| Milarian Nyalira Wae |
|
|
| Kokolot Urang |
|
|
| Orhanisasi Baraya |
|
|
| Ormas Alot |
|
|
| Rerencangan |
|
|
| Tempat Nyiar Elmu |
|
|
| Tempat Curhat Abdi |
|
|
| Noong Warta |
|
|
| Ngintip Warta |
|
|
| Kaping Sabaraha Yeuh |
|
|
| Ngintip Baraya |
free web counter
|
| Kampanye |
|
|
|
|
|
| Kitab (8) |
| Tuesday, December 20, 2011 |
Haji dan Kepemimpinan “Dalem Haji” Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada Podium Tribun Jabar edisi 5 oktober 2011)
Membaca tulisan Asep Salahudin tentang Memburu Gelar Haji pada Tribun Jabar edisi 26 Oktober 2011 perlu kita apresiasi dan diskusikan lebih lanjut. Pasalnya, haji tidak bersifat ritual (syariah, ibadah vertikal) semata, tetapi memberikan dimensi sosial (horizontal), mulai dari status sosial, gerakan perubahan sosial sampai legitimasi politik.
Ini dibenarkan oleh Martin van Bruinessen yang menulis Mencari ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji. Ada kesan orang Indonesia lebih mementingkan haji (kuota tetap tahun 2011 berjumlah 211.000 dan ditambah 10.000 kuota tidak tetap) daripada bangsa lain dan penghargaan masyarakat terhadap para haji memang lebih tinggi.
Keadaan ini erat kaitanya dengan budaya tradisional Asia Tenggara. Dalam kosmologi Jawa, (Asia Tenggara) pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fana kita dengan alam supranatural, memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu, tempat ‘angker’ lainnya tidak hanya diziarahi sebagai ibadah saja tetapi dikunjungi untuk mencari ilmu ‘ngelmu’ (kesaktian) dan legitimasi politik. Pasca orang Jawa mulai masuk Islam, Makkah dianggap sebagai pusat kosmis utama.
Kita tidak tahu kapan orang Jawa yang pertama naik haji, tetapi menjelang pertengahan abad ke- 17 raja-raja Jawa mulai mencari legitimasi politik di Makkah. Pada tahun 1630-an, raja Banten dan raja Mataram, yang saling bersaing, mengirim utusan ke Makkah untuk, mencari pengakuan dari sana dan meminta gelar ‘Sultan’. Para raja itu beranggapan ihwal gelar yang diperoleh dari Makkah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka. Sebetulnya, di Makkah tidak ada instansi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain. Para raja Jawa tadi rupanya menganggap Syarif Besar, yang menguasai Haramain (Makkah dan madinah) saja, memiliki wibawa spiritual atas seluruh Dar al-Islam.
Untuk pertama kalinya seorang pangeran Jawa naik haji. Putra Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), Abdul Qahhar, yang belakangan dikenal sebagai Sultan Haji. Fungsi haji sebagai legitimasi politik terlihat jelas sekali dalam Sajarah Banten, Hikayat Hasanuddin, yang dikarang sekitar 1700. Sunan Gunung Jati mengajak anaknya;
“Hai anakku ki mas, marilah kita pergi haji, karena sekarang waktu orang naik haji, dan sebagai pula santri kamu tinggal juga dahulu di sini dan turutlah sebagaimana pekerti anakku!”
Upaya meningkatkan kharisma naik haji secara supranatural ramai dilakukan. Di sebuah gua besar di Pamijahan (Tasikmalaya Selatan), salah satu pusat penyebaran tarekat Syattariyah di pulau Jawa, para juru kunci masih menunjukkan sebuah lorong sempit yang konon dilalui Syaikh Muhyiddin untuk pergi ke Makkah setiap hari Jumat. Di Cibulakan (Pandeglang, Banten) ada sumur yang konon berhubungan dengan sumur Zamzam di Makkah. Menurut riwayat, Maulana Mansur, seorang wali lokal yang dimakamkan di Cikaduwen, pulang dari Makkah melalui Zamzam dan muncul di sumur ini. Sampai sekarang masih ada kyai di Jawa yang fanatik, setiap Jumat secara ghaib pergi sembahyang di Masjidil Haram. Semua ini membuktikan betapa kuatnya peranan haji dan hubungan dengan Makkah sebagai legitimasi kekuasaan atau keilmuan seseorang dalam pandangan orang Jawa. (Jurnal Ulumul Qur’an Volume II No 5, 1990:42- 49)
Pesan Haji Padahal haji merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Serangkaian perintah qurban, thowaf, wukuf, sa’i, melempar jumrah pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan, persaudaraan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
John L. Esposito menguraikan hari adalah nafak tilas penolakan Ibrahim atas segala godaan setan untuk mengabaikan perintah Tuhan dengan beberapa kali melempari setan dengan batu, di sini disimbolkan dengan taing batu. Setalah itu, mereka mengorbankan ternak (domba, kambing, sapi, unta) sebagiamana Ibrahim akhirnya diizinkan untuk mengganti anaknya dengan seekor biri-biri jantan. Ini melambangkan para jemaah haji ingin mengorbankan sesuatu yang paling penting bagi mereka.
Aktivitas mengenakan kain putih tanpa jahitan, simbol penyucian diri dari segala kesombongan, keangkuhan; Wukuf di Arafah untuk bertaubat, memohon pengampunanya sekaligus merasakan persatuan dan kesetraan yang mendasari umat islam seluruh dunia yang melampui perbedan-perbedaan ras, ekonomi dan jenis kelamin; Haji wada guna mengulangi ajakan nabi Muhammad kepada perdamain dan keharmonian di kalangan kaum muslim. (John L. Esposito,2004:114-116)
Pentingnya ibadah rukun kelima bagi yang mampu, Ali Syariati mengingtakan kepada kita yang diawali dengan cara luruskan niatnya. Halalkah uang yang kita gunakan untuk membiayai keberangkatan kita? Jiwa mana yang kita bawa? Jiwa yang hendak bertekuk lutut dan mengakui kehinaan di hadapan Tuhan, atukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru sebagai manusia yang gila hormat dan sanjungan? Ataukah sekadar memperpanjang gelar yang kita sandang?
Setibanya di Miqat Makany gerbang ritual ibadah haji dimulai dengan memakai baju ihram, segala perbedaan dan pembedaan ras, bangsa, kelas, subkelas, golongan dan keluarga harus ditanggalkan supaya merasa kan dalam satu kesatuan dan persamaan. Di Miqat ini ada pun ras dan sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan). Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya. Dengan demikian, ibadah haji memberikan kesempatan yang unik bagaimana umat islam seharusnya egaliter, multi etnis, kultural dan mengabdikan kesatuan umat itu untuk pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dan agama sebagaimana terkandung dalam wahyu ilahi. (Mingguan PESAN No 61/Th.II/03/2000)
Kiranya, layak meneladani sosok R.A.A. Wiranata Koesoema Bupati Cianjur (1912-1920) dan Bupati Bandung (periode I 1920-1931 dan 1935-1942) yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Haji atau Kangjeng Wali. Pasalnya, ia pernah pergi haji ke Mekah dan mendapatkan Bintang Istiqlal Kelas Satu dari Raja Hijaz (1924).
Ihwal penamaan Kangjeng Wali adalah Wali Negara Pasundan pada era Negara Pasundan. Sebagai Wali gegeden Republik yang diinginkan rakyat Pasundan sekaligus mengalahkan calon dari pihak Belanda, Lukman Djajadiningrat.
Kepribadiaan yang tulus, pengorbanan tanpa pamrihnya sangat disegani pemerintahan Hindia Belanda, tapi dicintai rakyat Pasundan. Hingga setiap bepergian (datang-pulang) selalu disambut rakyat banyak. Ini terlihat saat pergi dan pulang naik haji. Kepindahan tugas dari Bupati cianjur ke Bandung merupakan bukti nyata kecintaan masyarakat yang enggal berpisah denganya. Sunguh sahdu.
Dengan demikian, dalam menjalani kehidupan sehari-harinya seorang haji akan terus menjadi teladan yang perlu kita tiru, conto di tengah-tengah kegelapan masyarakat, bagaikan sinar kemilau dalam kegelapan–meminjam istilah Ali Syariati.
Syair Nasher Khosrow tantang haji perlu kita renungkan secara bersama supaya dalam menjalani rukun iman kelima ini tidak hanya mementingkan status, berburu gelar, legitimasi politik melainkan guna mendaptkan predikat Mabrur, seperti yang terdapat pada hadits Qudsi “Tidaklah ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga”
Wahai sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!/Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!/Memang engkau telah pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka’bah!/Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kekerasan padang pasir!/Jika engkau berniat hendak melakukan ibadah haji sekali lagi, Buatlah seperti yang telah kuajarkan ini!. Inilah makna terdalam haji untuk kepemimpinan. Selamat datang para hujjah! Semoga.
IBN GHIFARIE, Mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung Program Religious Studies dan peneliti Academia for Religion and Social Studies (ARaSS) Bandung.
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 12/20/2011 02:41:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (7) |
| Friday, November 04, 2011 |
Radikalisme di Internet Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada @Jejaring Pikiran Rakyat 17 Oktober 2011)
Usaha Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan seruan Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj untuk memblokir situs (300 dari 900) yang mengandung konten radikalisme, perlu kita dukung secara bersama-sama guna menciptakan generasi internet sehat.
Apalagi pengguna Internet di Indonesia tahun 2011 (31 Maret) mencapai 39.600.000 (16.1%) dari 245.613.043 dan masuk peringkat keempat (China, India, Jepang, Indonesia) di Asia Top Internet Countries. (Teknojurnal,26/9)
Meskipun demikian, tak ada jaminan dari pemerintah dan keberadaan Undang-Undang Informasi dan Transasksi Elektronik tidak bisa menutup isi laman situs radikal. Ibarat mati satu, tumbuh seribu. Semakin dikekang dan diblokir, semakin tumbuh subur web bermotif jihad, bom bunuh diri ini.
Hal ini mengingat, dunia maya telah menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perilaku, perbuatan sekaligus kebutuhan dasar (gaya) hidup manusia kini. Saking pentingnya dunia maya ini, aksi terorisme, radikalisme dan bom bunuh diri kerap menggunakan teknologi mutakhir lengkap dengan berbagai jejaring soasialnya. Pada kasus bom bunuh diri Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Sepunton Solo, pelaku Pino Damayanto (Ahmad Urip), anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Cirebon sempat browsing  di Warnet Solonet.
Greg Fealy dan Anthony Bubalo mengakui kuatnya pengaruh radikalisme Timur Tengah–dari Ikhwanul Muslimin hingga Al-Qaeda–di Indonesia dari bacaan buku ke publikasi internet. Pentingnya internet sebagai alat untuk tansmisi dan diseminasi ide-ide terutama sangat kuat di kalangan kelompok salafi Indonesia. Lepas dari konservatisme sosial mereka yang khas, justru menggunakan internet karena media itu menawarkan kesempatan untuk menciptakan identitas islam yang generik (de-culturated) dengan melahirkan situs-situs www.salafi.net, www.salafipublications.com. (Greg Fealy dan Anthony Bubalo, 2007:101-104)
Diakui atau tidak, kekuatan internet terletak pada keparadokskan dan kekontradiksinya. Pasalnya, cyberspace merupakan ruang maya yang dibentuk melalui jaringan antarkomputer. Ketika mengembara di dalamnya kita akan menemukan berbagai panorama yang penuh paradoks dan kontrdiksi; kesenangan-ketakutan, kebaikan-keburukan, keaslian-kepalsuan. Paradoks cyberspace memang sama saja dengan paradoks di dalam dunia nyata, tetapi ia bersifat ekstrem, kuat, langsung, intens.
Jeff Zaleski menyajikan sebuah peta pemikiran di balik cyberspace dengan menampikan berbagai gagasan, termasuk paradoknya dari berbagai cyberist, cyberreligionistis, cyberprogrammers. Mereka optimis terhadap realitas baru cyberspace yang dianggap akan dapat menggantikan realitas yang ada dan dapat menjadi semacam agama baru, spiritualitas baru, Tuhan baru. Di samping itu Zaleski menggambarkan bagaimana sikap fatalis mereka dalam menghadapi berbagai sisi buruk dan menakutkan dari dunia baru.
Pada sisi lain, Zeleski menampilkan peta pengguna cyberspace oleh berbagai kelompok real religionist (Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Islam) bagaimana dunia baru ini digunakan sebagai sarana penyebaran ajaran agama, komunikasi antarumat beragama, bahkan sebagai penyalur energi spiritual. Bagaimana cyberspace menjadi sarana yang positif dan efektif bagi realitas keberagamaan di dalam masyarakat global ini.
Mark Slouka, kritikus budaya Amerika sangat sinis terhadap orang di balik teknologi informasi dengan melontarkan kritik pedas terhadap para filsuf dan ideologi yang ada di balik teknologi cyberspace yang menanamkan diri net religionists, orang-orang yang mempunyai obsesi ingin menjadi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya dunia pikiran dapat dimuat (dibuatkan simulasinya) dalam komputer. Juga percaya masa depan manusia tidak berada di RL (Real Life) tetapi dalam berbagai bentuk VR (Virtual Reality). Pun menyakini cyberspace adalah sebuah bentuk lebih tinggi daripada spiritualitas. Mereka melalui teknologi komputer seakan-akan menciptakan semacam gerakan kenabian menurut versi mereka.
Dalam kondisi demikian, sebagimana yang dikatakan oleh Hakim Bey di dalam The Information War, Media (cyberspace) mengambil alih peran agama (pendeta). Dalam tugasnya memberi manusia petunjuk jalan keluar dari tubuh dengan cara mendefinisikan ulang ruh sebagai informasi. Padahal hakikatnya informasi di dalam cyberspace merupakan image yang wujud abstraknya merampas keutamaan prinsip tubuh dan menghentikannya dengan prinsip ekstasi tanpa tubuh. (Yasraf Amir Piliang, 2011:255-266 dan 278)
Akibatnya sains dan teknologi memiliki watak menentang Tuhan sekaligus memendam dendam membara terhadap agama. Perilaku ini yang melahirkan eksistensialisme dan sekulerisme yang menjadi biang kerok bagi memudarnya nilai-nilai spiritual dari diri masyarakat. Parahnya, hubungan keduanya ini menjadikan manusia yang membayangkan dirinya sebagai Tuhan. (Erich Fromm, 1988:187) Menyikapi tingginya aksi peledakan bom di Indonesia sejak tahun 2000-2011 tercatat sebanyak 36 kasus, kiranya upaya jalan tengah yang digagas oleh Zaleski dan Slouka, dengan cara menerima cyberspace sebagai sebuah kemajuan teknologi, tetapi menolak segala kegiatan ideologi di baliknya perlu kita dengungkan bersama-sama.
Caranya dengan menampilkan konten-konten yang mengajak setiap pengunjung untuk mempraktikkan toleransi, dialog antaragama, semangat pluralisme, hidup berdampingan, kerukunan, perdamaian, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan demokrasi sebagai upaya menanggulangi konflik horizontal dan vertikal, seperti yang dilakukan Kantor Berita Common Ground (www.commongroundnews.org) dengan slogan “artikel yang membangun dan mendorong dialog†perlu kita tiru untuk membumihanguskan perilaku para pembajak agama (radikalalisme, terorisme, fundamentalisme dan aksi bom bunuh diri) di bumi pertiwi.
Bila kita semua bisa menghadirkan tulisan yang teduh pada website pribadi (blog), catatan di jejaring sosial, situs komunitas, kejoyokan, portal niscaya tak ada lagi upaya menyebarluaskan benih-benih kebencian berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) di tengah-tengah era teknologi ini. Ini yang diingatkan Sang Buddha, “Kebencian, dendam, kemarahan dan perang tidak akan berakhir jika dibalas dengan cara yang sama. Hal tersebut hanya akan menimbulkan penderitaan bagi semua pihak
Mudah-mudahan keberadaan internet ini tidak dijadikan alat sebagai proses belajar radikalisme, terorisme, aksi bom bunuh diri. Terwujudnya generasi pengguna internet sehat di Indonesia menjadi cita-cita bersama-sama. Semoga. IBN GHIFARIE, Blogger www.sunangunungdjati.com, www.jejaringku.com dan bergiat di Forum Mahasiswa Religious Studies Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 11/04/2011 01:19:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (6) |
| Wednesday, May 18, 2011 |
Waisak dan Keselarasan Alam Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada Podium Tribun Jabar edisi 16 Mei 2011)
Harus diakui, banjir bandang dan tanah longsor yang mendera 5 kecamatan di Garut Selatan; Cikelet, Pameungpeuk, Cisompet, Mekarmukti dan Cibalong dengan menelan korban jiwa 10 orang meninggal, 3 orang hilang, dan 6 orang luka-luka merupakan bukti nyata atas ulah lalim perbuatan manusia.
Pasalnya, sikap serakah dan perilaku jahil yang tertanam dalam sanubari kita membuat alam murka sekaligus unjuk kekuatan. Betapa tidak, tibanya musim penghujan malah menjadi petaka yang tak bisa terelakan. Karena kita seriang alfa mensyukuri segala pemberian (anugrah) dari Tuhan ini. Ironis memang.
Saking prihatin terhadap tragedi banjir bandang dan tanah longsor, Daud Muhammad Komar, keturunan masyarakat adat Kampung Dukuh menuturkan “Apalah artinya kami menjaga dan memelihara kelestarian Gunung Padukuhan, jika hutan di lokasi lainnya tidak dipedulikan bahkan dirambah serta dialihfungsikan, “ tegasnya (Garut News, 10/5)
Rupaya, kearifan lokal untuk menjag, melestarika alam, hutan, lingkungan sekitar yang diwariskan secara turun-temurun tak dipegang. Malahan keberadaan Leuweung Sancang yang terkenal angker dengan mitos Prabu Siliwangi sebagai salah seorang Raja Sunda yang menonjol itu, ternyata tidak mempan untuk dijadikan penangkal pengrusakan, penggindulan, perampasan hutan yang dilakukan masyarakat. Haruskah upaya ngamumule alam di tanah Parahyangan ini hanya lestari pada legenda-legenda semata?
Sejatinya, kehadiran Waisak (2555 BE) yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2011 ini tidak hanya sekedar merayakan Tri Suci Waisak Puja (kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan parinirwana; meninggal dunia), tapi harus memberikan keselarasan, keseimbangan, keharmonisan antara manusia dengan alam supaya lebih arif dan bijaksana?
Berkah Waisak Umat Buddhis menyakini berkah terdalam dari adanya detik-detik Waisak (17 Mei 2011-Pukul 18.08.23 WIB) adalah membersihakn hati, pikiran, menebar sikap welas asih untuk tetap mendorong sekaligus menjaga keselarasan, keharmonisan, kelestarian kehudupan, alam dan manusia.
Menurut Parwati Soepangat, upaya melestarikan ini diperlukanlah; Pertama, Mengikuti hukum universal supaya kehidupanya selaras dan tidak menyimpang dari hukum yang mengatur semesta dan isinya. Yakni melalui jalan; hukum karma (sebab-akibat), hukum paticca samuppada (sebab musabab yang bergantungan), hukum anicca (sementara, tidak kekal, berubah) dan hukum majimma patipada (keseimbangan, jalan tengah, tidak ikut yang ekstrim).
Kedua, Keselarasan dari semua kehidupan (manusia, alam, binatang, makhluk lain). Semuanya harus bersumber pada lima hukum yang mendasari kehidupan sebagaimana yang tertera dalam Dhammasangani; Utu Niyama (hukum tentang energi), Bija Niyama (hukum yang berkaitan dengan botani), Kamma Niyama (hukum tentang sebab akibat), Cita Niyama (hukum tentang bekerjanya pikiran), Dhamma Niyama (hukum tentang segala apa yang tidak diatur keempat Niyama). Dengan membawa keselarasan dalam semesta pada aturan hukum yang berlaku, maka diharapkan segala macam musibah dapat dicegah.
Ketiga, Tidak merusak atau menghamcurkan kehidupan dan bantu kelestarian. Buddha mengajarkan pelestarian sebagaimana termaktum pada Brahmajala Sutta; "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan"; "Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang. Ia tidak melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang, dan kebaikan hatinya kepada semua makhluk"
Keempat, Mengingkatkan tanggungjawab bersama dan kurangi keserakahan. Mari kita renungkan Anguttara Nikaya (1.60) Hujan yang turun di satu daerah pada suatu waktu akan berkurang ketika masyarakat berada di bawah kuasa keinginan yang menyesatkan, keserakahan tanpa alasan dan mengikuti pengertian nilai salah. Cuaca kering menyebakan kelaparan sebagai akibat peningkatan laju kelahiran.
Akibat keserakahan manusi akan kemewahan, kekayaan dan kekuasaan telah menyebabkan berdirinya pabrik, mall yang dapat menimbulkan masalah polusi udara, air, tanah, suara, cuaca yang mempengaruhi flora, pauna dan alam sekitar. Dengan menumbuhkan kesadaran ini dapat membuah lingkungan saling berinteraksi dalm kehidupan dan menimbulkan tanggungjawab bersama pada lingkungan untuk dipelihara, dilestarika. (Parwati Soepangat,2002:85-88)
Keselarasan Alam Pentingnya menjaga keselarasan dengan alam sering dinamai ahimsa, seperti ditulis Dian Maya Safitri dengan merujuk kepada Ian Harris, Professor bidang Kajian Buddha (Buddhist Studies) di Universitas Cumbria dalam buku Ecological Buddhism? (2003) mengemukakan Konsep tentang ahimsa (keharmonisan, tanpa kekerasan, tidak merusak) terhadap dunia tumbuhan sebagai bagian penting dari dhamma (ajaran Buddha) yang akan menentukan jalan menuju nibbana (pembebasan), telah menginspirasi anggota sangha (komunitas Biksu) dan orang awam untuk berbuat baik terhadap alam. (Kompas, 31/12/2010)
Dalam kontek Jawa Barat upaya menciptakan Tanah Sunda sebagai green province dengan agenda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat perlu keterlibatan semua komponen untuk menjaga alam ini. Tanpa menitik beratkan terhadap Pemerintah.
Ingat, para karuhun urang selalu memberikan dongeng-dongeng untuk tetap menjaga keberadaan hutan, alam sekitar supaya dijaga, dipelihara, dilestarikan dan mendapatkan perhatian lebih sekaligus larangan (pamali) untuk tidak merusaknya.
Mari kita tengok dari beberapa cerita-cerita; macan putih Sancang (Garut), Cipatujah (Tasikmalaya) Badak Cihea dan Bojonglarang (Cianjur), Banteng Cikepuh (Sukabumi) dan Lebak Siliwangi (Bandung) supaya menumbuhkan kecintaan kita terhadap alam sekitar.
Kiranya, petuah Buddha Gotama di khotbah terakhir di Hutan Sala milik Suku Malla, di antara Pohon Sala besar di dekat Kusinara perlu kita renungkan sejenak untuk mempengingati Waisak ini. "Ajaranku yang terpenting adalah: Anda harus bisa menaklukkan diri sendiri. Jauhkan keserakahan dan nafsu keinginan. Berjalan di tempat yang benar menjalankan hidup suci. Dengan kejujuran dan kebenaran. Selalu mengingat: Kehidupan dan tubuh ini sangat singkat dan semtara. Bilamana dapat merenungkan sedemikan rupa Anda akan bisa menjaukan keserakahan dan nafsu keinginan, dendam dan amanah. Anda bisa menjauhkan kejahatan." (pasal 4) "Para siswaku: Sewaktu Anda mengetahui diri sendiri telah terangsang oleh keserakahan dan nafsu keinginan. Anda harus berjuang keras untuk mengendalikannya. Anda dapat menjadi majikan bagi diri Anda sendiri. Jangan sampai diperbudak oleh nafsu keinginan" (pasal 6)
Semoga tibanya Dharmasanti 2555 ini dapat menyelamatkan hutan, lingkungan, alam Pasundan dengan berangkat dari kebiasaan memelihara kearifan dan keharmonisan alam. Sebab ajaran Buddha membabarkan pentingnya menjaga kelestarian, keharmonisa alam supaya bisa menyelaraskan manusia sebagai petanda orang dewasa. Selamat Hari Raya Waisak 2555. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha.
IBN GHIFARIE, Mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung Program Religious StudiesLabels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/18/2011 04:44:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (5) |
| Tuesday, May 17, 2011 |
Menebar Perdamaian, Meraih Kebahagiaan Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada Opini Pikiran Rakyat edisi 16 Mei 2011)
Di tengah-tengah melemahnya penegakan hukum, memudarnya falsafah pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa, bernegara dan maraknya gerakan fundamentalisme, radikalisme, terorisme, aksi bom bunuh diri, cuci otak NII (Negara Islam Indonesia) merupakan petanda ketidakberdayaan, kecemasan pribadi maupun kelompok dalam menghadapi segala persoalan keindonesiaan, kebangsaan dan keislaman yang tak kunjung selesai.
Mampukah kehadiran Waisak (2555 BE) yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2011 ini tidak hanya sekedar merayakan Tri Suci Waisak Puja (kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinirwana; meninggal dunia), tapi harus menebar sikap perdamaian, antikekerasan dan meraih kebahagiaan yang terpancar dari sosok Sang Agung Buddha supaya tercerahkan?
Umat Buddhis masih meyakini tentang kebenaran Dhamma dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, lebih bijak, dan tentu lebih berbahagia. Sesuai pesan Buddha Gotama “…berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuan sesuai petunjuk Dhamma demikianlah seharusnya kamu melatih diri.”
Dengan demikian, berkah terdalam dengan adanya peringatan Waisak adalah meraih kebahagiaan dan perdamaian sejati melalui jalan pencerahan pikiran dan pencarian diri sendiri.
Perayaan Waisak di bawah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) bertajuk “Mencari kebahagian dan kedamaian dari dalam diri sendiri” dengan Dharmasanti “Pencerahan pikiran dan mencari diri sendiri”. Ini menunjukkan keseriusan Walubi dalam membangun kebahagiaan dan perdamaian yang tak kunjung mewujud di bumi Nusantara ini.
Diri Sendiri Menurut Prashat, guru meditasi dari Cambridge, Inggris dan pengarang manuskrip filsafat Gods Wisdom (1991), kedamaian dalam diri seorang tidak berhubungan dengan apa yang dimilikinya, tapi pada apa yang hilang atau dapat hilang.
Penderitaan manusia erat kaitannya dengan persepsi tentang peranannya. Misalnya, perubahan-perubahan yang terjadi atas peranan kehilangan jabatan, kegagalan dalam cita-cita, keadaan kaya menjadi miskin, cantik menjadi tua. Pokoknya apa saja yang hilang atau dapat hilang.
Jika seseorang hendak mencari dasar kebahagiaan, ia harus kembali pada dirinya yang tetap, tidak berubah-rubah. Ia menyebutnya “Diri yang Sejati” (The Real I). Pasalnya, hakekat manusia bukanlah yang berubah-berubah, tetapi yang tetap.
Pengalaman identitas ini menjadi dasar sense of security dan secara otomatis memberi keadaan penuh (contentment), kekuatan, kebahagian dan cinta yang akan membawa pada pengalamn keabadian (Tuhan).
Ia mengatakan “Begitu manusia melupakan dirinya yang asal dan jatuh pada identiffikasi pada peranan, munculah berbagai keingina. Keinginan (desire) adalah akar ketidakamanan psikologis. Dari ketidakamanan inilah lahir semua keadaan tak sehat, kecemasan ketakutan, frustrasi, stress mental dan semua karakter buruk manusia. Bila keinginan tak terpenuhi munculah kemarahan, kebencian, depresi, prustrasi, kesedihan, perasaan gagal,salah, buruk, malu. (Jurnal Ulumul Quran, Volume III No 4. Th 1992:102-104)
Bila kita kuat memegang prinsip ini niscaya hidup kita akan bahagia dan damai. Ini yang telah diperaktikan oleh Dalai Lama XIV, pemimpin rohani dan politik Tibet (resmi mundur sejak 10 Maret 2011) dengan mengarahkan hidupnya pada cita-cita bodhisattva; Menurut pandangan agama Buddha, bodhisattva adalah orang yang berada dalam perjalanan menuju kebuddhaan, yang membaktikan seluruh hidupnya pada tugas untuk membebaskan semua makhluk lain dari penderitaan. Cita-cita bodhisattva merupakan usah untuk memperaktikkan belas kasih tak terbatas dengan kebijaksanaan yang tak terbebas. Ia menyakini belas kasih akan menghasilkan gerakan positif menuju perdamaian. (Hagen Berndt, 2006:89-93)
Gautama pernah mengingatkan kepada umatnya, tak pernah ada di dunia ini kebencian dihentikan oleh kebencian, tetapi kebencian hanya bisa sirna dengan cinta dan perjuangan menegakkan kasih sayang.
Kiranya, petuah suci Buddha Gotama di khotbah terakhir di Hutan Sala milik Suku Malla, di antara Pohon Sala besar di dekat Kusinara layak kita renungkan saat detik-detik Waisak (17 Mei 2011-Pukul 18.08.23 WIB) Para siswaku: Seluruh ajaran yang telah kuberikan haruslah selalu diingat, janganlah dilupakan. Ajaranku yang sangat berharga ini untuk direnungkan selama-lamanya. Ajaranku adalah harta mustika yang kekal. Mempraktikkan Dharma (kebenaran sejati) dan Vinaya (disiplin). Anda selamanya berbahagia. Inilah khotbah Hyang Buddha. (pasal 3)
Tercerahkan Untuk mengalami pencerahan bisa sepanjang kalpa, sesingkat satu pemikiran, seperti ditulis YM Bhikshu Tadisa Paramita Mahasthavira. Metode yang cepat adalah ambil semua pikiran-pikiran; kebaikan, keburukan atau perbedaan dan lepaskan mereka semua. Jika kita dapat melakukan ini, kalian akan langsung cerah. Jika dapat mencapai keadaan pikiran di mana tidak ada diri, tidak ada yang lain, tidak ada diskriminasi, tidak ada makhluk hidup, tidak ada Buddha. Maka kita akan menyadari realita sejati dari segala sesuatu. (www.walubi.or.id)
Mari kita membaca sabda-sabda Guru Agung tentang pencerahan; “Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin. Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segala penjuru.” (Dhammapada, 54) dan “Matahari bersinar di waktu siang. Bulan bercahaya di waktu malam. Kesatria gemerlapan dengan seragam perangnya. Brahmana bersinar terang dalam semadhi. Tetapi, sang Buddha (ia yang telah mencapai Pencerahan Sempurna) bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.” (Dhammapada, 387) kebahagiaan; “Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.”(Dhammapada, Sukha Vagga no. 1)
Inilah makna terdalam Waisak dalam menebar perdamaian dan meraih kebahagiaan. Selamat Hari Raya Waisak 2555/2011. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha. Semoga
IBN GHIFARIE, Mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung program Religious Studies dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/17/2011 04:35:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (4) |
| Thursday, March 10, 2011 |
Kehidupan Harmonis Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada Opini Pikiran Rakyat edisi 04 Maret 2011)
Menjamurnya deklarasi damai dan kerukunan antarumat bergama di Jawa Barat (Bandung, Garut, Sukabumi, Cianjur,Tasikmalaya, Cirebon) pascatragedi Cikeusik, Temanggung, Sidoarjo merupakan upaya memerangi perilaku kekerasan atas nama agama.
Setiap ajaran agama mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat kebajikan, kebijaksanaan, kedamaian, saling menghormati, menghargai dan melarang pengikutnya melakukan segala tindakan kejahatan sekaligus tidak dibenarkan dalam merusak tempat ibadah, hingga menghilangkan nyawa orang.
Sejatinya, kehadiran perayaan hari raya Nyepi 1933 Saka yang jatuh pada tanggal 05 Maret 2011 harus menjadi modal utama dalam membangun (kehidupan) keharmonisan dialog antaragama dan membawa pesan kedamaian bagi kerukunan hidup beragama di Bumi Pertiwi yang kian pudar.
Berkah Nyepi Segenap umat Hindu di mana pun berada meyakini keharmonisan dan perdamaian sebagai berkah terpenting dalam perayaan Nyepi. Ingat, perayaan Tahun Baru Saka selalu bertepatan dengan tanggal satu bulan kesepuluh (Eka Sukla Paksa Waisak), sehari setelah Tilem Kasanga (Panca Dasi Krsna Paksa Caitra). Berkat kegigihan Raja Kaniskha dari Dinasti Kushana, suku bangsa Yuehchi, pada 78 atau 79 Masehi peresmian Nyepi akhirnya dimulai dan dilaksanakan secara besar-besaran.
Dalam perjalannanya beberapa tahapan upacara pun harus dilakukan. Pertama, Melasti (pertobatan). Kedua, Tawur Agung (mengembalikan keseimbangan alam, manusia). Ketiga, Brata Penyepian (empat ritual puasa: amati geni/tidak menyalakan api, amati karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari, amati lelungan/tidak bepergian, amati lelanguan/tidak menghibur diri serta tidak boleh memasak dan memakai lampu penerangan). Keempat, Ngembak Geni (melakukan darma santi/ibadah sosial berupa silaturahim kepada sanak kerabat dan tetangga).
Cita-cita agung dari perayaan ini adalah mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan kebenaran (satyan), kesucian (siwam), kedamaian (sundaram) keharmonisan dan keindahan (sundaram).
Kuatnya, usaha untuk menjalankan ajaran Hindu dalam kehidupan sehar-hari, maka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menggelar acara Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1933 (2011) bertajuk “Dengan Melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan yang Harmonis, Damai dan Sejahtera” di di GOR Ahamd Yani, Mabes TNI Cilangkap, 20 Maret 2011.
Perayaan Hari Raya Nyepi merupakan salah satu perwujudan pengalaman ajaran agama sebagai sikap bhakti kehadapan Hyang Widhi Wasa dan memberikan makna bagi eksistensi umat Hindu di tengah-tengah bangsa yang majemuk dengan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui jalur kehidupan beragama.
Semakin merosotnya nilai-nilai moral dan etika di masyarakat, kurangnya rasa setiakawanan dan menurunnya rasa kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi penghambat pembangunan bangsa dalam berbagai bidang dan menghambat upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan.
Hendaknya Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 dijadikan momentum untuk mawas diri, merenungkan dalam suasana hening dharma bhakti yang patut dilaksanakn pada tahun yang silam guna membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis, damai dan sejahtera. (Kerangka Acuan Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 19933 Masyarakat-KORPRI-TNI-POLRI)
Pentingnya hidup, damai, harmonis, toleran dan saling menghargai orang lain termaktub dalam Bhagawadgita, 4:11; Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya nugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)
Kiranya kita harus mendengungkan pesan Mahatma Gandhi saat ditanya apakah menurutnya antikekerasan sungguh-sungguh cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. “Tidak” jawabnya. “Antikekerasan bukanlah cara terbaik, melainkan satu-satunya cara”
Mudah-mudahan segala bentuk kekerasan atas nama apa pun di bumi hanguskan dari nusantara. Inilah makna terdalam Nyepi dalam mewujudkna kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang harmonis, damai dan sejahtera. Selamat Hari Raya Nyepi 1933.
IBN GHIFARIE, Mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung program Religious Studies dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung. Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 3/10/2011 09:50:00 PM  |
|
|
|
| Kitab (3) |
|
Mempelajari Kepemimpinan “Tao” Oleh IBN GHIFARIE (Artikel ini dimuat pada Opini Pikiran Rakyat edisi 02 Februari 2011)
Berdirinya rumah pengaduan kebohongan publik di Maarif Instutute, Jakarta Selatan merupakan keseriusan Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama yang menjadikan tahun 2011 sebagai momentum peperang melawan kebohongan publik pasca digelarnya diskusi dan dengar pendapat publik. Peristiwa itu Pertama, digelar di gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Senin (10/1). Kedua, di Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Jumat (14/1).
Meski 19 kebohongan (8 lama dan 8 baru) yang disuarakan tokoh lintas agama ini mendapatkan respon dari pemerintah SBY dengan digelarnya pertemuan Presiden SBY-Tokoh Lintas Agama di Istana Negara Senin (17/1) tidak menghasilkan kesepakan apa-apa kecuali berkumpul santai semata dan menggelar petemuan lanjutan. (”PR”, 18/1)
Memudarnya tradisi antikritik di bumi persada (pemimpin) ini menunjukan bangsa Indonesia bangga dalam melakukan kehilafan. Seolah-olah tidak marasa bersalah dan malu bila melakukan perbuatan lalim. Alhasil, popularitas SBY pun kian anjlok, seperti dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tanggal 6 Januari 2011. Hasil Survei terakhir pada 18-30 Desesember 2010 dan menggunakan sampel sekira 1.229 responden melalui wawancara tatap muka menunjukan penurunan yang paling buruk. (www.lsi.or.id)
Kuatnya gerakan moral tokoh lintasa agama untuk tetap menyuarakan nurani masyarakat bawah (grass roots) memberikan inspirasi positif terhadap 100 tokoh pergerakan yang menjadikan tahun 2011 sebagai tahun kebenaran.
Adakah pelajaran yang bisa petik dari pergantian Hari Raya Tahun China (Xin Nian) yang diperingati setiap tanggal 1 Imlek (2562) dengan sio Kelinci unsur logam polar Yin yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 di tengah-tengah kepemimpinan bangsa yang kian tertutup dan antikritik ini?
Penanggalan Kongzi Adalah Kongzi, Khongcu atau Confucius hidup pada jaman Dinasti Zhou (551-479 SM). Kala itu, ia menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan Kalender Xia, sebab tahun barunya jatuh pada musim semi, sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam.
Namun nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han (140-86 sM) pada 104 SM. Semenjak itulah Kalender Xia dipakai. Kini dikenal dengan sebagai Kalender Imlek.
Upaya penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu sejak tahun 551 SM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun ketimbang Kalender Masehi. Jika sekarang Kalender Masehi bertahunkan 2011, maka Kalender Imlek bertahunkan 2011+551=2562.
Pada saat bersamaan agama Khonghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (Penanggalan Kongzi).
Kebaikan Nabi Kongzi tu, termaktub dalam Kitab Tiong Yong (XXX : 4)/Zhong Yong, “Maka gema namanya meliput seluruh Tiongkok, terberita sampai ke tempat Bangsa Ban/Man, dan Bek/Mo, sampai kemana saja perahu dan kereta dapat mencapainya, tenaga manusia dapat menempuhnya, yang dinaungi langit, yang didukung bumi, yang disinari matahari dan bulan, yang ditimpa salju dan embun, semua makhluk yang berdarah dan bernafas, tiada yang tidak menjunjung dan mencintaiNya.” (www.matakin-indonesia.org)
Kepemimpinan “Tao” Umat Khonghucu menyakini manusia adalah pemberian dari langit, maka kekaisaran China sering disebut sebagai putra surgawi. Ia mewakili kekuatan-kekuatan alam yang memerintah dunia.
Dengan demikian, para pemimpin penguasa dan orang-orang bijaksana perlu mempelajari pelaku alam yang memiliki kemampuan pemimpin manusia ke jalan yang terbaik sesuai dengan keselarasan alam (harmoni cosmos).
Seorang yang mempelajari Tao umpamanya berusaha mempelajari perilaku air, salah satu benda alam yang paling banyak menarik perhatian penganut Tao. Seorang pemimpin dapat menarik ibarat dari perilaku air yang selalu bergerak tapi diam-diam yang tampaknya lembek sekaligus memiliki kekuatan yang dahsat; mampu menyesuaikan diri di mana pun tetapi sebenarnya mengalir ke tujuan akhir. Air memberi gambaran dari satu perinsip Tao yang disebut Wu-wei, suatu pengertian yang sulit dimengerti kecuali dengan melihat suatu contoh atau ibarat seperti yang dapat dilihat dari perilaku air.
Wu-wei dalam ajaran Tao adalah sauatu cara yang mengandung kekuatan tapi pengertiannya sulit untuk dijelaskan dan karena itu diterangkan dengan amsal, misalnya bayi yang tak berdaya tapi mempu mendominasi perhatian selurh keluarga. Air yang lembut dan tenang tapi mampu mengikis batu karang atau lebah yang rendah tapi lebih mempu menahan angin dari gununung.
Nabi agama Tao Lao-tze mengakui ihwal ajaran-ajaran yang disampaikan itu sulit dijalankan. Walaupun mudah dimengerti karena secara harfiah mudah dipahami, misalnya dalam ungkapan “Kata-kata saya” kata Lao-tze “Sangat mudah untuk dipahami, tapi tak ada seorang pun yang mempu melaksanakannya. Perbuatan-perbuatan saya bersumber dari Tao”
Mari kita belajar arti kepemimpinan dari Tao Te Ching yang hanya berisikan lebih kurang 5.000 kata-kata bijak pada abad 5 SM ditulis ulang oleh John Heider. Ia mengawali tulisannya “Keberhasilan saya mempergunakan Tao telah membawa saya ke arah aplikasi yang lebih luas, terutama untuk kalangan generasi muda yang begitu tertarik kepada soal peranan kepemipinan dan manajemen sumber daya manusia yang canggih. Adaptasi ini saya percaya akan sangat berharga begi setiap orang yang menginginkan posisi kepemimpinan. Apakah itu di dalam keluarga, kelompok, gereja, sekolah, dalam administrasi bisnis, militer, politik maupun pemerintah”
Baginya, manuskrip itu bisa mempersatukan keterampilan memimpin dengan paham hidup pemimpin yang bersangkutan. Jalan yang ditempuh adalah melalui pekerjaan itu sendiri.
Sebagai metode kepemimpinan Tao menuntun seorang pemimpin mendidik orang lain sesuai dengan hukum-hukum alam. Ini merupakan cara (sikap) hidup bagi pemimpin itu sendiri yaitu tentang bagaimana hidup secara harmonis dengan alam. Apa yang disebut hukum-hukum alam dalam ajaran Tao ini tidak lain adalah tentang bagimana segala peristiwa itu terjadi.
“Manusia mengambil hukum dari bumi” kata Lao-tze “Dan bumi mengambil hukum dari langit dan langit mengambilnya dari Tao dan hukum Tao adalah apa yang terjadi itu”
Bila dibandingkan dengan para ahli fisika yang mempelajari hukum-hukum matematis yang berlaku di alam semesta. Metode Tao hanya mengambil ibarat saja, seolah-olah alam hanya memberi gambaran tentang perilaku yang patut dicontoh oleh manusia. Misalnya seorang pemimpin mengambil amsal dari sebuah danau di lembah;
“Dapatkah anda belajar untuk bersikap terbuka dan reseptif, tenang, seolah-olah memiliki hasrat atau tak ingin berbuat sesuatu? Keterbukaan dan reseptif disebut Yin, seperti wanita (lembah). Bayangkan di lembah itu ada danau. Bila tak ada kekhawatiran dan hasrat yang mengacaukan permukaan danau itu, maka airnya akan membentuk sebuah cermin yang sempurna. Dalam cermin itu, engau akan melihat pantulan Tao. Engkau akan melihat kehadiran Tuhan dan engkau akan melihat penciptaan. Pergilah ke lembah, tenanglah dan perhatikan danau itu. Pergilah sesering yang engkau suka. Kesunyian dalam dirimu akan tumbuh. Danau itu tak akan kering. Lembah, danau dan Tao akan bersemayam dalam dirimu”
Kata-kata di atas hanyalah sebuah adaptasi John Heider terhadap petuah Tao yang mengajarkan bagaimana seorang pemimpin bersikap terbuka. “Celakalah para pemimpin yang tidak memahami ayat-ayat Tao di atas”
Untuk menjadi pemimpin yang bijaksana seseorang harus bisa belajar dari air. Tanpa membeda-bedakan dan tanpa penilaian. Air itu membasuh dan menyegarkan segala sesuatu. Dengan bebasnya dan tanpa rasa takut. Air itu bergerak di bawah permukaan; cair, lentur dan kerena itu responsif; mengikuti hukum dengan rasa bebabas dan merdeka.
Seorang pemimpin itu tanpa mengeluh (soal gaji Presiden yang hampir 7 tahun tidak pernah naik) bekerja dengan siapa pun dan menghadapi masalah apa pun; memberi dan bukan menarik manfaat; berbicara sederhana dan jujur. Ia hanya melakukan intervensi untuk menjelaskan sesuatu dan menciptakan harmoni. Dengan belajar perilaku air, (timing) pemilihan waktu itu penting dalam melakukan sesuatu tindakan. Sebagaimana air seorang pemimpin harus mampu menghasilkan sesuatu. Ia tidak boleh memaksa dan jangan sampai anak buah itu membangkang justru karena didorong.
Bagi orang yang ingin menjadi pemimpin yang bijaksana Tao mengajarkan; Pertama, Belajarlah memimpin dengan mengmbangkan. Kedua, Belajarlah memimpin tanpa niat menguasai orang. Ketiga, Belajarlah memberi tanpa mengambil manfaat. Keempat, Belajarlah memimpin tanpa memaksa. (Jurnal Uluml Qur’an No 3 Vol 1 1989/1410 H)
Konfucius pun mengikuti Dao (Tao) tetapi berbeda dari Lao-tzu, ia menekankan pentingnya kehidupan bermasyarakat. Manusia dalam kenyataannya selalu hidup bersama dengan manusia lain. Alam telah menempatkan manusia dalam sebuah kehidupan sosial. Oleh karena itu, kehidupan bermasyarakat menjadi bagian penting dari hidup manusia. Konfucius menekankan seorang manusia dalam hubungannya dengan manusia lain harus mengikuti tatacara kehidupan yang telah dibangun oleh para orang bijak kuno sesuai dengan tatacara alam (Dao).
Dalam kitab Mengzi (Mengsius) dituliskan petunjuk bagi manusia: “Tinggal di dalam rumah besar dunia ini, mempertahankan posisi yang betul dalam dunia, dan mengikuti Dao yang agung dari dunia ini.” Semua perilaku manusia harus merujuk kepada alam yang telah miliaran tahun menata diri dalam harmoni. Alam pun telah menunjukkan apa itu pemimpin dan bagaimana ia harus berperilaku. (www.bagustakwin.multiply.com)
Kiranya, petuah Rasul Tuntunlah ilmu. Walau sampai ke negeri China layak kita dengungkan. Bagi M Dawam Rahardjo dari China kita bisa memungut hikmah kepemimpinan melalui hikayat Tao Te Ching.
Inilah salah satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kehadiran Imlek.Semoga tibanya tahun Kelinci ini para pemimpin bangsa ini semakin terbuka, arif, bijaksana dalam menghadapi persoalan kebangsaan, keumatan dan keindonesiaan. Selamat Hari Raya Imlek 2562. Gong Xi Fa Cai.
IBN GHIFARIE, Mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung program Religious Studies dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 3/10/2011 09:44:00 PM  |
|
|
|
|
| Pribados |
|

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
|
| Paririmbon |
|
| Jang-Jawokan |
|
|
| Isian Wae Baraya |
|
|
Ngahub Wae |
| Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com, ibnu.ghifarie@gmail.com atanapi ka +6281809409807 |
Kampanye |
|
|
|