'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Kitab (20)
Wednesday, July 15, 2009
Apa Arti Kebebasan Beragama Bagi Indonesia
Oleh IBN GHIFARIE

Siapapun yang terpilih menjadi Presiden Indonesia ke-VII; Apakah pasangan Mega-Prabowo (nomor 1), SBY-Boediono (nomor 2) dan JK-Wiranto (nomor 3) tak jadi soal! Asalkan kebebasan bersyerikat, berkumpul, beda pendapat; agama dan keyakinan mendapatkan ‘tempat yang layak’ di bumi pertiwi ini.

Sejatinya, momentum pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) periode 2009-2014 yang jatuh pada tanggal 8 juli 2009 merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Indonesia berbasis keragaman yang kukuh dan ramah. Bukan malah sebaliknya.

Sekali lagi, perbedaan agama, keyakinan, suku, etnis, budaya adalah modal utama membangun negeri yang tak kunjung selesai dari pelbagai krisis.

Ambil contoh, hari kelahiran pancasila (1 juni) tahun 2008 di Monas Jakarta pun menjadi tragedi yang sangat memilukan kemanusian sekaligus keimanan kita.

Betapak tidak, bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKKBB) dengan Front Pembela Islam (FPI) hingga hari ini tak jelas keberadaanya.

Diakui atau tidak kemerdekaan, keadilan, sikap keterbukaan menjadi barang langka di Nuasntara ini. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Padahal negara kita bukan pemerintahan teokratis atau sekuler. Namun, penertiban kepercayaan selalu digalakan. Atas nama meresahkan masyarakat, berbuat onar, menafikan Tuhan, hingga penodaan agama kerap menjadi dalih untuk membumi hanguskan keberadaan mereka.

Mari kita becermin pada funding father Indonesia saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini melalui Pancasilanya. Keperkasaan jargon Bhineka Tunggal Ika pula hanya menjadi selogan di bangku sekolah saja. Mengerikan memang?

Kiranya, jaminan kebebasan berkumpul, berserikan dan beragama sesuai dengan keyakiannya dan hak kemerdekaan pikiran, nurani dan kepercayaan hanya berhenti pada Pasal-pasal (28 ayat 2, 29 ayat 1 dan 2), Undang-undang (No 1/PNPS/1965) dan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 semata.


Salah satu hak dan kebebasan dasar yang diatur ICCPR sekaligus sudah dirativikasi adalah hak atas kebebasan berkeyakinan dan beragama, mencakup kebebasan menganut, menetapkan agama, kepercayaan atas pilihan sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama, di tempat umum maupun tertutup, untuk menjalankan agama, kepercayaan dalam kegiatan ibadah, ketaatan, dan pengajaran. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasan untuk menganut, menetapkan agama, kepercayaan sesuai dengan pilihannya.

Inilah arti penting kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi Indonesia melalui Presiden dan Wakil Presiden mendatang. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga!

IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:

posted by ibn ghifarie @ 7/15/2009 08:37:00 AM  
1 Comments:
  • At Thursday, July 16, 2009 9:18:00 AM, Blogger KINI2603 said…

    Wah kang, ti Garut nya, kok namina sanes Gartina atawa Gartiwa, saurna urang Garut mah keudah nganggo awalan Gar, garment atuh....

    Maaf, mencoba melancarkan bahasa karuhun saya yang sudah sangat lama saya abaikan.

    Saya sangat setuju dengan masalah kebebasan beragama, karena saya sendiri penganut faham tersebut. Saya tidak tahu dan tidak mendalami masalah peraturan dan regulasi lainnya perihal kebebasan beragama, yang saya tahu karena diberi tahu oleh guru ngaji saya adalah kalimat terakhir dari surat Al Kafirun (kalau salah maaf lagi) "...agamaku adalah agamaku dan agamu adalah agamamu...".

    Jadi jelaskan, masalah agama itu masalah Tuhan, biar Tuhan yang menentukan dan memutuskan segalanya. Kecuali kalau sudah bermain fisik, membakar kitab suci, mewajahkan Rasullulah dan lain sebagainya, barulah kita boleh protes atau marah, itupun tidak asal demo apalagi main bacok, pasti, fakta dan terbukti bahwa Islam itu adalah agama yang penuh kasih sayang.

    Salam ti Bandung...

     
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.