'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



KitaB (10)
Sunday, January 27, 2008
Haruskan Tahlilan Kematian Soeharo Digani; Membagikan Harta Kekayaanya?
Oleh Ibn Ghifarie

Rasanya angkuh bila kita tak memberikan ucapan belasungkawa terhadap keluarga Cendana. Pasalnya, Bapak Pembanguan telah meninggalkan kita semua untuk menghadap Sang Kholik, Minggu (27/01) pukul 13.19 wib.

Semoga amal baik mantan Penguasa Rezim Orbe baru itu di teriman oleh Tuhan dan masyarakat Indonesia memaafkan segala kehilafannya.

Tak pelak, tradisi tahlilan pun menjadi bagian yang tak bisa di ganggu gugat. Masih ingat dalam benak kita, saat Ibu Tien (1996) meninggal kebiasaan membaca yasinan itu menjadi sebuah keharusan. Seakan-akan rasanya tak afdhal bila kita meninggalkan warisan para leluhur tersebut.

Kini, saat The Smiling General berpulang ke pangkuan rahmatullah. Adakah acara melayat mendingan Soeharto diwarnai tahlilan?

Hayu atuh. Kabeh sa UIN jeung Rektor kudu mimpina [Ayo segera. Kalu perlu seluruh Civitas Akademika UIN SGD Bandung dan Rektor, Prof Nanat Fatah Natsi, M.Si harus menjadi pemimpinya], kata Sulthonie, Desen Fakultas Filsafat dan Teologi.

Meninggung kebiasaan Tahlilan yang dianggap oleh kelompok tertentu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Ia menjawabnya ‘Bid’ah teh lamun PERSIS (Persatuan Islam). Da urang mah UIN [Bid’ah itu kalau menurut pemahaman ajaran PERSIS. Kan saya bukan UIN (keislaman non sectarian-red)]

Lain lagi Sulthonie. Lain pula Akhmad Mikail, mahasiswa Sains dan Teknologi menuturkan ‘Ah pami abi mah hente, da tara. Tapi pami di bumina mah sigana nuju rame [Ah bagi saya tidak, soalnya tak pernah. Tapi kalau dirumah (mendiang-red) pasti rame].

Anu jelas mah teu aya contona ti Rasul [Yang jelas tradisi tahlilan itu tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw], jelasnya.

Alangkah baiknya jika biaya tahlilan pak Harto dikasihkan kepada rakyat. Cukup barangkali memberikan makan bagi ratusan juta warga miskin, yang sekarang jarang tersenyum. Atau selama 7 hari keluarga cendana harus mengembalikan aset negara untuk kemaslahatan rakyat, kata Sukron Abdilah, pegiat Studi Budaya dan Pemerhati Budaya Lokal Sunda.

Nah, tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya, alangkah baiknya jika 7 hari masa berkabung atas wafatnya Suharto dijadikan waktu untuk menggenjot program ketahanan pangan. Karena ketika kebutuhan pangan untuk bangsa ini murah-meriah, boleh jadi senyum manis Suharto akan kembali dirasakan rakyatnya. Bukan ketegangan, ketimpangan, kemelaratan, dan kemiskinan yang dirasakan bangsa ini, harapnya.

Menilik kebolehan penggantian tahlilan dengan cara membagikan kekaraan terhadap rakyat atau sekedar membagikan makanan alakadarnya bagi anak-anak jalanan.

Akhmad berkata ‘Satuju..!! Mudah-mudahan abdi kabagean, kumargi kaabus miskin [Sangat setuju sekali. Semoga saya dapat bagian, karena saya masih tergolong miskin], cetusnya.

‘Kan putra putrina pengusaha. Pastina bisa muka lapangan kerja keur masyarakat anu nganggur [kan putra-putri Soeharto itu para pengusaha. Pastinya dapat mmebuka lapangan kerja supaya dapat mengurangi angka pengangguran], tambahnya.

‘Nya atuh sakali-kali tahlil. Ulah ka masyarakat miskin wae. Da urang oge miskin [Ya sesekali ngadain tahlilan. Ga usah ngasih ke masyarakat (perubahan gaya tahlilan; tidak berdoa dan membaca Al-Qur’an, tapi membuka lapangan kerja-red) saja. Kan saya juga termasuk miskin] ungkap Sulthonie

Kendati masih dalam suasana duka dan belom terpikirkan untuk menggelar kebiasaan luhur tersebut. Haruskan Tahlilan kematian Soeharo digani; membagikan harta kekayaanya? Selamat jalan Bapak Pembangunan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Komputer Ngaheng, 29/01/01;01.36 wib

Labels:

posted by ibn ghifarie @ 1/27/2008 04:49:00 PM  
1 Comments:
  • At Thursday, May 14, 2009 4:56:00 AM, Blogger sandhi said…

    Ternyata Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH


    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.


    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

     REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

     CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

     
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.