'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (9)
Tuesday, March 25, 2008
Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama
Oleh Ibn Ghifarie

Pascatragedi pengeboman di menara kembar WTC (11 September 2001) Amerika Serikat wajah umat islam Indonesia berubah derastis menjadi buram, bengis, hingga sarang teroris.

Semula kita kenal pemeluk agama islam--yang mayoritas sangat toleran, terbuka, ragam dan menghargai pendapat orang lain atua kelompoknya yang beda pandangan. Hal ini tercermin dari semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Ketuhan Yang Maha Esa (pancasila)

Kini, segala persoalan harus diselesaikan dengan kebudayaan barbar. Kebiasaan bom bunuh diri pun jadi trend yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Mengerikan bukan?

Betapa tidak, dalam kurun waktu 2000-2005 terdapat lebih dari sepuluh tragedi memilukan sekaligus geram atas perbuatan lalim tersebut. Lihat saja, datamya begitu pantastis. Penghujung tahun 2000; Bom Kedubes Filipina, Jakarta (1 Agustus), Bom Kedubes Malaysia, Jakarta (27 Agustus), Bom Gedung Bursa Efek Jakarta (13 September) Bom malam Natal (24 Desember), 2001; Bom Plaza Atrium Senen, Jakarta (23 September), Bom Restoran KFC, Makassar (12 Oktober), Bom sekolah Australia, Jakarta (6 November), 2002; Bom malam Tahun Baru (1 Januari), Bom Bali (12 Oktober) Bom Restoran McDonald's Makassar (5 Desember), 2003; Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta (3 Februari) Bom Bandara Cengkareng, Jakarta (27 April), Bom JW Marriott (5 Agustus), 2004; Bom cafe, Palopo (10 Januari), Bom Kedubes Australia (9 September), Bom Kedubes Indonesia, Paris (8 Oktober), Bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah (12 Desember),2005; Dua Bom meledak di Ambon (21 Maret), Bom Pamulang, Tangerang (8 Juni), Bom Bali (1 Oktober), Pemboman Palu (31 Desember) (www.wikipedia.org)

Maulin Nabi; Moment Evaluasi

Satu pertanyaan yang kita mesti ajukan sekaligus menjawabnya secara bersama-sama bagi umat islam. Benarkan Muhammad mengajarkan perbuatan keji tersebut? Adakah landasanya untuk tetap berbuat jahat terhadap agama, atau keyakinan oralng lain?

Sejatinya kehadiran Maulid Nabi yang jatuh pada 12 Rabiul Awal (Sunni) dan 17 Rabiul Awal (Syiah) kita jadikan sebagai moment evaluasi (muhasabah) secara bersama-sama. Pasalnya, Nabi Muhamad sangat menganjurkan perbuatan arif dan bijaksana.
Bukan hanya sekedar pergelaran rutinitas semata. Semisal menggelar Tablig Akbar, perlombaan; busana muslim, kaligrafi, azdan, makan (tumpeng). Tentunya, mengelurkan biaya yang tak begitu sedikit.

Kendati, asul-muasalnya kebiasaan merayakan Mauldd Nabi ini berasal dari Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayubi (1174-1193 Masehi). Konon, dipenghujung abad ke-11 Masehi, dunia Islam kewalahan menghadapi serangan negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman dalam Perang Salib. Hingga pasukan Barat (1099) akhirnya dapat merebut Jerussalem sekaligus mengubah Masjidil Aqsa menjadi gereja. Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayubi yang berkuasa 1174-1193 Masehi (570-590 H) melihat kekalahan dunia Islam disebabkan oleh daya juang kaum Muslimin yang semakin melemah.

Maka, ditangan Salahuddinlah kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Pada mulanya, maulid Nabi diperingati di wilayah Suriah Utara untuk membangkitkan kembali semangat juang umat Islam. Ternyata, peringatan maulid ini berhasil membangkitkan gairah jihad, sehingga kemudian diperluas pelaksanaan peringatannya di seluruh kekuasaan Islam.

Salahuddin berasal dari Suku Kurdi. Semula Ia sempat mendapat tantangan dari para ulama dalam rangka peringatan maulid sebagai sesuatu yang bid'ah. Namun, ia meyakinkan pemuka agama, peringatan maulid bukanlah ritual peribadatan semata, melainkan spirit membangkitkan gairah dan semangat juang umat Islam. Sebagai Khadimul Haramain (Pelayan kota suci Mekah dan Madinah), Salahuddin bahkan selalu mengingatkan jemaah haji untuk merayakan maulid sesampainya di tanah air masing-masing. (Pikiran Rakyat, 30/03)

Belajar Toleransi
Mencermati kelahiran Muhammad sebagai pembawa risalah yang benar dengan cara santun dan sangat menghargai kearifan lokal. Bukan dengan cara keji, memaksa hingga menghilangkan nyawa orang lain.

Tengoklah satu peristiwa 'ajaib' ini, saat Rasul pergi ke Mesjid untuk melakukan ibadah shalat, di tengah-tengah perjalanan baginda selalu mendapatkan cacian, makian hingga ludahan dari seorang agama non islam. Kala para sahabat marah atas peristiwa biadab itu, Nabi malah berkata biarkanlah mungkin karena ia belum mengetahui ajaran islam.

Satu ketika Rasul dibutknya heran, karena sang peludah itu tak ada di tempat. Usut-punya usut ia sakit keras. Apa yang terjadi saat nabi mengatahui sang pengumpat sakit. Berangkatlah ia bersama sahabatnya untuk menengok orang sakit tersebut.
Walhasil, seorang non muslim itu masuk islam dan mengucapkan dua kalimat sahadat petanda memeluk agama islam.

Menyambut tahun 2008 sebagai tahun dialog antarumat beragama atau antarbudaya dengan modal sikap keterbukaan dan tolerans. Mestinya kita menyambut baik prakarsa Parlemen dan Dewan Uni Eropa di Brussels mendeklarasi tahun 2008 sebagai Tahun Dialog Antarbudaya (intercultural dialogue) untuk Benua Eropa.

Tidak tanggung-tanggung, kepada Komisi Kebudayaan yang dipimpin J'n Figel diberi budget 10 juta euro untuk kesuksesan Tahun Dialog Antarbudaya di benua malam Pasca-Pidato Regensburg Sri Paus Benediktus XVI bulan September 2006. (Kompas, 26 Februari 2008)

Dengan demikian, upaya mendialogkan antarbudaya, antaragama mari kita awali dari kalangan Islam yang tengah merayakan kelahiran Muhammad. Sikap keterbukaan, toleran dan menghargai orang lain menjadi modal utama dalam menciptakan persaudaraan yang damai dan pencitraan agama islam Indonesia yang ramah. Semoga.

*Penulis Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/25/2008 08:25:00 PM   2 comments
Suhuf (8)
Thursday, March 06, 2008
Berburu Lapak Dagangan
Oleh Ibn Ghifarie

Satu hari sebelum pelaksanaan Wisuda Ke-47 Uiniversitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, sabtu 08 Maret 2008.

Kampus hijau mulai acak-acakan lagi. Semula tertata rapi. Kini, tempat parkir kendaraan saja dimana-mana dan seenaknya. Tumpukan besi dan tenda mulai didirikan disekitar Auditorium UIN SGD bandung guna menutupi teriknya matahari dan tempat duduk kelurga yang melihat prosesi anaknya di wisuda.

Para pedagang di daerah Gede Bage, Jatinangor dan lingkungan kampus sendiri mulai berburu sekaligus mematok lapak dengan tali erpin.

Tak ayal di sana-sini ruasan jalan dapat dipastikan ada benang rapia dan pasar kagen pun tak terekan lagi.

Salah satu pedagang, Babeh menuturkan, 'Aduh geus heurin jeung hese lapak yeuh. Padahal pan urang pedagang didieu. [Waduh sudah penuh dan nyari lapak juga susahnya minta ampun. Padahal kan saya pedagang asli sini], keluhnya.

Hal senada juga dikemukana oleh Asep, penjual baso tahu ‘Iya nih sudah penuh dan susah banget nyari lapak’

Saat ditanya kenapa harus terburu-buru dan mematok lapak, ia menjelaskan ‘Ya kalau bukan dari sekarang mau kapan lagi. Masa besok. Dapat dipastikan sudah tak bias berjualan.

Otomatis tak bisa memberikan nafkah pada keluarganya dan mau diberi makan apa besok, cetusnya.

Inilah pasar kaget 2 kali dalam satu tahun. Tentunya proses wisuda ini membawa berkah bagi para penjaja makanan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 06/03/08;15.56 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/06/2008 12:53:00 PM   1 comments
Suhuf (7)
Pemilihan Ketua SEMA Fakultas Ushuluddin
Oleh Ibn Ghifarie

Perubahan sistem pemerintahan mahasiswa (Student Good Govermance) dari BEM (Badan Eksekutive Mahasiswa) ke DEMA (Dewan Mahasiswa) dan SEMA (Senat Mahasiswa) berdasarkan surat keputusan Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia No Dj. i/253/2007 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Islam (PTAI) dapat dilaksanakan juga.

Hari ini Kamis (06/03) Fakultas Ushuluddin diprakarsai oleh Pembatu Dekan III Drs Afgoni. M.Ag., menggelar pemilihan Senat Mahasiswa (SEMA) periode 2008-2009 di Ruang Sidang Ushuluddin.

Berdasarkan informasi yang kami terima dari panitia penyelenggara menuturkan “Calon SEMA terdiri dari 5 orang, diantranya; Didin S (mahasiswa Tasawuf Psikotrafi), Nasrul (mahasiswa Aqidah Filsafat), Eji (mahasiswa Sosiologi), Irsyad G N (mahasiswa Perbandingan Agama), Acep S M (mahasiswa Tafsir Hadis)”

Kendati saat pemilihan dua calon tak bias hadir; Didin S dan Acep S M. Namun, pencoblosan tetap dilaksanakan dan terpilihlah Eji sebagai Ketua SEMA Ushuluddin dengan memperoleh 19 suara, ungkapnya.

Posisi kedua diduduki oleh Nasrul (12) dan ketiga Irsyad G N (2) serta absten (5) dari total hak pilih berjumlah 38, jelasnya.

Menyinggung sisitem pemilihan yang diwakilkan berdasarkan 9 suara untuk setiap jurusan. Yaitu 3 orang pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang terdisi dari Presma, Sekum dan Bendum dan 6 orang lagi perwakilan dari mahasiswanya.

Ia menjelaskan ‘Memang begini aturanya dan kita hanya menjalankan surat edaran tersedut, tegasnya.

Pemilihan Ketua SEMA telah ditetapkan. Pelbagai harapan untuk membawa Fakultas Ushuddlin ke arah yang lebih baik dan menjadi gerbong pemikian UIN pun terus dilontarkan mahasiswa.

Salah satunya oleh Saeful Anwar, mahasiswa Aqidah Filsafat berkata ‘Ya paling tidak harapan kedepan tidak ada diskrimminasi terhadap jurusan yang jumlah mahasisawnya relative sedikit. Pencitraan Fakultas Filsafat dan Teologi sebagai gudangnya ilmu dan mahasiswanya mahir dalam berwacana harus digalangkan kembali.’

Yang lebih terpenting lagi, “Segala persoalan yang menyangkut dengan kebaikan bersama mahasiswa harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan apa pun.” [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng,06/03/08;15.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/06/2008 12:51:00 PM   0 comments
Suhuf (6)
1073 Calon Wisudawan Ke-47
Oleh Ibn Ghifarie

Hingga hari ini pendaftaran calon Wisudawan Ke-47 Prodi (Program Studi) Diploma, S1, S2 dan S3 berjumlah 1073 orang. Demikian ungkap Mumuh Muksin, Kabag (Kepala Bagian) Akademik UIN SGD Bandung di ruang kerjanya.

Adapun perincian data dari panitia penyelenggara Wisudawa Ke-47 menjelaskan ‘Untuk Fakultas Ushuluddin 45 orang terdiri dari 31 laki-laki dan 23 perempuan; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan MIPA 182 orang terdiri dari 83 laki-laki dan 99 perempuan;

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Tadris 402 orang terdiri dari 151 laki-laki dan 251 perempuan; Fakultas Syari’ah dan Hukum 177 orang terdiri dari 106 laki-laki dan 71 perempuan; Fakultas Dakwah dan Komunikasi 118 orang terdiri dari 74 laki-laki dan 44 perempuan; Fakultas Adab dan Humaniora 59 orang yang terdiri dari 33 laki-laki dan 26 perempuan; Fakultas Psikologi 27 orang yang terdiri dari 9 laki-laki dan 18 perempuan; Fakultas Sains dan Teknologi 2 orang yang terdiri dari 2 laki-laki; Pascasarjana (S2) 50 orang yang terdiri dari 39 laki-laki dan Pascasarjana (S3) 2 orang yang terdiri dari 2 laki-laki.’

Berkenaan dengan pelaksanaan Wisuda ini, Ia menambahkan ‘Acara ini insya Allah akan dilaksanakan pada hari, Sabtu 8 Maret 2008. Bertempat di Auditorium UIN SGD Bandung', ungkapnya.[Ibn Ghifarie]

cag Rampes, pojok Komputer Ngeheng, 05/03/08;16.23 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/06/2008 12:48:00 PM   0 comments
Suhuf (5)
Monday, March 03, 2008
Menulis Petanda Orang Beradab
Oleh Ibn Ghifarie

Saat ngimpul bareng kawan-kawan Sunan Gunung Djati beberapa pekan lalu. Kala senja mulai tertutupi oleh awan dan munculnya warna merah di ufuk barat petanda Sang Raja Siang ingin ‘berpamitan sejenak’ kepada kita dalam rutinitas kesehariannya.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu pertanyaan yang dilontaskan oleh temenku ‘Kenapa benyak penulis brilian dari Sumatra atau paling tidak ada keturunan Minangnya daripada Jawa, termasuk Sunda?’

‘Seperti Buya Hamka, A Nafis, itu yang sudah meninggal atau Buya Syafie dan Azra yang masih hidup!!

Kata Pamali;Sumber Ketidak Bebasan Berekspresi
Aku hanya bisa menjawab ‘Sejak awal mereka tidak pernah mendapatkan larangan saat mengelurkan pendapat sekalipun berbeda dengan orang tuanya’

Coba liat dalam obrolan Nenek kepada Cucunya saat bertamasya ke Kampung halamannya ‘Saat ada yang bertanya Ari ujang kadieu sareng saha? [Bareng siapa kesini]

Naek pasawat terbang [Naik pesawat terbang], jawabnya

Aduh teu kenging nyarios kitu pamali. Pan ujang teh kadieu sareng Bapak naek mobil pan!! [Jangan biang begitu. Kan cucu datang ke sini sama Bapak itu naik mobil bukan!] Tegur Nenek.
Disadari atau pun tidak, kata-kata pamali inilah yang membuat daya fakir masyarakat Sunda (maaf) sedikit tidak bebas. Imajinasi untuk menuliskan satu gagasan menjadi terganjal.

Berwatak Bebas, dan Tak Peodal
Deretan pertanyaan sahabatku, terus muncul sekaligus menuntut jawaban. Sampai-sampai saat mengikuti acara Seminar di Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema "Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media".

Nah, saat penjamuan makan siang pula akhirnya pertanyaan serupa ku lontarkan juga pada kedua Narasumber; Wilson Lalengke, Pimred HOKI dan Andreas Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi.

Menyoal kebanyakan penulis berasal dari masyarakat sekaligus keturunan Minangkabau, Sumatra daripada Jawa atau Sunda Wilson Lalengke, Pimred HOKI menjelaskan ‘Mungkin saja karena budaya Jawa itu terlalu peodal dan mangut-mangut terhadap orang tua atau yang kita tuakan, jelasnya

Berbeda dengan kami setiap anak saat saya masih kecil bebas untuk mengepresikan apa yang kita rasakan, alami dan liat untuk ditulis, tambahnya.

Selain itu, kebiasaan merantau ke daerah lain untuk laki-laki dan jangan harap kembali bila sebelum berhasil, baik dalam urusan materi maupun imateri, ujarnya.

Faktor-faktor inilah yang memicu terlahirnya ribuan penulis. Kendati besarnya para penulis tidak di daerah aslnya. Melaikan setelah merantau ke Ibu Kota, tegasnya.

Hal senada juga diamini oleh Andreas Hirata, penulis ‘Tertalogi Laskar Pelangi’ menuturkan liarnya imajinasi saat anak-anak menumbuh kembangkan gagasan yang brilian ‘Berbeda dengan kebiasaan masyarakat luar Sumarta, maaf terlalu dikungkung oleh atauran-aturan yang kaku.’
Tradisi inilah yang terus memicu anak muda untuk terus berkarya sekeil apa pun, ungkapnya.

Baca, Diskusi dan Merenung Modal Menulis
Kebiasaan tulis-menulis tak selamanya hadir tanpa sebab. Melainakn harus dibina secara terus menerus supaya terlatiih. Banyaknya bacaan, seringnya berdiskusi dan membiasakan diri untuk tetap menulis apa yang kita rasakan, alami, lihat, tentu akan membuahkan tulisan yang renyah dibaca. Adakah waktu tepat untuk menuliskan sesuatu?

Menanggapi kehadiran ide-ide untuk membuat tulisan di malam hari saat orang lain tertidur lelap. Sukron Abdillah, tukang Bewara Sunan Gunung Djati menjelaskan ‘Kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa ini seakan terus-menerus mengidap penyakit "insomnia" di malam hari.’

Bahkan ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco--menulis adalah sebuah kewajiban moral, kilahnya.

Lebih berapiapi lagi Ia menuturkan ‘Tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya sesuatu yang “absurd”.’

Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan. Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.

Memang menulis tidak muncul dalam kesendirian, tapi selalu terkait dengan budaya membaca, diskusi dan merenung.

Sejatinya kebiasaan menulis tak perlu diembel-embeli dengan perasaan takut tak dibaca atau di terbitkan. Pramoedya Ananta Toer mempunyai strategi jitu dalam menepis anggapan ini “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”

Tentunya, menulis merupakan pertanda orang-orang beradab. Lihat saja jargon dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) ‘Sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen ma from barbarian).

Mencoba mengikuti orang-orang berakhlak mulia, maka tak ada car alain selain menulis, menulis dan menulis. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi, 1/03/08;00.34 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/03/2008 11:11:00 AM   3 comments
Suhuf (4)
Pimred HOKI Bertandang Ke Sunan Gunung Djati
Oleh Ibn Ghifarie

Pasca Seminar di Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema 'Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media'

Pimred HOKI, Wilson Lalengke sempat mengnjungi Sunan Gunung Djati Komunitas Blogger UIN SGD Bandung. Sekitar 7 orang (Dian, Ibnu, Hikmat, Didin, Oki, Wanddi, satu perempuan) berkumpul di Sekretariat ISR@C (Institute Religion and Cultur) Jl A. H Nasution No 34 Cibiru Bandung 40416.

Kendati hujan terus menguyur Kota Kembang pasca shalat jum’at itu, namun antusias warga Sunan Gunung Djati untuk bertemu sekaligus bincang-bincang dengan Pimred HOKI sangat kuat.

Pertemuan ini terkatit dengan keberadaan HOKI di Bandung, yang telah mengukuhkan Ibn Ghifarie, sebagai ‘Citizen Reporter of the Month February 2008’

Saat ditanya asal-muasal HOKI, ia menuturkan ‘Kurangnya media yang bisa memuat tulisan dari wartawan dan karyawan satu Harian Umum, diharapkan HOKI menjadi media alternative.’

Derasnya arus informasi dan memasarakatnya ‘Citizen Reporter’ dikalangan masyarakat ‘Tidak menutup kemungkinan warga biasa dapat mengirimkan tulisanya. Maka layanan yang kami hadirkan ruang ‘Daptar Jadi Penulis’.’

Semuanya bisa ditulis dan dikirimkan ke Redaksi HOKI. Tentu yang tidak berbau Sara, porno dan mengdiskriditkan kelompok yang lain, paparnya.

Dalam obrolan terakhirnya, Ia memberikan pesan ‘Beras harapan saya bila kawan-kawan yang hadir dalam pertemuan ini bisa terus mensosialisasikan dan menjadi penulis tetap di HOKI. [Ibn Ghifarie, Wandi]

Cag Rampes, Pokok Bumi Abdi, 29/02/08; 18.45 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/03/2008 11:09:00 AM   2 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.