'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Nukilan (12)
Thursday, September 14, 2006
Belajar Dari Presiden Gunung Merapi Kenapa Mesti Malu?
oleh Ibn Ghifarie

Di tengah-tengah krisis kepercayaan terhadap pemerintah terutama kepada Presiden RI SBY-JK (Susilo Bambang Yudoyono-M Yusuf Kali). Hal ini terbukti dengan maraknya pelbagai aksi unjuk rasa. Mereka menuntut SBY-JK untuk mundur dari kursi Presiden. Pasalnya, mereka tak bias membuat bangsa kita keluar dari pelbagai multi krisis dimensional.

Malahan para penguasa pasca Mega itu, acapkali menaikan sejumlah kebutuhan rakyat jelas, muli dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), Telpon, Listrik, kebanjiran, gempa, kekeringan sampai kurang pasokan beras. Padahal, beberapa pekal lagi bulan Ramadhan tiba.

Mencermati persolan pelik dan akut ini, tak ada cara lain selain kita mesti banyak belajar dan berguru terhadap Mbah Marijan. Seperti yang ditulis oleh FX Rudi Gunawan dalam buku ‘Mbah Maridjan Sang Presiden Gunung Merapi’ (2006) dan ditulis ulang oleh Ahmad Wasito dalam HU Media Indonesia (4/09). Pasalnya, presiden gunung merapi ini memberikan penyadar terhadap kita betapa kesederhanaan, kejujuran, dan keadilan adalah barang berharga sekaligus sangat langka di negeri ini. Keserakahan, kedengkian, dan kesewenang-wenangan memang telah menjadi kewajaran. Orang saling pukul, saling tikam, saling bunuh. Penguasa menipu, memeras, menindas dan menganiaya rakyatnya. Korupsi merajalela. Rakyat sengsara. Dan orang jujur, sederhana dan adil menjadi sulit dicari.

Meskipun begitu, sosok Mbah Maridjan tetap saja sebagai manusia biasa layaknya. Ia makan, minum dan tidur. Bukan orang sakti maupun paranormal yang mengetahui dunia gaib. Apalagi, kejadian yang akan mendatang. Namun, satu hal yang membuatnya istimewa adalah sifat dan kepribadiannya. Sifat dan kepribadian yang tidak dijumpai pada sembarang orang.

Pendek kata, Maridjan adalah orang jujur. ''Jujur sak jujur-jurure wong,'' kata Sawidjan, salah satu abdi dalem Mbah Maridjan. Dalam bahasa Indonesia berarti manusia paling jujur yang dimungkinkan. Maridjan memang dikenal sebagai sosok yang jujur lugu setia dan penuh tanggung jawab.

Sikapnya yang dipandang ‘kolot’, membuat ia tetap bertahan di Merapi saat gunung itu aktif’ Sebenarnya ini merupakan symbol kejujuran, bakti dan tanggung jawabnya sebagai juru kunci Merapi. Artinya, dengan cara bertahan, sambil melakukan ritual, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memohon keselamatan. Tidak saja bagi warga sekitar Merapi, tapi untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Begitulah Maridjan, sikap dan perilakunya sering dianggap tidak sejalan dengan logika praksis orang sekolahan. Perkataannya yang syarat nilai simbolik menyimpan kearifan dan filosofi penuh makanan, dan terkadang mengejutkan.

Di balik sarung dan kopiah sederhananya tersimpan pusaka bangsa yang telah lama hilang, yaitu kejujuran, kepolosan dan keluguan. Dengan kearifan dan kesederhanaannya, Maridjan bak oase di tengah carut-marutnya bangsa yang dipenuhi orang-orang yang terbelenggu oleh pengejaran kepuasan dan nafsu. Oleh ego dan keserakahan.

Dengan demikian, kita mesti mengambil hikmah dari apa yang telah dikeluarkan oleh letupan gunung merapi. Terlebih lagi, sosok Mbah Marijan yang sering dianggap ‘udih’. Nyatnya menyimpan sejuta sikap dan sifat arif.

Lantas, mengapa kita mesti malu belajar dari presiden Merapi tersebut. Jika, Ia mengajarkan sekaligus memberi contoh terhadap para pejabat untuk tetap memegang teguh amanah yang diembannya. Maka kenapa harus malu bercermin padanya? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kering, 06.09;14.08 wib
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:37:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.