| Milarian Nyalira Wae |
|
|
| Kokolot Urang |
|
|
| Orhanisasi Baraya |
|
|
| Ormas Alot |
|
|
| Rerencangan |
|
|
| Tempat Nyiar Elmu |
|
|
| Tempat Curhat Abdi |
|
|
| Noong Warta |
|
|
| Ngintip Warta |
|
|
| Kaping Sabaraha Yeuh |
|
|
| Ngintip Baraya |
free web counter
|
| Kampanye |
|
|
|
|
|
| Mushaf (6) |
| Friday, October 30, 2009 |
Puasa dan Perdamaian Sejati Oleh IBN GHIFARIE
Tak terasa memang. Saat kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini telah memasuki hari keduabelas. Ada juga yang tigabelas, empatbelas atau kelimabelas.
Semua umat islam berusahan menjalankan perintah Tuhan. Tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan penuh ampunan ini.
Adakah pengalaman yang bisa kita petik dari kehadiran shaum ini supaya sikap kecurigaan, kebencian dapat kita tanggalkan sekaligus membangun perilaku kerukunan, toleransi, persatuan, perdamaian antarumat beragama ditengah-tengah aksi terorisme di Indonesia ini?
Menodai Kesucian Ramadhan ‘Menunda’ segala bentuk keinginan adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari shaum ini. Dalam ajaran Islam, puasa disebut jihad akbar. Tentu, nilainya (jika diabndingkan) akan lebih besar dari sekadar perang fisik. Mari kita tengok petuah Rasulullah Saw pascakemenangan perang Badar, Ia menuturkan di hadapan para sahabatnya “Kita baru kembali dari jihad kecil, dan akan menghadapi jihad akbar,” Para sabatpun bertanya, “Apa yang kau maksud jihad akbar itu Ya Rasulullah?” Ia menjawabnya, “Jihad melawan hawa nafsu.”
Menurut Nurcholish Madjid (1994:124) hawa nafsu merupakan bagai kecil dari keinginan-keinginan yang ada pada diri sendiri. Sejatinya, kehadiran ramadhan adalah salah satu tahapan (godokan) dalam menunda sejenak pelbagai keinginan dalam mengarungi kehidupan selama 11 bulan ini. Apa pun bentuknya!
Bila kita kuat memegang amanat suci puasa ini, niscaya tak ada lagi upaya ‘mempercepat kematian’ orang lain (seagama, antaragama) dengan aksi bom bunuh diri. Juga aksi pengrusakan warung dagangan (siang hari), tempat hiburan (siang-malam), penetriban Ajal (anak jalanan) dan Gepeng (Gelandangan dan Pengemis jalanan) di pinggiran Ibu Kota atas nama ‘penodaan’ bulan suci? Ironis memang!
Petuah Rasul tentang aturan shaum supaya tidak mendapatkan predikat sia-siap pun kita langgar, dan hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga “”Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Hadits yang lain, menyebutkan “Berapa banyak orang puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga; dan berapa banyak orang yang mendirikan ibadah di malam hari, hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Nasa’i)
Parahnya lagi, jaminan lipatan pahala puasa sekaligus mendapatkan balas langsung dari Tuhan, malah kita abaikan “Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, “Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku.” (HR. Muslim). Mengerikan memang!
Dengan demikian, shaum tidak hanya diartikan sebagai menahan lapar, haus, dan seks suami istri sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Melainkan amarah sambil berusaha saling memaafkan amarah dan berlomba-lomba dalam kebajikan.
Perdamaian Sejati Mencermati tradisi kebencian yang telah mengakar dibelahan dunia manapun , termasuk Indonesia dengan semarak aksi teroris mengusik Milad Hanna, seorang intelektual Kristen Koptik dan pejuang toleransi Mesir untuk merancang sebuah dunia baru tanpa kebencian.
Hanna menilai, perkembangan dunia sekarang ini lebih didominasi oleh konsep-konsep dan tesis yang berisi semangat mengumbar kebencian kepada yang lain (karahiyatul akhar). Di antara konsep dan tesis itu; “konflik kelas” Karl Marx dan tesis “Clash of Civilization” Samuel P. Huntington (1996). Baginya, teori-teori itu dianggap berperan besar dalam menciptakan semangat kebencian. Karena, baik konsep Marx dan perkembangannya maupun Huntington yang menjadi prediksi futuristik justru telah mendorong terjadinya tatanan dunia yang penuh konflik. Kedua teori itu melecutkan sentimen kolektif manusia agar saling memusuhi satu sama lain.
Melihat kenyataan ini, maka Hanna segera mengajukan sebuah konsep pembanding yang ingin menempatkan kedamaian dan penerimaan bagi “yang lain” di atas segalanya. Tawaran konsep ini disebutnya sebagai qabulul akhar. Dalam konsep ini, Hanna menyerukan untuk menjunjung pluralisme dan menerima keberbedaan atas yang lain. Tawaran konsep ini ditulis Hanna dalam sebuah buku berjudul Qabulul Akhar: Min Ajli Tawashuli Hiwaril Hadlarat (Mesir: al-I’lamiyyah Lin Nasy, 2002) edisi Indonesianya “Menyongsong yang lain, Membela Pluralisme” yang diterjemahkan oleh Guntur Romli (2005) dan diterbitkan oleh JIL (Jaringan Islam Liberal). [Majalah Syir'ah, edisi Juni 2006]
Bagi Sang Buddha “Tidak pernaha di dunia ini kebencian bisa diredakan dengan kebencian. Kebencian hanya bisa diredakan dengan ketidakbencian”. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita harus berjuang menggunakan Dhamma dan ketahanan kesabaran. Inilah inti ajaran Sidarta Gautama.
Kiranya, kita harus berguru kepada Mahatma Gandhi soal puasa perdamaian. Konon, tatkala Mahatma Gandhi hendak mempersatukan umat Islam dan umat Hindu di India yang saling bermusuhan melanda Kalkuta, Ia berpuasa sampai kedua umat beragama itu menyatakan perdamaian. Sejak 13 Januari 1948, Ia memulai menjalankan puasa untuk perdamaian New Delhi.
Tak hanya itu, Ia juga mengajarkan bahwa semua umat manusia di dunia ini bersaudara. Kendati, dalam perjalanan untuk sembahyang (30 Januari), Nathuram Godse, seorang Hindu Fanatik yang tak setuju seruan damai, berhasil membunuhnya.Inilah pelajaran berharga dari puasa dalam membangun perdamaian sejati. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.
Tulisan ini dimuat pada rubrik "Wacana" Bandung Ekspres, 7 September 2009Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 10/30/2009 04:19:00 AM  |
|
|
|
| Mushaf (5) |
| Thursday, September 03, 2009 |
Kemerdekaan dan Ketidakmandiriaan Dalam Beragama Oleh IBN GHIFARIE
Merdeka, merdeka dan merdeka. Kata inilah yang selalu dilontarkan oleh siapapun di Bumi Pertiwi ini saat menginjak tanggal 17 Agustus. Beragam perayaan pula digelar masyarakat untuk mengekspresikan kemandirian bangsa. Pasalnya, Negara Zamrud Katulistiwa terlepas dari segala bentuk penjajah.
64 Tahun kita memperingati hari Ulang Tahun kebebasan dari Negara Asing tersebut. Benarkan kita telah mandiri sebagai Negara yang berkembang?
Pertanyaan ini layaknya kita ajukan kembali, karena kemeredekaan mensyaratkan keterpisahan dari segala bentuk keterbelengguan suatu bangsa. Termasuk dalam beragama dan berkeyakinan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga Departemenen Pendidikan Nasional, Jakarta: Balai Pustaka, 2003, merdeka memiliki beberapa arti, yaitu bebas; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat atau tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; dan leluasa. Jadi, merdeka tidak hanya berkaitan dengan pembebasan dari penjajahan bangsa, tapi bisa juga berkaitan dengan diri sendiri. Yakni memerdekakan diri dari segala bentuk ”jajahan” atau hal-hal yang membelenggu diri.
Mencoreng Makna Kemerdekaan Ambil contoh perlakuan yang dapat membelengu sekaligus merampas hak warga Negara untuk memiliki keyakinan ini menimpa pelbagai komunitas penghayat atau aliran kebatinan lokal. Komunitas Sunda Wiwitan, Aliran Pangestu atau Perjalanan, Wahidiyah dan Sedulur Sikep konteks Jawa Barat. Seakan-akan pemerintah hanya mengakui keberadaan enam agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hucu) saja. Celakanya, Negara selalu meniding agama atau kepercayaan suku asli Indonesia sebagai agama sempalan (sinkretis) yang harus kembali ke agama Induknya (Hindu dan Budha). Ironis memang.
Padahal, sebaliknya agama lokal (indigenous local religions) justru agama merekalah yang seharusnya disebut sebagai agama asli Nusantara jauh sebelum agama infor datang ke Indonesia, ungkap Siti Musdah Mulya. (2007)
Hak sipil mereka pun tak terpenuhi. Yakni hak untuk mendapatkan identifikasi diri sebagai warga Negara. Inilah yang harus kita perjuangkan hak-hak minoritas ini tambah Musdah. Alasannnya, karena keberagamaan yang sejati mensyaratkan kebebasan untuk memilih keleluasaan manusia terletak pada kebebasannya dan tak ada tanggungjawab serta balasan baik dan buruk. Apalagi tidak ada kebebeasan untuk memilih.
Kemandiriaan Beragama Kemerdekaan manusia adalah hak atas keberagamaan yang sejati. Pemaksaan dan keterpaksaan untuk beragama melahirkan kepasuan dan ketidaksejatian (superfic al atau psedo religiocity). Pemaksaan yang dilakukan oleh orang atau Negara terhadap organisasi atau kelembagaan agama dengan cara tertentu yang tak sesuai dengan pikiran dan hati nuraninya sendiri dapat menimbulkan ketidaklanggengan. Begitupun larangan terhadap orang-orang untuk berpindah agama.
Dengan demikian, kebebasan berpikir untuk memilih agama yang berdasarkan suara hati merupakan modal utama dalam memberikan ruang untuk tumbuh dan berkembangnya aliran kepercayaan sekalipun.
Pasalnya, hati nurani merupakan petunjuk dan keputusan akhir dalam interaksinya dengan akal budi manusia dalam berhadapan dengan dirinya, orang lain, dan Tuhannya. Di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. (Konsili Vatikan II, GS 16); Dalam Perjanjian Baru, Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol 3:23) Di samping taat kepada hukum Allah, manusia juga perlu harmonisasi dalam hati nurani.
Etika Kebuddhaan adalah etika nurani. Melaksanakan Etika Kebuddhaan artinya membangun kebiasaan untuk berhati nurani; Pemujaan Sang Hyang Atma sebagai Batara Hyang Guru dalam agama Hindu adalah pemujaan Guru yang ada dalam diri. Suara Sang Hyang Atma itu tiada lain adalah suara hati nurani. Orang yang gelap hati nuraninya cenderung berbuat yang makin menutup sinar suci Tuhan; Di dalam kitab Su Si agama Kong Hu Cu mengatakan, berbuat sesuai dengan Hati Nurani itulah Tao, sedangkan bimbingan untuk hidup menempuh jalan sesuai hati nurani itulah agama. Manusia yang tidak mengenal hati nuraninya maka ia tidak mengenal Tuhan.
Kiranya, dokumen HAM internasional, konstitusi Indonesia dan sejumlah undang-undang secara tegas menyatakan kemandirian sekaligus bebas memilih untuk beragama merupakan hak asasi manusia yang paling mendasar dan tidak boleh dikurangi sedikitpun (non-derogable). Negara menjamin pemenuhan, perlindungan, kemandirian dan pemajuan kebebasan beragama, baik sebagai hak asasi yang mendasar bagi setiap manusia, maupun sebagai hak sipil bagi setiap warga negara.
Sikap saling menghargai, menghormati dan cinta kasih di antara warga negara yang berbeda agama, kepercayaan merupakan faktor dominan bagi terwujudnya keadilan social–seperti diamanatkan dalam Pancasila, dan terciptanya kerjasama kemanusiaan menuju perdamaian dunia, sebagaimana tercantum dalam cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.
Cita-cita luhur dan ideal inilah yang mendasari para pendiri republik ini (the founding fathers) saat merumuskan dasar negara Pancasila dan UUD 1945, khususnya pasal 29 tentang kebebasan beragama. Spirit ketidakbergantungan dalam bingkai menghargai kebhinekaan agama dan etnis pada bangsa lain hendaknya menjadi acuan dalam membangun peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik.
Tentunya, tak ada alasan lagi kata menunda sekaligus membatasi warganya untuk urusan [pilihan] beragama dan berkeyakinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana dicantumkan oleh para pendiri republik tercinta ini. Inilah makna terdalam dari kemerdekaan dalam beragama dan berkeyakinan. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan BeragamaLabels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 9/03/2009 03:37:00 AM  |
|
|
|
| Mushaf (4) |
| Monday, August 24, 2009 |
Pelaku Bom dan Pendidikan Perdamaian Oleh IBN GHIFARIE
Maraknya aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh anak muda membuat berang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Betapa tidak, pelaku bom bunuh diri Marriott (Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan pada 17 Juli lalu) hanyalah seorang remaja 18 tahun lulusan dari sebuah SMA swasta di Jakarta bernama Dani Dwi Permana.
"Pelaku bom Marriott adalah Dani Dwi Permana berusia 18 tahun yang direkrut di Bogor, Jawa Barat," jelas Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (8/8) silam.
Keseriusan SBY guna memerangi aksi terorisme ini terekan dalam pidato kenegaraan, Jumat (14/8), Ia meminta aparat dan masyarakat untuk melindungi warga dan anak-anak muda dari pikiran yang sesat dan ekstrim yang bisa mengarahkan kepada tindakan terorisme.
"Tentulah aparat keamanan dengan memberikan informasi tentang pelaku terorisme yang bersembunyi di tengah-tengah masyarakat kita," ujarnya.
Kontek Bandung, pelaku teror bom Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang terjadi pada Senin, 19 Agustus 2009, ternyata seorang anak-anak berusia 12 tahun dengan inisial TPG dan masih duduk di kelas 1 SMPN Cineam Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Dari hasil pelacakan terhadap nomer pengirim ternyata sms itu berasal dari Kota Tasikmalaya," ungkap Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Imam Budi Supeno.
Kekesalan TPG yang mendapatkan kiriman pesan undian berhadiah mobil dan uang sebesar Rp 50 juta dari beberapa operator telepon seluler membuatnya marah sekaligus mengirimkan pesan ‘teror bom’ "Dari kekesalan itulah muncul niat untuk memberikan pelajaran kepada si pengirim. TPG lalu mengirim pesan yang isinya 'Bom Meledak Jam 11.00 WIB malam'. Namun, SMS itu dikirim ke nomor SMS Online RSHS yang ada di phonebook handphone-nya," ujarnya.
Kendati tidak ditahan hanya orang tua wajib melapor ke polisi setiap 2 minggu sekali. Imam menuturkan “Bisa jadi ada orang yang menyuruh TPG melakukan terror” paparnya (Bandung Ekspres, 23 Agustus 2009)
Pendidikan Perdamaian Adakah kehadiran bulan Ramadhan menjadi memontum bagi keluarga, masyarakat, pemangku jabatan untuk mendidik anaknya supaya berbuat arif, bijak, toleran, terbuka, damai, dan menghargai perbedaan atas pemahaman yang ada?
Bukan malah sebaliknya, pemerintah hanya menjadikan shaum ini sebagai ladang empuk sensor atas khotbah untuk mengantisipasi aksi terorisme. Mengerikan memang.
Gerah melihat aksi kekerasan yang terjadi di mana-mana dan selalu dijadikan alat untuk mencapai tujuan, Irfan Amalee Direktur Peace Generation Indonesia berjibaku mengampanyekan pendidikan perdamaian. Ia memendam impian, kelak muncul generasi baru yang mampu mewujudkan perdamaian di segala lini.
Kegagalan menampilkan Islam yang toleran menjadi islamphobia ”Selama ini Islam identik dengan teroris. Menurut saya, orang Islam sendiri gagal mengomunikasikan wajah Islam yang lemah lembut dan penuh toleransi,” jelasnya.
Tak adanya modul tentang pendidikan perdamaian memperparah tumbunkembangnya aksi kekerasan, teror sekaligus bum bunuh diri dikalangan remaja Indonesia ini. Inilah pentingnya pembuatan modul.
”Masalah besar yang ada di Indonesia adalah tidak adanya modul (tentang pendidikan perdamaian). Selama ini kami tidak punya panduan khusus. Materi yang kami ajarkan hanya berupa improvisasi dari hasil pengalaman mengikuti pelatihan dan membaca dari buku-buku impor,” ujarnya
Bersama Erick Lincoln, konselor remaja asal AS, Irfan membuat 12 Nilai Dasar Perdamaian, diantaranya; 1) Menerima Diri (Aku Bangga Jadi Diri sendiri), 2) Prasangka (No Curiga, No Prasangka), 3) Keragama Etis/Suku (Beda Kebudayaan Tetep Berteman), 4) Keragaman Agama (Beda Keyakinan Nggak Usah Musuhan), 5) Peran Laki-laki dan Perempuan (Laki-laki Perempuan Sama-sama Manusia), 6) Status Ekonomi (Kaya Nggak, Sombong Miskin Nggak Minder), 7) Kelompok/Gank (Kalau Gentleman, Nggak Usah Ngegang), 8) Memahami Keragaman (Indahnya Perbedaan), 9) Memahami Konflik (Konflik Bikin Kamu Makin Dewasa), 10) Kekerasan (Pake Otak Jangan Maen Otot), 11) Mengakui Kesalahan (Nggak Gengsi Ngaku Salah), 12) Memberi Maaf (Nggak Pelit Meminta Maaf)
”Isinya sederhana, di antaranya bagaimana cara menghadapi konflik, kekerasan dalam bentuk sederhana, sampai kemudian memberi dan meminta maaf,” tuturnya (Kompas, 23 Juli 2009)
Ayat-ayat Antiteror Mari kita berguru pada beberapa kitab suci tentang ayat-ayat antiteror. Bagi kaum Hindu ada doktrin “Maju teruslah engkau, jangan berselisih (tikai) diantara kamu; milikilah pikiran-pikiran yang luhur dan pusatkan pikiranmu pada kerja; ucapkanlah kata-kata manis diantara kamu; Aku jadikan engkau semuanya bersatu dan aku anugrahi engkau pikiran-pikiran mulia” (Weda-Athanwa III, 30: 5)
Kaum Buddhis terdapat Dharma “Di dunia ini kebancian belum berakhir jika dibalas dengan kebancian, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibahas dengan cinta kasih ini adalah hukum yang kekal abadi” (Dhammapada, Yamaka Vagga Bab I: 6)
Penganut Guru Agung Khong Hu Cu ingat petuahnya “Mati hidup adalah firman, kaya mulia adalah pada Tuhan yang Maha Esa. Seorang Junzi selalu bersikap sungguh-sungguh maka tidak hilap. Kepada orang lain bersikaf hormat dan selalu susila. di empat penjuru lautan semuanya saudara. Mengapakah seorang Junzi merana karena tdak mempunyai saudara” (Shisu, dalam Lun Yi Jilid XII, ayat 15 Sub 2)
Mereka yang mempercayai kesucian Mesias, mari menelaah pesan Yesus Kristus (Katolik) “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan itu tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani, 12:14)
Juga yang mengimana perombakan dalam kerajaan Roma (Protestan), “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah dalam Kristus mengampuni kamu” (Efesusi, 4:32)
Untuk umat Muhammad ingat pada khotbahnya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan membari (kasih) kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, permusuhan. Ia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu mengambil pelajaran” (QS An-Nahl [116]: 90)
“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah ialah orang yang sangat banyak memusuhi orang” (HR Muslim)
Bila kita kuat memegang ajaran setiap keagamaan niscaya tak akan ada lagi upaya teror sekaligus ‘mempercepat kematian’ oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak pernah tersentuh oleh risalah yang dibawa para pemuk agama.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama Tulisan ini dimuat pada rubrik "Wacana" Bandung Ekspres, 25 Agustus 2009
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 8/24/2009 10:41:00 PM  |
|
|
|
| Mushaf (3) |
| Wednesday, July 29, 2009 |
Terorisme dan Dialog Antaragama Oleh IBN GHIFARIE
Pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (18/7) lalu genderang perang pun ditabuh oleh pemerintah Indonesia terhadap segala bentuk aksi terorisme.
Dengan tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk keras aksi terorisme "Saya bersumpah demi rakyat Indonesia, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pengeboman berikut otak dan penggeraknya," tegasnya
Dalam jumpa presnya, Ia menjelaskan "Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita...Pemboman dilakukan oleh kaum teroris. Aksi terorisme ini dilakukan oleh jaringan teroris meskipun belum tentu kelompok yang dikenal selama ini," katanya.
Nama Noordin M Top pula dikaitkan menjadi dalang aksi teror bom itu, demikian dikatakan oleh Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Irjen Pol Ansyaad "Dari modus yang dilancarkan, ini jelas terkait dengan Noordin M Top," paparnya kepada ANTARA.
Spirit Yang Terlupakan Apapun alasanya menghancurkan tempat umum tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.
Di tengah-tengah keterpurukan bangsa, masih ada segelintir orang (kelompok) yang tega melakukan perbuatan senonoh atau menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya aksi bom bunuh diri pun menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda (pendapat, pemahaman dan keyakinan).
Apakah kita tidak lelah? Apakah kita tidak ada kepentingan dan kebutuhan lainya yang lebih urgen daripada aksi terror tak berarti itu? Apakah kita memang lebih gandrung terhadap budaya barbar daripada duduk rukun dan bicara (dialog) dari hati ke hati?
Harus kita katakana dengan tegas, tak ada ajaran agama mana pun yang membenarkan perbuatan keji tersebut.
Sangatlah wajar bila Sejumlah tokoh lintas agama menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa teror pemboman dalam acara bertajuk Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Mal Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta Senin (20/7). Mereka menolak jika dikatakan Indonesia adalah pusat terorisme. Yang terjadi adalah sebaliknya, Indonesia adalah korban terorisme.
Kegiatan yang digagas oleh Presiden World Conference on Relation for Peace sekaligus wakil dari Islam Hasyim Muzadi, Mahabiksu Duta Wira dari perwakilan agama Budha, Anak Agung dari perwakilan agama Hindu, Romo Edi Purwanto dari Konferensi Waligereja Indonesia, serta Pendeta Petrus Octavianus dari Persatuan Gereja Indonesia.
Hasyim Muzadi menyatakan, agama bukanlah darah dan teror. Peristiwa pengeboman pada 17 Juli lalu, katanya terjadi karena kesalahan pemahaman ajaran agama yang terjadi pada segelintir orang. "Kesalahan pemahaman itu bercampur berbagai kepentingan yang dipaksakan," paparnya.
Karena adanya penyalahgunaan agama itu, masih menerutnya, jangan membuat orang menafsirkan bahwa agama adalah penyebab terorisme.
Bagi Mahabiksu Duta Wira mengatakan kepiluannya atas peristiwa pengeboman yang kembali terjadi. Ia meminta pihak-pihak yang ingin menunjukan identitas dan aspirasinya untuk jangan menggunakan bom. "Tindakan itu merugikan karmanya sendiri, masyarakat, dan bangsa," tegasnya.
Hal senada juga dilontarkan oleh Romo Edi Purwanto perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia menganggap peristiwa pengeboman adalah tindakan kejahatan yang kejam. "Tidak ada dasar apapun yang membenarkan tindakan ini," katanya. (Tempo, 20/7)
Maraknya aksi terorisme dan bunuh diri ini, perlu ditegaskan, perbuatan tak terpuji itu tidak terkait agama tertentu. Malahan bagi Zuhairi Misrawi, pernah menulis buku Islam Melawan Teroris (2004) mengatakan terorisme sebenarnya terkait realitas keumatan.
Agama buknalah penyebab segala bentuk petaka, tapi ketidaktepatan umat dalam memahami doktrin agama, tidak kontekstual, dan bernuansa kekerasan. Sebab itu, yang perlu mendapat perhatian saksama adalah kualitas pemahaman umat terhadap agama. Bom bunuh diri adalah perbuatan yang harus dihindari karena dilarang agama.
Salah satu ajaran pokok Islam adalah menyebarluaskan sekaligus menegaskan pentingnya perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Ini terlihat dalam sebuah hadis; inti Islam adalah menebar perdamaian dan menyantuni fakir-miskin kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal. (Kompas, 24/7)
Bila kita kuat memegang ajaran setiap keagamaan niscaya tak akan ada lagi upaya 'mempercepat kematian' oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak masuk kategori Islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram Islam Indonesia.
Kunci Perdamaian Sejatinya, kita harus belajar toleransi, dialog antaragama dari pertemuan singkat antara Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi dan Paus Benediktus XVI di Vatikan, November 2007. Kedua tokoh agama itu percaya bahwa dialog adalah amat penting, dan melalui dialog akan lahir sebuah perubahan.
Pasalnya, dialog antar agama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang yang memerdekakan kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati dialog antar iman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain 'ada' (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-'ada'-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi). (Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).
Dengan demikian, dialog antaragama merupakan suatu pelayanan bagi kemanusiaan yang penting, demi tercipta perdamaian dan kemajuan semua pihak.
Konteks Jawa Barat, khususnya Kota Bandung--dipenghujung 2007 ketidakharmonisan antariman itu, menggugah seluruh pemimpin enam agama (Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Khonghucu) dan tujuh belas pemuka aliran keagamaan untuk berembuk sekaligus mendeklarasikan Sancang.
Mari kita menelaah sekaligus mengamalkan pesan suci Deklarasi Sancang yang terangkum dalam butir-butir; Pertama, Kami umat beragama Kota Bandung adalah bagian dari Bangsa Indonesia yang senantiasa menjungjung tinggi kesatuan dan persatuan. Kedua, Kami umat beragama Kota Bandung menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berjuang untuk tegaknya hokum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup demi mencapai kebahagiaan bersama. Keempat, Kami umat beragama Kota Bandung selalu mengembangkan sikap teleransi, tenggang rasa dan saling menghormati. Kemila, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berkerjasama untuk berperan dalam mengatasi masalah-masalah social dan lingkungan.
Perdamaian erat kaitannya dengan perilaku antikekerasan. Kiranya, kita perlu berguru antikekerasan pada Badshah Khan (1890-20 Januari 1988), pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut. Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.
“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini,” ungkapnya. (Eknath Easwaran, 2009)
Inilah peranan penting para pemuka agama dalam membumi hanguskan aksi terorisme sekaligus membangun peradaban dialog antaragama. Terwujudnya masyarakat yang adil, toleran, ramah, rukun, sejahtera, makmur menjadi cita-cita Bandung Agamis. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 29 Juli 2009Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 7/29/2009 05:59:00 AM  |
|
|
|
| Mushaf (2) |
| Thursday, July 23, 2009 |
Isra Miraj dan “Panceg dina Galur” Oleh IBN GHIFARIE
Memasuki bulan rajab, masyarakat Islam (muslim) Sunda acap kali menggelar tradisi rajaban. Bentuknya sangat beragam. Ada yang berziarah; ke makam wali, kuburan orang tua, Syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah; kumpul bersama di mesjid, mushola, rumah sebagai tanda bersyukur; zikir secara bersama di mesjid, pondok Pesantren; shaum selama satu minggu.
Betapa tidak, di daerah Karangtawang Kuningan kehadiran Isra Miraj (27 Rajab) merupakan momentum berkumpul bersama di masjid Nurul Islam. Juga Cirebon, mereka melakukan upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Galibnya, kegiatan itu dihadiri oleh para kerabat dari keturunan --kedua Pangeran tersebut.
Masih di Kota Udang, jamaah Tareqat Syahadatain setiap bulan Rajab selalu mengadakan acara zikir bersama di Masjid Asy-Syahadatain Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan, Cirebon dan di Pondok Bunten Pesantren bisanya diadakan pengajian. Kitab Qissotulmi'roj pun menjadi bacaan Kyai-kyai muda secara bergantian. Penghujung malam penghataman kitab, akan ada banyak Ambeng (hidangan yang disajikan diatas nampan berukuran besar berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya) yang dihidangkan bagi para peserta pengajian.
Adakah pelajar yang bisa kita petik dengan adanya perayaan Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2009 dapat memberikan spirit kebenaran, keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya ajaran karuhun di Tatara Pasundan ini
Semangat Istiqomah Salah satu pengalaman berharga dari Isra Miraj ini adalah keistiqomahan (taat, tunduk, patuh, teguh pendirian, memegang prinsip, aturan, pandangan hidup) Muhammad dalam menyebarluaskan risalah Tuhan dari kejadian “sici semalam”.
Kacian, makian, hujatan, ejekan sekalipun memperolok-olok tak membuat pudar Rasul untuk menceritakan peristiwa maha dahsat itu kepada masyarakat sekitranya. Abu Bakar merupakan orang pertama menyakini, mempercayai kejadian luar biasa tersebut. Hingga mendapatkan gelar As-Shidiq (Orang yang dapat dipercaya).
Parahnya, perjalanan semalam (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke Sidrat Al-Muntaha) itu terjadi pada tahun 621 M--kurang lebih setahun sebelum Hijran ke Madinah saat usia Sang Ummi 50 tahun (10 tahun wahyu pertama). Kala itu, putra Abdullah tengah mengalami duka cita besar akibat meninggalnya 2 orang yang melindungi secara social-politis dan psikologis. Yakni Abu Tholib (Pamannya) dan Siti Khodijah (Istrinya).
Perintah ini tertera dalam surat Al-Isra/17:1 “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda keagungan Kami”
Sejatinya, momentum Isra Mi'raj Nabi Muhammad merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh (istiqomah). Perintah shalat pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Bila kita kuat memegang amanat Isra Miraj niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keyakinan' oleh kelompok tertentu (agama import) terhadap golongan yang kuat memegang teguh tradisi leluhurnya (agama suku). Seolah-oleh mereka tak masuk kategori islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram islam indonesia.
Panceg Dina Galur Keberanian dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan dalam khazanah kesundaan dikenal dengan sebutan panceg dina galur.
Menurut Ajip Rosidi, pandangan hidup Orang Sunda seperti tercermin dalam tradisi lisan dan sastera Sunda paling tidak ada lima, mari kita hilat hasil Penelitian, diantaranya; Pertama, Pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi. Kedua, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat. Ketiga, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan alam. Keempat, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Kelima, Pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.
Untuk mempunyai tujuan hidup yang baik, harus punya guru yang akan menuntunnya ke jalan yang benar. Guru dihormati dalam masyarakat Sunda. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa juga disebut Guru Hyang Tunggal. Lihat saja, naskah Siksa Kandang Karesian dikatakan orang dapat berguru kepada siapa saja. Dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Teladani orang yang berkelakuan baik. Terimalah kritik dengan hati terbuka. Ambil manfaatnya dari teguran dan nasihat orang lain.
Terciptanya kehidupan sejahtera, hati tenang dan tenteram, mendapat kemuliaan, damai, merdeka dan mencapai kesempurnaan di akhirat adalah cita-cita Urang Sunda.
Beragam cara untuk mencapai kebahagian itu diantaranya, masih menurut Ajip Rosidi dengan memegang teguh kepada ajaran-ajaran karuhun, pesan orangtua dan warisan ajaran yang tercantum dalam cerita-cerita pantun, dan yang berbentuk naskah seperti Siksa Kandang Karesian. Ajaran-ajaran itu punya tiga fungsi: Pertama, Sebagai pedoman dalam menjalani hidup; Kedua, Sebagai kontrol sosial terhadap kehendak dan nafsu yang timbul pada diri seseorang dan Ketiga, Sebagai pembentuk suasana dalam masyarakat tempat seseorang lahir, tumbuh dan dibesarkan yang secara tak sadar meresap ke dalam diri semua anggota masyarakat. (Makalah Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda yang diadakan oleh Gema Jabar tanggal 21 Agustus 2006)
Dengan demikain, Isra Mi'raj harus menjadi ajang evaluasi sekaligus tetep mempertahankan ajaran karuhun sebagai khazanal lokal yang tak bisa diganggu gugat.
Kiranya, dua rumusan yang ditulis Jamaludin Wiartakusumah Dosen Desain Itenas dalam Mencermati Ajaran Karuhun, diantaranya; runtut raut sauyunan (hidup rukun bersama) harus modal awal untuk membangun hidup rukun, harmonis antaragama, antarsuku, antarpemahaman. Pun ungkapan satata sariksa (satu aturan bersama-sama memelihara) guna menciptakan kebersamaan hidup yang kian tak beraturan ini. Singkatnya, bukan ajaran karuhun yang harus dipermak, tetapi telaah lebih dalam yang harus dilakukan! (www.mangjamal.multiply.com)
Inilah pelajaran berharga dari Isra Miraj bagi pemegang ajaran karuhun di Parahyangan ini. Semoga menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Islam. Selamat Isra Miraj.
*IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama. Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 15 Juli 2009
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 7/23/2009 08:48:00 AM  |
|
|
|
| Mushaf (1) |
| Monday, July 20, 2009 |
Isra Miraj Bagi Bangsa Oleh IBN GHIFARIE
Pascapilpres (Pemilihan Presiden) periode 2009-2014 yang digelar pada tanggal 8 Juli 2009 membuat sebagian masyarakat 'bingung' dengan perolehan laporan hasil quick count (hitung cepat) yang dilakukan oleh lembaga survei tentang pasangan yang mengungguli pesta demokrasi ini.
Ada yang senyum, manggut, tertawa, tidak percaya, marah, mengamini, hingga menggugat metode hitungan cepat. Betapak tidak, kala suasana pencontrengan berjalan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah melansir quick count di TVOne pada pukul 10.35 WIB, Rabu (9/7). Hasilnya, SBY menang sementara.
Quick count yang baru menghitung 0,30% di kawasan Indonesia Timur itu menampilkan hasil Mega-Prabowo 15,69 persen, SBY-Boeidono 58,65% dan JK-Wiranto 25,66% (www.detik.com)
Kontak saja, ini membuat berang Komisi Pemilihan Umum (KPU) meminta dengan tegas agar stasiun TV yang menanyangkan quick count segera dihentikan. Pasalnya, hasil quick count boleh ditayangkan sekitar pukul 13.00 WIB atau setelah pemungutan suara usai dilaksanakan.
Di tengahketidak percayaan masyarakat terhadap hasil hitungan cepat dan menguatnya mentalitas pemimpin yang tak siap menerima kekalahan membuat citra keislaman Indonesia ini semakin tak ramah, toleran dan inklusif. Mampukah kehadiran peristiwa Isra Miraj (27 Rajab 1430) yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2009 ini dapat membangkitkan semangat sekaligus kemerdekaan bagi bangsa yang kian hari semakin terpuruk ini?
Imani Saja! Percaya atau ingkar. Hanya ada dua pilihan yang tersedia saat Muhammad SAW berniat menceritakan kembali ihwal perjalanan 'suci semalam' (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke sidrat al-muntaha) itu. Masukan dari Umm Hani Hindun, puteri Abu Thalib pun tak digubriskan. Malahan Rasul dengan lantang menyebarluaskan kabar kebenaran kejadian maha dahsat tersebut.
Memang tak masuk akal, bila rihlah bisa dilakukan dalam semalam. Padahal jarak tempuh Mesjid Haram (Mekah) dengan Aqsa (Palestina) sangat jauh. Dapat dipastikan kejadian itu hanya mengada-ngada sekaligus orang gilalah yang telah mempercayai kebenaran cerita itu.
Rupanya, Abu Bakar, sahabat Rasulullah malah mempercayai kisah Muhammad. Gelar ash-shiddiq pun ia peroleh langsung dari Nabi. Pasalnya, tanpa ada kompromi, sikap curiga Abu Bakar mengimani kisah luar biasa tersebut.
Mari menengok jawaban tegas Abu Bakar kala kaum musyrikin mencemoohkannya sambil berkata: Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Padahal kami butuh waktu sampai sebulan agar bisa sampai ke Baitul Maqdis? Lantas, mereka segera menghadap ke Abu Bakar, dan menceritakan akan peristiwa itu: Sahabat kamu (Muhammad) mengklaim telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis! Abu Bakar menjawab: Jika Nabi telah berkata demikian jelas ini merupakan suatu kebenaran. Sungguh saya mempercayainya terhadap berita langit (wahyu) yang datang kepadanya. Semenjak itulah Rasulullah saw menjulukinya dengan Ash-shidiq (orang yang bersifat jujur dan benar). (Ibnu Hisyam).
Mengenai kebenaran kisah semalam itu Quraysh Shihab dalam Membumikan Al-Quran menegaskan, cara paling aman menghadapi Isra Miraj adalah dengan mengimaninya.
Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Juga mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Pun sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.
Sejatinya, kita harus mempercayai terhadap kejadian Isra' dan Mi'raj. Pasalnya, tak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan sekaligus berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.
Kunci Kebangkitan Di tanah air, beragam tradisi dalam mempeingati Isra Miraj. Ada yang berziarah; ke makam wali, kuburan orang tua, syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah; kumpul bersama di mesjid, mushola, rumah sebagai tanda bersyukur; zikir secara bersama di mesjid, pondok Pesantren.
Di akui atau tidak sikap kejujuran, kebenaran dan kepracayaan tak mendarah daging lagi di Bumi Pertiwi ini. Para penguasa apalagi.
Sekedar contoh, mencuatnya laporan quick count jarang terjadinya proses tabayyun (Cross-Check) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan informasi. Al-Quran dengan tegas menjelaskan “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat [49]: 6). Rasul bersabda “Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebenaran sumber berita menjadi modal utama dalam menepis segala bentuk keributan, kekerasan, konflik antarpendukung pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.
Kiranya, pemimpin harus siap menerima kekalahan bagi calon yang tersingkirkan dan tidak arogan kepada yang unggul. Rasul mengajarkan kepada kita untuk tidak berburuk sangka, mencari-cari kesalahan, menggunjing (Ghibah) sesame muslim, tetangga dan lingkungan sekitarnya.
“Janganlah kamu sekalian memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu saling berbantah-bantahan, saling hasud, saling benci dan saling belakang membelakangi.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kesalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya sesuatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)
Dengan memiliki sikap dan perilaku amanah, jujur, dapat dipercaya merupakan kunci kebangkitan bangsa sekaligus kebahagian hidup yang dicita-citakan rakyat Indonesia.
Inilah makna terdalam Isra Miraj bagi bangsa. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarpendukung capres dan cawapres menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.
IBN GHIFARIE, alumnus Studi Agama-agama UIN SGD Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 7/20/2009 09:10:00 PM  |
|
|
|
|
| Pribados |
|

Name: Ibn Ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
|
| Paririmbon |
|
| Jang-Jawokan |
|
|
| Isian Wae Baraya |
|
|
Ngahub Wae |
| Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com, ibnu.ghifarie@gmail.com atanapi ka +6281809409807 |
Kampanye |
|
|
|