'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (1)
Saturday, May 31, 2008
1 Juni; Kelahiran Pancasila dan Kebebasan Beragama, Mungkinkah?
Oleh Ibn Ghifarie

Momentum Hari Kelahiran [kesaktian—masa Orba] Pancasila yang selalu diperingati pada 1 juni setiap tahun.

Sejatinya, hari kesaktian Pancasila harus menjadi modal dasar evaluasi sekaligus semangat toleransi dan pencerahan bagi seluruh dialog antariman dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam kebebasan beragama di Indonesia.

Kesucian Pancasila juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh kualitas kita dalam menghargai perbedaan (Suku, Agama, Ras, Budaya) semenjak bangsa ini merdeka.

Betapak tidak, kisruh antar golongan dalam urusan kebebasan berkeyakinan dan beragama menjadi menu hidangan keseharian kita yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Malah semakin tak tentu arah penyelesainya.

Yang lebih mengerikan lagi, pemerintah kadung mengeluarkan wacana SKB. Kendati belum pinah, tapi ribuan orang—anak-anak, ibu dan lanasia tersayak hatinya akibat ulah kelompok tertentu dan susah untuk dilupakanya, ratusan rumah ibadah tak rusak berat dan tak bertuan, puluhan bangunan sekolah—Perguruan Tinggi menanti aktivitas civitas akademik yang tak kunjung datang juga. Mengerikan memang.

Tengeoklah, perseteruan internal pemeluk ajaran islam antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Majelis Ulama Islam (MUI) pascapengeluaran 11 Fatwa (2005). Hingga dikeluarkanya SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Mentri (Mentri Agama, Dalam Negeri dan Jaksa Agung) tentang pelarangan jamaah Ahmadiyah pascapelaporan hasil investigasi Bakor Pakem (Badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) beberapa pekan yang lalu.

Menilik ketidakharmonisan antariman dan pemerintah yang mengambil kebijakan. Kiranya, bila saat tiba Hari Pancasila Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menggelar Seruan Apel Akbar Hari Pancasila bertajuk "Satu Indonesia untuk Semua" di Pelataran Monas (Belakang Stasiun Gambir) Minggu, 1 Juni 2008, Pukul 13.00 WIB
Bersama para tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, masyarakat adat, seniman, artis, profesional, aktivis perempuan, dan segenap elemen bangsa yang memiliki kepedulian bersama untuk menjaga perdamaian dan keutuhan bangsa.

Tunjukkan bahwa keragaman agama, keyakinan, budaya, adat, ras, etnis adalah ciri Indonesia. Tunjukkan bahwa kita bisa berjalan beriring dalam perbedaan. Tunjukkan bahwa kita masih memiliki Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Tunjukkan bahwa kekerasan atas nama apapun tidak bisa ditolerir di negeri ini.

Ajaklah sanak saudara dan seluruh handai taulan untuk merayakan keragaman dan perdamaian Indonesia.

Pasalnya, pancasila meruapakan dasar negara, falsafah bangsa, dan pemersatu segala umat Indonesia yang berbeda suku, agama, keyakinan, dan golongan.

63 tahun pancasila telah tumbuh berkembang sekaligus menyemai dalam diri kita, tapi tak berbanding lurus dengan jumlah yang tak sedikit itu, malah berbuah petaka bagi aliran-aliran [minoritas] saat bergaul dengan kelompok penguasa [mayoritas]

Kehadiran ribuan sekte, kadangkala dianggal ganjil, hingga meresahkan masyarakat sekaligus menisbikan Tuhan.

Diakui atau tidak Indonesia memang bukan negara islam, tapi bukan juga negara sekuler, melainkan sebuah agama sebuah negara hukum yang percaya pada perlindungan HAM sebagaimana tertuang dalam deklarasi Universal HAM dan UUD 1945.

Perbedaan pendapat, penafsiran antargolongan telah diatur sedemikian rupa dan jelas payung hukumnya. Semuanya terangkum dalam UUD 1945.

Kiranya, kebebasan masyarakat untuk berkumpul dan beda bendapat diberikan ruang seluas-luasnya, bukan dipersempit sekalipun tak beragama.

Bila perlakuan ini yang terjadi dan mendarah daging dalam tubuh kita, maka dimanakah kesaktian hari pascasila itu yang bisa mengatur, mengakomodir segala persoalan kebangsaan dan keumatan. Selamat hari Pancasila dan Selamat Pula Hari Kebebasan Beragama. Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 30/05/08;23.59 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/31/2008 08:51:00 PM   0 comments
Suhuf (20)
Friday, May 30, 2008
Cak Nur Yes, Liberal No!!
Oleh Ibn Ghifarie

Dialog Imaginer Bersama Cak Nur Tentang Masa Depan Kebebasan Beragama

Pascadikeluarkanya 11 Fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 melalui Musyawarah Nasional (Munas) Ke-VII dialog antariman sekaligus masa depan kebebesan beragaman di Indonesia kian hari semakin terpuruk.

Betapak tidak, kisruh antara MUI dengan Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tak kunjung usai. Penantian keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Mentri Agama, Mentri Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung menjadi sesuatu yang menakutkan. Pun perseteruan satu-satunya lembaga—konon pewaris Anbiya dengan kehadiran pelbagai Komunitas Eden; Shalat Dua Bahasa; Wahidiah; Islam Sejati; Majelis Alif dan aliran kepercayaan lainya semakin menganga.

Terlebih lagi, dengan adanya pelarangan 3 paham. Yakni Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (SPL) di Bumi Pertiwi membuat kebebasan beragama menjadi ‘terkebiri’.

Ironisnya, kemelut sekaligus ‘penertiban keyakinan’ ini terjadi dalam ruang lingkup seagama, bukan antarumat beragama. Mengerikan bukan?

Kemunculan Preman Berjubah—meminjam istilah Syafi’e Ma’arif pula berbuah petaka baru dalam menyelesaikan setiap persoalan dengan budaya anarkis sekaligus barbar.
Kiranya, petuah islam agama rahmatan lil’alamin dan sangat menghargai perbedaan pendapat hanya selogan belaka dan berhenti pada konsep semata.

Belajar Dari Cak Nur
Menilik ketidakharmonisan seagama, antarumat beragama dan pemerintah. Mestinya, kita menengok kembali pemikiran Nurcholish Madjid. Apalagi sejak meninggalnya Cak Nur konflik antariman semakin sering bermunculan.

Kini, pentolan Paramadinan telah tiada (2005) dan hanya meninggalkan pemikiannya—yang dianggap oleh sebagian kelompok sangat kontroversial. Terutama pasca ijtihadnya melalui pidato ‘Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umatâ’ (1970) dengan jargon ‘Islam Yes, Partai Islam No’

Sejatinya, kahadiran memperingati 1000 hari wafatnya Cak Nur dan Nurcholish Memorial Lecture II menjadi modal dasar evaluasi sekaligus semangat toleransi dan pencerahan bagi seluruh dialog antariman dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam kebebasan beragama di Indonesia. Berikut petikan Dialog Imaginer bersama Cak Nur.

Faktor apa yang menyebabkan umat Islam sering kisruh antar kelompok satu dengan yang lainya?

Salah satu pangkal persoalnaya, karena umat silam kurang memahami agamanya sebagai pesan dan nasihat Ketuhanan (al-Din Nashihah).

Maksud Anda?

Kita ketahui bersama bahwa rujukan umat Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunah. Bagi saya sambil menegaskan Al-Quran merupakan pesan dan nasihat Tuhan.

Membicarakan soal pesan Tuhan, maka selayaknya kita juga mengenal dan berupaya mengimani Kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Zabur, Taurat, dan Injil yang diturunkan Sang Khalik kepada Anbiya.

Nah, pesan ketuhanan yang menjadi titik temu (common platform) dalam perjalanan panjang agama-agama itu akan bermuara pada Kesadaran Ketuhanan (Takwa) sekaligu keharusan berkeyakinan hanya ada satu Tuhan Yang Esa (tawhid) dalam diri umat beragama.

Tak hanya itu, The Ten Commandementnya Nabi Musa dan Injilnya Nabi Isa, kita akan menemukan pesan yang sama. Yakni hanya menyembah Tuhan Yang Esa (tawhid); tidak menyekutukan-Nya dalam bentuk apapun; tidak boleh membunuh; berzinah; mencuri; memfitnah; tidak bersaksi palsu dan dusta; jangan menginginkan harta; istri orang lain dan keharusan berbuat kebaikan.

Pada titik Inilah kita temukan kalimatun sawa antarkeyakinan yang dikenal oleh manusia dan orang-orang Islam diperintahkan sebagai landasan hidup bersama. [QS. al-Imran/3:64 dan QS. al-Syura/42:13]

Berangkat dari kerangka ini pesan suci yang bersifat universal sekaligus menjadi inti dan kesamaan pada semua agama yang benar.

Dalam bahasa yang lain, pesan dasar ini dikenal dengan sebutan ’perjanjian primordial’ kita untuk mengakui hanya ada Satu Tuhan (tawhid).

Selain itu, model keberagamaan mana yang menyebabkan konflik kian tak kunjung selesai itu?

Ada tiga model dalam keimanan; Pertama, Sikap Ekslusif. Sikap keberagamaan yang tertutup dan memandang keselamatan hanya ada pada agama dan teologinya semata.

Kita ambil contoh, dalam umat Kristiani dikenal selogan Extra Ecclesiam nulla salus, etraecclesiam nullus proheta (keselamatan hanya ada dalam gereja dan tidak ada nabi di luar gereja) pra-Konsili Vatikan II.

Umat Muhamad pula memiliki potensi yang serupa. Pandangan ini termaktub dalam QS.al-Maidah/5:3, al-Imran/3:85 dan 19.

Kedua, Sikap Inklusif. Tipe keberagamaan yang membedakan antara kehadiran penyelamatan dan aktifitas Tuhan dalam ajaran agama lain. Juru selamat beserta aktifitas Tuhannya hanya ada pada satu agama (Kristen).

Adalah Ibn Taymiyah, pendobrak kejumudan sekaligus menjadi tokoh Inklusif dalam Islam. Pemahaman ini didasarkan pada Al_Qur’an; Al-Imran/3:64--yang berbicara tentang kalimatun sawa agama-agama; Al-Maidah/5:48--yang menjelaskan adanya syir’ah (jalan menuju kebenaran) dan minhaj (cara atau metode perjalanan menuju kebenaran).

Ketiga, Sikap Pluralisme. Model keberagamaan yang memandang bahwa keselamatan ada pada semua agama.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kuatnya arus modernitas sikap keberagamaan ini menyakini pada prinsifnya agama yang ada di dunia ini akan selamat dan mengajarkan hal-hal yang baik. Namun, ekspresinya berbeda-beda. Singkatnya, keimanan antara Islam dengan yahudi, Kristen, Budhisme, Shintoisme, Konfucuisme sekalipun keyakinan lokal tak ada bedaya bila mengajarkan keselamatan dan berbuat baik.

Namun, yang menjadi persoalan, manakala teologi Pluralisme diartikan salah kaprah. Hingga dengan seenaknya mengelurkan 11 Fatwa haram hukumnya umat islam mengikuti pemahaman Pluralisme sebagai contoh.

Lihatlah definisi Pluralisme oleh MUI, Pluralisme diharamkan karena menganut paham semua agama adalah sama dan bahwa agama bersifat relatif dan tidak ada yang boleh mengklaim agamanya adalah agama yang paling benar. Padahal seseorang beragama karena keyakinannya akan suatu kebenaran.

"Yang boleh adalah pluralitas bahwa kenyataan masyarakat memiliki agama yang berbeda-beda dan karenanya harus saling menghormati dan berdampingan dengan baik," katanya. (Kompas, 28 juli 2005)

Lantas apa yang dimaksud dengan pemahaman pluralisme itu?

Kehadiran Suku, Agama dan Budaya yang berbeda-beda meniscayakan kita untuk menafikan sunatullah. Dengan demikian, pemahaman yang didasarkan kesadaran kemajemukan secara sosial-budaya-religi yang tidak mungkin ditolak inilah yang disebut sebagai pluralisme.

Satu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis dan menerimanya sebagai pangkal tolak untk melakukan upaya konstruktif dalam bingkai karya-karya kemanusiaan yang membawa kebaikan dan kemaslahatan.(Islam, Doktrin dan Peradaban;1995)

Adakah ayat-ayat yang menjelaskan pluralisme?

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk menghargai perbedaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satunya Q.S Al-Hujurat/49:13 “….Bahwa Allah menciptakan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai; QS. 30:22 “Perbedaan antara manusia dalam bahawa dan warna kulit merupakan pluralitas yang mesti diterima sebagai kenyataan yang positif dan merupakan salah satu kebesaran Allah.”; QS. 5:4 “Perbedaan pandangan hidup dan keyakinan, justru hendaknya menjadi penyemangat untuk saling berlomba menuju kebaikan. Kelak di akhirat, Tuhanlah yang akan menerangkan mengapa dirinya berkehendak seperti itu dan keputusan yang paling adil di tangan-Nya.”; Ar-Rum:22 dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah menciptakan bumi dan langit serta berlain-lain bahasamu, dan warna kulitmua; An-Naba 24-26; Katakanlah hai Muhammmad siapa yang membri rizki kepadamu dari langit dan dari bumi? Katakanlah Allah dan sesungguhnya kami atau kamu (non muslim) pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata, katakanlah kami (non muslim) tidak akan bertanggungjawab tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya pula tentang apa yang kamu perbuat. Katakanlah tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia memberikan keputusan antara kita dengan benar dan dialah maha pemberi keputusan lagi maha mengetahui.

Jika memang ada pluralisme dalam Islam. Coba uraikan prinsif-prinsifnya?

Karena keragaman sebagai kehendak Tuhan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Sejatinya, pluralisme harus berlndaskan pada; Pertama, Prinsip Pluralitas Merupakan Takdir Tuhan (QS.2:213, QS;5;4), Kedua, Prinsip Pengakuan Hak Eksistensi Agama di luar Islam (QS.5:44-50, QS.22;38-40). Ketiga, Prinsip titik temu dan kontinuitas Agama-agama, Nabi dan Rasul (QS.2;136-165, QS. 2:285, QS.42:13, QS.4:163-165, QS.2:136, QS. 29:46 QS. 42:15, QS. 5:4). Keempat, Prinsip tidak ada paksaan dalam Agama (QS. 2:256, QS. 10:99, QS. 22:38-40). Kelima, 3 Prinsip Esensi Agama: Keimanan kepada Tuhan, Hari akhirat dan Berbuat Baik (QS. 2:62, QS. 5:26). Keenam, Prinsip Menjunjung Nilai-nilai Kemanusiaan (HAM) (QS. 5:32).

Nah, berkenaan dengan keragaman ini satu Ajaran (pemahaman) ini tidak perlu diartikan semua agama sama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari akan tetapi ajaran kemajemukan keagamaan itu menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok” (Islam, Doktrin dan Peradaban, hal. 184).

Menyikap maraknya aksi kekerasan atasnama agama yang dilakukan oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang dianggap ganjil, hingga meresahkan masyarakat dan dapat menisbikan Tuhan. gamaimana tanggapan Anda?

Tentu pemerintah harus tegas menegakan hukum, bukan malah sebaliknya. Sudah jelas orang berbuat tindakan pengrusakan termasuk tindakan pidana.

Satu hal lagi yang harus kita ingatkan, Diakui atau tidak Indonesia memang bukan negara islam, tapi bukan juga negara sekuler, melainkan sebuah agama sebuah negara hukum yang percaya pada perlindungan HAM sebagaimana tertuang dalam deklarasi Universal HAM dan UUD 1945.
Sudah sepantasnya kita menjungjung tinggi sekaligus mengakan hukum dalam kehidupan sehari-hari.

Sedari awal saya menolak berdirinya negara Islam. Pasalnya, tak ada contoh dari Muhammadnya. Piagam Madinah bukan konsep berdirinya Negara Islam, tapi bagaimana cara kita menghargai keyakinan orang lain.

Pluralisme Pro-Aktif
Pemahaman pluralisme, bukan hanya mengakui tapi membiarkan orang lain yang bebeda dengan kita untuk berkretifitas dengan bebas. dalam kontek ke kinian pluralisme tidak hanya kesadaran atau pemahaman adanya heterogentas, tapi harus juga terlibat secara pro aktif dalam mengejawatahkan nilai-nilainya. Keharusan pro aktif inilah yang tidak disentuh, selama ini. Apalagi digumulai oleh orang-orang yang selama ini mengaku memehami pluralisme.

Dus, dengan memahami dan ikut andil dalam mewujudkaan pemahman pluralisme ini merupakan satu langkah awal menuju pintu kebajikan dan pembebasan dalam memahari keragaman yang ada pada manusia.

Namun, bagi Alwi Shihab pluralisme harus dibedakan dari; Petama, pluralisme tidak semata menunjuan pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Dengan kata lain, pluralisme agama adalah bahwa tiap pemluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercipanya kerukunan, dalam kebinekaan.

Kedua, plualisme harus dibedakan dengan kosmpolitanisme. Kosmopolitanisme menunjukan kepada suatu realita di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi. Ambil misal kota New York. Kota ini adlah cosmopolitan. Di kota ini terdapat agama Yahudi, Kristen, muslim, Hindu, Budha, bahkan orang-orang tanpa agama selakipun.

Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan elativisme. Seorang relativis akan berasumsi hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berfikir seseorang atau masyarakat.

Keempat, pluralisme agama bukanlah singkretis, yakni menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsure-unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut. (Islam Inklusif;2001:41-42)

Kehadiran satu pemahaman terkadang menuai pelbagai kritik, cacian, hingga makian dari golongan tertentu yang tak sependapat denganya. Hal ini pula yang dialami oleh Cak Nur dalam membumikan pemahaman pluralismenya. Salah satu pengkritik terpedas, Nur Khalik Ridwan, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa, menjelaskan tentang pluralisme merupakan sebuah paham yang menegaskan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keragaman, heterogenitas, dan kemajemukan itu sendiri.

Oleh kerena itu, ketika disebut pluralisme, maka penegasannya adalah diajukannya wacana, kelopmpok, individu, komunitas, sekte, dan segala macam bentuk perbedaan sebagai fakta yang harus diterima. (Pluralime Borjuis; Kritik Atas Nalar Pluralisme Cak Nur 2002:77)

Cak Nur Bukan JIL
Kendati ide-ide liberal Cak Nur menuai pelbagai kecaman—semasa hidup dan wafatnya. Bukan berarti pemikirannya telah terkubur. Malahan semakin berkembang dengan tampilnya Komarudin Hidayat, Azrumardi Azra, Budhy Munawarrahman dan Universitas Paramadina menjadi bukti sejarah atas keberhasilan pembaruan pemikiran islam indonesia yang tak bisa dibantahkan lagi.

Salah satunya, petinggi Rektor IAIN Mataram dalam membuka acara Diskusi Publik ‘Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia’ 4 Juni 2007 menuturkan ‘‘Kalau paramadina membawa ajara-ajaran liberal, maka kami tolak, tapi bila membumikan gagasan Cak Nur, maka kami menerimanya, demikian dikatakan Budhi Munawarrahman saat ‘Forum Curhat’ Nasional Meeting Jaringan Antar Kampus, Hotel Pramesti Cibogo Bogor, (20/08/07).

Sejatinya kita mengamini pernyataan M Deden Ridwan—yang tengah menulis buku Cak Nur Bukan JIL. Paling tidak Ia mengurai alasan ketidakikutsertaan Cak Nur ke dalam kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Kendati sekira tahun 1970an Cak Nur pernah mengusung Sekulerisme dan Liberalisme.

Keberatan baginya, Cak Nur dikategorikan liberal.Memang cukup beralasan dikarenakan; Pertama, Liberalisasi Cak Nur lebih bersifat sosiologis. Ia berusaha membebaskan umat dari belenggu kultural dan tradisi yang pada waktu itu bisa dianggap menghambat berpikir rasional. Bukan liberalisasi dalam pengertian teologis, seperti mempertanyakan keotentikan Al-Quran, sebagaimana dikampanyekan JIL.

Kedua, Gagasan Cak Nur dan JIL berbeda secara ide. Pada Cak Nur, gagasan
pembaruan Islam lebih ditulis dan diartikulasikan secara akademis.

Buku Islam, Doktrin dan Peradaban, menjadi bukti. Secara paradigmatik, gagasan Cak Nur lebih sistematis. Dibandingkan dengan JIL, metode yang Cak Nur tawarkan lebih jelas. Yaitu, “memelihara yang lama yang baik dan mencari yang baru yang lebih baik”. Dalam hal menafsirkan Al-Quran, Cak Nur mengadopsi metode double movement, dari situasi sekarang ke situasi turunnya wahyu, lalu kembali lagi ke masa kini untuk menggali relevansi ajaran agama.

Sebaliknya, sistematisasi ide tidak tampak pada JIL. Gagasan JIL baru sebatas percikan ide spontan yang tercecer di surat kabar dan milis. Artikulasi pemikirannya belum terstruktur secara konseptual dan akademis. Karena itu, gagasan JIL secara epistemologis masih rapuh. JIL sampai kini belum punya metodologi yang jelas dalam menafsirkan Islam. Kritik pedas seperti itu pernah dilontarkan Dr. Haidar Bagir.

Ketiga, Cak Nur menjadi pemikir yang sadar menjadikan scripture Islam dan tradisi sebagai bagian dari public reasioning. Dan JIL tampaknya tidak demikian. Pada Cak Nur, penalaran publik itu murni dimotivasi oleh spirit agama. Warisan pemikiran Tocqueville dan Robert N. Bellah sangat kuat pada pembentukan mind set dan paradigma Cak Nur. Jadi, kuat sekali bahwa toleransi dan pluralisme Cak Nur selalu berangkat dari sandaran agama.

Dengan demikian, gagasan Cak Nur lebih relevan dan punya masa depan. Sebaliknya, JIL selama berwajah rigid, kaku, egois, dan terperangkap ke dalam “fundamentalisme liberal”, akan sulit hidup. (Gatra No. 19 Tahun XIV, 20 -26 Maret 2008)

Kiranya, kita mecoba membumikan pemikiran Nurcholis Madjid dalam menyongsong masa depan kebebasan beragama yang toleran, adil dan sejahtra. ‘Pokonya Cak Nur Yes, Liberal No!,’ saat menggambarkan pemikiranya yang diterima oleh banyak kalangan. Berbeda dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tak begitu mendapatkan perhatian dari masnyarakat, cetus Pradewi Tri Chatami, aktivis Jaringan Islam Kampus (JarIK) Bandung. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 24/05/08;23.58 wib

*Pembelajar Studi Agama-agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/30/2008 08:51:00 AM   3 comments
Suhuf (19)
Wednesday, May 21, 2008
Waisak Bagi Bangsa
Oleh Ibn Ghifarie

Momentum Hari Suci Waisak yang jatuh pada 20 Mei 2008 ini dan bertepatan dengan lahirnya Hari Kebangkitan Bangsa yang menginjak 1 abad (1908-2008).

Sejatinya, Waisak harus menjadi modal dasar evaluasi sekaligus semangat toleransi dan pencerahan bagi seluruh dialog antariman dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam kebebasan beragama di Indonesia.

Waisak juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh kualitas kita dalam menghargai perbedaan (Suku, Agama, Ras, Budaya) semenjak bangsa ini merdeka.

Pasalnya, dialog antaragama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang yang memerdekana kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati dialog antariman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain ‘ada’ (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-‘ada’-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi). (Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).

Tentunya, dialog ini tak sekedar mengantarkan pada sikap bahwa setiap agama berhak untuk bereksistensi secara bersama-sama. Pun wajib mengakui dan mendukung –bukan berarti menyamakan—eksistensi semua agama. Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Raimundo Panikkar dengan istilah dialog intra-religius. Yaitu yang tak hanya menuntut suatu sikap inklusif, tapi harus tumbuh berkembangnya sikap paralelisme, dengan mengakui bahwa agama merupakan jalan-jalan yang sejajar.

Kini, silang pendapat dalam soal berkeyakinan mulai terlupakan. Hingga berujung jadi petaka pada pengahncuran tempat ibadah, penyiksaan kepada anak-anak, ibu-ibu dan para lansia. Model pembunuhan satu aliran tertentu yang berbeda penafsiran [keimanan] dengan halayak banyak pun menjadi jurus pamungkas dalam menyelesaikan persoalan.

Tengeoklah, perseteruan internal pemeluk ajaran islam antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Majelis Ulama Islam (MUI) pascapengeluaran 11 Fatwa (2005). Hingga dikeluarkanya SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Mentri (Mentri Agama, Dalam Negeri dan Jaksa Agung) tentang pelarangan jamaah Ahmadiyah pascapelaporan hasil investigasi Bakor Pakem (Badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) beberapa pekan yang lalu.

Pesan Suci Waisak
Marik kita mencoba belajar dari agama dan pemahaman orang lain. Salah satunya ajaran Buddhisme—yang tengah merayakan upacara Vesakha Punnami Puja untuk merayakannya dan tujuh hari setelahnya mengadakan Vesakha Atthami Puja untuk memperingati diperabukannya Buddha Gautama.

Tibanya Hari Raya Waisak tiba, mengingatkan kita kepada tiga peristiwa luar biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta wafat Buddha atau Parinibbana.

Konon, peristiwa maha agung itu terjadi pada hari purnama sidi di bulan Waisak lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lampau. Tahun 623 S.M. Bodhisatta Siddhattha lahir di Taman Lumbini, India Utara; tiga puluh lima tahun kemudian beliau mencapai Pencerahan Sempurna sebagai Buddha, dan akhirnya Buddha Gotama mangkat pada tahun 543 S.M. Tahun ini Hari Raya Waisak 2552 jatuh pada tanggal 20 Mei 2008.

Peringatan Waisak 2008 dalam kontek Indonesia Sangha Theravada Indonesia bertajuk ”Kehadiran Buddha sebagai Sumber Kebangkitan Moral dan Semangat Mawas Diri” demikian tulis Jotidhammo Mahathera, Ketua Umum (Sanghanayaka)

Kehadiran hari raya Waisak tak sekedar mengingat 3 kejadian dahsat, tapi harus mencoba membangkitkan sosok Sang Buddha di tengah-tengah kehidupan ini. Juga tak berlalu begitu saja, sebab Guru Agung Buddha telah mewariskan Dhamma ajaran Kebenaran yang sampai dengan saat ini masih dijadikan sebagai “jalan hidup” bagi umat Buddha seluruh dunia.

Umat Buddhis masih meyakini tentang Kebenaran Dhamma dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, lebih bijak, dan tentu lebih berbahagia. Jalan hidup Dhamma yang diajarkan oleh Buddha mengutamakan moral [sila] sebagai landasan bagi penerapan Kebenaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua aspek ini diharapkan saling melengkapi. Pasalnya moral tanpa kebenaran Dhamma hanya menjadi norma-norma formalitas belaka tanpa dasar dan arah tujuan jelas, ataupun sebaliknya kebenaran Dhamma tanpa moral hanyalah berupa wacana filosofis semata yang tidak menunjukkan bagaimana penerapan ajaran Kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari (www.samaggi-phala.or.id)

Kebangkitan Bangsa
Jelang 100 tahun nasionalisme bangsa dari pelbagai keterpurukan dan ketidak berdayaan negara dalam mengatasi keterbelakangan pendidikan, kemiskinan dan kebebasan beragama.
Sejatinya perayaan Waisak dapat memberikan ‘energi lain’ dalam menyongsong 1 abad kebangkitan Indonesia. Bila dalam upacara suci di kenal 3 kejadian agung (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, dan Parinibbana), maka dalam kontek keindonesiaan terlahirnya seorang pemimpin yang dapat mengelurkan kita dari pelbagai krisis yang tak kunjung selesai ini sangatlah kita haratpan sekaligus menuntut hadir. Bukan malah sebaliknya. Yakni membawa bumi pertiwi ini kelubang kelam penderitaan yang tiada berakhir.
Pendek kata, lahir, tercerahkan dan meninggal merupakan sumbangan berharga waisak buat Bangsa.

Runutan proses sekaligus estafeta Sang Buddha menjadi tahapan yang tak bisa dibantah lagai. Kiranya, kita mengikutinya alur Sidhartha Gautama dari kematian, terlahir dan tercerahkan, maka tunggulah kehancuran bumi nusantara ini.

Inilah makna terdalam waisak bagi kebangkitan bangsa. Sepenggal puisi Chairil Anwar ’Sekali berarti, setelah itu mati’ pun layaknya kita dengungkan terus. Semoga apa yang diungkapkan Rizal Mallarangeng ilmuwan politik, Chairil Anwar tidak berbicara tentang kematian. Dengan kalimat tersebut, ia justru bicara tentang kehidupan, tentang esensi membangun, mencipta. Chairil Anwar memang mati muda, namun semangatnya tetap hidup sepanjang masa. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Indonesia. Selamat Hari Raya Waisak 2552/2008. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semoga semua mahkluk berbahagia.

*Penulis adalah Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.

[Dimuat di Harian Kompas Biro Jabar
kolom Forum, 19/05/08]

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/21/2008 11:10:00 AM   0 comments
Suhuf (18)
Thursday, May 15, 2008
Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia
Oleh Ibn Ghifarie

PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! ALLAHU AKBAR! Tidak apa-apa, kami yang bertanggungjawab! Saya pribadi maupun FPI maupun umat Islam yang lain, para ulama, bertanggungjawab. Kalau ada yang membunuh Ahmadiyah, bilang saja disuruh Ustad Sobri Lubis ... Tidak masalah. Kami siap tanggungjawab dunia-akhirat! BUNUH AHMADIYAH di manapun mereka berada!

--Tabligh Akbar di Kota Banjar, Jawa Barat, 14 Februari 2008—

Kala Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda menenguarkan video film fitna yang berdurasi 17 menit dengan pidato seorang ulama yang diselingi dengan pelbagai gambar kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Islam di pelbagai penjuru dunia. Maka pelbagai kecaman pun bermunculan dari umat islam dipenjuru duni. Tak terkecuali indonesia.

Pasalnya, film ini dibuat oleh orang non-muslim sekaligus telah menyutakan bar kebencian terhadap agama islam. Selogan teroris, radikal, fundamentalis, hingga sebuatan Muhamadanisme tak tereakan lagi.

Namun, bila melihat kondisi masyarakat beragama di Bumi Pertiwi ini video-video bernada hujat-menghujat, caci-memaki, kafir-mengkafirkan, bahkan saling bunuh-membunuh pula tak dapat dibendung lagi. Mengerikan memang.

Tabligh Akbar Membara
Ironisnya, perlakuan bengis sekaligus seruan untuk meniadakan nyawa itu dilakukan oleh agama Islam. Salah satunya, kisruh soal keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pascapengeluaran 11 Fatwa tahun 2005. Semenjak itulah kelompok penganut Mirza Gulam Ahmad ini resah. Penghancuran mesjid, sekolah, pengusiran dan pembunuhan menjadi jalan fintas golongan-golongan yang tak sepaham denganya.

Acara Tablig Akbar juga menjadi riak-riak kemelut kian hadir. Mari kita tengaok kutipan-kutipan Ceramah di Banjar Jawa Barat, 14 Februari 2008 dengan menghadirkan penghotkbah; Sobri Lubis (Sekjend Front pembela Islam), M. Khattath, (Pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia), Abu Bakar Basyir (Pemimpin Majelis mujahidin Indonesia) dan Abdurrahman Assegaf (Panglima Gerakan Umat Islam Indonesia).

Ayat-Ayat Fitna
Layaknya model khutbah lainya. Keharusan pemberi nasihat untuk mengajak seluruh jemah supaya berbuat baik dan meninggalkan yang jelek (Amar Ma'ruf Nahi Munkar). Namun, apa yang terjadi benih-benih kebencian terhadap aliran yang berbeda dengannya semakin tumbuh dan berkembang. Apalagi saat para pemimpinya menyerukan untuk membunuh.

Lihat saja, pesan berapi-api itu, ” Kami ajak umat Islam ayo mari kita perangi Ahmadiyah, BUNUH Ahmadiyah di mana pun mereka berada, saudara! ALLAHU AKBAR!! Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! Tidak apa-apa bunuh ... Kamu merusak akidah, darah kamu halal! Ahmadiyah halal darahnya untuk ditumpahkan. Persetan HAM! Tai kucing HAM!”

”PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! ALLAHU AKBAR! Tidak apa-apa, kami yang bertanggungjawab! Saya pribadi maupun FPI maupun umat Islam yang lain, para ulama, bertanggungjawab. Kalau ada yang membunuh Ahmadiyah, bilang saja disuruh Ustad Sobri Lubis ... Tidak masalah. Kami siap tanggungjawab dunia-akhirat! BUNUH AHMADIYAH di manapun mereka berada!”

Para tokoh yang tidak sepakat dengan adanya pembubaran ajaran Ahmadiyah pun menjadi bulan-bulanan mereka.

"Sekarang banyak tokoh berusaha mencari muka membela Ahmadiyah. Coba lihat Wapres Jusuf Kalla. Dia bilang, biarkan Ahmadiyah beribadah sesuai dengan kehendak mereka ... Nauzubillah min dzalik ...

Coba lihat, Gus Dur ikut-ikutan membela Ahmadiyah. Dalam rangka apa? Dalam rangka menjilat Barat untuk dapat duit supaya nanti dapat dukungan agar bisa ikut jadi calon residen yang didukung sama iblis Amerika dan setan Inggris.”

Kita ingatkan kepada Presiden dan juga Wakil Presiden, jangan coba-coba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Justru kalau kamu membela aliran sesat, kita akan nyatakan, ’Hey umat Islam, haram memilih calon-calon yang membela aliran sesat di negara ini.

"Maka kita ingatkan kepada Ahmadiyah, Hey Ahmadiyah kalau kamu ingin tenang dan aman di negeri ini silahkan taubat dan kembali kepada ajaran Islam. Akuilah setan Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi ... Kalau tidak mau juga maka silahkan, silahkan pilih agama lain. Jangan sebut dirinya agama Islam. Silahkan pilih agama apa, agama tikus kek.”

Kita ingatkan, Ahmadiyah jangan mengaku rumah ibadahnya sebagai Masjid. Masjid milik orang Islam. Kalau Ahmadiyah mau bikin tempat ibadah sendiri, sebut saja kandang, WC, terserah dia ...

Kendati ada yang bernada lunak, tapi virus kebencian semakin menjalar. Seperti yang ditulis oleh Ade Armando, salah satu staf Redaksi Majalah Madina menuliskan ”Saya memiliki rekaman pidatonya saat Sobri tampil dengan didampingi beberapa tokoh lainnya di hadapan ribuan umat Islam. Selain Sobri, ada pula Ir. M. Khattath, pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia, yang dengan lebih tenang -- dan dengan senyum dinginnya -- menyatakan bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati. Juga ada Abu Bakar Baasyir yang juga dengan tenang menyatakan hukuman bagi nabi palsu sederhana: kalau ditemukan, tangkap, potong leher”.

Menanti Kejelasan Pemerintah
Sejatinya pemerintah dapat mengambil sikap tegas dalam memecakhan persoalan ini tidak akan berlarut-lrut sekaligus membuat geram golongan yang tak sepaham dengan Ahmadiyah.

Bila penguasa masih lembek, maka wajar jika Abdurrahman Assegaf itu berfatwa: ”Darah Ahmadiyah halal,” Lalu, Umarela ini berkata pula: ”Insya Allah, dalam waktu dekat, bila pemerintah tidak menutup Ahmadiyah, jangan kami disalahkan bila kami akan memberantas mereka ...”

Kehadiran SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri Dalam Negeri, Agama dan Jaksa Agung. Malah akan memperkeruh kisruh antar umat islam tersebut.

Nah, bila pemangku jabatan akhirnya mengelurkan SKB 3 Menteri itu berarti kita telah menzalimi jutaan warga warga Indonesia dan membiarkan kekuatan anti-demokrasi berkedok agama unjuk gigi mengarahkan politik di negara ini.

Diakui atau tidak Indonesia memang bukan negara islam, tapi bukan juga negara sekuler, melainkan sebuah agama sebuah negara hukum yang percaya pada perlindungan HAM sebagaimana tertuang dalam deklarasi Universal HAM dan UUD 1945.

Mengamini Geert Wilders
Kiranya, pemerintah malah ribuat menaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) dan para ulama terus menabur kebencian terhadap Ormas (Organisasi Masyarakat) yang berbeda dalam menafsirkan Waaro Satul Anbiya berarti kita telah mengamini pernyataan Geert. Seperti komentar-komentar yang dimuat oleh Jihad Wach (18/04), diantaranya; ”(Geert) Wilders pasti tersenyum ... apa yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa filmnya tak terlalu jauh dari kenyataan. Apakah ini langkah pertama menuju negara Islam dan menuju kekalifahan pan-Asia?

Selama ini saya tahu bahwa konstitusi Indonesia sungguh bagus. UUD mereka mencakup banyak hal termasuk semangat nasionalisme dan pluralisme. Masalahnya, Indonesia saat itu berada di bawah ancaman Wahabisme, yang mendakwahkan ekstremisme Islam...Oh, jadi di Indonesia, kaum Ahmadiyah terlalu cinta damai untuk menjadi bagian dari arus utama Islam?

Ini menunjukkan bagaimana Islam tidak akan pernah mengalami reformasi. Reformasi itu anti-Islam.

Sebuah negara muslim moderat mendemonstrasikan apa makna moderat sesungguhnya dalam Islam. Pada akhirnya kita melihat ada kaum muslim yang ingin menjelmakan agama mereka menjadi agama perdamaian, dan yang mereka peroleh adalah tendangan di bokong.

Mereka itu tolol sekali ya?
Di dalam Islam tidak ada nalar. Ini adalah contoh terbaiknya. Menakutkan!
Orang-orang Islam di Indonesia itu akan mengusir kaum Ahmadiyah atau membunuhi mereka?

Bila Ahmadiyah mendakwahkan cinta pada semua orang, sementara Hizbut Tahrir mendakwahkan kebencian pada demokrasi dan penggulingan negara-negara yang ada, mengapa pemerintah Indonesia lebih khawatir dengan Ahmadiyah ketimbang dengan ideologi anti-demokrasi Hizbut Tahrir? (Madina No 5 Mei 2008)

Bukankah perbuatan kita itu lebih fitna dari Geert? Entahlah. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi 12/04/08;23.37 wib dan Pojok Komputer Ngeheng 13/05/08;23.56 wib

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/15/2008 01:47:00 PM   0 comments
Suhuf (17)
70 Pendaftar Mahasiswa Baru di Hari Pertama Jalur PPA
Oleh Ibn Ghifarie

“Sebanyak 70 sisiwa/siswi dari daerah Jawa Barat dan Banten yang mendaftarkan diri pada hari pertama saat dibukanya seleksi Penerimaan Mahasiswa melalui jalur Penelitian Prestasi Akademik (PPA),” demikian dikatakan Kepala Bagian (Kabag) Akademik UIN SGD Bandung, Drs Mumuh Mukhsin kepada Pusinfokomp di ruang kerjanya.

Lebih jauh Mumuh menjelaskan, Jalur PPA ini dimaksudkan pada upaya penjaringan calon mahasiswa unggul dari lulusan Sekolah Menengah Umum/Madrasah Aliyah dan Keagamaan yang diperkirakan akan dapat menyelesaikan pendidikan tinggi dengan hasil yang lebih baik dalam waktu yang telah ditetapkan, ujarnya.

Adapun persaratannya, sebagai berikut: Pertama, Lulusan MA, MAK, dan SMU tahun pelajaran 2007/2008 yang selama sekolah tidak pernah tinggal kelas, tidak pernah mendapat angka dibawah 6 setiap semester dengan rata-rata nilai raport 7 setiap semester;Kedua, Pada semester 1 kelas 12 menduduki peringkat/rangking 1 s.d. 10 di kelasnya.

Ketiga, Bagi yang memilih Fakultas Tarbiyah & Keguruan program studi Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, dan Fakultas Sains & Teknologi Program Studi Teknik Informatika, Teknik Elektro, Pertanian, Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, diutamakan Lulusan MA/SMU Jurusan IPA;

Keempat, Lancar membaca dan menulis al-Qur’an dan Hadits;Kelima, Mengisi formulir yang disediakan dengan melampirkan (masing-masing rangkap dua) :

- Foto Copy Kartu UAN yang dilegalisir dengan menunjukkan aslinya.- Foto Copy Raport setiap semester dengan menunjukkan aslinya. - Pas foto 2 x 3 sebanyak 3 lembar (ditempel pada kolom yang tersedia).- Membayar uang pendaftaran/formulir dan ujian/test Rp. 150.000,- Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah) dan Buku Panduan Rp. 25.000,-. - Seluruh persyaratan dimasukkan dalam Map.

Saat ditanya soal perbandingan jumlah pendaftar dari tahun ke tahun dihari pertama, Ia menjelaskan “Untuk tahun sekarang (ajaran 2008-2009) berjumlah 70 orang. Sedangkan tahun kemarin (ajaran 2007-2008) sebanyak 30 orang. Jadi perbedaanya sangat pesat sekali” tegasnya.

Keberhalisan jumlah pendaftar yang pantastis itu, tak bisa dilepaskan dari peranan media baik cetak maupun elektronik dalam mempromosikan UIN SGD Bandung, jelasnya.Selain itu, pengiriman brosur dan perwakilan sekolah yang ada disekitar Jawa Barat dan Banten pun menjadi penunjang keberhasilah tersebut, ungkapnya.

Berkenaan dengan pelaksanaan seleksi ujian melalui jalur PPA ini, Mumuh menegaskan, Seleksi PPA dilakukan dalam 2 tahap; Tahap pertama. Yakni Seleksi prakualifikasi administrasi akademik. Hasil Seleksi tahap I diumumkan pada tanggal 26 Mei 2008. Peserta yang masuk nominasi dalam pengumuman hasil seleksi tahap ini berhak mengikuti wawancara, kepadanya diberikan Kartu Tanda Peserta untuk mengikuti Wawancara/Test PPA.

Tahap kedua Wawancara/Test Lisan. Yaitu Peserta yang berhak mengikuti tahap ini adalah calon peserta yang masuk nominasi pada seleksi tahap I dan memiliki Tanda Peserta Wawancara/Test PPA,” katanya.

Ujian masuk PPA ini akan berlangsung pada tanggal 3 Juni 2008, di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan materi yang akan di test terdiri dari : (1) kefasihan membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits; (2) kemampuan menulis ayat Al-Qur’an dan al-Hadits; (3) kemampuan mengaplikasikan pada akhlak dan pengamalan ibadah sehari-hari.Pengumuman Kelulusan Test PPA akan diumumkan pada tanggal 12 Juni 2008. Kepada Peserta yang lulus diberikan Surat Keterangan Lulus Test PPA mulai tanggal 12-13 Juni 2008.

Menyoal minat jurusan yang sering dijadikan pilihan pertama adalah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Hal ini menurut Mumuh, dikarenakan pemahaman di masyarakat bahwa sekolah tinggi itu untuk menjadi guru. Anu digugu jeung ditiru, ujarnya

Kendati setiap Fakultas mempunyai jurusan yang dijagokannya. Seperti Fakultas Tarbiyah dan Keguruan jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI); Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits; Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Jurnalistik; Fakultas Syar’iah dan Hukum jurusan Mu’amalah dan Ilmu Hukum; Fakultas Sains dan Teknologi jurusan Tekhnik Informatika; Fakultas Adab dan Humaniora jurusan Sastra Inggris dan Fakultas Psikologi jurusan Psikologi, kilahnya.

Hal senada diungkapkan oleh salah satu peserta pendaftar yang enggan disebutkan namanya. “Saya pingin masuk jurusan PAI, karena guru dikampung halamanku sangat kurang. Makanya ingin menjadi guru dan kehormatan guru sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat,” cetusnya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 12/05/08;14.23 WIB

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/15/2008 01:43:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.