'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (4)
Tuesday, July 29, 2008
Isra Miraj dan Kebebasan Beragama
Oleh Ibn Ghifarie

Apapun alasanya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.

Di tengah-tengah keterpurukan, masih banyak kelompok yang melakukan perbuatak senonoh atau menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Apakah kita tidak lelah? Apakah kita tidak ada kepentingan dan kebutuhan lainya yang lebih urgen dari pertengkaran tak berarti itu? Apakah kita memang lebih gandrung terhadap budaya barbar daripada duduk rukun dan bicara dari hati ke hati?

Mampukah kehadiran Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 30 Juli 2008 (27 Rajab 1429 H) dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya kebebasan beragama di Indonesia bagi komunitas penghayat atau aliran kepercayaan.

Spirit Yang Terlupakan
Momentum Isra Mi'raj Nabi Muhammad merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Perintah shalat pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Singkatnya, perjalanan suci kenabian (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke sidrat al-muntaha) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Islam.

Pasalnya, para ulama sirah nabawiyah hampir menyepakati, seperti ditulis Zuhairi Misrawi, Isra dan Mi'raj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem (isra) serta dari Yerusalem menuju singgasana Tuhan atau sidrat al-muntaha (mi'raj).

Muhammad Husein Haikal dalam Hayat Muhammad menjelaskan, sebagaimana ditulis Dermenghem dan Ibnu Hisyam, setelah sampai di Yerusalem, Nabi Muhammad SAW melakukan sembahyang di atas puing-puing Kuil Sulaiman bersama utusan Tuhan yang lain, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.

Lalu, Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril naik ke langit memenuhi panggilan Tuhan, hingga akhirnya melakukan negosiasi dengan Tuhan ihwal perintah shalat bagi kaum Muslim. Sejak itulah shalat disyariatkan bagi kaum Muslim hingga kini.

Bila kita kuat memegang amanat Isra Miraj niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keyakinan' oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak masuk kategori islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram islam indonesia.

Ambil contoh perlakuan tak lazim ini menimpa komunitas penghayat Sunda Wiwitan, Cigugur Kuningan Jawa barat. Anehnya lagi pemerintah ikut melanggengkan budaya benci dan masyarakat pengkayat itu untuk memilih agama resmi yang diakui oleh negara. Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghucu. Di luar keenam keyakinan berbau tradisi lokal sarat pengawasan. Badan Kordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) pun menjadi juru kunci penguasa dalam mengatur keimanan.

Alhasil, negera tidak mengakui pernikahan masyarakat adat. Akta nikah, akta kelahiran, KTP (Kartu Tanda Penduduk) pula menjadi bagian yang sangat susah didapatkan oleh para penghayat.

Salah satunya, kasus ini menimpa Lastri, sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Ia acapkali diejek oleh temen-temennya manakala mengetahui dirinya penganut Sunda Wiwitan. Eh...eh..Madrais (Agama Jawa Sunda), Madrais, Kafir, Kafir dan Kafir. Terlebih lagi ditengah persaingan dunia kerja. Ia kembali dijegal status agama di KTP untuk menyatakan identitas sesungguhnya.

Perlakuan diskriminatif tak berakhir sampai disini saat ingin menggelar perkinahan pula deraan serupa menimpanya saat mencatat perkawinannya ke kantor catatan sipil daerah setempat. 'Udah atuh jangan dicatetin,' cetus petugas sipil

Dengan kesal ia menjawab 'Mba aku tuh ingin menjadi seorang warga negara Indonesia yang baik ketentuan-ketentuan yang berlaku di bumi pertiwi ini aku ingin menjalaninya,' paparnya. (Jurnal Perempuan Edisi 57)

Kebebasan Beragama
Kemerdekaan, keadilan, sikap keterbukaan menjadi barang langka di Nuasntara ini. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Padahal negara kita bukan pemerintahan teokratis atau sekuler. Namun, penertiban kepercayaan selalu digalakan. Atas nama meresahkan masyarakat, berbuat onar, menafikan Tuhan, hingga penodaan agama kerap menjadi dalih untuk membumi hanguskan keberadaan mereka.

Kiranya, jaminan kebebasan berkumpul, berserikan dan beragama sesuai dengan keyakiannya dan hak kemerdekaan pikiran, nurani dan kepercayaan hanya berhenti pada Pasal-pasal (28 ayat 2, 29 ayat 1 dan 2), Undang-undang (No 1/PNPS/1965) dan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 semata.

Salah satu hak dan kebebasan dasar yang diatur ICCPR sekaligus sudah dirativikasi adalah hak atas kebebasan berkeyakinan dan beragama, mencakup kebebasan menganut, menetapkan agama, kepercayaan atas pilihan sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama, di tempat umum maupun tertutup, untuk menjalankan agama, kepercayaan dalam kegiatan ibadah, ketaatan, dan pengajaran. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasan untuk menganut, menetapkan agama, kepercayaan sesuai dengan pilihannya.

Dalam urusan perkawinan. Pasal 1 Undang-undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 menjelaskan perkawinan ikatan lahir-batin anatara pria dengan perempuan sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 2 ayat 1 perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Ironis memang.

Dengan demikain, Isra Mi'raj harus menjadi ajang evaluasi kebebasan beragama. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitna dalam wilayah keyakinan. Inilah yang di inginkan Joahim Wach, Guru Besar Perbandingan Agama dalam mengeja suatu kebenaran.

Memang benar, bahwa untuk mencintai kebenaran orang harus membenci ketidakbenaran. Akan tetapi tidak benar bahwa untuk memuji keyakinan sendiri, seseorang harus membenci dan merendahkan keyakinan orang lain (Joahim Wach, 2000)

Inilah makna terdalam Isra Miraj bagi komunitas penghayat. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas Biro Jabar, Selasa 29 Juli 2008

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/29/2008 03:28:00 AM   2 comments
Kitab (3)
Monday, July 07, 2008
Menebar ’Pesan Suci’ Uero 2008
Oleh Ibn Ghifarie

Uero 2008 telah berakhir. Kesebelasan Spayol pun harus menjadi raja di penjuru Eropa. Kekalahan telak pula mesti ditelah patih oleh Jerman. Lantas pelajar berharga apa yang dapat kita ambil dari perhelatan akbar itu?

Pun bagi para pegiat studi agama-agama dan pemerhati dialog antariman yang kian hari berseteru soal keumatan (keimanan dan keyakinan). Seakan-akan ajaran suatau agama hanya mengedepankan aspek ketuhanan semata.

Karut-marut persoalan kebangsaan (kenaikan harga bahan bakar minyak, kisruh kejaksaan agung, polemik hasil penghitungan suara pilkada, kisruh verifikasi partai polikit yang akan mengikuti pelihihan 2009, keterbelakanan pendidikan, bocornya soal Ujian Nasiola, merebaknya viru flu burung, terjangkitnya busung lapar) pula luput dari perhatian kita. Ironis memang.

Harus diakui memang pascaditabuhnya genderang dialog antarbudaya di Eropa saat memasuki tahun 2008 oleh Parlemen dan Dewan Uni Eropa di Brussels dengan mendeklarasi tahun 2008 sebagai Tahun Dialog Antarbudaya (intercultural dialogue) untuk Benua Eropa. Tak tanggung-tanggung, kepada Komisi Kebudayaan yang dipimpin Ján Figel diberi budget 10 juta euro untuk kesuksesan Tahun Dialog Antarbudaya di benua malam.

Mengejutkan memang. Bukan lantaran karena anggarannya, tapi perubahan paradigma. Sejak PD II, Eropa bergelut dengan masalah derasnya arus imigrasi hingga berpuncak pada diskusi alot dan berkepanjangan tentang integrasi. Persepsi integrasi membias dalam pelbagai diskurs, pleidoi, dan klaim, baik pada penduduk asli maupun pada kaum pendatang. Dialog kadang dinilai sebagai usaha kelompok imigran yang ingin mendapatkan pengakuan.

Kini, kesan itu sudah berubah. Dengan mengagendakan 2008 sebagai Tahun Dialog, Uni Eropa beralih kepada pemahaman baru. Dialog bukan lagi hal sekunder yang dilaksanakan sebagai "pengemisan" warga minoritas untuk mendapat pengakuan dan perlindungan dari pihak mayoritas. Dialog adalah sebuah aksi timbal balik antara warga mayoritas dan minoritas, antara warga setempat dan kaum pendatang. Sebuah kebutuhan akan kualitas kehidupan yang lebih baik. Di sana ko-eksistensi yang berkualitas resiprokal itu lebih ditekankan. (Kompas, 26/2/2008)

Semangat Antirasis

Sejalan dengan semangat tahun 2008 merupakan Tahun Dialog Antarbudaya. Kahadiran Uero 2008 pun menelorkan ‘pesan suci’ bertajuk ‘Bersatu Melawan Rasisme’ (Unite Against Racism)
Masih terpatri dalam benak kita saat perwakilan tim yang lolos ke babak semifinal Piala Eropa harus membacakan ikrar antirasisme sebelum pertandingan dimulai. Pembacaan ikrar itu sebagai bagian dari kegiatan kampanye Bersatu Melawan Rasisme selama penyelenggaraan Piala Eropa 2008.

Adalah pernyataan dari organisasi Football Against Racism in Europe (FARE) bekerja sama dengan UEFA dan organisasi para pemain FIFPro, kapten dari setiap tim ditunjuk untuk membacakan ikrar antirasisme dan menghargai perbedaan. Pembacaan ikrar dilakukan di lapangan sebelum pertandingan.

Tengok saja, kala pertandingan antara Jerman dan Turki atau Spayol dan Rusia. Kapten tim nasional Jerman, Michael Ballack; Turki, Recber Rustu; Spanyol, Iker Casillas, dan Rusia tak boleh melewatkan ritual sekaligus sumpah suci tersebut.

Uniknya lagi, saat membacakan ikrar, kedua tim akan diapit oleh dua buah bendera Bersatu Melawan Rasisme dan sejumlah suporter akan diajak menarikan tarian antirasisme. Pesan antirasisme juga dibuat berupa hiasan untuk 40.000 kursi penonton di Stadion St Jakob Park dan 50.000 kursi penonton di Stadion Ernst Happel.

Tak mau ketinggalan, Presiden UEFA Michel Platini juga menyambut baik kegiatan kampanye antirasisme tersebut. ”Kampanye Bersatu Melawan Rasisme menunjukkan bahwa kita menghormati perbedaan. UEFA menjamin pelaksanaan kegiatan sepak bola, seperti Piala Eropa dimainkan secara harmonis dan saling menghormati,” kata Platini. (Kompas, 26/06/2008)

Semangat Menghargai Perbedaan
Memang sepak bola memang mampu menghipnotis penduduk bumi untuk menghilangkan sekat-sekat atau batas-batas, baik itu sekat territorial, geografis, suku, agama maupun kewarganegaraan.

Orang merasa asyik bila bicara pelbagai hal terkait sepak bola. Tua-muda, kaya-miskin, laki-laki-perempuan, pejabat-penganguran, islam-kristen, hindu-budha, sunda wiwitan-kejawen ikut memeriahkan perhelatan akbar ini.

Apapun agamanya, Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan lainnya kalau dia sudah simpati dan menjadi fans berat David Beckham, maka kelompok fans ini akan bersatu dan mengeluk-elukan pemain Inggris ini sebagai idolanya.

Tengok saja, di Kuil itu, tahun 2000 silam, demikian penuturan Bikhu Budha, teronggok sebuah patung David Beckam, Kapten kesebelasan inggris. Ya, sepak bola telah menyihir dunia keberagamaan

Pasalnya, sepak bola telah mempertemukan akan manusia dari pelbagai penjuru dunia. “Bola sebagai media egaliter dan media persatu,” kilah Hery Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola Soccer.
Lebih jauh, Ia menuturkan, “Sepak boal legi sukses daripada serangkaian Konfrensi-konfrensi yang dilakukan untuk menyatukan seluluh umat di dunia. Di sini tidak ada lagi sekat entis, suku agama maupun warna kulit,” jelasnya. (Majalah Syirah Juni 2006)

Dengan demikain, sikap sportifitas, keterbukaan, toleran dan menghargai semuanya terangkum dalam persepakbolaan.

Tak ada, kisruh antar penonton (lain agama dan lain ras). Yang nampak kedamaian, keindahan dan baersatu dalam perbedaan.

Pengakuan perbedaan atas keragaman apapun (warna kulit, etnis, adat, budaya, maupun keyakinan keagamaan) tak sebatas diungkapkan dalam bahasa toleransi (al-tasamuh). Karena toleransi bermakna tenggang rasa terhadap pihak lain ketika mereka bersalah. Tapi lebih aktif untuk menerima dan menyongsong yang lain, bukan sekadar tenggang rasa.

Qabulul akhar (sikap menerima yang lain) lebih jauh menyeberang melampaui toleransi untuk menyongsong sang lain. Inilah yang dicita-citakan oleh Milad Hanna, seorang Kristen Koftik Mesir dan pegiat dialog antariman sekaligus pejuang Hak Asasi Manusia melalui bukunya "Qabulul Akhar:Min Ajli Tawashuli Hiwaril Hadlarat atau "Menyongsong yang Lain Membuka Pluralisme versi indonesia" (Milad Hanna, Cairo:2000)

Mencoba membumikan tahun dialog antarbudaya melalui bersatu melawan rasisme. Masih menurut Hanna, moodal utama dalam dialog antaragama adalah budaya qabul al-akhar (sikap menerima yang lain). Pasalnya, budaya ini dimulai dari saling memahami dan membuka diri. Nantinya jalan menuju qabul al-akhar akan terbuka sendiri. Jika kita telah memiliki budaya qabul al-akhar, kita akan dianugerahi hubb al-akhar (mencintai yang lain).

Nah, bila prilaku dan sikap menerima yang lain telah tertanam dalam diri kita, maka cita-cita luhur British Council dalam program-program yang bersinggungan dengan Dialog Antarbudaya akan tercapai: Pertama, Memperkuat pemahaman dan tingkat kepercayaan antara masyarakat dari UK dengan masyarakat lainnya. Kedua, Memperkuat konsensus untuk menolak semua bentuk ekstrimisme. Ketiga, Meningkatkan kemampuan individu-individu dan organisasi dalam menyumbangkan perubahan sosial yang positif dan memperkuat masyarakat sipil. Keempat, Meningkatkan penggunaan bahasa Inggris sebagai alat untuk komunikasi internasional dan pemahaman antar budaya. Semoga.

*Penulis adalah Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/07/2008 07:14:00 AM   3 comments
Kitab (2)
Wednesday, July 02, 2008
Sepak Bola dan “Sindiran Telak” Bagi Agama
Oleh Ibn Ghifarie

Jelang partai final UERO 2008 di Vienna, Austria yang bertempat di Stadion Vienna-Ernst Happel, 29 Juni 2008 dengan menghadirkan; Wasit: Roberto Rosetti; Hakim Garis: Alessandro Griselli, Paolo Calcagno (semuanya dari Italia); Petugas Keempat: Peter Frojdfeldt (Swedia), demikian Reuters.

Hooliganisme pun mewarnai gegap gempita Piala Eropa yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Seakan-akan tak lajim rasanya bila suporter kesebelasan berdandan rapih.

Pakaian mereka pula aneh-aneh. Kaus bermotif bendera negaranya atau lambang klub kesebelasannya. Aksesori yang digunakan juga bermacam-macam. Ada emblem klub, kota, atau negara. Malah tulang belulang atau rantai ikut digantungkan di leher.

Kepalanya ada yang botak plontos. Sekujur tubuhnya penuh dengan tato. Sepintas, jika melihat mereka--dalam keadaan biasa dan bernyanyi bersama--memang lucu kelihatannya. Inilah hooliganisme mewabah dunia.

Orang rela membunuh waktu karena karena menggilai permainan kulit bundar. Di sana ada ketulusan dan keringanan. Benarkah ajang sepak bola menjelma menjadi ‘agama baru’ di era moderen dan serba digital ini? Lantas apa jadinya bila agama tak bisa memberikan kenyamanan bagi para pemeluknya?

Sepak bola memang mampu menghipnotis penduduk bumi. Orang merasa asyik bila bicara pelbagai hal terkait sepak bola. Tua-muda, kaya-miskin, laki-laki-perempuan ikut memeriahkan perhelatan akbar ini.

Media Pemersatu
Di tengah-tengah kisruh beda pendapat sekaligus penertiban keyakinan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pasca Tragedi Monas (1 Juni 2008) yang berujung pada pengeluaran Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa bernomor 3/2008, Nomor Kep-033/A/JA/6/2008 dan Nomor 199 tahun 2008, tanggal 9 Juni 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat telah dikeluarkan. Namun kontroversi tentang SKB tetap mengendap bagai api dalam sekam.

Demam sepak bola Piala Eropa ini dapat ‘menunda sejenak’ segala persoalan kebangsaan dan keagamaam. Mulai dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang meroket tinggi, Kasus pembunuhan Munir, pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) yang tak kunjung usai, Kebrutalan kaum Pelajar yang tak pernah selesai, Kebocoran UN yang sudah mendarah daging, Aksi mahasiswa yang berujung bentrok, sampai pengrusakan tempat ibadah yang tak pernah habis.
Pasalnya, sepak bola telah mempertemukan akan manusia dari pelbagai penjuru dunia. “Bola sebagai media egaliter dan media persatu,” kilah Hery Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola Soccer.
Lebih jauh, Ia menuturkan, “Sepak boal legi sukses daripada serangkaian Konfrensi-konfrensi yang dilakukan untuk menyatukan seluluh umat di dunia. Di sini tidak ada lagi sekat entis, suku agama maupun warna kulit,” jelasnya.

Di sadari atau tidak, perebutan kulit bundar di lapangan hijau ini perlahan-lahan naum pasti telah berubah menjadi agama tersendiri. Tengok saja, masyarakat Argentina dan Brazil, mereka menaikmati religiusitasnya saat [berada] di lapangan sepak bola.
Melihat antusis masyarakat yang begitu mengutamakan persepak bolaan. Seorang pendeta di sebuah kuil Budha di Thailand berkomentar “Sepak bola telah menjadi agama dan memiliki pengikut jutaan banyak.”

Uniknya lagi, di Kuil itu, tahun 2000 silam, teronggok sebuah patung David Beckam, Kapten kesebelasan inggris. Ya, sepak bola telah menyihir dunia keberagamaan. (Majalah Syirah Juni 2006)

Nah, bila perbuatan ini yang kerap terjadi, maka wajar jika agama formal mulai sedikit dilupakan. Apalagi agama sejauh ini hanya menekankan aspek teologi dan fiqh semata. Agama kurang memberi apresiasi estetik, ekspresi keringanan. Kalau aspek agama hanya menekankan aspek serius pada kalam dan syariat. Sementara manusia condong memilih kebahagiaan dengan cara sendirinya, maka secara tak disadari ia akan berusaha mencari ruang lain.

Adalah dengan menenggelamkan segala aktivitas keseharianya dalam tontonan UERO 2008. Jika perilaku umat beragama telah sampai pada titik ini, maka sepak bola telah beralih menjadi sindiran terhadap agama, demikian dikatakan Yudi latif, Direktur Eksekutif Reform Institute.

Menanggapi soal kecenderungan sepak bola bisa menandingi agama, masih menurut Hery “Sepak bola memang cenderung seperti agama baru. Tontonan yang menjadi tuntunan.”
Pola hidup urang, kata Hery sangat dipengaruhi oleh tontonan sepak bola, terutama di negara Eropa.

Dengan demikian, telah terjadi krisis ketuhanan. Setiap manusia tikan mempunya naluri anti ketuhanan. Ada yang dipuja, didewakan.

Kala agama tak bisa menjawab problematika itu mereka akan mencari pemujaan lain, biasanya artis atau pemain sepak bola.

Kendati, terdapat perbedaan mendasar antar sepak bola sebagai ‘agama’ dengan agama sesunguhnya. Paling tidak satu pemahaman dikatakan agama harus memiliki standar; Tuhan, Nabi, Kitab, Ritual dan Umat. Namun, saat persepak bolaan berhasil memasuki segala aspek kehidupan masyarakat. Di sinilah kekuatan agama baru hadir.

Sportifitas
Menilik ketidakharmonisan antaragama. Mestinya kita menengok kembali falsafah sepak bola yang mulai terlupakan. Pasalnya, tanpa pandangan itu kita niscaya akan hidup rukun, tentram, damai dan sejahtera pada satu bangsa.

Adalah sportifitas. Tak berlebihan memang bila kita terus mendengungkan pameo tersebut. Sikap adil sekaligus jujur terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri.

Kalau tidak spotrtif jangan masuk dunia sepak bola. Sportifitas tak hanya dituntut dari pemain tapi wasit, juri, dan penontonya pula. Masing-masing menjadi saksi juga terdakwa sekaligus. Kesalahan yang dilakukan pendukung sebuah klub sepak bola bisa mengakibatkan klubnya dijatuhi sanksi. Pemain yang begitu kasar akan dihadiahi kartu merah dan diharuskan keluar lapangan dengan tunduk lesu dan malu. (www.syirah.com)

Mencermati dunia bola di tanah Air. Rasanya tak berhasil bila tidak tauran antar pendukung kesebelasan. Adu jotos antarpemain. Memihak terhadap klub tertentu oleh sang wasit. Pun penggelapan dana sepak bola. Hingga terjadinya swastanisasi terhadap olah raga ini. Mengerikan memang.

Bisa jadi kebrutalan baik dilapangan ataupun diluar gedung saat dan [akan] dimulai pertujukan berawal dari konflik antar elit pemuka agama yang tak kunjung selesai.

Sejatinya, tokoh-tokoh agama kita mengikuti jejak langkah yang dilakukan oleh negara Jerman, dua tahun silam. Dalam rangka festival dan konser bertajuk “Kick-off 2006 Kick-off faith”
Gereja Berlin, Gereja Brandenbourg dan Gereja Berlin-Wilmersdorf menggelar sepak bola antara Imam Mesjid melawan para Pendeta dan yang menjadi hakim garisnya dari orang Yahudi.

Jadi dalam pertandingan ini melibatkan tiga kelompok agama. “Kami telah mengusahakan sejak lama pertandingan semacam itu guna memperkuat hubungan antartiga aliran agama; Islam, Kristen dan Yahudi,” kata Imam Taha, kapten tim muslim

Meski pertandingan diakhiri skor telak 12:1. 12 untuk pendeta dan 1 baga Imam Mesjid. Kekalahan tak terjadi memicu keributan antaragama tersebut.

Malahan saat usai pertandingan, mereka berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan pemeluknya masing-masing.

Kali pertama, dalam sejarah kerukunan antarumat beragama di jerman sepak bola beda keyakinan diselenggarakan.

Dengan sepak bola, pihak penyelenggara berusaha mempromosikan toleransi dan persatuan antarumat.

Toleransi itu digalakan di Jerman mengingat sekitar 3% dari 82 Juta penduduk beragama muslim dan 0,1% agama Yahudi.

Sikap keterbukaan melalui perlombaan sepak bola antariman ini diamini oleh menteri Dalam Negeri Jerman, Wolfgang Schaeble seperti yang dilansir islamonline. “Sepak bola dengan kepopuleran dan daya tariknya bisa memperkaya lingkungan dan juga mematahkan sekat-sekat yang ada. Dan sekarang posisinya sebagai garis terdepan untuk mempraktikkan interrasi dan melawan rasisme” ungkapnya.

Kiranya, petuah “Ajarilah anak-anakmu dengan keterampilan renang, panahan dan pacu kuda—termasuk sepak bola” telah dipraktikan oleh bangsa Eropa dengan ajang EURO 2008.
Dengan demikian, sikap sportifitas, keterbukaan, toleransi dan menghargai keragaman menjadi pesan utama dari EURO 2008. Apalagi saat menyambut final Piala Eropa. Semoga.

Penulis adalah Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/02/2008 10:43:00 AM   2 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.