'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (14)
Sunday, April 12, 2009
Wafat Yesus Kristus dan Semangat Pembebasan
Oleh IBN GHIFARIE


Menilik hasil laporan tahunan kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan tahun 2008 yang disampaikan Hendardi, Ketua Badan Pengurus Setara Institute kepada wartawan di Jakarta (13/1) menjelaskan Jawa Barat (73 peristiwa), menempati urutan teratas dari Sumatra Barat (56 peristiwa) dan Jakarta (45 peristiwa) bila dilihat dari wilayah terjadinya 367 tindak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi dalam 265 peristiwa.

Peristiwa terbanyak terjadi pada bulan Juni (103 peristiwa). Bulan Juni merupakan bulan desakan sekaligu persekuasi terhadap Ahmadiyah mengalami ekskalasi cukup tinggi, baik sebagai desakan terhadap pemerintah agar mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Pembubaran Ahmadiyah maupun sebagai dampak serius dari adanya SKB Pembatasan Ahmadiyah.

Parahnya lagi, Ancaman demi ancaman terhadap keberagaman (pluralisme) Indonesia kian hadir seiring produk perundang-undangan yang diciptakan oleh lembaga konstitusi. Salah satunya adalah keputusan Mahkamah Konstitusi tentang parlementary treshold mengenai batasan kursi di DPR/MPR sebanyak 2,5% bakal mengancam minoritas di DPR/MPR.

Demikian disampaikan oleh Damianus Taufan dari Setara Institute, Ia menuturkan "Bahkan minoritas akan tenggelam, padahal belum tentu mayoritas yang mewakili pengambilan suara terbanyak itu menjadi hal yang benar," saat menjadi pembicara dalam diskusi publik Pentingnya Pluralisme Demi Menjaga Keutuhan NKRI di gedung Nusantara I, Jakarta, Selasa (17/3).

Ambil contoh, UU PMPS tahun 1965 pasal 1 dan 2. Pasal 1 tentang kebebasan kehidupan beragama tapi membatasi beberapa tindakan yang menyangkut perbedaan, dan pasal 2 tentang pengeluaran SKB tiga menteri (Agama, Sosial, Kesra) bila terjadi selisih paham antar pemeluk agama "UU PMPS itu bahkan masuk dan menjadi acuan dalam pasal 156 A KUHP," tegas Damianus, Sekjen Jaringan Aktivis Pro-Demokrasi Andrianto. (Kompas,17/3)

Mampukah kehadiran Wafatnya Isa Al-Masih yang jatuh pada tanggal 10 April 2009 dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membebaskan ketertindasan manusia atas nama agama, keyakinan bagi kelompok minoritas.

Pesan Tri Suci

Momentum kematian Yesus Jeristus merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristiani berbasis keimanan yang kukuh (penyayang, saling kasih, rela berkorban, mendidik). Penyaliban Mesias pun menjadi petanda peradaban Juru Selamat untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Singkatnya, pengorbanan Yesus ditiang salib yang dihianati oleh umatnya (Yudas) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Kristiani sekaligus umat beragama ditengah silih menyusulnya bencana alam (Situ Gintung), kesemrawutan (Undang-undang dan Keputusan Surat Bersama 3 Mentri), ketidak pastian hidup (krisis ekonomi, sosial, politik) yang kian tak menentu.

Prosesi Jumat Agung ini tak bisa dilepaskan dari tradisi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah. Rasanya, tak berlebihan bila kita absent melewatinya kebiasaan itu, maka dapat dikategorikan kurang tulus dalam menjalankan ajaran Yesus ini.

Pasalnya, ketiga aktivitas itu berturutan-berkaitan; menyatu-tak terpisahkan. Bersama-sama, ketiganya membawa pesan suci mengenai iktiar penebusan dosa, pembaruan hidup, pengharapan, semangat bertahan di tengah-tengah kegalauan kehidupan beragama ini.

Jika kita kuata memegang amanat Tri Suci itu niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keagamaan dan keyakinan' oleh aliran tertentu terhadap kelompok yang berbeda. Deretan 73 Kasus pelanggaran kekerasan, pencemoohan, pencacian, hingga berujung pada kematian pun tak akan ada lagi di Bumi Pasundan ini.

Semangat Pembebasan

Menurut Zuly Qodir Peneliti di Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei) Yogyakarta menuliskan keimanan yang konsekuen adalah "keimanan yang mampu berdialog" dengan realitas sosial yang mengelilingi sekitarnya. Di sanalah sebenarnya spiritualitas Wafatnya Isa Al-Masih mendapatkan tempatnya.

Dengan demikian, kesalehan, ketundukan dan ketaatan menjadi modal utama dalam beragama supaya bisa membebaskan kelompok tertindas

Sekali lagi, pengorbanan Sang Juru Selamat disalib harus dimaknai salah satu ajaran agama yang bersifat membebaskan manusia dari sikap kepicikan, curang, angkuh, tak mau nerima pendapat orang dan argumennya mesti diikuti. Mengerikan.

Supaya Kematian Yesus ini menumbuh kembangkan semangat berkurban dan berjiwa pembebasan dalam membangun tatanan masyarakat berkeadilan, dinamis, sejahtera, elegan, dan toleran, maka dialog antaragama tak hanya dilakukan oleh segelintir pemuka agama (elitis), tapi harus menyentuh ke akar rumput (grass root).

Demikian diungkapkan oleh Pdt. Dr. A.Andreas Ewangoe Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia dalam Seminar Nasional Dan Temu Tokoh Lintas Agama di Auditorium UIN SGD Bandung bertajuk “Penguatan Terhadap Signifikansi Agama : Menjawab Krisis Global Menyongsong Tatanan Dunia Baru”, Rabu (18/3)

“Apa yang harus kita cari adalah kesamaan agar tumbuh kebersamaan. Para penganut agama sangat mungkin bekerjasama memerangi kemiskinan secara lintas agama,” katanya.

Semangat pembebasan yang diperjuangkan Yesus merupakan konsekuensi dari kesetiaan-Nya secara mutlak terhadap kehendak Allah dan kasih-Nya yang sempurna terhadap umat manusia. Ketaatan dan kesetiaan merengkuh pilihan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan berujung pada penolakan dan hukuman salib yang harus dipikulnya.

Inilah makna terdalam Wafatnya Isa Al-Masih bagi kelompok tertindas dalam membangun persaudaraan sejati. Kiranya, kita terus mendengungkan renungan Leonardo Boff, teolog, filusuf sekaligus pendiri Teologi Pembebasan Gereja Katolik mencatan sejarah mengagungkan keberanian orang-orang yang menanggung kematian sekaligus penderitaan orang-orang yang rendah, dan mereka yang melakukan revolusi yang membebaskan hak-hak kaum miskin dan mereka yang tersisihkan.

Akhirnya, harapan Jaringan Kerja Pemantauan dan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Jawa Barat dan Komisi III DPR pada 15 Desember 2008 berjanji untuk berkomitmen atas penegakan hukum yang merugikan minoritas pun segera mewujud di Jabar mandiri, dinamis dan sejahtera. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/12/2009 09:14:00 PM   2 comments
Kitab (13)
UIN SGD Bandung dan Peradaban Dialog
Oleh IBN GHIFARIE


Jelang Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung Ke-41 yang jatuh pada tanggal 8 April 2009 pelbagai kegiatan (Seminar, Pengukuhan Guru Besar dan Penganugrahan Doktor Kehormatan, Pertemuan Tokoh Lintas Agama) diarahkan untuk mewujudkan peradaban dialog antaragama.

Pasalnya, dialog antar agama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang yang memerdekakan kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati dialog antar iman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain 'ada' (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-'ada'-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi). (Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).

Berawal Dari Kampus

Jauh sebelum terselenggrakanya acara Seminar Nasional dan Temu Tokoh Lintas Agama, Rabu (18/3). Prof Dr H Nanat Fatah Natsir, MS selaku Rektor UIN SGD Bandung giat mengkampanyekan dialog intra-religius.

Sejatinya, kampus mestinya menjadi tempat bertumbuhnya semangat penghormatan antarumat beragama. Kaum intelektual diharapkan mengambil peran besar mendorong dilakukannya dialog dan menjauhkan bibit-bibit ekstremisme, demikian disampaikan Rektor di sela-sela Diskusi Internasional tentang Pemikiran Islam dan Nilai-nilai Kesundaan, Jumat (9/1).

"Dari kampus, kaum intelektual harus terus menggali pemikiran dan membagikannya demi kepentingan bersama. Jika mungkin, gunakan itu untuk memengaruhi kebijakan-kebijakan publik untuk mengedepankan dialog," katanya

Dialog, menurut Nanat, merupakan jalan paling memungkinkan menuju sikap saling menghargai yang ada dan yang diajarkan di setiap agama. Selain itu, studi mengenai penggalian nilai-nilai lokal, seperti kesundaan, juga penting dilakukan.

Nanat mengaku prihatin dengan masih maraknya konflik yang mengatasnamakan agama dan telah mencederai semangat multikulturalisme. Padahal, agama mestilah bersifat relevan dan fungsional di setiap zamannya demi kesejahteraan manusia. (Pikiran Rakyat, 10/1)

Pasca perubahan IAIN menjadi UIN SGD Bandung diharapkan bisa menjawab tantanga zaman, terutama persoalan kerukunan hidup antaraumat beragama yang kian hari terjadi konflik, kekerasan, pengrusakan tempat ibadah.

Adalah dialogantar agama menjadi solusi atas ketegangan benturan peradaban Barat, Timur dan Islam. Sebab Tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa dialog antar agama--meminjam istilah Hans Kung.

“Disinilah konstribusi seminar dan temu tokoh lintas agama dalam upaya merintis paradigma membangun peradaban Indonesia modern yang demokratis, adil dan sejahtera, egaliter sebagai model peradaban baru dunia dalam mewujudkan kebangkitan antar budaya dari belahan Indonesia sebagai sumbunya,” Jelas Prof Dr H Nanat Fatah Natsir, MS dalam sambutan Seminar nasional dan Temu Tokoh Lintas Agama

Peradaban Dialog

Diakui atau tidak Perguruan Tinggi IAIN (Bandung) mempunyai peranan penting dalam menumbuh kembangkan sikap terbuka, toleran, adil guna terwujudnya masyarakat beradab, adil dan sejahtera.

Dengan adanya Program Studi Perbandinga Agama (Studi Agama-agama) Fakultas Ushuluddin diharapkan dapat menopang sekaligus mengikis prilaku barbar, anarkis, radikal, ekstrim dalam menyelesaikan segala persoalan. Tradisi baku hantam pun tak diharapkan apalagi menjadi model menyelesaikan kisruh. Ironi memang.

Rasanya, tak berlebihan bila menyaol Perbandingan Agama dibala tak menyebut Mukti Ali, Guru Besar Perbandingan Agama melalui pendekatan religion scientific atau scientific-cum-doctrinair dengan jargonnya “Setuju atas ketidaksetujuan”

Agar seloganya membumi Ia beserta Alamsyah Ratuperwiranegara menegaskan, pembinaan kerukunan hidup beragama perlu ditingkatkan dengan memberi bobot, sehingga menjadi musyawarah pemuka-pemuka umat beragama dari berbagai agama di Indonesia.

Dari hasil itu dicanangkan strategi pembangunan yang selama ini kita kenal dengan istilah "Tri Kondial" (tiga kondisi ideal), yaitu kerukunan antarumat beragama, intern/sesama umat beragama, dan kerukunan antarumat beragama dan pemerintah.

Harus diingat, masih menurut Mukti Ali, salah seorang pemrakarsa terpenting dialog antaragama,--ditulis Azyumardi Azra menyatakan bahwa ”dialog” lebih tepat diartikan sebagai komunikasi di antara orang-orang beriman untuk mencapai kebenaran tertentu dan kerja sama dalam masalah- masalah yang berkaitan dengan kepentingan dan kemaslahatan bersama (Mukti Ali,1992:208).

Senada dengan Mukti Ali, Swidler merumuskan, ”dialog” (intra dan antaragama) adalah perbincangan atau percakapan di antara dua orang atau lebih yang memiliki pandanganpandangan yang berbeda, yang tujuan utamanya adalah untuk saling belajar sehingga para peserta dialog dapat mengubah pandangannya dan meningkatkan pengalaman keagamaannya (Swidler,1990:3).

Kendati dialogantar agama masih bersifat elitis dan tidak menyentuh akar rumput, ungkap Prof Din Samsyudin upaya mewujudkan kerukunan hidup bersama juga menghadapi persoalan ambivalensi para pemimpin agama. “Ketika bicara perdamaian di forum seperti ini, semua tokoh tampak baik. Akan tetapi, saat kembali ke umat dan berkhotbah, mereka kurang menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan penghargaan terhadap agama lain,” ujarnya.

Namun, bukan berarti pengadaan pelbagai seminar, pembukaan Prodi Perbandingan Agama setiap tahunya diharapkan dapat menepis anggapan miring tersebut.

Dengan demikian, kehadiran Milad UIN SGD Bandung Ke-41 menjadi momentum juga harus menjadi modal dasar evaluasi sekaligus semangat toleransi dan pencerahan bagi seluruh dialog antar iman dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam membangun pendidikan berkarakter multicultural.

Ulang tahun UIN SGD Bandung juga harus dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh kualitas kita dalam menghargai perbedaan (Suku, Agama, Ras, Budaya) semenjak UIN SGD Bandung ini berdiri.

Inilah makna terdalam Dies Natalis UIN SGD Bandung Ke-41 bagi membangun peradaban dialog. Terwujudnya masyarakat Jawa Barat yang adil, toleran, ramah, rukun, sejahtera, makmur menjadi cita-cita civitas akademika UIN SGD Bandung. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Alumnus Studi Agama-agama Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan bergiat di Sunan Gunung Djati (Komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung)

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 4/12/2009 09:08:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.