'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (9)
Tuesday, December 30, 2008
Haji dan Penyatuan Umat Manusia
Oleh IBN GHIFARIE

Di tengah-tengah gencarnya sosialisasi dialog antaragama oleh Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz Al-Saud. Mengawali visi perdamainya dari Mekkah, terus ke Madrid, hingga akhirnya berpuncak di Markas Besar PBB, New York, sepekan yang lalu.

Di lain pihak Negeri Seribu para nabi ini, malah disibukan dengan pelarangan 4 Calon Haji (Calhaj) dari Indonesia asal Ciamis yang masuk kloter 40. Pasalnya, mereka disinyalir beraliran Ahmadiyah. Muksin (68) asal Banjarsari dan istrinya Mimin (67), serta Oyon Sofyan (64) asal Kalipucang dan istrinya Mimon Fatimah (60) merupakan keempat Calhaj yang tak jadi berangkat ke Mekah.

"Empat orang gagal berangkat karena dibatalkan oleh Dirjen Haji dan Umroh sebab adanya larangan Pemerintahan Arab Saudi terhadap jemaat Ahmadiyah masuk haramain. " ujar Kakandepag Ciamis Drs H Munadi Abdul Qodir MM saat melepas keberangkatan Kloter 40. (Tribun Jabar,17/11)

Mampukah kehadiran bulan haji ini dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang kesatuan umat manusia bagi beragam perbedaan bangsa, budaya, bahasa, suku, etnis, dan agama (aliran kepercayaan, sekte, madzah) sekalipun.

Napak Tilas Agama-agama
Momentum Haji merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Serangkaian perintah qurban, thowaf, wukuf, sa’i, melempar jumrah pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Kendati peristiwa haji tak bisa dipisahkan dari ritual peribadahan Adam dan Ibrahim. Jauh sebelum Ibrahim pelaksanaan haji, rukun islam yang kelima ini telah dilakukan sejak Adam jatuh ke muka bumi. (Ramadhan Al-Buthi,1990:77)

Tengok saja, aktivitas Thawaf saat mengelilingi Ka’bah dan Sa’i kala berlari kecil antara Shofa dan Marwah. Kita diingatkan akan kesabaran, keuletan sekaligus kegigihan dan keyakinan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim--budak dari kalangan hitam, ketika menggendong putranya Isma’il.

Wukuf di Arafah, meneguhkan kembali rasa cinta kasih Adam dan Hawa saat ditemukan kembali di padang Arafah pasca memakan buah kholdi dan terlempar dari Surga.
Pelaksanaan kurban pula, menyadarkan kita pada satu ketulusan Ismail untuk segera disembelih oleh Ibrahim atas perintah Tuhannya.

Dengan demikian, haji merupakan napak tilas agama-agama (Adam, Ibrahim—Bapak monotaisme, Ishak--Kristiani dan Ismail serta Muhammad--Islam)
Sangatlah wajar bila Khalil Abdul Karim, menyebutkan bahwa sebagain ajaran Islam mengadopsi dari doktrin Pra-Islam. Haji salah satu contonya.

Konon, sebelum Nabi Muhammad terlahir dan membawa risalah Islam, praktik haji sudah dikenal. Seperti; Talbiyah, Ihram, Wuquf, Kurban, bermalam di Muzdalifah, Jumrah, Tawaf, cium Hajar Aswad (Khalil Abdul Karim, 2000:7).

Pelestarian ibadah ini tidak terlepas dari peran para pengikut setia agama hanif--sebutan untuk penganut Ibrahim yang berada di sekitar Makkah. Namun, lemahnya kekuatan mereka di tengah hegemoni Qurasy menyebabkan banyak sekali penyelewengan yang dilakukan masyarakat setempat dalam praktek ibadah haji.

Adalah Wukuf di Muzdalifah, bukan di Arafah sebelum ajaran Islam datang. Sekelompok manusia yang dikenal dengan sebutan Al-Hummas ini merasa memiliki keistimewaan, sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wuquf di Arafah. Pemisahan diri dilatarbelakangi oleh perasaan superiolitas, maka Tuhan mengurnya melalui kitabnya “Bertolaklah kamu dari tempat tertolakannya orang-orang banyak dan mohonlah ampun pada Allah sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S:2:199) (M.Qurais Shihab,2001:334)

Semangat Kemanusiaan
Inilah salah satu praktek ritual haji yang diluruskan oleh Muhammad juga bertentangan dengan penghayatan nilai kemanusiaan universal (Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan).

Sejatinya, kehadiran haji ini harus memberikan semangat kemanusiaan berupa penyatuan umat manusia dalam membangun kerukunan umat beragama (antar dan intra). Pasalnya, dalam prosesi haji terdapat satu moment perpisahan yang tak dapat dipisahkan antara Muhammad dengan umatnnya. Yakni peristiwa Haji Wada.

Isi khutbah nabi di depan 240.000 jemaah itu menekankan; Pertama, Peletakan prinsip dasar hak kemanusiaan. Menjungjung tinggi hak serta perlindungan setiap individu dengan mengharamkan pembunuhan, permusuhan, pemeliharaan kepemilikan, kehormatan dan memulaikan maerabat wanita. Kedua, peletakan prinsip tanggungjawab terhadap sebuah pelanggaran. Setiap orang bertangungjawab atas perbuatanya sendiri dan siap dengan segala konsekuensinya di depan hukum. Ketiga, Solidaritas sosial. Pesan ini memberikan penekanan bahwa semua muslim bersaudara. Solidaritas Islam bukanlah solidaritas golongan (ta’ashubiyyah) atau rasial, melainkan solidaritas yang dibangun atas semangat kemanusiaan, keislaman dan solidaritas keagamaan. (MataAir Edisi 18 Tahun 2008)

Pendek kata, isi dukumen hak asasi kemanusiaan (Al-Watsiqah Al-Buquq Al-Insyaniyyah) menitik beratkan kepada Persamaan; Keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain; Larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik bidang ekonomi atau bidang yang lainnya.

Menilik ketidakberbandingan lurus antara jumlah calon jemaah haji asal Indonesia--sekitar 200 ribu orang dengan sepulangnya mereka ke Tanah Air (Kampung halamanya) niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keyakinan' oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda. Tentunya, tak aka nada lagi pelarangan terhadap jemaat Ahmadiyah dalam menunaikan Ibadah haji ke Tanah suci.

Dengan demikain, Haji harus menjadi ajang penyatuan umat baik lahir maupun batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitna dalam wilayah keyakinan. Inilah yang diinginkan oleh Ali Syariati, pemikir asal Iran

Memang benar, haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang "tampil beda" (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Ini sebuah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji. Tidak lebih! (Ali Syariati,Makna Haji,2001)

Inilah makna terdalam Haji bagi penyatuan umat manusia. Terwujudnya kedamaian, keadilan, kemerdekaan, kesejahteraan, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/30/2008 08:51:00 PM   0 comments
Kitab (8)
Setiap Hari Adalah ‘Haji’
Oleh IBN GHIFARIE

”Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan- Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu”

Rasanya tak berlebihan bila memasuki bulan Dzulhijjah dapat dipastikan pelapalan doa di atas akan selalu kita dengarkan. Apalagi bagi calon haji (Calhaj) yang mampu (istitho’ah) saat tiba di Miqotnya, lafal talbiyah itu akan terus dikumandangkang seraya mengagungkan Asma Allah SWT.

Namun, setiap kali ritual ibadah haji dijalankan, beberapa pertanyaan muncul; Apa sebenarnya pesan tersembunyi yang terkandung dalam ibadah haji itu? Haruskah pelaksanaan Ibadah Haji ini tetap digelar di Tanah Suci? Siapakah yang mendapatkan gelar Haji mabrur itu?
Secara etimologi, haji berarti menuju Ka’bah untuk melaksanakan ibadah (Zakariya al-Anshari, I, tt:134); juga bermakna al-qashdu yang berarti naik atau menuju. Seperti yang dikutif oleh Yusuf Burhanudin, Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir menjelaskan ”Makna ini mengisyaratkan pelakunya siap meninggalkan sekaligus menanggalkan kesenangan duniawi yang individual (disimbolkan pengorbanan harta, waktu, keluarga, dan kampung halaman) menuju pengabdian sosial. Perpindahan fisikal dari Tanah Air menuju Tanah Suci tak lebih perpindahan artikulatif orientasi individual-material menuju misi sosial-spiritual terutama sepulangnya dari haji.” (Republika, 18/11)

Secara Syar’i, seperti yang termaktub dalam Al-Quran ” (Musim) haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum (Syawal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah), maka barangsiapa yang memantapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, Maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan pada saat mengerjakan haji. dan apapun bentuk kebaikan yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya.(QS: 2: 197).”

Berangkat dari ayat di atas para ulama mendefinisikan haji sebagai suatu ibadah di mana waktu (al-hajju asyhurun ma’lumat), pelaksanaan ibadah (faman faradla fihinna al-hajj), zaman dan tempat (fala rafatsa wala fusuqa wala jidala fi al-hajj) telah ditentukan. (Rawai’ al-Bayan, juz. I, hlm. 185-189).

Dengan demikian, haji merupakan upaya meningkatkan derajat taqwa yang ditentukan waktu dan pelaksanaan Ibadahnya.

Kali pertama, ibadah rukun islam kelima ini dilakukan oleh Adam, bukan Ibrahim semata. Ibrahim beserta Ismail hanya meneguhkan sekaligus membiasakan peraktik Ibadah tersebut. Hal ini terlihat dari bangunan Kabah. Menurut sebagian riwayat Kabah telah ada sejak zaman Nabi Adam. Kala itu ka’bah masih berbentuk gundukan tanah. Allah memberikan bimbingan kepada Adam untuk memuliakan tempat itu sekaligus menyerukan untuk mengelilinginya. Kemudian Allah berfirman “Engkau adalah orang pertama yang melaksanakan ibadah haji” (Ramdhan al-Buthi, 1990: 77).

Dengan demikian, berhaji tidak hanya mengembalikan kesadaran relijius antara agama-agama Ibrahim, tetapi lebih luas lagi kepada tradisi kemanusiaan sepanjang sejarah. Melaksanakan haji berarti mengembalikan ingatan panjang tentang persaudaraan umat manusia secara universal yang telah dilupakan.

Membicarakan Haji erat kaitanya dengan kata Mabrur. Pasalnya, setiap Calhaj berkeinginan mendapatkan gelar Haji Mabrur pasca kembalinya ke Tanah Air. Menurut, Yusuf Burhanudin menerangkan ”Esensi makna mabrur yang mengisyaratkan diterimanya ibadah haji terbentuk dari kata al-birr, berarti pancaran kebaikan sosial. Firman-Nya: ''Kalian belum mencapai kebaikan (al-birr) hingga mampu mendermakan sebagian harta yang kalian cintai.'' (QS Ali Imran [3]: 92). Bahkan dalam riwayat, Rasulullah ditanya, ''Apa makna mabrur?'' Dijawab, ''Suka memberi makan (bantuan sosial) dan lemah lembut dalam bicara.'' (HR Ahmad).

Memang berat meraih kemabruran haji itu, seperti yang diceritakan oleh para Sufi. Alkisah, ada sepasang suami-isteri yang dikenal sangat taat beribadah dan mempunyai cukup bekal untuk berhaji. Karena kebiasaan dia menolong sesama, ketika bertemu dengan orang yang kelaparan, maka diberikanlah bekal yang seadanya tadi. Lalu pulang kembali ke kampungnya.

Walhasil, setibanya di rumah, mereka dikejutkan oleh orang yang berjubah putih-–menurut riwayatnya mereka itu malaikat--langsung menyalaminya. Dengan kaget mereka berkata, “kami tidak jadi hajinya”. Penyambut tadi berkata, “kalian sudah jadi haji mabrur, karena tadi telah menyantuni orang meski tidak berangkat ke tanah suci”.

Mencermati kisah Sufi ini, berarti mengajak kita sadar akan pesan suatu ibadah dan tak terjebak pada formalitasnya semata. Tentunya, dengan mengamalkan semua nilai-nilai luhur ibadah haji, yakni kemanusiaan universal, niscaya segala persoalan yang terus mendera Bumi Pertiwi ini dapat diselesaian.

Sejatinya, berbuat kebajikan terus kita tingkatkan dalam kehidupn sehari-hari. Sebab nabi Muhammd telah mewartakan pada umatnya ”Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, berarti Ia merugi. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, berarti Ia celaka”

Kiranya, petuah Rasul ini harus dijadikan sandaran sekaligus dorongan untuk terus berupaya berbuat baik setiap hari. Inilah makna terdalam dari haji karena setiap hari adalah haji.

*IBN GHIFARIE, Mahasiswa Studi Agama-agama Fakultas Teologi dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 12/30/2008 08:47:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.