'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Nukilan (5)
Thursday, September 14, 2006
Motif Dibalik Kata-kata 27 Agustus Dua Tahun Silam
oleh Ibn Ghifarie


Quote:
Originally posted by ansor
kalau kalimat itu keluar dari mulut para ateis...itu wajar! karena mereka tidak meyakini adanya tuhan.
tapi kalau kalimat itu keluar dari sodara kita yang telah ber-ikrar "bawha tiada tuhan selain Allah dan Nabi muhamad rasulullah", ini yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, "APA SIH MAKSUD DARI KALIMAT ITU? DAN APA TUJUANYA KALIMAT ITU DI IKRARAN?

Tak ada niatan untuk meniadakan Tuhan. Apalagi mengusik keyakinan orang (masyarakat luas) dan mencemarkan nama baik Tuhan, hingga menyeru untuk tak beragama. Namun, ungkapan itu terlahir dari sederetan keresahan kami manakala melihat proses Ta'aruf. Paling tidak ada empat hal yang membuat kami mengeluarkan pernyataan; Pertama, Dalam perhelatan akbar itu, laki-laki dan perempuan dipisahkan, bahkan sekedar berkenalan pun rasanya tak diperkenankan. Lantas, apa makna sebenernya dari litaarofu itu? Jika memang seperti itu, maka kita telah dengan tegas menentang Tuhan. Pasalnya, Tuhan menciptakan Manusia; laki-laki, perempuan; Bersuku-suku, Batak, Dayak Asmat Sunda; Berbangsa-bangsa, Indosesia, Mesir, Malayasia, Amerika. Tak lain untuk saling mengenal dan memahami keragaman (Al-Hujurat;13). Artinya, keragaman itu merupakan kedendak Tuhan.

Kedua, Lantunan Takbir (Allah Akbar), yang selalu didengungkan setiap saat, bahkan tak ada jeda pun yang tak luput dari teriakan kata tersebut. Hingga, ungkapan Maha Agung tak memberikan apa-apa pada mahasiswa baru, sampai-sampai ada salah satu pelajar saat bertemu dengan temanya dan sekaligus berujar 'Allah Akbar' mengangkat tangan, sambil bercanda dan terkesan selengean--meminjam istilah kawanku (25/08/04). Tentu saja, ucapan Maha Besar itu, tak memberikan kesan apa-apa. Padahal, kata Tuhan dalam kitabnya 'Bila di bacakan kata-kata mulia, maka bergetarlah sebagai pertanda seorang muslim (Al-Anfal). Kini, malah menjadi gunjingan dan canda-gurau dalam mengisi kepenatan dan rutinitas yang membosankan lagi menjemukan tersebut.

Ketiga, Sesudah Shalat Subuh dan Qiamulail (26/08/04), kebetulan waktu itu menjadi seksi Acara Ta'aruf. Salah seorang generasi muda berkata 'Ka, saya ke hiilang sepatu dan tas saat Shalat tadi. Katanya, kampus kita itu ilmiah dan religius, sesuai dengan tema yang diangkatnya' katanya.

Saat itu, aku tak bisa berkata banyak dan berbuat apa-apa kecuali memberitahukan perihal memilukan tersebut ke keamanan panitia dan satpam, sambil berkata 'Ade juga nanti akan mengetahui lebih jauh dan mendalam, suasana kampus sesungguhnya seperti apa, bisiku.

Keempat, Waktu acara mentoring berlangsung dibeberapa kelompok tertentu terdapat kabar yang mencengangkan bagi kami, bahwa mahasiswa Fakultas Ushuluddin, yang terkesan urakan, selengean, bahkan dianggap tak pernah melakukan Shalat lima waktu (25/08/04). Tentunya, berita itu membuat kami terpukul. Pasalnya, tak semuanya mahasiswa Teologi dan Filsafat lupa pada kewajibannya sebagai abid kepada sang kholifahnya.

Sederetan perilaku inilah, yang membuat kami berani melontarkan pernyataan tersebut. Bukankan maraknya, perbuatan ganjil di sekitar kampus, hal ini berarti menandakan bahwa 'Tuhan telah tiada', bahkan di peti keramatkan. Namun, karena kita sering berangapan bahwa Tuhan itu jauh dan tidak bersama kita. Akhirnya kita berani bahkan rame-rame melakukan perbuatan biadab tersebut. Lantas, di manakah posisi Tuhan sebenarnya? di Kitabkah, di Mesjidkah, di Ushtadz/Kyai dan lain sebagainya. Bukankah Tuhan bernah menyindir kita melalui ungkapan 'Bila engkau bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa aku ini dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi ()'

Perlu diketahui juga, kebiasaan mempertanyakan sekaligus bergunjing tentang keislaman, ketuahan, kealaman itu menjadi bagian yang tak bisa di pisahkan dengan kami bak mata uang saja. Apalagi bagi kami di Fakultas Ushuluddin, wacana tersebut menjadi santapan keseharian kami. Bukankah, suatu adat bisa menjadi hukum? Tentunya, seabreg pertanyaan nyelenah pun bermunculan tak lain guna memperdalam dan mencari kebenaran. Karena hidup hanya mencari 'bayang-banya' Tuhan dan 'menerka' kebenara semata. Sebab kita tak pernah tahu dimana posisi Tuhan bersemayan?

Selain itu, untuk menguji keabsahan ilmu dan metodologinya. Kami berkali-kali diundang oleh pihak Rektorat--tingkat Jurusan (04/10/04), Fakultas (05/10/04), Universitas (Insitut d/h) (06-07/10/04) melalui [i]team[/] verivikasi UIN, di depan para petinggi kampus dan seluruh Guru Besar UIN. Kami diuji dan dipertanyakan (13/10/04, bertepatan dengan 2 hari awal bulan Ramadhan). Akhirnya, keputusan dari mereka yang tergolong dalam bingkai Senator UIN menerima alasan-alasan dan landasan kami mengeluarkan jargon tersebut. Tak cukup sampai disini, tulisan dan hasil wawancara perwakilan team Ushuluddin dan verivikasi pun dipublikasikan melalui media masa.

Sekali lagi, kami bukan untuk mengoyak. Apalagi ingin menyabik-nyabik keimanan orang lain. Namun, seiring waktu sepenggal asa. Lain saat, lain pula generasi dan kepemimpinannya. Perilaku ganjil yang di alamatkan kepada kami akhirnya disebarluaskan kemasyarakat umum baik melalui media cetak maupun elektronik (cv--dibagikan secara gratis ke setiap mesjid di wilayah Jabar). Kontan saja, menyulut amarah sebagian umat islam. Lantas, pertanyaannya siapa yang salah dan benar--bila ada pengkategorian tersebut. Kami yang berkata atau yang menyebarluaskan perbuatan ganjil tersebut?

Selain itu, semaraknya berita bertajuk 'Seruan Ateis di IAIN SGD Bandung' via media cetak pun kami tak pernah dihubungi pihak H.U Republika (04/10/04) dan FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) atau TIAS (Tim Investigasi Aliran Sesat) sebelumnya. Sekedar untuk di wawancarai dan ditanya mengenai motivasi terlahirnya kata-kata pun tak pernah ada. Jadi, siapa yang patut kita hakim secara berjama'ah? Mari kita serahkan saja 'segala kealfaan kita' pada waktu supaya menjadi mahkamah Agungnya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Stand Bersama (Aqidah-Filsafat dan Studi Agama-Agama) 27/08/04 dan PusInfoKomp 03/09;19.24 wib
posted by ibn ghifarie @ 9/14/2006 06:24:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.