'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Suhuf (13)
Sunday, July 08, 2007
Sekali Lagi, Iman Minoritas Tertindas
Oleh Ibn Ghifarie

Sekali lagi, tuduhan 'sesat' terhadap kelompok minor pun terulang kembali. Entah, kesekian kalinya. Yang jelas pasca dikeluarkanya 11 fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kehadiran perbedaan selalu bermakna penyeragaman sekaligus berujung pada penistaan. Perbuatan tak lazim pula menjadi bagian yang tak bisa dipisahka lagi.

Kali ini, peristiwa naas itu terjadi pada kelompok pengajian alif di Blok D Vila Siberi Desa Banjarejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas sekaligus menjerumus kepada kegiatan teroris.


Dari Mushola Ke Soal Qunut dan Yasinan
Semula perseteruan itu berawal dari pemanfaatan mushola yang dialih fungsikan menjadi majelis taklim bernama alif. Tindakan ini terpaksa ditempuh warga sebagai langkah satu-satunya untuk menyelesaikan keributan akut tersebut. Seutas tali di mushola pun menjadi saksi bisu ketidak bebasan menjalankan ibadah. Sholat lima waktu apalagi, mengerikan bukan.

Kebebasan beragama harus dibatasi. Padahal negara menjamin warganya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran dan agama masing-masing.

Suyanto, pemilik tanah bersama sejumlah warga akhirnya memutuskan untuk membatasi penggunaan musala. Warga keberatan dan menentang lantaran tata cara beribadah kelompok ini tidak lazim. Bahkan mereka mencoba mengatur kegiatan musala.

Sejak berdiri tiga tahun silam musala Baitussalam memang sering dimanfaatkan oleh warga komplek dan sekitarnya. Selain ibadah salat warga juga menggunakan musala sebagai tempat pengajian.

Setahun setelah musala berdiri munculah kelompok Alif di bawah pimpinan ustad Agus Yulianto. Mereka menggelar pengajian setiap Ahad. Selama itu kegiatan golongan Alif tak pernah menuai masalah. Belakangan barulah sebagian warga merasa terganggu dengan kegiatan ini. `Kalau shalat tidak pakai doa qunut, Yasinan dan tahlilan apalagi` ungkap Darmaji, warga.

Ketidak hadiran qunut dalam sholat atau tradisi Yasinan dan tahlilan mendorong warga untuk melarang kelompok Alif menjalankan kegiatan di musala Baitussalam. Memagarai tajug pula menjadi jalan pamungkas supaya pengikut alif berhenti memanfaatkan Baitussalam.

Taman Kanak-Kanak Menjadi Pusat Kegiatanya
Di lain pihak, kehawatiran warga tak membuat aliran Alif menyudahi kegiatannya. Mereka berhijrah dari mushola ke sekolah taman kanak-kanak yang letaknya satu blok dari tajug.

Adalah Ustad Agus Yulianto, salah satu dosen Unnes (Universitas Negeri Semarang) menepis tudingan warga tentang ajarannya sesat.

Rasulullah SAW tidak mewariskan banyak aliran tapi hanya satu jalan. "Kami juga tidak pernah melarang warga baik secara lisan atau tulisan mengadakan kegiatan ke-Islaman," kata Agus.
Jamaah kelompok Alif pun tak menerima tuduhan tersebut. Menurut Anto, kelompok ini bukan aliran tapi sebuah tahlim yang diberi nama Alif. "Kami juga salat seperti biasa," ujar Anto. Bahkan, kata Wilis, selama mengaji banyak ilmu yang didapat. (liputan Enam, 07/07)

Tentunya, setelah memindahkan segala kegiatannya, cacian, makian bahkan tudingan miring kepada kelompok Alif mulai tak lagi terdengar.

Mushola Milik Umat Islam.
Kendati demikian, Departemen Agama Kendal pun angkat bicara soal gerakan ganjil tersebut. Kepala Depag Kabupaten Kendal, H Wahid Hasbi, menyatakan, kejadian ini bukan menyangkut aliran sesat tapi hanya salah paham. "Dalam kasus ini kami hanya bertindak sebagai mediator. Tidak memihak ke pihak manapun," kata Wahid.

Tak hanya itu, jalaur musyawarah pula ditempuh dalam menengarai kemelut tersebut. Pertemuan Jumat (22/6) malam lalu Kades Banjarejo, Kusnoto bersama muspika menggelar pertemuan di balai desa dengan mendatangkan perwakilan warga dan pengurus jamaah pengajian Alif.

Saat pertemuan, suasana di luar balai desa tegang. Sebab ratusan warga perumahan dan desa tetangga seperti dari Desa Pasigitan, Klendo, Sakelit, dan Jetin, juga berdatangan. Mereka menggunakan mobil bak terbuka dan ratusan sepeda motor. Berbagai teriakan menghujat pelarangan shalat di mushala itu dilontarkan. Aparat kepolisian dari Polsek Boja dan Polsekta Gunungpati terlihat mengamankan situasi.

Ketika adu pendapat itu, Mbah Yanto sang pemilik tanah, menyatakan dirinya sepakat membuka kembali mushala tersebut. "Tapi tidak boleh ada suatu aliran tertentu yang menguasai mushala. Tempat ibadah ini untuk semua masyarakat," tuturnya

Warga bersorak girang saat Kusnoto mengumumkan hasil pertemuan. Bahwa mushala yang dibangun atas swadaya warga itu dibuka untuk umum, tidak dikuasai oleh kelompok tertentu.
Malam itu juga, sambil mengumandangkan salawat, warga berjalan kaki sekitar 500 meter menuju mushala untuk membongkar pagar bambu yang mengelilingi. Kumandang salawat juga terdengar saat sejumlah warga dan tokoh masyarakat masuk ke mushala.

"Sekarang siapa saja boleh shalat di mushala ini. Anak-anak juga bebas belajar mengaji di sini. Warga juga boleh membaca Surat Yasin dan Tahlil. Ini sesuai hasil pertemuan Jumat (22/6) malam," tutur Suroko, warga RT 4 RW 4 perumahan itu.

Menurut dia, sebelumnya puluhan warga terpaksa menyegel tempat ibadah itu setelah muncul berbagai keluhan dari sejumlah warga yang tidak boleh shalat oleh kelompok jamaah tertentu. Bahkan anak-anak sekitar perumahan itu tidak diperkenankan belajar mengaji. Warga kemudian menyegel mushala dengan cara membuat pagar bambu keliling. (Suara Medeka, 24/06)

Maraknya aksi 'penertiban' keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas terhadap minoritas. Sudah tentu 'mengamini' adagium homo homoni lupus . Siapa yang kuat dia pasti berkuasa.
Terlebih lagi, saat para ulama `bermain mafa` dengan para penguasa. Niscaya keragaman menjadi sesuatu yang mustahil ada. Bahkan perbedaan pendapat menjadi malapetaka yang sangat menakutkan.

Dengan demikian, wajah Islam ramah, toleran, menyapa perbedaan rahmatan lil alamian dan islam li kulli makan wa zaman pun tak menjadi pameo umat islam, malah beralih menjadi bengis, beringas dan menyeramkan.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere 25/06;13.23 dan 07/07;23.36 wib

Labels:

posted by ibn ghifarie @ 7/08/2007 04:10:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.