komplek yang dideritanya. Sekoyong-konyong ada seorang blogger, rumahkayubekas menulis ‘Seandainya Soeharto NgeBlog( Kali Nih Kali)’


Sontak saja, aku tertawa terbahak-bahak sekaligus berkata ‘Memang selalu ada yang unik bagi para Blogger saat menyoal persoalan apapun’ . Ya bukan apa-apa. Semuanya demi membiasakan menulis pada blognya masing-masing dan mengajak pembaca untuk tetap ngeblog. Benerkan!

Kendati masih mendapat perawatan intensif dari pelbagai Dokter ahli. Namun, kondisi kesehatan Bapak Pembangunan itu tetap saja lemah sekaligus masih berbaring di atas kasur. Seolah-olah menanti ajal dari Sang Kholik.

Ia mengawali tulisanya dengan menuturkan ‘Soeharto emang sakti/ Saat sehat, ya juga saat sakit seperti sekarang ini/ Semua begitu peduli/ Semua begitu atensi.

Animo masyarakat sangat besar terhadap Penguasa 32 tahun ini. Seakan-akan rakyat lupa sejenak atas segala persoalan kemiskinan; kenaikan tahu dan tempe, konversi minyak ke gas, kekurangan gizi dan busung lapar, korban bencana di sana-sini yang dihadapinya.

Tak hanya sampai di sini, sang empu Blog itu malah ‘Berandai-andai bila Soeharto Ngeblog’. Coba apa yang akan terjadi?
So pasti di BOTD no hiji,
Traffic? dijamin tertinggi,
Mo dimana aja pasti,
The first rank anywhere it’s me.

Meski begitu, inilah ‘potret lain’ para Blogger kala membincang pelbagai permasalahan. Selelu dikaitkan dengan semangat berapi-api untuk tetap ngeblog. Ayongeblog.

Nah, menurut kawan-kawan mungkinkah Soeharto Ngeblog? [Ibn Ghifarie]

Ayongeblog!!!

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 24/01/00;02.59 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/26/2008 10:53:00 AM   4 comments
Kitab (8)
Surat Milad; Kerinduan Yang Tak Kunjung Datang
Oleh Ibn Ghifarie

Apa ari sebuah kelahiran? Lama aku termenung, sulit menemukan jawabab. Yang tergambar justru Neneku. Dialah penggenti pigur Ibu. Konon, Ia mengembil fungsi ke dua Orang Tuaku semasa aku lahir ke dunia fana ini.

Tak ada kata-kata bermakna yang selalu keluar dari Mamah Endet, pangilan akrab Nenekku kecuali satu ungkapan `Semoga menjadi orang` itu doa Nenek, pendek dan sederhana.

Saat termenung di tengah-tengah pencarian ari Maulid. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara `Cis kacang buncis nyengcle` dari HP(Hand Pone)ku. Tanpa panjang leber ku buka alat komunikasi tersebut.

Ass..Kang. Met Milad y..Moga dengan usia yang tersisa makin di berkah oleh Allah SWT. Makin sering berkarya.Kuliah dan kerja lancar. Amien. Bersemangat ya, Ara mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Lampung. (20/01;08.28.35)

'Selamat hari lahir. Berharap semakin bijak mengarungi kehidupan. sukses selalu,' pesan adeku, Rofi Muhammad Rizal Ghifarie, mahasiswa Teknik Industri UNiversitas Gajah Madja (UGM) Yogyakarta. (20/01;19.29.33)

'Wilujeng Milangkala Ka-24. Mugia janteun jalma anu langkung sae [Selamat Ulang Tahun ke-24. Semoga menjadi orang yang lebih baik] Siti Nurdini (23). (20/01;20.08.23)

lain lagi dengan Pradewi Tri Chatami, mahasiswa Antropologi Unpad (Universitas Padjajran) Bandung memberikan pesan singkat melalui satu pertanyaan;

'Apa yang terjadi saat angka dalam usia berubah, bertambah?
Barangkali hanya raga yang menua,
Pikiran semakin dewasa.
Apapun itu,
Jika hari ini nafas masih dikala
Maka ada banyak kemungkinan
Jalan dan kesempatan memperbaiki kualitas dan kemanusiaan
Selamat Ulang Tahun kawan. (20/01;15.29.36)

Walhasil, tak ada yang ku perbuat selain berdoa, menulis, menulis dan menulis. Kendati status mahasiswaku sudah tak lagi muda.

Rasanya ingin sekali berbuat banyak,kepada kedua Orang Tuaku saat usiaku sudah diambang dewasa. Kawan-kawan pun mulai menjalani kehidupan masing-masing, hingga memiliki buah hati.

Namun, aku masih seperti ini. Tak memiliki apa-apa. Membahagiaka Mamah dan Bapa pula sering terlupakan.

Kehadiran kelahiran. Semoga menjadi pemicu semangat untuk berbuat baik. Satu-satunya cara dengan menulis 'Surat Milad; Kerinduan Yang Tak Kunjung Datang'

Kepada

Kedua Orang Tua
Yang berada di perkampugan nan jauh di sana.

Muhun pisan abdi teh sabar seueur kalepatan.
Sok langki uih,
Sok langki masihan kabar
Sok langki barang bere

Malahan nyuhunkeun wae
Malahan ngantosan di hubungi wae
Malahan hare-hare wae

Kumargi kitu
Abdi sakali deui nyuhunkeun di hapunteun Ma, Apa
Tina sadayana kahilapan,
Boh anu dihaja atawa heunteu

Mugia ku ayana seratan ieu
Tiasa ngabeungberah manah anu riweuh
Tiasa ngubaran hate anu darigdug
Tiasa niiskeun kaayaan anu parna

Mung sakitu wae anu tiasa kapedar dina danget ayeuna. Simkuringn seja nadar mugia sakola rengse ayeuna.
Piduana wae tisadayana. Amien.

Anaking

Ibn Ghifarie

[Memang ku akui, terlalu banyak berbuat lalim
Ya jarang pulang
Ya jarang memberitahu kabar
Ya jarang memberikan sesuatu

Bahkan sering meminta
Bahkan selalu menunggu untuk dihubungi
bahkan tak peduli

Oleh karena itu
Sekali lagi aku minta maaf. Semoga di maafkan oleh Ayah dan Bunda
Dari segala kehilapan
baik yang disengaja ataupun tidak

Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini
Bisa sedikit mengobati luka
Bisa menenangkan perasan hati yang tak tentu
Bisa membuat suasana hening

Hanya kata-kata inilah yang bisa saya ucapkan pada kesempatan ini
Saya berjanji semoga kelar sekolah sekangan ini
Dorang doa dari semuanya. amien

Ananda

Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/01;08.42 dan 22.56 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/26/2008 09:44:00 AM   0 comments
Kitab (7)
Thursday, January 24, 2008
Mohon Penjelasan Rektor UIN SGD Bandung; Alokasi Dana Praktikum
Oleh Ibn Ghifarie

Kendati tidak terjadi gelombang aksi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung saat pembayaran regisrasi SPP dan biaya praktikum, kamis (24/01). Berdeda dengan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat kenaikan SPP dan praktikum diwarnai kericuhan (22-23/01).

Namun, sejumlah mahasiswa UIN SGD Bandung mengelukan telah terjadilnya pembayaran dana praktikum, hingga memohon penjelasan pikah Rektor.

Pasalnya, pihak Universitas menetapkan SPP sebesar Rp 600 ribu serta biaya praktikum Rp 500 ribu untuk jurusan MIPA dan Rp 200-300 ribu untuk jurusan non-MIPA sangat memberatkan mahasiswa, terutama angkatan 2007-2008.

Salah satu mahasiswa D3 Menegemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Syariah dan Hukum, M Iqbal menuturkan ‘Meski sudah menjadi ketetep pihak Rektor, tolong dong dalam pemberitahuan adanya uang praktikum itu jauh sebelum jadwal regisrasi. Bukan saat pembayaran SPP baru dikasih tau’

‘Ya masih mendingan orang yang berada. Gimana kalau seperti saya. Masa harus pulang dulu ke Pangandaran, hanya untuk meminta uang bayaran tambahan itu’, jelasnya.

Hal senada juga diamini oleh Iim Mustofa, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Adab dan Humaniora ‘Iya nih kalau bisa, pengumumanya itu sebelum adanya jadwal regisrasi. Bukan hanya jadwal SPP dong’.

‘Jadinya kan bisa memberitahuakan dulu kepada orang tua, bahwa pembayaran SPP itu harus dengan dana praktikum’, cetusnya.

Menanggapi perbedaan iuran SPP dan dana praktikum yang berbeda-beda itu; 500 ribu, 300 ribu dan 200 ribu, Rifki mahasiswa Komunikasi Penyiran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi berkata ‘Kenapa harus dibeda-bedakan. Bukankah dana praktikum itu digunakan buat praktek Ibadah dan Tilawan saja. Masa harus bayar mahal’

‘Jika begini yang terjadi. Memang Orang Miskin Dilarang Sekolah, sambil mengutif jargon mas Eko Prasetiyo,’ ujarnya.

Di mata Yogi, mahasiswa Matematika Fakultas Sains dan Teknologi. ‘Maeunya ku duit 500 rebu. Ngan bisa praktek tilawah da ibadah wungkul [Masa dengan uang 500 ribu hanya digunakan untuk praktek ibadah dan tilawan saja]’

Geus kitu nilai praktek ibadah urang oge teu kaluar. Pan lieur! [Sudah begitu nilai praktikum ibadah saya juga tidak keluar. Kan pusing!], ungkapnya.

Lain lagi bagi Dian mahasiswa Sosiologi Fakultas Ushuluddien ikut nimbrung ‘Bener pisan karunya atuh keur barudak nu lain jurusan MIPA. Laboratorium euweuh, praktekum teupuguh. Siga keur jurusan Aqidah Filsafat IBenar , kasian pada anak-anak yang bukan jurusan MIPA. Laboratorium tak ada, praktikum juga tak jelas. Kaya jurusan Aqidah Filsafat]

Ketidakjelasan aturan main saat regisrasi tiba, bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa baru, tapi mahasiswa lama juga menyesalkan buruknya pelayanan administrasi.

‘Selain kasihan kepada mahasiswa baru harus membayar SPP dan dana praktikum dari 200 ribu sampai 500 ribu. Pembayaranya masih manual, harus panas-panasan ngantrinya, kata Ahmad mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan.

‘Pokoknya, boro-boro lewat komputerisasi. Yang ada hanya antrian begini. Kan ngeri. Padahal sudah berubah menjadi Universitas, tapi masih tetap manual’, keluhnya.

‘Bagi saya, ya ga apa-apa ada dana praktikum yang besar itu bila dibarengi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Inikah tidak’, ungkap salah satu mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi.

‘Besar harapan saya jika pihak Rektorat bisa memberikan penjelasan soal alokasi dana praktikum itu dipakai kemana-mananya. Bukan apa-apa supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diingikan. Demo misalnya’, tegasnya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 24/01/08;20.35 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/24/2008 10:00:00 AM   1 comments
Kitab (6)
Wednesday, January 23, 2008
Kebebasan Beragama Tersandung ‘Beda Pendapat’
Oleh Ibn Ghifarie

Sejatinya kehadiran tahun baru hiriah kita jadikan moment evaluasi (muhasabah) bersama sekaligus menolak rasa putus asa dan kebosanan hidup dengan cara bergerak menuju kebaikan, kebenaran, dan kesabaran dalam persaudaraan. Bukan malah sebaliknya.

Persaudaraan kita kian hari semakin tersecer saja. Betapa tidak, perbedaan pendapat dalam menjalankan perintak Tuhan pun menjadi biang kerusuhan tersebut.

Tengoklah perseteruan antar kelompok mayoritas dan minoritas antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dipelbagai daerah (Bpgor, Cianjur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Tasikmalaya, Garut, Kuningan, Majalengka, Bandung); Islam Sejati (Banten); Pondok Alif (Kedal Jawa Tengah); Wahidiyah (Tasikmalaya dan Sumedang); Al Qiyadah Al Islamiyah (Padang, Jakarta, Jogyakarta); Al-Qur’an Suci atau Al-haq (Bandung); Oim, Qudrat dan Tarekat Nikung (Garut).

Pengrusakan Tempat Ibadah; Perbuatan lalim
Apapun alasannya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik. Diridhoi oleh Tuhan apalagi, jelas tidak.

Terlebih lagi, hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat Islam (al-Quran dan hadis). Rasanya tak pantas bila kita menyelesaikan persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya perbuatal lalim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus modernitas dan lemahnya keimanan acapkali perlakuan tak terpuji itu menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan yang dihadapi.

Di tengah-tengah keterpurukan umat Islam dan krirsis kepemimpinan, masih banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas. Adalah budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Kilas Balik Hijriah
Kehadiran tahun jiriah pun tak membuat suasana membaik. Ukhuah antar sesame muslim kian menkerucut. Satu bukti semakin buramnya temali antar seagama. Yakni dengan maraknya kelompok yang selalu mengatasnamakan Tuhan. Bukanlah Sang Kholik memerintahkan kita untuk tetap menghargai pendapat orang lain (Al-Hujurat:11). Pasalnya, beda merupakn rahmat Tuhan yang harus kita jadikan modal dalam mengarungi kehidupan yang beragam.

Bila memang terjadi perselisihan antar kelompok satu dengan yang lainya, maka musyawarahkan. Bukan main hakim sendiri. Apalagi meniadakan nyawa orang lain. Jangankan saling bunuh-membunuh atau saling kafir-mengkafirkan. Sekedar menghujat saja, Muhammad melarangnya.

Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan sabdanya, “Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita. Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih mudah dikendalikan dan teratur.

Mencermati kelahiran hijrian, pada tanggal 16 Juli 622 M. Sekitar 70-an orang pengikut Nabi Muhammad lebih dulu sampai di Madinah, menyusul kemudian Nabi Muhammad, Abu Bakar, Ali, dan beberapa keluarganya.

Perjalanan yang ditempuh kala itu tidaklah pendek karena masih terbatasnya sarana transportasi yang tersedia. Jarak Mekkah-Madinah mencapai 250 mil dengan memakan waktu perjalanan kurang lebih sembilan hari berunta. Untuk menghindari kejaran orang-orang Quraiys yang makin sengit mempersekusi Nabi dan para pengikutnya, maka strategi yang disusun untuk hijrah pun harus matang dan rute yang ditempuh mestilah jalur alternatif yang lebih berliku. (Montgomery Watt, 2006: 121-126)

Makna Hijriah; Pembaruan dan Pembebasan
Lalu pelajaran berharga apa yang tersirat dari peristiwa ini? Bagi para pengkaji agama (Religionwisenhaf), hijrah dapat saja dimaknai sebagai upaya menyusun strategi baru guna membebaskan segala bentuk penindasan (mutstad’afin). Kemenangkan perang Mekah (futhu Mekah) pun jadi buah perjuanganya.

Adalah upaya mencari kebebasan dalam berkeyakinan dan beragama menjadi makna terdalam atas kejadian bersejarah ini. Tanpa perjuangan sahabat untuk menegakan agama lain (Islam) niscaya ajaran islam akan tumbuh-berkembang hingga ke penjuru diunia.

Mengingat kelompok Muhammad merupakan golongan minoritas-tertindas. Namun, kuatnya ikhtiar dan jarang memperselisihkan bed pendapat dalam kelompok islam membuat ajaran Muhamad dapat diterima di kalangan manapun.

Kendati bulan Muharam telah berselang beberapa hari diharapkan kehadiran tahun baru hijrian 1429 dapat membawa perubahan dan semanat baru atas segala persoalan yang sedang menimpa masyarakat Indonesia, termasuk kebebasan beragama. Cita-cita islam berwajah toleran dan menghargai pemahan kelompok lain pula jadi tumpuan utama di tahun 1429 H tersebut. Semoga.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/01/08;12.45 wib

*Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/23/2008 10:21:00 AM   2 comments
Kitab (5)
Monday, January 14, 2008
Adakah Keadilan Bagi ‘Pahlawan Devisa’
Oleh Ibn Ghifarie

Satu lagi, potret buram TKW (Tenaga Kerja Wanita) Arab Saudi mencuat kembali.Kali ini, menimpa Yanti Triyanti, perempuan asal Cianjur dikabarkan mendapat ganjaran hukum mati.

Pasalnya, ia dituding telah mencuri harta benda sekaligus membunuh nenek majikanya. Proses pancuh pun menanti di depan mata.

Kini, upaya menghilangkan nyawa orang pula berjalan dengan lancar. Seperti yang dilansir oleh media masa SCTV.

Namun, Ahad (13/1), keluarga TKI itu mengaku tak mendapat pemberitahuan mengenai pelaksanaan eksekusi mati. Pihak keluarganya, cuma mengetahui Yanti terlibat perampokan dan pembunuhan.

Menurut Gino, suami Yanti, kabar ini diperoleh melalui surat yang dikirim istrinya pada Juli 2006.

Dalam sepucuk surat menyebutkan bahwa dirinya telah ditahan di penjara Kota Mahail, Arab Saudi. Kendati demikian, Yanti tak mengaku membunuh majikannya.

Pengakuan keluarga Yanti dibantah pihak Konsulat Jenderal RI Gatot Abdullah Mansyur di Jeddah membantah pengakuan tersebut. Ia mengatakan sebelum dieksekusi TKI tersebut kerap menghubungi keluarganya. (SCTV, 14/01)

Peristiwa naas ini bukan kali pertama. Melainkan entah kesekian kalinya. Yang jelas mengadu nasib di negeri oring dengan harapan bisa meraup keuntungan dan berlimpah uang, tak sedikit dari mereka yang rela menelan ‘pil pahit’ kematian, deportase, perlakuan seksual, gaji yang dipotong hingga tak diberikan pada pembantu tersebut.

Sebanyak 13 TKI yang terancam hukuman eksekusi akibat kasus pembunuhan. Taing gantung pun menanti kedatangan mereka. Masih sudikah kita melihat sebelah mata tentang jawa pahlawan devisa ini? Dimanakah letak keadilah bagi TKW tersebut?

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 14/01/08;17.56 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/14/2008 12:45:00 PM   0 comments
Kitab (4)
Indonesia; Negeri ‘Kurang Gizi’
Oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah upaya memerangi gizi buruk dan busung lapar dipelbagai dasa tertinggal. Kini, satu-satunya makanan pokok orang serba pas-pasan—tahu dan tempe. Kian hari kian susah ditemukan.

Pasalnya, meroketnya kacang sebagai bahan pokok makana orang pingiran itu, membuat pedagang dan pengrajin pengganti makanan hewani harus rela merugi, hingga gulung tikar. Mengerikan bukan?

Kalaupun memang ada harga kedua makanan itu bisa meroket tajam hingga selangit atau boleh jadi pengganjal perut itu malan lebih sedikit ukurannya.

Merosotnya omset tahu dan tempe ini membuat para pedagang melakukan aksi. Sekira Sekitar 400 pedagang tahu dan tempe yang terbagung dalam Primkopti daerah Bekasi, Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang mendatangi Gedung Dewan. Mereka memprotes pemerintah yang gagal menstabilkan harga kedelai. Senin (14/01)

Mereka menilai harga kedelai saat ini sudah diambang batas toleransi. Kenaikan harga kedelai dari Rp 3.500 menjadi Rp 7.500 per kilogram dalam empat bulan terakhir sangat tidak wajar dan memberatkan produsen makanan rakyat kecil (Metro TV, 14/01)

Masih hangat dalam benak kita, konvensi minyakl tanah ke migas membuat wong cilik kelabakan. Kuranya pasokan minyak tanah membuat pedagang dan pengrajin tahu dan tempe mengurangi karyawannya.

Asal tau saja, podak tempe telah menjadi hak milik kekayaan makanan khas Jepang, beberapa tahun silam. Haruskah makanan tahu pun mengikuti jejak tempe. Ya menjadi milik negara lain? Entahlah.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 14/01/08;15.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/14/2008 12:43:00 PM   1 comments
Kitab (3)
Sunday, January 13, 2008
Polling; Berapakah Presiden RI Yang Sudah Wafat?
Oleh Ibn Ghifarie

Malam itu, memang tak banyak yang kuperbuat selain nongkrong di depan komputer. Untuk menambahkan data pada Catatan Harianku sesekali searchcing tentang apa saja.

Guna mengetahui informasi terbaru dan wacana diskursus apa yang kini di gandrungi oleh pelbagai kalangan. Tanpa disadri aku mencari-cari berita tentang kondisi dan perkembangan terakhir kesehatan Soeharto.

Tiba tiba aku dihentakan oleh satu tulisan Zen, penjaga Blog Pejalanjauh. Ia menulis ‘Berapa Presiden RI Yang Sudah Wafat?’

Sontak saja, coretan itu menimulkan beberapa pertanyaan sekaligus menuntut sebuah jawaban.

Ia mengawali tulisanya dengan mimbincang kematian Bapak Pembangunan yang tinggal menunggu waktu. Di susul dengan pertanyaan ‘Ada ada berapa mantan presiden RI yang sudah meninggal?’

Dapat dipastikan dari jawaban itu, baru dua. Di mata Pejalanjauh, tidak. Malah Ia mengurai sejarah orang-orang penting yang pernah menduduki jabatan orang nomer satu di Indonesia.

Deretan huruf 1 (satu), 2 (dua), dan 3 (tiga) menjadi kemungkinan lain atas jawaban pertanyaan tadi.

Yang lebih mengejutkan perasanku. Di penghujung tarian pena itu, mantan pengelola Lembaga Pres Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menuturkan ‘Nah, jadi jika Soeharto meninggal, tebaklah, sudah berapa Presiden RI yang wafat? Mau pilih versi yang umum atau versi yang barusan saya paparkan?’

Sekali lagi, pertanyan yang muncul dalam benak fikiranku. Mengapa ketiga mantan penguasa itu tak pernah muncul dalam buku pelajaran Sejarah?

Ya.memang kali pertama ini aku mendapatkan versi lain tentang sosok Presiden Indonesia. Utamanya, Mr. Assa’at.

Di bawah penguasa Mr. Sjafruddin Prawiranegara, sudah lama aku mengetahui keberadaan pemimpin bangsa kita ini. Seperti yang dilansir oleh Zen, menjelaskan ‘Mr. Assa'at. Ya, dia wafat pada 16 Juni 1976. Dia juga Presiden RI loh, persisnya antara Desember 1949 sampai Agustus 1950. Ibukota RI waktu itu ada di Yogyakarta. Lha, terus Soekarno ngapain kalau Assa'at yang jadi Presiden?’

Inilah gaya lain seorang pemerhati budaya dalam mengeja diskursus soal kematian Soeharto.

Akhirnya, aku hanya bisa membuat polling dari cuplikan Sang Pengakrabi Kematian ini.
Berapakah Presiden RI Yang Sudah Wafat?
A. Satu
B. Dua
C. Tiga
D. Empat
Berikanlah alasannya.

Rasanya angkuh bila aku tak mengucapkan terimakasih pada Zen Rahmat Sugito mantan UNY atas segala kabar dan sisi lain Presiden Indonesia. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pokok Komputer Ngeheng, 14/01/08;01.49 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/13/2008 03:26:00 PM   2 comments
Kitab (2)
Menanti Ajal
Oleh Ibn Ghifarie

Di kala kondisi kesehatan Soeharto tak kunjung membaik. Malah kian hari kian kritis. Tanpa disabari seorang kawan memberikan informasi via pesan singkat ‘Soeharto sudah wafat’ kata Cak Nun dalam wawancara ELSINTA radio, 5 (lima) menit yang lalu. 11 Januari 2008. pukul 22.13; 41 wib.

Sontak saja, aku bersama kawan-kawan yang lagi ngumpul di Sekretariat Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung tanpa dikomandoi langsung melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk melihat sekaligus mengecek kebenaran informasi tadi.

Setelah hampir setengah jam, mengklik remot Tv guna mengetahui kondisi terakhir Presiden zaman Orba itu, memang kritis dan terjadi kemunduran sangat drastic pada hampir seluruh fungsi organ bapak pembangunan tersebut.

‘Alah geuning berita (tina SMS [Sort Masage Service]-red) tadi the teu bener nya. [Wah berita (dari SMS [Sort Masage Service]-red) ga bener ya!]’ Cetus Jamhur, anggota Post (Sebutan Alumni) LPIK.

‘Pan sababraha kali ningalian jeung mindahkeun berita tina TV, euweuh anu nyebutkeun geus maot. Lamun geuring emang bener. Jadi mana anu bener yeuh? [Kan sudah beberapa kali liat berita dari Tv, tidak ada yang menyebutkan telah meninggal. Kalau sedang sakit memang ia. Jadi mana yang benar itu?], tambahnya.

Hal senada pula dilontarkan oleh Fardi, Bendahara Uum LPIK menuturkan ‘Cing tingali dina Metro. Biasana pan sok update [Coba liat di Metro. Biasanya kan suka update]’, cetusnya.

‘Geuning sarua euweuh anu ngaberitakeun maot Soeharto. Kalah geus ripuh geuringna [Memang tidak ada yang memberitakan meninggalnya Soeharto. Kian hari kondisinya semakin kritis’, jelasnya.

Berulangkali memindahkan cenel, kabar kematian penguasa 32 tahun itu pun tak kunjung datang juga. Obrolan malam malah beralih pada asal-muasal lengsernya Presiden Ke 2 Indonesia. Hingga wacana susahnya kematian pentolan keluagra Cendana itu.

Salah satu dari kami menanggapinya dengan polos, ‘Nya kitu ari ngelmu kejawen wae. Pan rek paeh oge meuni hese jeung ngariweuhkeun ka kabeh masarakat [Ya begitu kalau mempelajari mantra kejawen. Untuk meninggal saja susahnya minta ampun dan menyushkan masyarakat banyak]’ ungkapnya.

‘Ini harus jadi pelajaran bagi kita. Siksaan bagi yang berbuat lalim tak hanya di perhitungkan kelak, tapi sekarang di dunia pula dilihatkan,’ paparnya.

Lepas dari persoalan susahnya melepas aspek badani, kemunculan iseu pemeriksaan dugaan korupsi terhadap Ayah Tomy ini, Hikmat anggota LPIK menuturkan, ‘Kalau sudah sakit begini, baru di wacanakan untuk memeriksa kekayaannya, tapi saat sehat jarang orang-orang menggembar gemborkan dugaan korupsi tersebut,’

Bukankah ini cara lain untuk mengalihkan persoalan Indonesia yang sedang mendera bangsa kita, mulai dari bencana, susahnya minyak tanah, pendidikan yang terbelakang, sampai pencaplokan seni oleh Malayasia. Hingga kita disibukan dengan berita kritis Soeharto itu ungkapnya.

Diskusi jelang pagi pun, mulai pudar seiring merayapnya malam. Satu persatu dari kami meninggalkan tempat ngumpul itu. Hanya suara semilir angina dan bunyi-bunyian binatang malam yang menemani kegelisahan aku.

Kendati ajal telah di depan matanya. Ku hanya bisa berdoa dan berharap semoga lekas sembuh. Bila memang tak bisa sehat lagi, berikanlah ketabahan pada keluagnya dan mohon maaf kepada seluruh warga negara Indonesia atas segala kehilafan yang telah Ia perbuat. Semoga Tuhan mengabulkan permintaanku. Amien. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 12/01/08;03.25 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/13/2008 02:24:00 PM   0 comments
Kitab (1)
Saturday, January 12, 2008
Benarkah Tahun Baru Hijrian; 1 Muharam?
Oleh Ibn Ghifarie

Setiap memasuki tanggal 1 Muharam umat Islam di belahan dunia manapun selalu menyambut perayaan Tahun Baru Hijrian itu dengan pelbagai kegiatanlakukan. Tak terkecuali di Indonesia. Benarkah 1 Muharam merupakan awal tahun baru?

Di mata Kang Jalal—sapaan akrab Jalaluddin Rakhmat sangat salah besar dan keliru sekali. Lihatlah hasil wawancaranya, seperti yang dilansir oleh Pikiram Rakyat (24/03/04);

Sejarah Islam seperti hijrah Nabi Muhammad harus segera diluruskan.
Terjadi salah kaprah dan anggapan salah mengenai sejarah hijrah ini.
Kalau Anda mengira peringatan 1 Muharam sebagai awal Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, maka keyakinan itu salah besar.

’Nabi Muhammad yang ditemani sahabat Abu Bakar hijrah ke Madinah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam sebagai tanda dimulainya tahun hijriah,’ katanya.

Apabila umat Islam meluangkan waktu dua menit saja untuk membaca buku, maka Nabi Muhammad melakukan hijrah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam. ‘Jadi, keliru besar peringatan 1 Muharam sebagai awal hijrahnya Nabi Muhammad,’ tegasnya.

ironisnya lagi, masih menurut Kang Jalal, peringatan tahun baru Islam tiap 1 Muharam juga baru dimulai sejak 25 tahun lalu atau sekira tahun 1970-an yang berasal dari ide pertemuan cendekiawan Islam di AS. ‘Waktu itu terjadi fenomena maraknya dakwah, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan munculnya jilbab hingga kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. Hal ini diperkuat dengan liputan majalah Times yang dalam sampul depannya memuat tulisan Islamic Revival,’ katanya.

Upaya menggelorakan kebangkitan Islam itulah, akhirnya disepakati perlunya peringatan tahun baru Islam hingga menyebar ke seluruh Muslimin termasuk di Indonesia. ‘Tidak ada landasan hokum baik Alquran maupun hadis soal peringatan tahun baru Islam. Saya menganggap bid'ah, tapi tak berani menyebut bid'ah dhalalah,’ ujarnya

Menanggapi kekeliruan itu, Dhani aktivis pergerakan mahasiswa mengamini pernyataan Kang Jalal ‘Ya iyalah. Masa kita memperingati peristiwa hijriah Rasul di bulan Muharam? Bukankah kejadian itu pada tanggal 12 Rabiul Awal, cetusnya.

‘Coba kaji ulang sekaligus telaah kisah Rasul tersebut. Jika mengkajinanya dengan baik, niscaya tak akan serampangan dalam menentukan awal tahun tersebut,’ jelasnya.

Selain itu, kentalnya pengaruh tradisi sebelum islam datang ke Arab pun ikut melanggengkan budaya tersebut, ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

‘Ini terlihat dari penamaan kelahiran Mumamad, tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah. Berarti jelas penamaan bulan sudah dikenal sebelumnya di Jajirah Arab, kita tinggal melanjutkan kebiasaan itu, Tapi soal penyebutan tahun belum,’ menutup pembicaraannya.

Lain lagi dengan Asep (22) menuturkan ‘Bagi saya tidak peduli dengan adanya percekcokan petanggalan tahun baru itu, yang penting spiritnya untuk tetap berhijrah dari perlakuan buruk ke baik misalnya’.

Artinya berusaha meningkatkan keimanan kita dalam mengarungi kehidupan ini. Bukan malah rebut merakakanya dengan perbuatak hura-hura, tambahnya.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/01/08;19.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/12/2008 04:36:00 PM   0 comments
Suhuf (20)
‘Pasar Kaget’ Mesjid Patal
Oleh Ibn Ghifarie

Hari jum’at tiba, hampir dipastikan sebagian umat islam berbondong-bondaong ke mesjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Namun, pemandangan ini agak berbeda bagi masyarakat sekira daeraha Patal Cibiru, Jl A H Nasution Ciburu Bandung.

Betapa tidak, bukan hanya jemaat mesjid Asy-syiraj saja yang menghadiri undangan maha suci itu, melainkan para pedagang pun tumpah-ruah di serambi mushola tersebut.

Layaknya pasar kaget. Pelbagai menu makanan tumplek di pelataran tempat ibadah tersebut. Salah satu warga, Dian (21) menuturkan ‘Ini sudah menjadi tradisi kami. Semenjak saya masih kecil juga pasar Patal ini sudah hadir, cetusnya.

Menyinggung ketidakbolehan berjualan di hari jum’at pula, Ia menjelaskan ‘Wah yang begituan tidak berlaku lagi disini. Lho wong yang tidak boleh berdagang itu sebelum jum’atan. Inikan berjualanya sesudah shalat.

‘Kendati menyiapkan lapanknya harus sebelum shalat dimulai. Masa pas waktu shalat,’ tambahnya.

Hal senada juga dilontarkan oleh Bambang (23) ‘Pokoknya larangan untuk tidak boleh berjuala di hari jum’at tidak disakralkan di sini mah, paparnya.

‘Ya bukan apa-apa. Biasanya ba’da shalat itu haus dan lapar. Apalagi bagi mahasiswa pasar kaget ini sangat bermanfaat. Mereka bisa nyantai sambil menyamtap idangan cemilan tersebut, katanya.

Kehadiran pasar kaget ini tak hanya dirasakan oleh jemaat mesjid, tapi para penjaja makanan pun ikut mendapatkan keuntungan dan berkah. ‘Selain bisa beribadah secara berjamaah disini, saya juga bisa menghidupi keluarga dengan halal, ungkap salah satu pedagang. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Es Campur, 11/01/08;13.12 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/12/2008 03:10:00 PM   0 comments
Suhuf (19)
Thursday, January 10, 2008
Kata Mereka; Tahun Baru Hijriah 1429
Oleh Ibn Ghifarie

Tahun baru Hijrian 1429 tiba, sebagian umat islam merayakanya dengan pelbagai kegiatan. Perlombaan busana muslim; Adzan, Kaligrafi, cerdas cermat dan Tabligh Akbar. Adakah makna lain saat datang Hari 1 Sura itu?

Islam datang sebagai sesuatu yang asing dan akan pergi sebagai sesuatu yang asing pula. Se’asing’ kita memandang Tahun Baru Hijriah. Selamat Tahun Baru Hijriah 1429 H, kata Tedi Taufiqrahman, Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ushuluddien UIN SGD Bandung.

Wilujeng Tahun Baru 1429 H. Mundut rahayu. Mapag darajat. Nyucrug galur mangsa katukang. Seja noweksakeun rasa urang, ungkap Sukron Abdillah, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda.

Ia ya kita the sudah menjadi ghubara di padang sahara sejarah yang terlalu pelit memberi mantra pengingat berbintang kota kecil. Masih mempertontonkan karnaval hijrian itu.

Paling tidak mesti sedetik, masih bisa menanamkan gairah itu. Selamat Tahun Baru Hijriah 1429 H, tutur A Ramdhani, Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat.

Refleksi kritis nan transcendent menghantarkan Muhamad menjadi pencerah zaman. Literalistiknya umat menjadikan mereka pemapan zaman. Selamat Tahun Baru Hijrian 1429 H, cetus Farid, Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Mulya Jakarta. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 10/01/07;15.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/10/2008 11:42:00 AM   0 comments
Suhuf (18)
Wednesday, January 02, 2008
Blog Serasa Rumahku
Oleh Ibn Ghifarie

Setelah hampir sepekan ini, aku sangat sering nongkrongin komputer. Ya sekedar ngecek email, nyari data atau ngeblog saja. Apalagi pascaperkenalan dengan pengelola ayongeblog.com

Jawaban untuk ikut bisa gabung pun dilayangkan oleh para pengurus website tersebut. Tanpa panjang lebar, aku mendapatkan username dan passwordnya.

Ikut Gabung
Namun, apa yang terjadi. Id yang diberikan oleh pihak pentolan situs itu tak bisa masuk. Berkali-kali aku dibutnya dan setiap itu pula tak bisa log in. Entah karena persoaln apa? Yang jelas aku tak bisa berbagi soal blog pada komunitas tersebut.

Alhamdulillah, Kini, bisa bertukar pengalam dengan para blogger lainya. Terimakasih para penjaga blog ini.

Ko, malah ngomongin seputar keterlibatanku pada kampanye pentingnya blog. Bukan berbicara soal manfaat ngeblog?

Hilang Data
Semula perkenalanku pada dunia ini saat aku mulai belajar diskusi pada satu forum tertentu. Maklum dari desa. Kehadiran internet dengan segala kelebianya, membuatku jatuh hati pada system informasi ini.

Nah, kala asyik posting pada komunitas 'Diskusi Maya' itu tiba-tiba semua data hilang. Konon, menurut pengelola Sawla Cyber itu ada yang jail. Walhasil, tulisanku pun tak ada. Entah dimana rimbaya?

Lenyapnya data bese itu, membuataku kelabakan. Pasalnya, sudah hampir semninggu file yang ada di komputer kawanku, rusak. Semua hasil buah karyaku tak bisa diambil. Sekedar nyalain saja. Rasanya tka bisa.

Meski dapat diangkat kumpulan coretan itu, tapi membutuhkan waktu yang sangat lama. Sedihan bukan?

Rasanya tak bisa berbuat banyak manakala sebagian tulisan itu raib.
Saat kacau menghadapi kenyataan pahit itu, tanpa disadari kawanku memperkenlkan aku pada dunia Blog. Apa itu?

Tiada hati Tanpa Ngeblog
Blog merupakan catatan harian online. Kira-kira begitulah. Ingin mengetahui seputar duni Blog. Silakan buka ini.

Semanjak itulah aku mulai akrab pada media online ini. Bahan bacaan dan data soal ngeblog ku lahap juga.

Rasnya tak ada waktu luang untuk lepas dari cengkraman dyri ini. Pasalnya, setiap tulisan yag telah di kirimkan ke beberapa media atau sekedar ngebalas pesan dari sahabat lain. Tempat ini menjadi tumpuan terakhiir.

Kendati blogku masih Alakadarnya, tapi aku tetap menjag dan mempublis coretanku. Ya sekedar artikel, puisi, cerpen, refotase, pamplet, kegelisahanku. Seakan-akan menjadi kawan akrab saat melepas kepenatan seharian atas pelbagai aktifitas. Hingga penaman Blog masih meminjam Alakadasisme.

Memang kondisinya masih kurang sana-sini. Namun, ngeblog sudah menjadi kegiuatan rutinitasku.

Waduh….malang pamerin blog pribadi. Ngomong-ngomong kapan ngasih ilmu soal kegunaan media ini?

Paling tidak dari perkenalaku dengan aktivitas ngeblog ini. Di antranya; Pertama, menyimpan kumpulan tulisan dan dapat dibaca oleh halayak banyak. Kedua, banyak kawan untuk berbagi cerita tentang apa saja. Ketiga, pencari uang, tapi dalam urusn ini aku masih belum tau banyak. Ya itu masih menurut pengalaman bebrapa temen-temenku. Keempat, banyak rekan-rekan dari pelbagai kalngan.

Pokoknya, hingga kini kegiatan ini lakukan. Seolah-olah Blog Serasa Rumahku. So..kira-kira menurut sahabat-sabahat apa?


Ayongeblog..!! [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Sekre Kere, 27/07/05;23.25 wib dan 31/12/07; 23.47 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/02/2008 04:30:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.