'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'-'Sampurasun Baraya Ibn Ghifarie Area Alakadarisme'

.:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:.

Mencoba Mengumpulkan Yang Terserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer

 
Wilujeung Sumping Di Blog Alakadarna. Mangga Baraya Tiasa Nyerat, Nafsirkeun, Ngomentaran Dugikeun Milarian Jati Diri Sewang-Sewangan.
Bubuka Sajak Babaledogan Coretan Forum Sawala
Milarian Nyalira Wae

Kokolot Urang
Orhanisasi Baraya
Ormas Alot
Rerencangan
Tempat Nyiar Elmu
Tempat Curhat Abdi
Noong Warta
Ngintip Warta
Kaping Sabaraha Yeuh
Ngintip Baraya
free web counter
free web counter
Kampanye



KabarIndonesia



Mushaf (19)
Monday, May 31, 2010
Toleransi dari Vipassana Graha
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Forum Kompas Jawa Barat edisi Kamis 27 Mei 2010)

Bertenggernya Pilar Asoka di Vipassana Graha, Jalan Kolonel Masturi Nomor 69, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, merupakan bukti nyata penjabaran ajaran Buddha aliran Theravada atas toleransi yang mulai memudar di Tanah Pasundan ini.

Harus diakui, Pusat Meditasi Buddhis di bawah Yayasan Bandung Sucino Indonesia ini menjunjung tinggi perbedaan, keterbukaan, kemerdekaan, keadilan, dan kesejahteraan sebagai berkah terdalam Waisak 2554 BE/2010 yang jatuh pada 28 Mei 2010.

Adakah pelajaran toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang bisa kita petik dari kompleks Vipassana Graha ini?

Pilar Asoka

Vipassana Graha berdiri kokoh di Desa Suka Jaya, Lembang, Bandung Barat, yang berlatar belakang pemandangan pegunungan dan di sisi kanan tampak jelas Gunung Tangkubanparahu.

Kompleks ini terkenal dengan Candi Maha Pancabala (lima kekuatan): pertama, saddha (keyakinan); kedua, viriya (semangat); ketiga, sati (kemampuan mengingat); keempat, samadhi (pemusatan pikiran); dan kelima, panna (kebijaksanaan).

Vipassana Graha berdiri di atas tanah seluas lebih kurang 2 hektar dan memiliki beberapa bangunan penting yang memancarkan sikap keterbukaan, kerukunan, keragaman. Salah satunya, bangunan berbentuk pilar (tugu) yang ditunjukkan untuk mengenang Raja Asoka.

Letak Pilar Asoka tepat di muka sebelah kiri Dhammasala dan sebelah kanan Candi Maha Pancabala. Bila kita melihat secara saksama puncak tugu, akan kita dapatkan empat patung singa, yang di antara punggungnya diletakkan sebuah Roda Dhamma (cakka).

Tentunya, bentuk pilar itu diharapkan menyerupai aslinya sebagai salah satu pilar peninggalan Raja Asoka.

Menurut YM Phra Wongsin Labhiko Mahathera, Ketua Sangha Vipassana Graha, Pilar Asoka merupakan sebuah monumen terpenting di dalam lingkungan Vipassana Graha.

Kejernihan pemikiran dan pandangan seorang Raja Asoka untuk menyejahterakan umat manusia dengan saling mengasihi dan toleransi kehidupan beragama telah berperan serta dalam sejarah perkembangan agama Buddha di dunia, tulisnya dalam setangkai teratai buku Pilar Raja Asoka.

Asoka adalah raja yang selalu meniru segala ajaran sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Pada masanya Buddha menjadi agama resmi negaranya. Ia juga kaisar terbesar dalam sejarah umat manusia karena menulis “buku” di atas batu-batu sehingga pesan-pesannya dapat diingat manusia sepanjang zaman.

Secara keseluruhan prasasti-prasasti dalam bentuk batu berjumlah 14 buah, pilar 7, dan sejumlah batu kecil yang tersebar diseluruh India, sampai ke Afganistan.

Dengan mencontoh pandangan Gotama tentang toleransi beragama, Asoka membuat dekrit di batu cadas gunung (hingga kini masih dapat dibaca) yang berbunyi “…Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama orang lain. Sebaliknya agama orang lain hendaknya dihormati atas dasar tertentu. Dengan berbuat demikian, kita membantu agama kita sendiri untuk berkembang di samping menunjang pula agama lain. Dengan berbuat sebaliknya, kita akan merugikan agama kita sendiri di samping merugikan agama orang lain. Oleh karena itu, barangsiapa menghormati agamanya sendiri dengan mencela agama lain semata-mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya dengan berpikir “Bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri”, maka dengan berbuat demikian ia malah akan amat merugikan agamanya sendiri. Hendaknya toleransi dan kerukunan beragamalah yang dianjurkan dengan pengertian bahwa semua orang selain mendengarkan ajaran agamanya sendiri juga bersedia untuk mendengarkan ajaran agama yang dianut orang lain…” (Rock Edict XII).

Prinsip-prinsip inilah yang dipegang kuat di Vipassana Graha. Mari tengok, saat kebaktian (kegiatan rutin). Pagi, pukul 06.00-06.30, meditasi dan pukul 06.30-07.30 kebaktian pagi. Siang, meditasi pribadi secara bebas. Sore, pukul 18.00-19.00, meditasi dan pukul 19.00-20.00 kebaktian malam.

Kegiatan ini dapat diikuti umat Buddha dan umum (non-Buddha dan nonsekte). Semua umat boleh mengikuti acara yang sewaktu-waktu diadakan Vipassana Graha.

Toleransi

Momentum Waisak 2554 BE di Vipassana Graha diperingati seminggu pasca-detik-detik Waisak (28 Mei 2010) di Candi Borobudur. Sejatinya itu harus menjadi modal utama dalam membangun keharmonisan dialog antaragama sekaligus membawa pesan kedamaian bagi kerukunan hidup beragama di Priangan.

Tentunya, itu tidak dimaknai sebagai peringatan Trisuci Waisak atas kelahiran, pencapaian pencerahan spiritual, dan pencapaian parinibbana (mangkat sempurna) Buddha Gotama.

Pasalnya, umat Buddha meyakini toleransi erat kaitannya dengan paham cinta damai (pasifisme) atau cinta kasih. Ini terekam dalam perjalanan tumbuh sekaligus berkembangnya ajaran Buddha yang tidak pernah menumpahkan darah saat membabarkan dhamma.

Uniknya, dhamma Sang Guru Agung ini mengakui adanya kebenaran di luar ajaran Buddha. Alkisah, di titik ujung perjalanannya di kota kecil Kusinar, kala itu Subhadda, petapa pengembara, mendekati Buddha yang sedang menjelang ajal dan bertanya ihwal kebenaran berbagai ajaran agama yang ada saat itu.

Walhasil, Buddha tidak berkata ajarannya yang paling benar, tetapi malah berkata “Cukup, Subhadda, jangan pikirkan apakah mereka semua, atau tidak seorang pun, atau sebagian dari mereka telah menembus kebenaran. Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu. Dengarkan dan perhatikan baik-baik….”

“Dalam ajaran dan disiplin mana pun, Subhadda, di mana tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka tidak akan mungkin ditemukan para petapa yang telah mencapai kesucian pertama (Sotapanna), kesucian kedua (Sakadagami), kesucian ketiga (Anagami), dan kesucian keempat (Arahat). Tetapi, dalam ajaran dan disiplin mana pun di mana terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana dapat ditemukan para petapa yang telah mencapai kesucian pertama, kedua, ketiga, dan keempat” (Mahaparinibbana Sutta).

Rupanya petuah suci Gotama terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di Vipassana Graha seperti yang ditulis Phra Wongsin Labhiko Mahathera dalam menyambut Waisak, “Ketulusan cinta kasih yang ditunjang dengan sila (kemoralan) dan batin yang terlatih dengan baik dan dikembangkan dengan meditasi akan membawa ketenteraman dan kesejukan dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya akan membuahkan perdamaian.”

Dengan demikian, kehadiran Waisak harus dijadikan momentum untuk berbuat damai. Kiranya, kita perlu mengabarkan pentingnya kedamaian yang ada dalam kumpulan sabda Hyang Buddha “Tenang dalam pikiran. Tenang dalam ucapan. Tenang dalam perbuatan. Ia yang mengerti benar telah terbebas damai dan seimbang” (Pasal 12) dan Kemenangan melahirkan kebencian. Yang kalah hidup menderita. Berbahagialah orang yang hidup penuh kedamaian. Tidak terikat pada menang dan kalah” (Pasal 25).

Inilah pelajaran berharga yang bisa diambil dari Vipassana Graha. Selamat Hari Raya Waisak 2554/2010. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha. Semoga.

IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/31/2010 03:19:00 AM   0 comments
Mushaf (18)
Wednesday, May 26, 2010
Waisak dan Kebahagiaan
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Opini Pikiran Rakyat edisi Kamis 27 Mei 2010)

Momentum Waisak 2554 BE merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Buddha Gautama berbasis keimanan yang kukuh.

Sejatinya, kehadiran Waisak 2554 BE pada 28 Mei 2010 esok diharapkan menjadi momentum awal dalam menjaga keharmonisan, keseimbangan, keselarasan antarmanusia sekaligus membangun kehidupan berbangsa yang damai, adil, rukun, makmur, dan bahagia di bumi pertiwi ini.

Umat Buddhis meyakini berkah terdalam dengan adanya peringatan Waisak adalah kebahagiaan sejati melalui jalan kedamaian.

Pemahaman ini terlahir dari cara pandang tujuan hidup Buddha. Pertama, silena bhogasampada (hidup bahagia) memperoleh kekayaan dunia dan dhamma. Kedua, silena sugatim yanti (mati masuk surga) terlahir di alam bahagia. Ketiga, silena nibbutim yanti (tercapainya nibbana).

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Namun, bagaimanakah ukuran hidup bahagia itu menurut Sang Buddha?

Sang Buddha mengatakan, "Bukannya dengan memiliki benda (materi) yang akan memberikan kebahagiaan, tetapi dengan terbebasnya kita dari kemelekatan dan ikatan nafsu keinginanlah yang sesungguhnya memberikan kebahagiaan yang lebih tinggi".

Diceritakan dalam "Vyagghapajja Sutta", seorang suku Koliya Dighajanu menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, ia berkata, "Bhante, kami adalah upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup berkeluarga, mempunyai istri dan anak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante, ajarkanlah suatu ajaran (dhamma) yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dalam kehidupan sekarang dan juga kebahagiaan yang akan datang."

Sang Buddha bersabda, ada empat hal berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi. Pertama, utthanasampada, rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif; mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya, dan mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas. Kedua, arakkhasampada, harus pandai menjaga penghasilan yang diperoleh dengan cara halal sekaligus jerih payah sendiri. Ketiga, kalyanamitta, mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, terpelajar, bermoral, dapat membantunya ke jalan yang benar, dan menjauhkan dari perilaku jahat. Keempat, samajivikata, harus dapat hidup sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sederhana, seimbang dengan penghasilan, tidak boros, tetapi tidak pelit.

Asalkan semuanya berawal dari empat jalan menuju kebahagiaan. Pertama, saddhasampada, harus mempunyai keyakinan terhadap nilai-nilai luhur. Kedua, silasampada, harus melaksanakan latihan kemoralan dengan menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila, ucapan yang tidak benar, dan menghindari makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran dan hilangnya pengendalian diri. Ketiga, cagasampada, murah hati, dermawan, kasih sayang, tolong-menolong, bersahabat, tidak bermusuhan, iri hati, hidup tenang, damai, dan bahagia. Keempat, panna, harus melatih mengembangkan kebijaksanaan yang akan membawa ke arah terhentinya dukkha/nibbana.

Bila kita kuat memegang prinsip ini niscaya hidup kita akan bahagia. Inilah yang diangkat aliran Sangha Theravada Indonesia dalam tema Waisak 2010 bertajuk "Dengan Kedamaian Membangun Kebahagiaan Sejati".

Dengan demikian, tibanya Hari Raya Waisak tak hanya mengingatkan kita kepada tiga peristiwa luar biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta wafat Buddha atau Parinibbana tetapi harus menjadi acuan hidup untuk meraih kebahagiaan sejati.

Sumber kebahagiaan

Ingat, sumber kebahagiaan ada pada diri, ada pada relung-relung hati yang terdalam, dan pada cara pandang kita terhadap dunia. Ini diamini oleh Jalaluddin Rakhmat dalam buku "Meraih Kebahagiaan". Ia menguraikan kebahagiaan dan penderitaan adalah sebuah pilihan. Ya sebuah pilihan. Orang bahagia karena ia memilih bahagia; sebaliknya orang menderita karena ia memilih untuk menderita. Kebahagiaan bukan sesuatu yang datang kepada kita di luar kemampuan kita, kebahagiaan berada dalam wilayah jangkauan kita. (2004;6)

Mari kita membaca sabda-sabda Guru Agung tentang kebahagiaan. Tidak ada api sepanas nafsu. Tidak ada kejahatan yang menyamai kebencian. Tidak ada penderitaan yang menyamai proses kelangsungan hidup. Tidak ada kebahagiaan melebihi kedamaian sejati. (Dhammapada, 202)

Berbahagialah orang yang tidak membalas suatu tindakan yang tak terpuji dengan perilaku tak baik. Inilah inti ajaran Buddha dalam memaknai Waisak. Selamat Hari Raya Waisak 2554/2010. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha. Semoga.***

Penulis, alumnus Studi Agama-agama UIN SGD Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/26/2010 09:25:00 PM   0 comments
Mushaf (17)
Tuesday, May 25, 2010
Kenaikan Yesus dan Fiksi Sunda
Oleh IBN GHIFARIE
(Artikel ini dimuat pada Forum Kompas Jawa Barat edisi Rabu 12 Mei 2010)

Harus diakui, ketidakbiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini membuat minat baca terhadap buku Sunda dikategorikan sangat rendah. Akibatnya, pemahaman kawula muda soal bahasa daerah (Sunda, Cirebonan, dan Melayu Betawi) di Pasundan semakin minim. Mengerikan memang.

Keberadaan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah; Perda No 6/2003 tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah; dan Perda No 7/2008 tentang Penetapan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Kedua di Sekolah hanya sebatas tulisan yang dimuat pada pasal-pasal undang-undang semata.

Tidak adanya pengepopan buku-buku Sunda semakin memperburuk dan memperlemah minat baca masyarakat Pasundan. Soal membaca surat kabar apalagi. Malah budaya menonton melalui media televisi menjadi andalan sehari-hari.

Mari tengok hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Barat 2009. Sebanyak 5,3 juta penduduk Jabar ini memiliki kebiasaan membaca surat kabar. Jumlah itu hanya 15,4 persen dari total penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tercatat 34,6 juta jiwa. Tentu persentase itu tidak banyak berubah dibandingkan dengan kondisi tahun 2004 dengan porsi pembaca koran 15,3 persen.

Parahnya, kehadiran perpustakaan sebagai lumbung ilmu di Jabar ini juga minim. Hanya ada 48 perpustakaan di seluruh kota/ kabupaten di Jabar. Untuk Kota Bandung tercatat 78 perpustakaan tingkat kelurahan di 12 kecamatan dan 3-5 pustakawan yang mengelola satu perpustakaan. Badan Perpustakaan Daerah yang membidani seluruh perpustakaan di bumi Parahyangan ini pun sangat memprihatinkan. Ironis.

Kekhawatiran akan memudarnya bahasa Sunda ini di mata Ajip Rosidi harus menjadi perhatian dan tanggung jawab semua. Beragam inovasi (buku ngepop, mobil baca, taman baca masyarakat, sanggar baca, rumah baca, dan klinik baca) sangat menentukan dalam memikat perhatian generasi muda (Kompas, 25/5/2009, 3/3/2010, dan 27/3/2010).

Mampukah kehadiran Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh pada 13 Mei 2010 tidak hanya merayakan proses perjalanan (kenaikan) Isa menuju surga, tetapi juga dapat memberikan semangat kebangkitan untuk meningkatkan buku dan minat baca di Priangan?

Spirit Kenaikan
Kenaikan Juru Selamat ke taman surga merupakan rangkaian kebangkitannya pada hari Paskah. Peristiwa ini hanya dapat diselami dalam pengalaman Paskah saat Mesias dibangkitkan sekaligus diangkat dari kematian.

Ingat, kejadian agung ini merupakan bukti nyata keimanan yang teguh dan kokoh. Bila Paskah memberikan harapan akan kebangkitan badan dan penebusan dosa, kenaikan Isa memberikan pesan terdalam ihwal perutusan dan anugerah pencurahan Roh Kudus.

Umat Kristiani meyakini prosesi kenaikan sebagai bentuk dimuliakannya Yesus oleh Bapa. Hal ini dimuat dalam Kisah Para Rasul 1:6-11. Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel ?” Jawab-Nya, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi, kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Jerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka dan berkata, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.”

Fiksi Sunda
Salah satu buku yang jarang diterbitkan adalah fiksi bahasa Sunda. Minimnya minat pengarang dan konsumsi masyarakat menjadi penyebab utama tidak diterbitkannya mahakarya. Juga, tak ada anggapan soal cerita Sunda hanya dimiliki segelintir pegiat, misalnya Godi Suwarna.

Menurut Taufik Faturohman, Direktur CV Geger Sunten, dalam lima tahun terakhir jumlah buku fiksi berbahasa Sunda (novel, kumpulan guyonan, dan puisi) yang diterbitkan semakin berkurang, dari 20 buku per tahun menjadi lima buku per tahun.

Kondisi ini diperburuk dengan anggapan pengarang bahwa buku Sunda jarang peminatnya. Ditambah lagi royalti yang didapat minim dan lama. Hal itu membuat perbukuan fiksi semakin tak jelas. Lihat saja, untuk satu buku (fiksi) berbahasa Sunda yang dicetak 2.000 eksemplar, upah yang didapat hanya Rp 1 juta-Rp 2 juta dalam tiga tahun.

Lambannya penjualan menjadi faktor tergerusnya buku Sunda dari bacaan lain. Hal ini diakui Rahmat Hidayat, Direktur Penerbit Kiblat. Adanya penghargaan Rancage tidak mampu meningkatkan penjualan buku-bukunya. Semula Penerbit Kiblat mencetak 3.000 buku untuk cetakan pertama, tetapi kini hanya berani mencetak 1.000 eksemplar. Menurut Rahmat, penjualannya sangat lambat, rata-rata hanya 500 eksemplar per tahun.

Bagi Hawe Setiawan, lambatnya penjualan fiksi Sunda dikarenakan promosi dan distribusi tak memadai. Dari segi isi, fiksi berbahasa Sunda tidak kalah dari fiksi berbahasa Indonesia saat ini. Padahal, membaca buku berbahasa Sunda tidak sulit dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Keterlibatan dan dukungan pemerintah sangat menentukan hidup matinya buku fiksi. Ini tak mendapatkan perhatian dari Dinas Pendidikan Jabar. Terbukti hanya ada 500 buku karya sastra fiksi Sunda (Kompas, 7/1/2008 dan 17/3/1009).

Untung kita masih memiliki Mamat B Sasmita, pegiat buku Sunda dan “kamus berjalan” di tengah-tengah era buku digital (e-book) dan sistem informasi yang serba berbasis teknologi. Kecintaan pada bahasa ibu mendorongnya mendirikan Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana (2004) di Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII Nomor 5, Bandung. Sejak 1980-an hingga sekarang lebih dari 5.000 buku Sunda dikoleksinya. Tentu hampir setengahnya berbahasa Sunda. Namun, ada pula yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda.

Literatur yang ada dan cukup dibanggakan adalah Kamus Inggris-Sunda karya Jonathan Rigg (1862). Soal cerita atau novel, ada Carmad, Sri Panggung, dan Rusiah nu Goreng Patut. Tak ketinggalan buku bacaan anak-anak, seperti Nyaba ka Leuweung Sancang dan Guha Karang Legok Pari.

Pascapensiun sebagai pegawai negeri sipil, hidupnya dihabiskan untuk mengelola rumah baca tersebut (majalah Mata Baca, Mei 2005, dan Kompas, 11/7/2005). Sungguh terpuji ikhtiar Mamat B Sasmita dalam melestarikan khazanah Sunda ini.

Sejatinya kita harus berkarya dan mengikuti jejaknya. Ada atau tidaknya Konferensi Internasional Budaya Sunda dan Kongres Bahasa Sunda, buku Sunda harus meningkat supaya bisa dibaca generasi muda dan bangga berbahasa Sunda. Inilah makna terdalam Kenaikan Yesus bagi peningkatan buku Sunda. Semoga Tuhan memberkati.

IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Labels:


Aos Salengkapna.....!
posted by ibn ghifarie @ 5/25/2010 08:29:00 PM   0 comments
Pribados

Name: ibn ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
Paririmbon
Jang-Jawokan
Isian Wae Baraya

Ngahub Wae
Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com
Kampanye





© 2005 .:/ Ghifarie Area Alakadarisme!! \:. Template by Isnaini Dot Com

"Baca, Tulis, Bergerak dan Lawan".
"Semoga segala hal yang berkenaan dengan keluh-kesah kita bermanfaat kelak dikemudian hari. Amien."

.:/Sejak 27 Juli 2006\:.