'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (11)
Tuesday, January 12, 2010
Natal dan Kebebasan Beragama
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Opini Tribun Jawa Barat, Sabtu 26 Desember 2009)

Sekali lagi, kekerasan atas nama agama terjadi di Bekasi. Kali ini, menimpa Gereja St Albertus yang berlokasi di Kota Harapan Indah, Medan Satria, Kota Bekasi. Alasan spontanitas karena terprovokasi menjadi pemicu kuat pengrusakan tempat ibadah umat Kristen.

Ironisnya, perlakuan tak terpuji itu dilakukan pasca konvoi peringatan 1 Muharram 1431 H. Sekitar pukul 23.00 wib saat warga Babelan dan Taruma Jaya (wilayah Utara Kabupaten Bekasi) yang berjumlah 600 orang melawati Gereja di kawasan Harapan Indah tanpa komando mereka langsung menghancurkan fasilitas Gereja. Kesuciaan mengawali tahun hijriah pun harus diwarnai dengan aksi kekerasan atas nama agama.

Kendati pihak Polres Metro Bekasi Kota, Kapolres Ajun Komisaris Besar Imam Sugianto menilai serangan terhadap gereja ini adalah spontanitas karena provokasi. "Massa dari Babelan dan Taruma Jaya konvoi usai perayaan 1 Muharram. Saat lewat Harapan Indah ada yang memprovokasi untuk menghancurkan gereja," katanya

"Kita sedang mengejar provokatornya, hingga saat ini sudah 28 saksi yang diperkisa," ujarnya

Apapun alasanya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.

Diakui atau tidak Kabupaten Bekasi paling tinggi langgar kebebasan beragama, demikain dikatakan Gatot Rianto, Sekretaris Jaringan Kerja Pemantauan dan Advokasi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (Jaker PAKB2)

Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat menempati rangking kedua setelah Kabupaten Bekasi dalam pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan di tingkat Kabupaten Kota di Jabar.

Dari data yang dirangkum, terjadi 25 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di wilayah Kabupaten Bekasi dan 24 pelanggaran di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Ingat, Jawa Barat (13 peristiwa) menempati urutan pertama atas segala bentuk pelanggaran kebebasan beragam dan berkeyakinan di Indonesia. Kedua Sumatra Barat (56 peristiwa) dan Jakarta (45 peristiwa). Sebanyak 265 peristiwa itu menghasilkan 376 tindak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, ungkap Hendardi, Ketua Badan Pengurus Setara Institute

Mampukah kehadiran Natal yang selalu diperingati setiap tanggal 25 Desember dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya kebebasan beragama di Indonesia sekalipun bagi komunitas penghayat atau aliran kepercayaan?

Pesan Suci Natal
Momentum Natal merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristen (cinta kasih, damai, keselamatan, kebangkitan) berbasis keimanan yang kukuh. Penyaliban tubuh Yesus di tiang salib pun menjadi petanda peradaban Isa untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Peristiwa maha dahsat itu, mengingatkan kita kepada sosok Isa Al-Masih sebagai Juruselamat dari segala dosa yang telah diperbuat manusia. Pasalnya, keselamatan miliknya. Tengok saja, doktrin Kristen yang tertuang dalam Kisah Para Rasul 4:12 "Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam dia, sebab di bawah kolong langit ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya tidak bisa diselamatkan" dan Yesaya 43:11 "Aku, akulah Tuhan dan tidak ada Juruselamat selain dari padaku"

Mari menelaah doktrin Nasrani yang senantiasa menyerukan "damai di bumi". Bandingkan dengan kata Islam yang berarti damai, selamat. Bila di Kristen terdapat ajaran untuk menjadi penyalur berkat bagi sesama pada pengikut Isa, maka Islam memiliki rahmatan lil'alamin. "Kasihanilah Allah Tuhanmu dengan sebulat-bulat hatimu sepenuh akal budimu dan segenap jiwamu dan kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" dan "Perbuatlah kepada sesamamu apa yang engkau suka sesamamu perbuat kepadamu"

Kebebasan Beragama
Harus diakui kemerdekaan, keadilan, sikap keterbukaan menjadi barang langka di Nuasntara ini. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Padahal negara kita bukan pemerintahan teokratis atau sekuler. Namun, penertiban kepercayaan selalu digalakan. Atas nama meresahkan masyarakat, berbuat onar, menafikan Tuhan, hingga penodaan agama kerap menjadi dalih untuk membumi hanguskan keberadaan mereka.

Kiranya, jaminan kebebasan berkumpul, berserikan dan beragama sesuai dengan keyakiannya dan hak kemerdekaan pikiran, nurani dan kepercayaan hanya berhenti pada Pasal-pasal (28 ayat 2, 29 ayat 1 dan 2), Undang-undang (No 1/PNPS/1965) dan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 semata.

Salah satu hak dan kebebasan dasar yang diatur ICCPR sekaligus sudah dirativikasi adalah hak atas kebebasan berkeyakinan dan beragama, mencakup kebebasan menganut, menetapkan agama, kepercayaan atas pilihan sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama, di tempat umum maupun tertutup, untuk menjalankan agama, kepercayaan dalam kegiatan ibadah, ketaatan, dan pengajaran. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasan untuk menganut, menetapkan agama, kepercayaan sesuai dengan pilihannya.

Alih-alih tak mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang resmi, pengrusakan rumah ibadah menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.Ironis memang.

Dengan demikain, Natal harus menjadi ajang evaluasi kebebasan beragama. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitna dalam wilayah keyakinan. Tak ada budaya balas-membalas sekaligus merusak mesjid yang berada di lingkungan sekitarnya. Pasalnya, Sang Juruselamat mengajarkan kepada kita bila ditampar pipi kananmu, maka berikan pipi kirimu (Matius, 5:39-40).
Inilah yang di inginkan Joahim Wach, Guru Besar Perbandingan Agama dalam mengeja suatu kebenaran.

Memang benar, bahwa untuk mencintai kebenaran orang harus membenci ketidakbenaran. Akan tetapi tidak benar bahwa untuk memuji keyakinan sendiri, seseorang harus membenci dan merendahkan keyakinan orang lain (Joahim Wach, 2000)

Inilah makna terdalam Natala dalam membangun kerukunan antarumat beragama. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga!

IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/12/2010 10:34:00 PM   0 comments
Mushaf (10)
Monday, January 04, 2010
Natal dan Kebangkitan Ki Sunda
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Forum Budaya Kompas Jawa Barat, Sabtu 26 Desember 2009)

Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan.

Menjamurnya pondok pesantren beserta santrinya di Tanah Sunda tak bisa berbuat banyak dalam mempertahankan bahasa ibunya. Tradisi menulis dengan huruf pegon sebagai proses kreatif masyarakat Muslim Sunda (perpaduan budaya Arab-Sunda) tak ada lagi kecuali generasi tua. Tentunya, tak ada pengganti KH Ahmad Sanusi, KH Ahmad Maki bin KH Abdullah Mahfud, Rd Ma'mun Nawawi bin Rd Anwar, dan Abdullah bin Nuh.

Jelas bahasa Sunda bisa mati apabila semua orang Sunda, yang berjumlah 40 juta itu, sudah tak lagi mempergunakannya. Sungguh ironis.

Semangat Natal

Mari kita mencoba belajar dari agama dan pemahaman orang lain. Salah satunya ajaran Kristus, yang merayakan kelahiran Yesus (Natal) setiap tanggal 25 Desember. Ini diharapkan dapat memberikan semangat kebangkitan bagi Ki Sunda kiwari.

Ingat, Sunda bukan milik satu keyakinan dan keberagamaan tertentu meski Ki Sunda pernah jatuh hati pada agama Hindu dan Buddha, tak terlepas dari Kristen. Kiranya, ungkapan Sunda-Islam dan Islam-Sunda sangat berbeda di lapangan. Bersatu dalam keragaman Sunda ini terlihat jelas di Cigugur, Kuningan. Di satu keluarga ada yang Hindu, Buddha, Islam, Kristen, bahkan Wiwitan sekalipun. Kehidupan mereka rukun, damai, toleran, terbuka, dan sangat menghargai perbedaan.

Natal mengingatkan kita kepada sosok Isa Almasih sebagai juru selamat manusia dari segala dosa yang telah diperbuat manusia. Pasalnya, keselamatan miliknya. Tengok saja, doktrin Kristen yang tertuang dalam Kisah Para Rasul 4:12, "Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga, selain di dalam dia sebab di bawah kolong langit ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya tidak bisa diselamatkan" dan Yesaya 43:11, "Aku, akulah Tuhan dan tidak ada juru selamat, selain dari padaku."

Umat Mesias meyakini cinta kasih, damai, keselamatan, dan kebangkitan yang bersemayam dalam diri Yesus. John Stott menuliskan aturan ketaatan keimanan Kristen melalui buku Isu-isu Global Menentang Kepemimpinan Kristiani; Penilaian atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer (1996: 17-20). Pertama, kita tidak boleh memisahkan keselamatan dari kerajaan Allah. Kedua, kita tidak boleh memisahkan Yesus sebagai juru selamat dari Yesus sebagai Tuhan. Ketiga, kita tidak boleh memisahkan iman dari kasih. Keempat, kita tidak boleh memisahkan kebangkitan dari hidup.

Kehadiran sang juru selamat sangat dinantikan. "Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Lukas 2:11)

Bila kita kuat memandang ajaran Isa, segala keberkatan sekaligus kebangkitan semangat hidup akan diraihnya. Inilah dialog Kristus, "Jawab Yesus akulah kebangkitan dan hidup: Barangsiapa percaya kepadaku ia akan hidup walaupun ia sudah mati." (Yohanes 11:25); "Kata Yesus kepadaku akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku." (Yohanes 14:6)

Upaya membangkitkan kehadiran Isa dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan berbuat baik kepada semua orang. Ini sesuai dengan semangat peringatan Natal 2009 yang digelar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertajuk "Tuhan Itu Baik kepada Semua Orang...." (Mazmur 145:9) Demikian tulis Ketua Umum PGI Pdt Dr AA Yewangoe, Sekretaris Umum PGI Pdt Dr R Daulay, dan Ketua KWI Mgr MD Situmorang OFMCap, dan Sekretaris Jenderal KWI Mgr A Sutrisnaatmaka MSF.

Bangkit Ki Sunda

Menilik keterpurukan Ki Sunda dan kuatnya anggapan di masyarakat, pemakaian bahasa ibu bentuk merendahkan diri sendiri.

Memang kekhawatiran ini dikeluhkan Ajip Rosidi dalam Masa Depan Budaya Daerah, Kasus Bahasa dan Sejarah Sunda (2004: 54-69). Ada 200 naskah dalam huruf Sunda kuno yang sampai sekarang masih tertutup bagi anak cucu pewaris budaya Sunda sendiri; dalam hurup pegon Jawa 2.000 buah; buku yang dicetak dalam Sunda tidak mencapai 1.000 judul. Semuanya tidak milik Sunda.

Parahnya, kita tidak merasa bangga dengan bahasa leluhurnya, tidak penting untuk meneliti dan membuka kekayaan rohani yang tersimpan dalam naskah kuno.

Tradisi membaca buku Sunda sudah hampir punah. Alasannya, jumlah bacaan terbatas. Yang lebih mengerikan, buku Sunda hanya dicetak 1.000-2.000 eksemplar.

Jalan keluarnya, kita harus memiliki prestasi dalam segala bidang. Pada masa Belanda kita mempunyai pengusaha sukses yang memulai dari bawah, seperti RHO Doenaedi (H Oene) dari Tasikmalaya dan seorang "tukang" kacamata legendaris, A Kasoem.

Bagi Edi S Ekadjati di buku Kebangkitan Kembali Orang Sunda: Kasus Paguyuban Pasundan 1913-1918 (2004: 83), ketertinggalan Ki Sunda berawal dari aspek mental dan tingkat pendidikan orang Sunda yang tidak memperlihatkan kreativitas, dinamika, keuletan, keberanian, dan etos kerja yang tinggi. Nilai-nilai itulah yang hendak ditingkatkan, dibangkitkan kembali, atau ditanamkan oleh Paguyuban Pasundan.

Dengan demikian, keselarasan semangat Natal dalam membangkitkan Ki Sunda juga mewujud dalam setiap pergelaran kelahiran Yesus bagi jemaat Sunda yang selalu menjunjung tinggi khazanah kesundaan, dari bahasa, kesenian, hingga doa berbau Sunda.

Kiranya, tembang Pop Sunda "Urang Sunda" harus kita teriakkan: Gancang geura hudang buka ceuli buka mata Geura tembongkeun urang sunda oge bisa Tembongkeun urang ge bisa mela nagara Tembongkeun urang ge bisa jadi pamimpin Urang ge bisa nangtung ajeg jeung kawasa Lain saukur bisa unggut jeung kumawula

Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010. Tuhan Memberkati. Semoga.

IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 1/04/2010 04:01:00 AM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.