'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Goresan (7)
Wednesday, August 30, 2006
Membongkar Empu Dekonstruksi Menjadi Renyah
published on 5 Juni 2006 | Berita Mahasiswa

Himpunan Mahasiswa Aqidah Filsafat (HIMA AF) dan Himpunan Mahasiswa Tasawuf Psikotrafi (HIMA TaPsi) menggelar Diskusi dan Bedah Buku Deridda karya Muhammad Alfayyadl yang diterbitkan oleh LKiS Jogyakarta. Dengan tajuk “Dekontruksi, Realitas, Tubuh, Sejarah” di DPR (Di Bawah Pohon Rindang), senin (05/06). Hadir dalam acara tersebut tiga nara sumber; Muhammad Alfayyadl (penulis Muda Yogyakarta), Bambang Q Anees, M.Ag (Dosen Filsafat UIN BDG), Fahmi M.Hum (Dosen Filsafat UIN BDG) dengan moderator Ibnu Muhardi.

Wacana yang diangkat penulis bermula dari essai yang menguji kembali tentang kebenaran dalam kancah modernitas melalui bahasa. Pasalnya kita sering terjebak pada pengkotak-kotakan ilmu, truth claim, atau trend pada satu tokoh tertentu. Sambil mencontohkan pengaguman sebagian mahasiswa pada Karl Mark, sang maestro kiri atau Che Guevara, tokoh kiri dari Kuba, tanpa pernah mengkritisi pemikiranya, tegas Mahasiswa Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kali Jaga itu.

“Kehadiran buku ini pun merupakan bentuk perlawanan terhadap pikiran-pikiran ruwet Deridda. Karena dianggap empu dekontruksi ini malah bikin tambah pusing orang lain dan mendobrak segala kemapanan lewat metode dekonstruksinya”, tambah Pria yang berkaca mata itu.

Menggapi kesukaran dalam membaca pemikiran Jeques Deridda ini, Fahmi menuturkan “membincang Deridda bagaikan memasuki belantara teks sekaligus sulap lautan teks”, katanya.

Namun, masih menurut Fahmi Deridda memberikan sock therapy dalam menggapi segala permasalahan, Apalagi yang berbau dualisme. “Artinya manusia berada dalam lautan ketidak sadaran, tuturnya.

Bagi BQ, sapaan akrab Bambang Q Anees, memasuki dunia Deridda kita mesti bermula dari keseriusan dan main-main. Tentunya, harus menggargai perbedaan-perbedaan kecil, sambil mengutarakan contoh dari akibat buang sampah sembarangan, ujarnya.

“Akibat mahasiswa tidak pernah mengkritisi pemerintah kota sampah tumpah ruah dimana-mana dan kita cenderung menerima makna, bahkan kita sering terjebak pada ke-benal-an kita yang menyerah pada kebenaran dan beranggapan satu hal hanya untuk satu makna”, kata Dosen Filsafat itu.

Lebih lanjut, Pria asal Banten itu, menambahkan buku ini luar biasa isinya. Terutama menyodorkan menu dekonstruksi yang menyeramkan itu menjadi renyah dan enak dibaca. Apalagi dalam pembahasan Agama tanpa agama, tapi saya tidak akan membahasnya pada kesempatan ini, tegasnya.

Senada dengan BQ, Gunawan Muhammad memberikan komentar dalam kata pengantarnya bahwa ini adalah sumbangan yang amat berharga dalam khazanah penulisan filsafat dalam bahasa kita, tulis mantan pemred Tempo itu.

Suasana bedah buku ini tidak terlalu mendapatkan perhatian lebih dari civitas akademik, kecuali mahasiswa AF dan pencinta Filsafat semata. Apalagi pembahasannya rumit dan belum akrab di telinga kita. Hal ini diungkapkan salah satu pedagang buku “Urang mah teu ngarti nanaon, emang ente nyaho saha ari Deridda teh? mendingan maca majalah Gontor edisi 80 tahun (saya tidak mengerti apa-apa, memang kamu tahu siapa Derida?, mendingan baca majalah Gontor edisi 80 tahun)", ungkapnya.

Paling tidak pentolan Post srtuktural itu memberikan kepada kita tentang cara pandang alternatif dan bergairah, dalam melihat, mengetahui dan memiliki perbedaan itu, sebab dari ketidakpastian (alternatif-red) selalu mendatangkan gairag-gairah baru, Ungkap BQ.

Terlepas dari perseteruan itu, yang jelas ditulisnya buku ini merupakan langkah awal supaya tidak terjebak pada serius kebenaran (truth claim) kata penulis. Secara tegas dalam tulisannya “Dekontruksi sebuah afirmasi akan yang lain. Ia meneguhkan pentingnya perbedaan di tengah dunia yang dibayang-bayangi hasrat akan kebenaran yang `utuh` dan tak `retak`". (Boelldzh.PusInfoKom, Foto ChandzaGufta)

posted by ibn ghifarie @ 8/30/2006 11:24:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.