'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (15)
Monday, March 15, 2010
Nyepi dan Toleransi Sejati
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Forum Kompas Jawa Barat, edisi Senin, 15 Maret 2010)

Bertenggernya situs Candi Cangkuang di Kampung Adat Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, merupakan bukti nyata keharmonisan sekaligus kekekalan kebajikan abadi antara pengikut Hindu dan Islam di Pasundan. Pasalnya, dari tengah situs Cangkuang ini terpancar keterbukaan, toleransi, dan keragaman.

Konon candi bercorak Hindu ini ditemukan pada 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan yang ditulis Vorderman dalam buku notulen Bataviaasch Genootshap (terbit tahun 1893).

Bangunannya berbentuk candi "polos" tanpa relief apa pun. Tingginya 8,5 meter dengan bangunan kaki 4,5 meter x 4,5 meter. Uniknya, candi ini memiliki satu bilik dengan pintu menghadap ke timur. Untuk mencapai pintu candi, pengunjung harus menaiki 10 anak tangga.

Tempat pemujaan arca Dewa Siwa (Hindu) di sekitar situ yang bersebelahan dengan makam keramat (Islam Mataram) Embah Dalem Arif Muhammad merupakan pertanda tumbuh dan berkembangnya semangat perdamaian pada masyarakat Kampung Pulo (Panjang, Leuthik, dan Gedhe). Harus kita katakan, Candi Cangkuang yang berdiri kokoh sekarang ini sebetulnya adalah hasil rekonstruksi yang diresmikan tahun 1978. Sebab, bangunan aslinya hanya tinggal 35 persen. Hingga kini bentuk bangunan Candi Cangkuang yang asli belum diketahui. Penamaan Candi Cangkuang diambil dari nama Desa Cangkuang.

Embah Dalem
Embah Dalem Arif Muhammad, panglima perang dari Kerajaan Mataram, pada awal abad ke-17 bersama prajuritnya mencoba menyerang tentara VOC atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia.

Alhasil, mereka kalah. Kuatnya rasa malu membuat Embah Dalem Arif Muhammad beserta rombongannya mengurungkan niat pulang ke Kerajaan Mataram. Lebih baik mereka terlunta-lunta di daerah ekspansi daripada harus menanggung malu di tanah jajahan.

Begitu kuat itikad mereka supaya tidak pulang ke Kerajaan Mataram. Dalam suasana bimbang, Embah Dalem memutuskan untuk menetap di kawasan Cangkuang yang masih memeluk kepercayaan animisme, dinamisme (agama suku), dan Hindu.

Dapat dipastikan Embah Dalem Arif berusaha menyebarkan ajaran Islam dengan arif dan bijaksana. Membuat danau yang mengelilingi desa merupakan persyaratan bagi Embah Dalem Arif untuk menikah dengan seorang putri cantik yang merupakan penduduk asli. Mereka pun dikaruniai enam anak perempuan.

Sebagai upaya mengenang putri Embah Dalem, dibuatlah enam rumah dan satu mushala yang tepat berada di belakang Candi Cangkuang dan dapat dipastikan muncul petaka bila berani menambah permukiman baru di kawasan ini (Kompas, 28/2/2009 dan 18/2/2010).

Menurut Zaki Munawar dalam bukunya, Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya, ihwal jumlah bangunan berupa enam rumah dan satu mushala merupakan aturan yang ditetapkan Arif Muhammad.

Embah meninggalkan warisan berupa barang antik, khotbah Idul Fitri, naskah khotbah Jumat dari kulit kambing (1,76 cm x 23 cm), Al Quran dari kulit kayu saih (33 cm x 24 cm), serta kitab ilmu tauhid dan fikih. Sampai sekarang semua masih terawat meski ada yang lapuk dimakan usia.

Tak hanya makam Embah yang menjadi tempat berziarah. Makam sejumlah murid-Sunan Pangadegan, Wiradijaya, Wirabaya, Prabu Santosa, dan Mayagatrek-yang berasal dari Cirebon pun menjadi pelengkap berwisata religius.

Ingat, dalam ziarah, kedua peninggalan ajaran Hindu-Islam ini memiliki aturan ketat, di antaranya, pertama, harus membawa bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan, dan cerutu sebagai upaya mendekatkan diri kepada arwah-arwah leluhur. Kedua, dilarang berziarah pada hari Rabu karena Embah berusaha mengajarkan agama kepada anak-anaknya.

Ketiga, bentuk atap rumah harus memanjang (jolopong). Keempat, tidak boleh menabuh gong besar. Ini berkaitan dengan kematian anak laki-laki saat sunatan akibat gong besar berujung pada angin topan. Kelima, dilarang memelihara ternak berkaki empat, yaitu kambing, sapi, atau kerbau. Bentuk larangan ini untuk melestarikan tanaman di Kampung Pulo. Keenam, setiap tanggal 14 Mulud digelar upacara adat memandikan benda-benda pusaka, yaitu keris, batu aji, dan peluru dari batu.

Toleransi
Momentum Nyepi 1932 Saka yang jatuh pada 16 Maret 2010 sejatinya harus menjadi modal utama dalam membangun keharmonisan dialog antar-agama sekaligus membawa pesan kedamaian bagi kerukunan hidup beragama di Pasundan.

Pasalnya, segenap umat Hindu di Jawa Barat meyakini keharmonisan dan perdamaian sebagai berkah terpenting dalam perayaan Nyepi. Memang perayaan Tahun Baru Saka bertepatan dengan tanggal satu bulan kesepuluh (Eka Sukla Paksa Waisak), sehari setelah Tilem Kasanga (Panca Dasi Krsna Paksa Caitra). Peresmian Nyepi ini dimulai sejak penobatan Raja Kaniskha dari Dinasti Kushana, suku bangsa Yuehchi, pada 78 atau 79 Masehi.

Menurut catatan Negarakertagama, dahulu pada masa Kerajaan Majapahit, pergantian tahun Saka dari bulan Caitra ke Waisaka ini dirayakan besar-besaran. Beragam ritual dilakukan oleh umat Hindu. Tentu perayaan Nyepi harus melalui beberapa tahapan ritual. Pertama, melasti (pertobatan). Kedua, tawur (mengembalikan keseimbangan alam, manusia). Ketiga, catur brata Nyepi (empat ritual puasa: amati geni/tidak menyalakan api, amati karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari, amati lelungan/tidak bepergian, amati lelanguan/tidak menghibur diri serta tidak boleh memasak dan memakai lampu penerangan). Terakhir, ngembak geni (melakukan darma santi/ibadah sosial berupa silaturahim kepada sanak kerabat dan tetangga).

Cita-cita agung dari perayaan ini adalah mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan kebenaran (satyan), kesucian (siwam), serta keharmonisan dan keindahan (sundaram).

Unsur-unsur Nyepi ini membuat Nyoman S Pendit menulis buku Nyepi, Kebangkitan, Toleransi, dan Kerukunan, menilik brata penyepian di Bali tidak hanya milik Hindu. Ini terlihat dari perilaku umat non-Hindu yang tak bepergian kecuali bagi yang bertugas di rumah sakit atau aparat keamanan. Mereka juga tidak menyalakan lampu secara mencolok. Sungguh syahdu. Sikap toleran dan membangun kerukunan antar-umat beragama terpancar dari perayaan Nyepi.

Dengan demikian, Nyepi mengajarkan kita pada sikap toleransi, kerukunan, dan keharmonisan di antara semua ciptaan Tuhan. Kiranya kita harus mendengungkan petuah ini, Maju teruslah engkau, jangan berselisih (tikai) di antara kamu; milikilah pikiran-pikiran yang luhur dan pusatkan pikiranmu pada kerja; ucapkanlah kata-kata manis di antara kamu; Aku jadikan engkau semuanya bersatu dan aku anugerahi engkau pikiran-pikiran mulia (Weda-Athanwa III, 30:5).

Inilah makna Nyepi dalam membangun toleransi sejati antar-agama di Parahyangan. Sinar toleransi terpancar dari Candi Cangkuang. Selamat hari raya Nyepi 1932. Semoga semua makhluk berbahagia.

IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/15/2010 11:11:00 PM   1 comments
Mushaf (14)
Pesan Nyepi
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Opini Pikiran Rakyat, edisi Senin, 15 Maret 2010)

Mampukah kehadiran Hari Raya Nyepi (1932 Saka) yang jatuh pada 16 Maret 2010 tidak hanya merayakan melasti (pertobatan); tawur (mengembalikan keseimbangan alam, manusia); catur brata Nyepi (empat ritual puasa; amati geni/tidak menyalakan api; amati karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari; amati lelungaan/tidak bepergian; amati lelanguan/ tidak menghibur diri, tetapi dapat menebar sifat kerukunan dan antikekerasan supaya bangsa Indonesia ini bisa keluar dari pelbagai kekerasan, kejahatan, dan maraknya aksi terorisme.

Umat Hindu menyakini berkah terdalam dengan adanya peringatan Hari Raya Nyepi adalah menahan diri (introspeksi, penyucian) dari segala tindakan, ucapan dan perbuatan kotor, jahat, yang ada dalam diri kita.

Pasalnya, segala bentuk kejahatan berawal dari hawa nafsu (ahangkara) dan tempatnya berada dalam indra, pikiran, dan kecerdasan. "Indria-indria, pikiran, dan kecerdasan adalah tempat duduk hawa nafsu tersebut. Melalui indria-indria, pikiran, dan kecerdasan hawa nafsu menutupi pengetahuan sejati makhluk hidup dan membingungkan" (Sloka 3.40).

Menahan Hawa Nafsu

Prosesi catur brata Nyepi petanda nyata dari upaya menahan hawa nafsu. Bila kita kuat menguasai ahangkara, maka akan menjadi orang bijaksana dan bersatu dengan Brahman. Taani sarvaani samyamya/Yukta asita matparah/Vase hi yasye`mdriyani/Tasya prajna pratisthita (Bhagawad Gita II. 61).

Rupanya ajaran Hindu mewartakan pentingnya ahimsa (tidak menyiksa atau membunuh) dan awyawaharika (sikap damai dan tulus), karena perilaku ini merupakan dua dari lima unsur pengendalian diri (panca yama brata: ahimsa, brahmacari, satya, awyawaharika, asteya).

Menurut I Gusti Ngurah Gorda (2004;8) Perbuatan ahimsa harus dimulai dari pikiran (manacika) menuju wicara (wacika), dan berakhir pada laku (kayika atau tri kaya parisuda).

Mari tengok beberapa Sloka tentang ahimsa yang ditulis Yudhis Muh. Burhanuddin, Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar Bali: Tuhan berkata ”Tuhan menciptakan manusia untuk berbicara lemah-lembut dan santun” (Yajur Weda, XXI.61); Tuhan berjanji ”Orang-orang yang ramah dan lemah-lembut dalam ucapannya akan memperoleh karunia-Nya” (Yajur Weda, XIX.29); Dia berseru kepada kita semua, ”Wahai umat manusia, satukanlah pikiranmu untuk mencapai satu tujuan dan satukanlah hatimu, satukan pikiranmu dengan sesama, dan semuanya tinggal dalam pergaulan yang harmonis” (Rig Weda, X.19.4).

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita wajib menjalankan sikap ahimsa dan awyawaharika, bila tidak maka akan dikategorikan manusia hina dan terkutuk.

Pesan ini termaktub dalam Bhagawadgita, XVI.20, Tuhan mengingatkan kita, ”Mereka yang kejam dan pembenci, adalah manusia paling hina di dunia ini, yang Aku campakkan berkali-kali ke dalam kandungan raksasa.”

Harus diingat, setiap agama mengajarkan perdamaian, kebajikan, dan melarang perilaku buruk sekaligus mengutuk segala bentuk aksi terorisme yang terjadi di Indonesia ini.

Inilah makna terdalam Nyepi dalam memerangi aksi terorisme. Selamat Hari Raya Nyepi.***

IBN GHIFARIE, alumnus studi agama-agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.



Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/15/2010 11:04:00 PM   0 comments
Mushaf (13)
Monday, March 08, 2010
Imlek dan Kearifan Alam
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Podium Tribun Forum Tribun Jawa Barat, edisi Sabtu 13 Februari 2010)

Harus diakui kerusakan alam (banjir, longsor, kekeringan, badai) yang terus mendera Jawa Barat ini diakibatkan ulah lalim manusia.

Betapa tidak, kuatnya sikap serakah dan perilaku jahil yang tertanam dalam sanubari kita membuat alam murka sekaligus unjuk kekuatan.

Tibanya musim penghujan malah menjadi petaka yang tak bisa terelakan. Karena kita seriang alfa mensyukuri segala pemberian (anugrah) dari Tuhan ini. Ironis memang.

Saat pergantian Hari Raya Tahun China (Xin Nian) pun kerap diwarnai hujan (musim dingin). Mampukah kehadiran Imlek (1 Imlek 1561) dengan sio Macan yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2010 dapat memberikan keselarasan, keseimbangan, keharmonisan antara manusia dengan alam supaya lebih arif?

Semangat Kongzi
Adalah Kongzi, Khongcu atau Confucius hidup pada jaman Dinasti Zhou (551-479 sM). Kala itu, ia menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan Kalender Xia, sebab tahun barunya jatuh pada musim semi, sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam.

Namun nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han (140-86 sM) pada 104 sM. Semenjak itulah Kalender Xia dipakai. Kini dikenal dengan sebagai Kalender Imlek.

Upaya penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu sejak tahun 551 SM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun ketimbang Kalender Masehi. Jika sekarang Kalender Masehi bertahunkan 2010, maka Kalender Imlek bertahunkan 2010+551=2561.

Pada saat bersamaan agama Khonghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (Penanggalan Kongzi).

Kebaikan Nabi Kongzi tu, termaktub dalam Kitab Tiong Yong (XXX : 4) /Zhong Yong, “Maka gema namanya meliput seluruh Tiongkok, terberita sampai ke tempat Bangsa Ban/Man, dan Bek/Mo, sampai kemana saja perahu dan kereta dapat mencapainya, tenaga manusia dapat menempuhnya, yang dinaungi langit, yang didukung bumi, yang disinari matahari dan bulan, yang ditimpa salju dan embun, semua makhluk yang berdarah dan bernafas, tiada yang tidak menjunjung dan mencintaiNya.” (www.matakin-indonesia.org)

Keselarasan
Umat Khonghucu menyakini manusia adalah pemberian dari langit. Seperti ditulis Tho Thi Anh (1984) Konfucius menyatakan "Apa yang diberikan langit adalah apa yang kita sebut kodrat manusia. Memenuhi hukum dari kodrat manusia yang kita sebut hukum moral. Memalihara hukum moral itulah yang disebut pembudayaan"

Menurut Bagus Takwin (2001) Hukum kodrat manusia dan peraturan moral yang diterapkan pada manusia tidak terpisahkan dari alam semesta. Ibarat hukum yang mengatur pergantian musim dan pengaturan proses alam yang lain manusia harus mengikutinya.

Dengan demikian, manusia merupakan fungsi dari alam. Tentu segala aktivitas dalam keseharianya harus meruju pada alam. Alam adalah baik dan dapat mengatur dirinya sendiri. Bila terjadi kekacauan dapat dipastikan akibat ulah manusia.

Ingat, alam telah menyediakn aturan-aturan bagi bekerjanya alam dan perilaku manusia sebagai bagian dari alam. Jika manusia mengikuti aturan itu, maka tidak akan terjadi kekacauan dan dapat mempertahankan posisinya yang baik di dunia serta terhindar dari segala mara bahaya.

Apalagi, saat meruju pada Dao (Tao) manusia harus mempertahankan keseimbangan dirinya dan alam. Pasalnya, tujuan manusia adalah keharmonisan baik dengan alam maupun dengan sesama manusia.

Kemunculan Tai Ji (Tai Ci) yang terpaut unsur Ying dan Yang akan membuat alam seimbang dan harmonis.

Kiranya, kita harus belajar soal keharomisan alam pada komunitas Penghayat Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan. Masyarakat Cigugur meyakini seluruh alam beserta tanahnya merupakan pinjaman dari Hyang yang harus dikelola sebaik dan seadil mungkin secara bersama. Tentu, warga Sunda Wiwitan ini tak pernah merasakan kesulitan pangan (pakeuklik) yang sangat berarti; Banjir yang terus menghadang.

Pasalnya, mereka memegang kuat tradisi leluhurnya (karuhun) melalui "Syariah Sunda Wiwitan" dalam mengelola tanah pinjamannya; Pertama, Menanam 5 pohon, sebelum menebang 1 pohon. Kedua, Tidak bermukin di bagian Hulu (Mata Air). Ketiga, Tidak Bermukim di bantaran Sungai. Keempat, Dilarang menebang pohon di lereng Gunung (daerah Perbukitan). Kelima, Dilarang menebang pohon di hulu Sungai.

Aktivitas keseharian Penghayat ini membuktikan masyarakat lokal sangat menghargai dan menghormati alam, lingkungannya sebagai mitra sejajar kehidupan spiritual dan materi mereka. (Jurnal Perempuan 57)

Semoga tibanya tahun Macan ini dapat meredam kekacauan dunia dengan berangkat dari kebiasaan memelihara kearifan alam. Sebab ajaran Konfucius mengajarkan ke alam supaya bisa menyelaraskan manusia. Selamat Hari Raya Imlek 2561. Gong Xi Fa Cai.

IBN GHIFARIE, Pemerhati Kebebasan Beragama dan Alumnus Studi Agama-agama Universitas Islam Negeri SGD Bandung.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 3/08/2010 11:50:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.