'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (3)
Wednesday, July 29, 2009
Terorisme dan Dialog Antaragama
Oleh IBN GHIFARIE

Pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (18/7) lalu genderang perang pun ditabuh oleh pemerintah Indonesia terhadap segala bentuk aksi terorisme.

Dengan tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk keras aksi terorisme "Saya bersumpah demi rakyat Indonesia, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pengeboman berikut otak dan penggeraknya," tegasnya

Dalam jumpa presnya, Ia menjelaskan "Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita...Pemboman dilakukan oleh kaum teroris. Aksi terorisme ini dilakukan oleh jaringan teroris meskipun belum tentu kelompok yang dikenal selama ini," katanya.

Nama Noordin M Top pula dikaitkan menjadi dalang aksi teror bom itu, demikian dikatakan oleh Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Irjen Pol Ansyaad "Dari modus yang dilancarkan, ini jelas terkait dengan Noordin M Top," paparnya kepada ANTARA.

Spirit Yang Terlupakan
Apapun alasanya menghancurkan tempat umum tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.

Di tengah-tengah keterpurukan bangsa, masih ada segelintir orang (kelompok) yang tega melakukan perbuatan senonoh atau menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya aksi bom bunuh diri pun menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda (pendapat, pemahaman dan keyakinan).

Apakah kita tidak lelah? Apakah kita tidak ada kepentingan dan kebutuhan lainya yang lebih urgen daripada aksi terror tak berarti itu? Apakah kita memang lebih gandrung terhadap budaya barbar daripada duduk rukun dan bicara (dialog) dari hati ke hati?

Harus kita katakana dengan tegas, tak ada ajaran agama mana pun yang membenarkan perbuatan keji tersebut.

Sangatlah wajar bila Sejumlah tokoh lintas agama menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa teror pemboman dalam acara bertajuk Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Mal Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta Senin (20/7). Mereka menolak jika dikatakan Indonesia adalah pusat terorisme. Yang terjadi adalah sebaliknya, Indonesia adalah korban terorisme.

Kegiatan yang digagas oleh Presiden World Conference on Relation for Peace sekaligus wakil dari Islam Hasyim Muzadi, Mahabiksu Duta Wira dari perwakilan agama Budha, Anak Agung dari perwakilan agama Hindu, Romo Edi Purwanto dari Konferensi Waligereja Indonesia, serta Pendeta Petrus Octavianus dari Persatuan Gereja Indonesia.

Hasyim Muzadi menyatakan, agama bukanlah darah dan teror. Peristiwa pengeboman pada 17 Juli lalu, katanya terjadi karena kesalahan pemahaman ajaran agama yang terjadi pada segelintir orang. "Kesalahan pemahaman itu bercampur berbagai kepentingan yang dipaksakan," paparnya.

Karena adanya penyalahgunaan agama itu, masih menerutnya, jangan membuat orang menafsirkan bahwa agama adalah penyebab terorisme.

Bagi Mahabiksu Duta Wira mengatakan kepiluannya atas peristiwa pengeboman yang kembali terjadi. Ia meminta pihak-pihak yang ingin menunjukan identitas dan aspirasinya untuk jangan menggunakan bom. "Tindakan itu merugikan karmanya sendiri, masyarakat, dan bangsa," tegasnya.

Hal senada juga dilontarkan oleh Romo Edi Purwanto perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia menganggap peristiwa pengeboman adalah tindakan kejahatan yang kejam. "Tidak ada dasar apapun yang membenarkan tindakan ini," katanya. (Tempo, 20/7)

Maraknya aksi terorisme dan bunuh diri ini, perlu ditegaskan, perbuatan tak terpuji itu tidak terkait agama tertentu. Malahan bagi Zuhairi Misrawi, pernah menulis buku Islam Melawan Teroris (2004) mengatakan terorisme sebenarnya terkait realitas keumatan.

Agama buknalah penyebab segala bentuk petaka, tapi ketidaktepatan umat dalam memahami doktrin agama, tidak kontekstual, dan bernuansa kekerasan. Sebab itu, yang perlu mendapat perhatian saksama adalah kualitas pemahaman umat terhadap agama. Bom bunuh diri adalah perbuatan yang harus dihindari karena dilarang agama.

Salah satu ajaran pokok Islam adalah menyebarluaskan sekaligus menegaskan pentingnya perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Ini terlihat dalam sebuah hadis; inti Islam adalah menebar perdamaian dan menyantuni fakir-miskin kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal. (Kompas, 24/7)

Bila kita kuat memegang ajaran setiap keagamaan niscaya tak akan ada lagi upaya 'mempercepat kematian' oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak masuk kategori Islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram Islam Indonesia.

Kunci Perdamaian
Sejatinya, kita harus belajar toleransi, dialog antaragama dari pertemuan singkat antara Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi dan Paus Benediktus XVI di Vatikan, November 2007. Kedua tokoh agama itu percaya bahwa dialog adalah amat penting, dan melalui dialog akan lahir sebuah perubahan.

Pasalnya, dialog antar agama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang yang memerdekakan kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati dialog antar iman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain 'ada' (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-'ada'-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi). (Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).

Dengan demikian, dialog antaragama merupakan suatu pelayanan bagi kemanusiaan yang penting, demi tercipta perdamaian dan kemajuan semua pihak.

Konteks Jawa Barat, khususnya Kota Bandung--dipenghujung 2007 ketidakharmonisan antariman itu, menggugah seluruh pemimpin enam agama (Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Khonghucu) dan tujuh belas pemuka aliran keagamaan untuk berembuk sekaligus mendeklarasikan Sancang.

Mari kita menelaah sekaligus mengamalkan pesan suci Deklarasi Sancang yang terangkum dalam butir-butir; Pertama, Kami umat beragama Kota Bandung adalah bagian dari Bangsa Indonesia yang senantiasa menjungjung tinggi kesatuan dan persatuan. Kedua, Kami umat beragama Kota Bandung menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berjuang untuk tegaknya hokum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup demi mencapai kebahagiaan bersama. Keempat, Kami umat beragama Kota Bandung selalu mengembangkan sikap teleransi, tenggang rasa dan saling menghormati. Kemila, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berkerjasama untuk berperan dalam mengatasi masalah-masalah social dan lingkungan.

Perdamaian erat kaitannya dengan perilaku antikekerasan. Kiranya, kita perlu berguru antikekerasan pada Badshah Khan (1890-20 Januari 1988), pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut. Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.

“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini,” ungkapnya. (Eknath Easwaran, 2009)

Inilah peranan penting para pemuka agama dalam membumi hanguskan aksi terorisme sekaligus membangun peradaban dialog antaragama. Terwujudnya masyarakat yang adil, toleran, ramah, rukun, sejahtera, makmur menjadi cita-cita Bandung Agamis. Semoga.

IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 29 Juli 2009

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/29/2009 05:59:00 AM   0 comments
Mushaf (2)
Thursday, July 23, 2009
Isra Miraj dan “Panceg dina Galur”
Oleh IBN GHIFARIE

Memasuki bulan rajab, masyarakat Islam (muslim) Sunda acap kali menggelar tradisi rajaban. Bentuknya sangat beragam. Ada yang berziarah; ke makam wali, kuburan orang tua, Syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah; kumpul bersama di mesjid, mushola, rumah sebagai tanda bersyukur; zikir secara bersama di mesjid, pondok Pesantren; shaum selama satu minggu.

Betapa tidak, di daerah Karangtawang Kuningan kehadiran Isra Miraj (27 Rajab) merupakan momentum berkumpul bersama di masjid Nurul Islam. Juga Cirebon, mereka melakukan upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Galibnya, kegiatan itu dihadiri oleh para kerabat dari keturunan --kedua Pangeran tersebut.


Masih di Kota Udang, jamaah Tareqat Syahadatain setiap bulan Rajab selalu mengadakan acara zikir bersama di Masjid Asy-Syahadatain Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan, Cirebon dan di Pondok Bunten Pesantren bisanya diadakan pengajian. Kitab Qissotulmi'roj pun menjadi bacaan Kyai-kyai muda secara bergantian. Penghujung malam penghataman kitab, akan ada banyak Ambeng (hidangan yang disajikan diatas nampan berukuran besar berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya) yang dihidangkan bagi para peserta pengajian.

Adakah pelajar yang bisa kita petik dengan adanya perayaan Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2009 dapat memberikan spirit kebenaran, keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya ajaran karuhun di Tatara Pasundan ini

Semangat Istiqomah
Salah satu pengalaman berharga dari Isra Miraj ini adalah keistiqomahan (taat, tunduk, patuh, teguh pendirian, memegang prinsip, aturan, pandangan hidup) Muhammad dalam menyebarluaskan risalah Tuhan dari kejadian “sici semalam”.

Kacian, makian, hujatan, ejekan sekalipun memperolok-olok tak membuat pudar Rasul untuk menceritakan peristiwa maha dahsat itu kepada masyarakat sekitranya. Abu Bakar merupakan orang pertama menyakini, mempercayai kejadian luar biasa tersebut. Hingga mendapatkan gelar As-Shidiq (Orang yang dapat dipercaya).

Parahnya, perjalanan semalam (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke Sidrat Al-Muntaha) itu terjadi pada tahun 621 M--kurang lebih setahun sebelum Hijran ke Madinah saat usia Sang Ummi 50 tahun (10 tahun wahyu pertama). Kala itu, putra Abdullah tengah mengalami duka cita besar akibat meninggalnya 2 orang yang melindungi secara social-politis dan psikologis. Yakni Abu Tholib (Pamannya) dan Siti Khodijah (Istrinya).

Perintah ini tertera dalam surat Al-Isra/17:1 “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda keagungan Kami”

Sejatinya, momentum Isra Mi'raj Nabi Muhammad merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh (istiqomah). Perintah shalat pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Bila kita kuat memegang amanat Isra Miraj niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keyakinan' oleh kelompok tertentu (agama import) terhadap golongan yang kuat memegang teguh tradisi leluhurnya (agama suku). Seolah-oleh mereka tak masuk kategori islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram islam indonesia.

Panceg Dina Galur
Keberanian dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan dalam khazanah kesundaan dikenal dengan sebutan panceg dina galur.

Menurut Ajip Rosidi, pandangan hidup Orang Sunda seperti tercermin dalam tradisi lisan dan sastera Sunda paling tidak ada lima, mari kita hilat hasil Penelitian, diantaranya; Pertama, Pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi. Kedua, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat. Ketiga, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan alam. Keempat, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Kelima, Pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.

Untuk mempunyai tujuan hidup yang baik, harus punya guru yang akan menuntunnya ke jalan yang benar. Guru dihormati dalam masyarakat Sunda. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa juga disebut Guru Hyang Tunggal. Lihat saja, naskah Siksa Kandang Karesian dikatakan orang dapat berguru kepada siapa saja. Dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Teladani orang yang berkelakuan baik. Terimalah kritik dengan hati terbuka. Ambil manfaatnya dari teguran dan nasihat orang lain.

Terciptanya kehidupan sejahtera, hati tenang dan tenteram, mendapat kemuliaan, damai, merdeka dan mencapai kesempurnaan di akhirat adalah cita-cita Urang Sunda.

Beragam cara untuk mencapai kebahagian itu diantaranya, masih menurut Ajip Rosidi dengan memegang teguh kepada ajaran-ajaran karuhun, pesan orangtua dan warisan ajaran yang tercantum dalam cerita-cerita pantun, dan yang berbentuk naskah seperti Siksa Kandang Karesian. Ajaran-ajaran itu punya tiga fungsi: Pertama, Sebagai pedoman dalam menjalani hidup; Kedua, Sebagai kontrol sosial terhadap kehendak dan nafsu yang timbul pada diri seseorang dan Ketiga, Sebagai pembentuk suasana dalam masyarakat tempat seseorang lahir, tumbuh dan dibesarkan yang secara tak sadar meresap ke dalam diri semua anggota masyarakat. (Makalah Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda yang diadakan oleh Gema Jabar tanggal 21 Agustus 2006)

Dengan demikain, Isra Mi'raj harus menjadi ajang evaluasi sekaligus tetep mempertahankan ajaran karuhun sebagai khazanal lokal yang tak bisa diganggu gugat.

Kiranya, dua rumusan yang ditulis Jamaludin Wiartakusumah Dosen Desain Itenas dalam Mencermati Ajaran Karuhun, diantaranya; runtut raut sauyunan (hidup rukun bersama) harus modal awal untuk membangun hidup rukun, harmonis antaragama, antarsuku, antarpemahaman. Pun ungkapan satata sariksa (satu aturan bersama-sama memelihara) guna menciptakan kebersamaan hidup yang kian tak beraturan ini. Singkatnya, bukan ajaran karuhun yang harus dipermak, tetapi telaah lebih dalam yang harus dilakukan! (www.mangjamal.multiply.com)

Inilah pelajaran berharga dari Isra Miraj bagi pemegang ajaran karuhun di Parahyangan ini. Semoga menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Islam. Selamat Isra Miraj.

*IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.
Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 15 Juli 2009

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/23/2009 08:48:00 AM   1 comments
Mushaf (1)
Monday, July 20, 2009
Isra Miraj Bagi Bangsa
Oleh IBN GHIFARIE

Pascapilpres (Pemilihan Presiden) periode 2009-2014 yang digelar pada tanggal 8 Juli 2009 membuat sebagian masyarakat 'bingung' dengan perolehan laporan hasil quick count (hitung cepat) yang dilakukan oleh lembaga survei tentang pasangan yang mengungguli pesta demokrasi ini.

Ada yang senyum, manggut, tertawa, tidak percaya, marah, mengamini, hingga menggugat metode hitungan cepat. Betapak tidak, kala suasana pencontrengan berjalan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah melansir quick count di TVOne pada pukul 10.35 WIB, Rabu (9/7). Hasilnya, SBY menang sementara.

Quick count yang baru menghitung 0,30% di kawasan Indonesia Timur itu menampilkan hasil Mega-Prabowo 15,69 persen, SBY-Boeidono 58,65% dan JK-Wiranto 25,66% (www.detik.com)

Kontak saja, ini membuat berang Komisi Pemilihan Umum (KPU) meminta dengan tegas agar stasiun TV yang menanyangkan quick count segera dihentikan. Pasalnya, hasil quick count boleh ditayangkan sekitar pukul 13.00 WIB atau setelah pemungutan suara usai dilaksanakan.

Di tengahketidak percayaan masyarakat terhadap hasil hitungan cepat dan menguatnya mentalitas pemimpin yang tak siap menerima kekalahan membuat citra keislaman Indonesia ini semakin tak ramah, toleran dan inklusif. Mampukah kehadiran peristiwa Isra Miraj (27 Rajab 1430) yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2009 ini dapat membangkitkan semangat sekaligus kemerdekaan bagi bangsa yang kian hari semakin terpuruk ini?

Imani Saja!
Percaya atau ingkar. Hanya ada dua pilihan yang tersedia saat Muhammad SAW berniat menceritakan kembali ihwal perjalanan 'suci semalam' (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke sidrat al-muntaha) itu. Masukan dari Umm Hani Hindun, puteri Abu Thalib pun tak digubriskan. Malahan Rasul dengan lantang menyebarluaskan kabar kebenaran kejadian maha dahsat tersebut.

Memang tak masuk akal, bila rihlah bisa dilakukan dalam semalam. Padahal jarak tempuh Mesjid Haram (Mekah) dengan Aqsa (Palestina) sangat jauh. Dapat dipastikan kejadian itu hanya mengada-ngada sekaligus orang gilalah yang telah mempercayai kebenaran cerita itu.

Rupanya, Abu Bakar, sahabat Rasulullah malah mempercayai kisah Muhammad. Gelar ash-shiddiq pun ia peroleh langsung dari Nabi. Pasalnya, tanpa ada kompromi, sikap curiga Abu Bakar mengimani kisah luar biasa tersebut.

Mari menengok jawaban tegas Abu Bakar kala kaum musyrikin mencemoohkannya sambil berkata: Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Padahal kami butuh waktu sampai sebulan agar bisa sampai ke Baitul Maqdis? Lantas, mereka segera menghadap ke Abu Bakar, dan menceritakan akan peristiwa itu: Sahabat kamu (Muhammad) mengklaim telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis! Abu Bakar menjawab: Jika Nabi telah berkata demikian jelas ini merupakan suatu kebenaran. Sungguh saya mempercayainya terhadap berita langit (wahyu) yang datang kepadanya. Semenjak itulah Rasulullah saw menjulukinya dengan Ash-shidiq (orang yang bersifat jujur dan benar). (Ibnu Hisyam).

Mengenai kebenaran kisah semalam itu Quraysh Shihab dalam Membumikan Al-Quran menegaskan, cara paling aman menghadapi Isra Miraj adalah dengan mengimaninya.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Juga mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Pun sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Sejatinya, kita harus mempercayai terhadap kejadian Isra' dan Mi'raj. Pasalnya, tak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan sekaligus berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Kunci Kebangkitan
Di tanah air, beragam tradisi dalam mempeingati Isra Miraj. Ada yang berziarah; ke makam wali, kuburan orang tua, syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah; kumpul bersama di mesjid, mushola, rumah sebagai tanda bersyukur; zikir secara bersama di mesjid, pondok Pesantren.

Di akui atau tidak sikap kejujuran, kebenaran dan kepracayaan tak mendarah daging lagi di Bumi Pertiwi ini. Para penguasa apalagi.

Sekedar contoh, mencuatnya laporan quick count jarang terjadinya proses tabayyun (Cross-Check) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan informasi. Al-Quran dengan tegas menjelaskan “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat [49]: 6). Rasul bersabda “Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebenaran sumber berita menjadi modal utama dalam menepis segala bentuk keributan, kekerasan, konflik antarpendukung pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

Kiranya, pemimpin harus siap menerima kekalahan bagi calon yang tersingkirkan dan tidak arogan kepada yang unggul. Rasul mengajarkan kepada kita untuk tidak berburuk sangka, mencari-cari kesalahan, menggunjing (Ghibah) sesame muslim, tetangga dan lingkungan sekitarnya.

“Janganlah kamu sekalian memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu saling berbantah-bantahan, saling hasud, saling benci dan saling belakang membelakangi.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kesalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya sesuatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)

Dengan memiliki sikap dan perilaku amanah, jujur, dapat dipercaya merupakan kunci kebangkitan bangsa sekaligus kebahagian hidup yang dicita-citakan rakyat Indonesia.

Inilah makna terdalam Isra Miraj bagi bangsa. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarpendukung capres dan cawapres menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.

IBN GHIFARIE, alumnus Studi Agama-agama UIN SGD Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/20/2009 09:10:00 PM   1 comments
Kitab (20)
Wednesday, July 15, 2009
Apa Arti Kebebasan Beragama Bagi Indonesia
Oleh IBN GHIFARIE

Siapapun yang terpilih menjadi Presiden Indonesia ke-VII; Apakah pasangan Mega-Prabowo (nomor 1), SBY-Boediono (nomor 2) dan JK-Wiranto (nomor 3) tak jadi soal! Asalkan kebebasan bersyerikat, berkumpul, beda pendapat; agama dan keyakinan mendapatkan ‘tempat yang layak’ di bumi pertiwi ini.

Sejatinya, momentum pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) periode 2009-2014 yang jatuh pada tanggal 8 juli 2009 merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Indonesia berbasis keragaman yang kukuh dan ramah. Bukan malah sebaliknya.

Sekali lagi, perbedaan agama, keyakinan, suku, etnis, budaya adalah modal utama membangun negeri yang tak kunjung selesai dari pelbagai krisis.

Ambil contoh, hari kelahiran pancasila (1 juni) tahun 2008 di Monas Jakarta pun menjadi tragedi yang sangat memilukan kemanusian sekaligus keimanan kita.

Betapak tidak, bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKKBB) dengan Front Pembela Islam (FPI) hingga hari ini tak jelas keberadaanya.

Diakui atau tidak kemerdekaan, keadilan, sikap keterbukaan menjadi barang langka di Nuasntara ini. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Padahal negara kita bukan pemerintahan teokratis atau sekuler. Namun, penertiban kepercayaan selalu digalakan. Atas nama meresahkan masyarakat, berbuat onar, menafikan Tuhan, hingga penodaan agama kerap menjadi dalih untuk membumi hanguskan keberadaan mereka.

Mari kita becermin pada funding father Indonesia saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini melalui Pancasilanya. Keperkasaan jargon Bhineka Tunggal Ika pula hanya menjadi selogan di bangku sekolah saja. Mengerikan memang?

Kiranya, jaminan kebebasan berkumpul, berserikan dan beragama sesuai dengan keyakiannya dan hak kemerdekaan pikiran, nurani dan kepercayaan hanya berhenti pada Pasal-pasal (28 ayat 2, 29 ayat 1 dan 2), Undang-undang (No 1/PNPS/1965) dan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 semata.


Salah satu hak dan kebebasan dasar yang diatur ICCPR sekaligus sudah dirativikasi adalah hak atas kebebasan berkeyakinan dan beragama, mencakup kebebasan menganut, menetapkan agama, kepercayaan atas pilihan sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama, di tempat umum maupun tertutup, untuk menjalankan agama, kepercayaan dalam kegiatan ibadah, ketaatan, dan pengajaran. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasan untuk menganut, menetapkan agama, kepercayaan sesuai dengan pilihannya.

Inilah arti penting kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi Indonesia melalui Presiden dan Wakil Presiden mendatang. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga!

IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 7/15/2009 08:37:00 AM   1 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.